cover
Contact Name
Fani Fauziah
Contact Email
fanif6@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
pptksharingknowledge@gmail.com
Editorial Address
Pusat Penelitian Teh dan Kina, Gambung, Desa Mekarsari, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat 40972
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Sains Teh dan Kina
ISSN : -     EISSN : 29622034     DOI : -
Jurnal Penelitian Teh dan Kina is a national journal providing rapid publication of peer-reviewed articles concerned with tea and cinchona commodities based on the aspects, agronomy, plant breeding, soil science, crop protection, postharvest technology and social economy. Papers dealing with result of original research on the above aspects are welcomed with no page charge.
Articles 226 Documents
Respons Pertumbuhan 16 Genotipe Teh (Camellia sinensis var. Assamica) Terhadap Pupuk Cair Anorganik Pasca Tercekam Durotun Nafisa; Heri Syahrian; Vitria Puspitasari Rahadi; Adolf Pieter Lontoh; Dwi Guntoro; M. Khais Prayoga
Jurnal Penelitian Teh dan Kina Vol 2 No 1 (2023): Jurnal Sains Teh dan Kina
Publisher : Research Institute for Tea and Cinchona

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/pptk.jur.jstk.v2i1.175

Abstract

Pembibitan merupakan fase paling rentan pada tanaman, sehingga membutuhkan pemeliharaan yang tepat. Pertumbuhan bibit teh dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal seperti genotipe tanaman dan kondisi tanah. Kekurangan unsur hara dapat menyebabkan tanaman mengalami penghambatan pertumbuhan. Pemupukan menjadi salah satu cara untuk memulihkan kembali tanaman yang mengalami defisiensi unsur hara, oleh karena itu dilakukan pengujian pemulihan beberapa genotipe bibit tanaman teh yang telah mengalami cekaman unsur hara karena tidak mendapatkan pemeliharaan yang optimal dengan pengaplikasian pupuk anorganik cair. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui respons pertumbuhan 16 genotipe teh terhadap pupuk anorganik cair pasca tercekam. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) satu faktor dengan tiga kali ulangan. Perlakuannya yaitu 16 genotipe teh yang berbeda dengan pemupukan menggunakan pupuk anorganik cair (Glow Green) satu taraf dosis (6 ml/L) setiap dua minggu sekali. Karakter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, dan diameter batang. Data dianalisis menggunakan uji ANOVA dilanjutkan uji lanjut BNJ. Hasil dari penelitian ini adalah perbedaan genotipe teh yang diuji berpengaruh terhadap perbedaan respons pertumbuhan tinggi tanaman, diameter batang, dan jumlah daun namun tidak terdapat perbedaan yang nyata pada penambahan pertumbuhan setiap karakter pasca pemupukan pada setiap minggunya. Ke 16 genotipe teh yang diuji secara umum memberikan respons yang sama terhadap pengaplikaisan pupuk anorganik cair pasca tercekam.
Perubahan Pigmen Klorofil dan Karotenoid serta Warna Bubuk Teh Hijau dari Berbagai Klon pada Kondisi Penyimpanan Berbeda M Iqbal Prawira-Atmaja; Itsna Ade Mauliyah; Fathynaturrozanah; Yehezkiel Kenzi Putra; Sugeng Harianto; Shabri; Hilman Maulana
Jurnal Penelitian Teh dan Kina Vol 2 No 2 (2023): Jurnal Sains Teh dan Kina
Publisher : Research Institute for Tea and Cinchona

