Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Literasi Depresi: Gambaran dan Kebutuhan Self-help Book Untuk Meningkatkan Pemahaman Depresi Eka Wahyuni; Fairuz Nabila
INSIGHT: Jurnal Bimbingan Konseling Vol 10 No 1 (2021): INSIGHT: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.006 KB) | DOI: 10.21009/INSIGHT.101.04

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan kebutuhan mengenai literasi depresi pada remaja untuk mengembangkan self-help book sebagai salah satu strategi dalam meningkatkan pemahaman depresi pada peserta didik. Metode penelitian menggunakan kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan non probability incidental sampling dan sampel yang digunakan 76 remaja. Instrumen yang digunakan adalah Depression Literacy Questionnaire (D-Lit) dan angket kebutuhan mengenai self-help book literasi depresi. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor literasi depresi remaja adalah 13,85. Sebanyak 82,35% (30 orang) remaja perempuan lebih banyak dalam kategori sedang, 30,95% (13 orang) remaja laki-laki dalam kategori tinggi dan 2,38% (1 orang) remaja laki-laki terasuk kategori rendah. Dari dua aspek literasi depresi yang tertinggi adalah aspek gejala-gejala depresi, yaitu dengan rerata skor 7,06. Kategori tertinggi dari aspek gejala-gejala depresi lebih banyak remaja laki-laki 38,09% (16 orang), kategori sedang lebih banyak remaja perempuan 58,82% (20 orang), dan kategori rendah lebih banyak remaja laki-laki (10 orang). Aspek penanganan mengenai depresi dengan kategori tinggi lebih banyak remaja laki-laki 50% (21 orang) sedangkan kategori sedang lebih banyak remaja perempuan 44,11% (15 orang) dan kategori rendah lebih banyak remaja laki-laki 26,19% (11 orang). Sebanyak 92,10% (70 orang) remaja menginginkan media yang menarik dan informatif sebagai pendamping dalam layanan bimbingan dan konseling dan 90,78% (69 orang) remaja tertarik bila media berbentuk buku seperti self-help book. Oleh karena itu, remaja membutuhkan bantuan melalui self-help book untuk menguatkan pemahaman mereka mengenai gejala-gejala depresi dan penganan mengenai depresi.
Gambaran Self-Care Guru Bimbingan dan Konseling di SMA Negeri Se-DKI Jakarta Eka Wahyuni; Rani Desinta
INSIGHT: Jurnal Bimbingan Konseling Vol 10 No 1 (2021): INSIGHT: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.899 KB) | DOI: 10.21009/INSIGHT.101.09

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran self-care guru Bimbingan dan Konseling di SMA Negeri se-DKI Jakarta. Sampel penelitian ini berjumlah 195 guru BK dengan menggunakan teknik convenience sampling. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan metode survey. Pengumpulan data dilakukan secara online dengan menggunakan instrumen Professional Self-Care Scale. Hasil penelitian menunjukan pada umumnya self-care guru BK di SMA Negeri se-DKI Jakarta berada pada kategori tinggi dengan rerata sebesar 123.14. Sebanyak 184 guru BK (94.36%) memiliki self-care tinggi, terdapat 11 guru BK (5.64%) memiliki self-care sedang, dan tidak ada satupun guru BK yang memiliki self-care rendah. Pengembangan profesional mendapat rerata paling tinggi sebesar 6.20, sedangkan keseimbangan harian mendapat rerata terendah dengan skor 5.10. Strategi kognitif mendapati rerata sebesar 6.10, dukungan profesional mendapat rerata sebesar 5.90, dan keseimbangan hidup mendapat rerata sebesar 5.80. Hasil ini menunjukan bahwa guru BK mampu mencari peluang untuk pertumbuhan profesional dan keterlibatan dalam kegiatan profesional yang menyenangkan, dapat memantau stres serta reaksi di tempat kerja, mampu menumbuhkan hubungan saling mendukung dengan rekan kerja, mampu membina hubungan dan kegiatan di luar pekerjaan, namun mereka masih membutuhkan pengembangan tentang mengelola tuntutan pekerjaan serta mengelola kegiatan sehari-hari.
Resiliensi Remaja dan Implikasinya Terhadap Kebutuhan Pengembangan Buku Bantuan Diri Eka Wahyuni; Vidya Siti Wulandari
INSIGHT: Jurnal Bimbingan Konseling Vol 10 No 1 (2021): INSIGHT: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.943 KB) | DOI: 10.21009/INSIGHT.101.10

