cover
Contact Name
Verna A. Suoth
Contact Email
vernaalbert@gmail.com
Phone
+628124757878
Journal Mail Official
mipa.unsrat.online@gmail.com
Editorial Address
EDITOR IN CHIEF Gerald H. Tamuntuan, Universitas Sam Ratulangi, Indonesia MANAGING EDITOR Verna A. Suoth, Universitas Sam Ratulangi, Indonesia BOARD OF EDITOR Audy Wuntu, Fakultas MIPA Univesitas Sam Ratulangi BOARD OF EDITOR Nio Song Ai, Universitas Sam Ratulangi, Indonesia BOARD OF EDITOR Nelson Naingolang, Universitas Sam Ratulangi, Indonesia
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal MIPA
ISSN : -     EISSN : 23023899     DOI : https://doi.org/10.35799/jmuo.10.2.2021.33592
Core Subject : Science, Education,
Jurnal MIPA menjadi sarana publikasi bagi akademisi dan peneliti. Jurnal MIPA mempublikasikan artikel hasil penelitian di bidang : Matematika Fisika Biologi Kimia
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 311 Documents
Histomorfometri Duodenum Mencit (Mus musculus) yang Diinfeksi Telur Infektif Hymenolepis nana dan diberi Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera Lam.) Atin Supiyani; Sekar Liyundzira; Daniel Ramadhan; Dalia Sukmawati
Jurnal MIPA Vol. 12 No. 2 (2023): Artikel
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.v12i2.45964

Abstract

Cacing cestoda Hymenolepis nana merupakan cacing parasit intestinal yang bersifat zoonosis. Infeksi dari cacing H.nana berdampak buruk pada saluran pencernaan, terutama pada duodenum host. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh dari pemberian ekstrak daun kelor terhadap struktur duodenum mencit yang diinfeksi H.nana. Sebanyak 27 ekor mencit dibagi dalam 3 kelompok yaitu aquades (kontrol negatif), albendazole (kontrol positif), dan ekstrak daun kelor 500 ppm. Dosis letal 100 diperoleh dari uji in vitro ekstrak daun kelor pada telur dan larva cacing H.nana pada masa inkubasi 24, 48 dan 72 jam. Setiap mencit diinfeksi 40 butir telur H.nana secara oral. Ekstrak daun kelor diberikan selama 21 hari setelah infeksi. Histomorfometri struktur duodenum dengan mengukur tinggi vili, tebal mukosa, sub-mukosa, tunika muskularis, dan serosa pada 10 vili. Hasil penelitian diperoleh dosis letal 100-24 jam ekstrak daun kelor terhadap telur H.nana sebesar 397 ppm. Tinggi vili, tebal lapis mukosa, sub-mukosa, muskularis dan serosa mencit yang diberi ekstrak daun kelor berbeda signifikan (Sig<0.05). Pemberian ekstrak daun kelor dapat mempengaruhi struktur duodenum mencit yang terinfeksi cacing Hymenolepis nana.   The cestode worm Hymenolepis nana is a zoonotic intestinal parasitic worm. Infection from H. nana worms adversely affects the gastrointestinal tract, especially on the host duodenum. The purpose of this study was to determine the effect of Moringa leaf extract on the structure of the duodenum of mice infected with H. nana. A total of 27 mice were divided into 3 groups, namely aquades (negative control), albendazole (positive control), and Moringa leaf extract of 500 ppm. A lethal dose of 100 was obtained from in vitro tests of Moringa leaf extract on eggs and larvae of H. nana worms during the incubation period of 24, 48 and 72 hours. Each mice is infected with 40 H. nana eggs orally. Moringa leaf extract is administered for 21 days after infection. Histomorphometry of duodenal structures by measuring villi height, mucosal thickness, sub-mucosa, muscular tunica, and serous on 10 villi. The results of the study obtained a lethal dose of 100-24 hours of Moringa leaf extract against H. nana eggs of 397 ppm. Tall villi, thick layer mucosa, sub-mucosa, muscular and serous mice given Moringa leaf extract differed significantly (Sig<0.05). Administration of Moringa leaf extract can affect the structure of the duodenum of mice infected with Hymenolepis nana
KARAKTERISASI KARBON AKTIF YANG TERBUAT DARI TEMPURUNG KELAPA MENGGUNAKAN TEKNIK PIROLISIS DENGAN AKTIVASI FISIKA DAN KIMIA Andi Ikhtiar Bakti; Megastin Massang Lumembang; Jumriadi
Jurnal MIPA Vol. 12 No. 2 (2023): Artikel
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.v12i2.46160

