Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

IMPLEMENTASI GERAKAN LITERASI SEKOLAH DALAM PENGEMBANGAN MINAT MEMBACA DAN MENULIS SISWA KELAS IV DI SDN NGAWI PURBA 2 TEJA INSYAF SUKARIYADI; WIKANSO WIKANSO; WAHYUNINGSIH WAHYUNINGSIH
ELEMENTARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar Vol. 3 No. 1 (2023)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/elementary.v3i1.1966

Abstract

The implementation of the School Literacy Movement (GLS) program is expected to be able to develop students' interest in reading and writing. This study aims to 1) determine the implementation of the School Literacy Movement in developing students' interest in reading and writing at SDN Ngawi Purba 2, and 2) find out the obstacles to implementing GLS at SDN Ngawi Purba 2. This type of research is descriptive qualitative. The subjects of this study were school principals, class teachers, and students. The research object is the implementation of the School Literacy Movement in developing students' interest in reading and writing which includes the habituation stage, the development stage and the learning stage. The method used in collecting data is in the form of interviews, observation, and documentation. The data analysis method uses the steps proposed by Miles and Huberman through data reduction, data presentation, conclusion and verification. The results of this study indicate that SDN Ngawi Purba 2 is a school that implements the GLS program. Students are required to read 15 minutes before learning begins. This program is in accordance with the policy rolled out starting in March 2016 by the Directorate General of Primary and Secondary Education of the Ministry of Education and Culture. SDN Ngawi Purba 2 hopes that by running this program the school will have a culture that will continue to be preserved. GLS is important to implement in order to develop students' interest in reading and writing. ABSTRAKPelaksanaan program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) diharapkan mampu mengembangkan minat membaca dan menulis siswa. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui implementasi Gerakan Literasi Sekolah dalam mengembangkan minat membaca dan menulis siswa di SDN Ngawi Purba 2, dan 2) mengetahui hambatan implementasi GLS di SDN Ngawi Purba 2. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Subjek penelitian ini adalah kepala sekolah, guru kelas, dan peserta didik. Objek penelitian berupa implementasi Gerakan Literasi Sekolah dalam pengembangan minat membaca dan menulis siswa yang meliputi tahap pembiasaan, tahap pengembangan dan tahap pembelajaran. Metode yang digunakan dalam mengumpulkan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Metode analisis data dengan langkah-langkah yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman melalui reduksi data, penyajian data, kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa SDN Ngawi Purba 2 merupakan sekolah yang menerapkan program GLS. Siswa diwajibkan untuk membaca 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Program ini sesuai dengan kebijakan yang digulirkan mulai Maret 2016 oleh Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud. SDN Ngawi Purba 2 berharap dengan menjalankan program ini sekolah mempunyai budaya yang terus dilestarikan. GLS penting untuk dilaksanakan guna mengembangkan minat membaca dan menulis siswa.
FORMULA DALAM SERIAL TELEVISI MALAM MINGGU MIKO SEASON 1 KARYA RADITYA DIKA Devi Cintia Kasimbara; Kodrat Eko Putro Setiawan; Wahyuningsih Wahyuningsih
Lingua Rima: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/lgrm.v12i1.8073

Abstract

Bergenre komedi, Malam Minggu Miko Season 1 (M3S1) memiliki formula khusus dalam penceritaannya yang membedakannya dengan genre film lainya. M3S1 yang ditulis dan disutradarai oleh Raditya Dika merupakan salah satu jenis film (serial televisi) yang banyak diminati oleh masyarakat karena pada awal mula kemunculannya di YouTube telah berhasil merebut perhatian masyarakat dengan mendapatkan 1.679.874 viewer. Serial televisi ini terdiri atas 26 episode yang semuanya memiliki formula yang sama. Penelitian dilakukan untuk mengetahui bagaimana formula dalam serial televisi M3S1. Analisis dilakukan dengan menggunakan analisis formula dengan membandingkan episode-episode tersebut lalu menggeneralisasikannya sehingga diperoleh formula umum dalam serial televisi ini, kemudian dilanjutkan dengan menghubungkan M3S1 dengan budaya sehingga diperoleh gambaran mengapa formula ini disukai oleh masyarakat. Hasil dari penelitian ini, yaitu M3S1 memiliki formula: (1) karakter tokoh yang unik; (2) tokoh mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, menarik, dan menggelikan; (3) terdapat tokoh wanita yang menjadi sasaran cinta tokoh utama; (4) tema cerita diangkat dari kejadian-kejadian aktual di masyarakat; dan (5) dalam setiap episode tokoh utama selalu mengalami kesialan, tetapi pada akhirnya cerita berakhir dengan happy ending. M3S1 disukai oleh masyarakat karena memiliki unsur kelucuan yang dipengaruhi oleh faktor incongruity dan superioritas dalam memancing gelak tawa penonton.Kata kunci: formula, serial televisi, malam minggu Miko
FORMULA DALAM SERIAL TELEVISI MALAM MINGGU MIKO SEASON 1 KARYA RADITYA DIKA Devi Cintia Kasimbara; Kodrat Eko Putro Setiawan; Wahyuningsih Wahyuningsih
Lingua Rima: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/lgrm.v12i1.8073

