Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Bikulturalisme Islam-Australia: Pengalaman Akulturasi Nahid Afrose Kabir Huda MF, Moh Shofiyul
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol 7 No 1 (2017): March
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.785 KB)

Abstract

This article attempts to portray the concept of Nahid Afrose Kabir about “biculturalism identity” based on Alison Blunt and Robyn Dowling’s “roots” (homeland) and “routes” (domicile) theory (2006) and Stevens Vertovec’s research (2006) about diaspora. In practice, through her ethnical and religious identity, Nahid Afrose Kabir can interact with the Muslim community, minority ethnics, and other religious communities in Australia. With his Australian identity, she has campaigned to be active citizens. That identity is based on her life experience as immigrants, moving from place to places in the western countries until her recent settlement, Australia. Through her “multicultural identity”, she emphasizes how she, as a Muslim immigrant, should behave and show her identity. Artikel ini menjelaskan tentang konsep Nahid Afrose Kabir tentang “identitas bikulturalisme” berdasarkan teori Alison Blunt dan Robyn Dowling (2006) tentang “roots” (tanah air) dan “routes” (domisili) dan penelitian Stevens Vertovec (2000) tentang diaspora. Di dalam praktiknya, dengan identitas etnis dan agamanya, Nahid Afrose Kabir bisa berhubungan dengan komunitas Muslim dan minoritas etnis dan agama lain di Australia. Dengan identitas Australia, dia telah berkampanye untuk menjadi warga negara aktif. Identitas tersebut didasari oleh pengalaman hidupnya sebagai seorang imigran yang telah pindah mondar-mandir antara Barat dan domisilinya terakhir, Australia. Dengan “identitas bikulturalisme”, dia mempertegas bagaimana dia, sebagai seorang imigran muslim, harus bersikap dan beridentitas.
Bikulturalisme Islam-Australia: Pengalaman Akulturasi Nahid Afrose Kabir Moh Shofiyul Huda MF
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 7 No. 1 (2017): March
Publisher : Department of Religious Studies, Faculty of Ushuluddin and Philosophy, Sunan Ampel State Islamic University Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.785 KB) | DOI: 10.15642/religio.v7i1.708

Abstract

This article attempts to portray the concept of Nahid Afrose Kabir about “biculturalism identity” based on Alison Blunt and Robyn Dowling’s “roots” (homeland) and “routes” (domicile) theory (2006) and Stevens Vertovec’s research (2006) about diaspora. In practice, through her ethnical and religious identity, Nahid Afrose Kabir can interact with the Muslim community, minority ethnics, and other religious communities in Australia. With his Australian identity, she has campaigned to be active citizens. That identity is based on her life experience as immigrants, moving from place to places in the western countries until her recent settlement, Australia. Through her “multicultural identity”, she emphasizes how she, as a Muslim immigrant, should behave and show her identity. Artikel ini menjelaskan tentang konsep Nahid Afrose Kabir tentang “identitas bikulturalisme” berdasarkan teori Alison Blunt dan Robyn Dowling (2006) tentang “roots” (tanah air) dan “routes” (domisili) dan penelitian Stevens Vertovec (2000) tentang diaspora. Di dalam praktiknya, dengan identitas etnis dan agamanya, Nahid Afrose Kabir bisa berhubungan dengan komunitas Muslim dan minoritas etnis dan agama lain di Australia. Dengan identitas Australia, dia telah berkampanye untuk menjadi warga negara aktif. Identitas tersebut didasari oleh pengalaman hidupnya sebagai seorang imigran yang telah pindah mondar-mandir antara Barat dan domisilinya terakhir, Australia. Dengan “identitas bikulturalisme”, dia mempertegas bagaimana dia, sebagai seorang imigran muslim, harus bersikap dan beridentitas.
Wanita Karir, Studi Kritis Perspektif Maqashid Syariah Ahmad Syafii Rahman; Siti Aisyah; Moh Shofiyul Huda MF; Rubini Rubini; Rahma Pramudya Nawang Sari
Ulumuddin : Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 12 No 1 (2022): Ulumuddin: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman
Publisher : Universitas Cokroaminoto Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47200/ulumuddin.v12i1.940

