cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Kultivasi
ISSN : 14124718     EISSN : 2581138X     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Kultivasi diterbitkan oleh Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Jurnal ini terbit tiga kali dalam setahun, yaitu pada bulan Maret, Agustus, dan Desember. Kultivasi mempublikasikan hasil penelitian dan pemaparan ilmiah dari para dosen dan peneliti di bidang budidaya tanaman. Bidang kajian yang dipublikasikan jurnal ini diantaranya adalah agronomi, pemuliaan tanaman, ilmu gulma, teknologi benih, teknologi pasca panen, ilmu tanah, dan proteksi tanaman.
Arjuna Subject : -
Articles 495 Documents
Serapan nitrogen dan fosfor serta hasil jagung yang dipengaruhi oleh aplikasi pupuk hayati dengan berbagai teknik dan dosis pada tanah Inceptisols Betty Natalie Fitriatin; Muhammad Iqbal Maulana Yusuf; Anne Nurbaity; Nadia Nuraniya Kamaluddin; Meddy Rachmady; Emma Trinurani Sofyan
Kultivasi Vol 20, No 3 (2021): Jurnal Kultivasi
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kultivasi.v20i3.34107

Abstract

Abstrak  Upaya meningkatkan unsur hara nitrogen (N) dan fosfor (P) tanah secara berkelanjutan adalah dengan memanfaatkan agen hayati bakteri penambat nitrogen dan bakteri pelarut fosfat. Percobaan pot dilakukan dengan tujuan untuk menentukan teknik aplikasi pupuk hayati dalam meningkatkan kandungan dan serapan hara N dan P  serta hasil tanaman jagung pada Inceptisols Jatinangor. Percobaan dilaksanakan di Lahan Percobaan milik Laboratorium Kesuburan Tanah dan Nutrisi Tanaman, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Pupuk hayati yang digunakan merupakan konsorsium bakteri penambat N (Azotobacter chroococcum dan Azospirillum sp.) dan bakteri pelarut P (Pseudomonas malei dan Bacillus subtillis). Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan sembilan perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan terdiri dari tanpa aplikasi pupuk hayati (kontrol); aplikasi pupuk hayati menggunakan perlakuan benih dengan dosis 500 g dan 250 g/ha; aplikasi pupuk hayati ke dalam tanah dengan dosis 50 kg dan 25 kg/ha; dan kombinasi antara perlakuan benih dan aplikasi ke dalam tanah. Hasil percobaan menunjukkan bahwa teknik aplikasi pada benih, pada tanah, dan kombinasinya meningkatkan serapan N dan P serta hasil tanaman jagung. Perlakuan pupuk hayati pada benih 500 g/ha + aplikasi pada tanah 50 kg/ha merupakan perlakuan terbaik dalam meningkatkan serapan N sebesar 51% dan serapan P hingga 90% dibandingkan kontrol. Perlakuan pada benih 250 g/ha + aplikasi pada tanah 25 kg/ha merupakan perlakuan terbaik dalam meningkatkan hasil sebesar 56% dibandingkan kontrol. Teknik aplikasi pupuk hayati yang efisien dapat digunakan untuk meningkatkan produksi tanaman jagung.Kata kunci: Aplikasi tanah ∙ Keamanan pangan ∙ Pelarut fosfat ∙ Penambat nitrogen ∙ Perlakuan benih  Abstract. The application of biological agents such as nitrogen fixing bacteria and phosphate solubilizing bacteria  is an effort to increase soil nitrogen (N) and phosphorus (P) content. Pot experiment aimed to determine the best application technique of biofertilizer to increase N and P uptake and the yield of maize on Inceptisols. The experiment was carried out at the experimental field of the Laboratory of Soil Fertility and Plant Nutrition, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran. Biofertilizers contained of N-fixing bacteria  (Azotobacter chroococcum and Azospirillum sp.) and phosphate solubilizing bacteria  (Pseudomonas malei and Bacillus subtillis).  The experiment used a randomized block design with nine treatments and three replications. The treatments consisted of without biofertilizer application (control); biofertilizers application to seed (seed treatment) at a dose of 500 g ha-1 and 250 g ha-1; biofertilizers application to the soil (soil treatment) with a dose of 50 kg ha-1 and 25 kg ha-1; and the combinations between seed treatment and soil treatment. The results showed that the application of seed treatment, soil treatment, and their combination increased N and P uptake and yields of maize. The seed treatment at a dose of 500 g ha-1 + soil treatment at a dose of 50 kg ha-1 were the best treatment for increasing N uptake by 51% and P uptake by 90% compared to control. The seed treatment at a dose of 250 g ha-1 + soil treatment at a dose of 25 kg ha-1 increased yield of maize by 56% (213.40 g). Efficient biofertilizer application techniques could be used to increase maize production.Keywords: Soil application ∙ Food security ∙ Phosphate solubilizing ∙ Nitrogen fixing ∙ Seed treatment 
Keragaman genetik koleksi plasma nutfah jewawut sister line dan lokal menggunakan marka SSR Karlina Syahruddin; Muhammad Azrai; Marcia Bunga Pabendon; Muhammad Abid; Amin Nur
Kultivasi Vol 20, No 3 (2021): Jurnal Kultivasi
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kultivasi.v20i3.34843

