cover
Contact Name
Roni Koneri
Contact Email
ronicaniago@unsrat.ac.id
Phone
+6281340275276
Journal Mail Official
j.bioslogos@gmail.com
Editorial Address
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Sam Ratulangi
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal Bios Logos
JURNAL BIOS LOGOS is the journal published by Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Sam Ratulangi University. The aims of the journal are to publish original research papers and article review in biology science i.e. botany, zoology, molecular biology, microbiology, ecology, diversity and conservation, taxonomy and biogeography. BIOS LOGOS is published two times per year (February and August)
Articles 273 Documents
Karakteristik Kupu-Kupu Spesies Troides Helena, Kupu-Kupu Dilindungi Dan Terancam Punah Di Sulawesi Utara Hanny Pontororing; Henny Rampe; Lalu Wahyudi
JURNAL BIOS LOGOS Vol. 14 No. 2 (2024): JURNAL BIOS LOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.v14i2.52864

Abstract

Perbedaan karakteristik morfologi dan fisiologi serta habitat yang dimiliki oleh suatu spesies juga terkadang berbeda jika spesies tersebut ditemukan pada area yang terpisah oleh jarak. Karakteristik morfologi merupakan sumber informasi yang penting bagi kebanyakan wilayah kajian biologi, termasuk di dalamnya sistematika dan taxonomi. Tujuan penelitian ini untuk memperoleh data tentang karakteristik, morforfologi dari kupu-kupu spesies Troides helena yang berada di Sulawesi Utara. Metode deskriptif dengan survei dan koleksi langsung di daerah pengamatan dengan menggunakan jala serangga (insect net). Metode ini disebut juga dengan metode jala ayun (sweeping). Hasil penelitian,Kupu-kupu Troides helena yang berukuran besar dan berwarna dominan hitam-kuning, Kupu-kupu jantan memiliki rentang sayap 16,6-18.7 cm dan panjang sayap depan 9,8-10,6 cm. Sayap depan berwarna hitam dengan sedikit warna putih di ujungnya, sedangkan sayap belakang berwarna kuning dengan garis venasi dan pinggiran sayap berbentuk gelombang berwarna hitam. Kupu-kupu betina memiliki rentang sayap 17,7-18,7cm dan panjang sayap depan 10,2-10,5 cm. Rentangan sayap jantan lebih panjang dengan hasil penelitian oleh Peggie 2011 yaitu 6,8-8,4 cm. Perbedaan ini disebabkan oleh jarak dan habitat.
Monitoring of Coral Reef Cover in the waters of Bunaken National Park, Popapreng Village, South Minahasan Regency, North Sulawesi Province Jeremi O. Kantohe; Saroyo; Eko Wahyu Handoyo; Adelfia Papu
JURNAL BIOS LOGOS Vol. 15 No. 1 (2025): JURNAL BIOS LOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.v15i1.53139

Abstract

Coral reefs are one of the coastal ecosystems that have an important role as a place to look for food, shelter, and breeding grounds for other biota. Corals are invertebrates that are included in the phylum Coelenterata (hollow animal) or Cnidaria. Whereas coral reefs are a collection of millions of polyps. Natural phenomena and various anthropogenic activities threaten the health and existence of coral reefs in the waters of Bunaken National Park, Popareng Village. The purpose of this study is to determine the condition of coral reefs in the waters of Bunaken National Park, Popareng Village. CPCe (Coral Points Count with Excel extension) is used to observe or monitor reef ecosystems. The photo that will be taken using the Underwater Photo Transect (UPT) method from 3 observation stations in Popareng’s Waters will be used as this research database. The photos consist of 50 slides for each station. Photos were taken to represent Popareng’s waters. Each photo was processed in the CPCe by using 30 random points. The condition of the coral reefs in Popareng was moderate. The results of coral reef health conditions at three stations in Popareng reveal poor (21.67%) in station 1; good (54.53%) in station 2; and moderate (32.37%) in station 3.
Identifikasi Biodiversitas Hutan Mangrove sebagai Potensi Ekowisata di Kelurahan Sedau Kota Singkawang Siva Devi Azahra; Destiana Destiana; Siti Puji Lestariningsih; Yunita Magrima Anzani
JURNAL BIOS LOGOS Vol. 14 No. 2 (2024): JURNAL BIOS LOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.v14i2.53226

