I Made Ari Winangun
Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Keterampilan bertanya ilmiah siswa sekolah dasar: tinjauan sistematis strategi kontekstual dan inkuiri Saifudin Zuhri; I Made Ari Winangun; Ni Nyoman Lisna Handayani
Jurnal Konseling dan Pendidikan Vol. 14 No. 1 (2026): JKP
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/1203800

Abstract

Keterampilan bertanya ilmiah merupakan fondasi literasi sains dan berpikir kritis, namun masih rendah pada siswa Sekolah Dasar (SD) di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mensintesis strategi pembelajaran kontekstual dan inkuiri untuk memperkuat keterampilan tersebut melalui systematic literature review (SLR) berbasis PRISMA. Pencarian dilakukan pada database Google Scholar, Semantic Scholar, dan SINTA untuk publikasi 2010-2024. Dari 290 artikel teridentifikasi, 78 artikel memenuhi kriteria inklusi setelah seleksi ketat. Hasil sintesis menunjukkan: (1) keterampilan bertanya siswa didominasi pertanyaan level rendah (C1-C2) dengan partisipasi hanya 5-21%; (2) intervensi CTL, IBL, dan PBL meningkatkan N-Gain keterampilan bertanya pada kategori sedang-tinggi (0.53-0.96); (3) faktor pedagogis, psikologis, dan struktural secara signifikan memengaruhi kemampuan bertanya. Pembelajaran berpusat pada siswa dengan konteks lokal terbukti efektif meningkatkan kuantitas dan kualitas pertanyaan. Implikasi praktis menekankan pentingnya pelatihan guru, penyesuaian kurikulum, dan pengembangan lingkungan belajar yang mendukung.
PENGEMBANGAN E-LKPD LIVEWORKSHEET BERORIENTASI TAT TWAM ASI PADA MATA PELAJARAN IPAS KELAS V SEKOLAH DASAR Kadek Krisna Pratiwi; I Made Ari Winangun; I Made Sedana
Widyajaya: Jurnal Mahasiswa Prodi PGSD Vol. 5 No. 2 (2025): Widyajaya
Publisher : Widyajaya: Jurnal Mahasiswa Prodi PGSD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan rancang bangun E-LKPD berbasis Liveworksheet berorientasi Tat Twam Asi pada mata pelajaran IPAS kelas V; (2) mengetahui tingkat validitas; dan (3) mengukur kepraktisan penggunaannya dalam pembelajaran. Penelitian menggunakan pendekatan R&D dengan model ADDIE. Penelitian dilaksanakan di SDN 3 Kampung Anyar pada Februari hingga April 2025. Subjek penelitian terdiri dari masing-masing 3 ahli instrumen, ahli media, ahli bahasa, dan ahli materi, serta 3 guru dan 12 peserta didik. Data dikumpulkan melalui angket dan wawancara, kemudia dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan (1) E-LKPD Liveworksheet berorientasi Tat Twam Asi pada mata pelajaran IPAS kelas V berhasil dikembangkan dengan baik dan menarik. (2) produk yang dihasilkan memiliki tingkat validitas yang sangat tinggi, dengan skor validasi media 95%, materi 94%, dan bahasa 93%. (3) adapun tingkat kepraktisan berdasarkan angket guru mencapai 94%, dan tanggapan siswa sebesar 96,2%, yang keduanya dikategorikan sangat praktis. Berdasarkan hasil tersebut E-LKPD ini dinyatakan layak digunakan sebagai media pembelajaran IPAS kelas V yang valid dan praktis.
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN DIGITAL BERBASIS TRI HITA KARANA MATERI ENERGI PADA PEMBELAJARAN IPAS KELAS VI SEKOLAH DASAR Putu Novi Antini; I Made Ari Winangun; Ni Putu Candra Prastya Dewi
Widyajaya: Jurnal Mahasiswa Prodi PGSD Vol. 5 No. 2 (2025): Widyajaya
Publisher : Widyajaya: Jurnal Mahasiswa Prodi PGSD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) bagaimana prototype media pembelajaran digital berbasis kearifan lokal Tri Hita Karana; (2) bagaimana tingkat validitas media pembelajaran tersebut; dan (3) bagaimana tingkat kepraktisan media bagi guru dan siswa. Studi ini menerapkan pendekatan Research and Development (R&D) melalui model ADDIE. Metode pengambilan data yang dilangsungkan ialah observasi, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi. Analisis data dilangsungkan melalui tahap deskripstif kuantitatif dan kualitatif. Jumlah total subjek pada studi ini ialah 32, yang tersusun atas 2 orang ahli instrumen, 3 orang ahli (media, materi, dan bahasa) sebagai validator, 6 orang guru kelas, dan 15 orang siswa kelas VI SD Negeri 3 Kampung Baru sebagai responden uji kepraktisan. Media yang dikembangkan berupa PowerPoint interaktif yang dipadukan dengan nilai-nilai Tri Hita Karana. Temuan validasi menjabarkan bahwa media dinilai sangat valid melalui persentase kelayakan sebesar 97% dari ahli media, 96% oleh ahli materi, dan 91% oleh ahli bahasa. Uji kepraktisan menghasilkan skor 98% dari guru dan 97% dari siswa, yang ada pada kategori “sangat praktis.” Media pembelajaran digital ini terbukti sangat valid, praktis, dan efektif dalam meningkatkan keterlibatan, pemahaman, dan kemandirian belajar siswa melalui pendekatan interaktif dan kontekstual melalui integrasi nilai-nilai kearifan lokal.
Pengaruh Model Pembelajaran Snowball Throwing Berbantuan Media Mind Mapping Terhadap Hasil Belajar IPAS Siswa Kelas V SD Gugus VII Kecamatan Buleleng Ni Made Lisda Febry Alviani; Putu Yulia Angga Dewi; I Made Ari Winangun
Walada: Journal of Primary Education Vol. 5 No. 2 (2026): Walada : Journal of Primary Education
Publisher : cendekia citra gemilang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61798/wjpe.v5i2.787