Abstract

AbstrakKeragaman genetik sangat penting dalam pemuliaan tanaman, oleh karena itu informasi genetik sangat dibutuhkan dalam proses seleksi. Teknologi molekuler dengan menggunakan marka Simple Sequence Repeat (SSR) saat ini banyak digunakan karena keakuratan informasi dan polimorfik untuk spesies atau galur yang berkerabat dekat. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi keragaman genetik dari 14 koleksi plasmanutfah jewawut berkerabat dekat dengan menggunakan 27 marka SSR yang menyebar pada semua kromosom jewawut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koleksi plasmanutfah jewawut berkerabat dekat mengelompok pada klaster yang sama, kecuali pada koleksi aksesi Wete dari Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menyebar pada kelompok yang berbeda pada kisaran nilai koefisien kemiripan genetik 0,28 – 0,85 dengan nilai matriks korelasi (r) sebesar 0,954. Koleksi Jewawut yang memiliki koefisien kemiripan genetik yang tinggi (0,85) ditunjukkan pada koleksi ICE-276-11A dengan ICE-276-12A dan yang memiliki koefisien kemiripan terkecil (0,61) ditujukkan pada koleksi 2007-ICE-1335 dan 2007-ICE-1335B. Koleksi jewawut yang berasal dari NTT (Wete Gha Gero Phere dan Wete Wolowea) dan introduksi (2007-ICE-1335B dan 2007-ICE-1335) memiliki tingkat variasi genetik tinggi yang ditunjukkan oleh penyebaran aksesi pada klaster yang berbeda dengan nilai jarak genetik rata-rata yang cukup tinggi terhadap aksesi koleksi. Adanya keragaman yang tinggi memberikan peluang keberhasilan program pemuliaan tanaman jewawut.Kata kunci: Aksesi introduksi ∙ Jewawut ∙ Nusa Tenggara Timur ∙ Variasi AbstractGenetic diversity is very important in plant breeding, thus genetic information is needed in plant breeding activities, especially for selection process. Molecular technology using Simple Sequence Repeat (SSR) marker is widely used for genetic diversity research due to the high accuracy of information and highly polymorphic for closely related species. This study was conducted to identify the genetic diversity of 14 millet germplasms using 27 SSR markers. The results showed that the collection of closely related millet germplasm was grouped in the same cluster, except for the Wete accessions from Nusa Tenggara Timur (NTT) that spread to different groups in the range of the genetic similarity coefficient of 0.28 – 0.85 with a correlation matrix value (r) of 0.954. The millet collections which had a high genetic similarity coefficient (0.85) was shown in ICE-276-11A and ICE-276-12A, while the smallest similarity coefficient (0.61) was shown in 2007-ICE-1335 and 2007-ICE-1335B. The accessions  from NTT (Wete Gha Gero Phere and Wete Wolowea) and introduction accesions (2007-ICE-1335B and 2007-ICE-1335) showed a high level of genetic variation as indicated by the spread of accessions in different clusters with sufficient high average genetic distance values against the accession of the collections.  A wide diversity of germplasm provided greater opportunity of success for millet breeding.Keywords: Introduction accession ∙ Foxtail millet ∙ Variation ∙ Nusa Tenggara Timur   
Pengaturan suhu inkubasi dan perlakuan benih dalam upaya meningkatkan daya tumbuh benih carica Yugi Rahayu Ahadiyat; Pramesti Budi Arini
Kultivasi Vol 20, No 3 (2021): Jurnal Kultivasi
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kultivasi.v20i3.32626

