cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 593 Documents
Persepsi, Kesadaran, dan Praktik Mempertahankan Oral Hygiene selama Penggunaan Ortodontik Cekat pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Louise C. Hutomo; Mia A. Prasetya; I Gusti Ayu K.I. Purbasari; Millen Budiman
e-GiGi Vol. 11 No. 2 (2023): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v11i2.47530

Abstract

Abstract: Prevalence of malocclusion in Indonesia is very high and fixed orthodontic treatment is the best choice for various types of malocclusions. Failure to maintain oral hygiene during orthodontic treatment can damage the tooth tissue and harm the periodontal health. This study aimed to explore the perception, awareness, and practice of medical students in maintaining oral hygiene during fixed orthodontic treatment. This was a descriptive and observational study with a cross sectional design. Respondents were 44 medical students at Udayana University selected by using the random sampling method. Data were analyzed using the SPSS application and presented in single and cross distribution tables. The results showed that of the 44 respondents, the majority were female (88.6%), 19 years old (34.1%), and from general practice department (40.9%). There were 39 respondents (88.6%) with good awareness, and five respondents (11.4%) with fair awareness. Respondents with positive perception were 33 students (75%), and with neutral perception were 11 students (25%). Respondents with good practice were four students (9.1%), with fair practice were 35 students (79.5%), and with poor practice were five students (11.4%). In conclusion, most medical students at Udayana University have good awareness, positive perception, and fair practice. Keywords: perception; awareness; practice; oral hygiene; fixed orthodontic treatment.   Abstrak: Prevalensi maloklusi di Indonesia sangat tinggi dan perawatan ortodontik cekat menjadi pilihan terbaik untuk berbagai jenis maloklusi. Kegagalan dalam menjaga oral hygiene selama perawatan ortodontik dapat merusak jaringan gigi dan merusak kesehatan periodontal. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi, kesadaran, dan praktik mahasiswa kedokteran dalam mempertahankan oral hygiene selama menggunakan ortodontik cekat. Jenis penelitian ialah observasional deskriptif dengan desain potong lintang. Responden penellitian ialah 44 mahasiswa Fakultas Kedokteran Univeritas Udayana, dipilih dengan metode random sampling. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan aplikasi SPSS dan disajikan dalam tabel distribusi tunggal dan silang. Hasil penelitian mendapatkan sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (88,6%), berusia 19 tahun (34,1%), dan berasal dari Program Studi Kedokteran Umum (40,9%). Responden dengan kesadaran baik sebanyak 39 mahasiswa (88,6%), dan dengan kesadaran cukup sebanyak lima mahasiswa (11,4%). Responden dengan persepsi positif sebanyak 33 mahasiswa (75%), dan dengan kriteria netral sebanyak 11 mahasiswa (25%). Responden yang melakukan praktik baik sebanyak empat mahasiswa (9,1%), praktik cukup sebanyak 35 mahasiswa (79,5%) dan yang melakukan praktik buruk sebanyak lima mahasiswa (11,4%). Simpulan penelitian ini ialah sebagian besar mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana memiliki kesadaran yang baik, persepsi yang positif dan praktik yang cukup. Kata kunci: persepsi; kesadaran; praktik; oral hygiene; ortodontik cekat
Hubungan Perilaku Menyikat Gigi dengan Kejadian Abrasi Gigi Asnita B. Simaremare; Kirana P. Sihombing
e-GiGi Vol. 11 No. 2 (2023): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v11i2.47768

