Suleman, Salman
Department Of Nutrition, Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Gorontalo, Gorontalo City, Gorontalo Province, Indonesia

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

GAMBARAN STATUS PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DAN STATUS GIZI BALITA UMUR 6-24 BULAN Apriyanto Anu; Salman Salman; Liean A. Ntau; Sofyawati D. Talibo
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS Vol 8, No 1 (2022): Health and Nutritions
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jhn.v8i1.474

Abstract

Exclusive breastfeeding can be defined as a practice whereby the infants only receive breast milk without complementary foods for the first six months. Early initiation of breastfeeding is beneficial for both mother and child. The prevalence of malnutrition status in toddlers aged 6 to 24 months is 17.75% undernourished toddlers are 32.47% severely stunted toddlers are 25,49% stunted toddlers are 25,08% severely underweight toddlers are 11,98% and underweight toddlers are 22,45%. The study aims at finding out the overview of exclusive breastfeeding status and toddlers aged 6 to 24 months nutritional status in Pauwo Village, Kabila Subdisrict, Bone Bolango District. It applies descriptive survey research with the numbers of samples are seven toddlers. The research variale are the independent variable namely the overview of exclusive breastfeeding status and toddlers aged 6 to 24 months nutritional status in Pauwo Village, Kabila Subditrtict, Bone Bolango District. Finding reveals that toddles who receive exculsive breastfeeding are 19 toddlers (76%) and non-exclusive breastfeeding status are six toddlers (24%). In addition, the toddlers’s nutritional status with overnutrition category is as many as one toddler (4$), normal nutrition is as many as 20 toddlers (80%), undernutrition is as many as two toddlers (8%) and malnutrition is as many as two toddlers (8%). In short, most toddlers in Pauwo Viillage, Kabila Subdisctrict, Bone Bolango District, receive exclusive breastfeeding and have normal nutritional status.Pemberian ASI eksklusif merupakan pemberian ASI saja kepada bayi tanpa diberi makanan dan minuman lain sejak dari lahir sampai 6 bulan. Menyusui sejak dini mempunyai dampak yang positif baik bagi ibu maupun bayinya. . Prevalensi status gizi buruk pada balita usia 6-24 sebesar 17,57% , balita gizi kurang 32,47%, balita sangat pendek 25,49%, balita pendek 25,08%, balita sangat kurus 11,98% sedangkan balita kurus 22,45%. (Riskesdas, 2018). Penetian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status gizi pemberian ASI eksklusif dan status gizi balita umur 6-24 bulan di Kelurahan pauwo Kecamatan Kabila Kabupaten Bone Bolango. Jenis penelitian ini adalah  penelitian  survey deskriptif. Jumlah sampel sebanyak 7 sampel. Vareabel penelitian yaitu variabel variabel mandiri yaitu gambaran status pemberian ASI eksklusif dan status gizi balita usia 6-24 bulan  di Desa Pauwo  Kabupaten Bone Bolango. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa balita yang mendapatkan ASI eksklusif berjumlah 19 orang (76%) dan yang tidak Eksklusif sebanyak 6 orang (24%). Status gizi anak balita dengan kategori gizi lebih 1 orang (4%), gizi baik 20 oramg (80%), gizi kurang 2 orang (8%) dan gizi buruk sebanyak 2 orang (8%). Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu sebagian besar balita di Kelurahan Pauwo Kecamatan Kabila Kabupaten Bone Bolango medapatkan ASI eksklusif dan berstatus gizi baik.
GAMBARAN KEBIASAAN KONSUMSI SAYUR DAN BUAH PADA REMAJA Melinda S. Mahful; Salman Salman; Misnati Misnati; Rahma Labatjo; Misrawati Goi
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS Vol 8, No 1 (2022): Health and Nutritions
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jhn.v8i1.577

Abstract

Vegetables and fruits are foods that are very beneficial to the body, especially to support the need for vitamins. This research aims to determine the picture of vegetable and fruit consumption in adolescents. The research method uses a descriptive survey, which is to describe the variables studied. The population is 210 people, the sample is calculated at 10% of the population of 21 people. The research variable is an independent variable, namely vegetable and fruit consumption in adolescents. The results showed that the distribution of research subjects based on the age group was the largest in the age group of 10-14 years, namely 12 people (57.1%)  while the group of subjects based on sex was the most male, namely 12 people (57.1%), the picture of  vegetable  and fruit consumption showed vegetable  consimsion In adolescents with less categories, there were 14 people (66.7%), 7 people (33.3%). Fruit consumption in adolescents with less categories amounted to 13 people (61.9%), quite 8 people (38.1%). The conclusion of this study is that most adolescents have less consumption rates of vegetables and fruits when  compared to the recommended recommendations.Sayur dan buah merupakan bahan pangan yang sangat memberi manfaat bagi tubuh, terutama untuk mendukung kebutuhan akan vitamin. Penetian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran konsumsi sayuran dan buah pada remaja. Metode penelitian menggunakan survey deskriptif yaitu untuk menggambarkan variabel yang diteliti. Populasi sebanyak 210 orang, sampel dihitung sejumlah 10% dari populasi yaitu 21 orang. Variabel penelitian merupakan variabel mandiri yaitu konsumsi sayur dan buah pada remaja. Hasil penelitian menunjukkan distribusi subjek penelitian berdasarkan kelompok umurr paling besar pada kelompok umur 10 – 14 tahun yakni sebanyak 12 orang (57,1%) sementara kelompok subjek berdasarkan jenis kelamin paling banyak laki – laki yakni 12 orang (57,1%), gambaran konsumsi sayur dan buah menunjukkan konsimsi sayur pada remaja dengan kategori kurang berjumlah 14 orang (66,7%), cukup berjumlah 7 orang (33,3%). Konsumsi buah pada remaja dengan kategori kurang  berjumlah 13 orang (61,9%), cukup  berjumlah 8 orang (38,1%). Kesimpulan penelitian ini adalah sebagian besar remaja memiliki tingkat konsumsi sayur dan buah termasuk kategori kurang jika dibandingkan dengan rekomendasi yang dianjurkan.
Health Belief Model of Buton's Ethnic Migration Population the Birthplace Selection in South Buru Island's Nancy Olii; Salman Salman; Nurnaningsih Ali Abdul; Siti Choirul Dwi Astuti; Hasnawatty Surya Porouw; Selvi Mohamad; Juli Gladis Claudia; Eka Rati Astuti
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 6, No 4: December 2021
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (637.739 KB) | DOI: 10.30604/jika.v6i4.810

