cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Articles 482 Documents
Etnoekologi dan Pengelolaan Agroekosistem oleh Penduduk Desa Karangwangi Kecamatan Cidaun, Cianjur Selatan Jawa Barat Iskandar, Johan; Iskandar, Budiawati SUpangkat
Jurnal Biodjati Vol 1 No 1 (2016): Jurnal Biodjati, Volume I, Nomor 1, November 2016
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/biodjati.v1i1.1035

Abstract

Abstrak. Sejatinya di masa silam, penduduk pedesaan di Jawa Barat, termasuk penduduk di Desa Karangwangi, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat dominan menggarap sistem ladang (sistem huma). Namun, sejalan dengan kian padatnya penduduk, makin berkurangnya kawasan hutan, dan berkembangnya ekonomi pasar di pedesaan, maka, sistem huma berubah menjadi beberapa tipe sistem agroforestri tradisional, seperti kebon kayu-kayuan (kebon kai), kebon campuran kayu-kayuan dan buah-buahan (talun) dan sistem pekarangan (buruan). Selain itu, dengan adanya program Revolusi Hijau pada sistem sawah dan introduksi albasiah/jengjen (Paraserinthes falcataria (L) I Nielsen) pada sistem tegalan dan agroforestri tradisional, seperti kebon kai. Konsekuensinya,  sistem sawah dan sistem huma mengalami perubahan secara drastis. Paper ini mendisuksikan tentang perkembangan beberapa tipe agroekosistem dari sistem huma, dengan berbagai perubahannya. Metoda penelitian menggunakan kualitatif dengan pendekatan etnoekologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil studi telah memberikan berbagai informasi untuk lebih memahami perilaku penduduk pedesaan dalam mengelola berbagai tipe agroekosistem di desanya. Dalam kaitannya dengan pembangunan, seyogianya berbagai pengetahuan ekologi lokal penduduk yang positif dan kearifan ekologi penduduk tidak diabaikan atau bahkan dicoba untuk dimusnahkan, namun dapat diintegrasikan dengan pengetahuan ilmiah barat untuk dapat digunakan untuk pembangunan sistem pertanian di Indonesia yang berkelanjutan.  Kata kunci: sistem huma, agroforestri tradisional, agroekosistem, revolusi hijau. Abstract. Originally in the past, village people of West Java, including people of Village of Karangwangi, Sub-district of Cidaun, District of Cianjur and Province of West Java predominated practicing the swidden farming system (sistem huma). However, due to increasing human population density, decreasing the forest area, and rapid development of market economy in the village, the  huma system have changed to  several types of the traditional agroforestry systems, such as the tree garden system (kebon kai), mixed-garden system of wood and fruits (talun), and home garden (buruan). In addition, because of introduction of the green revolution in the sawah systems and the introduction of albasiah/jengjen (Paraserianthes falcataria (L) I Nielsen) in the traditional agroforestry systems, such as kebon kai. As a result, those agroecosystem types have dramatically changed.  This paper discusses the development of the traditional agroforestry systems which is developed from the huma system. Method used in this study qualitative with the ethnoecology approach. The resulted of study show that it has provided rich information which is very useful to more understand the village people behavior in managing various type of agroecosystem in their village. With regard to development process, we suggest various positive  local knowledges and ecological wisdoms, rather than ignoring or attempting to replace them, it may be useful to be integrated with the scientific knowledge to use in supporting the sustainable agriculture in Indonesia. Keywords: swidden system, agroforestry traditional, agroecosystem, green revolution
Inventarisasi Suku Euphorbiaceae, Phyllanthaceae dan Putranjivaceae di Kebun Raya Eka Karya Bali : Upaya Melengkapi Pembuatan Buku Flora of Bali Djarwaningsih, Tutie
Jurnal Biodjati Vol 1 No 1 (2016): Jurnal Biodjati, Volume I, Nomor 1, November 2016
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/biodjati.v1i1.1036

