Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : CJPP

Studi tentang Pengalaman Remaja Akhir yang Tidak Mendapatkan Emotional Availability dari Orang Tua Susanto, Aiko Rahmalilla Ananda; Maghfiroh, Fitrania
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 01 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n01.p440-451

Abstract

Tidak adanya emotional vailability dari orang tua merupakan fenomena yang sering kali tidak terlihat secara fisik tetapi membentuk pengalaman hidup anak, terutama remaja akhir yang akan memasuki fase dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengalaman remaja akhir yang tidak mendapatkan emotional availability dari orang tua. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Partisipan penelitian berjumlah lima orang remaja akhir yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan analisis tematik. Instrumen penelitian berupa pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan tiga tema utama, yaitu: (1) hubungan relasional dengan orang tua, (2) pengalaman emosional dalam diri, (3) penerimaan dan harapan. Keseluruhan temuan menunjukkan bahwa remaja akhir tetap berusaha membangun makna atas relasi yang terbatas secara emosional dengan orang tua dan menunjukkan upaya adaptasi melalui penerimaan dan pengharapan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam memahami emotional availability, khususnya dari orang tua. Penelitian selanjutnya disarankan mengeksplorasi peran figur signifikan lain dalam memenuhi kebutuhan emosional remaja.  Abstract The absence of emotional availability from parents is a phenomenon that often goes unnoticed physically but significantly shapes a child’s life experience, especially during late adolescence—a stage leading into adulthood. This study aims to explore the experiences of late adolescents who do not receive emotional availability from their parents. A qualitative approach with a phenomenological method was employed. The participants consisted of five late adolescents selected using purposive sampling. Data were collected through semi-structured interviews and analyzed using thematic analysis. The research instrument was an interview guideline. The findings revealed three main themes: (1) relational dynamics with parents, (2) internal emotional experiences, and (3) acceptance and hope. Overall, the results indicate that late adolescents attempt to make meaning of their emotionally limited relationships with parents and show adaptive efforts through acceptance and hope. This study is expected to serve as a reference in understanding emotional availability, particularly in the context of parenting. Future research is recommended to explore the role of other significant figures in fulfilling adolescents’ emotional needs.
Dinamika dan Faktor Penentu Subjective Well Being pada Ibu Karir dengan Anak Balita Saraswati, Rainasya Seny; Maghfiroh, Fitrania
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 01 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n01.p452-466

Abstract

Tidak jarang dalam perjalanannya, seorang ibu yang memiliki anak balita begitu terfokus pada pemenuhan kebutuhan anak, hingga mengabaikan kesejahteraan dirinya sendiri. Di tengah tuntutan kerja dan tanggung jawab domestik, ibu karir dengan anak balita nyaris tidak memiliki waktu untuk diri sendiri. Hal ini mencerminkan potensi terganggunya subjective wellbeing pada ibu karir dengan anak balita. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dinamika serta mengidentifikasi faktor-faktor penentu subjective well being pada ibu karir dengan anak balita di Kota Surabaya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap beberapa informan yang merupakan ibu bekerja penuh waktu dan memiliki anak usia di bawah 5 tahun. Hasil penelitian menunjukkan dinamika yang dijalani ibu cenderung sulit yang ditandai dengan perubahan tanggung jawab dan beban peran setelah menjadi ibu. Untuk menghadapi dinamika tersebut, penting untuk ibu karir agar melakukan strategi adaptasi dengan memisahkan peran antara pekerjaan dan keluarga agar tidak saling mengganggu, menjalin komunikasi dan kolaborasi erat dengan pasangan, tetap hadir secara emosional untuk anak walaupun secara fisik tidak selalu bisa hadir, serta melakukan penerimaan diri atas situasi yang tidak ideal. Faktor yang menentukan subjective well being ibu karir dengan anak balita berada pada adanya kepuasan hidup karena rasa syukur, dukungan sosial, anak sebagai sumber kebahagiaan, konflik dan beban tanggung jawab, emosi negatif dan mekanisme koping. Abstract It is not uncommon for mothers with young children to become so focused on meeting their child’s needs that they neglect their own well being. Faced with job demands and household responsibilities, working mothers with children under five often have little time for themselves. This reflects a potential disruption in the subjective well being of working mothers with children under five. This study aims to explore the dynamics and identify the key factors that influence the subjective well being of working mothers with children under five in Surabaya. A qualitative approach with a phenomenological design was used. Data were collected through in-depth interviews with several full-time working mothers who have children under the age of five. The findings show that these mothers experience challenging role dynamics, marked by shifts in responsibilities and increased role burdens after becoming a parent. To manage these challenges, working mothers apply adaptive strategies such as separating work and family roles to avoid overlap, building strong communication and cooperation with their partners, being emotionally present for their children even if not always physically available, and accepting less-than-ideal situations. The key factors influencing their subjective well being include life satisfaction driven by gratitude, social support, seeing children as a source of happiness, role-related conflict and burdens, negative emotions, and coping mechanisms.
STUDI FENOMENOLOGI: PENGALAMAN SELF DIAGNOSIS PADA REMAJA PEREMPUAN Hazari, Youwanda; Maghfiroh, Fitrania
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 02 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n02.p647-662

