Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Quality of Life in Patients with Chronic Kidney Disease Esterlita Ayu Putri Apriliani; Oda Debora; Emy Sutiyarsih; Elizabeth Yun Yun Vinsur
Journal of Ners and Midwifery Vol 10 No 2 (2023)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v10i2.ART.p189-195

Abstract

Chronic kidney disease results in decreased kidney function in filtering metabolic waste so patients must receive replacement therapy for kidney function, one of which is hemodialysis. Hemodialysis therapy aims to achieve optimal health and a better quality of life. This study aims to determine the relationship between compliance to hemodialysis therapy and the quality of life of chronic kidney disease patients. This type of research is a descriptive correlation with a cross-sectional design. The research sample was 106 respondents using a purposive sampling technique. Statistical test using SPSS statistics 29 with Spearman correlation test. The results showed a p-value of 0.438 > α 0.05 so it was concluded that there was no significant relationship between compliance with the quality of life of chronic kidney disease patients. The quality of life tends to be good in the majority of hemodialysis patients because there is positive family, social and environmental support so that patients feel that hemodialysis therapy is not a burden. Quality of life is influenced by 4 components, namely physical, psychological, social, and environmental. Compliance is included in one of the physical components where there are several other components and factors that can support the improvement of the quality of life of hemodialysis patients besides compliance
Hubungan Antara Subjective Well-Being dengan Beban yang Dirasakan Caregiver Informal Lansia Rahmasari, Devina; Sutiyarsih, Emy; Sulartri, Anastasia Sri
Jurnal Keperawatan 'Aisyiyah Vol. 12 No. 2 (2025): Jurnal Keperawatan 'Aisyiyah
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33867/JKA.651

Abstract

Lansia merupakan seseorang yang usianya diatas 60 tahun yang mengalami penurunan fungsi organ sehingga memerlukan caregiver dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Perawatan jangka panjang pada lansia dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental dan fisik para caregiver karena peningkatan beban yang mereka rasakan. Penelitian ini bertujuan melihat hubungan antara subjective well-being dan beban yang dialami oleh caregiver informal lansia . Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan teknik sampling Non Probability Sampling yaitu Cluster Sampling, studi ini melibatkan 87 responden berjenis kelamin laki-laki dan perempuan dengan rentang usia 18-59 tahun yang merupakan caregiver informal di Desa Gununggronggo, Malang. Penelitian ini menggunakan instrumen yaitu kuesioner tertutup dan dianalisis menggunakan analisis bivariat. Hasil menunjukkan korelasi negatif yang signifikan antara subjective well-being dengan beban yang dirasakan caregiver informal lansia (r = -0,506, p < 0,01). Hal ini menunjukkan bahwa seiring beban perawatan meningkat, subjective well-being caregiver informal menurun. Kesimpulannya, ada hubungan yang jelas antara subjective well-being dan beban pengasuhan, dengan pendidikan dan hubungan keluarga menjadi faktor yang mendominasi. Temuan ini menunjukkan bahwa caregiver informal hendaknya meningkatkan manajemen stres dan keterampilan mengatasi beban untuk meningkatkan subjective well-being mereka.
Pelatihan kader kesehatan tentang pemberian nutrisi pada lansia penderita diabetes melitus di Puskesmas Tajinan Kabupaten Malang Monika Luhung; Emy Sutiyarsih; Narita Diatanti
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 5 (2025): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i5.29445