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil belajar IPAS siswa yang menunjukkan perlunya penerapan model pembelajaran inovatif untuk meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh model pembelajaran Snowball Throwing berbantuan media Mind Mapping terhadap hasil belajar IPAS siswa kelas V SD Gugus VII Kecamatan Buleleng. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi eksperimen berupa pretest-posttest nonequivalent control group design . Sampel penelitian terdiri atas 32 siswa sebagai kelompok eksperimen dan 30 siswa sebagai kelompok kontrol yang dipilih melalui teknik random sampling setelah uji kesetaraan kelas. Data dikumpulkan melalui tes hasil belajar IPAS dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif serta uji independen sample t-test . Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar IPAS siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan model Snowball Throwing berbantuan media Mind Mapping dan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional, dengan rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi aktivitas kooperatif dan visualisasi konsep mampu meningkatkan efektivitas pembelajaran. Oleh karena itu, model Snowball Throwing berbantuan media Mind Mapping dapat dijadikan alternatif pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar IPAS di sekolah dasar.
Pengaruh Model TGT Berbantuan Matching Card terhadap Hasil Belajar IPAS Siswa Sekolah Dasar Kadek Joni Lesmana Putra; I Ketut Suparya; I Made Ari Winangun
Walada: Journal of Primary Education Vol. 5 No. 2 (2026): Walada : Journal of Primary Education
Publisher : cendekia citra gemilang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61798/wjpe.v5i2.807