Abstract

Birthplace can be influenced the social and cultural background of the Butonese women. Traditions, customs, and socio-cultural hereditary are maintained when facing childbirth at home. This study aims to explore the socio-cultural aspects of the Butonese ethnicity in the choice of place of delivery in Waesama District, Kepala Madan District, and Leksula District in South Buru Regency. This method uses a type of qualitative research with an ethnographic design, conducted in-depth interviews with 17 informants obtained by purposive sampling. From the results of the study, it was shown that from a social aspect, Butonese women gave birth in a health facility, the disgrace of their family and private parts would be seen and known by others, so they should give birth at home because we have separate treatments that cannot be done by health workers. The cultural aspects of the tradition that are maintained are in the form of ritual confessions and predictions for the birth of a baby. The rituals are in the form of Piago between husband and wife, Piago using Kabenci, Prayer, Kotika, waiting for the tides and low tides, and Pikilala.  Tempat bersalin dapat dipengaruhi oleh latar belakang sosial dan budaya perempuan etnis Buton. Tradisi, adat istiadat, dan sosial budaya secara turun temurun tetap terjaga saat menghadapi persalinan dirumah.Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi aspek sosial budaya etnis Buton dalam pemilihan tempat bersalin di Kecamatan Waesama, Kecamatan Kepala Madan, dan Kecamatan Leksuladi Kabupaten Buru Selatan.Metode ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan rancangan Etnografi,dilakukan wawancara mendalam terhadap17 informan yang didapatkan dengan purposive sampling.Dari hasil penelitian menunjukkan perempuan Butondari aspek sosial, persalinan di fasilitas kesehatan maka aib keluarga dan aurat mereka akan terlihat dan diketahui oleh orang lain, hendaklah bersalin di rumah karena kita mempunyai penanganan tersendiri yang tidak bisa dilakukan oleh tenaga kesehatan. Aspek budaya dari tradisi yang dijaga yaitu berupa ritual pengakuan dosa dan ramalan terhadap kelahiran seorang bayi. Ritual tersebut berupa Piago antar suami istri, Piago menggunakan Kabenci, baca doa, Kotika, menunggu air pasang dan surut, dan Pikilala
Literature Riview: Determinants of Postpartum Blues Nancy Olii; Salman Salman; Nurnaningsih Ali Abdul; Siti Choirul Dwi Astuti; Hasnawatty Surya Porouw; Selvi Mohamad; Juli Gladis Claudia; Eka Rati Astuti
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 8, No S1: Supplement
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.046 KB) | DOI: 10.30604/jika.v8iS1.1688

Abstract

Postpartum blues is a kind of psychological problem in the period after childbirth, where a woman feels sad and depressed immediately. Post partum blues symptoms begin to appear two or three days after childbirth and usually go away within a week or two. Objective: to analyze the literature related to the determinants of post partum blues. Methods: articles related to literature review topic were searched in the ScienceDirect, Pudmed. Google Scholar Google Scholar databases and were analyzed using PRISMA through the processes including identification, selection, and finally the assessment of articles according to the inclusion and exclusion criteria. Results: Article searching in chosen databases using keywords in accordance with the study objective resulted in 20 articles which were further selected according to the topics to be reviewed and finally 5 journal articles were discussed in the literature review. The topic to be discussed here was the determinants of postpartum blues. Conclusion: Age, parity, education level, family support, sleep disorders, type of delivery, and readiness to become a mother were involved in the causative factors of Postpartum blues and those factors could be overcome by involving husband, family and the surrounding environment through support for postpartum womenAbstrak: Postpartum blues adalah masalah psikologis pada masa setelah persalinan, dimana seorang perempuan merasakan sedih dan depresi segera. Gejala post partum blues mulai muncul dua atau tiga hari setelah persalinan dan biasanya hilang dalam satu atau dua minggu. Tujuan : untuk menganalisis literatur yang berkaitan determinan  post partum blues. Metode: yang digunakan dalam mencari artikel adalah literature review dengan menggunakan database ScienceDirect, Pudmed. google scholar google scholar dan menggunakan PRISMA yakni dengan melalui proses identifikasi, seleksi dan terakhir penilaian artikel sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Hasil: Dari hasil Pencarian Artikel di databased menggunakan keyword atau kata kunci sesuai dengan tujuan penelitian sebanyak 20 artikel, kemudian artikel tersebut di saring sesuai dengan topik yang akan di review sebanyak 5 jurnal dengan judul topik yang dibahas pada literature review yaitu faktor penyebab post partum blues. Kesimpulan: Usia, paritas, tingkat pendidikan, dukungan keluarga, ganguan tidur, jenis persalinan, dan kesiapan menjadi ibu merupakan faktor penyebab terjadinya Postpartum blues dan dapat diatasi dengan melibatkan suami, keluarga dan lingkungan sekitar melalui dukungan pada ibu postpartum