Abstract

Abstrak. Inventarisasi flora merupakan salah satu kegiatan utama Puslit Biologi-LIPI (khususnya bidang Botani) yang dilakukan guna mengungkap keanekaragaman biota yang  berada di suatu  area. Puslit Biologi sejak tahun 2000,  menitik beratkan kegiatan tersebut  guna  mengungkap  kekayaan  flora pulau-pulau kecil di sekitar  pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi, Maluku, Papua dan Kepulauan Sunda Kecil (LSI). Pulau Bali mendapatkan prioritas pertama (2013-2017), karena  data dasar  telah tersedia berupa buku checklist. Guna melengkapi pembuatan Flora of Bali dilakukan inventarisasi suku Euphorbiaceae, Phyllanthaceae dan Putranjivaceae, yang pada awalnya berasal dari suku Euphorbiaceae di Kebun Raya Eka Karya Bali (KREKBali) yang terletak di Candikuning, Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Selain inventarisasi, bahan yang digunakan adalah spesimen herbarium koleksi KREKBali. Metode yang dilakukan adalah memilah dan mendata semua koleksi herbarium KREKBali, kemudian dilakukan pendokumentasian. Khusus untuk koleksi hidup selain didokumentasi juga dikoleksi untuk dibuat spesimen herbariumnya. Tujuan dari inventarisasi ini adalah salah satu upaya untuk menyusun Flora of Bali dengan menggabungkan marga dan jenis yang telah terdaftar dalam checklist Flora of Bali dan selanjutnya akan dibuat pertelaan, kunci identifikasi, manfaat dan persebarannya. Hasil dari kegiatan ini telah terdata: Euphorbiceae 14 jenis, Phyllanthaceae 11 jenis dan Putranjivaceae 1 jenis.  Kata kunci: Euphorbiaceae, Phyllanthaceae, Putranjivaceae, inventarisasi, Kebun Raya Eka Karya Bali (KREKBali). Abstract. Inventory of flora is one of the main activities of the Research Center for Biology-LIPI (especially in the Botany Division), which conducted to reveal the diversity of biota in an area. Since 2000, Research Center for Biology, focuses on these activities in order to reveal the rich flora of the small islands around the island of Java, Sumatra, Sulawesi, Maluku, Papua and the Lesser Sunda Islands (LSI). The island of Bali had first priority (2013-2017), since the basic data have been available in checklist. In order, to complete of the Flora of Bali is conducted an inventory of Euphorbiaceae, Phyllanthaceae and Putranjivaceae, which was originally derived from Euphorbiaceae in Eka Karya Botanical Garden (KREKBali) located in Candikuning, Baturiti, Tabanan, Bali. In addition to the inventory, also used material of herbarium specimens KREKBali. The method to do was selected and recorded all KREKBali herbarium collections, then do documentation. Special for fresh collections, than is documented and also made for herbarium. The purpose of this inventory is one of the efforts for the preparation of Flora of Bali by combining genera and species that have been listed in the checklist Flora of Bali and will be made descriptions, identification keys, benefits and distribution. The results of this activity has been recorded: Euphorbiaceae 14 species, Phyllanthaceae 11 species and Putranjivaceae 1 species. Keywords: Eka Karya Botanical Garden (KREK Bali), Euphorbiaceae, Phyllanthaceae,, Putranjivaceae , inventory
Aktivitas Antimikroba Ekstrak Rimpang Jeringau (Acorus calamus) Terhadap Pertumbuhan Candida albicans Susanti, Nurlaili
Jurnal Biodjati Vol 1 No 1 (2016): Jurnal Biodjati, Volume I, Nomor 1, November 2016
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/biodjati.v1i1.1037