Abstract

Penerapan Kurikulum Merdeka menuntut pembelajaran IPAS yang aktif dan kolaboratif, namun model konvensional sering kali membuat siswa pasif. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) berbantuan media Matching Card terhadap hasil belajar IPAS siswa kelas V SD. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain quasi-experiment (pretest-posttest control group design). Sampel penelitian terdiri dari 72 siswa yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling, terbagi menjadi 36 siswa kelas eksperimen (SDN 4 Sangsit) dan 36 siswa kelas kontrol (SDN 1 Kerobokan). Instrumen pengumpulan data menggunakan tes pilihan ganda yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Hasil analisis independent samples t-test pada skor N-Gain menunjukkan nilai signifikansi 0,000 (< 0,05), yang berarti H₀ ditolak. Rata-rata N-Gain kelas eksperimen mencapai 0,61 (kategori Sedang), secara signifikan lebih baik dibandingkan kelas kontrol yang hanya 0,39 (kategori sedang). Dapat disimpulkan bahwa integrasi model TGT dan Matching Card efektif meningkatkan hasil belajar IPAS. Temuan ini memberikan implikasi praktis bagi guru SD untuk mengadopsi strategi pembelajaran gamifikasi yang inklusif dan kompetitif guna mengoptimalkan pencapaian siswa
Analisis Kebutuhan Media Pembelajaran IPAS Berbasis Buku Cerita Bergambar Bermuatan Prinsip Pembelajaran Mendalam di Sekolah Dasar I Gde Andika Yudha Pradana; I Made Ari Winangun; I Ketut Suparya
Cetta: Jurnal Ilmu Pendidikan Vol 9 No 1 (2026)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/cetta.v9i1.5248

Abstract

Learning Natural and Social Sciences (IPAS) in elementary schools requires deep and contextual conceptual understanding. However, classroom practices remain dominated by teacher-centered approaches and conventional learning media, which contribute to low student learning outcomes. This study aims to analyze the needs for developing IPAS learning media in the form of illustrated storybooks integrated with deep learning principles. The study employed a research and development approach focusing on the needs analysis stage and used a descriptive method combining qualitative and quantitative data. The research subjects were fourth-grade teachers and students from six elementary schools in Cluster 7, Tabanan District. Data were collected through classroom observations, teacher interviews, student questionnaires on learning media needs, and document analysis of student learning outcomes. The results show that IPAS instruction is still dominated by lecture-based methods with limited use of visual and contextual media. Quantitatively, only 32% of students achieved the Minimum Learning Achievement Criteria, with an average score of 61.7, particularly indicating difficulties in tasks requiring conceptual understanding and contextual application. Both teachers and students expressed a strong need for visually rich and contextual story-based learning media that are easy to use and relevant to students’ daily lives. These findings position needs analysis as a critical empirical foundation for developing IPAS learning media in the form of illustrated storybooks integrated with deep learning principles, an area that has received limited attention in previous studies. Therefore, the development of such media is considered a crucial pedagogical step to support more meaningful, reflective, and student-centered IPAS learning in elementary schools.
NEEDS ANALYSIS OF ETHNOSCIENCE-BASED DIGITAL TEACHING MATERIALS FOR SCIENCE AND SOCIAL STUDIES (IPAS) ON ECOSYSTEM TOPICS FOR GRADE V ELEMENTARY SCHOOL I Kadek Yudi Suastawan; Kadek Hengki Primayana; I Made Ari Winangun
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.11100

