Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

SINDROM RUBELLA KONGENITAL PADA ERA VAKSIN DAN PASCA-VAKSIN: TINJAUAN PUSTAKA Abdillah, Fauzan; Nugroho, Dwi Agustawan; Mashabi, Yasmine; Fadillah, Ibnu Harris
VARIABLE RESEARCH JOURNAL Vol. 2 No. 03 (2025): JULI 2025
Publisher : Media Inovasi Pendidikan dan Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Sindrom Rubella Kongenital (Congenital Rubella Syndrome/CRS) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, khususnya di negara-negara dengan cakupan imunisasi yang belum optimal. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk mengeksplorasi perkembangan CRS pada era vaksin dan pasca-vaksin dengan menganalisis 20 studi empiris dari berbagai wilayah dunia. Hasilnya mengungkap lima tema utama: manifestasi klinis CRS yang konsisten (terutama trias gangguan pendengaran sensorineural, kelainan jantung, dan gangguan okular), kekebalan jangka panjang pasca vaksinasi, efektivitas sistem surveilans yang bervariasi, kemajuan dalam genotipisasi virus rubella, serta tantangan kebijakan dan diagnosis di bidang kesehatan masyarakat. Meskipun angka kejadian CRS telah menurun secara global, beberapa negara—terutama di Asia Tenggara dan Afrika—masih melaporkan kasus CRS akibat keterlambatan program vaksinasi, skrining maternal yang kurang memadai, dan lemahnya surveilans. Kajian ini menekankan pentingnya penguatan skrining antenatal, peningkatan diagnostik laboratorium, serta integrasi pengendalian rubella dalam kebijakan imunisasi nasional dan program kesehatan ibu. Langkah-langkah ini sangat penting untuk mencapai eliminasi CRS secara global dan mencegah kecacatan seumur hidup pada anak yang terkena.
Embolisasi Pra Operatif Untuk Angiofibroma Nasofaringeal Abdillah, Fauzan; Nugroho, Dwi Agustawan; Fadillah, Ibnu Harris; Mashabi, Yasmine; Hairunisa, Nany; Yousif, Emad
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 8 No 3 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2025.v8.334-349

Abstract

Background: Juvenile nasopharyngeal angiofibroma (JNA) is a rare benign vascular tumor that almost exclusively affects adolescent males. Despite its benign nature, JNA demonstrates locally aggressive behavior and is associated with significant intraoperative bleeding. Preoperative embolization has become an important modality to reduce tumor vascularization and minimize intraoperative blood loss. The Objective of this case report is to discuss the role of preoperative embolization in the management of JNA, including relevant vascular anatomy, embolic materials, benefits and limitations, as well as local case experiences in Indonesia. Methods: A literature review was conducted on the external carotid artery anatomy, etiology, epidemiology, histopathology, tumor spread and staging, and preoperative embolization techniques using various materials such as gelfoam, polyvinyl alcohol, ethanol, and microspheres. Additionally, two cases of JNA at Cipto Mangunkusumo Hospital were reported, both treated with preoperative embolization using gelfoam prior to transpalatal tumor resection. Results: In both cases, embolization successfully reduced tumor vascularity. However, due to surgical delay beyond 48 hours after embolization, intraoperative bleeding remained significant (800–1000 mL). Both patients recovered uneventfully without postoperative complications, and histopathological findings confirmed JNA. Conclusion: Preoperative embolization is effective in reducing intraoperative blood loss during JNA surgery and should ideally be performed within 24–48 hours before resection. This approach facilitates safer tumor removal, although its optimal success depends on timing, embolization technique, and operator expertise.
Obesity and Diabetes Counseling for PPSU Officers in Kapuk Subdistrict, West Jakarta Alvina, Alvina; Pusparini, Pusparini; Mario, Mario; Mashabi, Yasmine; Merijanti, Lie Tanu
PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 11 No. 2 (2026): PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/pengabdianmu.v11i2.10125