Abstract

AbstrakBuah carica merupakan jenis buah khas tropis namun memiliki kendala dalam produksi benihnya. Benih carica memiliki daya kecambah rendah disebabkan oleh adanya lapisan sarcotesta yang menjadi penghambat dalam proses perkecambahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penghilangan lapisan sarcotesta terhadap viabilitas benih carica dan menentukan suhu optimum untuk mematahkan dormansi benih dan mempertahankan viabilitas benih carica. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri daridua faktor, yaitu faktor penghilangan lapisan sarcotesta terdiri atas benih tanpa sarcotesta dan ber-sarcotesta, sertafaktor inkubasi suhu, yang terdiri atas inkubasi 15 ºC, 25 ºC, 35 ºC, dan 45 0C. Variabel yang diamati antara lain kadar air (%),daya hantar listrik (mS/m), laju respirasi benih (mol/g/jam), jumlah benih rusak (%), kandungan fenol, dan uji lapanganmeliputi daya kecambah (%), kecepatan pematahan dormansi (hari), potensi tumbuh maksimum (%),dan indeks vigor benih. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa penghilangan lapisansarcotestamampu meningkatkan daya tumbuh benih carica. Suhu inkubasi 15 oC memberikan viabilitas terbaik, namun belum ditemukan suhu optimum yang mampu mematahkan dormansi benih dan mempertahankan viabilitas benih.Kata kunci: Benih carica ∙ Dormansi benih ∙ Sarcotesta ∙ Vigor dan viabilitas benih Abstract Carica fruit is a typical tropical fruit with seed production problem. Carica seeds have low germination rate due to the presence of a sarcotesta layer which is an inhibitor in the germination process. The objective of this study was to determine the effect of removing the sarcotesta on the viability of carica seeds and to determine the optimum temperature to break seed dormancy and maintain viability of carica seeds. This experiment was conducted using a completely randomized block design consisting of two factors, i.e., removal treatment and temperature. The first factor was composed of removed sarcotesta seed and normal seed with sarcotesta. Temperature treatment was composed of 4 levels, i.e., 15ºC, 25ºC, 35ºC, and 450C. The observed variables were moisture content (%), electrical conductivity (mS/m), seed respiration rate (mol/g/hour) number of damaged seeds (%), phenolic content, and field tests included germination rate (%), dormancy breaking speed (days), maximum growth potential (%), and seed vigor index. The results showed that removing the sarcotesta layer was able to improve growth capacity of carica seeds. Temperature treatment at 15 oC was determined as the optimum temperature that could break seed dormancy and also maintain seed viability.Keywords: Carica seed ∙ Seed dormancy ∙ Sarcotesta ∙ Seed vigor and viability  
Evaluasi kualitas nutrisi microgreen bayam merah dan hijau menggunakan cahaya buatan Aida Fadlilah Rahmani; Syariful Mubarok; Mochammad Arief Soleh; Boy Macklin Pareira Prawiranegara
Kultivasi Vol 20, No 3 (2021): Jurnal Kultivasi
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kultivasi.v20i3.33365

