Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Meta-Analysis: Application of Health Belief Model Theory on Covid-19 Vaccine Acceptance Tursina, Elsa; Rahardjo, Budhi; Nugroho, Farid Setyo
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 6 No 5 (2024): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v6i5.3385

Abstract

The Health Belief Model (HBM) helps in understanding health-related behaviors and is used to explore factors that influence the acceptance of COVID-19 vaccines. This exploration serves as the basis for designing more effective intervention programs to increase vaccine acceptance, both for COVID-19 and future vaccination programs. This study aims to analyze and estimate the impact of applying the Health Belief Model on the acceptance of COVID-19 vaccines. Methods: This study is a meta-analysis using the PICO model. Population: adults. Intervention: high perceived susceptibility, high perceived severity, high perceived benefits. Comparison: low perceived susceptibility, low perceived severity, low perceived benefits. Outcome: acceptance of COVID-19 vaccination. The research data was sourced from Google Scholar, ScienceDirect, and PubMed, using keywords “Health Belief Model” AND “HBM” AND “Vaccine COVID-19 Acceptance” OR “Receive” AND “Vaccine COVID-19 Hesitancy”. The inclusion criteria for articles in the meta-analysis were articles published between 2020 and 2022 in English. Analysis was performed using the RevMan 5.4 application. Results: A meta-analysis was conducted on 15 cross-sectional studies from Asia and Europe with a total sample size of 19,814 people. High perceived susceptibility (aOR= 1.28; 95% CI= 1.10 to 1.49; p= 0.001), high perceived severity (aOR= 1.24; 95% CI= 1.04 to 1.48; p= 0.020), and high perceived benefits (aOR= 2.64; 95% CI= 1.73 to 4.02; p<0.001) towards COVID-19 were found to increase the acceptance of COVID-19 vaccination, and these results were statistically significant. Conclusion: High perceived susceptibility, high perceived severity, and high perceived benefits towards COVID-19 increase the acceptance of COVID-19 vaccination.
Gambaran Pengetahuan Ibu yang Memiliki Balita Tentang Sanitasi Lingkungan dan Stunting di Desa Mranggen Wibowo, Ibnu Setyo; Maharani, Nine Elissa; Nugroho, Farid Setyo
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 7 (2024): Volume 6 Nomor 7 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i7.14797

Abstract

ABSTRACT Poor environmental sanitation is an indirect stunting risk factor as it can cause infectious diseases, which are a direct factor in stunting nutrition problems.  is to describe the respondent's knowledge of environmental sanitation and stunting in Mranggen Village. Type of research used is quantitative descriptive. Respondents in this study are all mothers who have toodler in Mranggen Village as many as 112 respondents and sampling methods using total samplings. The research shows that respondents' knowledge about environmental sanitation is good, with a result of 66%, indicated by the type of drinking water consumed, knowledge and type of toilet used, but there is still a lack of waste management in the environment. The research results show that the level of knowledge of respondents about stunting is good with a result of 84%.Based on the results of research related to sanitation, the majority of respondents have good knowledge about environmental sanitation (66%), there is a gap with behavior in waste processing which is still not good. The research results show that the majority of respondents (84%) have good knowledge about stunting. Keyword: Stunting, Sanitation, Enviroment  ABSTRAK Sanitasi lingkungan yang kurang baik merupakan faktor resiko tidak langsung stunting karena dapat menyebabkan penyakit infeksi, yang merupakan faktor secara langsung dari masalah gizi stunting. adalah untuk menggambaran pengetahuan responden tentang sanitasi lingkungan dan stunting di Desa Mranggen. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Responden dalam penelitian ini yaitu semua ibu yang memiliki balita di Desa Mranggen sebanyak 112 responden dan metode pengambilan sampel menggunakan total sampling. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan responden tentang sanitasi lingkungan sudah baik diperoleh hasil sejumlah 66% ditunjukkan dengan jenis air minum yang dikonsumsi, pengetahuan, jenis jamban yang digunakan namun masih kurang dalam pengeloaan sampah di lingkungan. Hasil penelitian menujukkan tingkat pengetahuan responden tentang stunting adalah baik dengan hasil 84%. Berdasarkan hasil penelitian terkait dengan sanitasi, mayoritas responden memiliki pengetahuan yang baik tentang sanitasi lingkungan (66%), terdapat kesenjangan dengan perilaku dalam pengolahan sampah yang masih kurang baik. Hasil penelitian menunjukkan  pengetahuan yang baik tentang stunting yang dimiliki mayoritas responden (84%). Kata Kunci: Stunting, Sanitasi, Lingkungan 
Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) Melalui Sosialisasi dan Pelatiahn 3M Plus dan Ovitrap Maharani, Nine Elissa; Sari, Dewi Puspito; Wartini, Wartini; Nugroho, Farid Setyo; Fauziyah, Anindia Emma Putri; Kusumaningpanglipur, Syallom; Supriatin, Rizki Dwi; Alhasanah, Salisah
Educate: Journal of Community Service in Education Vol 5 No 2 (2025): December
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Weru terdapat peningkatan kasus DBD tercatat pada tahun 2022-2024 berturut-turut 15 kasus, 25 kasus, dan 102 kasus. Tren peningkatan memerlukan penguatan strategi pencegahan dan pengendalian DBD melalui pengawasan vektor, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pola penyebaran penyakit dengan kegiatan sosialisasi 3M Plus dan Ovitrap ramah lingkungan. Tujuan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan mitra tentang 3Mplus dan menambah keterampilan mitra untuk penanggulangan dan pencegahan DBD dengan ovitrap. Kegiatan pengabdian dilaksanakan di SMA N 1 Weru pada 25 April 2025 dengan sasarn siswa SMA sejumlah 69 siswa. Metode kegiatan terdiri dari identifikasi kebutuhan Mitra, persiapan dan perijinan, sosialisasi dan pelatihan 3M Plus dan ovitrap dengan indikator keberhasilan terjadi peningkatan pemahaman melalui pre test dan post test dalam pelaksanaan sosialisasi, evaluasi dilakukan pada saat kegiatan berlangsung. Hasil kegiatan terdapat perbedaan tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah pelaksanaan sosialisasi dan pelatihan. perubahan rata-rata pengetahuan meningkat dari 55,65 menjadi 85,50. Hasil ini mengindikasikan adanya perbedaan yang signifikan terhadap perubahan pengetahuan sebelum dan sesudah dilakukannya pelatihan PSN 3M Plus dan ovitrap pada siswa. Dengan meningkatnya pengetahuan siswa terkait DBD diharapkan akan berdampak pada perubahan sikap dan perilaku positif siswa dalam pencegahan DBD. Kata kunci : DBD; 3M Plus, Ovitrap
HUBUNGAN LAMA KERJA DAN POSTUR KERJA DENGAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PEKERJA BAGIAN SEWING PT MAJU ABADI GARMENT Widyatama, Fer Dila; Wartini, Wartini; Ani, Nur; Nugroho, Farid Setyo
JKM (Jurnal Kesehatan Masyarakat) Cendekia Utama Vol 13, No 3 (2025): JKM (Jurnal Kesehatan Masyarakat) Cendekia Utama
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jkm.v13i3.2824