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran resiliensi pada remaja di salah satu sekolah unggulan dan kebutuhan untuk mengembangkan resiliensi dengan buku bantuan diri. Sampel penelitian ini menggunakan teknik insidental sampling dengan jumlah sebanyak 106 remaja. Alat ukur yang digunakan adalah Child Youth Resilience Measure-Revised (CYRM-R) dan studi kebutuhan buku bantuan diri mengenai resiliensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umumnya remaja memiliki tingkat resiliensi sedang dengan skor 67,2. Remaja yang memiliki resiliensi luar biasa sebanyak 3,74% (4 orang), resiliensi tinggi sebanyak 25,23% (27 orang), resiliensi sedang sebanyak 46,73% (50 orang), dan resiliensi rendah sebanyak 23,36% (25 orang). Tingkat resiliensi pada remaja laki-laki lebih tinggi dengan rerata 67,6 dibanding remaja perempuan dengan rerata 66,86. Rerata aspek personal resilience sebesar 39,93 lebih tinggi dibanding rerata aspek caregiver resilience sebesar 27,26. Meskipun tingkat resiliensi yang dimiliki remaja rata-rata pada kategori sedang, mereka tidak pernah mendapatkan materi pengembangan resiliensi dalam layanan bimbingan konseling di sekolah. Sebanyak 80% remaja tertarik untuk menggunakan media buku bantuan diri dalam layanan BK. Oleh karena itu, pengembangan buku bantuan diri sangat penting untuk membantu remaja dalam mengembangkan kemampuan resiliensi yang mereka miliki. Buku bantuan diri mengenai resiliensi berjudul “Terus Melangkah: Tak Perlu Takut Ketika Hidup Menjadi Sedikit Sulit” dengan materi dan lembar kerja yang tersedia untuk mengembangkan resiliensi mendapatkan hasil uji validasi dengan ahli media dengan skor 84,5% (sangat layak) dan hasil uji validasi dengan ahli materi dengan skor 80,3% (layak). Sehingga rata-rata kelayakan buku bantuan diri mengenai resiliensi yaitu 82,4% (sangat layak).
Optimisme Mahasiswa: Kebutuhan Web-Based Acceptance and Commitment Therapy Untuk Meningkatkan Optimisme Fia Nurul Fauziah; Eka Wahyuni
INSIGHT: Jurnal Bimbingan Konseling Vol 10 No 2 (2021): INSIGHT: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.995 KB) | DOI: 10.21009/INSIGHT.102.04

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat optimisme mahasiswa dan kebutuhan untuk mengembangkan Web-based Acceptance and Commitment Therapy (ACT) sebagai strategi untuk meningkatkan optimisme mahasiswa. Convenience sampling yang digunakan untuk mengumpulkan data pada 283 mahasiswa. Instrumen yang digunakan yaitu Life Orientation Test – Revised (LOT-R) dan angket kebutuhan media Web-based ACT. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat optimisme mahasiswa di Jakarta yaitu sedang (16.6 dari total skor 24). Secara keseluruhan 44 mahasiswa (16%) memiliki tingkat optimisme rendah, 159 mahasiswa (56%) memiliki tingkat optimisme sedang, 80 mahasiswa (28%) memiliki tingkat optimisme tinggi. Perempuan memiliki tingkat optimisme yang lebih tinggi daripada laki-laki (16.7 vs 16.3). 158 mahasiswa (63%) merasa sangat perlu adanya media web bantu diri (self-help web) untuk meningkatkan optimisme agar mahasiswa dapat meningkatkan optimisme. Diketahui juga bahwa pengembangan Web-based ACT juga sangat penting untuk membantu meningkatkan optimisme mahasiswa. Abstract This study aims to determine the level of student optimism and the need to develop Web-based Acceptance and Commitment Therapy (ACT) as a strategy to increase student optimism. Convenience sampling was used to collect data on 283 students. The instruments used are the Life Orientation Test-Revised (LOT-R) and the ACT Web-based media needs questionnaire. The results showed that the level of student optimism in Jakarta was moderate (16.6 out of a total score of 24). Overall 44 students (16%) had a low level of optimism, 159 students (56%) had a moderate level of optimism, 80 students (28%) had a high level of optimism. Women had higher levels of optimism than men (16.7 vs 16.3). 158 students (63%) felt the need for a self-help web to increase optimism so that students could increase their optimism. It is also known that the development of Web-based ACT is also very important to help increase student optimism.
Hubungan Antara Efikasi Diri (Self Efficacy) dengan Kepuasan Hidup (Life Satisfaction) Mahasiswa Tessa Nabila; Eka Wahyuni
INSIGHT: Jurnal Bimbingan Konseling Vol 10 No 2 (2021): INSIGHT: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.032 KB) | DOI: 10.21009/INSIGHT.102.08