Abstract

AbstrakPermasalahan yang muncul untuk mengusahakan pertanian perkotaan adalah semakin sulitnya menemukan lahan pertanian yang dimiliki masyarakat dan kesempatan waktu yang minim untuk budidaya tanaman. Permasalahan tersebut dapat diatasi salah satunya dengan menggunakan sistem hidroponik ditambah pencahayaan buatan untuk kebutuhan pertumbuhan tanaman. Penanaman microgreen dalam ruangan merupakan salah satu cara untuk memudahkan masyarakat dalam berbudidaya tanaman. Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari jenis warna cahaya buatan terhadap kualitas nutrisi microgreen bayam merah dan bayam hijau. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Analisis Tanaman dan Pasca Panen Hortikultura, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok dengan dua faktor perlakuan, yaitu warna cahaya yang terdiri dari 5 level dan jenis tanaman yang terdiri dari 2 level. Faktor warna cahaya terdiri dari kontrol-cahaya matahari, kontrol artifisial-neon, lampu light emitting diode (LED) full spectrum, LED warna biru, dan LED warna merah. Faktor varietas tanaman yaitu microgreen bayam merah dan bayam hijau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi pengaruh interaksi antara warna cahaya dan varietas tanaman terhadap kualitas nutrisi microgreen yaitu kandungan fenol, flavonoid, dan aktivitas penangkap radikal diphenyl picril hydrazil hydrate (DPPH). Respon masing-masing varietas menunjukkan kualitas nutrisi yang berbeda. Perlakuan pencahayaan LED warna biru dan full spectrum memberikan kualitas hasil terbaik pada microgreen bayam merah, sedangkan perlakuan pencahayaan LED warna merah dan biru memberikan kualitas hasil terbaik pada microgreen bayam hijau.Kata kunci: Bayam ∙ LED ∙ Microgreen  ∙ Warna cahaya Abstract. Agricultural problems in urban area are the obstacle to provide proper agricultural land owned by the local community and  time limitation for plant cultivation activities. This problem can be overcome by using hydroponic system equipped by artificial lighting for plant growth needs. The concept of microgreen culture in indoor condition may ease people to have plant cultivation activities.  The experiment was carried out to study the effect of different types of artificial light color on the nutritional quality of red and green spinach microgreen. The experiment was conducted at the Laboratory of Plant Analysis and Post-Harvest Horticulture, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran. The experimental design was randomized block design with two factors: artificial light color consisting of five levels and plant species consisting of two levels. The light color factor consisted of sunlight-control, artificial neon tube lamp-control, full spectrum light emitting diodes (LEDs), blue LEDs, and red LEDs. Plant varieties were red and green spinach. The results showed that there was an interaction between light color and plant varieties on nutritional quality of microgreen, such as phenol, flavonoid content, and diphenyl picril hydrazil hydrate (DPPH) radical scavenging activity. The responses of red and green spinach showed different nutritional quality. Blue and full spectrum LED lighting gave the best nutritional quality to red spinach microgreen, while red and blue LED lighting treatments gave the best results to green spinach microgreen. Keywords: Spinach ∙ LED ∙ Microgreen ∙ Light colors
Pengaruh bahan organik terhadap kesuburan tanah serta pertumbuhan dan fisiologi tanaman kakao muda hasil transplanting di tanah Inceptisol Rosniawaty, Santi; Sudirja, Rija; Ariyanti, Mira; Mubarok, Syariful; Wahyudin, Agus
Kultivasi Vol 20, No 3 (2021): Jurnal Kultivasi
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kultivasi.v20i3.32621

Abstract

AbstrakPenanaman bibit kakao pada tanah inceptisol memiliki beberapa kendala, salah satunya adalah bahan organik rendah. Peningkatan pertumbuhan tanaman kakao pada awal tanam dapat dilakukan dengan pemberian bahan organik. Saat ini terdapat bahan organik berbentuk cair, namun pengaruhnya terhadap kakao belum menghasilkan belum diketahui, karena pada umumnya bahan organik yang digunakan pada tanaman kakao berbentuk padat. Tujuan penelitian ini untuk melihat pengaruh bahan organik berbeda (asam humat dan pupuk kotoran sapi) terhadap kesuburan tanah, pertumbuhan, dan fisiologi tanaman kakao belum menghasilkan. Percobaan dilakukan pada bulan Januari sampai Desember 2017 di kebun percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Rancangan percobaan yang digunakan adalah  Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 9 perlakuan dan 3 (tiga) ulangan.  Perlakuan yang diaplikasikan adalah dosis asam humat per tanaman (0 mL, 5 mL, 10 mL, 15 mL, dan 20 mL) serta dosis pupuk kotoran sapi per tanaman (0 kg, 5 kg, 10 kg, 15 kg, dan 20 kg). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua jenis bahan organik cenderung meningkatkan kapasitas tukar kation dan kandungan C-organik, tetapi tidak berpengaruh terhadap pH tanah. Bahan organik padat maupun cair tidak memberikan pengaruh terhadap pertambahan tinggi tanaman, pertambahan diameter batang, dan indeks klorofil pada tanaman kakao belum menghasilkan, namun  pupuk kotoran sapi 10 kg per tanaman yang diberikan pada awal pertumbuhan tanaman memberikan pertambahan jumlah daun terbaik.Kata kunci: Asam humat ∙ Kakao ∙ Kotoran sapi ∙ Tanaman belum menghasilkan  AbstractPlanting cacao seedlings on inceptisol face several problems, one of them is low organic matter content. The application of organic materials can be used to increase cocoa plant growth at early planting stage. Recently, new formulation of organic fertilizer, i.e., liquid organic fertilization, has been produced, but its effects on immature cocoa plants growth have not been clearly identified, because the organic matter applied in cocoa plants is usually the solid ones. The objectives of this experiment was to investigate the effect of different organic matter  (humic acid and solid cow manure) on soil fertility, the growth and physiology of immature cocoa plants. The experiment was conducted from January to December 2017 in the experimental field of the Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Randomized Block Design was performed in this experiment with 9 treatments and 3 replications.  Applied treatments were doses of humic acid per plant (0 mL, 5 mL, 10 mL, 15 mL and 20 mL) and doses of cow manure per plant (0 kg, 5 kg, 10 kg, 15 kg and 20 kg). The results showed that both organic matters tended to cation exchange capacity and C-organic conten, but did not affect the soil pH. Both organic matters did not significantly affect the increase of plant height, the increase of stem diameter, and chlorophyll index of immature cocoa plants, but 10 kg of solid cow dung per plant given at the beginning of plant growth gave the highest number of leaves produced.Keywords : Humic acid ∙ Cocoa ∙ Cow manure ∙ Immature plant   
Pertumbuhan dan hasil dua kultivar bayam pada sistem budidaya hidroponik untuk lahan sempit Syariful Mubarok; Asyifa Mardatillah; Anne Nuraini
Kultivasi Vol 20, No 3 (2021): Jurnal Kultivasi
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kultivasi.v20i3.32141

