cover
Contact Name
Muhammad Abdan Shadiqi
Contact Email
abdan.shadiqi@ulm.ac.id
Phone
+62511-4774405
Journal Mail Official
ecopsy@ulm.ac.id
Editorial Address
Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lambung Mangkurat, Jl. A. Yani KM. 36 Banjarbaru Kalimantan Selatan
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jurnal Ecopsy
ISSN : 23547197     EISSN : 23547634     DOI : https://doi.org/10.20527/ecopsy
Core Subject : Humanities, Social,
Ecopsy Journal is a scientific journal that focuses on the Science of Psychology, particularly with regard to issues of Environmental Psychology and other branches of Psychological sciences related environmental context (General Psychology, Social Psychology, Developmental Psychology, Clinical Psychology, Educational Psychology, Psychology of Religion, Industrial & Organizational Psychology and Indigenous Psychology). Ecopsy Journal as a means of communication to disseminate the results of scientific research in the field of psychology. The journal is published by Psychology Studies Program, Faculty of Medicine, University Lambung Mangkurat (ULM) since 2013, published regularly in the print and electronic editions, Ecopsy Journal published three times a year at the month of April, August and December. From 2019 we only published two times a year at April and October.
Articles 210 Documents
Hubungan antara gaya hidup konsumtif dengan keputusan pembelian perhiasan emas pada pelanggan toko emas di Kawasan Banjarmasin-Banjarbaru-Martapura Anita Dwi Oktari; Rooswita Santia Dewi; Silvia Kristanti Tri Febriana
Jurnal Ecopsy Vol 1, No 4 (2014): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ecopsy.v1i4.507

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara gaya hidup konsumtif dengan keputusan pembelian perhiasan emas pada pelanggan toko emas di kawasan Banjarmasin-Banjarbaru-Martapura. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif, dengan menggunakan teknik accidental sampling dalam pengambilan sampel. Subjek penelitian adalah 60 orang wanita yang membeli perhiasan emas dengan karakteristik sampel dalam penelitian ini yaitu wanita berusia 20-50 tahun . Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala gaya hidup konsumtif dan skala keputusan pembelian. Berdasarkan hasil analisis korelasi Pearson Product Moment diketahui hasil koefisien korelasi sebesar r = -0,302. Dari hasil perhitungan tersebut terbukti bahwa ada hubungan negatif antara gaya hidup konsumtif dengan keputusan pembelian pada pelanggan toko emas di kawasan Banjarmasin-Banjarbaru-Martapura yaitu semakin tinggi gaya hidup konsumtif maka semakin rendah keputusan pembelian atau semakin kurang pertimbangan seseorang dalam membeli sesuatu. Sebaliknya semakin rendah gaya hidup konsumtif maka semakin tinggi keputusan pembelian atau semakin banyak pertimbangan seseorang dalam membeli perhiasan emas. Sumbangan efektif gaya hidup konsumtif terhadapkeputusan pembelian pada pelanggan perhiasan emas sebesar 9,1% sedangkan sisanya sebesar 90,9 % dipengaruhi oleh variabel lain.  Kata kunci : Gaya Hidup Konsumtif, Keputusan Pembelian. The purpose of this study was to find out whether there was any relationship between consumptive lifestyle and gold jewelry purchase decision in the customers of gold stores in Banjarmasin-Banjarbaru-Martapura. The method used in this study was a quantitative research method, using accidental sampling technique. The subjects were 60 women who bought gold jewelry, aged around 20 - 50 years old. The instruments were consumptive lifestyle scale and purchase decision scale. The results of Pearson Product Moment correlation analysis indicated that the correlation coefficient was r = -0.302. The results of these calculations proved that there was a negative relationship between consumptive lifestyle and purchase decision in the customers of gold stores in the area of Banjarmasin-Banjarbaru-Martapura; the higher the consumptive lifestyle, the lower the purchase decision or the less the consideration of a person took into buying something. Conversely, the lower the consumptive lifestyle, the higher the purchase decision or the more the consideration of a person took into buying gold jewelry. The effective contribution of consumptive lifestyle on purchase decision in the customers of gold jewelry was 9.1% while the remaining 90.9% of it was influenced by other variables. Keywords: Consumptive Lifestyle, Purchase Decision
PERBEDAAN INTENSITAS ATENSI SISWA PADA SUHU DINGIN, IDEAL, DAN PANAS DI SMK TELKOM SANDHY PUTRA BANJARBARU Salehah, Amelia; Anward, Hemy Heryati; Rachmah, Dwi Nur
Jurnal Ecopsy Vol 2, No 2 (2015): Jurnal Ecopsy : Jurnal Ilmu Psikologi
Publisher : Psychology Study Program, Medical Faculty, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ecopsy.v2i2.544

