Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

POLITENESS PRINCIPLE IN RADIO DAMAI FM PARIAMAN ADVERTISEMENTS Nadia Fransisca Dwita; Emidar; Vivi Indriyani; Herlin Triana
Prologue: Journal on Language and Literature Vol. 10 No. 1 (2024): Prologue: Journal on Language and Literature
Publisher : Faculty of Letters Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/jurnalprologue.v10i1.149

Abstract

Politeness is an important aspect of speaking, especially in mass media. Radio, as an electronic media, conveys information to the public, one of which is advertising. In a radio advertisement, the aim is to be persuasive, so politeness is needed in delivering the broadcast. This article aims to describe the principles of language politeness contained in Radio Damai FM Pariaman advertising broadcasts. This research is qualitative research using descriptive methods. The data in this research are speech sentences in Radio Damai FM Pariaman advertising broadcasts. The data in this study was collected using proficient free-involved listening (SBLC) and note-taking techniques. Data analysis is carried out by transcribing data, identifying data, classifying data, interpreting data, and concluding the results of data analysis. The principles of language politeness contained in Radio Damai FM Pariaman advertising broadcasts are analyzed by classifying each utterance based on the form and function of language politeness and describing the condition of the speech. The results of the research revealed that there were 34 data on the principles of politeness used in Radio Damai FM Pariaman advertising broadcasts. This research has implications for Indonesian language learning in schools, especially advertising texts.
Model Game-Oriented Problem Exploration (GOPE) dalam Pembelajaran Bahasa: Analisis Kebutuhan Siswa Vivi Indriyani; Herlin Triana; Anisa Nurjanah; Delsy Arma Putri
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 11 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v11i1.4556

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan siswa terkait pengembangan model GOPE dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode survei deskriptif, dengan mengumpulkan data melalui angket yang diisi oleh siswa kelas XII SMA. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif untuk menggambarkan kebutuhan dan pandangan guru secara keseluruhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa bahwa model pembelajaran yang mengintegrasikan permainan edukatif dapat menciptakan suasana belajar yang dinamis dan relevan dengan konteks dunia nyata, sehingga mempermudah transfer pengetahuan dan keterampilan.. Berdasarkan hasil analisis tersebut, model GOPE dalam pembelajaran Bahasa berpotensi memberikan dampak positif pada peningkatan keterampilan kritis dan kolaboratif siswa.
Ilocutionary speect act used in advertisement in Radio Damai FM Pariaman Annisa Ainur Rahman; Herlin Triana; Rohaidah Binti Haron; Vivi Indriyani
Jurnal Komunitas Bahasa Vol 12, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Universitas Asahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36294/jkb.v12i1.3887

Abstract

Very significant technological developments do not hamper the existence of radio as one of the broadcast communication media. Various advertisements still trust radio as a distributor of information that has the potential to influence the public to promote a product. One of his efforts is to design unique and interesting communication. For this reason, this study examines the use of illocutionary speech acts in advertisements on Radio Damai FM Pariaman. There are various forms of speech acts in communication designed by the advertisements delivered. The method in this study is a qualitative-descriptive method. Based on the results of the study, it was found that the form of speech acts was 18.4%, 2) Directive as much as 39.5%, 3) Commissive as much as 15.8%, 4) Expressive 26.3%. The dominant speech act is a directive speech act because advertising in conveying information is more persuasive. It can be concluded that the speech acts used by advertisements on the radio in informing something not only about creating interesting language to influence radio listeners but can also have implications for learning in schools related to advertising text lessons and language skills.
Tindak Tutur Direktif Guru dan Strategi Bertutur Guru pada Pembelajaran Teks Resensi Siswa Kelas XI.4 Fase F SMA Negeri 1 Payakumbuh Fildzah, Fildzah Heriani; Triana, Herlin
Journal of Education Language and Innovation Vol. 3 No. 1 (2025)
Publisher : Indonesian and Regional Language and Literature Department, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jeli.v3i1.73

Abstract

Guru perlu memiliki keterampilan komunikasi yang kuat dan efektif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk tindak tutur direktif dan strategi komunikasi yang digunakan oleh guru selama pengajaran. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang temuan. Penelitian kualitatif menghasilkan data deskriptif dalam bentuk bahasa lisan, teks tertulis, dan perilaku individu yang diamati. Temuan menunjukkan bahwa, di antara tindak tutur direktif seperti bertanya, memerintah, memohon, menasihati, menyarankan, dan menantan, tindak tutur yang paling sering digunakan adalah bertanya, dengan 102 tuturan, sedangkan menasihati adalah yang paling jarang digunakan, dengan hanya 1 tuturan. Selain itu, studi ini juga mengeksplorasi strategi bertutur yang digunakan oleh guru selama pembelajaran, yang dominan digunakan yaitu strategi Bertutur Terus Terang tanpa Basa-basi (BTTB) yang ditemukan sebanyak 144 data. Ketika guru menyampaikan tuturannya secara langsung tanpa basa-basi siswa akan mudah memahami dan dapat menciptakan hubungan yang harmonis sehingga komunikasi yang terjalin menjadi bagus. Melalui komunikasi dan tuturan yang bagus dan efektif, interaksi yang variatif, srerta menunjukkan kepedulian, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan siswa, yang pada akhirnya berdampak pada hasil belajar yang lebih baik.
Tindak Tutur Ekspresif Guru dan Strategi Bertutur Guru dalam Pembelajan Bahasa Teks Puisi Kelas VIII SMP Negeri 2 X Koto Herianti, Tesya Ulva; Triana, Herlin
Journal of Education Language and Innovation Vol. 3 No. 1 (2025)
Publisher : Indonesian and Regional Language and Literature Department, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jeli.v3i1.92

