Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

ANALISIS PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI DALAM PENANGANAN SAMPAH MEDIS PADA PETUGAS CLEANING SERVICE DI RSUD KABUPATEN BEKASI TAHUN 2016 Farsida Farsida; Mirzan Zulyanda
Jurnal Kesehatan Vol 12 No 1 (2019): JURNAL KESEHATAN
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/kesehatan.v12i1.5736

Abstract

Alat Pelindung Diri  (APD) merupakan seperangkat alat keselamatan yang digunakan oleh pekerja untuk melindungi seluruh atau seabagian tubuhnya dari kemungkinan adanya pemaparan potensi bahaya lingkungan kerja terhadap kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Petugas cleaning service mempunyai risiko untuk terpajan bahan biologi berbahaya (biohazard). Kontak dengan alat medis sekali pakai (disposable equipment) seperti jarum suntik bekas maupun selang infus bekas, serta membersihkan seluruh ruangan di rumah sakit dapat meningkatkan risiko untuk terkena penyakit infeksi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi penggunaan Alat pelindung Diri dalam Penaganan Sampah Medis pada Petugas Cleaning Service di RSUD Kabupaten Bekasi Tahun 2016. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif observasional analitik dengan menggunakan desain studi cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah seluruh petugas cleaning service  di RSUD Kab. Bekasi yang berjumlah 50 orang dengan analisis bivariat menggunaka uji chi-square. Penelitian menunjukkan bahwa 33 orang (66%) responden menggunakan APD dengan lengkap, hasil analisis bivariat menunjukkan hubungan penggunaan APD dengan variabel pengetahuan (pvalue 0.04 dan OR=9,846), sikap (pvalue 0,002 dan OR=7,750),  umur (pvalue 0,352 dan OR 1,225), Pendidikan (pvalue 0,767 dan OR 0,498), dan masa kerja (pvalue 0,557 dan OR 0,656). Terdapat hubungan bnermakna penggunaan APD dengan pengetahuan dan sikap dimana pvalue <0,05 dan tidak terdapat hubungan bermakna antara pengunaan APD dengan umur, Pendidikan dan masa kerja dimana pvalue>0,005. Saran : diharapkan kepada pihak Rumah Sakit untuk dapat terus meningkatkan  pengetahuan dan sikap  cleaning service dalam penggunaan APD, adapun untuk umur, Pendidikan dan Masa kerja perlu menjadi masukan rumah sakit dalam dengan memberikan edukasi dan pelatihan mengenai pentingnya menggunakan APD dengan baik.ABSTRACTPersonal Protective Equipment (PPE)  is a set of safety equipment used by workers to protect all or part of the body from the possibility of exposure to potential workplace hazards to occupational accidents and diseases. Cleaning service at risk for exposure to hazardous biological substances (biohazard). Contact with disposable medical instruments (disposable equipment) such as used syringes or IV lines used, as well as clean the whole room in a hospital can increase the risk of infectious diseases. Risk of occupational accidents and occupational diseases can occur against officers. This study aims to determine the factors that affect the use of Personal Protective Equipment in Medical Waste Treatment at Cleaning Service Officer at General Hospital Bekasi District In 2016. This study is a quantitative analytical observation that used cross sectional design. The sample in this study is all of cleaning service officer in General Hospital Bekasi District in 2016.  This study used univariate analysis to describe of the use Personal protective equipment and the factors that affected it. The result study shows that 33 (66,0%) respondent were used Personal protective equipment complete. The result analysis shows that there were significant relation between knowledge and  attitude with the use of personal protective equipment. The variable of age, education, and work period were not significant relation with the use of personal protective equipment. This is may be conclused that respondent who have good knowledge and positive attitude were used personal protective equipment complete than respondent who have bad knowledge and negative attitude. Hopefully to the hospital To give education that the us of personal protective equipment is important and there is impact can be happen if not using personal protective equipment at work.
Hubungan Ukuran Lingkar Kepala dengan Perkembangan Anak Usia 12 - 36 Bulan Berdasarkan Skala Denver Development Screening Test-II (Ddst-II) di Posyandu RW 03 Mustika Jaya Bekasi Timur November 2016 Rahmini Shabariah; Farsida Farsida; Indri Prameswari
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 15, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
Publisher : Faculty of Public Health, Faculty of Medicine and Health, Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.431 KB) | DOI: 10.24853/jkk.15.1.46-55