Abstract

Self-diagnosis kesehatan mental menjadi fenomena yang semakin umum di kalangan remaja perempuan, terutama dengan kemudahan akses informasi melalui internet. Namun, perilaku ini menimbulkan kekhawatiran karena tidak selalu didasarkan pada pemahaman yang tepat dan dapat memengaruhi cara individu menangani kondisi psikologisnya. Penelitian ini dilakukan untuk memahami bagaimana remaja perempuan membentuk pengalaman dan makna di balik tindakan self-diagnosis yang mereka lakukan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi fenomenologi. Subjek penelitian adalah remaja perempuan berusia 17–21 tahun yang melakukan self diagnosis kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi terstruktur, sedangkan teknik analisis data menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku self diagnosis dipengaruhi oleh interaksi antara faktor personal, lingkungan digital (kemudahan akses informasi melalui internet), serta pengaruh sosial. Teori Kognitif Sosial memberikan kerangka yang komprehensif dalam memahami perilaku ini sebagai respons terhadap kondisi sosial-psikologis yang kompleks dan saling berinteraksi. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya peningkatan literasi digital dan kesehatan mental, serta perlunya penelitian lebih lanjut terkait pengaruh faktor budaya, usia, dan tingkat pendidikan terhadap perilaku self diagnosis di era digital. Abstract Self-diagnosis of mental health is becoming an increasingly common phenomenon among adolescent girls, especially with the ease of access to information via the internet. However, this behavior raises concerns because it is not always based on proper understanding and can affect how individuals deal with their psychological conditions. This study was conducted to understand how adolescent girls shape the experiences and meanings behind their self-diagnosis actions. This study used a qualitative approach with a phenomenological study design. The subjects of the study were adolescent girls aged 17–21 years who had self-diagnosed their mental health in the past 12 months. Data collection was carried out through semi-structured interviews, while the data analysis technique used thematic analysis. The results of the study indicate that self-diagnosis behavior is influenced by the interaction between personal factors, the digital environment (ease of access to information via the internet), and social influences. Social Cognitive Theory provides a comprehensive framework for understanding this behavior as a response to complex and interacting socio-psychological conditions. This study recommends the importance of increasing digital literacy and mental health, as well as the need for further research related to the influence of cultural factors, age, and education level on self-diagnosis behavior in the digital era.
Eksplorasi Penerimaan Diri pada Ibu dengan 2 Anak Berkebutuhan Khusus Fie, Muhammad La Rayba; Maghfiroh, Fitrania
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 03 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n03.p1031-1046

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika penerimaan diri pada ibu yang memiliki dua anak berkebutuhan khusus. Penerimaan diri menjadi aspek penting yang memengaruhi kesiapan ibu dalam menjalani peran pengasuhan, terutama ketika menghadapi tekanan emosional dan sosial yang menyertai kondisi anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, melibatkan empat orang ibu di Kota Surabaya yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses penerimaan diri berlangsung secara bertahap dan tidak linier, dimulai dari emosi negatif seperti sedih, marah, dan bingung, hingga berkembang menjadi sikap ikhlas, reflektif, dan penuh syukur. Nilai spiritualitas, dukungan sosial, serta strategi adaptif dalam pengasuhan turut membentuk ketahanan psikologis para ibu. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi pengembangan pemahaman psikologis dalam konteks keluarga dengan anak berkebutuhan khusus, serta menjadi acuan dalam merancang dukungan dan intervensi yang lebih empatik dan kontekstual. Abstract This study aims to explore the dynamics of self-acceptance in mothers who have two children with special needs. Self-acceptance is a crucial psychological aspect that influences a mother’s readiness to fulfill her caregiving role, especially when faced with emotional and social pressures related to her child’s condition. This research uses a qualitative approach with a phenomenological method, involving four mothers in Surabaya who have children diagnosed with Special Needs. Data were collected through in-depth semi-structured interviews and analyzed using thematic analysis. The findings reveal that the process of self-acceptance is gradual and non-linear, beginning with negative emotions such as sadness, anger, and confusion, which later develop into acceptance, reflection, and gratitude. Spiritual values, social support, and adaptive parenting strategies contribute significantly to the mothers' psychological resilience. This research contributes to the psychological understanding of families with children with special needs and serves as a reference for designing more empathetic and contextual psychosocial support and interventions.