Abstract

Salah satu aspek penentu dalam keberhasilan proses belajar adalah kemampuan memfokuskan atensi. Salah satu bentuk stimulus yang dapat mempengaruhi atensi adalah suhu lingkungan. Kondisi suhu ruang kelas yang tidak nyaman dapat menyebabkan siswa tidak dapat memfokuskan atensi. Atensi juga memainkan peran dalam intelegensi, sehingga intelegensi dimasukan sebagai kovariabel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan intensitas atensi siswa pada suhu dingin, ideal, dan panas di SMK Telkom Sandhy Putra Banjarbaru, dan untuk mengetahui perbedaan kemampuan atensi siswa dilihat dari tingkat intelegensinya. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen kuasi dengan rancangan The One-Group Posttest Only. Subjek pada penelitian ini terdiri dari tiga kelompok penelitian yang masing-masing berjumlah 23 orang dengan teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Metode pengumpulan data menggunakan alat tes CFIT skala 3A untuk mengukur intelegensi dan TIKI-M subtes 6 untuk mengukur intensitas atensi. Analisis data penelitian menggunakan teknik analisis kovarian (anakova). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan intensitas atensi siswa kelas suhu dingin, ideal, dan pans. Siswa pada kelas panas lebih baik dari pada intensitas atensi siswa pada kelas suhu dingin dan ideal, serta intensitas atensi siswa pada suhu dingin lebih baik dari pada intenistas atensi siswa pada kelas suhu ideal. Hal ini dapat terjadi karena pada suhu panas atau dingin terjadi peningkatan kewaspadaan, sehingga kemampuan untuk mempertahankan atensi pun meningkat. Sementara pada kelas ideal siswa berada pada suhu nyaman dan sudah terbiasa dengan kondisi suhu tersebut, sehingga peningkatan intensitas atensi kurang terlihat. Intelegensi juga berperan sebesar 20,1% terhadap atensi.Kata kunci: Intensitas atensi, siswa, suhu ruang kelas, intelegensi One of the key aspects in the success of learning process is the ability to pay attention. One form of stimulus that can affect attention is the ambient temperature. The uncomfortable temperature in classrooms can cause students unable to pay attention and focus. Since attention also plays a role in intelligence, intelligence is included as the covariance. The objectives of this study was to find out whether there was difference in attention intensity at cold, ideal, and hot temperatures at SMK Telkom Sandhy Putra Banjarbaru, and to find out the differences in students’ attentional abilities seen from the level of intelligence. The method use in this study was a quasi-experimental method with the design of The One-Group Posttest Only. The subjects divided into three groups, each of which consisted of 23 people selected using a purposive sampling technique. Data were collected using CFIT scale 3A for measuring the intelligence and TIKI-M subtest 6 for measuring the intensity of attention. The data were then analyzed using covariance analysis techniques (Ancova). The results showed that there are differences in the attention intensity of students between classes with cold, ideal, and hot temperatures. The attention of the students in the classroom with hot temperature was better than that of the students in the classes with ideal and cold temperatures, and the attention intensity of students in the classroom with cold temperature was better than that of students in the classroom with ideal temperature. It could happen because hot or cold temperatures increased alertness that the ability to sustain attention also increased while in the ideal classroom the students were at a comfortable temperature and got accustomed to that temperature condition so an increase in the intensity of attention was less visible. Intelligence also contributes 20.1% to the attention. Keywords: intensity of attention, student, classroom temperature, intelligence
Perbedaan intensitas atensi siswa pada suhu dingin, ideal, dan panas di SMK Telkom Sandhy Andhy Putra Banjarbaru Amelia Salehah; Hemy Heryati Anward; Dwi Nur Rachmah
Jurnal Ecopsy Vol 3, No 1 (2016): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ecopsy.v3i1.1939