Abstract

Abstract: Tooth abrasion is the loss of tooth structure resulting from clinically abnormal mechanical wear with further risk of fracture in the cervical region of the tooth. Tooth abrasion can be avoided by applying fluoride to the teeth, changing tooth brushing behavior, and treatment of damaged teeth with dental fillings. This study aimed to evaluate the relationship between tooth brushing behavior (knowledge, attitude, and action) in people aged 30-55 years and the occurrence of dental abrasion. This was a descriptive and analytical study with a cross sectional design. Samples were 40 people of Desa Marindal II obtained by using purposive sampling method. The results showed that 15 subjects (37.5%) had good knowledge of tooth brushing and 25 subjects (62.5%) had fair knowledge of tooth brushing. There were 17 subjects (42.5%) with positive attitude towards brushing their teeth and 23 subjects (57.5%) with negative attitude towards brushing their teeth. Based on the act of tooth brushing, there were 18 subjects (45.0%) with good action and 22 respondents (55.0%) with fair action. Based on tooth abrasion, there were 19 subjects (47.5%) with no changes of tooth email and 21 subjects (52.5%) with changes of tooth email. The chi-square test showed a relationship between knowledge, attitude, and action of tooth brushing and dental abrasion among the subjects with p-values of 0.013, 0.014, and 0.000 (<0.05) respectively. In conclusion, tooth brushing can cause dental abrasion Keywords: behavior; tooth brushing; tooth abrasion   Abstrak: Abrasi gigi merupakan hilangnya struktur gigi akibat keausan mekanis yang abnormal secara klinis dengan risiko lanjut fraktur (patah) pada daerah servikal gigi. Abrasi gigi dapat dihindari dengan cara pengolesan fluorida pada gigi, merubah kebiasan dalam perilaku menyikat gigi dan penambalan gigi yang sudah rusak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perilaku (pengetahuan, sikap, dan tindakan) menyikat gigi pada masyarakat berusia 30-55 tahun. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Sampel penelitian sebanyak 40 orang warga Desa Marindal II yang dipilih dengan metode purposive sampling. Analisis data menggunakan uji chi-square dengan nilai kemaknaan 95% (p<0,05). Hasil penelitian mendapatkan 15 responden (37.5%) memiliki pengetahuan baik menyikat gigi dan 25 responden (62.5%) memiliki pengetahuan cukup menyikat gigi. Berdasarkan sikap menyikat gigi, terdapat 17 responden (42.5%) memiliki sikap positif menyikat gigi dan 23 responden (57.5%) memiliki sikap negatif menyikat gigi. Berdasarkan tindakan menyikat gigi, terdapat 18 responden (45.0%) memiliki tindakan baik menyikat gigi dan 22 responden (55.0%) memiliki tindakan cukup menyikat gigi. Terkait kejadian abrasi gigi terdapat 19 responden (47.5%) tanpa perubahan email gigi dan 21 responden (52.5%) dengan perubahan email gigi. Hasil uji chi-square mendapatkan hubungan antara pengetahuan, sikap dan tindakan (perilaku) menyikat gigi terhadap kejadian abrasi gigi pada subyek penelitian dengan nilai p=0,013, p=0,014 dan p=0,000 (<0,05) secara berurut. Simpulan penelitian ini ialah perilaku menyikat gigi yang salah dapat menyebabkan abrasi gigi. Kata kunci: perilaku; menyikat gigi; abrasi gigi
Hubungan Pengetahuan Mengenai Gigi Tiruan dengan Status Kebersihan Gigi dan Mulut pada Pengguna Gigi Tiruan Usia 40-50 Tahun Sondang Sondang; Manta Rosma; Rosdiana T. Simaremare
e-GiGi Vol. 11 No. 2 (2023): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v11i2.47786