Abstract

Nyeri punggung bagian bawah (low back pain/LBP) merupakan salah satu keluhan muskuloskeletal yang umum terjadi pada pekerja, khususnya di sektor garmen yang mengharuskan duduk dalam waktu lama. Postur kerja yang kurang ergonomis serta lamanya durasi bekerja diduga menjadi penyebab utama munculnya keluhan tersebut. Survei pendahuluan terhadap 10 pekerja bagian sewing  PT Maju Abadi Garment Sukoharjo menunjukkan 70% mengalami keluhan LBP, terutama pada punggung bawah dan pinggang akibat postur membungkuk, kursi tanpa sandaran, meja kerja yang tidak ergonomis, serta jam kerja panjang yaitu 8 jam ditambah lembur 2 jam per hari. yang memperpanjang paparan terhadap posisi kerja statis. Penilaian Rapid Entire Body Assessment (REBA) juga menegaskan bahwa sebagian besar pekerja berada pada kategori risiko tinggi. Penelitian ini dilakukan untuk menelaah keterkaitan antara durasi kerja dan posisi kerja dengan keluhan nyeri punggung bawah (LBP) pada pekerja di bagian jahit. Pendekatan yang digunakan adalah observasional analitik dengan desain cross-sectional terhadap 60 responden yang dipilih melalui total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dan observasi postur kerja melalui metode REBA, lalu dianalisis dengan uji chi-square pada tingkat signifikansi 0,05. Hasil menunjukkan bahwa 75% responden mengalami LBP, 83,33% bekerja lebih dari 8 jam per hari, dan 71,67% memiliki postur kerja yang tidak ergonomis. Analisis juga menemukan adanya hubungan yang signifikan antara durasi kerja (p = 0,002) dan postur kerja (p = 0,012) dengan keluhan LBP. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa durasi kerja berlebih dan postur kerja yang tidak ergonomis berkontribusi besar terhadap kejadian LBP, sehingga diperlukan intervensi ergonomis melalui perbaikan fasilitas kerja, pengaturan waktu kerja, dan edukasi postur kerja yang benar untuk mencegah dampak kesehatan jangka panjang.
Hubungan Pencahayaan dan Shift Kerja dengan Kelelahan Mata Pada Pekerja di Laboratorium PMI Kota Surakarta Tahun 2025 Kurniawan; Nur Ani; Wartini; Farid Setyo Nugroho
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Berkala (JIKeMB) Vol 7 No 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Eye fatigue is a common occupational health issue experienced by workers, particularly due to inadequate lighting and rotating shift systems that disrupt the body’s biological rhythm. The TFOS report in 2023 stated that the global prevalence of digital eye fatigue reached 70.7%, highlighting the substantial role of workplace lighting and work schedules in contributing to visual discomfort. A preliminary survey at the laboratory of the Indonesian Red Cross (PMI) Surakarta revealed that nighttime lighting intensity was only 139 lux, with approximately 70% of night shift workers reporting symptoms of eye fatigue. This study aimed to determine the relationship between lighting and work shifts and the occurrence of eye fatigue among laboratory workers at PMI Surakarta. A quantitative cross-sectional design was employed, involving the total population of 39 laboratory workers selected through total sampling. Data were collected using the Visual Fatigue Index (VFI) questionnaire to assess eye fatigue and a lux meter to measure lighting intensity. Data analysis was conducted using univariate and bivariate methods with the Chi-Square test. Results showed that most respondents (69.2%) worked in environments with lighting below the standard, 46.2% worked during day shifts, and 56.4% experienced eye fatigue. Statistical tests revealed a significant relationship between lighting and eye fatigue (p = 0.001), while no significant relationship was found between work shifts and eye fatigue (p = 0.065). Based on these findings, it was concluded that lighting plays a significant role in the incidence of eye fatigue, whereas work shifts do not show a statistically meaningful relationship. The study recommends that PMI Surakarta evaluate its workplace lighting systems and consider revising shift schedules to support visual health and worker productivity. Keywords: eye fatigue, lighting, work shift, laboratory