Abstract

 Salah satu aspek penentu dalam keberhasilan proses belajar adalah kemampuan memfokuskan atensi. Salah satu bentuk stimulus yang dapat mempengaruhi atensi adalah suhu lingkungan. Kondisi suhu ruang kelas yang tidak nyaman dapat menyebabkan siswa tidak dapat memfokuskan atensi. Atensi juga memainkan peran dalam intelegensi, sehingga intelegensi dimasukan sebagai kovariabel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan intensitas atensi siswa pada suhu dingin, ideal, dan panas di SMK Telkom Sandhy Putra Banjarbaru, dan untuk mengetahui perbedaan kemampuan atensi siswa dilihat dari tingkat intelegensinya. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen kuasi dengan rancangan The One-Group Posttest Only. Subjek pada penelitian ini terdiri dari tiga kelompok penelitian yang masing-masing berjumlah 23 orang dengan teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Metode pengumpulan data menggunakan alat tes CFIT skala 3A untuk mengukur intelegensi dan TIKI-M subtes 6 untuk mengukur intensitas atensi. Analisis data penelitian menggunakan teknik analisis kovarian (anakova). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan intensitas atensi siswa kelas suhu dingin, ideal, dan pans. Siswa pada kelas panas lebih baik dari pada intensitas atensi siswa pada kelas suhu dingin dan ideal, serta intensitas atensi siswa pada suhu dingin lebih baik dari pada intenistas atensi siswa pada kelas suhu ideal. Hal ini dapat terjadi karena pada suhu panas atau dingin terjadi peningkatan kewaspadaan, sehingga kemampuan untuk mempertahankan atensi pun meningkat. Sementara pada kelas ideal siswa berada pada suhu nyaman dan sudah terbiasa dengan kondisi suhu tersebut, sehingga peningkatan intensitas atensi kurang terlihat. Intelegensi juga berperan sebesar 20,1% terhadap atensi.Kata kunci: Intensitas atensi, siswa, suhu ruang kelas, intelegensi One of the key aspects in the success of learning process is the ability to pay attention. One form of stimulus that can affect attention is the ambient temperature. The uncomfortable temperature in classrooms can cause students unable to pay attention and focus. Since attention also plays a role in intelligence, intelligence is included as the covariance. The objectives of this study was to find out whether there was difference in attention intensity at cold, ideal, and hot temperatures at SMK Telkom Sandhy Putra Banjarbaru, and to find out the differences in students’ attentional abilities seen from the level of intelligence. The method use in this study was a quasi-experimental method with the design of The One-Group Posttest Only. The subjects divided into three groups, each of which consisted of 23 people selected using a purposive sampling technique. Data were collected using CFIT scale 3A for measuring the intelligence and TIKI-M subtest 6 for measuring the intensity of attention. The data were then analyzed using covariance analysis techniques (Ancova). The results showed that there are differences in the attention intensity of students between classes with cold, ideal, and hot temperatures. The attention of the students in the classroom with hot temperature was better than that of the students in the classes with ideal and cold temperatures, and the attention intensity of students in the classroom with cold temperature was better than that of students in the classroom with ideal temperature. It could happen because hot or cold temperatures increased alertness that the ability to sustain attention also increased while in the ideal classroom the students were at a comfortable temperature and got accustomed to that temperature condition so an increase in the intensity of attention was less visible. Intelligence also contributes 20.1% to the attention.Keywords: intensity of attention, student, classroom temperature, intelligence
Hubungan ketangguhan mental dengan kecemasan bertanding pada atlet pencak silat di Banjarbaru Fajar Bayu Raynadi; Dwi Nur Rachmah; Sukma Noor Akbar
Jurnal Ecopsy Vol 3, No 3 (2016): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ecopsy.v3i3.2665