Abstract

Karbon aktif dihasilkan dari tempurung kelapa melalui aktivasi fisika dan kimia. Teknik pirolisis digunakan untuk aktivasi secara fisika dengan suhu aktivasi optimal 600oC dan untuk aktivasi kimia direndam menggunakan zat pengaktif ZnCl2 10% dan Na2Ca3 10%. Karbon aktif (KA) dianalisis menggunakan metode Fourier Transform Infred FTIR dan X-Ray Difraction (X-RD). Hasil FTIR menunjukkan bahwa tempurung kelapa berhasil dikonversi menjadi karbon. Hasil X-RD menunjukkan adanya beberapa fase kristal berjenis grafit disekitar puncak 36o dan 44o, terdapat dua puncak difraksi yang luas dan dapat dikaitkan dengan keberadaan karbon dan grafit. Hasil karakterisasi SEM menunjukkan morfologi SEM dari struktur mikro dengan perbesaran 3000 kali, ukuran gambar 5 µm, nampak ukuran pori yang terbentuk dan terdapat porositas yang menjelaskan bahwa hasil aktivasi karbon berhasil.
Pemanfaatan Tumbuhan dalam Ritual Balenggang Oleh Suku Dayak Bakati Desa Kalon Kecamatan Seluas Kabupaten Bengkayang (The Use of Plants in the Balenggang Ritual by the Dayak Bakati Tribe of Kalon Village, District as Wide as Bengkayang Regency) Rafdinal Rafdinal; Ester Yulinda; Elvi Rusmiyanto Pancaning Wardoyo
Jurnal MIPA Vol. 12 No. 2 (2023): Artikel
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.v12i2.48778

Abstract

Suku Dayak Bakati merupakan sub suku yang tersebar di wilayah Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang hingga di Lundu Serawak. Masyarakat Suku Dayak Bakati masih memiliki kepercayaan yang kuat terhadap nenek moyang dalam memberikan perlindungan hingga penyembuhan penyakit yang melalui ritual adat yang dilakukan secara turun temurun. Ritual Balenggang merupakan jenis pengobatan yang biasa dilakukan oleh masyarakat Dayak Bakati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan bagian tumbuhan yang dimanfaatkan dalam ritual Balenggang. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kalon, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang dari bulan Juni hingga september 2022. Metode penelitian yang digunakan observasi secara tidak langsung. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dengan responden berjumlah 10 orang. Penentuan responden dengan teknik snowball sampling. Hasil penelitian ini diperoleh 25 jenis tumbuhan dari 18 famili. Famili yang paling banyak yaitu Poaceae (4 jenis) dan Arecaceae (3 jenis). Bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan adalah daun (44%) yang dimanfaatkan secara langsung (tidak diolah). Nilai RKI (Rasio Kesepakatan Informan) tertinggi (0,800) dengan kategori pemanfaatan tumbuhan sebagai pemulihan. The Dayak Bakati tribe is a sub-tribe spread across Sambas Regency, Bengkayang Regency until Lundu Sarawak. The people of Dayak Bakati still have a strong belief in their ancestors who are believed to be able to provide protection to cure diseases suffered by the community through traditional rituals that have been been carried out for generations. The Balenggang ritual is a type of treatment commonly carried out by the Dayak Bakati community. This study aims to determine the types and parts of plants used in the Balenggang ritual. This research was conducted in Kalon Village, Seluas District, Bengkayang Regency, from June to September 2022. The research method used is indirectly with the data collection techniqueused was an interview with 10 respondents determind by snowball sampling technique. The results of this study obtained 25 plant species from 18 families, in which the most numerous families were Poaceae (4 species) and Araceae (3 species). The most widely used parts of the plant is the leaves (44%) which are used directly (unprocessed. The highest RKI (Informant Agreement Ratio) value (0.800) is in the category of using plants as recovery) Kata kunci: Balenggang, Desa Kalon, Etnobotani, Suku Dayak Bakati
Uji Fitokimia dan Stabilitas Fisik Sediaan Hair Tonic Ekstrak Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) Hasma Hasma; Andi Nurpati Panaungi; Yusnita Usman
Jurnal MIPA Vol. 13 No. 1 (2024): Artikel
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.v13i1.48705