Abstract

Bergenre komedi, Malam Minggu Miko Season 1 (M3S1) memiliki formula khusus dalam penceritaannya yang membedakannya dengan genre film lainya. M3S1 yang ditulis dan disutradarai oleh Raditya Dika merupakan salah satu jenis film (serial televisi) yang banyak diminati oleh masyarakat karena pada awal mula kemunculannya di YouTube telah berhasil merebut perhatian masyarakat dengan mendapatkan 1.679.874 viewer. Serial televisi ini terdiri atas 26 episode yang semuanya memiliki formula yang sama. Penelitian dilakukan untuk mengetahui bagaimana formula dalam serial televisi M3S1. Analisis dilakukan dengan menggunakan analisis formula dengan membandingkan episode-episode tersebut lalu menggeneralisasikannya sehingga diperoleh formula umum dalam serial televisi ini, kemudian dilanjutkan dengan menghubungkan M3S1 dengan budaya sehingga diperoleh gambaran mengapa formula ini disukai oleh masyarakat. Hasil dari penelitian ini, yaitu M3S1 memiliki formula: (1) karakter tokoh yang unik; (2) tokoh mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, menarik, dan menggelikan; (3) terdapat tokoh wanita yang menjadi sasaran cinta tokoh utama; (4) tema cerita diangkat dari kejadian-kejadian aktual di masyarakat; dan (5) dalam setiap episode tokoh utama selalu mengalami kesialan, tetapi pada akhirnya cerita berakhir dengan happy ending. M3S1 disukai oleh masyarakat karena memiliki unsur kelucuan yang dipengaruhi oleh faktor incongruity dan superioritas dalam memancing gelak tawa penonton.Kata kunci: formula, serial televisi, malam minggu Miko
THE MEANING AND TEACHING OF “BUDI PEKERTI” IN THE POETRY OF KEKEAN BY F. AZIZ MANNA: SEMIOTIC STUDIES OF RIFFATERRE Kodrat Eko Putro Setiawan; Andayani Andayani; Retno Winarni
Humanus: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Humaniora Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Pusat Kajian Humaniora FBS Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.935 KB) | DOI: 10.24036/humanus.v16i2.8034

Abstract

Poetry can be used as a medium internalization precept of “budi pekerti” (manner). The theory of semiotic Riffaterre can be used in understand the meaning and precepts of “budi pekerti” mind contained in poetry Kekean work F. Aziz Manna. Research methodology this is descriptive qualitative. The result of this research suggests that indirectness expression by replacing meaning in the form of metaphors and similes and the deflection the meaning of ambiguity. Reading a heuristic useful to clarify the meaning of language. Reading hermeneutic in poetry Kekean remembrance people is in this world for permits god, therefore attitude “tawaduk” should be owned by each individual. Matrix poetry Kekean is an attitude “tawaduk” that should be owned by each individual.  The model in Kekean poetry is “hanya kepala dan torso. tubuhku bulat. togog. Lenganku buntung”, “Aku pun tumbuh bagai barang aduan”. The varians in the Kekean poem is “Leherku terlilit tali panjang; berjuang dalam gerak melingkar; Aku pun tumbuh bagai barang aduan”. The teaching of “budi pekerti” that are contained in the poetry Kekean among others: believe in the existence of God; have a sense of self-worth; developing work ethos and learning; have a sense of responsibility; and able to control themselves.Keyword: Kekean poetry, budi pekerti, semiotik Riffaterre MAKNA DAN AJARAN BUDI PEKERTI DALAM PUISI KEKEAN KARYA F. AZIZ MANNA: KAJIAN SEMIOTIK RIFFATERREAbstrakPuisi dapat digunakan sebagai media internalisasi ajaran budi pekerti. Teori Semiotik Riffaterre dapat digunakan dalam memahami makna dan ajaran budi pekerti yang terkandung dalam puisi Kekean karya F. Aziz Manna. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa ketidaklangsungan ekspresi berupa penggantian arti dalam bentuk metafora dan simile dan penyimpangan arti berupa ambiguitas. Pembacaan heuristik berguna untuk memperjelas arti secara kebahasaan. Pembacaan hermeneutik dalam puisi Kekean mengandung makna manusia ada di dunia ini atas izin Allah, oleh sebab itu sikap tawaduk harus dimiliki oleh setiap individu. Matriks puisi Kekean adalah sikap tawadhu yang harus dimiliki oleh setiap individu. Model dalam puisi Kekean adalah “hanya kepala dan torso. tubuhku bulat. togog. Lenganku buntung”, “Aku pun tumbuh bagai barang aduan”. Varian dalam puisi Kekean adalah  “Leherku terlilit tali panjang; berjuang dalam gerak melingkar; Aku pun tumbuh bagai barang aduan”. Ajaran budi pekerti yang terkandung dalam puisi Kekean antara lain: meyakini adanya Tuhan; memiliki rasa menghargai diri sendiri; mengembangkan etos kerja dan belajar; memiliki rasa tanggungjawab; dan mampu mengendalikan diri.Kata kunci: puisi Kekean, budi pekerti, semiotik Riffaterre
Makna dan Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak pada Puisi Piatu Karya F. Aziz Manna Kodrat Eko Putro Setiawan; Wahyuningsih Wahyuningsih; Devi Cintia Kasimbara
Education & Learning Vol. 1 No. 1 (2021)
Publisher : Medan Resource Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (826.541 KB) | DOI: 10.57251/el.v1i1.5