Abstract

Abstract: Knowledge of dentures affects dental and oral hygiene status. This study aimed to determine the relationship between knowledge about denture with dental and oral hygiene status (OHI-S) among denture wearers aged 40-50 years. This was a descriptive and analytical study with a cross sectional design.  Samples were 40 denture wearers of Desa Tanjung Morawa B Dusun IV Kabupaten Deli Serdang, Indonesia. The results showed that eight subjects (20.0%) had good knowledge about dentures, 22 subjects (55.0%) had fair knowledge about dentures, and 10 subjects (25.0%) had poor knowledge about dentures. Examination of dental and oral hygiene status (OHI-S) showed nine subjects (22.5%) had good dental and oral hygiene, 18 subjects (45.0%) had moderate dental and oral hygiene, and 13 subjects (32.5%) had poor dental and oral hygiene. The chi-square test showed a relationship between knowledge and status of dental and oral hygiene among the subjects (p=0.03). In conclusion, there is a relationship between knowledge about denture with dental and oral hygiene status among denture wearers at Desa Tanjung Morawa B Dusun IV Kabupaten Deli Serdang, Indonesia. Keywords: knowledge about wearing denture; dental and oral hygiene; denture wearers   Abstrak: Pengetahuan tentang gigi tiruan memengaruhi status kebersihan gigi dan mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan mengenai penggunaan gigi tiruan dengan status kebersihan gigi dan mulut pada pengguna gigi tiruan berusia 40-50 tahun. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Sampel penelitian sebanyak 40 orang masyarakat Desa Tanjung Morawa B Dusun IV Kabupaten Deli Serdang pengguna gigi tiruan, yang dilakukan pengukuran tingkat pengetahuan serta tingkat kebersihan gigi dan mulut (OHI-S). Analisis data menggunakan uji statistik chi-square. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa untuk tingkat pengetahuan tentang penggunaan gigi tiruan terdapat delapan subyek (20,0%) memiliki pengetahuan baik, 22 subyek (55,0%) memiliki pengetahuan cukup, dan 10 subyek (25,0%) memiliki pengetahuan kurang. Penilaian tingkat kebersihan gigi dan mulut (OHI-S) mendapatkan sembilan subyek (22.5%) dengan status kebersihan gigi baik, 18 subyek (45,0%) dengan status kebersihan gigi sedang, dan 13 subyek (32,5%) dengan status kebersihan gigi buruk. Hasil uji statistik menunjukkan hubungan antara pengetahuan dengan status kebersihan gigi dan mulut pada pengguna gigi tiruan usia 40-50 tahun (p=0,03). Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan pengetahuan mengenai penggunaan gigi tiruan dengan status kebersihan gigi dan mulut pada pengguna gigi tiruan usia 40-50 tahun di Desa Tanjung Morawa B Dusun IV Kabupaten Deli Serdang Kata kunci: pengetahuan mengenai penggunaan gigi tiruan; status kebersihan gigi dan mulut; pengguna gigi tiruan
Analisis Kelengkapan dan Kesesuaian Pengisian Odontogram di Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) X Tahun 2017 – 2019 dengan Panduan Rekam Medis Kedokteran Gigi Christian P. D. Sembel; Johanna A. Khoman; Aurelia S. R. Supit
e-GiGi Vol. 11 No. 2 (2023): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v11i2.47931

Abstract

Abstract: Corpse identification method using teeth can be used to compare postmortem and antemortem data. Odontogram is included in the antemortem data and is an integral part of dental and medical records. This study aimed to determine the completeness of the data and the suitability of odontogram filling in patient medical records at RSGM X. This was a descriptive and observational study with a cross-sectional design. Study population was patient odontogram in medical record data at RSGM X. The sampling method used was the simple random sampling technique. Data collection used a checklist. The results showed that the percentage of completeness of identity data in the form of name was 100%, NIK 0%, gender 100%, place/date of birth 90%, odontogram data 100%, odontogram supplementary record data 100%, odontogram examination evidence data in the form of doctor's name 96%, doctor's signature 85%, and date of examination 100%. The suitability of odontogram filling started from writing using FDI 100%, abbreviations 0%, symbols 26%, signs (-) 3%, and additional information 0%. In conclusion, analysis of the suitability of filling odontograms at RSGM X in 2017–2019 with dental, medical record guidelines found that there was no complete patient odontogram data at RSGM X, and the filling of odontogram data was not yet in accordance with the dental medical record guidelines of the Directorate of Basic Health Efforts KEMENKES RI in 2015. Keywords: odontogram; dental record; identification; medical forensic   Abstrak: Metode identifikasi jenazah menggunakan gigi dapat membandingkan data postmortem dan data antemortem. Odontogram termasuk dalam data antemortem dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari rekam medis kedokteran gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelengkapan data dan kesesuaian pengisian odontogram rekam medis pasien di Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) X. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan desain potong lintang. Populasi penelitian ialah data odontogram rekam medis pasien di RSGM X. Metode pengambilan sampel yang digunakan ialah teknik simple random sampling. Pengumpulan data menggunakan daftar tilik (check list). Hasil penelitian mendapatkan persentase kelengkapan data identitas berupa nama 100%, NIK 0%, jenis kelamin 100%, tempat/tanggal lahir 90%, data odontogram 100%, data catatan pelengkap odontogram 100%, data bukti pemeriksaan odontogram berupa nama dokter 96%, tanda tangan dokter 85%, tanggal pemeriksaan 100%. Kesesuaian pengisian odontogram mulai dari penulisan menggunakan FDI 100%, singkatan 0%, simbol 26%, tanda (-) 3%, dan keterangan tambahan 0%. Simpulan penelitian ini ialah analisis kesesuaian pengisian odontogram di RSGM X tahun 2017–2019 dengan panduan rekam medis kedokteran gigi mendapatkan bahwa tidak ada data odontogram pasien di RSGM X yang lengkap dan pengisian data odontogram tersebut belum sesuai dengan panduan rekam medis kedokteran gigi Direktorat Bina Upaya Kesehatan Dasar KEMENKES RI tahun 2015. Kata kunci: odontogram; rekam medis; identifikasi; kedokteran forensik
Uji Efektivitas Antibakteri Ekstrak Kulit Buah Delima Merah (Punica granatum L.) terhadap Pertumbuhan Lactobacillus acidophilus Secara In Vitro Susanna Halim; Florenly Florenly; Shely Anggriani
e-GiGi Vol. 11 No. 2 (2023): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v11i2.46515