Abstract

Peran guru sebagai pembicara sangat penting dalam pembelajaran karena melalui tindak tutur ekspresif, guru dapat mendidik, membimbing, dan mengarahkan siswa. Tujuan yang hendak dicapai peneliti dalam penelitian ini yaitu mendeskripsikan apa sajakah bentuk tindak tutur ekspresif dan strategi bertutur yang digunakan guru dalam pembelajaran. Jenis penelitian ini yaitu penelitian kualitatif dengan metode deskriptif yang memberikan gambaran dan menjabarkan hasil penelitian secara mendalam. Penelitian kualitatif menghasilkan data deskriptif berupa ucapan, tulisan, dan perilaku individu yang diamati. Hasil dari penelitian ini yaitu, Pertama, dari tindak tutur ekspresif memuji,berterima kasih, meminta maaf, mengkritik, menyalahkan, mengucapkan selamat, tindak tutur ekspresif yang dominan digunakan adalah tindak tutur ekspresif memuji yaitu sebanyak 23 tuturan dan tindak tutur yang sedikit digunakan adalah tindak tutur ekspresif mengucapkan selamat yaitu sebanyak 1 tuturan.Kedua, strategi bertutur yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran yang dominan digunakan yaitu strategi Bertutur Terus Terang tanpa Basa-basi (BTTB) yang ditemukan sebanyak 43 data. Dengan mempelajari tindak tutur ini diharapkan agar dapat mengetahui dan memahami bagaimana tata cara bertutur yang baik, pemilihan bentuk tindak tutur serta strategi yang tepat dalam berkomunikasi, sehinga siswa bisa memberikan respon timbal balik komunikasi yang positif.
Validation of Artificial Intelligence (AI) In Syntactic Analysis to Improve Students' Linguistic Competence and AI Literacy Herlin Triana; Vivi Indriyani; Delsy Arma Putri; Hanafi Saputra
INTERACTION: Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. 12 No. 3 (2025): INTERACTION: Jurnal Pendidikan Bahasa
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36232/interactionjournal.v12i3.3983

Abstract

The advancement of artificial intelligence (AI) presents both opportunities and challenges in language learning, particularly in Indonesian syntax analysis, which is characterized by its flexible and complex structures. The main problem arises from AI limitations in accurately distinguishing syntactic functions, especially between objects, complements, and adverbials, which may lead to misinterpretations among students. This study aims to validate AI’s accuracy in sentence pattern analysis and to emphasize its role as a supporting tool rather than a primary authority in syntactic studies. Employing a qualitative descriptive approach with documentation techniques, the research analyzed 60 student-produced sentences processed by AI and compared them with conceptual analysis based on Chaer’s syntactic theory. Findings reveal that AI demonstrates relatively high accuracy in identifying subjects and predicates (90%), moderate accuracy in objects (80%), but lower accuracy in complements and adverbials (75%). These results highlight that while AI is useful for recognizing basic syntactic patterns, it remains weak in distinguishing between obligatory and optional grammatical functions. The implication is that AI integration in language learning must be accompanied by theoretical validation from students and lecturers to ensure that sentence analysis is not merely mechanical but grounded in comprehensive linguistic understanding.
Model Game-Oriented Problem Exploration (GOPE) dalam Pembelajaran Bahasa: Analisis Kebutuhan Siswa Indriyani, Vivi; Triana, Herlin; Nurjanah, Anisa; Putri, Delsy Arma
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 11 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v11i1.4556

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan siswa terkait pengembangan model GOPE dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode survei deskriptif, dengan mengumpulkan data melalui angket yang diisi oleh siswa kelas XII SMA. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif untuk menggambarkan kebutuhan dan pandangan guru secara keseluruhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa bahwa model pembelajaran yang mengintegrasikan permainan edukatif dapat menciptakan suasana belajar yang dinamis dan relevan dengan konteks dunia nyata, sehingga mempermudah transfer pengetahuan dan keterampilan.. Berdasarkan hasil analisis tersebut, model GOPE dalam pembelajaran Bahasa berpotensi memberikan dampak positif pada peningkatan keterampilan kritis dan kolaboratif siswa.
Efektivitas copywriting dan storytelling dalam meningkatkan kompetensi karang taruna untuk promosi budaya dan wisata lokal Abdurahman; Indriyani, Vivi; Triana, Herlin; Thamsin, Andria Catri; Ulya, Ridha Hasnul; Zulfikarni; Hafrison, Mohamad
Jurnal Inovasi Hasil Pengabdian Masyarakat (JIPEMAS) Vol 8 No 3 (2025)
Publisher : University of Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jipemas.v8i3.24141