Abstract

Good performance and productivity of public infrastructure and facilities (PPSU) officers will have a positive impact on public services. Work productivity is influenced by physical fitness, nutritional status, work capacity, and additional burdens imposed by the work environment. Each individual's work productivity may differ depending on their nutritional status. Poor dietary status generally affects health, activities, and work productivity. Nutritional status is also related to anthropometric conditions, which dietary habits may influence. The dietary intake of PPSU officers is sometimes not considered in terms of food portions. A dietary intake of too much carbohydrate may increase blood glucose levels, thereby potentially causing diabetes. Dietary intakes of high-fat and carbohydrate content may also cause obesity. Diabetes and obesity can affect work performance, reducing productivity. This can be a problem for the productivity of PPSU officers. The purpose of implementing Community Service (PKM) is to provide education on the concepts of blood glucose levels and obesity, and on prevention through blood glucose level and obesity control. This knowledge needs to be imparted to PPSU officers. such that they may pay more attention to food intake and control blood glucose levels and BMI, thereby preventing diabetes and obesity and increasing work productivity. The implementation of PKM was carried out through counseling and Q&A involving 52 PPSU officers in Kapuk subdistrict, West Jakarta. The counseling results showed an increase in knowledge of obesity and diabetes among PPSU officers. Continuous counseling is needed for PPSU officers to prevent obesity and DM and increase work productivity.
Program Penyuluhan Pencegahan HIV AIDS untuk Pekerja Migran Indonesia di Penang, Malaysia Alvina, Alvina; Mashabi, Yasmine; Amalia, Husnun; Hairunisa, Nany; Pratiwi, Luh Ade Dinda Pradnya; Rahman, Athaya Nayla Pasca; Irawan, Achmad
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 4 (2026): Volume 9 Nomor 4 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i4.24877

Abstract

ABSTRAK Pekerja Migran Indonesia (PMI) merupakan kelompok masyarakat yang memiliki kerentanan tinggi terhadap berbagai masalah kesehatan, termasuk penyakit menular seperti HIV/AIDS. Kondisi kerja yang berat, mobilitas tinggi, keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, serta rendahnya pengetahuan tentang faktor risiko penularan HIV/AIDS menjadi faktor yang meningkatkan potensi terjadinya penularan pada kelompok ini. Selain itu, stigma dan diskriminasi terhadap HIV/AIDS masih menjadi hambatan utama bagi PMI untuk memperoleh informasi dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara mandiri. Minimnya edukasi kesehatan reproduksi dan penyakit menular menyebabkan sebagian PMI tidak menyadari perilaku berisiko yang dapat memicu penularan HIV/AIDS, seperti hubungan seksual tidak aman, penggunaan alat suntik tidak steril. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan PMI mengenai HIV/AIDS, mendorong perubahan perilaku ke arah yang lebih sehat dan aman, serta meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan preventif. Kegiatan ini juga berkontribusi dalam upaya pencegahan penularan HIV/AIDS baik di negara penempatan maupun saat PMI kembali ke Indonesia. Pada kegiatan ini digunakan metode penyuluhan serta dilakukan test berupa pre dan post test. Pada kegiatan penyuluhan ini diikuti oleh 40 peserta dengan mayoritas peserta adalah perempuan sebanyak 85% dan umur dewasa 19-44 tahun sebanyak 55%. Pada hasil pretest didapatkan mayoritas peserta mempunyai pengetahuan kurang mengenai HIV AIDS sebanyak 87,5%, tetapi setelah dilakukan penyuluhan dan diberikan post test, ternyata yang pengetahuannya kurang menjadi 25%. Pengetahuan para pekerja migran tentang HIV AIDS menjadi lebih baik setelah diberikan penyuluhan. Penyuluhan merupakan salah satu metode yang cukup efektif dalam meningkatkan pengetahuan seseorang. Kata Kunci: Pekerja Migran Indonesia, Penyuluhan, HIV AIDS.  ABSTRACT Indonesian Migrant Workers (IMW) are a population group highly vulnerable to various health problems, including infectious diseases such as HIV/AIDS. Harsh working conditions, high mobility, limited access to health services, and low knowledge about risk factors for HIV/AIDS transmission increase the potential for transmission in this group. Furthermore, stigma and discrimination against HIV/AIDS remain major barriers for IMW in obtaining information and conducting independent health checks. The lack of education on reproductive health and infectious diseases results in some IMW being unaware of risky behaviors that can trigger HIV/AIDS transmission, such as unsafe sex and the use of non-sterile injection equipment. This activity is expected to increase PMI knowledge about HIV/AIDS, encourage healthier and safer behavior changes, and increase access to preventive health services. This activity also contributes to efforts to prevent HIV/AIDS transmission both in the host country and upon PMI's return to Indonesia. This activity used counseling methods and conducted pre- and post-tests. This outreach activity was attended by 40 participants with the majority of participants being women (85%) and adults aged 19-44 years (55%). The pretest results showed that the majority of participants had lack of knowledge about HIV AIDS (87.5%), but after the counseling and the post-test, that those with lack of knowledge became 25%. Migrant workers' knowledge about HIV AIDS improved after being given counseling. Counseling is a quite effective method in increasing a person's knowledge. Keywords: Indonesian Migrant Workers, Counseling, HIV AIDS