Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

PENGARUH PENGETAHUAN HUKUM KESEHATAN TENTANG VAKSINASI TERHADAP KEPERCAYAAN MASYARAKAT DALAM PROGRAM IMUNISASI ANAK DI WILAYAH PUSKESMAS KABUPATEN SIDOARJO Alpian Jayadi; Octo Zulkarnain; Denis Farida; Heri Nur Cahyanto; Ariska Putri Hidayathillah; Putri Pamungkas
Jurnal Penelitian Keperawatan Kontemporer Vol 6 No 2 (2026): Vol. 6 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : Program Studi S1 Ilmu Keperawatan dan Ners IKBIS Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59894/jpkk.v6i3.1433

Abstract

Latar Belakang: Program imunisasi anak merupakan salah satu upaya preventif utama dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular. Namun, meningkatnya keraguan masyarakat terhadap vaksinasi masih menjadi tantangan dalam pelaksanaan program imunisasi. Rendahnya pemahaman masyarakat mengenai hukum kesehatan terkait vaksinasi diduga memengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap program imunisasi anak. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pengetahuan hukum kesehatan tentang vaksinasi terhadap kepercayaan masyarakat dalam program imunisasi anak di wilayah Puskesmas Kabupaten Sidoarjo. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 132 responden yang dipilih menggunakan teknik proportionate random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner pengetahuan hukum kesehatan dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap program imunisasi anak. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dan regresi logistik dengan tingkat signifikansi p<0,05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan hukum kesehatan kategori baik (56,1%) dan tingkat kepercayaan tinggi terhadap program imunisasi anak (59,8%). Hasil uji statistik menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan antara pengetahuan hukum kesehatan tentang vaksinasi terhadap kepercayaan masyarakat dalam program imunisasi anak dengan nilai p-value 0,000. Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa responden dengan pengetahuan hukum kesehatan yang baik memiliki peluang 5,87 kali lebih besar untuk memiliki tingkat kepercayaan tinggi terhadap program imunisasi anak. Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengetahuan hukum kesehatan tentang vaksinasi berpengaruh signifikan terhadap kepercayaan masyarakat dalam program imunisasi anak. Peningkatan literasi hukum kesehatan masyarakat diperlukan untuk memperkuat kepercayaan terhadap program imunisasi.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ULKUS KAKI DIABETIK PADA PASIEN DIABETES MELITUS Denis Farida; Heri Nur Cahyanto; Ariska Putri Hidayatillah; Putri Pamungkas; Octo Zulkarnain
Jurnal Penelitian Keperawatan Kontemporer Vol 6 No 3 (2026): Vol. 6 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Program Studi S1 Ilmu Keperawatan dan Ners IKBIS Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59894/jpkk.v6i3.1455

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Ulkus kaki diabetik (UKD) merupakan komplikasi kronis yang paling serius pada pasien Diabetes Melitus (DM) dan menjadi penyebab utama morbiditas, amputasi ekstremitas bawah, serta penurunan kualitas hidup. Prevalensi UKD di Indonesia mencapai 15%, dengan angka amputasi 30% dan angka mortalitas 32%. Berbagai faktor diduga berhubungan dengan kejadian UKD, namun masih diperlukan bukti empiris yang komprehensif. Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ulkus kaki diabetik pada pasien Diabetes Melitus. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian adalah 96 pasien di wilayah kerja Puskesmas Keputih yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara, pemeriksaan fisik, dan rekam medis. Analisis data menggunakan uji Chi-Square untuk analisis bivariat dan regresi logistik untuk analisis multivariat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian UKD adalah lama menderita DM ≥5 tahun (p = 0,009), kadar HbA1c buruk (>8%) (p = 0,009), obesitas (p = 0,001), neuropati sensorik (p = 0,000), perawatan kaki kurang (p = 0,000), dan kepatuhan kunjungan berobat (p = 0,000). Faktor yang paling dominan berhubungan dengan kejadian UKD adalah kepatuhan kunjungan berobat (OR = 8,95). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara lama menderita DM, kadar HbA1c, obesitas, neuropati sensorik, perawatan kaki, dan kepatuhan kunjungan berobat dengan kejadian ulkus kaki diabetik. Faktor kepatuhan kunjungan berobat merupakan faktor yang paling dominan.
PENERAPAN BALUTAN MODERN BERBASIS SILVER- CHARCOAL (CONKOCHAR AG) PADA PERAWATAN ULKUS VENA KRONIS: SEBUAH LAPORAN KASUS Octo Zulkarnain; Heri Nur Cahyanto; Denis Farida; Ariska Putri Hidayathillah; Alpian Jayadi; PUTRI PAMUNGKAS
Jurnal Penelitian Keperawatan Kontemporer Vol 6 No 3 (2026): Vol. 6 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Program Studi S1 Ilmu Keperawatan dan Ners IKBIS Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59894/jpkk.v6i3.1459