Abstract

Aspek psikologis merupakan salah satu komponen yang penting dalam menentukan keberhasilan atlet pencak silat untuk mencapai prestasi olahraga. Salah  satu faktor  yang  dapat mempengaruhi keadaan psikologis atlet  di lapangan adalah kecemasan.  Atlet pencak silat dituntut memiliki persiapan  mental,sehingga mampu mengatasi kecemasannya. Ketangguhan  mental  dapat berperan penting untuk mengatur dan meminimalisir kecemasan atlet dalam bertanding. Berdasarkan hal tersebut,  penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara ketangguhan mental  dengan kecemasan bertanding.  Hipotesis  yang  diajukan penelitian ini adalah terdapat hubungan antara ketangguhan  mental  dengan kecemasan bertanding pada atlet pencak silat.  Subjek pada penelitian ini berjumlah 30 orang. Teknik pengambilan sampel yang  digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sampling  jenuh, yaitu teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel.  Metode pengumpulan  data  menggunakan kuisioner  yang  terdiri dari skala ketangguhan mental  dan kecemasanbertanding.  Hasil uji korelasi product  moment dari  Karl  Pearson  menemukan terdapat hubungan antara ketangguhan  mental dengan kecemasan bertanding dengan sumbangan efektif sebesar 37,7% sedangkan 62,3% sisanya adalah sumbangan dari variabel-variabel lain yang tidak diteliti pada penelitian ini. Berdasarkan hasil penelitian, dapat ditarik kesimpulan terdapat hubungan antara ketangguhan  mental  dengan kecemasan bertanding pada atlet pencak silat, semakin  tinggi ketangguhan mental maka semakin rendah kecemasan bertanding,  sebaliknya semakin rendah ketangguhan mental maka semakin tinggi kecemasan bertanding pada atlet pencak silat.Kata Kunci : Ketangguhan Mental, Kecemasan Bertanding, Atlet Pencak Silat Psychological aspect is one important component in determining the success of pencak silat athletes to achieve sportsachievements. One of the factors that may affect the psychological  state of the athletes on the field is anxiety. Pencak silat athletes  are  required  to  have mental  preparation,  so  as  to  cope  with  anxiety.  Mental  toughness  can  be  very important in orderto manage and minimize the anxiety of athletes duringthe match. The objective of this study was to find outwhether there wasa relationship between mental toughness and competitiveanxiety. The proposed hypothesis of  this  study was  that  there  wasarelationship  between  mental  toughness and  competitiveanxiety inpencaksilatathletes.  Subjects  in  this  study were30  people.  The  sampling  technique used  in  this  study was  saturated  sampling technique;the  sampling  technique  when  all  members  of  the  population were  used  as samples.Data were  collectedusing questionnairesconsisting  of  mental  toughness  and competitive  anxiety  scales.  The  results  of  product  moment correlation  test  of  Karl  Pearson showedthe  correlation  between  mental  toughness andcompetitive anxiety  with  the effective  contribution  of  37.7%.  The  remaining62.3% was  contributed  byother  variables  not  examined  in  this  study. Based  on  the  results,  it  can  be  concluded that there  wasa  relationship  between  mental  toughness  and  competitiveanxiety in pencak silat athletes; the higher the mental toughness,the lower the competitiveanxiety and conversely, the higher the mental toughness,the lower the competitive anxiety in silatathletes.Keywords : mental toughness, competitive anxiety, pencak silat athletes
Gambaran adaptabilitas karir pada siswa dengan gangguan low vision Hikmatul Aridha Husna; Marina Dwi Mayangsari
Jurnal Ecopsy Vol 4, No 2 (2017): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ecopsy.v4i2.3849