Abstract

Islam exists to liberate mankind from unequal social conditions. Islam rejects all forms of tyranny, exploitation, domination, and hegemony in various aspects of life: economy, politics, culture, gender and others. Basically Islam never forbids women who want to work (career). This study tries to analyze the position of career women in the perspective of Maqashid sharia. This research was conducted using a conceptual approach, namely the Maqashid Shari'ah concept. The results of this study indicate that there are five objectives of maqashid ash-shari'ah, namely to protect or ensure the continuity of one's faith (hifdz ad-din), their lives (hifdz nafs), their minds (hifdz al-'aql), their descendants ( hifdz an-nasl) and their wealth (hifdz mal). All of these five main objectives of sharia are intended to promote the general welfare of mankind. There are many benefits of women working and pursuing their careers. Someone who works will earn income that makes himself independent (hifdz nafs), useful and can give alms to others as recommended by his religion (hifdz ad-din). A person who does alms and good deeds will get his own honor in the eyes of his community (hifdz al 'ird). Independence and honor have noble values ​​that we can find in various verses of the Qur'an and the hadith of the Prophet Muhammad.
Prinsip-Prinsip Umum Syari’ah dalam Perspektif Muhammad Sa’îd Al-‘Asymâwî dan Implementasinya dalam Instinbâth Hukum Moh Shofiyul Huda MF
istinbath Vol 16 No 2 (2017): Desember
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.111 KB) | DOI: 10.20414/ijhi.v16i2.14

Abstract

Abstrak Artikel ini menjelaskan tentang prinsip-prinsip umum syari’ah menurut Muhammad Sa’îd Al-‘Asymâwî, seorang pemikir liberal yang sangat berpengaruh di Mesir. Pemikirannya sangat relevan dengan konteks Indonesia kini dan berfungsi sebagai penyeimbang bagi fenomena munculnya kembali wacana kalangan Islamis / revivalis terkait penerapan syari’ah Islam dalam bentuk penerapan formal produk hukum fiqh klasik yang belum tentu relevan di dalam kehidupan ketatanegaraan Indonesia kini. Hukum-hukum syari’ah mengikuti perkembangan realitas sosial dan selalu melangkah dalam perkembangan tersebut. Sebagai konsekwensinya, secara praktis-metodologis, ia lebih mengedepankan Asbâb al-Nuzûl dan Asbâb al-Wurûd daripada keumuman teks (al-‘Ibrah Bikhushûsh al-Sabâb lâ Bi‘umûm al-Lafzh) di dalam istinbâth hukum, karena merupakan prasyarat utama untuk dapat memahami dengan tepat dan benar terhadap kandungan ayat dan hadits Nabi saw. Hal ini berbeda dengan kebanyakan ulama yang lebih mengedepankan keumuman teks daripada Asbâb al-Nuzûl dan Asbâb al-Wurûd (al-‘Ibrah Bi‘umûm al-Lafzh lâ Bikhushûsh al-Sabâb). Oleh karena itu, di dalam kasus hijâb, ia menyimpulkan bahwa hijâb merupakan ketetapan hukum yang tidak pasti (qath’î), temporal, dan bahkan hanya merupakan simbol politik, bukan kewajiban agama. Menurutnya, yang wajib secara permanen adalah kesopanan dan tidak menampakkan perhiasan karena hijâb yang sesungguhnya tidak terkait dengan mode pakaian tertentu tetapi terkait dengan pengendalian diri dari syahwat dan dosa. Abstract This article examines the general principle of shari’a espoused by Muhammad Said al-Ashmawi, an Egyptian Muslim progressive thinker. His ideas of shari’a principles are relevant to be applied in the context of Islamic law and to counter the Islamist discourse on the application of Islamic law in Indonesia. Ashmawi proposes that Islamic law is understood as the dynamic system that can develop amidst of social change and realities. This brings about changing practical and methodological approach to sharia. Ashmawi takes into account the occasion of revelation (asbab al-nuzul) and the context of the emergence of hadith (asbab al-wurud) seriously as important requirements to understand the Qur’an and hadith. This approach differs greatly from those of the majority Muslim jurists who take the general meaning acquired from the texts for granted. In the case of hijab, for example, Ashmawi, as the consequence of this approach, argues that hijab is not obligatory since this is a symbol of politics and not of religion. To him, what is required in Islamic dress is decency and modesty. Hijab is not associated with a sort of dress but self-control over lust and deviation.
Analisis Implementasi Wakaf Tanah di Kecamatan Pandak Kabupaten Bantul Sukarno Sukarno; Supriyono Supriyono; Miftachul Alfin; Fattah Setiawan; Moh. Shofiyul Huda MF; Busyro Busyro
Nuansa Akademik: Jurnal Pembangunan Masyarakat Vol 4 No 2 (2019)
Publisher : Lembaga Dakwah dan Pembangunan Masyarakat Universitas Cokroaminoto Yogyakarta (LDPM UCY)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47200/jnajpm.v4i2.560

