Rahmat Kurniawan
Jurusan Keperawatan, Poltekkes Kemenkes Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Pemberdayaan Kader Posyandu melalui Pelatihan Pengukuran Antropometri dan Penilaian Status Gizi Anak di Wilayah Kerja Puskesmas Dungingis Kabupaten Tolitoli Sova Evie; Hasni Hasni; Rahmat Kurniawan; Alfrida Semuel Ra’bung; Novica Ariyanti Putri; Saman Saman; Dwi Yogyo Suswinarto; Azwar Azwar
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 4 (2026): Volume 9 Nomor 4 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i4.22705

Abstract

ABSTRAK Masalah gizi pada balita, khususnya stunting dan wasting, masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Kabupaten Tolitoli termasuk daerah dengan prevalensi stunting cukup tinggi. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Tolitoli tahun 2023 terdapat 136 (10,54%) kasus stunting dan 8 (0,62%) wasting dari 1.290 balita di wilayah kerja Puskesmas Dungingis. Kondisi ini diperparah dengan rendahnya keterampilan kader posyandu dalam pengukuran antropometri dan penilaian status gizi anak. Tujuan kegiatan pengabmas ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader posyandu di wilayah kerja Puskesmas Dungingis, khususnya Desa Galumpang, dalam melakukan pengukuran antropometri menggunakan metode Z-Score pada balita upaya pencegahan stunting. Metode yang digunakan adalah penyuluhan dan pelatihan kepada 20 kader posyandu yang tersebar di wilayah kerja Puskesmas Dungingis. Evaluasi dilakukan dengan pre-test dan post-test pengetahuan serta observasi keterampilan. Hasil yang didapatkan adalah pengetahuan kader mengenai stunting meningkat dari 45% menjadi 85%. Kader mendapatkan keterampilan dalam melakukan pengukuran antropometri dan interpretasi status gizi dengan metode Z-Score. Produk luaran berupa leaflet edukasi dan banner antropometri berhasil digunakan sebagai media pembelajaran. Kesimpulan: Pelatihan ini efektif meningkatkan kapasitas kader posyandu dalam melakukan deteksi dini stunting. Program serupa direkomendasikan untuk diterapkan secara berkelanjutan di wilayah dengan prevalensi stunting tinggi. Kata Kunci: Kader Posyandu, Antropometri, Status Gizi, Z-Score, Stunting.  ABSTRACT Nutritional problems in toddlers, particularly stunting and wasting, remain a public health challenge in Indonesia. Tolitoli Regency is among the areas with a relatively high prevalence of stunting. According to data from the Tolitoli District Health Office in 2023, there were 136 cases of stunting (10.54%) and 8 cases of wasting (0.62%) out of 1,290 toddlers in the working area of Dungingis Health Center. This condition is exacerbated by the limited skills of posyandu cadres in conducting anthropometric measurements and assessing children’s nutritional status. The purpose of this community service program was to improve the knowledge and skills of posyandu cadres in the Dungingis Health Center working area, particularly in Galumpang Village, in performing anthropometric measurements using the Z-Score method for toddlers as an effort to prevent stunting. The method applied was health education and training provided to 20 posyandu cadres across the Dungingis Health Center area. Evaluation was carried out through pre-test and post-test of knowledge as well as observation of skills. The results showed that cadres’ knowledge about stunting increased from 45% to 85%. They also acquired skills in conducting anthropometric measurements and interpreting nutritional status using the Z-Score method. The program produced educational outputs in the form of a leaflet and an anthropometry banner, which were successfully used as learning media. This training was effective in enhancing the capacity of posyandu cadres in the early detection of stunting. Similar programs are recommended for sustainable implementation in regions with a high prevalence of stunting. Keywords: Posyandu Cadres, Anthropometry, Nutritional Status, Z-Score, Stunting
Pembentukan Desa Siaga Sehat Jiwa di Desa Buntuna Wilayah Kerja Puskesmas Baolan Kabupaten Toli-Toli Dwi Yogyo Suswinarto; Saman Saman; Eli Saripah; Rahmat Kurniawan; Hasni Sova Evie; Novica Ariyanti Putri; Azwar Azwar
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 3 (2026): Volume 9 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i3.24278

