Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

KESELARASAN HURUF AKHIR DALAM KITAB MATAN ZUBAD KARYA SYEKH AHMAD RUSLAN ASY-SYAFI’I Muhammad Taufiq Hidayat; Karman Karman; Muhammad Nurhasan
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 4 No 2 (2021): Hijai - Journal on Arabic Language and Literature
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v4i2.11560

Abstract

As - Saja’ merupakan suatu kesatuan huruf akhir pada dua fasilah atau susunan kalimatnya baik kalimat awal, tengah dan akhir. Yang dimaksud dengan fasilah bisa termasuk bait, ayat, kalimat atau penggalan kalimat. Dan sajak sajak menentukan pelafalan dan perulangan bunyi yang sama pada awal, tengah dan akhir kalimat yang ditentukan dengan sebuah pola bunyi atau pola persajakan sehingga menimbulkan keindahan dari segi bentuk pelafalannya pada akhir kata huruf akhirnya.Dalam peneletian ini membahas tentang jumlah dan jenis jenis saja’ dan sajak yang terdapat pada sebuah kitab matan zubad yang dikarang oleh ulama mahsyur yaitu syekh ahmad ruslan asy-syafi’i. Dengan menggunakan jenis jenis Saja’ dan sajak yang ditinjau dari segala aspek. Kemudian mengetahui jumlah saja’ dan sajak yang terdapat dalam kitab tersebut. Dengan adanya ilmu saja’ yang ditunjang dengan ilmu sajak pengarang dapat menentukan bunyi dan nada huruf serta keserasian dalam dua fasilah.Metode yang digunakan peneliiti dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan Ilmu Badi, yaitu mendeskripsikan data dengan cara menentukan kalimat akhir yang sesuai dengan Wazannya agar dapat menemukan jenis-jenis Saja’ dan menentukan pola bunyi pada awal, petengahan dan akhir sebuah kalimat atau fashilah agar dapat menentukan jenis – jenis sajak dalam kitab Matan Zubad karya Syekh Ahmad Ruslan Asy-Syafi’i.Hasil penelitian yang terdapat dalam kitab Matan Zubad ini menghasilkan kesimpulan bahwa jenis-jenis Saja’ bila ditinjau berdasarkan fasilahnya terdapat 3 jenis Saja’ diantaranya Saja’ Muthorrof, Murashsha dan Mutawadzi dan jumlah sajak bila diinjau berdasarkan jenisnya terdapat 4 jenis diantaranya sajak awal, tengah, akhir dan sajak  merata. Jumlah Saja’ dalam kitab ini adalah 45 dan jumlah sajak adalah 47 dari total keseluruhan data fasilah yang peneliti teliti sebanyak 48 bait.
RAGAM TUTURAN PADA NOVELET QINDIL UMMU HASYIM (KAJIAN PRAGMATIK) Iis Rahmawati; Karman Karman; Muhammad Nurhasan
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 5 No 2 (2022): Hijai - Journal on Arabic Language and Literature
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v5i2.15395

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis-jenis tindak tutur ilokusi dan fungsi-fungsinya yang digunakan pada novelet Qindil Ummu Hasyim Karya Yahya Haqqi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik, dengan kajian ilmu pragmatik. Data penelitian berupa tuturan-tuturan yang disampaikan para tokoh dalam novelet tersebut. Teknik pengumpulan data dengan teknik kepustakaan, simak dan catat. Hasil penelitian pun didapatkan dengan metode padan ekstraingual, hingga akhirnya dapat disimpulkan sebagai berikut 1). Lima jenis ilokusi, yakni Direktif, Asertif, Deklaratif, Komisif dan Ekspresif dengan didominasi oleh kalimat berita dibandingkan kalimat imperatif dan introgatif. 2). Fungsi pragmatis dari setiap jenis tindak tutur yakni: Asertif: memberitahukan, dan membanggakan; Direktif: memerintah, meminta, dan melarang; Komisif: berjanji dan menyanggupi; Ekspresif: kecewa, dan menyesal; Deklaratif: Mengucilkan, memutuskan dan memvonis. Pada fungsi-fungsi pragmatis tersebut umumnya merupakan kalimat langsung dengan fungsi menyatakan karena objeknya yang berupa novelet dan yang dibahas tentu menyinggung kehidupan tokoh Ismail yang berpengaruh kepada khalayak umum.
SUNTINGAN TEKS NASKAH KITAB AL-FUTUHATU AL-MANTIQIYYAH Saskia Ainiyah Qotrunnada; Dedi Supriadi; Muhammad Nurhasan
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 5 No 1 (2022): Hijai - Journal on Arabic Language and Literature
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v5i1.15404