Abstract

ABSTRAK  Siswa dengan gangguan low vision tentu memiliki beberapa kesulitan di dalam kehidupan sehari-harinya, terutama untuk menjalankan aktivitas yang memerlukan fungsi mata seperti membaca dan menulis. Keterbatasan pada penglihatan inilah yang kemudian dapat menjadi masalah bagi siswa dalam beradaptasi dengan tugas dan tuntutan lingkungan sosial, tidak hanya saat ini tetapi juga dalam dunia karir kelak. Ditambah lagi tidak banyak pilihan karir yang dapat dijalani oleh siswa dengan gangguan low vision. Untuk menghadapi masalah-masalah ini, diperlukan adanya adaptabilitas karir, yaitu respon kesiapan dan sumber koping individu, yang digunakan untuk merencanakan, mengeksplorasi dan menginformasikan keputusan mengenai kemungkinan masa depan karir mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran adaptabilitas karir pada siswa dengan gangguan low vision dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subjek penelitian ini adalah seorang laki-laki berusia 20 tahun yang memiliki gangguan low vision dan tengah menempuh pendidikan tingkat sekolah menengah akhir di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara semi terstruktur dan observasi non partisipan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa subjek memiliki adaptabilitas karir baik yang dideskripsikan melalui 4 aspek yaitu kepedulian karir, pengendalian karir, keingintahuan karir, dan keyakinan karir. Faktor-faktor yang mempengaruhi adaptabilitas karir pada penelitian ini adalah usia, pengalaman kerja, keluarga dan social support, institusi pendidikan, serta status sosial ekonomi. Faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi adaptabilitas karir berdasarkan penelitian ini adalah pengalaman kerja. Kata kunci: adaptabilitas karir, siswa, low vision. ABSTRACT Students with low vision certainly have some difficulty in their daily life, especially to do activities that require eyes functions such as reading and writing. This vision limitation can become a problem for student to adapt with the tasks and social environment demands, not only now but also in their future career. Furthermore not many career options that can be undertaken by students with low vision. To facing of these problems, they need for career adaptability, namely the preparedness response and individual coping resources, which are used to plan, explore and inform decisions about the possibility of their future career. The aim of this research is to determine the overview of career adaptability in student with low vision and the factors which is influence it. This research uses qualitative method with case study approach. The subject of this research is 20 year old man who had low vision problems and He is studying at the senior high school in Kapuas Regency, Central Kalimantan. Data collection techniques used in this research were semi structured interview and non participant observation. The results of this research indicated that the subject has a good career adaptability which described through 4 aspects specifically career concern, career control, career curiousity, and career confidence. The factors that affecting career adaptability in this research are age, work experience, family and social support, educational institutions, and socioeconomic status. The most dominant factor in influencing career adaptability based on this research is work experience. Keywords: career adaptability, student, low vision.
Kondisi psikologis penderita Spinal Cord Injury (SCI) di Kalimantan Selatan Rahmi Fauzia; Zairin Noor Helmi
Jurnal Ecopsy Vol 4, No 3 (2017): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ecopsy.v4i3.4300

Abstract

ABSTRAKSpinal Cord Injury (SCI) merupakan salah satu permasalahan kesehatan fisik diakibatkan terjadinya cedera permanen pada tulang belakang yang berpotensi memicu munculnya masalah psikologis pada penderitanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi psikologis pada penderita SCI. Dengan menggunakan desain studi kasus, penelitian ini menggunakan metode observasi dan wawancara sebagai alat untuk mengumpulkan data serta pedoman wawancara yang disusun berdasarkan aspek-aspek psikologis, sedangkan subyek penelitian ini berjumlah 1 (satu) orang yang saat penelitian dilakukan berstatus sebagai pasien rawat inap di Rumah Sakit Umum Ratu Zaleha Martapura. Pasien berjenis kelamin laki-laki, berusia 52 tahun, menderita SCI selama 10 tahun. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh gambaran kondisi psikologis pada subyek antara lain aspek: (1) penerimaan diri, (2) kontrol emosi, (3) serangan nyeri yang menurunkan status suasana hati menjadi negatif, (4) spiritualitas, (5) motivasi untuk sembuh.Kata kunci: Faktor Caring, Kinerja Profesional, Perawat Puskesmas ABSTRACTSpinal Cord Injury (SCI) is one of the problems of physical health caused the occurrence of permanent injury to the spine that could potentially trigger the emergence of psychological problems in patients. This research aims to know the mental health in people with SCI. Using design case studies, this research using the method of observation and interviews as a tool to collect data and interview guidelines compiled based on mental health aspects, while the informant this study amounts to 1 (one) person who while doing research status as inpatients in a General Hospital Queen Zaleha Martapura. Patient-sex male, aged 52 years and suffered from SCI for about 10 years. Based on the results of the analysis of the data obtained in the mental health picture of informants among others: (1) self-acceptance, (2) emotionality control, (3) pain, (4) spirituality dan (5) motivation to recover.Keywords: Caring Factor, Professional Performance, Nurse at Puskesmas
STUDI TENTANG PERILAKU MENYIMPANG PADA SISWA DI MI NURUDDIN I BANJARMASIN Ririanti Rachmayanie Jamain; Muhammad Irfan Hafidzi
Jurnal Ecopsy Vol 5, No 2 (2018): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ecopsy.v5i2.5221