Abstract

Latar Belakang: Anak-anak dengan keterlambatan perkembangan secara umum meliputi 10% anak-anak di seluruh dunia. Berdasarkan hasil pelayanan Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) pada 500 anak dari lima wilayah DKI Jakarta, ditemukan 57 anak (11,9%) mengalami kelainan tumbuh kembang. Kelainan yang paling banyak yaitu delayed development (pertumbuhan yang terlambat) 22 anak, 14 anak mengalami global delayed development, 10 anak gizi kurang, 7 anak mikrosefali, dan 7 anak yang tidak mengalami kenaikan berat badan dalam beberapa bulan terakhir. Ukuran lingkar kepala adalah salah satu indikator yang umum diperiksa untuk mengidentifikasi kelainan neurologis dan menyingkirkan penyebab keterlambatan perkembangan.Metode: Penelitian ini bersifat kuantitatif analisis, dengan responden anak usia 12 - 36 bulan di Posyandu RW 03 Kelurahan Mustika Jaya, Bekasi Timur. Pendekatan yang digunakan pada desain penelitian ini adalah ”cross sectional study, dengan jumlah sampel sebanyak 73 responden.Hasil: Berdasarkan penelitian, lebih dari setengah reponden yang memiliki lingkar kepala dengan interpretasi tanpa kelainan kepala atau normal memiliki aspek perkembangan motorik kasar yang normal (98,5%), dibandingkan dengan aspek perkembangan motorik kasar yang suspek (1,5%). Reponden yang memiliki lingkar kepala normal memiliki aspek perkembangan motorik halus yang normal (95,6%), dibandingkan dengan yang suspek (4,4%). Reponden yang memiliki lingkar kepala normal memiliki aspek perkembangan bahasa yang normal (92,6%), dibandingkan dengan yang suspek (7,4%). Reponden yang memiliki lingkar kepala normal memiliki aspek perkembangan personal sosial yang normal (97,1%), dibandingkan dengan yang suspek (2,9%). Didapatkan reponden yang memiliki lingkar kepala tanpa kelainan kepala atau normal cenderung memiliki perkembangan yang normal (86,8%) dibandingkan perkembangan yang suspek (13,2%).Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara lingkar kepala dengan interpretasi tanpa kelainan atau normal dengan perkembangan anak yang normal. Lingkar kepala tanpa kelainan mempengaruhi perkembangan anak 9 kali lebih besar.Kata Kunci: Lingkar Kepala, Perkembangan Anak, DDST II.
Hubungan antara Pengetahuan dan Sikap Remaja Putri tentang Kesehatan Reproduksi dengan Kejadian Dismenore di SMAN 4 Depok Tahun 2014 Nindhita Ayu Andhini; Farsida Farsida
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 1 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
Publisher : Faculty of Public Health, Faculty of Medicine and Health, Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (657.974 KB) | DOI: 10.24853/jkk.12.1.108-115