Abstract

Abstract: Lactobacillus acidophilus is a Gram-positive bacterium that causes caries. It is known that natural ingredients of red pomegranate peel extract (Punica granatum L.) have antibacterial effect. This study aimed to determine the effectiveness of red pomegranate peel extract in inhibiting the growth of Lactobacillus acidophilus. This was a laboratory and experimental study using a post-test only design with a control group design. Samples were Lactobacillus acidophilus bacteria. Sample size was determined using the Federer's formula, and five repetitions were obtained for each group. Data were analyzed with One Way ANOVA and Post Hoc LSD tests. The results showed that the average diameters of the inhibition zones of red pomegranate peel extract (Punica granatum L.) at concentrations of 25%, 50%, 75%, and 0.2%, chlorhexidine (positive control), and DMSO (negative control) on the growth of Lactobacillus acidophilus were 16.08±1.16 mm, 17.66 ±0.60 mm, 18.76±0.54 mm, 14.04±0.90 mm, and 0 mm. Statistic tests showed significant differences between various concentrations of red pomegranate peel extract and the positive control (p<0.05). The secondary metabolite compounds contained in red pomegranate peel extract (Punica granatum L.) were saponins, flavonoids, tannins, triterpenoids, and glycosides. In conclusion, various concentrations of red pomegranate peel extract (Punica granatum L.) have antibacterial effect to inhibit the growth of Lactobacillus acidophilus. Keywords: Lactobacillus acidophilus; red pomegranate peel; antibacterial effect   Abstrak: Lactobacillus acidophilus merupakan bakteri Gram positif penyebab terjadinya karies. Bahan alami dari ekstrak kulit buah delima merah (Punica granatum L.) telah dikenal memiliki efek antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak kulit buah delima merah dalam menghambat pertumbuhan Lactobacillus acidophilus. Metode penelitian ialah eksperimental laboratorium dengan post-test only with control group design dengan menggunakan sampel bakteri Lactobacillus acidophilus. Penentuan besar sampel menggunakan rumus Federer dan diperoleh lima kali pengulangan tiap kelompok. Analisis data menggunakan uji One Way ANOVA dan Post Hoc LSD. Hasil penelitian mendapatkan rerata diameter zona hambat pada ekstrak kulit buah delima merah konsentrasi 25%, 50%, 75%, chlorhexidine 0,2% (kontrol positif) dan DMSO terhadap pertumbuhan Lactobacillus acidophilus ialah 16,08±1,16 mm; 17,66± 0,60mm; 18,76±0,54 mm; 14,04±0,90 mm; dan 0 mm. Uji statistik menunjukkan perbedaan bermakna antara ekstrak kulit buah delima merah berbagai konsentrasi dengan kontrol positif (p<0,05). Kandungan senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada ekstrak kulit buah delima merah yaitu saponin, flavonoid, tanin, triterpenoid, dan glikosida. Simpulan penelitian ini ialah ekstrak kulit buah delima merah berbagai konsentrasi memiliki kemampuan antibakteri untuk menghambat pertumbuhan Lactobacillus acidophilus. Kata kunci: Lactobacillus acidophilus; kulit buah delima merah; efek antibakteri
Efektivitas Antibakteri Ekstrak Tulang Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) terhadap Streptococcus mutans dan Porphyromonas gingivalis Syamsiah Syam; Nur Asmah; Nabila A. L. Lestari
e-GiGi Vol. 11 No. 2 (2023): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v11i2.46942