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah ada hubungan positif antara efikasi diri dan kepuasan hidup pada mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan teknik pengambilan sample yaitu incidental sampling. Sample penelitian berjumlah 361 mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta. Penelitian ini menggunakan alat ukur dalam bentuk kuesioner yaitu General Self Efficacy Scale untuk variabel efikasi diri dan Multidimensional Students’ Life Satisfaction Scale untuk variabel kepuasan hidup. Pada variabel efikasi diri mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta memiliki tingkat efikasi diri sedang dan ditandai dengan jumlah persentase 64% dengan aspek tertinggi yaitu pada aspek effort dengan persentase 32%. Sedangkan pada variabel kepuasan hidup berada pada kategori sedang dan digambarkan dengan persentase 50% dan aspek tertinggi ada pada family dengan persentase sebesar 23%. Semua uji coba dalam penelitian ini menggunakan tingkat signifikansi .05. Secara umum terdapat hubungan antara efikasi diri dengan kepuasan hidup dengan hasil uji korelasionel yaitu hasil .398 uji korelasi ini masuk pada kategorisasi rendah sehingga hubungan antara kedua variabel tidak begitu signifikan. Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif yang tidak signifikan antara efikasi diri dengan kepuasan hidup mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan
Peningkatan Kompetensi Teknologi dan Informasi Guru Bimbingan dan Konseling Wening Cahyawulan; Aip Badrujaman; Hilma Fitriyani; Michiko Mamesah; Eka Wahyuni; Djunaedi Djunaedi
CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2019): Februari
Publisher : Ilin Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.962 KB) | DOI: 10.31960/caradde.v1i2.76

Abstract

Kompetensi teknologi dan informasi bagi guru bimbingan dan konseling/konselor merupakan kompetensi yang perlu dimiliki. Hal ini dikarenakan, kompetensi teknologi dan informasi akan membantu guru bimbingan dan konseling/konselor melaksanakan administrasi bimbingan dan konseling yang cenderung memakan waktu, seperti analisis hasil asesmen. Pengabdian pada masyarakat dilakukan dengan metode pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi teknologi guru bimbingan dan konseling/konselor di wilayah DKI Jakarta. Pengabdian pada masyarakat melibatkan 28 orang guru bimbingan dan konseling di wilayah DKI Jakarta. Berdasarkan hasil pelaksanaan pengabdian pada masyarakat, diperlukan adanya pendampingan bagi peserta ketika menerapkan kompetensi teknologi dan informasi dalam layanan bimbingan dan konseling di sekolah masing-masing
Peningkatan Literasi Kesehatan Mental Remaja Selama Pandemi COVID-19 Melalui Psikoedukasi Online eka wahyuni; Susi Fitri
CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2022): April
Publisher : Ilin Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31960/caradde.v4i3.1201

Abstract

Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk meningkatkan literasi kesehatan mental remaja di kelurahan Rawamangun. Peningkatan literasi kesehatan mental sangat diperlukan terutama selama pandemi covid-19 dalam menghadapi ketidakpastiaan, kekhawatiran, isolasi dan kebosanan. Peningkatan literasi kesehatan mental bermanfaat untuk memberikan pengetahuan, keyakinan, keterampilan pertolongan pertama dan strategi mencari bantuan dan membantu diri sendiri. Metode pelaksanaan dilakukan dengan memberikan layanan psikoedukasi secara daring melalui grup whatsapp dengan media bantuan power point presentation dan video. Hasil yang dicapai dari layanan psikoedukasi ini adalah meningkatnya literasi kesehatan mental. Peningkatan literasi kesehatan mental dapat membuat remaja memiliki kesadaran tentang isu-isu kesehatan mental sehingga membantu diri dan orang di sekitarnya yang berkaitan dengan kesehatan mental.
Analisis Kebutuhan Aplikasi Untuk Mengelola Stres Akademik Siswa Sekolah Menengah Atas Anaway Irianti Mansyur; Eka Wahyuni; Susi Fitri
Jurnal Sains Sosio Humaniora Vol. 6 No. 1 (2022): Volume 6, Nomor 1, Juni 2022
Publisher : LPPM Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jssh.v6i1.19482