Abstract

Mangrove forests are ecosystems that have potential value to be developed as natural tourism objects. This study aims to analyse the potential of mangrove forests based on the ecological perspective of flora and fauna to be used as a natural tourism area. The object of this research is a mangrove forest and the resources in it located in Sedau Village, Singkawang City, West Kalimantan Province, Indonesia. Characteristics of mangrove forest flora and fauna are determined through species composition analysis while the potential of mangrove forests as nature tourism is analysed using descriptive qualitative. The composition of flora and fauna species found in the study area as a whole consists of 7 species of mangrove trees, 6 species of herpetofauna, 4 species of aves, 2 species of mammals, and 5 species of arthropods found in the mangrove forest area. Based on the analysis of mangrove forest potential, this area has the potential to be developed as an ecotourism destination.
Pertumbuhan Tanaman Krisan (Chrysanthemum marimar) dengan Penambahan Air Kelapa dan Naphtalaene Acetic Acid (NAA) secara In Vitro Hamimah Hamimah; Mukarlina Mukarlina; Riza Linda
JURNAL BIOS LOGOS Vol. 14 No. 2 (2024): JURNAL BIOS LOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.v14i2.53295

Abstract

Tanaman krisan (Chrysanthemum morifolium var. marimar) merupakan salah satu jenis tanaman berbunga dari suku Asteraceae yang biasa dimanfaatkan sebagai bunga potong. Perbanyakan tanaman krisan ini dilakukan menggunakan planlet tanaman krisan yang sudah berumur 8 minggu secara in vitro untuk menghasilkan tanaman dalam jumlah lebih banyak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan konsentrasi penambahan NAA dan air kelapa yang tepat untuk menghasilkan pertumbuhan terbaik pada kultur tanaman krisan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial. Faktor pertama yaitu Naphtalene Acetic Acid (NAA) (N) dengan 4 taraf konsentrasi 0 mg/L (N0); 1,86 mg/L (N1); 2,79 mg/L (N2), dan 3,72 mg/L (N3). Faktor kedua yaitu air kelapa (A) dengan 4 taraf konsentrasi 0% (K0); 10% (K1), 15% (K2), dan 20% (K3). Kombinasi perlakuan 3,72 mg/L NAA + 20% air kelapa (N3K3) merupakan konsentrasi yang terbaik untuk waktu muncul tunas 3,33 hari dan jumlah daun 12,33 helai.
Uji In Vivo Ekstrak Etanol Nanopartikel Daun Leilem (Clerodendrum minahassae Teijsm. dan Binn.) Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Pada Tikus Wistar Diabetes yang Diinduksi Streptozotozin Emilia Irene Tiffany; Fatimawali Fatimawali; Aaltje Ellen Manampiring; Billy Johnson Kepel; Fona Dwiana Hermina Budiarso; Widdhi Bodhi
JURNAL BIOS LOGOS Vol. 14 No. 2 (2024): JURNAL BIOS LOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.v14i2.53693