Abstract

This Qualitative research is to see the suitability of land waqf implementation, especially in the administrative area of ​​the Office of Religious Affairs (KUA), Pandak District, Bantul Regency, with the prevailing regulations in Indonesia. The sociological juridical approach was chosen in analyzing the data collected by observation, documentation and in-depth interviews. Some of the informants are the Registration Officer for the Akta Ikrar Waqf (PPAIW KUA and staff); Nadzir Legal Entity; and individual Wakif in Pandak District. The implementation of land waqf in Pandak District is in accordance with the applicable provisions, namely Law Number 41 of 2004 concerning Waqf. However, several obstacles, especially in land law certainty and the active participation of all parties involved in land ownership, must receive immediate attention. Socialization regarding Law N0. 41 of 2004 concerning Waqf can be implemented in a sustainable manner so that the benefits can be extended to the productive waqf area. The action can be through face-to-face counseling or community recitation activities in addition to the use of electronic and print media.
Kontrak Kerja Sama Usaha Di Indonesia Dalam Perspektif Hukum Islam Moh. Shofiyul Huda
Realita: Jurnal Penelitian dan Kebudayaan Islam Vol. 14 No. 2 (2016)
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.395 KB) | DOI: 10.30762/realita.v14i2.240

Abstract

The existence of varied form of corporation contract in Indonesia cannot be separated from the existence of corporation forms regulated in the constitution. The forms of corporation as like companies, firms, commanditer companies, PT, and cooperation which come from the constitution of colonial Netherland are surely influenced by the capitalist of western economic system. Meanwhile, in Islamic law there are mechanism of corporations in every sector, like al-Shirkah, al-Mudharabah, al-Muzaro’ah, and al-Musaqoh. This research discusses various mechanisms of corporation that are regulated in the constitution in Indonesia and in Islamic law, and the comparison between both of them. By using qualitative research design through library research in each law product, analyzing the content and comparative analysis, it can be concluded that the various forms of corporation in Indonesia can be made same with (al-Qiyas al-Musawi) the various forms of corporation in Islamic law. This similarity can be seen from the agreement, the goal, the right, the true effort, the important of the agreement, the authority of the people, and the separation aspect. However, there is exception in the law of obligation. The obligation law in the mechanism of the corporation contract cannot be true (haram) since it is not in line with al-Qur’an and the rules in the various forms of corporation contract in Islamic law.
Kontrak Kerja Sama Usaha Di Indonesia Dalam Perspektif Hukum Islam Moh. Shofiyul Huda
Realita: Jurnal Penelitian dan Kebudayaan Islam Vol. 14 No. 2 (2016)
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.395 KB) | DOI: 10.30762/realita.v14i2.240

Abstract

The existence of varied form of corporation contract in Indonesia cannot be separated from the existence of corporation forms regulated in the constitution. The forms of corporation as like companies, firms, commanditer companies, PT, and cooperation which come from the constitution of colonial Netherland are surely influenced by the capitalist of western economic system. Meanwhile, in Islamic law there are mechanism of corporations in every sector, like al-Shirkah, al-Mudharabah, al-Muzaro’ah, and al-Musaqoh. This research discusses various mechanisms of corporation that are regulated in the constitution in Indonesia and in Islamic law, and the comparison between both of them. By using qualitative research design through library research in each law product, analyzing the content and comparative analysis, it can be concluded that the various forms of corporation in Indonesia can be made same with (al-Qiyas al-Musawi) the various forms of corporation in Islamic law. This similarity can be seen from the agreement, the goal, the right, the true effort, the important of the agreement, the authority of the people, and the separation aspect. However, there is exception in the law of obligation. The obligation law in the mechanism of the corporation contract cannot be true (haram) since it is not in line with al-Qur’an and the rules in the various forms of corporation contract in Islamic law.
PERANAN TIM CYBER NAHDLATUL ULAMA JAWA TIMUR DALAM MENINGKATKAN NILAI-NILAI ASWAJA Hesty Putri Utami; Moh. Shofiyul Huda
Jurnal Mediakita : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 1 No. 1 (2017): Jurnal Mediakita :Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : Fakultas Usluhuddin dan Dakwah IAIN Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/mediakita.v1i1.537.g349