Abstract

Abstrak. Infertilitas adalah ketidakmampuan seorang wanita berusia lebih dari 35 tahun untuk hamil setelah mencoba kurang lebih selama 6 bulan, dengan hubungan seksual yang normal dan tanpa menggunakan kontrasepsi. WHO memperkirakan bahwa 8-12% dari pasangan di seluruh dunia memiliki masalah dalam kehamilan. Baru-baru ini, manajemen infertilitas dengan cara operasi, obat-obatan, dibantu teknologi reproduksi (fertilisasi in-vitro / IVF) selain mahal, tidak selalu berhasil. Saat ini, banyak orang menggunakan herbal dalam pengobatan berbagai penyakit. Madura dikenal sebagai salah satu etnis yang memiliki pengetahuan tentang obat tradisional atau "herbal" terutama yang berkaitan dengan keharmonisan perkawinan. Rimpang Jeringau (Acorus Calamus) adalah salah satu bahan baku "Jamu Subur Kandungan" yang mengatasi masalah infertilitas perempuan. Penelitian ini menguji aktivitas antimikroba Jeringau Rimpang (Acorus Calamus) untuk menghambat pertumbuhan Candida albicans. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi dasar untuk standardisasi dan saintification dari "Jamu Subur Kandungan". Uji aktivitas antimikroba dari ekstrak Jeringau Rimpang (Acorus Calamus) menunjukkan penghambatan pertumbuhan Candida albicans dengan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) sebesar 0,5%.Abstrak : Acorus calamus, Antimicrobial activity, Candida albicans Abstract. Infertility is the inability of a woman over 35 years to pregnant after trying for at least 6 months, with normal sexual intercourse and without use birth control. WHO estimates that 8-12% of couples worldwide have problems in pregnancy. Recently, management of infertility with surgery, medicine, assisted reproductive technology (in-vitro fertilization/IVF) in addition to expensive, not always successfully. Currently, many people use herbs in the treatment of various diseases. Madura is known as one of the ethnic that have knowledge of traditional medicine or "herbal" especially related to marital harmony. Rhizome of Jeringau (Acorus Calamus) is one of the raw materials of "Jamu Subur Kandungan" which overcome the problem of female infertility. This study examined the antimicrobial activity of Jeringau Rhizomes (Acorus Calamus) to inhibit the growth of Candida albicans. The results of this study are expected to be the basic for standardization and saintification of "Jamu Subur Kandungan". Antimicrobial activity test of Jeringau Rhizome Extract (Acorus Calamus) showed inhibition of Candida albicans growth with Minimum Inhibitory Concentration (MIC) at 0.5%.Key words : Acorus calamus, Antimicrobial activity, Candida albicans
Releksi Fungsi Lahan terhadap Biodiversitas Tumbuhan di Daerah Aliran Sungai Cilaja, Ujung Berung Surtikanti, Hertien Koosbandiah; Surakusumah, Wahyu; Safaria, Tina; Irawan, Afri; Qodaryanti, Amelia
Jurnal Biodjati Vol 1 No 1 (2016): Jurnal Biodjati, Volume I, Nomor 1, November 2016
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/biodjati.v1i1.1039