Abstract

Abstrak Lansia memiliki kebutuhan nutrisi yang berbeda dibandingkan dengan usia muda. Pemberian nutrisi yang tepat sangat penting dilakukan pada lansia diabetes dan dapat membantu menjaga kadar glukosa darah direntang normal serta mencegah komplikasi lebih serius. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk melaksanakan pelatihan kader kesehatah tentang pemberian nutrisi pada lansia penderita diabetes melitus di Puskesmas Tajinan Kabupaten Malang. Metode yang digunakan dalam pelatihan ini adalah demonstrasi. Kegiatan pengabdian dilakukan direntang waktu antara September 2024-Februari 2025, dalam tiga kali pertemuan dan diikuti 14 peserta, yaitu kader kesehatan yang berasal dari desa Gunungronggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang. Evaluasi keberhasilan dilakukan melalui pre dan post tes menggunakan kuisioner untuk mengukur pemahaman kader, sedangkan penilaian ketrampilan demontrasi menggunakan lembar observasi. Hasil pelatihan menunjukkan pengetahuan kader  kesehatan tentang pemberian nutrisi lansia penderita diabetes melitus didapatkan nilai rata-rata pre tes 86 % (12 orang) pengetahuan Cukup meningkat menjadi 93 % (13 orang) pengetahuan Baik pada post test, sedangkan demonstrasikan pemberian nutrisi menunjukkan hasil Baik yaitu 93 % (13 orang) dapat mendemonstrasikan pemberian nutrisi pada lansia diabates melitus. Kesimpulan: Pelatihan ini membuktikan adanya peningkatan yang signifikan pada pengetahuan dan keterampilan kader kesehatan mengenai pemberian nutrisi pada lansia penderita diabetes melitus. Setelah pelatihan, sebagian besar kader mampu memahami dan mendemonstrasikan pemberian nutrisi dengan baik. Hal ini menegaskan bahwa kader kesehatan memiliki peran strategis dalam edukasi nutrisi kepada lansia guna membantu menjaga kadar glukosa darah tetap dalam rentang normal. Kata kunci:  diabetes melitus; kader; nutrisi lansia. AbstractThe elderly have different nutritional needs compared to young age. Providing the right nutrition is very important for the elderly with diabetes and can help keep blood glucose levels in the normal range and prevent more serious complications. This community service aims to carry out health cadre training on providing nutrition to the elderly with diabetes mellitus at the Tajinan Health Center, Malang Regency. The method used in this training was demonstration. The service activities were carried out in the period between September 2024 and February 2025, in three meetings and attended by 14 participants, namely health cadres from Gunungronggo village, Tajinan District, Malang Regency.. Success evaluation was carried out through pre and post tests using questionnaires to measure cadre understanding, while demonstration skills assessment used observation sheets. The results of the training showed that the knowledge of health cadres about the provision of nutrition to the elderly with diabetes mellitus was obtained with an average pre-test score of 86% (12 people) knowledge of Sufficient increased to 93% (13 people) of Good knowledge in the post-test, while the demonstration of nutrition showed good results, namely 93% (13 people) could demonstrate the provision of nutrition to the elderly with diabates melitus. Conclusion: This training confirmed a significant improvement in the knowledge and skills of health cadres regarding nutritional care for elderly patients with diabetes mellitus. After the training, most cadres were able to understand and properly demonstrate the provision of nutrition. This affirms the strategic role of health cadres in educating the elderly to maintain blood glucose levels within the normal range. Keywords: cadre; diabetes mellitus; nutrition of the elderly.
Pemberdayaan lansia dalam melakukan senam hipertensi untuk menurunkan tekanan darah pada lansia penderita hipertensi di kelompok prolanis puskesmas Tajian kabupaten Malang Anastasia Sri Sulartri; Emy Sutiyarsih; Ellia Ariesti Narita Diatanti
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 3 (2024): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i3.25302

Abstract

AbstrakProgram Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) adalah sistem pelayanan kesehatan dan pendekatan proaktif yang melibatkan peserta, fasilitas kesehatan dan BPJS. Di Puskesmas Tajinan, Kabupaten Malang kegiatan prolanis dilaksanakan setiap hari jumat. Lansia penderita hipertensi di Puskesmas Tajinan sebanyak 2192 orang yang terdaftar di kelompok Prolanis 142 orang. Lansia  penderita hipertensi  yang datang pada kegiatan prolanis sebanyak 25 orang. Hipertensi sering disebut sebagai “silent killer”, karena seringkali penderita hipertensi tidak merasakan gejala, tanpa disadari penderita hipertensi mengalami komplikasi pada organ vital seperti jantung, otak atau ginjal. Upaya yang dapat dilakukan dalam pencegahan komplikasi hipertensi salah satunya dengan senam hipertensi. Tujuan dari PkM ini adalah meningkatkan pemahaman para lansia penderita hipertensi tentang manfaat senam hipertensi dan mampu menerapkan senam hipertensi  secara benar. Metode kegiatan berupa edukasi dan demonstrasi senam hipertensi dilaksanakan selama tiga kali pertemuan tanggal 21-23 Mei 2024. Sasaran kegiatan PkM yaitu lansia penderita hipertensi peserta kegiatan prolanis di Pukesmas Tajinan. Evaluasi  hasil pretest pengetahuan peserta tentang penyakit hipertensi dan senam hipertensi 55,68 dan postest  67, pretest demonstrasi senam hipertensi 62,22 dan postest 75,85 sehingga dapat diartikan bahwa ada peningkatan pengetahuan dan kemampuan para lansia penderita hipertensi dalam melaksanakan senam hipertensi.Kata kunci : hipertensi; lansia; senam AbstractChronic Disease Management Program (Prolanis) is a health service system and proactive approach involving participants, health facilities and BPJS. At Tajinan Health Center, Malang Regency, Prolanis activities are carried out every Friday. There are 2192 elderly people with hypertension at Tajinan Health Center, 142 of whom are registered in the Prolanis group. There are 25 elderly people with hypertension who came to Prolanis activities. Hypertension is often referred as a "silent killer", because there is often people with hypertension do not feel symptoms, without realizing it, people with hypertension experience complications in vital organs such as heart, brain or kidneys. Efforts that can be made to prevent complications of hypertension is hypertension exercise. The aim of this PkM is to increase the understanding of elderly people with hypertension about the benefits of hypertension exercise and to be able apply hypertension exercise correctly. The activity method in the form of education and demonstration of hypertension exercise was carried out during three meetings on May 21-23, 2024. The target of the PkM activity is elderly people with hypertension who are participants in the Prolanis activity at Tajinan Health Center. Evaluation of the results of the pretest of participants' knowledge about hypertension and hypertension exercise 55.68 and posttest 67, pretest demonstration of hypertension exercise 62.22 and posttest 75.85 so that it can be interpreted that there is an increase in knowledge and ability of elderly people with hypertension in carrying out hypertension exercise. Keywords: hypertension; elderly; exercise
The relationship between activity of daily living (ADL) and quality of life among the elderly people Trinidad, Felix Tito; Sutiyarsih, Emy; Pradikatama, Yafet
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2026): January Edition 2026
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i5.1469