Abstract

Understanding the meaning in a poem requires a theory. The object of this research is the poem Piatu by F. Aziz Manna. The theory used in this research is Michael Riffaterre's semiotics. The purpose of this research is to understand the meaning of poetry through heuristic reading, hermeneutic reading, models, matrices, and variants as well as moral education values. The method in this research is descriptive qualitative. The result of this research is the heuristic reading in the poem entitled Piatu, there are eight stanzas that produce the meaning of the poem based on language convention, not yet at the meaning. In the hermeneutic reading in the poem entitled Piatu, there are eight stanzas which in total contain the meaning of the longing of a child (immature) who does not have a mother anymore because he has passed away. This longing is a manifestation of a child's love and affection for his mother. This love and affection made him stronger and more willing to accept all the conditions given by Allah. The model in this poem is the Orphan. The matrix is ??a child whose mother has abandoned because of her death. The variants in this poem include: I don't cry or laugh; Flowers that embrace twigs; this solitude is strange. The values ??of moral education are respect for mothers and the command to love orphans.
Makna dan Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak pada Puisi Piatu Karya F. Aziz Manna Kodrat Eko Putro Setiawan; Wahyuningsih Wahyuningsih; Devi Cintia Kasimbara
Education & Learning Vol. 1 No. 1 (2021)
Publisher : Medan Resource Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (826.541 KB) | DOI: 10.57251/el.v1i1.5

Abstract

Understanding the meaning in a poem requires a theory. The object of this research is the poem Piatu by F. Aziz Manna. The theory used in this research is Michael Riffaterre's semiotics. The purpose of this research is to understand the meaning of poetry through heuristic reading, hermeneutic reading, models, matrices, and variants as well as moral education values. The method in this research is descriptive qualitative. The result of this research is the heuristic reading in the poem entitled Piatu, there are eight stanzas that produce the meaning of the poem based on language convention, not yet at the meaning. In the hermeneutic reading in the poem entitled Piatu, there are eight stanzas which in total contain the meaning of the longing of a child (immature) who does not have a mother anymore because he has passed away. This longing is a manifestation of a child's love and affection for his mother. This love and affection made him stronger and more willing to accept all the conditions given by Allah. The model in this poem is the Orphan. The matrix is ??a child whose mother has abandoned because of her death. The variants in this poem include: I don't cry or laugh; Flowers that embrace twigs; this solitude is strange. The values ??of moral education are respect for mothers and the command to love orphans.
Dekonstruksi Makna Priyayi dalam Novel Para Priyayi Karya Umar Kayam Devi Cintia Kasimbara; Wahyuningsih Wahyuningsih
Nusa: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Vol 15, No 3: Agustus 2020
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.036 KB) | DOI: 10.14710/nusa.15.3.341-351

Abstract

Kepriyayian identik dengan status sosial seseorang dalam pandangan masyarakat. Priyayi dipandang sebagai orang yang memiliki status sosial yang tinggi dan terpandang. Bisa karena keturunan dari keluarga terpandang ataupun karena memiliki pekerjaan yang berstatus sosial tinggi. Dalam novel Para Priyayi makna yang ideal tersebut dijungkirbalikkan oleh Umar Kayam. Penelitian ini menggunakan cara kerja teori dekonstruksi Derrida dengan menemukan oposisi-oposisi berlawanan pada novel Para Priyayi. Hasilnya dapat dilihat bahwa Umar Kayam menunjukkan bahwa kepriyayian bukanlah sekadar gaya hidup maupun status sosial, namun lebih kepada kepribadian itu sendiri, bagaimana seseorang berguna bagi masyarakat. Hal ini menjungkirbalikkan esensi makna priyayi yang telah tertanam kuat di hati dan pikiran masyarakat bahwa kepriyayian yang sangat lekat dengan gaya hidup maupun status sosial.Kata Kunci: dekonstruksi, priyayi, derrida, umar kayam, para priyayi.
Suwuk : Construction of the Javanese People's Mindset in Medicine Kodrat Eko Putro Setiawan; Wahyuningsih Wahyuningsih Wahyuningsih; Dedy Richi Rizaldy; Devi Cintia Kasimbar
Jurnal Javanologi Vol 5, No 1 (2021): Javanologi Volume 5 No. 1: Desember
Publisher : Pusat Unggulan Ipteks Javanologi Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/javanologi.v5i1.67938