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/pptk.jur.jstk.v2i2.176

Abstract

Klorofil merupakan pigmen warna yang berperan terhadap kualitas bubuk teh hijau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan pigmen klorofil dan karotenoid serta perubahan warna bubuk teh hijau dari klon GMB 3, GMB 9 dan GMBS 4 selama penyimpanan. Bubuk teh hijau dikemas pada standing pouch dengan lapisan dalam full alumunium foil. Bubuk teh hijau yang telah dikemas kemudian disimpan pada ruangan berbeda dengan kondisi: (a) bubuk teh hijau yang langsung dianalisis setelah proses pembuatan (Kontrol); (b) refrigerator dengan RH 40±1% dan suhu 9±1℃ KGTP); dan (c) ruangan dengan RH ≤60% dan suhu 20±3℃ (RGTP). Pigmen klorofil dan karotenoid serta perubahan warna dianalisis menggunakan color reader dan menggunakan two ways ANOVA serta uji Tukey. Hasil menunjukkan bahwa warna pigmen klorofil dan karotenoid bubuk teh hijau dipengaruhi oleh jenis klon. Selama penyimpanan, terjadi penurunan pigmen warna klorofil dan karotenoid yang kemungkinan disebabkan oleh aktivitas enzim klorofilase dan pengaruh kelembapan dan suhu. Penyimpanan suhu rendah berperan signifikan dalam menjaga stabilitas pigmen klorofil dan warna hijau. Hasil menunjukkan klon GMBS 4 lebih mudah mengalami perubahan warna dan GMB 3 merupakan jenis klon dengan kestabilan klorofil dan warna terbaik selama penyimpanan. Klorofil merupakan pigmen warna yang berperan dalam kualitas bubuk teh hijau.
Taksasi Taksasi Setek Sembilan Calon Klon Unggul Baru Teh (Camellia sinensis Var. Assamica) Galuh Mailanda Pramudya; Heri Syahrian; M. Khais Prayoga; Vitria Puspitasari Rahadi; Eko Pramono
Jurnal Penelitian Teh dan Kina Vol 2 No 2 (2023): Jurnal Sains Teh dan Kina
Publisher : Research Institute for Tea and Cinchona

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/pptk.jur.jstk.v2i2.177

Abstract

Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) memiliki sembilan calon klon unggul baru yang diperkirakan memiliki potensi hasil yang cukup tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh informasi kemampuan sembilan calon klon unggul baru teh dalam menghasilkan setekres sebagai bahan pembibitan. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Gambung Pusat Penelitian Teh dan Kina. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) satu faktor yaitu sembilan calon klon unggul baru (I.35.8, klon II.6.10, klon II.10.11, klon II.13.2, klon II.32.15, klon III.2.15, klon III.22.15, klon III.28.4, dan klon III.36.10) dan diulang sebanyak tiga kali. Karakter pengamatan antaralain Jumlah setekres per pohon, panjang setekres, jumlah setek per setekres, panjang internoda taksasi setek per pohon, dan taksasi setek per hektar. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analysis of variance (anova) dan dilanjutkan dengan uji lanjut beda nyata jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antar klon pada karakter panjang setekres, adanya perbedaan yang sangat nyata pada karakter jumlah setek per setekres dan panjang internodia, serta tidak ada perbedaan yang nyata pada karakter jumlah setekres per pohon, Taksasi setek per pohon, dan taksasi setek per hektar. Taksasi dari sembilan klon calon unggul baru teh berkisar antara 92,39 sampai dengan 269,01 setek perpohon atau 552.395 sampai dengan 1.608.417 setek per hektar.
Pengendalian Kualitas pada Proses Pengolahan Teh Hijau Menggunakan Metode Lean Six Sigma Putri Wilujeng Lestari; Selly Harnesa Putri; M Iqbal Prawira-Atmaja; Totok Pujianto
Jurnal Penelitian Teh dan Kina Vol 2 No 2 (2023): Jurnal Sains Teh dan Kina
Publisher : Research Institute for Tea and Cinchona