Abstract

Kenaikan kadar glukosa dalam darah dapat menyebabkan gejala serius, seperti hiperglikemia, yang jika berlanjut dapat mengakibatkan diabetes melitus. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi manfaat ekstrak etanol nanopartikel daun leilem (Clerodendrum minahassae Teijsm. dan Binn.) dalam menurunkan kadar glukosa darah tikus wistar yang diinduksi streptozotocin. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan pre dan post-test control group design. Hewan uji dibagi menjadi empat kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif (CMC 0,5%), ekstrak etanol nanopartikel daun leilem (Clerodendrum minahassae Teijsm. dan Binn.) 250 mg/kgBB, ekstrak etanol nanopartikel daun leilem (Clerodendrum minahassae Teijsm. dan Binn.) 500 mg/kgBB, dan kontrol positif (glibenklamid 0,25 mg/kgBB). Data dianalisis secara deskriptif. Seluruh kelompok uji menunjukkan penurunan kadar glukosa darah, dengan kelompok kontrol positif mengalami penurunan paling signifikan, diikuti oleh kelompok ekstrak etanol nanopartikel daun leilem (Clerodendrum minahassae Teijsm. dan Binn.) dosis 500 mg/kgBB, dosis 250 mg/kgBB, dan kelompok kontrol negatif. Ekstrak etanol nanopartikel daun leilem (Clerodendrum minahassae Teijsm. dan Binn.) dengan dosis 250 mg/kgBB dan dosis 500 mg/kgBB efektif menurunkan kadar glukosa darah pada tikus wistar jantan yang diinduksi streptozotocin. Dosis 500 mg/kgBB menunjukkan efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan dosis 250 mg/kgBB.
Uji In Vitro Aktivitas Ekstrak Etanol Daun Leilem (Clerodendrum minahassae Teijsm. & Binn.) terhadap Penghambatan Enzim α-Amilase Patrisia Christy Rembet; Billy Johnson Kepel; Widdhi Bodhi; Fatimawali; Fona Dwiana Hermina Budiarso; Aaltje Ellen Manampiring
JURNAL BIOS LOGOS Vol. 14 No. 2 (2024): JURNAL BIOS LOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.v14i2.53697

Abstract

Diabetes merupakan masalah kesehatan global yang serius dengan tingkat prevalensi penderita yang semakin meningkat. Penghambatan enzim α-amilase dapat menjadi salah satu strategi dalam mengatasi masalah penyakit diabetes dengan mengurangi penyerapan glukosa oleh tubuh. Leilem (Clerodendrum minahassae Teijsm. & Binn.), merupakan tumbuhan endemis yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Minahasa, Sulawesi Utara, memiliki potensi sebagai obat diabetes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek penghambatan enzim α-amilase oleh ekstrak etanol daun Leilem (Clerodendrum minahassae Teijsm. & Binn.), dibandingkan dengan efek akarbose sebagai kontrol positif. Ekstrak kental daun Leilem (Clerodendrum minahassae Teijsm. & Binn.) dibuat melalui maserasi dengan etanol 96%. Aktivitas penghambatan terhadap enzim α-amilase diuji secara in vitro dengan variasi konsentrasi ekstrak 37,5 ppm, 75 ppm, 150 ppm, 300 ppm, 450 ppm, dan 600 ppm. Pengujian dilakukan menggunakan metode FUWA dengan amilum sebagai substrat dan diukur menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Berdasarkan pengukuran pada panjang gelombang 670 nm, diperoleh nilai IC50 ekstrak daun Leilem (Clerodendrum minahassae Teijsm. & Binn.) sebesar 22,1 μg/ml. Nilai IC50 tersebut menunjukkan aktivitas penghambatan yang lebih kuat 1,37 kali dibandingkan dengan akarbose yang memiliki nilai IC 50 30,36 μg/ml. Berdasarkan hasil tersebut, ekstrak daun Leilem (Clerodendrum minahassae Teijsm. & Binn.) menunjukkan aktivitas penghambatan yang signifikan terhadap enzim α-amilase sehingga berpotensi sebagai agen anti diabetes yang bernilai untuk penelitian lebih lanjut.
Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Salam (Syzygium polyanthum) terhadap Gambaran Histopatologik Ginjal Tikus Wistar yang Diinduksi Gentamisin Maria Brigita Pacenta Ginting; Carla Felly Kairupan; Meilany Feronika Durry
JURNAL BIOS LOGOS Vol. 14 No. 2 (2024): JURNAL BIOS LOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.v14i2.53919