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui variasi jenis perilaku menyimpang pada siswa di MI Nuruddin I Banjarmasin yang bertempat tinggal di sekitar pelabuhan. Metode yang digunakan dalam penelitian kali ini yaitu pendekatan kualitatif dan jenis penelitian adalah dengan mendeskriptif fenomena yang ada, dimana peneliti mendeskripsikan suatu fenomena perilaku menyimpang siswa di MI Nuruddin I Banjarmasin. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara yang diperkuat dengan observasi dan dokumentasi. Jumlah responden ada 5 orang yakni Wali Kelas, Guru Mata Pelajaran, Siswa, dan Orang Tua Siswa. Hasil penelitian menunjukkan jenis perilaku menyimpang siswa di MI Nuruddin I Banjarmasin adalah perkelahian, berkata kotor dan kasar atau mengolok-olok, membuat keributan, memalak, merusak barang milik teman, merusak fasilitas sekolah, tidak menaati peraturan sekolah, membolos, perilaku menyimpang ini tergolong kategori primer.Kata kunci: Perilaku Menyimpang, Kategori Perilaku Menyimpang, Siswa.
Pola asuh dan penalaran moral pada remaja yang sekolah di madrasah dan sekolah umum di Banjarmasin Emma Yuniarrahmah; Dwi Nur Rachmah
Jurnal Ecopsy Vol 1, No 2 (2014): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ecopsy.v1i2.486

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris tentang perbedaan penalaran moral remaja yang sekolah di madrasah dan sekolah umum. Selain itu juga ingin mengetahui pengaruh pola asuh terhadap penalaran moral remaja, serta perbedaan penalaran moral ditinjau dari jenis kelamin dan usia. Subjek penelitian ini adalah remaja yang bersekolah di sekolah madrasah dan sekolah umum, yaitu sebanyak 253 orang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode skala, yaitu skala pola asuh dan skala penalaran moral. Skala pola asuh digunakan untuk mengetahui jenis pola asuh (pola asuh otoriter, permissif, dan otoritatif) yang diterapkan oleh orangtua terhadap subjek penelitian. Skala penalaran moral digunakan untuk mengetahui tingkatan penalaran moral subjek penelitian.  Teknik analisa data yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah teknik Independent Samples T Test dan teknik Analisis Regresi (Anareg) Linier Sederhana untuk menguji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) ada perbedaan penalaran moral antara remaja yang bersekolah di madrasah dan sekolah umum; (2) tidak ada pengaruh jenis pola asuh terhadap penalaran moral remaja; (3) tidak ada perbedaan penalaran moral antara remaja laki-laki dan perempuan; dan (4) tidak ada perbedaan penalaran moral berdasarkan usia, tingkat penalaran moral antara usia remaja awal dengan usia remaja tengah relatif sama. This research is aimed at empirically testing differences between moral reasoning of adolescent in Madrasah School and Public School. Besides that, this research is also attempting to identify influences of parenting towards moral reasoning of adolescent and its differences in terms of gender and age. Subject of this research is 253 adolescents who attend Madrasah School and Public School. This research uses quantitative method and the data will be collected using scale method, more specifically parenting scale and moral reasoning scale. Parenting scale will be utilized to identify parenting type (authoritarian, permissive, and authoritative parenting) applied by parents to research subject. Moral reasoning scale is utilized to identify subject’s moral reasoning level. This research uses Independent Samples T-Test and Simple Linear Regression Analysis to test the hypotheses. The results show that: (1) there are differences on moral reasoning between adolescent who attend Madrasah School and adolescent who attend Public School; (2) there is no influences on parenting type to moral reasoning of adolescent in those schools; (3) there is no differences on moral reasoning between male and female adolescents; and (4) there is no differences on moral reasoning based on age, moral reasoning level between early age adolescent and middle age adolescent is relatively equal.
Tipe kepribadian dan intensi berbagi informasi di media sosial Sartana Sartana; Nelia Afriyeni
Jurnal Ecopsy Vol 6, No 1 (2019): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ecopsy.v6i1.6255