Abstract

ABSTRACT The continued reliance on printed teaching materials in elementary science (IPAS) ecosystem learning has created a gap between the presentation of scientific concepts and students' authentic learning experiences. This challenge becomes more evident when instructional materials fail to accommodate students' diverse learning needs while overlooking the potential of local wisdom as a meaningful contextual learning resource. This study aimed to identify the instructional needs for developing ethnoscience-based digital teaching materials for fifth-grade elementary students as a foundation for designing more adaptive learning resources. A qualitative descriptive approach was employed using a needs analysis framework through classroom observations, in-depth interviews with teachers, and document analysis of instructional planning conducted at SD Negeri 3 Penglatan and SD Negeri 1 Penglatan. The findings revealed that the predominance of static printed materials contributed to less engaging learning experiences and was insufficient to address the heterogeneity of students' academic abilities. The analysis further identified the need for interactive, flexible, and contextual digital teaching materials that support differentiated learning by integrating the Subak irrigation system as a representation of local ethnoscience. These findings provide a strong empirical basis for developing ethnoscience-based digital teaching materials and offer a conceptual foundation for designing elementary IPAS learning that is more adaptive, meaningful, and responsive to students' characteristics and local cultural contexts. ABSTRAK Kecenderungan penggunaan bahan ajar cetak pada pembelajaran IPAS materi ekosistem di sekolah dasar masih menyisakan kesenjangan antara penyajian konsep ilmiah dengan pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Kondisi tersebut semakin terasa ketika materi belum mengakomodasi keberagaman kemampuan belajar siswa maupun potensi kearifan lokal sebagai sumber belajar yang kontekstual. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kebutuhan pengembangan bahan ajar digital berbasis etnosains bagi siswa kelas V sekolah dasar sebagai dasar penyusunan desain pembelajaran yang lebih adaptif. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui needs analysis dengan tahapan observasi pembelajaran, wawancara mendalam bersama guru, serta analisis dokumen perangkat pembelajaran yang dilaksanakan di SD Negeri 3 Penglatan dan SD Negeri 1 Penglatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dominasi media cetak statis menyebabkan pembelajaran kurang menarik dan belum mampu mengakomodasi heterogenitas kemampuan akademik siswa. Analisis juga mengungkap kebutuhan terhadap bahan ajar digital yang mendukung pembelajaran berdiferensiasi melalui penyajian konten yang interaktif, fleksibel, dan kontekstual dengan mengintegrasikan sistem Subak sebagai representasi etnosains lokal. Temuan tersebut menegaskan bahwa pengembangan bahan ajar digital berbasis etnosains memiliki landasan kebutuhan yang kuat sebagai acuan konseptual dalam merancang pembelajaran IPAS yang lebih adaptif, bermakna, dan relevan dengan karakteristik peserta didik serta lingkungan budayanya.
PENGARUH MODEL GAME BASED LEARNING BERBANTUAN MEDIA VIDEO ANIMASI TERHADAP HASIL BELAJAR IPAS SISWA KELAS IV Kadek Sukra Suantari; I Made Ari Winangun; Putu Eka Sastrika Ayu
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.13507

Abstract

ABSTRACT Science and Social Studies (IPAS) learning in elementary schools continues to face challenges in fostering student engagement, resulting in suboptimal learning outcomes. This condition highlights the need for instructional strategies that integrate interactive learning activities with instructional materials presented in ways that facilitate conceptual understanding. This study examined the effect of implementing the Game Based Learning model assisted by animated video media on the Science and Social Studies (IPAS) learning outcomes of fourth-grade students in Cluster V Elementary Schools, Kubutambahan District. A quasi-experimental approach employing a pretest–posttest control group design was conducted with 58 students selected through Simple Random Sampling. Data were analyzed using an independent sample t-test supported by N-Gain analysis. The findings revealed that students who learned through the Game Based Learning model assisted by animated video media achieved greater improvement in learning outcomes (N-Gain = 61.06; moderate category) than those who received conventional instruction (N-Gain = 30.36; low category), with the difference being statistically significant. These findings extend the empirical evidence that the effectiveness of Science and Social Studies (IPAS) learning is influenced not merely by the use of instructional models or digital media independently, but by the integration of both in creating meaningful learning experiences that support students' conceptual understanding. The results also provide a foundation for developing more adaptive and contextually relevant Science and Social Studies (IPAS) instruction in elementary schools. ABSTRAK Pembelajaran IPAS di sekolah dasar masih menghadapi tantangan dalam menciptakan keterlibatan peserta didik yang berdampak pada belum optimalnya hasil belajar. Kondisi tersebut mengindikasikan perlunya strategi pembelajaran yang mampu mengintegrasikan aktivitas belajar yang interaktif dengan penyajian materi yang lebih mudah dipahami. Kajian ini dilakukan untuk menguji pengaruh penerapan model Game Based Learning berbantuan media video animasi terhadap hasil belajar IPAS siswa kelas IV SD Gugus V Kecamatan Kubutambahan. Penelitian menerapkan pendekatan quasi experiment dengan rancangan pretest–posttest control group design pada 58 siswa yang dipilih melalui teknik Simple Random Sampling. Analisis dilakukan menggunakan independent sample t-test yang didukung analisis N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas yang mengikuti pembelajaran melalui Game Based Learning berbantuan media video animasi memperoleh peningkatan hasil belajar yang lebih tinggi (N-Gain 61,06; kategori sedang) dibandingkan kelas yang belajar melalui pembelajaran konvensional (N-Gain 30,36; kategori rendah), dan perbedaan tersebut terbukti signifikan secara statistik. Temuan ini memperluas bukti empiris bahwa efektivitas pembelajaran IPAS tidak hanya dipengaruhi oleh pemilihan model pembelajaran ataupun media digital secara terpisah, tetapi oleh keterpaduan keduanya dalam membangun pengalaman belajar yang mendukung pemahaman konsep peserta didik. Hasil penelitian ini sekaligus memberikan landasan bagi pengembangan pembelajaran IPAS yang lebih adaptif dan kontekstual pada jenjang sekolah dasar.
PEMBERDAYAAN GURU SEKOLAH DASAR MELALUI PELATIHAN PENYUSUNAN PERANGKAT PEMBELAJARAN BERBASIS PENDEKATAN DEEP LEARNING DI KECAMATAN KUBUTAMBAHAN Putu Eka Sastrika Ayu; I Putu Suardipa; I Made Ari Winangun; Gusti Ngurah Arya Yudaparmita; L. Heny Nirmayani; Komang Surya Adnyana; Ni Putu Candra Prastya Dewi; I Komang Wahyu Wiguna; I Ketut Ngurah Ardiawan; I Made Sedana
Jurnal Abdimas Ilmiah Citra Bakti Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38048/jailcb.v7i1.6465