Abstract

AbstrakHidroponik merupakan salah satu teknik sistem budidaya yang biasa digunakan di lahan sempit seperti di perkotaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan sistem budidaya bayam yang paling baik untuk diterapkan pada sistem urban farming pada lahan sempit, misalnya di kawasan pemukiman padat penduduk di bagian timur Jakarta. Rancangan Acak Kelompok Lengkap yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua kultivar bayam dan tiga sistem budidaya yaitu budidaya konvensional, sistem hidroponik Wick dan NFT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem NFT menghasilkan pertumbuhan dan hasil terbaik yang ditunjukkan oleh jumlah daun, diameter batang, luas daun, panjang akar, volume akar dan berat segar tanaman yang lebih baik daripada sistem hidroponik Wick dan konvensional pada dua kultivar bayam 'Maestro' dan 'Mira'.Kata kunci: Bayam ∙ Kemandirian pangan ∙ Lahan pekarangan ∙ NFT ∙ Wick   Abstract.Hydroponic is one of the cultivation system techniques that usually used in the small area alike urban area. The purpose of this study was to determine the best amaranth cultivation system to be applied in urban farming system applied on small area, e.g. in a densely inhabited residental area in eastern part of Jakarta. Randomized Completely Block Design used in this experiment consisted of two amaranth cultivars and three cultivation systems namely conventional cultivation, Wick hydroponic and NFT hydroponic. The results showed that the NFT system resulted the best growth and yield, as indicated by the number of leaves, stem diameter, leaf area, root length, root volume and plant fresh weight that were better than the Wick hydroponic and conventional system in two amaranth cultivars namely ‘Maestro’ and ‘Mira’.Keywords: Amaranth ∙ Food independence ∙ Yard ∙ NFT ∙ Wick 
Pengujian karakter hasil dan komponen hasil klon ubi jalar berdaging putih berdasarkan analisis multivariat Arif Affan Wicaksono; Debby Ustari; Saskia Pratiwi; Syariful Mubarok; Agung Karuniawan
Kultivasi Vol 21, No 1 (2022): Jurnal Kultivasi
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kultivasi.v21i1.37825