Abstract

Abstrak. Ketergantungan manusia terhadap lahan sangat terlihat nyata dengan adanya perubahan fungsi lahan. Perubahan fungsi lahan juga berdampak terhadap tingkat biodiversitas tumbuhan. Studi ini mempelajari tingkat biodiversitas dan kelimpahan tumbuhan di tiga lokasi yang berbeda yaitu lahan konservasi pinus/perkebunan kopi, lahan persawahan dan lahan pemukiman. Ketiga lahan tersebut berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cilaja yaitu di Desa Giri Mekar dan Desa Sindanglaya Kabupaten Bandung. Dalam penelitian ini dilakukan metode sampling struktur komunitas vegetasi untuk mengetahui komposisi, struktur dan jenis vegetasi serta perbedaan komunitas di tiga titik lokasi tersebut. Untuk analisis kuantitatif digunakan metode kuadran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan pemukiman desa lebih beragam dibandingkan dengan lahan sawah dan lahan perkebunan kopi. Dapat disimpulkan secara umum bahwa keterlibatan dalam mengelola lahan dapat merubah komunitas, tingkat keanekaragaman dan dominansi tumbuhan.Kata kunci : DAS, tingkat biodiversitas, metode sampling struktur komunitas vegetasi Abstract. Human dependence on land is very evident with the change in land use. Changes in land use also have an impact on the level of plant biodiversity. The study followed the level of biodiversity and abundance of plants in three different locations namely conservation land pine / coffee plantations, rice fields and residential land. The third land is located in the Watershed (DAS) Cilaja is in the village of Giri Mekar and Rural Sindanglaya Bandung regency. In this research, community structure vegetation sampling methods to determine the composition, structure and type of vegetation and the three-point difference in the communities that location. For quantitative analysis used kuadran method. The results showed that the rural residential land is more diverse than the wetland and coffee plantation. In general it can be concluded that involvement in land management can change the community, the level of diversity and dominance of plants.Keywords : DAS, level of biodiversity, community structure vegetation sampling methods
Struktur Vegetasi Hutan Mangrove dan Pemanfaatannya di Kampung Ababiaidi Distrik Supiori Selatan Kabupaten Supiori Warpur, Maklon
Jurnal Biodjati Vol 1 No 1 (2016): Jurnal Biodjati, Volume I, Nomor 1, November 2016
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/biodjati.v1i1.1040

Abstract

Abstrak. Ekosistem hutan mangrove merupakan suatu vegetasi yang tumbuh di lingkungan estuaria pantai yang dapat ditemukan pada garis pantai tropika dan subtropika yang memiliki fungsi secara ekologi, biologi, ekonomi dan  sosial  budaya, namun  saat ini keberadaannya telah mengalami degradasi akibat pemanfaatan yang kurang tepat, dan/atau mengalami perubahan fungsi. Penelitian tentang struktur vegetasi hutan mangrove di kampong Ababiaidi Distrik Supiori Selatan Kabupaten Supiori dilakukan pada bulan November 2015 dengan tujuan untuk mengetahui struktur vegetasi hutan mangrove dan pemanfaatannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan ekologi/biologi dan pendekatan antropologi. Dari hasil analisis vegetasi, ditemukan sebanyak 12 jenis tumbuhan mangrove.  Rhizophora apiculata merupakan jenis yang dominan pada tingkat pohon dengan nilai kerapatan 809,34 individu/Ha dengan indeks nilai penting (INP) 51,98  kemudian diikuti Rhizophora stylosa dengan nilai kerapatan 721,67 individu/Ha dengan dengan indeks nilai penting (INP) 44,01. Pada tingkat belta Rhizophora stylosa merupakan jenis yang dominan dengan nilai kerapatan 488,33 individu/Ha dengan dengan indeks nilai penting (INP) 63,26 kemudian Rhizophora apiculata dengan nilai kerapatan 416,67 individu/ Ha dengan dengan indeks nilai penting (INP) 49,32. Pada tingkat semai Rhizophora stylosa  merupakan jenis dominan dengan nilai kerapatan 916,67 individu/Ha dengan dengan indeks nilai penting (INP)  33,07 dan Rhizophora apiculata dengan nilai kerapatan 800 individu/Ha dengan  dengan indeks nilai penting (INP) 29,47. Berdasarkan hasil wawancara dari 12 jenis tumbuhan mangrove yang ditemukan dalam plot pengamatan 9 jenis dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, 11 sebagai sumber kayu bakar, 3 jenis sebagai obat-obatan dan 4 jenis untuk keperluan lainnya.Kata kunci: Hutan mangrove, kampung AbabiaidiAbstract. Mangrove forest is a vegetation that grows in the estuary beaches can be found on the shoreline tropical and subtropical who has the function of ecological, biological, economic and social culture, but now its existence has been degraded by the use of a less appropriate, and / or changing function. Research on the structure of mangrove forest vegetation in the village Ababiaidi Supiori District of Southern District Supiori conducted in November 2015 with the aim to determine the structure of mangrove forest vegetation and utilization. The method used in this research is the approach of ecological / biological and anthropological approach. From the analysis of vegetation, found as many as 12 species of mangrove plants. Rhizophora apiculata is the dominant species on the level of a tree with a density value of 809.34 individuals / ha with an important value index (IVI) 51.98 followed Rhizophora stylosa with a density value of 721.67 individuals / ha with the important value index (IVI) 44 01. At the level of Rhizophora belta stylosa is the dominant species with a density value of 488.33 individuals / ha with the important value index (IVI) 63.26 then Rhizophora apiculata with a density value of 416.67 individuals / ha with the important value index (IVI) 49 , 32. At the seedling stage Rhizophora stylosa a dominant species with a density value of 916.67 individuals / ha with the important value index (IVI) 33.07 and Rhizophora apiculata had density of 800 individuals / ha with the important value index (IVI) 29.47. Based on interviews of 12 mangrove species found in the observation plot 9 species used as building material, 11 species as a source of firewood, 3 species as drugs and 4 species for other purposes.Keywords: mangrove forests, Ababiaidi villages.
Survey dan Pendokumentasian Sayuran Lokal di Pasar Tradisional Kabupaten dan Kota Kediri, Jawa Timur Yurlisa, Kartika; Maghfoer, Moch. Dawam; Aini, Nurul; D.Y., Wiwin Sumiya; Permanasari, Paramyta Nila
Jurnal Biodjati Vol 2 No 1 (2017): Jurnal Biodjati, Vol II, Nomor 1, Mei 2017
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/biodjati.v2i1.1287