Abstract

Naskah Al Futuhatu Al-Mantiqiyyah ditulis oleh Musa bin Ibrahim, naskah ini termasuk dalam satu dari sekian banyaknya warisan penulis-penulis terdahulu yang mesti kita jaga dan lestarikan. Dengan hal tersebut maka hasil karya cipta mereka dapat dikenali oleh masyarakat saat ini dan tidak akan hilang tergusur oleh jaman. Sebuah naskah kuno tidak luput dari kekurangan dan kesalahan tulisan, begitupun naskah Al Futuhat Al-Mantiqiyyah ini. Didalamnya terdapat beberapa kekurangan dan kesalahan yang ditemukan diantaranya yaitu tidak ada penomoran pada halaman, tidak ada tanda baca ataupun paragraf, serta ditemukan beberapa kesalahan-kesalahan tulis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode filologi dengan menggunakan Edisi standar. Hasil dari penelitian ini dapat dikemukakan sebagai berikut: 1) Naskah Al Futuhat Al-Mantiqiyyah merupakan koleksi naskah dari Perpustakaan Nasional bernomor katalog 609392, terdiri atas 40 pembahasan dalam 36 halaman, ukuran naskah yaitu 20 x 15 cm, berbahasa arab, dengan jenis tulisan berupa khat naskhi, kondisi naskah cukup baik meski banyak teks yang sudah pudar, naskah selesai ditulis pada bulan Jumadil Awal, pada malam Senin, tepatnya di waktu sepertiga malam di tahun 1075 H/ 1664 M. 2) Terdapat beberapa kesalahan tulis dalam naskah, yang diantaranya yaitu terdapat 49 penggantian, 11 penambahan, 21 perubahan, 4 pengurangan, dan 1 penghilangan. Yang mana kesalahan tulis tersebut didominasi oleh penggantian (Substitution). 3) Teks naskah ini berisikan ilmu mantiq yang mana Syekh Ibrahim Musa menjelaskan secara singkat tentang pengantar ilmu mantiq yang ia tulis dalam 40 pembahasan.
ALIH MAKNA PUISI: TEKNIK DAN METODE PENERJEMAHAN ANTOLOGI PUISI IMAM SYAFI’I KARYA AS’AD SYAMSUL ARIFIN Indra Gunawan; Yani Heryani; Muhammad Nurhasan
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 6 No 1 (2023): Hijai - Journal on Arabic Language and Literature
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v6i1.23995

Abstract

Penerjemahan literatur kesusastraan, puisi misalnya, mempunyai ciri distingtif tersendiri. Puisi Arab klasik mempunyai struktur khas serta klasifikasi khusus atas korpusnya yang mendasarkan pada kesamaaan rima akhir bait. Makna puisi terkandung dalam satu bait atau lebih. Struktur puisinya diikat oleh aturan sintaksis yang ketat, sehingga analisis siktaktik mendasar diperlukan sebagai patronasi pemaknaan puisi. Penelitian ini menerapkan teori terjemah dengan analisis sintaksis terhadap bait puisi. Tujuan penelitian ini: 1). Mendeskripsikan teknik penerjemahan yang digunakan dalam terjemahan puisi Imam Asy Syafi’i oleh As’ad Syamsul Arifin. 2). Mendeskripsikan metode penerjemahan yang digunakan dalam terjemahan puisi Imam Asy Syafi’i oleh As’ad Syamsul Arifin. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif; berlandaskan pendekatan ilmu penerjemahan dengan menerapkan teori teknik penerjemahan Syihabuddin dan teori metode penerjemahan Peter Newmark. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerjemah menggunakan 8 teknik dalam menerjemahkan puisi Imam Asy Syafi’i yaitu: Reduksi mencakup 3 pola. Eksplanasi mencakup 2 pola. Substitusi mencakup 14 pola. Transmutasi mencakup 4 pola. Ekspansi mencakup 10 pola. Transfer mencakup 11 pola Korespondensi mencakup 3 pola. Deskripsi mencakup 4 pola. Penerjemah juga menggunakan dua teknik sekaligus untuk menerjemahkan satu data yaitu: Transmutasi-Ekspansi mencakup 4 pola. Eksplanasi-Substitusi mencakup 1 pola. Metode penerjemahan yang digunakan penerjemah dalam menerjemah antologi puisi Imam Syafi’I mencakup tiga metode yaitu semantis, setia dan harfiyah.
Uslub Insya’ Thalabi Pada Film The Kingdom Of Solomon Karya Shahriar Bahrani M. Firmansyah; Nurlinah; Muhamad Nurhasan
Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2026): Juli 2026
Publisher : Raja Zulkarnain Education Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55909/jpbs.v5i4.1740

Abstract

Penelitian tentang uslub insya’ thalabi pada film The Kingdom of Solomon karya Shahriar Bahrani merupakan salah satu kajian balaghah, khususnya ilmu ma‘ani, yang mengkaji hubungan antara bentuk tuturan, makna, dan konteks penggunaannya. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk-bentuk uslub insya’ thalabi serta menganalisis makna (dalalah) dan konteks penggunaannya (maqam) dalam dialog berbahasa Arab pada film tersebut berdasarkan perspektif ilmu ma‘ani. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan sumber data berupa dialog berbahasa Arab dalam film The Kingdom of Solomon berdurasi sekitar 2 jam 23 menit yang disutradarai oleh Shahriar Bahrani. Sampel penelitian berupa dialog yang mengandung uslub insya’ thalabi dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian adalah peneliti sebagai human instrument yang didukung pedoman klasifikasi dan lembar pencatatan data. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, klasifikasi berdasarkan teori balaghah, interpretasi makna menurut perspektif ilmu ma‘ani, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 50 data uslub insya’ thalabi, yang terdiri atas 28 uslub amr, 11 uslub nahy, 6 uslub nida’, dan 5 uslub istifham, sedangkan uslub tamanni tidak ditemukan. Keempat bentuk tersebut tidak hanya merepresentasikan makna gramatikal, tetapi juga mengandung makna retoris sesuai konteks tuturan, seperti doa, nasihat, ancaman, dan permohonan pada uslub amr, larangan, peringatan, irsyad, dan iltimas pada uslub nahy, penghormatan, pengagungan, dan permohonan pada uslub nida’, serta taqrir, inkar, taubikh, dan ta‘ajjub pada uslub istifham. Temuan ini menunjukkan bahwa uslub insya’ thalabi memiliki fungsi komunikatif dan retoris yang beragam sehingga memperkaya kajian balaghah, khususnya ilmu ma‘ani.