Abstract

Dismenore, umumnya juga dikenal sebagai kram menstruasi, adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan rasa sakit yang nyeri disertai rasa tertekan pada perut sewaktu periode menstruasi. Rasa nyeri dapat menjalar dari perut sampai ke pinggang, punggung bawah dan paha bagian dalam. Pada kasus yang parah, hal ini dapat menyebabkan mual, muntah, diare dan nyeri berat yang dapat mengganggu aktifitas wanita sehari-hari. Nyeri kram disebabkan karena kontraksi berlebihan dari otot-otot rahim akibat pelepasan berlebihan zat-zat, yang dikenal sebagai prostaglandin.Kesehatan reproduksi adalah keadaan kesejahteraan fisik, mental, sosial yang utuh dalam segala hal yang berkaitan dengan sistim, fungsi-fungsi dan proses reproduksi.Tujuanpenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikapdengankejadian dismenore pada remaja putri di SMAN 4 Depok tahun 2014Metodologipenelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan menggunakan metode penelitian observasional atau survey dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah 93 orang siswi Sekolah Menengah Atas Negeri 4 Depok yang telah memenuhi kriteria inklusi. Instrumen yang digunakan berupa kuisioner yang sudah diuji validitas dan reliabilitas.Hasil,Dari kuisioner didapatkan data bahwa proporsi responden yang memiliki pengetahuan baik dan tidak merasakan nyeri ketika menstruasi sebanyak 33 responden (58,9%), dan responden yang memiliki pengetahuan sedang dan tidak merasakan nyeri sebanyak 21 responden (37,5%) serta responden yang memiliki pengetahuan kurang baik dan tidak merasakan nyeri sebanyak 2 responden (3,6%). Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,002 (p<0,05). Dari kuisioner juga didapatkan bahwa proporsi responden yang memiliki sikap yang positif dan tidak nyeri sebanyak 49 responden (87,5%), dan responden yang memiliki sikap yang negatif dan tidak nyeri sebanyak 7 responden (12,5%). Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,000 (p<0,05)Kesimpulan, Ada hubungan antara pengetahuan dan sikap tentang kesehatan reproduksi dengan kejadian dysmenorrheae pada remaja putri SMAN 4 Depok tahun 2014. Kata Kunci: Sikap dan pengetahuan, kesehatan reproduksi, dismenorea
Factors Associated with BCG Scar of Pediatric Tuberculosis Patients at Pisangan and East Ciputat Community Health Centers Farsida Farsida; Ayu Farah Syifa; Azka Zifa Tanama
Jurnal Profesi Medika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 16, No 1 (2022): Jurnal Profesi Medika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta Kerja Sama KNPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33533/jpm.v16i1.4341

Abstract

Tuberculosis (TB) is the most common cause of death in children.  Prevention of TB through Bacille Calmette–Guérin (BCG) vaccination is an action to produce immunity against TB disease.  After vaccination, a scar forms from the boil, which indicates a successful vaccination.  This study aims to determine the factors associated with BCG Scar in pediatric TB patients.  A cross-sectional design was conducted at the Pisangan and East Ciputat Community Health Centers in January-September 2020.  Data collection using medical records and telephone interviews on 35 samples was taken using the probability sampling technique, simple random sampling.  With inclusion criteria for pediatric TB patients (0-18 years) and exclusion criteria that do not include telephone numbers and addresses.  Bivariate analysis was used with the chi-square test.  The results showed a significant relationship between contact history and BCG scars in pediatric TB patients.  Age, gender, nutritional status, exclusive breastfeeding, immunization, mother's education, parent's occupation, family income, and smoking history were not significantly related to BCG scar.  Contact history related to BCG scar.  Parents should pay more attention to and protect their children from the people around them to cut off the possibility of contact with TB sufferers even though the child has been vaccinated. 
Faktor- faktor yang Mempengaruhi Akseptor KB tidak Memilih Alat Kontrasepsi dalam Rahim di Desa Tanggung Gunung Tulung Agung Jawa Timur Tahun 2014 Rannie Kusuma Wardhani; Farsida Farsida
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 1 (2015): JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
Publisher : Faculty of Public Health, Faculty of Medicine and Health, Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jkk.11.1.49-53