Abstract

Upaya pendokumentasian sayuran lokal sangatlah penting untuk dilakukan. Hal ini disebabkan keragaman sayuran lokal yang terancam punah oleh perubahan zaman, alih fungsi lahan, dan pola konsumsi masyarakat. Paper ini mendiskusikan keragaman sayuran lokal di Kabupaten dan Kota Kediri, Jawa Timur. Metode penelitian menggunakan survey eksplorasi melalui teknik wawancara terstruktur. Daerah survey mencangkup 15 pasar tradisional yaitu Gurah, Pare, Induk Pare, Pagu, Plemahan, Ngadiluwih, Grogol, Wates, Gempengrejo, Papar, Mojo, Pahing, Setono Betek, Grosir Ngronggo dan Bandar. Responden yang diwawancarai pada saat survey adalah pedagang sayur yang menjual sayuran lokal. Total jumlah responden di 15 pasar tradisional adalah 40 orang. Data yang didapatkan dianalisis secara deskriptif menggunakan software excel. Paper ini mendokumentasikan 28 spesies dari 16 famili tanaman. Sayuran lokal yang banyak diperjualbelikan adalah kenikir, kacang panjang, kangkung dan kemangi. Sedangkan sayuran yang dijumpai sedikit diperjualbelikan adalah kucai, selada air, nangka, dan terung pokak. Sayuran lokal khas daerah tersebut adalah sintrong dan sembukan. 61% sayuran lokal yang ditemui sudah dibudidayakan, 21% dibudidayakan tetapi masih dipungut dari alam, sisanya sebanyak 18% merupakan sayuran yang masih dipungut dari alam. Sayuran yang dipungut dari alam seperti pakis, sintrong, sembukan, bambu dan lamtoro mempunyai potensi untuk didomestikasi menjadi tanaman budidaya.
Studi Awal Kultur Biji Sowang (Xanthostemon novaguineense Valet.) Secara In-Vitro Wilujeng, Sri; Agustini, Verena
Jurnal Biodjati Vol 2 No 1 (2017): Jurnal Biodjati, Vol II, Nomor 1, Mei 2017
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/biodjati.v2i1.1288