Abstract

Pandemi Covid-19 memberikan dampak terhadap kegiatan pembelajaran siswa di sekolah. Hal ini dikarenakan untuk meminimalisir virus Covid-19, proses pembelajaran tatap muka menjadi berbasis online. Sehingga, salah satu cara untuk melakukan kegiatan pembelajaran berbasis online dengan e-learning. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) untuk mengelola stres akademik mereka selama pembelajaran berbasis online. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan survei dengan mengumpulkan data melalui penyebaran angket kepada 87 siswa SMA Perguruan Cikini Jakarta. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 71.2% kondisi stres akademik siswa SMA Perguruan Cikini dikategorikan sedang. Selain itu, 17.4% siswa mengalami tingkat stres akademik yang tinggi. Selain itu, 66% siswa memiliki kecenderungan pada aspek mindfulness dengan kategori sedang. Sehingga, diperlukan langkah-langkah untuk mengelola stres akademik yaitu terapi mindfulness . Namun, 64.4% siswa menyatakan bahwa mereka tertarik untuk melalukan terapi mindfulness melalui aplikasi agar dapat mengelola stres akademik. Selain itu, mereka juga membutuhkan pengetahuan dan informasi terkait kesehatan mental. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan lebih lanjut terkait pengelolaan stres akademik melalui terapi mindfulness berbasis aplikasi android.
PELATIHAN KETERAMPILAN SOSIAL DALAM MENGATASI KECEMASAN SOSIAL ANAK YANG BERHADAPAN DENGAN HUKUM BAGI PEMBINA LPKA KELAS II JAKARTA Susi Fitri; Eka Wahyuni
Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 (2021): PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT - SNPPM2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.928 KB)