Abstract

Gerakan Keluarga Berencana Nasional disiapkan untuk membangun sumber daya manusia yang optimal, dengan ciri semakin meningkatnya peran serta masyarakat dalam memenuhi kebutuhan untuk dapat membangun keluarga sejahtera dalam rangka pelayanan Keluarga Berencana (KB). Dalam penyelenggarannya digunakan berbagai macam alat kontrasepsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi Akseptor KB tidak memilih Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) sebagai alat kontrasepsi di Desa Tanggung Gunung kabupaten Tulungagung Jawa Timur. Metodologi Penelitian. menggunakan desain studi cross sectional dengan sampel 256 responden dan teknik insidental sampling. Penelitian dilakukan terhadap akseptor KB selain akseptor AKDR di Desa Tanggung Gunung November-Desember 2014 dengan kuisioner penelitian sebagai data primer dan data sekunder diperoleh dari Rakerda Pembangunan dan Kependudukan Keluarga Berencana Tahun 2014 Kabupaten Tulungagung.Hasil Faktor-faktor yang mempengaruhi akseptor KB tidak memilih AKDR di Desa Tanggung Gunung pada bulan November - Desember 2014 diantaranya faktor pengetahuan, dimana 22 responden (47,66%) berpengetahuan kurang, Pengalaman responden dalam AKDR 232 responden (91%) belum pernah menggunakan AKDR. Sebagian besar responden berpendidikan terakhir SMP yaitu 115 responden (45%). Responden yang bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga yaitu 210 responden (82%). Sebagian besar responden mempunyai anak satu 131 responden (51%). Hampir seluruh dari responden tidak pernah melakukan/mendapatkan konseling yaitu 208 responden (81%).Kesimpulan.Terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi akseptor KB tidak memilih AKDR di Desa Tanggung Gunung Jawa Timur Tahun 2014. Faktor-faktor tersebut adalah pengetahuan ,pendidikan, pengalaman, paritas (jumlah anak), pekerjaan dan konseling.
Hubungan Pengetahuan terhadap Kecemasan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Peserta Vaksinasi COVID-19 di Puskesmas Bambu Apus Farsida Farsida; Yossy Melna Aufah; Yusri Hapsari Utami
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 18, No 2 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
Publisher : Faculty of Public Health, Faculty of Medicine and Health, Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jkk.18.2.229-239

Abstract

Pelaksanaan vaksinasi COVID-19 tidak serta merta diterima oleh masyarakat, terjadi keraguan dan penolakan karena beberapa faktor, antara lain reaksi pasca imunisasi atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Reaksi yang mungkin terjadi setelah vaksinasi COVID-19 hampir sama dengan vaksin lainnya. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) melaporkan bahwa 8.624 peserta vaksinasi, mencatat 64 kejadian terkait kecemasan, termasuk 17 laporan sinkop kejadian terkait kecemasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan kecemasan tentang KIPI pada peserta vaksinasi COVID-19 di Puskesmas Bambu Apus. Studi cross-sectional pada 384 peserta vaksinasi COVID-19 pengambilan sampel dipilih secara purposive pada bulan Oktober 2021. Pengumpulan data menggunakan kuesioner demografi yang meliputi pengetahuan dan kecemasan. Hubungan pengetahuan dengan kecemasan menggunakan uji chi-square. Sampel dengan pengetahuan baik sebanyak (89,6%) dan paling banyak mengalami kecemasan sedang (84,6%). Ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan kecemasan tentang KIPI pada vaksinasi COVID-19 (p<0,001). Sebagian besar peserta vaksinasi COVID-19 memiliki pengetahuan yang baik tentang KIPI vaksin COVID-19 dan mengalami kecemasan ringan-sedang. Meningkatkan pengetahuan tentang KIPI vaksin COVID-19 dengan mencari informasi terpercaya dapat mengurangi kecemasan.
Instalasi Sistem Informasi Manajemen Klinik - Doctor Tool di Amal Usaha Kesehatan ‘Aisyiyah sebagai Bentuk Kontribusi FKK UMJ terhadap Penguatan Fasilitas Kesehatan Tingkat Primer Oktarina Oktarina; Dayu Swasti Kharisma; Farsida Farsida; Pitut Aprilia; Rike Syahniar; Salma Mardhiyana; Septiana Cahya Nugraha
Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Vol 12 No 3 (2022): Jurnal Ilmiah Permas: jurnal Ilmiah STIKES Kendal: Supp Juli 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (669.728 KB)