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis Peranan Tim Cyber Nahdlatul Ulama Jawa Timur untuk meningkatkan nilai-nilai Aswaja. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui peran tim cyber NU Jatim sebagai pusat media Nahdlatul Ulama dalam sebagai bidang garap dakwah Nahdlatul Ulama di era digital dengan mengandalkan teknologi informasi dan komunikasi. Metode penelitian yang digunakan adalah deskripsi kualitatif, dengan menggunakan teori komunikasi massa, teori propaganda dan teori spiral kebisuan. Data dalam penelitian ini didapat dari wawancara dengan tim cyber NU Jatim mengenai sejarah, program kerja dan skema kerja tim cyber NU Jatim. Serta mencari data dari literatur yang sesuai dengan konteks penelitian. Melalui rekaman dan beberapa catatan kecil sekaligus postingan akun tim cyber NU Jatim, peneliti mampu menganalisis data penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa peranan Tim cyber NU Jatim yaitu (1) Tim Cyber NU Jatim membentuk Kohesi Sosial, (2) Tim Cyber NU Jatim menjadi rujukan informasi NU, (3) Tim Cyber NU Jatim sebagai jembatan informasi, (4) Tim Cyber NU Jatim sebagai institusi media. Dari hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa Korelasi peranan tim cyber NU Jatim untuk meningkatkan nilai-nilai Aswaja dapat dilihat dari proses kerja dan hasil kerja tim cyber NU Jatim dalam menangani gerakan radikalisme menjadi nasionalisme berbasis agama dan negara.Pe
Kerukunan Umat Beragama di Kota Kediri Tahun 2022 Ropingi el Ishaq; Taufik Alamin; Achmad Munif; Moh. Shofiyul Huda; Agus Edi Winarto; Ninik Zuroidah; Abdul Mujib; Setiawan
Realita: Jurnal Penelitian dan Kebudayaan Islam Vol. 21 No. 1 (2023): Jurnal Realita: Jurnal Penelitian dan Kebudayaan Islam
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/realita.v21i1.166

Abstract

Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) Kota Kediri secara statistic mengalami peningkatan. Peningkatan ini tidak dapat dilepaskan dari konteks social, budaya, politik, dan ekonomi yang berjalan dinamis dari waktu ke waktu. Untuk dapat mengetahui perkembangan perlu dilakukan survey secara berkala. Bardasarkan latar belakang ini, survei terkait indeks kerukunan umat beragama pada tahun 2022 perlu dilakukan. Survei ini dimaksudkan untuk memotret perkembangan kerukunan umat beragama di Kota Kediri. Hasil survei ini diperlukan sebagai pijakan dalam perumusan regulasi, program, dan aktivitas bagi pemerintah maupun masyarakat secara umum. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan subyek penelitiannya masyarakat Kota Kediri. Dari hasil survei yang telah dilakukan, Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) di Kota Kediri pada tahun 2022 mencapai angka 4,47 (sangat tinggi). Sebaran indeks pada tahun ini di setiap kecamatan tercatat sebagai berikut; Kecamatan Kota dan Pesantren mencatat angka sebesar 4,48. Sedangkan untuk Kecamatan Mojoroto mencatat indek 4,45. Meningkatkan indeks kerukunan umat beragama dilatari oleh posisi strategis Kota Kediri, kualitas sumber daya manusia (Humand Capital Quality), peran tokoh masyarakat dan agama sebagai public opinion agent, adanya organisasi lintas agama yang mendinamisir kehidupan keagamaan, dan dukungan pemerintah terhadap kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan dan keagamaan.
Kerukunan Umat Beragama di Kota Kediri Tahun 2022 Ropingi el Ishaq; Taufik Alamin; Achmad Munif; Moh. Shofiyul Huda; Agus Edi Winarto; Ninik Zuroidah; Abdul Mujib; Setiawan
Realita: Jurnal Penelitian dan Kebudayaan Islam Vol. 21 No. 1 (2023): Jurnal Realita: Jurnal Penelitian dan Kebudayaan Islam
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/realita.v21i1.166

Abstract

Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) Kota Kediri secara statistic mengalami peningkatan. Peningkatan ini tidak dapat dilepaskan dari konteks social, budaya, politik, dan ekonomi yang berjalan dinamis dari waktu ke waktu. Untuk dapat mengetahui perkembangan perlu dilakukan survey secara berkala. Bardasarkan latar belakang ini, survei terkait indeks kerukunan umat beragama pada tahun 2022 perlu dilakukan. Survei ini dimaksudkan untuk memotret perkembangan kerukunan umat beragama di Kota Kediri. Hasil survei ini diperlukan sebagai pijakan dalam perumusan regulasi, program, dan aktivitas bagi pemerintah maupun masyarakat secara umum. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan subyek penelitiannya masyarakat Kota Kediri. Dari hasil survei yang telah dilakukan, Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) di Kota Kediri pada tahun 2022 mencapai angka 4,47 (sangat tinggi). Sebaran indeks pada tahun ini di setiap kecamatan tercatat sebagai berikut; Kecamatan Kota dan Pesantren mencatat angka sebesar 4,48. Sedangkan untuk Kecamatan Mojoroto mencatat indek 4,45. Meningkatkan indeks kerukunan umat beragama dilatari oleh posisi strategis Kota Kediri, kualitas sumber daya manusia (Humand Capital Quality), peran tokoh masyarakat dan agama sebagai public opinion agent, adanya organisasi lintas agama yang mendinamisir kehidupan keagamaan, dan dukungan pemerintah terhadap kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan dan keagamaan.