Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Analisis Hambatan Cakupan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) Pada Masyarakat Di Wilayah Kerja Puskesmas Weda Kabupaten Halmahera Tengah: Analysis of Barriers to Tuberculosis Preventive Therapy (TPT) Coverage Among the Community in the Working Area of Weda Community Health Center, Central Halmahera Regency Ramdhany Santoely; Diana Mirja Togubu; Rahmawati Rahmawati
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1614

Abstract

Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) merupakan strategi penting untuk mencegah perkembangan infeksi TB menjadi penyakit aktif pada kelompok berisiko. Penelitian ini bertujuan menganalisis hambatan cakupan TPT di wilayah kerja Puskesmas Weda Kabupaten Halmahera Tengah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus tunggal pada Juni–Juli 2026. Informan dipilih secara purposive, terdiri atas satu informan kunci, tiga informan utama penerima TPT, dan satu informan tambahan petugas kesehatan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan content analysis dan analisis tematik. Hasil penelitian mengidentifikasi empat hambatan yang saling berkaitan, yaitu pengetahuan masyarakat yang masih terbatas, stigma internal-sosial-keluarga, belum optimalnya intensitas dan jangkauan peran petugas, serta keterbatasan sarana dan prasarana pendukung. Masyarakat masih menyamakan TPT dengan pengobatan TB aktif, sedangkan stigma muncul karena kekhawatiran dilabeli sebagai penderita TB. Petugas telah melaksanakan skrining, edukasi, pemberian terapi, pemantauan, dan kunjungan rumah, namun belum dirasakan konsisten oleh seluruh penerima. Obat dan ruang pelayanan dasar tersedia, tetapi ruang tunggu, pemeriksaan penunjang, lemari obat, media KIE, dan transportasi operasional masih terbatas. Peningkatan cakupan TPT memerlukan edukasi terintegrasi, pengurangan stigma, penjangkauan proaktif, pelibatan keluarga dan kader, serta penguatan dukungan pelayanan.
Analisis Pengaruh Pemanfaatan Program Pelayanan Kesehatan Gratis Terhadap Minat Kunjungan Masyarakat Di UPTD Puskesmas Weda: Analysis of the Influence of Free Health Service Program Utilization on Public Interest in Visiting the Weda Community Health Center (UPTD Puskesmas Weda) Anjuliani Anjuliani; Diana Mirja Togubu; Siti Nurfaizah
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1618

Abstract

Program pelayanan kesehatan gratis merupakan salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan masyarakat. Namun, pemanfaatannya masih dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dapat membentuk minat masyarakat untuk melakukan kunjungan ke fasilitas kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang memengaruhi minat kunjungan masyarakat dalam pemanfaatan program pelayanan kesehatan gratis di UPTD Puskesmas Weda. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain explanatory research. Sampel penelitian berjumlah 100 responden. Variabel independen meliputi faktor aksesibilitas, administratif, budaya, dan persepsi, sedangkan variabel dependen adalah minat kunjungan masyarakat. Analisis multivariat menggunakan regresi logistik berganda. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor budaya merupakan satu-satunya variabel yang berpengaruh signifikan terhadap minat kunjungan masyarakat (B=3,578; Wald=18,506; p=0,000; Exp(B)=35,790). Responden dengan faktor budaya yang mendukung memiliki odds 35,790 kali lebih besar untuk mempunyai minat kunjungan tinggi dibandingkan responden dengan budaya kurang mendukung setelah variabel lain dikontrol. Sementara itu, faktor aksesibilitas (p=0,196; Exp(B)=3,465), administratif (p=0,785; Exp(B)=1,336), dan persepsi (p=0,070; Exp(B)=4,589) tidak menunjukkan pengaruh independen yang signifikan. Disimpulkan bahwa faktor budaya merupakan faktor yang paling dominan memengaruhi minat kunjungan masyarakat dalam pemanfaatan program pelayanan kesehatan gratis di UPTD Puskesmas Weda. Puskesmas disarankan mengembangkan pendekatan pelayanan berbasis sosial-budaya melalui pelibatan keluarga, kader, tokoh masyarakat, dan tokoh adat dalam sosialisasi serta penguatan penerimaan masyarakat terhadap program pelayanan kesehatan gratis.
Analisis Kesenjangan Kebijakan Integrasi Layanan Primer (ILP) Dalam Pelaksanaan Program Kesehatan Di Puskesmas Ampana Barat Kabupaten Tojo Una Una: Gap Analysis of the Primary Service Integration (ILP) Policy in the Implementation of Health Programs at the West Ampana Community Health Center (Puskesmas), Tojo Una-Una Regency Asriani Asriani; Muh. Ilyas Nur; Diana Mirja Togubu; Sitti Nurfaizah; Rahmawati Rahmawati
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1630

Abstract

Integrasi Layanan Primer (ILP) merupakan kebijakan transformasi pelayanan kesehatan primer yang bertujuan mengintegrasikan pelayanan berdasarkan siklus hidup. Dalam pelaksanaannya di Puskesmas Ampana Barat masih ditemukan kesenjangan antara kebijakan dan kondisi di lapangan, terutama terkait sumber daya, komunikasi dan koordinasi, serta dukungan sistem organisasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis kesenjangan implementasi kebijakan ILP dalam pelaksanaan program kesehatan berdasarkan aspek ketersediaan sumber daya, komunikasi dan koordinasi, disposisi, serta struktur birokrasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Informan dipilih secara purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen. Analisis data yang digunakan bersifat induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesenjangan paling dominan terdapat pada ketersediaan sumber daya. Komunikasi dan koordinasi antarklaster cukup baik, tetapi sosialisasi kepada staf dan masyarakat belum merata serta integrasi sistem informasi belum optimal. Pada aspek disposisi, tidak ditemukan kesenjangan berarti karena pimpinan dan tenaga kesehatan mendukung dan berkomitmen terhadap penerapan ILP. Struktur birokrasi telah tersedia, namun masih terdapat kendala dalam pendokumentasian SOP dan integrasi aplikasi pelaporan. Dapat disimpulkan bahwa implementasi ILP di Puskesmas Ampana Barat telah berjalan dan meningkatkan koordinasi serta kemudahan pelayanan, tetapi belum sepenuhnya sesuai kebijakan. Kesenjangan terutama disebabkan keterbatasan sumber daya, komunikasi dan sistem informasi yang belum optimal, serta kendala administratif. Disposisi pelaksana menjadi faktor pendukung dalam penerapan ILP.