Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Hubungan Pencahayaan dan Shift Kerja dengan Kelelahan Mata Pada Pekerja di Laboratorium PMI Kota Surakarta Tahun 2025 Kurniawan; Nur Ani; Wartini; Farid Setyo Nugroho
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Berkala (JIKeMB) Vol 7 No 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Eye fatigue is a common occupational health issue experienced by workers, particularly due to inadequate lighting and rotating shift systems that disrupt the body’s biological rhythm. The TFOS report in 2023 stated that the global prevalence of digital eye fatigue reached 70.7%, highlighting the substantial role of workplace lighting and work schedules in contributing to visual discomfort. A preliminary survey at the laboratory of the Indonesian Red Cross (PMI) Surakarta revealed that nighttime lighting intensity was only 139 lux, with approximately 70% of night shift workers reporting symptoms of eye fatigue. This study aimed to determine the relationship between lighting and work shifts and the occurrence of eye fatigue among laboratory workers at PMI Surakarta. A quantitative cross-sectional design was employed, involving the total population of 39 laboratory workers selected through total sampling. Data were collected using the Visual Fatigue Index (VFI) questionnaire to assess eye fatigue and a lux meter to measure lighting intensity. Data analysis was conducted using univariate and bivariate methods with the Chi-Square test. Results showed that most respondents (69.2%) worked in environments with lighting below the standard, 46.2% worked during day shifts, and 56.4% experienced eye fatigue. Statistical tests revealed a significant relationship between lighting and eye fatigue (p = 0.001), while no significant relationship was found between work shifts and eye fatigue (p = 0.065). Based on these findings, it was concluded that lighting plays a significant role in the incidence of eye fatigue, whereas work shifts do not show a statistically meaningful relationship. The study recommends that PMI Surakarta evaluate its workplace lighting systems and consider revising shift schedules to support visual health and worker productivity. Keywords: eye fatigue, lighting, work shift, laboratory
Edukasi Perilaku Orang Tua dalam Pemberian MP-ASI pada Balita di Dusun Kodokan Nur Ani; Nur Ani; Farid Setyo Nugroho; Wartini Wartini
IJECS: Indonesian Journal of Empowerment and Community Services Vol. 1 No. 2 (2020): IJECS: Indonesian Journal of Empowerment and Community Services
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/ijecs.v1i2.801

Abstract

Periode tumbuh kembang emas pada bayi dan anak dapat diwujudkan apabila memperoleh asupan gizi yang sesuai. Guna mencapai tumbuh kembang yang optimal, di dalam Global Strategy for Infant and Young Child Feeding, WHO/UNICEF merekomendasikan empat hal penting yang harus dilakukan yaitu; pertama memberikan air susu ibu kepada bayi segera dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir, kedua memberikan hanya air susu ibu (ASI) saja atau pemberian ASI secara eksklusif sejak lahir sampai bayi berusia 6 bulan, ketiga memberikan makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) sejak bayi berusia 6 bulan sampai 24 bulan, dan keempat meneruskan pemberian ASI sampai anak berusia 24 bulan atau lebih (WHO, 2000). Berdasarkan  observasi data di Posyandu Dusun Kodokan bahwa sebagian besar ibu balita atau anggota keluarga dekat telah memberikan MP-ASI dini sebesar (70%) dari jumlah balita yang ada yaitu 55 balita dan dari 55 orang ibu balita. Balita yang ada di Posyandu Dusun Kodokan ini terdiri dari usia 0 – 6 bulan (7,3%), usia 7 – 12 bulan (10,9%), usia 1-3 tahun (47,3%), usia 4-5 tahun (34,5%). Sebagian besar pendidikan terakhir ibu balita di Dusun Kodokan rata-rata Sekolah Menengah Atas (SMA/Sederajat) yang bekerja sebagai buruh di pabrik dan Diploma/Sarjana yang bekerja di instansi pemerintah/swasta. Sehingga diperlukan adanya sosialisasi edukasi perilaku orang tua dalam pemberian MP-ASI pada balita di Dusun Kodokan, Desa Papahan, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Adapun kegiatan tersebut dilakukan dalam bentuk penyuluhan dengan memberikan pretes dan postes kepada peserta dan hasil dari kegiatan sosialisasi tersebut diperoleh peningkatan nilai postes sebesar 34%. Maka dapat dikatakan bahwa kegiatan penyuluhan memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan peserta, sehingga kegiatan ini dapat dikatan berhasil sesuai indikator keberhasilan (peningkatan nilai postes 25%).Kata Kunci: MP-ASI, ASI Eksklusif, Penyuluhan