Abstract

Abstract: Dental and oral diseases are dominated by periodontal disease and tooth decay. The most common type of bacteria that causes periodontal diseases is Porphyromonas gingivalis meanwhile the one that causes dental caries is Streptococcus mutans. Skipjack tuna (Katsuwonus pelamis) bones contain high calcium which can produce hydroxyapatite often used for tooth remineralization. This study aimed to determine the antibacterial effectiveness of skipjack tuna bones against Porphyromonas gingivalis and Streptococcus mutans. This was a laboratory experimental study using post test only control design. Data were analyzed with One Way Anova, using five treatments and five repetitions. The results showed that the mean diameter of the inhibition zone of Streptococcus mutans against 5% skipjack tuna bone extract was 8.63±0.24 mm; 10% extract was 9.28±0.12 mm; and 15% extract was 11.05 0.95 mm (p<0.01). Meanwhile, the mean diameter of the inhibition zone of Porphyromonas gingivalis against 5% skipjack tuna bone extract was 6.99±0.94 mm; 10% extract was 7.86 0.63 mm; and 15% extract was 12.63±0.55 mm (p<0.01). In conclusion, skipjack tuna bone extract (Katsuwonus pelamis) at 5%, 10%, and 15% can inhibit Streptococcus mutans and Porphyromonas gingivalis. Extract with the highest concentration (15%) is classified as strong category against both types of bacteria in this study. Keywords: caries; periodontal diseases; antibacterial; skipjack bone   Abstrak: Masalah mulut didominasi oleh penyakit periodontal dan kerusakan gigi. Bakteri penyebab tersering penyakit periodontal ialah Porphyromonas gingivalis sedangkan pada penyakit karies gigi ialah Streptococcus mutans. Tulang ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) mempunyai kandungan kalsium tinggi yang dapat menghasilkan hidroksiapatit untuk proses remineralisasi gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas antibakteri tulang ikan cakalang terhadap Porphyromonas gingivalis dan Streptococcus mutans. Jenis penelitian ialah eksperimental laboratorium dengan post test only control design. Pengambilan sampel dilakukan secara random sampling. Data penelitian dianalisis dengan One Way Anova, yaitu menggunakan lima perlakuan dan lima kali pengulangan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa diameter zona daya hambat Streptococcus mutans dari ekstrak tulang ikan cakalang konsentrasi 5% sebesar 8,63±0,24 mm; konsentrasi 10% sebesar 9,28±0,12 mm; dan konsentrasi 15% sebesar 11,05±0,95 mm (p<0,01). Diameter zona daya hambat Porphyromonas gingivalis dari ekstrak tulang ikan cakalang konsentrasi 5% sebesar 6,99±0,94 mm; konsentrasi 10% sebesar 7,86±0,63 mm; dan konsentrasi 15% sebesar 12,63±0,55 mm (p<0,01). Simpulan penelitian ini ialah ekstrak tulang ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) konsentrasi 5%, 10%, dan 15% dapat menghambat bakteri Streptococcus mutans dan Porphyromonas gingivalis. Ekstrak dengan konsentrasi tertinggi (15%) digolongkan memiliki daya hambat kuat terhadap kedua bakteri uji. Kata kunci: karies; penyakit periodontal; antibakteri; tulang ikan cakalang
Penatalaksanaan Fraktur Mahkota Kompleks dengan Pulpektomi Vital pada Gigi Desidui: Laporan Kasus Suci N. Rahmadani; Putri K. W. Mahendra
e-GiGi Vol. 12 No. 1 (2024): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v12i1.47582