Abstract

Abstract This community service aims to develop the abilities of the coaches at LPKA in helping students overcome their social anxiety by training students' social skills using a previously developed guidebook. The second objective is to test the validity of the content of the guide for trainers at LPKA class II Jakarta. Children in LPKA are in a condition of getting stigma and negative views from the community, causing anxiety due to the stigma experienced, especially inmates before being released. In addition, the violence that may arise in life in LPKA also causes anxiety in students. The social anxiety experienced by children includes the fear of fellow foster children when they just enter, as well as the shame of meeting again with the surrounding community when they leave. Children think society is bad because they talk bad things about themselves so children want to live in a new place so they no longer interact with neighbors when they go out. Another anxiety that is felt is when you meet again with the victim or the victim's family. The child is worried that there will be reprisals from the victim's family. Children have doubts about whether society will accept them back. Every day, children have difficulty sleeping and are easily agitated. Children tend to keep their aggressive behavior from appearing and maintain their attitude. Children worry about being the talk of friends, neighbors, or relatives. This community service activity method is in the form of social skills training and trials of training guidelines that have been developed previously. The participants of this activity are the II Jakarta LPKA coaches. The results of the assessment of the guide were a score of 82% based on the content feasibility aspect, a score of 81.2% for the linguistic aspect, and 81% on the presentation aspect, 83.9% on the graphic aspect. Overall, the trainers find this handbook for trainers worthy of use. While the process assessment in P2M activities, the trainer assessed that the instructor was able to answer participants' questions, mastered the material and was able to involve participants. Meanwhile, for this activity, participants consider this activity to be in accordance with their needs, useful and the implementation of the activity is considered to have achieved the training objectives. Abstrak Pengabdian masyarakat ini bertujuan mengembangkan kemampuan para pembina di LPKA dalam membantu anak didik mengatasi kecemasan sosial mereka dengan melatih keterampilan sosial anak didik dengan menggunakan buku panduanyang telah dikembangkan sebelumnya. Tujuan kedua melakukan Uji validitas isi panduan pada pembina di LPKA kelas II Jakarta. Anak di LPKA berada dalam kondisi mendapatkan stigma dan pandangan negatif dari masyarakat sehingga menimbulkan rasa cemas sebagai dampak dari stigma yang dialami terutama narapidana menjelang bebas. Selain itu kekerasan yang mungkin muncul dalam kehidupan di LPKA juga menimbulkan kecemasan pada anak didik. Kecemasan sosial yang dialami anak di antaranya ketakutan pada sesama anak binaan ketika baru masuk, juga merasa malu bertemu kembali dengan masyarakat sekitar ketika mereka keluar. Anak menganggap masyarakat jahat sebab membicarakan hal yang buruk tentang dirinya sehingga anak ingin tinggal di tempat yang baru agar tidak lagi berinteraksi dengan tetangga sekitar ketika mereka keluar. Kecemasan lain yang dirasakan adalah ketika bertemu kembali dengan korban atau keluarga korban. Anak khawatir jika ada pembalasan dari keluarga korban. Anak merasa ragu apakah masyarakat menerima mereka kembali. Secara keseharian, anak mengalami sulit tidur dan mudah resah. Anak cenderung menjaga agar perilaku agresifnya tidak muncul dan lebih menjaga sikap. Anak khawatir menjadi bahan pembicaraan teman, tetangga, atau saudara. Metode kegiatan pengabdian masyarakat ini berbentuk pelatihan mengenai keterampilan sosial dan uji coba panduan pelatihan yang telah dikembangkan sebelumnya. Peserta dalam kegiatan ini adalah para pembina LPKA kelas II DKI Jakarta. Hasil dari penilaian terhadap panduan adalah nilai 82% berdasarkan aspek-aspek kelayakan isi, nilai 81,2% untuk aspek kebahasaan, dan 81% dalam aspek penyajian, 83,9% dalam aspek grafik. Secara keseluruhan para pembina menilai buku panduan bagi pembina ini layak digunakan. Sedangkan penilaian proses dalam kegiatan P2M para pembina menilai bahwa para instruktur mampu menanggapi pertanyaan peserta, menguasa materi dan mampu melibatkan peserta. Sedangkan terhadap kegiatan ini para peserta menilai kegiatna ini sesuai dengan kebutuhan mereka, berguna dan penyelenggaraan kegiatn dianggap telah mencapai tujuan pelatihan.
Gambaran tingkat mikroagresi pada siswa penghayat kepercayaan Nurfauzy Abdillah; Susi Fitri; Eka Wahyuni
Jurnal Konseling dan Pendidikan Vol 10, No 2 (2022): JKP
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/177100

Abstract

Mikroagresi merupakan penghinaan verbal atau perilaku singkat dan umum sehari-hari, baik disengaja atau tidak disengaja, dengan mengkomunikasikan penghinaan dan penghinaan ras yang negatif, penghinaan yang berpotensi memiliki dampak psikologis yang berbahaya atau tidak menyenangkan pada orang atau kelompok sasaran.  Mikroagresi terjadi di berbagai kelompok budaya dan dapat bervariasi berdasarkan penanda identitas interseksional seperti jenis kelamin, kelahiran, ras, agama, dan orientasi seksual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat mikroagresi pada siswa penghayat kepercayaan di SMA/SMK se-Jabodetabek. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif.  Subyek penelitian adalah siswa penghayat kepercayaan di SMA/SMK se-jabodetabek dengan teknik non-probability sampling dengan bentuk purposive sampling. Sehingga sampel yang diambil sebanyak 22 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrument Microaggressions Against Religious Individuals Scale (MARIS) yang diadaptasi dari Zhen Hadassah Cheng. Skala yang digunakan pada penelitian ini ialah skalalikert dengan pilihan jawaban dari tidak pernah sampai lebih dari 10 kali. Analisa data hasil penelitian menggunakan teknik deskriptif persentase.  Berdasarkan analisa data, dapat disimpulkan bahwa sebanyak 19 orang atau 86.4% dalam kategori rendah, 2 orang atau 9.1% dalam kategori sedang dan 1 orang atau 4.5% dalam kategori cenderung tinggi.Dampak dari mikroagresi  yang  terjadi terus-menerus dapat menciptakan efek psikologis  yang  negatif.