Abstract

Jeruk nipis (Citrus auratifolia) adalah tanaman yang kaya akan kandungan seperti flavanoid, tanin, akaloid, saponin, kalsium, fosfor, vitamin A, vitamin B1, dan vitamin C. Penelitian bertujuan untuk mengetahui senyawa fiokimia dari ekstrak jeruk nipis serta membuat formula dan mengevaluasi stablitas fisik dari sediaan hair tonic ekstrak jeruk nipis (Citrus aurantifolia). Formula sediaan hair tonic di buat sebanyak tiga konsentrasi ekstrak yang berbeda yaitu F1 (6,25%), F2 (8,25%) dan F3 (10,25%). Metode pengujian stabilitas fisik yang diimplementasikan yaitu: pengujian organoleptik, pengujian homogenitas, pengujian pH dan pengujian viskositas. Pengujian dilakukan sebelum dan sesudah cycling test yaitu masing-masing formula hair tonic disimpan didalam wadah inkubator pada suhu panas (400C) secara bergantian dan suhu dingin 40C (freezer) selama 24 jam sebanyak 5 siklus. Hasil pengujian fitokimia menunjukkan ekstrak jeruk nipis mengandung senyawa aktif flavanoid, alkaloid, tanin dan saponin. Hasil pengujian stabilitas membuktikan seluruh sediaan hair tonic (F1,F2 dan F3) memenuhi kriteria sediaan yang baik meliputi pengujian organoleptik, pengujian homogenitas, pengujian pH dan pengujian viskositas. Pada pegujian pH dan pengujian viskositas sediaan hair tonic terjadi perubahan pH dan viskostas baik sebelum dan sesudah cycling test. Namun perubahan tersebut masih berdasar pada Standar Nasional Indonesia. Kesimpulan: Ekstrak etanol jeruk nipis (Citrus auratifolia) mengandung senyawa alkaloid, flavanoid, tanin dan saponin. Ekstrak etanol jeruk nipis (Citrus auratifolia)dapat diimplementasikan dalam bentuk sediaan hair tonic
ANALISIS PERBANDINGAN DAYA LISTRIK SAAT SEBELUM DAN SESUDAH VARIASI KAPASITOR PADA BEBAN LISTRIK RUMAH TANGGA Febriani Toba; Verna Albert Suoth; Hesky Stevy Kolibu; Handy Indra Regain Mosey; As’ari; Dolfie Paulus Pandara
Jurnal MIPA Vol. 13 No. 1 (2024): Artikel
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.v13i1.48968

Abstract

Kapasitor dapat digunakan sebagai alat yang dapat menyimpan energi listrik dalam bentuk medan magnet dengan mengumpulkan ketidakseimbangan internal dari muatan listrik. Pada penelitian ini dilakukan untuk mengukur data beban listrik tipe R (rumah tangga) dengan alat ukur power monitor 6 in 1 AC 20A yang terhubung langsung dengan MCB yang secara otomatis dapat mengukur frekuensi (Hz), tegangan (volt), arus (ampere), faktor daya (cos phi), daya (watt) dan jumlah kWh yang terpakai selama penggunaan beban listrik di rumah sehingga dari data pengukuran tersebut dapat dibandingkan nilai daya listrik yaitu daya aktif (watt), daya reaktif (VAR) dan daya semu (VA) serta dapat diketahui besarnya kompensasi daya reaktif (VAR). Hasilnya menunjukkan bahwa nilai pengurangan atau penghematan tertinggi pada daya aktif (W), daya semu (VA) dan daya reaktif (VAR) tertinggi terjadi pada variasi kapasitor 4µF yaitu nilai daya aktif (P) sebesar 331,4 watt, nilai daya semu (S) yaitu sebesar 353,6 VA dan nilai daya reaktif (Q) yaitu sebesar 185,5 VAR serta pada kompensasi daya reaktif (Qc) terlihat bahwa hasil kompensasi daya reaktif tertinggi setelah dilakukan perbaikan cos phi sebesar 0,97 terjadi pada kapasitor 10µF sebesar 105,0 VAR. Dengan nilai kompensasi Qc yang tinggi maka konsumen tidak terkena denda kVAR.
Aplikasi Metarhizium anisopliae Dan Azadirachta indica A. Juss Untuk Mengendalikan Nephotettix virescens D. Sebagai Serangga Vektor Penyakit Tungro Pada Tanaman Padi Yukiko Susandi; Christina Leta Salakia; Jackson Fraky Watung
Jurnal MIPA Vol. 12 No. 2 (2023): Artikel
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.v12i2.49072