Abstract

Background: Continued​ age (≥60 years) experienced decline function physical and psychological that can influence Activities of Daily Living (ADL) such as bathing, dressing, eating, and transferring. Level of independence plays a role in ADL important to quality life elderly, because influence freedom activities, interactions social, as well as welfare physical and mental. Purpose: To know the relationship between the level of independence activities of daily living (ADL) with quality life expectancy in the elderly. Method: Non-experimental design with approach cross-sectional. Population study is all over elderly at LKS-LU Pangesti Lawang. Samples taken with technique purposive sampling. Instrument study covering ADL questionnaire with Barthel Index (BI) for measure level independence and WHOQOL-BREF For measure quality live. Data analysis was carried out using the Spearman Rank test. Results: Spearman's correlation test results show that there is very strong and significant relationship between ability activity daily activities (ADL) with quality life, things This indicated by the value coefficient correlation Spearman's value is 0.916 and significance of 0.000 (p < 0.01). Findings This indicates that the taller ability activity daily someone, then the better quality his life. Conclusion: There is connection meaningful between ADL level with quality life elderly. Improvement independence in ADL necessary become focus intervention for maintain and improve quality life elderly. Keywords: Activity Of Daily Living; Continue Age; Independence; Quality Life.
PENGARUH TAHAPAN MENOPAUSE TERHADAP TINGKAT STRES DAN MEKANISME KOPING PADA WANITA MENOPAUSE Sutiyarsih, Emy; Ariesti, Ellia
JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan) Vol. 9 No. 2 (2026): JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan)
Publisher : LPPM Universitas Hafshawaty Zainul Hasan Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33006/ji-kes.v9i2.996

Abstract

Abstrak Menopause merupakan proses transisi dari masa reproduktif menuju fase non-reproduktif yang ditandai dengan berhentinya siklus menstruasi akibat penurunan hormon estrogen dan progesteron, sehingga memunculkan perubahan fisiologis dan psikologis yang dapat meningkatkan kecemasan dan stres pada wanita. Oleh karena itu, diperlukan adanya penanganan melalui penguatan mekanisme koping efektif agar wanita mampu beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi selama menopause. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh tahapan menopause terhadap tingkat stres dan mekanisme koping pada wanita menopause. Desain penelitian menggunakan observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional, dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman dengan populasi 180 responden dan sampel 125 responden melalui teknik purposive sampling berdasarkan rumus Slovin. Instrumen yang digunakan meliputi data demografi, kueioner PSS-10, dan kuesioner baku dari Brief-Cope. Hasil penelitian didapatkan hubungan positif yang signifikan antara tahapan menopause dengan tingkat stres (p = 0,0001, r = 0,814), yang berarti semakin lanjut tahapan menopause maka tingkat stres semakin meningkat. Selain itu, terdapat korelasi signifikan antara tahapan menopause dan mekanisme koping (p = 0,0001, r = 0,670), di mana wanita cenderung lebih sering menggunakan koping maladaptif seiring berkembangnya fase menopause. Temuan ini menegaskan pentingnya intervensi psikologis serta dukungan mekanisme koping adaptif  pada wanita menopause. Kata Kunci: Mekanisme Koping, Menopause, Tingkat Stres   Abstract Menopause is a transition from reproductive to non-reproductive age marked by the cessation of menstrual cycles due to a decrease in estrogen and progesterone hormones, causing physiological and psychological changes increasing anxiety and stress in women. Therefore, it is necessary to strengthen effective coping mechanisms so that women can adapt to changes that occur during menopause. This study aims to analyze the effect of menopause stages on stress levels and coping mechanisms menopausal women. The research design used analytical observation with cross-sectional approach, analyzed using Spearman's-correlation with total population of 180 respondents and sample of 125 respondents through purposive sampling using Slovin formula. The instruments used included demographic data, PSS-10 questionnaire, and standard questionnaire from Brief-Cope. The results of the study found a significant-positive correlation between the stages of menopause and stress levels (p=0.0001, r=0.814), meaning that the more advanced the stage of menopause, the higher the stress level. In addition, there was a significant correlation between the stages of menopause and coping mechanisms (p=0.0001, r=0.670), where women tended to use maladaptive coping more often as the menopause phase progressed. These findings emphasize the importance of psychological intervention and adaptive coping mechanism support for menopausal women. Keywords: Coping Mechanisms, Menopause, Stress