Abstract

Kemajuan teknologi informasi menjadikan kemampuan menulis naskah persuasif dan menyusun narasi kreatif yang dipublikasikan pada media digital merupkan keterampilan yang sangat dibutuhkan saat ini. Berdasarkan hal itu, kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan copywriting dan storytelling Karang Taruna Nagari Malai V Suku Timur dalam mempromosikan budaya dan wisata lokal di era digital. Metode pengabdian yang digunakan adalah Service Learning dengan pendekatan Community Development, yang dilaksanakan selama dua hari dengan melibatkan 15 peserta. Tahapan kegiatan meliputi persiapan, pre-test, pelaksanaan inti, post-test, dan evaluasi. Proses inti menggunakan kombinasi ceramah interaktif, praktik, serta diskusi kelompok untuk mengasah keterampilan menulis naskah persuasif dan merancang narasi kreatif. Berdasarkan hasil uji Wilcoxon dan N-Gain menunjukkan peningkatan signifikan antara skor pre-test dan post-test, yang membuktikan efektivitas kegiatan. Pelatihan ini terbukti efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam mempromosikan potensi budaya dan wisata lokal melalui media digital. Kegiatan ini berimplikasi pada penguatan kapasitas pemuda nagari dalam bidang literasi digital sekaligus mendukung pengembangan ekonomi kreatif daerah secara berkelanjutan.
ILLOCUTIONARY FORCE IN @UDARIO.ID INSTAGRAM CONTENT PROMOTION Triana, Herlin; Mufrihah, Mazayatul; Syukri, Haris; Haron, Rohaidah Binti; Indriyani, Vivi
LiNGUA: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Vol 19, No 1 (2024): LiNGUA
Publisher : Laboratorium Informasi & Publikasi Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/ling.v19i1.25898

Abstract

The use of Instagram social media as a promotional medium is not only built based on marketing strategies, but it requires language distinctiveness and strong linguistic power to attract Instagram users. This study examines the marketing strategies and types of illocutionary speech acts used on the Instagram account @udario.id. The method used in this study is descriptive-qualitative. The speech acts found in @udario.id content are (1) Assertive functions to conclude, report, and express; (2) Directive speech acts function to ask, command, and inquire; (3) Expressive speech acts function to complain, blame, thank; and (4) Commissive speech acts serve to promise. The most frequent Speech Acts are illocutionary directives of asking and commanding. By employing directive phrases, creators can significantly enhance engagement and visibility, as these prompts invite followers to interact with the content. When delivered in the local language, these directives become more relatable and understandable, strengthening the connection with the audience and increasing the likelihood of a response. Additionally, such prompts encourage followers to actively participate, fostering a sense of community.
Game-Oriented Problem Exploration (GOPE) Model in Language Learning: A Teacher’s View Vivi Indriyani; Herlin Triana; Anisa Nurjanah; Delsy Arma Putri
AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan Vol 16, No 4 (2024): AL-ISHLAH: JURNAL PENDIDIKAN
Publisher : STAI Hubbulwathan Duri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35445/alishlah.v16i4.5988

Abstract

The development of students' critical and collaborative thinking skills is essential, particularly in Indonesian language learning. To address this, a targeted learning model is needed. The Game-Oriented Problem-Based Learning and Engagement (GOPE) model has been proposed, but a needs analysis is required to assess its feasibility and integration into classroom settings. A descriptive survey method was employed to analyze teacher needs for the GOPE model in Indonesian language learning. Data were collected through questionnaires administered to Indonesian language teachers across various schools. The responses were analyzed using a descriptive quantitative approach to identify patterns and trends in teachers' perspectives. Findings revealed that teachers recognized the critical role of integrating problem-based learning and gaming elements to enhance student engagement and motivation. Most participants emphasized that such integration could significantly improve learning outcomes and foster students' critical and collaborative thinking skills. The data supported the hypothesis that the GOPE model could address these educational challenges effectively. The results suggest that the GOPE model has potential as an innovative tool in language learning. Its emphasis on combining problem-solving strategies with interactive gaming aligns with teachers’ views on effective pedagogical practices. Further research and development are recommended to optimize its application and assess its impact on students’ skills and learning achievements. This study highlights the need for innovative learning models in Indonesian language education. The GOPE model shows promise in enhancing critical and collaborative skills, suggesting a positive step toward improved educational practices.