Abstract

AbstrakUbi jalar memiliki keragaman genetik yang luas sehingga potensi genetiknya dapat dikembangkan lebih lanjut. Ubi jalar berdaging putih memiliki kandungan pati paling tinggi dibandingkan dengan warna yang lain. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui variasi karakter hasil dan komponen hasil klon ubi jalar berdaging putih. Percobaan dilakukan di tiga lokasi sentra produksi ubi jalar yakni Kabupaten Sumedang, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Majalengka, Jawa Barat mulai bulan Desember 2019 hingga Desember 2020. Percobaan dilakukan dengan menguji 11 klon ubi jalar berdaging putih, yang terdiri atas 8 klon hasil persilangan dan 3 varietas cek menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan. Karakter yang diamati terdiri atas karakter hasil dan komponen hasil. Kekerabatan klon ubi jalar berdaging putih dinilai berdasarkan keragaman genetik masing-masing karakter menggunakan analisis multivariat yang meliputi analisis klaster dan Principle Component Analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat variasi karakter hasil dan komponen klon ubi jalar berdaging putih pada tiga lokasi tanam. Jarak genetik berdasarkan analisis klaster di tiga lokasi tanam secara berurutan adalah 2,20 – 5,95 Euclidean; 2,74 – 5,13 Euclidean; dan 2,26 – 5,61 Euclidean. Berdasarkan hasil analisis multivariate, klon ubi jalar berdaging putih pada ketiga lokasi memiliki variasi yang tinggi. Hasil tersebut berguna untuk menyeleksi klon ubi jalar berdaging putih dalam program perakitan varietas tanaman.Kata Kunci: Hasil ∙ Klaster ∙ Komponen hasil ∙ Multivariat ∙ Ubi jalar berdaging putih AbstractSweet potato has a wide genetic diversity so that its genetic potential can be developed further. White flesh sweet potato has the highest starch content compared to others. This study aimed to estimate the variation of yield and yield component traits of white fleshed sweet potato clones. The experiment was conducted at three regencies of sweet potato production center, i.e., Sumedang, Garut, and Majalengka, West Java, from December 2019 to December 2020. The experiment was carried out by testing 11 white-fleshed sweet potato clones consisting of 8 crossed clones and 3 check varieties by using Randomized Block Design (RBD) with three replications. Yield and yield component traits were observed. Estimation of relativity of white-fleshed sweet potato was evaluated based on the genetic diversity of each trait by using multivariate analysis included cluster and principal component analysis (PCA). The results showed that there were differences in genetic variability based on yield and yield component traits in three production centers. Genetic distance based on cluster analysis in three locations were 2.20-5.95 Euclidean; 2.74-5.13 Euclidean; and 2.26-5.61 Euclidean, respectively.Based on the results of multivariate analysis, white-fleshed sweet potato clones at the three locations had a high variation. These results are useful for selecting desired white-fleshed sweet potato clones in the plant breeding program.Keywords: Yield ∙ Cluster ∙ Yield component ∙ Multivariate ∙ White-fleshed sweet potato 
Potensi hasil dan nutrisi beberapa genotipe tanaman sorgum lokal Jawa Timur sebagai calon tetua persilangan Maftuchah Maftuchah; Dian Puji Rahayu; Agus Zainudin; Sulistyawati Sulistyawati; Hendry Sulistiyanto
Kultivasi Vol 21, No 1 (2022): Jurnal Kultivasi
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kultivasi.v21i1.35539

Abstract

AbstrakTanaman sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) merupakan tanaman sumber pangan, pakan ternak, dan bahan baku industri yang memiliki potensi untuk dikembangkan di Indonesia. Permasalahan utama dalam komoditas ini adalah masih terbatasnya varietas lokal yang sesuai dengan lingkungan di Indonesia sehingga perlu diupayakan pencarian genotipe lokal sorgum sebagai calon tetua persilangan. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mendapatkan informasi potensi daya hasil dan kualitas produk berbagai genotipe sorgum lokal Jawa Timur sebagai calon tetua persilangan untuk menghasilkan varietas unggul. Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Desa Purutrejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan-Jawa Timur. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 9 genotipe tanaman sorgum yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur, antara lain: Sampang-1, Sampang-2, Tulungagung-1, Tulungagung-2, Jombang, Pasuruan, Lamongan 1, Lamongan 2, dan Tuban. Percobaan dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa potensi daya hasil dan kualitas 9 genotipe sorgum lokal Jawa Timur sangat beragam. Genotip Lamongan-2 direkomendasikan sebagai calon tetua persilangan karena menunjukkan berat kering biji tertinggi (117,34 gram/malai) dan jumlah biji per malai tertinggi (4582 biji /malai). Umur panen paling cepat (70 hari) dicapai oleh genotip Tulungagung-2. Kandungan protein tertinggi dicapai oleh genotipe Sampang-1 (17,15 %) dan terendah pada genotipe Tulungagung-1 (10,17 %). Kadar lemak tertinggi adalah pada genotipe Tuban (4,79 %) dan terendah adalah pada Lamongan-1 (2,94 %).Kata Kunci: Genotipe ∙ Sorgum ∙ Uji daya hasil   AbstractSorghum (Sorghum bicolor (L.) Moench) plant is a source of food, animal feed, and industrial raw materials that have a high potential to be developed in Indonesia The main problem in this commodity is limited local varieties that are suitable for the environment in Indonesia, so it is necessary to search for local genotypes of sorghum as potential crossbreeding parents. The purpose of this study was to obtain information on the potential yield and nutrient content of several genotypes of local sorghum from East Java as prospective crossing parents to produce superior varieties. The materials used in this study were 9 local sorghum varieties from various regions in East Java, including: Sampang-1, Sampang-2, Tulungagung-1, Tulungagung-2, Jombang, Pasuruan, Lamongan 1, Lamongan 2 and Tuban. The research was carried out by using a Randomized Block Design with three replications. The results showed that the potential yield and nutrient content of 9 local sorghum genotypes from East Java were very diverse. The Lamongan 2 genotype was recommended as a candidate for crossbreeding because it showed the highest dry weight of seeds (117.34 grams per panicle) and the highest number of seeds per panicle (4582 seeds per panicle). The shortest harvesting age (70 days) was found in the Tulungagung 2 genotype. The highest protein content was found in the Sampang 1 genotype (17.15%) and the lowest result was in the Tulungagung1 genotype (10.17%). The sorghum genotype with the highest fat content was the Tuban genotype (4.79%) and the lowest result was observed in the Lamongan 1 genotype (2.94%).Keywords: Genotype ∙ Sorghum ∙ Yield test
Pengaruh rizobakteri indigenous terhadap serangan penyakit budok, enzim peroksidase, dan pertumbuhan setek nilam Aceh Halimursyadah Halimursyadah; Siti Hafsah; Siti Nurminah Nasution; Zuraida Zuraida
Kultivasi Vol 21, No 1 (2022): Jurnal Kultivasi
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kultivasi.v21i1.36316