Abstract

Wereng hijau (Nephotettix sp.) diketahui merupakan serangga vektor penyakit tungro pada tanaman padi. Pengendalian hayati dengan memanfaatkan jamur entomopatogen berpotensi untuk dikembangkan, contohnya jamur entomopatogen M. anisopliae. Pengendalian lain yang juga dapat dilakukan yaitu dengan penggunaan pestisida nabati, seperti esktrak daun mimba. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh aplikasi jamur M. anisopliae sebagai jamur entomopatogen dan aplikasi ekstrak daun mimba terhadap mortalitas N. virescens.  Hasil pengamatan dari aplikasi jamur entomopatogen dan ekstrak daun mimba pada beberapa taraf konsentrasi memiliki efek yang mematikan terhadap serangga N. virescens. Mortalitas tertinggi dari aplikasi jamur entomopatogen M. anisopliae berada pada kerapatan spora 108 per ml (P3) dan 109 per ml (P4) yaitu 100 %. Mortalitas tertinggi dari aplikasi ekstrak daun mimba berada pada perlakuan 150 gr (P3) dan 200 gr (P4) yaitu mencapai 100 %. Serangga N. virescens setelah diaplikasikan dengan jamur entomopatogen M. anisopliae menunjukkan perilaku dengan gerakan melambat kemudian mati. Perilaku serangga saat aplikasi ekstrak daun mimba menunjukkan penurunan daya makan hingga perkembangan yang melambat kemudian serangga mati. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat dilihat bahwa aplikasi jamur entomopatogen M. anisopliae dan aplikasi pestisida nabati ekstrak daun A. indica, keduanya dapat menyebabkan mortalitas pada serangga N. virescens Green leafhoppers (Nephotettix sp.) are known to be vectors of tungro disease in rice plants. Biological control by utilizing entomopathogenic fungi has the potential to be developed, for example the entomopathogenic fungus M. anisopliae. Another control that can also be done is by using vegetable pesticides, such as neem leaf extract. This study aims to analyze the effect of the application of M. anisopliae fungus as an entomopathogenic fungus and the application of neem leaf extract on the mortality of N. virescens. The results showed that the application of entomopathogenic fungi and neem leaf extract at several concentration levels had a lethal effect on the insect N. virescens. The highest mortality from the application of the entomopathogenic fungus M. anisopliae was at a spore density of 108 per ml (P3) and 109 per ml (P4), namely 100%. The highest mortality from the application of neem leaf extract was in the treatment of 150 gr (P3) and 200 gr (P4), which reached 100%. After being applied with the entomopathogenic fungus M. anisopliae, the insect N. virescens showed behavior with slowed movements and then died. Insect behavior when the application of neem leaf extract showed a decrease in eating power until development slowed down and then the insects died. Based on the research that has been done, it can be seen that the application of the entomopathogenic fungus M. anisopliae and the application of botanical pesticides of A. indica leaf extract, both can cause mortality in the insect N. virescens.
Efek Paparan Musik Bambu dan K-Pop terhadap Konsentrasi Klorofil dan Karotenoid Tanaman Gedi Merah (Abelmoschus manihot L.) Patrycia Saskia Laurita Supit; Song Ai Nio; Stella Deiby Umboh
Jurnal MIPA Vol. 13 No. 1 (2024): Artikel
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.v13i1.50044