Abstract

Sowang (Xanthostemon novoguineense Valet.) diidentifikasi sebagai spesies endemik Papua. X. novaguineense merupakan jenis tumbuhan New Guinea bagian barat dengan data ilmiah yang sangat terbatas. Di alam, jumlah tegakan dan habitat sowang saat ini telah menyusut karena eksploitasi hasil hutan dan konversi lahan. Sementara eksploitasi kayu sowang dan konversi habitat sowang tetap berlangsung, usaha meregenerasi belum tampak di masyarakat, kemampuan regenerasi sowang secara alami juga sangat rendah. Hal ini merupakan ancaman kepunahan bagi populasi sowang. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi media in-vitro yang sesuai bagi perkecambahan biji dan pertumbuhan tunas sowang. Percobaan dirancang dengan  memperlakukan dua jenis media perkecambahan yakni VW yang dimodifikasi dan MS dengan zpt, 20 ulangan, setiap satu unit percobaan berisi 30 benih sowang yang ditanam di media, dilakukan di laboratorium kultur jaringan FMIPA Universitas Cenderawasih Jayapura. Variabel penelitian adalah hari muncul tunas, persen perkecambahan, penampilan tunas dan tinggi tunas pada usia tunas 60 hari. Data dianalisis dengan independent sample t test. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat signifikansi pada variabel-variabel hari muncul tunas, persen perkecambahan, penampilan tunas dan tinggi tunas antara perlakuan media VW yang dimodifikasi dan MS dengan zpt. Rata-rata hari muncul tunas adalah 5.50 hari dan 5.55 hari, rata-rata persen perkecambahan adalah 63.55% dan 61.40%, rata-rata skor penampilan tunas adalah 2.85 dan 2.75 serta rata-rata panjang tunas adalah 2.84 cm dan 2.67 cm. 
Kearifan Ekologi Orang Baduy dalam Konservasi Padi dengan "Sistem Leuit" iskandar, Johan; Iskandar, Budiawati Supangkat
Jurnal Biodjati Vol 2 No 1 (2017): Jurnal Biodjati, Vol II, Nomor 1, Mei 2017
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/biodjati.v2i1.1289

Abstract

ABSTRAKDitilik dari sejarah ekologi, di masa silam sebelum ada program moderniasi usaha tani sawah melalui program Revolusi Hijau, para petani sawah di Jawa Barat dan Banten guyub menyimpan padi hasil panen padi di lumbung (leuit). Kini sistem lumbung padi tersebut hampir punah di Jawa Barat dan Banten. Namun masyarakat Baduy yang bermukim di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten Selatan, kebiasaan menyimpan padi pada sistem leuit masih kokoh dipertahankan secara lekat budaya dan berkelanjutan. Paper ini mendiskusikan tentang kearifan ekologi Orang Baduy dalam mengkonservasi padi dengan  sistem leuit. Metoda penelitian menggunakan kualitatif dengan pendekatan etnoekologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Orang Baduy memiliki kearifan ekologi, seperti mampu menyimpan padi ladang hasil panen mereka pada lumbung padi (leuit) secara  tahan lama dalam kurun waktu hingga puluhan tahun. Padi ladang utamanya hanya digunakan untuk memenuhi berbagai upacara adat dalam kegiatan berladang dan untuk dikonsumsi sehari-hari, terutama apabila Orang Baduy tidak memiliki cukup uang untuk membeli beras sawah dari warung. Maka, seyogianya kearifan ekologi Orang Baduy ini dapat dipadukan dengan pengetahuan ilmiah Barat, guna dimanfaatkan dalam progam pemangunan keamanan dan ketahanan pangan secara berkelanjutan berbasis pemberdayan masyarat di Indonesia.
Struktur Komunitas Fitoplankton pada Berbagai Kedalaman di Pantai Timur Pananjung Pangandaran Rosada, Keukeu Kaniawati; ., Sunardi; Pribadi, Tri Dewi Kusumaningrum; Putri, Selviani Asmara
Jurnal Biodjati Vol 2 No 1 (2017): Jurnal Biodjati, Vol II, Nomor 1, Mei 2017
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/biodjati.v2i1.1290