Abstract

Abstract: Traumatic injury in teeth and their supporting tissues is often found in children including pre-school children (2- 4 years old) with the highest prevalence is crown fractures of anterior teeth. Management of crown fracture in primary teeth needs to be performed properly for the teeth to last until their exfoliations. We reported a four years old girl came to RSGM Prof. Soedomo and the chief complain was fractures of primary maxillary teeth. The patient complained of pain and easy bleeding of the teeth. Intraoral examination showed crown fractures with exposed pulp of teeth 51 and 61, vital, and negative percussion, palpation and mobility tests. Radiographic examination did not reveal any fracture of the alveolar bone, and good permanent tooth buds. The patient was uncooperative. The diagnosis of this case was complex crown fractures of teeth 51 and 61. The treatment was vital pulpectomy on teeth 51 and 61 using GIC as the final restoration. The vital pulpectomy was performed in two visits with a non-pharmacologic body restrain behavior management. In conclusion, the management of complex crown fracture with vital pulpectomy shows good result. Collaboration among dentist, parents, and patient greatly influences the success of treatment, especially in case of crown fracture et cause traumatic injury. Keywords: complex crown fracture; primary tooth; vital pulpectomy   Abstrak: Cidera traumatik pada gigi dan jaringan pendukungnya banyak dijumpai pada anak di antaranya anak pra sekolah (usia 2-4 tahun) dengan prevalensi terbanyak ialah fraktur mahkota gigi anterior. Penatalaksaan fraktur mahkota gigi desidui harus dilakukan dengan tepat agar gigi dapat bertahan hingga waktunya lepas. Kami melaporkan kasus seorang anak perempuan berusia 4 tahun datang ke RSGM Prof. Soedomo dengan keluhan gigi desidui rahang atas patah. Pasien mengeluhkan adanya rasa sakit dan mudah berdarah pada gigi tersebut. Pemeriksaan intraoral menunjukkan fraktur mahkota dengan pulpa terbuka gigi 51 dan 61; vital tidak terdapat kegoyahan, serta tes perkusi dan palpasi negatif. Pemeriksaan radiografi tidak didapatkan adanya fraktur pada tulang alveolar dan benih gigi permanen baik. Anak tidak kooperatif. Diagnosis untuk kasus ini ialah fraktur mahkota kompleks gigi 51 dan 61. Perawatan yang dilakukan berupa pulpektomi vital pada gigi 51 dan 61 dengan GIC sebagai restorasi akhir. Pulpektomi vital dilakukan dalam dua kali kunjungan dengan pendekatan manajemen perilaku non farmakologis body restrain. Simpulan kasus ini ialah penatalaksanaan fraktur mahkota kompleks dengan pulpektomi vital memberikan hasil yang baik. Kerjasama antara dokter gigi, orang tua dan pasien, sangat memengaruhi keberhasilan perawatan khususnya pada kasus fraktur mahkota akibat cidera traumatik. Kata kunci: fraktur mahkota kompleks; gigi desidui; pulpektomi vital
Penggunaan Labial bow Sebagai Komponen Aktif pada Pencabutan Premolar Pertama (Kajian pada Typodont) Pritartha Anindita
e-GiGi Vol. 11 No. 2 (2023): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v11i2.47646

