Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

PERAN PENDIDIKAN DISIPLIN DALAM MENINGKATKAN SIKAP TANGGUNG JAWAB SISWA STUDI KASUS DI MADRASAH ALIYAH SALAFIYAH SYAFI’IYAH TEBUIRENG JOMBANG Salim, M. Nur; Irsyad, Mohammad; Syamsudin
EL-Islam Vol 5 No 1 (2023): Januari
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Hasyim Asy'ari Tebuireng Jombang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33752/el-islam.v5i1.3878

Abstract

Abstrac: Indonesia not only prioritizes IQ but EQ is also a priority in building a virtuous society. EQ can be achieved one of them with moral education whose domain touches on the morals of learners. One way in shaping the morals of learners is through disciplined moral education. Discipline moral education itself acts as the first gateway in the entry of moral education among learners because this discipline is a form of obedience as well as respect for the rules and advice of teachers in Madrasah. The fruit of disciplined education is the growing attitude of responsibility to students. The purpose of this study is 3, namely: (1) Knowing from disciplined education, (2) Knowing the role of disciplined education in improving attitudes of responsibility, (3) Knowing supporting actors and inhibiting disciplined moral education in improving attitudes of responsibility. This type of research uses case studies . This research is included in qualitative research with a background in Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng Jombang. This study analyzed several things related to the Role of Disciplined Moral Education in Improving Student Attitudes of Responsibility. The data obtained from this study is the result of observations, interviews and documentation that are then analyzed and drawn conclusions. Based on the research, it was obtained that disciplined moral education uses teaching methods, transparency and supervision. Disciplined education plays a role in improving student responsibility attitudes. As for the supporting factors and obstacles there are internal and external.
Pengembangan Boneka Tangan Punokawan Untuk Mengenalkan Nilai-Nilai Karakter Pada Anak Usia Dini Mohammad Irsyad
Jurnal Pelita PAUD Vol 8 No 1 (2023): Jurnal Pelita PAUD
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33222/pelitapaud.v8i1.3441

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui nilai-nilai karakter yang terdapat dalam tokoh pewayangan Punokawan, pengembangan, dan kelayakan boneka tangan Punokawan sebagai media pembelajaran untuk mengenalkan nilai-nilai karakter Punokawan pada AUD. R&D jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini dengan prosedur pengembangan dimulai dengan perencanaan, desain, dan pengembangan. Metode validasi produk menggunakan cara alpha test (ahli materi dan ahli media), beta test, dan evaluasi akhir. Dalam beta test melibatkan subyek penelitian adalah 4 (empat) anak didik dari kelas B2 TK Muslimat NU Masyitoh 18 Pekalongan. Sementara evaluasi akhir dilakukan pada semua anak didik kelas B2 yang berjumlah 15 (lima belas). Data kemudian dianalisis dengan cara analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian adalah: 1) Terdapat sembilan nilai karakter Punokawan, di antaranya adalah jujur, pengasih, adil, disiplin, tanggungjawab, cerdas, berani, mandiri, dan lucu (JuMan LuDas PeTang DiBeDil). 2) Setelah melakukan tahapan pengembangan boneka tangan Punokawan yang dimulai dari planning, design, dan development, dihasilkan media utama berupa boneka tangan dan media pendukungnya buku cerita. 3) Hasil evaluasi akhir dapat dikatakan boneka tangan Punokawan sangat baik untuk digunakan mengenalkan nilai-nilai karakter Punokawan pada AUD dengan capaian hasil skor penilaian mencapai rata-rata 4,4. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa boneka tangan Punokawan dapat digunakan untuk mengenalkan nilai-nilai karakter Punokawan pada AUD.
PROTECTION OF CHILDREN'S RIGHTS TO SUFFICIENCY AND MAINTENANCE: A Normative Legal Analysis of Government Policy in Indonesia Ahmad Najib Afandi; Maula, Ismatul; Ahmad Rezy Meidina; Achmad Siddiq; Mohammad Irsyad
Usrotuna: Journal of Islamic Family Law Vol. 2 No. 2 (2025): Usrotuna: Journal of Islamic Family Law
Publisher : Taskuliah Edukasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66277/usrotuna.v2i2.35

Abstract

This study examines Islamic family law policies concerning child protection in Indonesia, with a specific focus on the regulation of child financial support and maintenance obligations. Islamic law provides comprehensive normative guidance on family welfare and parental responsibility; however, gaps often emerge at the level of legal implementation. Using a normative juridical approach, this study analyzes secondary legal materials, including statutory regulations such as the Marriage Law and the Compilation of Islamic Law, as well as relevant legal doctrines and court decisions. The findings reveal several concrete weaknesses in the implementation of child support obligations, including the absence of effective enforcement mechanisms against non-compliant parents, limited judicial consistency in determining the amount and continuity of maintenance, and the marginalization of children’s financial rights in post-divorce disputes. These weaknesses result in recurrent violations of children’s rights to adequate financial support, particularly in cases involving divorce and economic vulnerability. This study underscores the necessity of strengthening normative clarity, judicial enforcement, and legal awareness to ensure comprehensive and effective protection of children’s financial rights within Indonesia’s Islamic family law framework. [Studi ini mengkaji kebijakan hukum keluarga Islam terkait perlindungan anak di Indonesia, dengan fokus khusus pada regulasi dukungan finansial dan kewajiban pemeliharaan anak. Hukum Islam memberikan panduan normatif yang komprehensif mengenai kesejahteraan keluarga dan tanggung jawab orang tua; namun, celah sering muncul pada tingkat implementasi hukum. Menggunakan pendekatan juridis normatif, studi ini menganalisis bahan hukum sekunder, termasuk peraturan perundang-undangan seperti Undang-Undang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam, serta doktrin hukum yang relevan dan putusan pengadilan. Temuan menunjukkan beberapa kelemahan konkret dalam implementasi kewajiban dukungan finansial anak, termasuk ketidakhadiran mekanisme penegakan hukum yang efektif terhadap orang tua yang tidak patuh, ketidakkonsistenan yudisial dalam menentukan jumlah dan kelangsungan pemeliharaan, serta marginalisasi hak finansial anak dalam sengketa pasca-cerai. Kelemahan ini mengakibatkan pelanggaran berulang terhadap hak anak untuk mendapatkan dukungan finansial yang memadai, terutama dalam kasus perceraian dan kerentanan ekonomi. Studi ini menekankan pentingnya memperkuat kejelasan normatif, penegakan hukum, dan kesadaran hukum untuk memastikan perlindungan komprehensif dan efektif terhadap hak-hak finansial anak dalam kerangka hukum keluarga Islam Indonesia.]
Integration of 3D objects in an augmented reality flashcard game as an innovation in cognitive learning media at Salafiyah Comal Kindergarten Khusnul Alfiana Azizah; Dicky Anggriawan Nugroho; Mohammad Irsyad; Lulu Nisaul Wakhidah
Jurnal Inovasi Teknologi Pendidikan Vol. 13 No. 1 (2026): March
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jitp.v13i1.93231