Abstract

Struktur komunitas fitoplankton pada suatu ekosistem perairan sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Studi mengenai struktur komunitas fitoplankton di Pantai Timur Pananjung Pangandaran pada berbagai kedalaman yang dihubungan dengan faktor fisikokimia lingkungan telah dilakukan. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode survei. Sampel fitoplankton dan air diambil selama tiga hari berturut-turut pada empat kedalaman yang berbeda dengan interval kedalaman masing-masing tiga meter. Faktor fisikokimia yang dianalisis ialah temperatur, pH, transparansi, salinitas, konduktivitas, DO, BOD, CO2 dan HCO3-. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Pantai Timur Pananjung Pangandaran ditemukan 15 jenis fitoplankton dari lima kelas yaitu Coleophyceae, Dinophyceae, Oligotrichea, Coscinodiscophyceae, dan Bacillariophyceae. Jenis fitoplankton yang mendominasi bagian permukaan ialah Navicula sp. dari kelas Dinophyceae sedangkan pada kedalaman 3, 6, dan 9 meter didominasi oleh jenis fitoplankton yang sama yaitu Coscinodiscus sp. dari kelas Coscinodiscophyceae. Secara umum, kelimpahan jenis fitoplankton tertinggi ialah pada kedalaman tiga meter yang didukung oleh kondisi lingkungan yang optimal disertai penetrasi cahaya matahari yang cukup. Berdasarkan analisis PCA, kedalaman tersebut dikarakterisasi terutama oleh Coscinodiscus sp. dan DO. Selanjutnya, berdasarkan indeks diversitas Shannon-Wiener Pantai Timur Pananjung Pangandaran termasuk ke dalam perairan tercemar ringan.       
Efektifitas Penyiangan Terhadap Hasil Tanaman Wortel (Daucus carota L.) Lokal Cipanas Bogor Sobari, Enceng; Fathurohman, Ferdi
Jurnal Biodjati Vol 2 No 1 (2017): Jurnal Biodjati, Vol II, Nomor 1, Mei 2017
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/biodjati.v2i1.1292

Abstract

Potensi tanaman lokal di Indonesia sebagai bahan konsumsi pangan memiliki peranan penting. Wortel merupakan sayuran yang memiliki peranan penting dalam penyediaan bahan pangan bagi manusia. Sayuran wortel sebagai sumber vitamin A, digunakan sebagai bahan baku kosmetik dan memiliki khasiat obat karena kandungan beta karoten. Rendahnya hasil produksi wortel dapat disebabkan teknik budidaya yang belum intensif dan diperparah oleh keberadaan gulma yang dapat menimbulkan kerugian baik secara kualitas maupun kuantitas. Kerugian yang disebabkan oleh gulma perlu pengendalian dengan cara manual, selektif, dan ramah lingkungan salah satunya dengan penyiangan. Tujuan penelitian mengetahui besarnya pengaruh penyiangan yang dilakukan terhadap hasil tanaman wortel. Percobaan dilaksanakan di Desa Cikandang Lebak Kecamatan Cikajang Kabupaten Garut menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tujuh perlakuan dan empat kali ulangan menggunakan benih wortel kultivar lokal Cipanas Bogor. Karakter hasil yang diamati  adalah Bobot Segar Daun per Tanaman, Bobot Kering Daun per Tanaman, Bobot Berangkasan per Tanaman, Bobot Bersih Umbi per Tanaman, Bobot Berangkasan per Petak, Bobot Bersih Umbi per Petak. Hasil penelitian menunjukkan siginifikan pada seluruh karakter yang diamati yaitu 10.22, 3.38, 69.25, 58.18, 13.52, 11.38 penyiangan sebanyak tiga kali dan  10.26, 3.45, 71.48, 60.08, 13.72, 11.54 penyiangan sebanyak empat kali yang menunjukkan potensi hasil yang paling tinggi. Â