Abstract

ABSTRAK Saat ini kasus Orang dengan masalah Kejiwaan (ODMK) dan Orang dengan Gangguan jiwa (ODGJ) terus meningkat, Optimalisasi Upaya Kesehatan Jiwa bergeser dari Hospital mental health care mengarah pada Community mental health care. Untuk mendukung upaya berbasis masyarakat maka diperlukan adanya upaya Kesehatan jiwa pada tatanan Desa/Kelurahan. Semakin meningkatnya Kasus Gangguan jiwa, Kasus kekambuhan, kurangnya perhatian masyarakat terhadap penderita gangguan jiwa di Masyarakat, peran Kader kesehatan jiwa yang  Belum Optimal , dukungan dan perhatian  dari  tokoh masyarakat serta aparat desa masih rendah. Tujuan dari kegiatan ini adalah membentuk Desa Siaga Sehat jiwa dengan target kegiatan Adanya sosialisasi tentang upaya kesehatan jiwa pada aparat desa dan tokoh masyarakat, Pelatihan Kader,  kader melakukan pendataan dan pembinaan kepada keluarga serta terbentuknya pengurus Desa Siaga Sehat Jiwa. Pelaksanaan Kegiatan dilaksanakan selama 3 Hari dari tanggal 31 Juli s/d 1 Agustus 2025, dengan rincian kegiatan; Sosialisasi Program Kesehatan jiwa didalam termasuk Desa Siaga Sehat Jiwa yang diikuti Tokoh Masyarakat, aparat desa dan Penanggung jawab program keswa Puskesmas, Pelatihan Kader Kesehatan Jiwa diikuti oleh 18 kader, yang didahulu dengan pre test dan post Test dengan hasil nilai rata-rata Pre test 56 setelah pelatihan post test rata-rata 87, Pelaksanaan Pendataan  Deteksi kesehatan jiwa oleh kader telah didata  87 KK sebanyak 187 Jiwa dengan rincian hasil pendataan 134 sehat jiwa, resiko 54 jiwa dan 1 didapatkan mengalami gagguan jiwa. Serta pembentukan Pengurus Desa Siaga sehat Jiwa. Kesimpulan; Sosialisasi program Keswa pada tokoh masyarakat , pelatihan dan deteksi dini serta Desa siaga sehat jiwa telah terbentuk. Perlu pendampingan untuk kegiatan selanjutnya. Kata Kunci: Desa Siaga, Sehat Jiwa, Program Jiwa, Kesehatan Jiwa.  ABSTRACT Currently, cases of People with Mental Problems (ODMK) and People with Mental Disorders (ODGJ) continue to increase, Optimization of Mental Health Efforts is shifting from Hospital mental health care towards Community mental health care. To support community-based efforts, mental health efforts are needed at the Village/Sub-district level. The increasing cases of mental disorders, relapse cases, lack of public attention to people with mental disorders in the community, the role of mental health cadres is not optimal, support and attention from community leaders and village officials is still low. The purpose of this activity is to form a Mental Health Alert Village with the target of activities There is socialization about mental health efforts to village officials and community leaders, Cadre Training, cadres conduct data collection and guidance to families and the formation of Mental Health Alert Village administrators. The implementation of the activity was carried out for 3 days from July 31 to August 1, 2025, with details of activities; The socialization of the Mental Health Program within the Mental Health Alert Village was attended by Community Leaders, village officials, and the person in charge of the Community Health Center's mental health program. Mental Health Cadre Training was attended by 18 cadres, preceded by a pre-test and post-test with an average pre-test score of 56 after the training and an average post-test score of 87. The implementation of mental health detection data collection by cadres has recorded data on 87 families totaling 187 people with details of the data collection results: 134 mentally healthy, 54 at risk, and 1 found to have a mental disorder. As well as the formation of the Mental Health Alert Village Management. Conclusion: Socialization of the Mental Health Alert Village program to community leaders, training and early detection, and the formation of the Mental Health Alert Village have been completed. Assistance is needed for further activities. Keywords: Alert Village, Healthy Soul , Soul Program, Mental Health.
Pemberdayaan Kader Kesehatan dalam Screening Hipertensi, Pengukuran Antropometri dan Screening PJK Sova Evie; Nurmiaty Nurmiaty; Hasni Hasni; Novica Ariyanti Putri; Saman Saman; Dwi Yogyo Suswinarto; Alfrida Semuel Ra'bung; Rahmat Kurniawan; Yuldensia Avelina
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 7 (2026): Volume 9 Nomor 7 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i7.26291