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara big five personality dengan intensi berbagi informasi di media sosial. Responden penelitian ini adalah 541 mahasiswa (Laki-laki : 190; Perempuan : 351). Data dikumpulkan dengan Skala Intensi Berbagi Informasi di Media Sosial dan Big Five Inventory (BFI). Proses analisis dilakukan dengan analisis korelasi product moment. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada korelasi positif yang signifikan antara intensi berbagi informasi di media sosial dengan beberapa dimensi big five personality, yaitu dimensi exstraversion (r=.0354; p<0.01), conscientiousness (r=0.289; p<0.01), agreeableness (r=0.413; p<0.01), dan openness (r=0.165; p<0.01). Sedangkan untuk dimensi kepribadian neuroticsm berkorelasi negatif secara signifikan dengan intensi berbagi informasi di media sosial (r=-0.087; p<0.05). Hasil penelitian menegaskan bahwa faktor kepribadian penting untuk dipertimbangkan dalam menjelaskan perilaku berbagi informasi di media sosial.
Hubungan psychological well-being dengan kecemasan dalam menghadapi kematian pada lansia di Panti Werdha Budi Sejahtera Sukma Noor Akbar
Jurnal Ecopsy Vol 1, No 4 (2014): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ecopsy.v1i4.502

Abstract

Kecemasan akan kematian pada lansia menandakan keadaan fisik yang tidak sehat, bagi individu yang mengalami kecemasan akan kematian tentu gejala-gejala yang dirasakan dapat mengganggu aktivitasnya. Lansia yang pasrah dan penerimaan terhadap kematian sudah merasa puas dan dengan apa yang telah dicapai sampai saat ini seperti anak-anak yang sudah berhasil dan mapan sehingga lansia tidak perlu khawatir lagi akan lanjut usia. Keadaan psychologycal well being akan membuat lansia menjadi lebih merasa nyaman dengan kehidupannya di masa tua. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) psychological well being lansia di PSTW Banjarbaru, (2) kecemasan dalam menghadapi kematian di PSTW Banjarbaru, dan (3) hubungan antara psychological well being dengan kecemasan dalam menghadapi kematian lansia di PSTW Banjarbaru. Populasi dalam penelitian ini adalah lansia di panti werdha budi sejahtera Landasan Ulin Banjarbaru sejumlah 110 orang dengan sampel penelitian sebanyak 56 orang. Teknik analisa yang digunakan adalah analisis korelasional, yakni analisis korelasi Product Moment dari Karl Pearson untuk mengetahui apakah ada hubungan antara psychological well being dan kecemasan dalam menghadapi kematian pada lansia di Panti Werdha. Adapun hasil analisis korelasi yaitu r = -0,283 dengan p > 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) psychological well being di PSTW Banjarbaru berada pada tingkat sedang, (2) kecemasan dalam menghadapi kematian lansia di PSTW Banjarbaru berada  tingkat tinggi, dan (3) terdapat korelasi negatif yang rendah antara psychological well being dengan kecemasan dalam menghadapi kematian lansia di PSTW Banjarbaru.  Kata Kunci : psychological well being, kecemasan dalam menghadapi kematian, lansia Death anxiety in the elderly indicates unhealthy physical state, for individuals who experience anxiety of death is certainly perceived symptoms can disrupt their activities.Seniors who surrender and acceptance of death had been satisfied and with what has been achieved to date as children who are already successful and well established so that the elderly do not have to worry about going to the elderly. Psychologycal well being will make the elderly become more comfortable with life in old age. The main objective of this study was to determine: (1) psychological well being of the elderly in PSTW Banjarbaru, (2) death anxiety in PSTW Banjarbaru, and (3) the relationship between psychological well being with death anxiety the elderly PSTW Banjarbaru. Population in this research is the elderly in Panti Werdha Budi Sejahtera Ulin Banjarbaru some 110 people to sample as many as 56 people. Analysis technique used is the correlation analysis, the correlation analysis of Karl Pearson Product Moment to determine whether there is a relationship between psychological well being and anxiety in death anxiety in the elderly at Panti Werdha. The results of correlation analysis is r = -0.283, p> 0.05. The results showed that: (1) psychological well being in PSTW Banjarbaru be at a moderate level, (2) death anxiety of the elderly in PSTW Banjarbaru are high level, and (3) there is a negative correlation lower of psychological well being with death anxiety in the elderly PSTW Banjarbaru Keywords: psychological well being, death anxiety, the elderly