Abstract

Gedi merah (Abelmoschus manihot L.) merupakan tumbuhan tropis dari famili Malvaceae yang mempunyai aktivitas antioksidan, antiinflamasi, antidiabetes dan kaya akan nutrisi, seperti protein, vitamin (A, B1, B2, B3, C), dan mineral. Pemanfaatan gedi merah terus meningkat, tetapi belum diikuti dengan informasi mengenai budidaya yang tepat. Teknologi sonic bloom dengan menggunakan musik sebagai jenis suara merupakan salah satu inovasi dalam budidaya tanaman gedi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi klorofil dan karotenoid daun gedi merah sebagai respon terhadap paparan musik bambu dan k-pop. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan tiga perlakuan, yaitu kontrol, musik bambu, dan musik k-pop. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan musik bambu dan k-pop selama 7 hari menurunkan konsentrasi karotenoid masing-masing sebesar 35,80% dan 36,83%. Konsentrasi klorofil b juga menurun 36,74% akibat paparan musik bambu selama 7 hari, tetapi paparan musik k-pop tidak menyebabkan perbedaan konsentrasi klorofil yang signifikan.
Perbandingan Aktivitas Analgesik Infusa Kelopak Bunga Rosella Varietas Merah dan Ungu pada Tikus Putih Julianri Sari Lebang; Jainer Pasca Siampa; Olvie Syenni Datu
Jurnal MIPA Vol. 13 No. 1 (2024): Artikel
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.v13i1.50482

Abstract

Data dunia menunjukkan 20% dari populasi dunia menderita nyeri kronis. Penggunaan antinyeri dalam jangka waktu panjang dapat menimbulkan efek samping pada saluran pencernaan dan ginjal. Kelopak bunga rosella diketahui memiliki banyak manfaat dalam pengobatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan aktivitas analgesik dari infusa kelopak bunga rosella merah dan ungu. Pengujian aktivitas dilakukan dengan metode geliat menggunakan 6 kelompok hewan yang terdiri dari 4 kelompok perlakuan yang diberi infusa rosella merah 25% dan 50%(P1 dan P2), infusa rosella ungu 25% dan 50% (P3 dan P4), kontrol negatif, dan kontrol positif. Asam asetat 2% (i.p) digunakan sebagai penginduksi nyeri. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata geliat yang paling rendah dan persen proteksi analgesik (PPA) yang paling tinggi ditunjukkan oleh kelompok P2. Uji statistic menggunakan ANOVA one way dan uji lanjut LSD menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan nilai (PPA) antara kelompok P1, P3 dan P4, sedangkan kelompok P2 tidak berbeda signifikan dengan kelompok kontrol positif. Dapat disimpulkan bahwa aktivitas analgesik infusa rosella merah 50% lebih baik dibandingkan infusa rosella merah 25%, rosella ungu 25 dan 50%.
Pemantauan Suhu Tubuh dan Detak Jantung Berbasis IoT dan Terintegrasi ThingSpeak, SMS dan Telegram Tiffany M. J. Kulon; Handy Indra Regain Mosey; Verna Albert Suoth
Jurnal MIPA Vol. 13 No. 1 (2024): Artikel
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.v13i1.51280