Abstract

Daun salam (Syzygium polyanthum) dengan kandungan flavonoid sebagai antioksidan berpotensi menghambat kerusakan sel ginjal akibat paparan obat-obatan nefrotoksik seperti gentamisin. Penelitian ini merupakan eksperimental laboratorik untuk mengetahui dampak pemberian ekstrak daun salam pada gambaran histopatologik ginjal tikus Wistar yang diinduksi gentamisin. Subjek penelitian ini adalah 25 ekor tikus Wistar jantan yang terbagi menjadi 5 kelompok. Kelompok kontrol tidak mendapat perlakuan selama 7 hari. P1 diinduksi gentamisin selama 7 hari. P2 diinduksi gentamisin selama 10 hari. P3 diinduksi gentamisin selama 7 hari, lalu diberi ekstrak daun salam selama 7 hari. P4 diinduksi gentamisin selama 10 hari, lalu diberi ekstrak daun salam selama 7 hari. Hasil penelitian didapatkan kelompok kontrol menunjukkan jaringan ginjal normal. P1 menggambarkan degenerasi hidropik yang luas dan perlemakan sel tubulus. P2 menggambarkan nekrosis sel tubulus yang luas dan degenerasi hidropik. P3 menggambarkan degenerasi hidropik yang lebih sedikit dibandingkan P1 disertai adanya atrofi sel tubulus yang luas. P4 tidak terdapat gambaran nekrosis sel tubulus dan terdapat degenerasi hidropik yang lebih sedikit dibandingkan P2 disertai adanya atrofi sel tubulus. Pemberian ekstrak daun salam pada jaringan ginjal tikus Wistar yang diinduksi gentamisin menunjukkan efek perbaikan berupa fokus degenerasi hidropik yang berkurang serta tidak ditemukannya nekrosis sel tubulus dan perlemakan sel.
Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Nangka (Artocarpus heterophyllus L.) Terhadap Gambaran Histopatologik Aorta Tikus Wistar (Rattus norvegicus) yang Diberikan Diet Tinggi Lemak Godelfridus Dony Stenly Palobo; Carla Felly Kairupan; Maria Kristanti Sambuaga
JURNAL BIOS LOGOS Vol. 14 No. 2 (2024): JURNAL BIOS LOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.v14i2.53923

Abstract

Konsumsi diet tinggi lemak bisa memicu terjadinya hiperlipidemia yang merupakan salah satu faktor risiko utama aterosklerosis. Daun nangka (Artocarpus heterophyllus L.) memiliki kandungan antioksidan yang berasal dari flavonoid dan dapat berperan dalam menghambat proses perkembangan lesi aterosklerosis. Pelaksanaan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun nangka terhadap gambaran histopatologik aorta tikus wistar yang diberi diet tinggi lemak. Penelitian ini merupakan eksperimental laboratorium yang dilakukan pada 24 ekor tikus wistar jantan sebagai subjek penelitian. Pada penelitian ini digunakan dosis lemak babi 4 ml/tikus/hari dan ekstrak daun nangka dosis 200 dan 400 mg/kgBB. Subjek penelitian dibagi 4 kelompok. Pada kelompok A tidak diberikan perlakuan selama 23 hari. Pada kelompok B, C, dan D diberi lemak babi selama 23 hari. Setelah diberi lemak babi kelompok C dan D diberi ekstrak daun nangka 14 hari berikutnya. Pada kelompok A menunjukkan gambaran histopatologik aorta normal. Kelompok B menunjukkan terdapat sel busa pada tunika media dan intima aorta. Pada kelompok C dan D menunjukkan terdapat pengurangan jumlah sel busa. Pemberian ekstrak daun nangka memberikan efek terapi berupa berkurangnya jumlah sel busa pada. tunika media dan intima aorta dengan efek terapi yang lebih baik terjadi pada kelompok D.
Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Leilem (Clerodendrum minahassae) terhadap Gambaran Histopatologik Hepar Tikus Wistar (Rattus norvegicus) yang Diinduksi Obat Parasetamol Dosis Toksik Vania; Meilany Feronika Durry; Carla Felly Kairupan
JURNAL BIOS LOGOS Vol. 14 No. 2 (2024): JURNAL BIOS LOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.v14i2.53935