Abstract

Latar Belakang: Ulkus vena kronis merupakan komplikasi lanjut dari insufisiensi vena kronis (chronic venous insufficiency/CVI) yang ditandai dengan luka sulit sembuh, eksudat berlebih, malodor, dan risiko infeksi berulang sehingga menurunkan kualitas hidup pasien. Balutan modern berbasis silver-charcoal seperti ConkoChar Ag dikembangkan untuk menangani biofilm, malodor, dan eksudat secara bersamaan melalui prinsip DIMES (Debridement, Infection control, Moisture balance, Edge management, Supportive therapy). Tujuan: Melaporkan hasil penerapan protokol perawatan luka modern menggunakan ConkoChar Ag, Hydrogel, dan Silver Spray pada pasien dengan ulkus vena kronis di regio kruris. Metode: Studi kasus deskriptif prospektif subjek tunggal dilakukan pada Ny. W, perempuan usia 76 tahun dengan ulkus vena kronis pada maleolus medialis dan lateralis dekstra yang telah berlangsung 12 tahun. Perawatan luka dilakukan dua kali seminggu selama 15 hari (Hari ke-0 sampai Hari ke-15), meliputi debridement, manajemen infeksi, manajemen kelembapan- eksudat, manajemen tepi luka, kompresi, dan offloading. Evaluasi meliputi ukuran luka, komposisi jaringan, eksudat, malodor, tanda infeksi, nyeri (VAS), dan kualitas hidup pasien. Hasil: Setelah 15 hari perawatan, ukuran ulkus pada maleolus medialis mengecil dari 8×3,5×0,5 cm menjadi 7×3×0,5 cm (reduksi luas ±25%), persentase epitelisasi meningkat dari 5% menjadi 10%, eksudat menurun dari sedang menjadi ringan, malodor menghilang, dan tanda infeksi tidak lagi ditemukan. Pasien dapat menjalankan aktivitas harian dengan baik tanpa keluhan nyeri bermakna (VAS 3). Kesimpulan: Penerapan ConkoChar Ag yang dikombinasikan dengan Hydrogel dan Silver Spray dalam kerangka DIMES menunjukkan perbaikan klinis pada ulkus vena kronis berupa pengecilan ukuran luka, peningkatan jaringan granulasi/epitelisasi, serta hilangnya malodor dan tanda infeksi dalam 15 hari perawatan.
Pengaruh Penggunaan Herichat-Tb Berbasis Web- Mobile-Ai sebagai Dukungan Asuhan Keperawatan terhadap Kepatuhan Minum Obat dan Self- Efficacy Pasien Tuberkulosis di RS Bhayangkara Surabaya Heri Nur Cahyanto; Agustin Agustin; Novita Ana Anggraini; Indasah Indasah; Prima Dewi K
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 9 (2026): Volume 6 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i9.25712

Abstract

ABSTRACT Tuberculosis requires long-term treatment adherence, yet many patients experience low adherence and self-efficacy, which can lead to treatment failure. The use of technology-based interventions such as chatbot AI offers potential support in improving patient outcomes.This study aimed to analyze the effect of HeriChat-TB web-mobile AI on medication adherence and self-efficacy among tuberculosis patients.This study used a quantitative quasi-experimental design with a pretest–posttest with control group approach. A total of 147 respondents were selected using simple random sampling and divided into three groups: intervention 10 days (n=49), intervention 20 days (n=49), and control (n=49). Data were collected using MMAS-8 and TBSES instruments and analyzed using Wilcoxon, Kruskal-Wallis, and Mann-Whitney tests. The 20-day intervention significantly improved medication adherence and self-efficacy compared to the 10-day intervention and control group. The 10-day intervention improved self-efficacy but did not significantly affect adherence. No significant change in adherence was found in the control group. The correlation between changes in self-efficacy and adherence was positive but not significant. HeriChat-TB web-mobile AI is effective in improving medication adherence and self-efficacy in tuberculosis patients, particularly with longer intervention duration. Keywords: Tuberculosis, Adherence, Self-Efficacy, Chatbot AI, Digital Health.  ABSTRAK Tuberkulosis memerlukan kepatuhan pengobatan jangka panjang, namun masih banyak pasien yang mengalami rendahnya kepatuhan dan self-efficacy sehingga berisiko terhadap kegagalan terapi. Pemanfaatan teknologi berbasis artificial intelligence seperti chatbot menjadi salah satu alternatif untuk mendukung peningkatan hasil pengobatan.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh HeriChat-TB berbasis web-mobile AI terhadap kepatuhan minum obat dan self-efficacy pasien tuberkulosis. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif quasi-experimental dengan pendekatan pretest–posttest with control group. Sampel berjumlah 147 responden yang dipilih menggunakan simple random sampling dan dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu intervensi 10 hari (n=49), intervensi 20 hari (n=49), dan kontrol (n=49). Data dikumpulkan menggunakan instrumen MMAS-8 dan TBSES, kemudian dianalisis menggunakan uji Wilcoxon, Kruskal-Wallis, dan Mann-Whitney. Intervensi selama 20 hari terbukti meningkatkan kepatuhan minum obat dan self-efficacy secara signifikan dibandingkan kelompok 10 hari dan kontrol. Intervensi 10 hari meningkatkan self-efficacy tetapi belum memberikan pengaruh signifikan terhadap kepatuhan. Kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan kepatuhan yang bermakna. Hubungan antara perubahan self-efficacy dan kepatuhan bersifat positif namun tidak signifikan. HeriChat-TB berbasis web-mobile AI efektif dalam meningkatkan kepatuhan minum obat dan self-efficacy pasien tuberkulosis, terutama dengan durasi intervensi yang lebih lama. Kata Kunci: Tuberkulosis, Kepatuhan, Self-Efficacy, Chatbot AI, Kesehatan Digital.