Abstract

Kualitas pembelajaran di sekolah dasar sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam merancang perangkat pembelajaran yang sistematis, reflektif, dan berorientasi pada kebutuhan belajar siswa. Namun, hasil pemetaan awal menunjukkan bahwa sebagian guru sekolah dasar di Kecamatan Kubutambahan masih mengalami kesulitan dalam menyusun perangkat pembelajaran yang selaras dengan pendekatan deep learning, khususnya dalam mengintegrasikan tujuan pembelajaran, aktivitas belajar bermakna, dan asesmen autentik. Kondisi ini berdampak pada praktik pembelajaran yang masih berfokus pada penyampaian materi dibandingkan pengembangan pemahaman konseptual siswa. Oleh karena itu, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk memberdayakan guru sekolah dasar melalui pelatihan penyusunan perangkat pembelajaran berbasis pendekatan deep learning guna meningkatkan kompetensi pedagogik dan kualitas pembelajaran di kelas. Mitra kegiatan adalah guru-guru sekolah dasar di Kecamatan Kubutambahan dengan jumlah peserta sebanyak 40 orang. Kegiatan dilaksanakan selama tiga hari melalui metode workshop partisipatif, diskusi kelompok terfokus, pendampingan intensif, serta praktik langsung penyusunan perangkat pembelajaran yang meliputi perumusan tujuan pembelajaran, pengembangan aktivitas pembelajaran bermakna, serta penyusunan asesmen yang berorientasi pada pemahaman konseptual. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan keterampilan guru dalam merancang perangkat pembelajaran yang lebih sistematis, kontekstual, dan berpusat pada siswa. Selain itu, guru menunjukkan perubahan sikap yang lebih reflektif dan inovatif dalam merancang pembelajaran yang mendorong pemahaman mendalam siswa terhadap materi pelajaran. Dengan demikian, pelatihan berbasis pendekatan deep learning tidak hanya meningkatkan kompetensi teknis guru dalam menyusun perangkat pembelajaran, tetapi juga memperkuat paradigma pembelajaran bermakna di sekolah dasar. Kegiatan ini berpotensi menjadi model pemberdayaan guru yang berkelanjutan dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan dasar.