Abstract

Daun leilem mengandung senyawa fenol dan flavonoid yang relatif tinggi yang berpotensi terhadap aktivitas antioksidan dalam melindungi hepar dari radikal bebas yang salah satunya dapat diakibatkan oleh penggunaan parasetamol dosis toksik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun leilem terhadap gambaran histopatologik hepar tikus wistar yang diberikan parasetamol dosis toksik. Penelitian eksperimental ini terbagi menjadi 5 kelompok. Kelompok A tidak diberikan perlakuan selama 14 hari. kelompok B, C, D, dan E diberikan parasetamol 270 mg/kgBB pada 14 hari pertama. Kelompok C tidak diberi perlakuan pada 7 hari berikutnya. Kelompok D dan E diberikan ekstrak daun leilem masing-masing 150 mg/kgBB dan 300 mg/kgBB selama 3 hari berikutnya. Kelompok A menunjukkan gambaran histopatologik hepar tikus normal. Kelompok B menunjukkan nekrosis, degenerasi sel, dan sebukan sel radang. Kelompok C, D, dan E tampak adanya regenerasi sel tetapi masih terdapat juga nekrosis dan degenerasi sel. Serta pada kelompok C masih terdapat sebukan sel radang. Pemberian ekstrak daun leilem mampu membantu proses regenerasi sel hepatosit dan menghambat reaksi inflamasi yang ditandai dengan pengurangan sebukan sel radang, nekrosis, dan degenerasi sel pada hepar tikus wistar yang diberikan parasetamol dosis toksik. Dosis ekstrak daun leilem 150 mg/kgBB dan 300 mg/kgBB tidak menunjukkan perbedaan yang jelas terkait regenerasi sel hepar.
Pengaruh Paparan Asap Rokok Konvensional dan Uap Heated Tobacco Terhadap Gambaran Histopatologik Paru Tikus Wistar Shelly Wurangian; Maria Kristanti Sambuaga; Meilany Feronika Durry
JURNAL BIOS LOGOS Vol. 14 No. 2 (2024): JURNAL BIOS LOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.v14i2.53938

Abstract

Asap rokok konvensional menyebabkan kerusakan paru karena infiltrasi sel radang. Tar dan nikotin pada heated tobacco lebih rendah daripada rokok konvensional, namun tetap menghasilkan senyawa karsinogenik dan toksik, sehingga heated tobacco tetap beresiko buruk terhadap kesehatan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pegaruh paparan asap rokok konvensional dan uap heated tobacco terhadap gambaran histopatologik paru tikus wistar. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratorik. Penelitian ini menggunakan 15 ekor tikus yang dibagi dalam 3 kelompok I (kontrol), kelompok II (dipaparkan asap rokok konvensional), kelompok III (dipaparkan uap heated tobacco). Subjek penelitian kelompok II dan III diberi paparan sebanyak 3 batang perhari untuk setiap kelompok. Perlakuan setiap kelompok dilakukan selama 21 hari dan diterminasi pada hari ke-22 dengan pengambilan jaringan paru untuk preparat dan dilihat gambaran histopatologiknya. Hasil penelitian kelompok II didapatkan adanya infiltrasi sel radang PMN, hiperemi, dan penebalan dinding alveolus. Sementara hasil penelitian kelompok III didapatkan adanya infiltrasi sel radang PMN, hiperemi, dan pembesaran rongga alveoli yang menandakan terjadinya emfisema. Ditemukan perbedaan yang jelas antara pengaruh paparan asap rokok konvensional dan uap heated tobacco terhadap gambaran histopatologik paru tikus wistar. Uap heated tobacco memberikan pengaruh yang dominan mengarah ke emfisema.