Abstract

AbstrakRizobakteri adalah kelompok mikroba yang aktif dan agressif mengkolonisasi area rizosfir. Mikroba ini mampu berperan sebagai biofertilizer, biostimulan, dan bioprotektan.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis isolat rizobakteri indigenous yang berpotensi sebagai agen biokontrol pada patogen Synchytrium pogostemonis penyebab penyakit budok pada tanaman nilam Aceh (Pogostemon cablin Benth.). Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala dan Kebun Percobaan Sektor Timur Fakultas Pertanian, Darussalam Banda Aceh. Waktu pelaksanaan penelitian dimulai pada bulan Januari sampai dengan Mei 2021. Percobaan ini disusun berdasarkan Rancangan Acak Lengkap dengan 15 perlakuan yang terdiri atas 14 perlakuan isolat rizobakteri dan perlakuan kontrol (tanpa rizobakteri). Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat rizobakteri PS 4/5 dan PS 5/6PK merupakan perlakuan cenderung terbaik sebagai agen biokontrol terhadap patogen S. pogostemonis, penyebab penyakit budok, pada tanaman nilam berdasarkan peubah masa inkubasi penyakit, intensitas serangan penyakit, berat brangkasan basah, dan berat brangkasan kering. Hasil uji aktivitas enzim peroksidase menunjukkan aktivitas tertinggi pada tanaman nilam yang diberi perlakuan isolat rizobakteri PS 6/3A dengan nilai absorban sebesar 1,66 U mg-1.Kata Kunci: Budok ∙ Patchouli ∙ Peroksidase ∙ Rizobakteri ∙ Tanaman Abstract. Rhizobacteria are a group of microbes that are active and aggressive in colonizing the rhizosphere area. These microbes are able to act as biofertilizer, biostimulant and bioprotectant. The purpose of this study was to determine the type of indigenous rhizobacteria isolates that potentially served as biocontrol agents on the pathogen Synchytrium pogostemonis that causes budok disease on Aceh patchouli (Pogostemon cablin Benth.) cuttings. The research was carried out at the Seed Science and Technology Laboratory, the Department of Agrotechnology, Faculty of Agriculture, Syiah Kuala University and the Experimental Garden of the Sektor Timur, Faculty of Agriculture, Darussalam Banda Aceh. The study was carried out from January to May 2021 and it was arranged in a completely randomized design with a non-factorial pattern of 15 treatments levels, i.e., application of 14 indigenous rhizobacterial isolate and control (without rhizobacteria application). Each treatment was repeated three times. The result showed that rhizobacteria isolates, namely PS 4/5 and PS 5/6PK were determined as the best treatment of biocontrol agents against the pathogen S. pogostemonis based on disease incubation period,  intensity of disease attack, weight of wet stover, and weight of dry stover. The peroxidase enzyme activity test showed the highest activity in patchouli cuttings treated with PS 6/3A rhizobacteria isolates with an absorbance value of 1.66 U ml-1.Keywords: Budok ∙ Patchouli ∙ Peroxidase ∙ Rhizobacteria ∙ Plant
Viability test of halotolerant nitrogen-fixing rhizobacteria on different carrier composition and application dosage of nitrogen biofertilizer to increase rice growth on saline ecosystems Fiqriah Hanum Khumairah; Fachruddin Azwari; Mieke Rochimi Setiawati; Betty Natalie Fitriatin; Tualar Simarmata
Kultivasi Vol 21, No 1 (2022): Jurnal Kultivasi
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kultivasi.v21i1.33068