Abstract

Abstract: To date, removable appliances have begun to be abandoned since they are considered ineffective compared to fixed appliances. Labial bow is one of the retentive components of removable orthodontic appliances that can be used as an active component or can be activated. The active labial bow can push the teeth in palatal and lingual directions; therefore, it can be used to correct simple malocclusion problems or to cover spaces that occur due to tooth extractions. This study aimed to determine the description of labial bow use as an active component in the case of extraction of the mandibular first premolars in typodonts. This was a descriptive study with a total sampling technique. Samples were 16 labial bows applied on the lower jaws of the typodonts. All samples were activated by 1 mm per activation to cover the extraction space of the first premolars in typodonts and then the average values of the measurement of the anterior teeth were calculated after activation and immersion. The results showed that the lowest average displacement of the anterior teeth was 2.00 mm, the highest displacement value was 2.66 mm, and the overall mean displacement of the anterior teeth for all 16 labial bow samples was 2.3413 mm. It means that the labial bows could retract the anterior teeth lingually to cover the space due to the extraction of the first premolars and aligned the incisors. In conclusion, labial bow can be used as an active component in mandibular first premolar extraction. Keywords: removable orthodontic appliance; active labial bow; first premolar extraction   Abstrak: Dewasa ini penggunaan alat ortodontik lepasan sudah mulai ditinggalkan karena dianggap kurang efektif dibandingkan alat ortodontik cekat. Labial bow merupakan salah satu komponen retentif alat ortodontik lepasan yang dapat menjadi komponen aktif atau dapat diaktivasi. Labial bow aktif dapat mendorong gigi-geligi ke arah palatal maupun lingual sehingga dapat digunakan untuk mengoreksi permasalahan maloklusi sederhana ataupun menutup ruang akibat pencabutan gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan labial bow sebagai komponen aktif pada kasus pencabutan gigi premolar pertama rahang bawah pada typodont. Jenis penelitian ini ialah deskriptif dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Jumlah sampel penelitian yakni sebanyak 16 sampel labial bow yang dipasang pada rahang bawah 16 model typodont. Seluruh sampel penelitian diaktivasi sebesar 1 mm per aktivasi untuk menutupi ruang pencabutan gigi premolar pertama pada typodont kemudian dihitung nilai rerata perpindahan gigi-geligi anterior setelah dilakukan aktivasi dan perendaman. Hasil analisis deskriptif mendapatkan nilai rerata perpindahan gigi-geligi anterior terkecil sebesar 2,00 mm, nilai perpindahan terbesar 2,66 mm, dan rerata keseluruhan (mean) perpindahan gigi-geligi anterior seluruh 16 sampel labial bow sebesar 2,3413 mm. Penggunaan labial bow sebagai komponen aktif pada kasus ekstraksi premolar pertama rahang bawah dapat membantu mendorong gigi-geligi anterior ke arah lingual menutup ruang akibat pencabutan gigi premolar pertama dan membantu meratakan insisivus. Simpulan penelitian ini ialah labial bow dapat dipergunakan sebagai komponen aktif pada ekstraksi premolar pertama mandibula. Kata kunci: alat ortodontik lepasan; labial bow aktif; pencabutan premolar pertama
Perilaku Pemeliharaan Kebersihan Gigi dan Mulut pada Pengguna Ortodontik Cekat di Madrasah Aliyah Negeri I Manado Najwa F. Modjo; Pritartha S. Anindita; Christy N. Mintjelungan
e-GiGi Vol. 12 No. 1 (2024): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v12i1.47932

Abstract

Abstract: All groups, including teenagers use fixed orthodontic treatment worldwide, but they often often unaware of the risks and impacts of using orthodontic appliances. Fixed orthodontic appliance components attached to the tooth surface will make the user susceptible to oral hygiene problems. This study aimed to obtain the oral hygiene behavior of students of Madrasah Aliyah Negeri 1 Manado undergoing orthodontic treatment. This was a descriptive study using a cross-sectional approach. Samples were 36 students in grades 10-12 obtained by using total sampling technique. The results showed that most students in this study brushed their teeth using conventional toothbrushes twice a day with fluoride toothpaste and habitually consumed fiber rich food. However, daily use of supports such as interdental brush, dental floss and mouthwash was still very low. Many students still used toothpicks although not every day and the habit of brushing teeth in front of the mirror was still lacking. In conclusion, dental and oral hygiene behavior of fixed orthodontic wearers at Madrasah Aliyah Manado is not optimal and still need to be improved. Keywords: orthodontic treatment; fixed orthodontic appliance; oral hygiene behavior   Abstrak: Perawatan ortodontik cekat ramai digunakan oleh segala kalangan termasuk remaja walaupun sering kali tidak menyadari risiko dan dampak dari penggunaan alat ortodontik. Komponen-komponen alat ortodontik cekat yang terpasang pada permukaan gigi akan membuat penggunanya rentan mengalami masalah kebersihan mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut pada pengguna ortodontik cekat di Madrasah Aliyah Negeri I (MAN 1) Manado. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain potong lintang. Sampel penelitian berjumlah 36 siswa kelas 10-12 pengguna ortodontik yang diambil menggunakan total sampling. Hasil penelitian mendapatkan bahwa sebagian besar siswa pengguna ortodontik cekat MAN 1 Manado menyikat gigi menggunakan sikat gigi konvensional dua kali sehari dengan pasta gigi berfluoride dan memiliki kebiasaan mengonsumsi makanan berserat setiap hari, namun penggunaan sehari-hari penunjang seperti interdental brush, dental floss dan obat kumur masih sangat rendah, masih banyak yang menggunakan tusuk gigi meskipun tidak setiap hari, dan kebiasaan becermin saat menyikat gigi juga masih kurang. Simpulan penelitian ini ialah perilaku pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut pada pengguna ortodontik cekat di Madrasah Aliyah Negeri I Manado belum optimal dan masih perlu ditingkatkan. Kata kunci: perawatan ortodontik; ortodontik cekat; pemeliharaan kebersihan mulut
Pengaruh suhu air terhadap setting time dari bahan cetak alginat Tansza S. Putri; Deviyanti Pratiwi; Eddy; Rosalina Tjandrawinata; Dewi L. Margaretta; Florencia L. Kurniawan; Octarina
e-GiGi Vol. 12 No. 1 (2024): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v12i1.47105