Abstract

Sejak diterapkannya Jaminan Kesehatan Nasional, Fasilitas Kesehatan Tingkat Primer (FKTP) dituntut untuk bekerjasama dengan BPJS. Selain itu, FKTP Amal Usaha Kesehatan ‘Aisyiyah (AUKESA) perlu menunjukkan kinerjanya kepada PP ‘Aisyiyah. Sistem Informasi Manajemen (SIM) merupakan salah satu prasarana utama dalam penyelenggaraan pelayanan untuk menunjukkan kinerja disertai bukti yang otentik, valid, dan real time. Instalasi SIM Klinik Doctor Tool dipilih karena memberikan fitur bridging dengan kebutuhan PCare-BPJS sekaligus dapat menyajikan laporan berkala untuk pemantauan performa oleh PP ‘Aisyiyah. Kegiatan ini dilakukan selama 1 tahun oleh inisiasi FKK UMJ dengan kegiatan rapat koordinasi, instalasi SIM Klinik Doctor Tool, dan pelatihan SDM. Modul Doctor Tool yang diinstalasi ini adalah pendaftaran pasien, layanan antrian, pemeriksaan awal, rekam medis dokter, depo farmasi, dan billing. Modul Rekam Medis Dokter sudah mengadopsi Problem Oriented Medical Record mencakup assesmen sesuai ICD10, ICPC2, serta mengakomodir diagnosis holistik, tindakan medis, peresepan, pemeriksaan lab, surat sehat/sakit, rujukan/rujuk balik, dan perencanaan lainnya. Fitur yang dapat dimanfaatkan oleh PP ’Aisyiyah adalah Dashboard yang dirancang untuk melihat performa dan utilisasi klinik. Laporan yang diterbitkan meliputi rekapitulasi peserta terdaftar, statistik kunjungan, demografi, obat, laba-rugi, dan laporan sesuai ketentuan BPJS. Manfaat yang diperoleh bagi FKTP adalah meningkatknya produktifitas, terbukanya kanal pasien baru, efisiensi waktu kerja, integrasi dengan PCare-BPJS, dan kesesuaian dengan standar akreditasi klinik. Sedangkan, manfaat yang diterima oleh PP ‘Aisyiyah adalah pemantauan performa AUKESA dan deteksi dini apabila diperlukan pendampingan teknis lebih lanjut. AUKESA yang baik dapat dimanfaatkan secara mutual bersama institusi pendidikan untuk menjadi wahana pendidikan pelayanan kesehatan tingkat primer.
Chest Radiography and CT scan as Predictor Factors for Long COVID Reny Luhur Setyani; Srie Retno Endah; Ana Madjawati; Muhammad Hafiz; Farsida Farsida; Rahma Ayu Larasati; Turwuri Handayani; Khatarina Setyawati
Jurnal Respirologi Indonesia Vol 43, No 4 (2023)
Publisher : Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)/The Indonesian Society of Respirology (ISR)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36497/jri.v43i4.539

Abstract

Background: Long COVID presents a significant challenge in the management of COVID-19 patients, necessitating risk stratification and early intervention to mitigate its impact.Objective: This retrospective cohort study aimed to establish a predictive link between initial clinical assessments and imaging findings upon COVID-19 diagnosis and the subsequent development of long COVID symptoms at 6-8 weeks post-treatment.Methods: The study analyzed chest radiography images utilizing the Brixia Score and chest CT scans employing the Severity Score at the time of COVID-19 diagnosis. These findings were then compared with the presence of long COVID symptoms.Results: Among 54 study participants, 63% were non-elderly and 37% were elderly, with a nearly equal gender distribution. Notably, 74.1% of patients developed long COVID symptoms. The Brixia Score identified 38.9% as mild, 37% as moderate and 24.1% as severe lung involvement. Correspondingly, the Severity Score from chest CT scans revealed 33.3% with mild, 53.7% with moderate, and 13% with severe lung abnormalities. Statistical analysis confirmed strong correlations between both the Brixia Score (r = 0.553) and the Severity Score (r = 0.733) with the development of long COVID symptoms (p = 0.000).Conclusion: This study underscores the significant predictive value of both the Brixia Score and the Severity Score in identifying COVID-19 patients at risk of developing long COVID. These findings have critical implications for early risk stratification and targeted intervention strategies to prevent long COVID's debilitating effects.
Gambaran Karakteristik Lanjut Usia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 1 Ciracas Jakarta Timur Bulan Desember 2022 Farsida, Farsida; Nilamsari, Arysa; Malayanti, Malayanti; Handayani, Tutwuri
Muhammadiyah Journal of Nutrition and Food Science (MJNF) Vol 4, No 2 (2023): Muhammadiyah Journal of Nutrition and Food Science (MJNF)
Publisher : Faculty of Medicine and Health Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/mjnf.4.2.93-101