Abstract

Abstract The use of saline soils as productive agricultural land poses major challenges. The utilization of nitrogen biofertilizer with halotolerant N-fixing rhizobacteria as the active material at the right dosage can increase soil productivity and support plant growth. The aim of this study was to obtain the composition of the carrier material that can maintain rhizobacteria viability, water content, and pH of nitrogen biofertilizer and to obtain the right dosage to increase the growth of rice plants in saline ecosystems. The research location was at Microbiology Laboratory of CV Bintang Asri Arthauly, Bandung and greenhouse of Jayamukti Village, Banyusari District, Karawang Regency from February to November 2020 used completely randomized design. The viability test consisted of nine treatments, while the application dosage test consisted of 13 treatments and repeated three times. The result showed that the H carrier composition (50% peat + 17.5% compost + 17.5% biochar + 5% dolomite + 5% guano + 5% nutrition) was able to maintain high viability of halotolerant N-fixing rhizobacteria compared to other treatments (10.22 x 107 CFU mL-1). Water content (34.50%) and pH level (7.9) in the composition H also meet the quality standard requirements of the biofertilizer, respectively. Nitrogen biofertilizer with H carrier composition at a dosage of 1500 g ha-1 applied to seed and nursery can increase the height and biomass of rice plants grown under saline condition. Further research is needed on the application of nitrogen biofertilizers in saline soil that can increase the effectiveness of N fertilization.Keywords: Carrier ∙ Rhizobacteria ∙ Rice ∙ Saline ecosystem ∙ Viability  AbstrakPenggunaan tanah salin sebagai lahan pertanian produktif memiliki tantangan yang besar. Pemanfaatan pupuk hayati nitrogen dengan rhizobakteri penambat N halotoleran sebagai bahan aktifnya pada dosis yang tepat dapat meningkatkan produktivitas tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman padi. Penelitian bertujuan mendapatkan komposisi bahan pembawa yang dapat mempertahankan viabilitas rhizobakteri, kadar air, dan pH pupuk hayati nitrogen serta mendapatkan dosis yang tepat untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman padi pada ekosistem salin. Lokasi penelitian di Laboratorium Mikrobiologi CV Bintang Asri Arthauly Bandung dan rumah kaca Desa Jayamukti, Kecamatan Banyusari, Kabupaten Karawang sejak bulan Februari sampai November 2020. Metode percobaan menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap. Uji viabilitas terdiri dari sembilan perlakuan, sedangkan uji dosis aplikasi pupuk hayati terdiri dari 13 perlakuan dan masing-masing diulang sebanyak tiga kali. Hasil menunjukkan bahwa komposisi bahan pembawa H (Gambut  50% + kompos 17.5% + biochar 17.5% + dolomit 5% + guano 5% + nutrisi 5%) mampu mempertahankan viabilitas rhizobakteri penambat N halotoleran yang tinggi dibandingkan perlakuan lainnya yaitu sebesar 10,22 x 107 CFU/mL. Kadar air dan pH level pada komposisi H  juga memenuhi syarat baku mutu pupuk hayati yaitu sebesar 34.50% dan 7.9. Pupuk hayati dengan komposisi bahan pembawa H dengan dosis 1500 g ha-1 yang diaplikasikan pada benih dan persemaian mampu meningkatkan tinggi dan biomassa tanaman padi yang ditanam pada kondisi salin. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai aplikasi pupuk hayati N di tanah salin yang dapat meningkatkan efektivitas pemupukan N. Kata Kunci: Bahan pembawa ∙ Ekosistem salin ∙ Padi ∙ Rhizobakteria ∙ Viabilitas