Abstract

Abstract: Irreversible hydrocolloid impression materials or alginate is commonly used in dental practice. Its setting time range is 1–4.5 minutes. The setting time is affected by several factors such as water temperature mixed with the alginate powder. There are previous studies evaluated the effect of water temperature on the alginate’s setting time, however, the collected data is still minimal. Therefore, this study aimed to evaluate the effect of water temperature on alginate’s setting time on larger scale. There were total of 423 samples divided into three groups: cold, moderate, and warm temperature of water mixed with alginate; each group consisted of 141 samples. Differences in setting times of the qroups were analyzed with the Kruskal-Wallis test and the Tukey’s HSD. Alginate powder used in this study was the normal-set type. Mixing the alginate powder with water was performed as the factory instruction, and then the mixture was poured into molds and the setting times were measured. The results showed that the setting times of the three groups were significantly different. Group I (cold) had the highest setting time (211 seconds), followed by Group II (room temperature) which was 147 seconds, and Group III (warm) had a setting time of 106 seconds.  In conclusion, water temperature has an effect on setting time, that is, the higher the temperature, the faster the setting time, and vice versa. Keywords: alginate; irreversible hydrocolloid; setting time; water temperature   Abstrak: Bahan cetak hidrokoloid ireversibel atau alginat merupakan bahan umum yang digunakan di praktek kedokteran gigi, dan memiliki setting time antara 1–4,5 menit. Setting time ditentukan oleh beberapa faktor di antaranya suhu air yang digunakan dalam mencampur bahan cetak tersebut. Terdapat penelitian-penelitian terdahulu yang mengevaluasi efek suhu terhadap setting time, namun data yang dikumpulkan masih minimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek suhu terhadap setting time bahan cetak alginat dalam skala besar. Terdapat tiga kelompok penelitian yaitu menggunakan suhu air yang dicampurkan dengan alginat dingin, sedang (suhu ruang), dan hangat. Besar sampel penelitian ini ialah 141 sampel per kelompok, sehingga total sampel ialah 423 sampel. Perbandingan setting time dari tiga kelompok kemudian dianalisis secara statistik menggunakan uji Kruskal-Wallis dan Tukey’s HSD untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan bermakna dari kelompok-kelompok tersebut. Bubuk alginat yang digunakan merupakan alginat tipe normal. Pencampuran bubuk alginat dengan air dilakukan sesuai dengan instruksi pabrik. Adonan yang telah diaduk dituang ke dalam cetakan dan dilakukan pengukuran setting time. Hasil penelitian mendapatkan setting time dari ketiga kelompok berbeda secara bermakna. Kelompok I (dingin) memiliki setting time tertinggi yaitu selama 211 detik, diikuti kelompok II (sedang) selama 147 detik, dan kelompok III (hangat) selama 106 detik. Simpulan penelitian ini ialah suhu air memiliki efek terhadap setting time, yaitu semakin tinggi suhu air maka semakin singkat setting time, demikian pula sebaliknya. Kata kunci: alginat; hidrokoloid ireversibel; setting time; suhu air