Abstract

Internet of Things (IoT) memungkinkan komunikasi dan operasi bersama berbagai perangkat elektronik dan komputer dan berbagi data ke internet seperti konsep smart healthcare. Pandemi global COVID-19 telah memicu inovasi sistem IoT untuk menjawab kebutuhan informasi medis dan kesehatan yang akurat, terintegrasi, cepat dan mudah diakses seperti memantau tanda-tanda vital seseorang, terutama suhu tubuh dan detak jantung. Penelitian ini bertujuan untuk merancang alat berbasis IoT yang berfungsi untuk memantau kedua tanda vital dengan mengintegrasikan modul-modul mikrokontroler NodeMCU ESP8266 dan GSM SIM900A. Suhu tubuh diukur menggunakan sensor suhu DS18B20, sedangkan detak jantung menggunakan sensor denyut nadi SEN-11574. Konektivitas Wi-Fi memastikan transmisi data sensor ke aplikasi Telegram dan sistem Short Message Service (SMS). Hasil penelitian menunjukkan keterbacaan node sensor pada parameter, transferabilitas data ke platform ThingSpeak dan kemampuan sistem IoT untuk mengaktifkan peringatan pemberitahuan melalui teks SMS dan obrolan Telegram jika orang yang dipantau memiliki nilai suhu tubuh abnormal dan/atau detak jantung di bawah 60 denyut per menit (bpm) atau di atas 100. Internet of Things (IoT) enables communication and interoperation of various electronic devices and computers and sharing data to the internet as in the smart healthcare concept. The global pandemic COVID-19 has sparked IoT system innovation to meet the needs for accurate, integrated, quick, and accessible medical and healthcare information such as monitoring a person’s vital signs, especially body temperature and heart rate. This research was aimed to design an IoT-based device to monitor body temperature and heart rate using microcontroller modules NodeMCU ESP8266 and GSM SIM900A. The body temperature was measured using temperature sensor DS18B20, while the heart rate using a pulse sensor SEN-11574. The Wi-Fi connectivity ensured transmission of sensor data to Telegram application and Short Message Service (SMS) system. Results showed sensor nodes’ readability on the parameters, data transferability to ThingSpeak platform and the IoT system’s ability to activate notification alerts via SMS texts and Telegram chats if the monitored person had an abnormal body temperature value and/or heart rate below 60 beats per minutes (bpm) or above 100.
Inventarisasi Jenis Tanaman Lidah Mertua (Sansevieria s.) di Desa Ongkaw, Kecamatan Sinonsayang, Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara Veronica Siwi; Susan M Mambu; Song Ai Nio
Jurnal MIPA Vol. 13 No. 1 (2024): Artikel
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.v13i1.50201

Abstract

Tanaman Sansevieria yang dikenal sebagai tanaman hias ini memiliki keindahan pada warna dan bentuk daun, tergantung varietasnya. Ciri khas tanaman ini daunnya yang menjulur panjang seperti lidah. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi jenis-jenis tanaman Sansevieria yang dibudidayakan di Desa Ongkaw, Kecamatan Sinonsayang, Kabupaten Minahasa Selatan. Pengambilan data dilakukan dengan metode penjelajahan secara langsung. Morfologi Sansevieria yang ditemukan difoto dan diamati. Hasil penelitian di Desa Ongkaw menunjukkan adanya 11 jenis tanaman Sansevieria yang terdapat di tiga titik lokasi penelitian, yaitu diantaranya Sansevieria trifasciata laurentii, Sansevieria trifasciata, Sansevieria cylindrica, Sansevieria hahnii, Sansevieria stuckyi, Sansevieria pinguicula, Sansevieria kirkii, Sansevieria ehrenbergii, Sansevieria dracaena trifasciata moonshine, Sansevieria golden flame, Sansevieria mansoniana. Sansevieria trifasciata laurentii paling banyak ditemukan dibandingkan dengan jenis Sanseviera lainnya. The color and shape of the leaves of the Sansevieria plant, which is known as an ornamental plant, vary depending on the variety. This plant is distinguished by the length of its leaves, which resemble a tongue. The purpose of this study was to identify the different types of Sansevieria plants that are grown in Ongkaw Village, Sinonsayang District, South Minahasa Regency. The direct exploration method was used to collect data. The morphology of the discovered Sansevieria was photographed and observed. The results of research in Ongkaw Village showed that there were 11 types of Sansevieria plants found at three research locations, namely Sansevieria trifasciata laurentii, Sansevieria trifasciata, Sansevieria cylindrica, Sansevieria hahnii, Sansevieria stuckyi, Sansevieria pinguicula, Sansevieria kirkii, Sansevieria ehrenbergii, Sansevieria dracaena trifasciata moonshine , Sansevieria golden flame, Sansevieria mansoniana. When compared to other types of Sansevieria, Sansevieria trifasciata laurentii was the most common