Abstract

Latar Belakang: Osteoporosis merupakan salah satu penyakit degenerative yang menyebabkan seseorang berbaring di tempat tidur dengan komplikasi yang serius, sering disebut sebagai 'silent disease' karena kebanyakan orang tidak mengetahui bahwa mereka menderita osteoporosis sampai mereka mengalami fraktur. Berdasarkan Kemenkes RI, data populasi di Indonesia usia dibawah 70 tahun pada perempuan sebanyak 18-30% dan yang menderita osteoporosis rata-rata umur 50-59 tahun sebesar 24% sedangkan pada laki-laki usia 60-70 tahun sebesar 62%. Indeks massa tubuh merupakan salah satu faktor yang memengaruhi terjadinya osteoporosis. Tujuan: Mengetahui gambaran karakterikstik lanjut usia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 1 Ciracas Jakarta Timur. Metode: Desain penelitian ini adalah Deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Data yang dikumpulkan adalah data primer, dengan teknik pengumpulan data, yaitu perhitungan indeks massa tubuh dan pengisian angket mengenai faktor risiko osteoporosis pada lansia dengan jumlah sampel sebanyak 67 responden. Hasil: 35 orang (52,5%) berusia 60-69 tahun dan sebanyak 32 orang (47,8%) berusia ≥70 tahun. Untuk jenis kelamin 33 orang (49,3%)laki-laki dan 34 orang (50,7%) perempuan, untuk tingkat pendidikan 8 orang (11,9%) tidak sekolah, sebanyak 38 orang (56,7%) SD, sebanyak 8 orang (11,9%) SMP, sebanyak 10 orang (14,9%) SMA, dan sebanyak 3 orang (4,5%) Perguruan Tinggi. Berdasarkan risiko osteoporosis, 45 responden (67,2%) tidak berisiko mengalami osteoporosis. Indeks massa tubuh 36 responden (53,7%) normal, 13 responden (19,4%) underweight,8 responden (11,9%) obesitas 1,7 responden (10,4%) overweight, 3 responden (4,5%) obesitas 2. Simpulan: Terdapat 45 responden (67,2%) yang tidak berisiko mengalami osteoporosis dengan  indeks massa tubuh berada di batas normal dan underweight.
Hubungan antara Tingkat Pendapatan dengan Tingkat Stres pada Lansia Putri, Medarissa Azzihra; Afifah, Alidina Nur; Savitri, Pitut Aprilia; Farsida, Farsida
Muhammadiyah Journal of Geriatric Vol. 4 No. 2 (2023): Muhammadiyah Journal of Geriatric
Publisher : Faculty of Medicine and Health Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/mujg.4.2.110-116

Abstract

Latar Belakang: Stres merupakan salah satu masalah kesehatan mental utama yang sering dihadapi oleh lansia. Tingkat stres pada lansia diartikan sebagai tinggi rendahnya masalah psikologis yang dialami oleh lansia sebagai stressor terhadap perubahan yang terjadi dalam hidupnya. Lansia yang memiliki pendapatan yang rendah akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehingga dapat menimbulkan stres. Namun, semakin bertambahnya usia, maka individu mampu beradaptasi dengan situasi dan memiliki toleransi yang baik terhadap stressor. Tujuan: Diketahuinya gambaran usia, jenis kelamin, dan tingkat pendapatan serta hubungan antara tingkat pendapatan dengan tingkat stres pada lansia. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 183 responden dengan teknik convenience sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner aspek penilaian stres dengan DASS-42. Data bivariat dianalisis dengan menggunakan Uji Mann-Whitney.  Hasil: Tidak terdapat hubungan antara tingkat pendapatan dengan tingkat stres pada lansia (p value > 0,05). Sebagian besar responden pada penelitian ini memiliki tingkat stres yang normal sebanyak 164 responden (89,6%), stres ringan sebanyak 10 responden (5,5%), stres sedang sebanyak 8 responden (4,4%), stres berat sebanyak 1 responden (0,5%), dan seluruh responden tidak ada yang mengalami stres sangat berat (0%). Simpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pendapatan dengan tingkat stres pada lansia.