Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Analisis Perbandingan Elemen Magis dalam Dongeng Korea ‘Ureong Gaksi (우렁 각시)’ dan Dongeng Indonesia ‘Keong Emas’ Nadhira, Rizqi Hauna; Samsudin, Didin; Azizah, Asma
East Asian Review Vol 3 No 2 (2025): Second Half-Year
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ear.24848

Abstract

Numerous folktales across global literature exhibit notable parallels, such as the Korean story Ureong Gaksi (우렁각시) and the Indonesian legend Keong Emas. This study examines the structural features of both narratives by analyzing their intrinsic elements through Claude Lévi-Strauss’s structuralism and classifying their magical components using Wendy B. Faris’s framework of magical realism. The primary sources are the picture-book versions of Ureong Gaksi by Han Seong-ok (한성옥) and Keong Emas by Tira Ikranegara. A descriptive–qualitative comparative method facilitates an in-depth examination and comparison of the two texts. Data are collected through library research and analyzed to identify structural similarities and differences. Findings indicate that both tales share a central theme but differ in character portrayal, setting, and plot development. Through Lévi-Strauss’s structuralist approach, six fundamental mythemes related to magical elements are identified and subsequently mapped onto Faris’s five features of magical realism: (1) irreducible element, (2) phenomenal world, (3) merging of realms, (4) unsettling doubt, and (5) disruptions of time, space, and identity. The analysis demonstrates that, while both stories incorporate supernatural figures and magical motifs, they display distinct structural patterns, particularly in their characters, supporting figures, and types of conflict. Nevertheless, each narrative fulfills all five of Faris’s criteria for magical realism.
Pembekalan bahasa korea dasar bidang pariwisata guna meningkatkan keterampilan komunikasi siswa SMK Negeri 3 Denpasar, Bali Ashanti Widyana; Didin Samsudin; Asma Azizah; Jayanti Megasari; Teja Mustika; Ibrahim Ibrahim
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 4 (2024): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i4.28014

Abstract

AbstrakSetelah pandemi melanda, Indonesia mulai bangkit untuk memulihkan roda perekonomian yang sempat terhenti. Salah satu sektor yang kembali menggeliat pasca pandemi adalah pariwisata, terutama di Bali. Bali memiliki daya tarik sendiri bagi wisatawan lokal dan mancanegara, terutama wisatawan dari Korea Selatan yang pada tahun 2023 menyumbang sebanyak 226.789 orang wisatawan atau sekitar 4,3 % dari total wisatawan mancanegara yang berwisata ke Bali. Industri pariwisata Bali yang semakin pulih meningkatkan kebutuhan tenaga profesional yang mampu berbahasa Korea, khususnya yang mendukung layanan pariwisata. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah salah satu elemen penting untuk menyiapkan generasi muda untuk memenuhi kebutuhan ini. Sebagai bentuk dukungan untuk mempersiapkan lulusan yang berkompeten dalam bahasa Korea bidang pariwisata, dilaksanakanlah program pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dasar bahasa Korea. Program ini menggunakan metode pembelajaran bauran (blended learning), menggabungkan sesi daring melalui Zoom dan tatap muka di SMKN 3 Denpasar. Sebanyak 20 siswa dari SMKN 3 Denpasar menjadi peserta pelatihan, yang difokuskan pada penguasaan bahasa Korea dasar untuk pariwisata. Pelatihan ini dirancang dengan bahan ajar khusus, silabus terstruktur, dan panduan praktis. Hasil program ini mencakup lima luaran utama: panduan bahasa Korea untuk pariwisata, hak kekayaan intelektual (HKI), publikasi di jurnal nasional, liputan media massa, dan video dokumentasi kegiatan. Diharapkan, kegiatan ini mampu membekali siswa dengan keterampilan bahasa Korea yang relevan dan mendukung peningkatan kompetensi mereka di industri pariwisata. Kata kunci: bahasa korea dasar; Bali, blanded learning; pariwisata; pembekalan; pengabdian kepada masyarakat; sekolah menengah kejuruan  AbstractAfter the pandemic, Indonesia began to recover its economy, with tourism being one of the sectors that thrived again, particularly in Bali. Known for its unique charm, Bali remains a favorite destination for domestic and international tourists. In 2023, South Korean tourists made up 4.3% of international visitors to Bali, totaling 226,789 arrivals. This recovery has created a growing need for professionals proficient in Korean to support tourism services. Vocational High Schools (SMK) are pivotal in preparing students to meet this demand. To enhance their skills, a community service program was conducted at SMKN 3 Denpasar, focusing on basic Korean language proficiency for tourism purposes. The program used a blended learning approach, combining online sessions via Zoom with face-to-face classes. Twenty students participated in the training, which included specialized teaching materials, a structured syllabus, and practical exercises. Key outcomes included a Korean language guide for tourism, intellectual property rights registration, publication in a national journal, media coverage, and a video documentation of the activities. This initiative aims to equip students with essential Korean language skills, enabling them to thrive in Bali’s recovering tourism sector and meet its professional demands effectively. Keywords: Bali; basic korean language; blended learning; community service; facilitating; tourism; vocational high school