Abstract

Learning at Salafiyah Comal Kindergarten is still dominated by conventional media, which provide limited visual stimulation and direct interaction, resulting in suboptimal child engagement. Although augmented reality has the potential to enhance interactivity, the development of AR flashcard media integrated with 3D objects and interactive quizzes for early childhood remains limited. Therefore, this study aims to develop an AR-based flashcard game media with a “transportation” theme and to test its feasibility among children aged 4–5 years. The method used is Research and Development (R&D) following the ADDIE model, involving 16 children. The media was developed using Assembler Edu with the integration of flashcards, 3D objects, and interactive quizzes. Validation results showed the media had an 80% feasibility rating in the “Good” category, and the content received a 95.5% rating in the “Very Good” category. Additionally, the media implementation received a 92.75% response rate in the “Very Good” category. These three assessments indicate that the media possesses a sufficiently high level of feasibility and is suitable for practical use as an interactive learning tool to support children’s engagement in the learning process. The application of AR showed that children were more active, interested, and engaged in the learning process. Therefore, the developed media is suitable for use as an interactive learning medium to support engagement and cognitive stimulation. Further research is recommended to test the media’s effectiveness in enhancing cognitive development using a broader experimental design and a larger sample size.
Negotiating Curriculum Flexibility in Islamic Early Childhood Education: Merdeka Curriculum Enactment, Faith-Based Adaptation, and School Readiness Irsyad, Mohammad; Ridho Riyadi; Rafa Zahra Syaikha; Aprilia Kartika Sari; Rofiqotul Aini; Mohammed Khalil, Abdelmajid Idris
Golden Age: Jurnal Ilmiah Tumbuh Kembang Anak Usia Dini Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jga.2026.112-10

Abstract

Curriculum flexibility is often presented as a route to more responsive early childhood education, yet less is known about how such flexibility is made workable in faith-based institutions where national reform, religious identity, local culture, and family expectations intersect. This study examines the enactment of the Merdeka Curriculum in a Raudhatul Athfal institution in Pekalongan, Indonesia, with attention to how teachers and school leaders negotiate project-based learning, differentiated instruction, Islamic educational values, children’s participation, and parental expectations of early academic readiness. Using an instrumental single-case study design, data were collected at RA Islamic Center Kedungwuni through four semi-structured interviews with the school principal and a Group B teacher, six non-participant classroom observations conducted from 1 to 14 April 2024, and document analysis. Fifteen Group B children provided contextual observational data, but they were not interviewed. The data were analyzed through open coding, axial coding, and iterative thematic development, with trustworthiness supported by triangulation, member checking, thick description, reflexive notes, and an audit trail. The findings show that curriculum enactment was shaped by four interrelated conditions: teachers’ uneven confidence in using digital learning platforms, a gap between P5 project practice and project-module documentation, the need for socio-emotional scaffolding in choice-based learning, and the negotiation of play-based literacy and numeracy with perceived parental expectations for visible school readiness. The study argues that curriculum reform in faith-based early childhood education depends on policy flexibility, institutional mentoring, practical documentation, emotionally responsive pedagogy, and sustained parent-school communication.
Pendidikan Anak Usia Dini Menurut Imam Al Ghazali Mohammad Irsyad
JEA (Jurnal Edukasi AUD) Vol. 2 No. 1 (2016): June
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jea.v2i1.1533

Abstract

Abstrak Al Ghazali, seorang pemikir Islam telah lama menaruh perhatian dan memberikan kontribusi pemikirannya kepada dunia anak usia dini. Bahkan, jauh sebelum para tokoh Barat mengutarakan pemikiran mereka berkaitan dengan hal ini. Tak salah kiranya karena usia dini yang dikenal sebagai usia emas (golden age) merupakan masa yang paling tepat untuk menanamkan berbagai pengetahuan kepada anak melalui pendidikan. Menurut Al Ghazali, pendidikan anak usia dini harus dilakukan sebelum terjadinya masa konsepsi (pembuahan) maupun setelah konsepsi (melahirkan) dengan menggunakan metode pengajaran yang tepat. Pendidikan masa konsepsi diibaratkan sebagai upaya penyiapan lahan bagi bibit tanaman yang kelak akan ditanam. Sementara setelah konsepsi merupakan upaya pemeliharaan dan perawatan agar tanaman tumbuh dan berkembang dengan baik. Kata kunci: Pendidikan Anak Usia Dini, Al Ghazali, Tahapan Pendidikan