Abstract

ABSTRAK Penyakit Tidak Menular (PTM), khususnya hipertensi dan penyakit jantung koroner (PJK), merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di Indonesia serta menunjukkan tren peningkatan di masyarakat. Di wilayah kerja Puskesmas Managaisaki, angka kejadian PTM masih tergolong tinggi, kasus hipertensi tahun 2024 sebanyak 3.339 dan tahun 2025 sebanyak 2.293. Kondisi ini memerlukan upaya strategis melalui skrining dini sebagai langkah deteksi awal PTM khususnya hipertensi dan PJK. Salah satu strategi efektif dalam pelaksanaan skrining adalah pemberdayaan kader kesehatan. Kader sebagai bagian dari komunitas memiliki peran strategis dalam menjembatani layanan kesehatan formal dengan masyarakat, terutama di tingkat RT/RW, dusun, dan desa. Kedekatan kader dengan masyarakat menjadikan mereka aktor utama dalam edukasi kesehatan, pelaksanaan skrining sederhana, serta promosi perilaku hidup sehat. Tujuan PkM ini yaitu: 1)Untuk meningkatkan pengetahuan kader kesehatan dan masyarakat tentang PTM; 2)Untuk meningkatkan keterampilan kader kesehatan dalam melakukan skrining penyakit hipertensi dan PJK; 3)Untuk meningkatkan keterampilan kader kesehatan dalam melakukan pengukuran antropometri sebagai bagian dari skrining PJK; 4)Untuk meningkatkan keterampilan kader kesehatan dalam melakukan skrining Hipertensi dan PJK. Metode yang digunakan adalah penyuluhan dan pelatihan kepada 20 kader posyandu yang tersebar di wilayah kerja Puskesmas Managaisaki. Evaluasi dilakukan dengan pre-test dan post-test pengetahuan serta observasi keterampilan terjadi peningkatan pengetahuan responden rata rata dari 40 Menjadi 90. Dan seluruh kader kesehatan mampumelakukan screening skrining hipertensi dan PJK kepada masyarakat. Kegiatan pengabmas ini berhasil mencapai tujuan untuk meningkatkan kapasitas kader kesehatan tentang screening hipertensi, pengukuran antropometri dan screening factor resiko PJK Kata Kunci: Kader Kesehatan, Screening, Hipertensi, PJK.  ABSTRACT Noncommunicable diseases (NCDs), particularly hypertension and coronary heart disease (CHD), are the leading causes of morbidity and mortality in Indonesia and are on the rise in the general population. In the service area of the Managaisaki Community Health Center (Puskesmas), the incidence of NCDs remains relatively high, with 3,339 cases of hypertension in 2024 and 2,293 cases in 2025. This situation requires strategic efforts through early screening as a step toward the early detection of NCDs, particularly hypertension and CHD. One effective strategy in implementing screening is the empowerment of community health workers. As members of the community, health cadres play a strategic role in bridging the gap between formal health services and the public, particularly at the RT/RW, hamlet, and village levels. Their close ties to the community make them key actors in health education, conducting simple screenings, and promoting healthy lifestyles. The objectives of this Community Service Program (PkM) are: 1) To increase the knowledge of health cadres and the community regarding NCDs; 2) To improve the skills of health cadres in screening for hypertension and CHD; 3) To improve the skills of health cadres in performing anthropometric measurements as part of CHD screening; 4) To improve the skills of health cadres in conducting screening for hypertension and CHD. The methods used included health education and training for 20 Posyandu cadres spread across the Managaisaki Community Health Center’s service area. Evaluation was conducted using a pre-test and The methods used were education and training for 20 posyandu cadres spread across the Managaisaki Community Health Center’s service area. Evaluation was conducted through pre- and post-tests of knowledge as well as skill observations; there was an increase in the respondents’ average knowledge score from 40 to 90. All health cadres were able to perform hypertension and CHD screenings for the community. This community outreach activity successfully achieved its objective of improving the capacity of health cadres regarding hypertension screening, anthropometric measurements, and screening for CHD risk factors. Keywords: Health Cadres, Screening, Hypertension, CHD.