Abstract

Suwuk is a traditional medicine that still exists in Javanese society, including the Ngawi people. This study aims to describe and explain the Javanese people's mindset about suwuk as a traditional medicine. The method in this research is descriptive qualitative. The subjects in this study were people who were directly involved in the Suwuk procession in the Ngawi Regency, East Java Province. The result of his research is that Suwuk is included in the element of technology. The practice of suwuk is carried out using media and mantras. Community pattern construction: Suwuk still exist and coexist with modern medicine; The emergence of diseases can be caused by two things, namely diseases that can be treated medically and there are diseases that are considered unnatural so that they must be treated through Suwuk. There is a pattern of community treatment that applies from generation to generation and is suggestive. The treatment procedure through Suwuk consists of two stages, namely: first, the stage of diagnosis and selection of the right treatment method; and second, the application of treatment. Diagnosis is basically done through numerology or petungan , intuitive knowledge. While the application of treatment through techniques, among others, through the media and spells.
KAJIAN PSIKOANALISIS LACAN DALAM PUISI IDUL FITRI KARYA SUTARDJI CALZOUM BACHRI: KAJIAN PSIKOANALISIS LACAN DALAM PUISI IDUL FITRI KARYA SUTARDJI CALZOUM BACHRI Devi Cintia Kasimbara; Kodrat Eko Putro Setiawan; Wahyuningsih
Jurnal Disastri (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia) Vol 4 No 3 (2022): Jurnal Disastri: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Idul Fitri merupakan puisi karya Sutardji Calzoum Bakhri yang sarat akan metaforadan metonimi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kondisi bawah sadar tokoh“aku” untuk menutupi kekurangan dan menemukan identitasnya kembali. Semuadapat dilihat melalui bahasa dalam puisi tersebut. Penelitian ini menggunakanmetode penelitian kualitatif dengan pendekatan poststrukturalisme yangmenggunakan analisis psikoanalisis Lacan. Teori psikoanalisis Lacan menjadi pisauanalisis yang digunakan untuk mengungkap sejauh mana fenomena metafora danmetonimi yang ada di dalam puisi Idul Fitri. Secara metonimi, puisi Idul Fitrimenggantikan diri manusia yang hina, kotor, tidak luput dari dosa dengan “aku” yangmerupakan si bekas pemabuk. Penggantian metonimik secara parte prototo(sebagian untuk menunjukkan keseluruhan) ini menunjukkan bahwa padahakikatnya manusia adalah makhluk yang tidak pernah luput dari dosa, manusiaselalu dalam kondisi yang kurang. Melalui metafora dan metonimi tersebut tampakbahwa puisi ini mengungkapkan hasrat “aku” yang begitu besar untuk bertobat danmendekatkan diri kepada jalan Tuhan.
Analisis Wacana Kritis Berita Daerah Ngawi dalam Media Daring radarmadiun.co.id Edisi Oktober 2021 Setiawan, Kodrat Eko Putro; Arwansyah, Yanuar Bagas; Sumarlam, Sumarlam
Jurnal Sastra Indonesia Vol 11 No 2 (2022): July
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jsi.v11i2.56189

Abstract

Kemajuan teknologi informasi berdampak sangat luas dalam kehidupan manusia. Berita adalah sebuah wacana yang menggunakan bentuk bahasa tertentu. Bahasa menjadi objek dalam analisis wacana kritis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil dari analisis kritis versi Leeuwen khususnya pada inclusion. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah berita daring yang dimuat radarmadiun.co.id edisi Oktober 2021. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dokumentasi, baca, dan catat. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data, verifikasi atau penarikan simpulan. Hasil penelitian ini adalah berita daerah Ngawi dalam media daring radarmadiun.co.id edisi Oktober 2021 dalam analisis wacana kritis versi inclusion Leeuwen terdapat objektivasi-abstraksi, nominasi-kategorisasi, dan nominasi-identifikasi. Kata kunci : Analisis Wacana Kritis, Radarmadiun.co.id, Inclusion Leeuwen