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/pptk.jur.jstk.v2i2.181

Abstract

Teh hijau diproduksi dengan cara inaktivasi enzim polifenol oksidase pada daun teh pada suhu 90-110°C. Kualitas teh hijau dipengaruhi oleh kualitas pucuk yang digunakan untuk pengolahan teh. Kualitas bahan baku pucuk teh yang dipetik dianalisis PMS (pucuk memenuhi syarat), sebaliknya, mutu produk teh yang dihasilkan dianalisis berdasarkan persentase grade dan organoleptik. Penelitian ini menggunakan metode lean six sigma yang bertujuan untuk menganalisis parameter kualitas produk yang dihasilkan dan mengidentifikasi pemborosan yang terjadi dalam proses pengolahan teh hijau di pabrik teh hijau PPTK, serta mengusulkan perbaikan dalam pengendalian kualitas teh hijau. Metode lean six sigma dengan tahapan DMAI untuk mengidentifikasi permasalahan dan penyebabnya dalam proses pengolahan teh hijau. Parameter penelitian ini yaitu proses pengolahan teh hijau dan produk yang dihasilkannya. Teh hijau kualitas terbaik mengandung komposisi grade peko yang lebih tinggi. Hasil penelitian menunjukkan persentase jikeng lebih banyak dibanding grade lain. Kualitas produk teh hijau telah memenuhi persyaratan SNI teh hijau berdasarkan parameter kadar air, ketampakan teh hijau kering, air seduhan, dan ampas seduhan. Grade batang menunjukkan ketidaksesuaian pada produk teh hijau yang disebabkan oleh faktor bahan baku pucuk teh, mesin, tenaga kerja dan lingkungan. Pemborosan yang terjadi dalam proses pengolahan teh hijau adalah defect dan waiting yang disebabkan oleh faktor bahan baku, mesin, metode, dan tenaga kerja. Pengendalian kualitas perlu ditingkatkan untuk meningkatkan kualitas produk teh hijau dan meminimalisasi terjadinya pemborosan dalam proses pengolahan teh hijau.
Identifikasi Keragaman dan Dominansi Gulma di Perkebunan Teh, Pusat Penelitian Teh dan Kina Nurul Afiyah; Yudiwanti Wahyu Endro Kusumo; Sofyan Zaman; Fani Fauziah
Jurnal Penelitian Teh dan Kina Vol 2 No 2 (2023): Jurnal Sains Teh dan Kina
Publisher : Research Institute for Tea and Cinchona

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/pptk.jur.jstk.v2i2.183

Abstract

Budidaya tanaman teh tidak lepas dari proses pemeliharaan yang salah satunya adalah pengendalian gulma. Gulma merupakan tumbuhan liar yang tumbuh di sekitar tanaman budidaya yang kehadirannya merugikan tanaman budidaya. Pengendalian gulma perlu dilakukan agar tanaman dapat dibudidayakan secara produktif dan efisien. Dominansi gulma dapat membantu mengidentifikasi gulma di suatu areal sehingga pengendalian gulma dapat dilakukan secara efektif dan efisien. Penelitian ini dilaksanakan di Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK), Gambung pada bulan Januari hingga Mei 2022. Pengamatan metode analisis vegetasi yang digunakan adalah metode kuadran di masing-masing blok kebun berdasarkan tahun pangkas. Gulma yang teridentifikasi di perkebunan teh sebanyak 44 jenis yang terbagi berdasarkan 3 golongan yaitu 38 jenis gulma berdaun lebar, 2 jenis gulma teki, dan 4 jenis gulma rumput. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa gulma yang tumbuh pada Tahun Pangkas 1 didominansi oleh Commelina benghalensis, Tahun Pangkas 2 didominansi oleh Mitracarpus hirtus, Tahun Pangks 3 dan 4 didominansi oleh Ageratum conyzoides. Nilai koefisien komunitas antar tahun pangkas < 70% yang artinya populasi gulma tersebut heterogen. Pengendalian gulma secara manual menggunakan parang dan secara kimiawi menggunakan herbisida yang disemprotkan dengan menggunakan knapsack sprayer. Herbisida yang digunakan berbahan aktif Isopropilamina glifosat dengan dosis berkisar 2 L/ha, konsentrasi 5–5,3 mL/L dan volume semprot 375–400 L/ha. Waktu aplikasi pengendalian gulma secara kimiawi di perkebunan teh dilakukan pada pagi hari.
Uji Beberapa Senyawa Volatil Sebagai Atraktan Empoasca flavescens di Perkebunan Teh Fathiannisa; Fani Fauziah
Jurnal Penelitian Teh dan Kina Vol 2 No 2 (2023): Jurnal Sains Teh dan Kina
Publisher : Research Institute for Tea and Cinchona

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wereng pucuk teh, Empoasca flavescens, merupakan hama utama yang umum di perkebunan teh. Analisis senyawa volatil yang dihasilkan oleh tanaman teh telah dilakukan untuk mengidentifikasi senyawa volatil yang berpotensi sebagai atraktan E. flavescens. E. flavescens diketahui tertarik pada 3-hexen-1-ol, β-ocimene, dan metil salisilat. Penelitian ini merupakan tahap awal pengembangan formulasi atraktan, yaitu pengujian respons perilaku E. flavescens terhadap senyawa-senyawa volatil di laboratorium dan pengujian di lapangan. Hasil percobaan di laboratorium menunjukkan bahwa senyawa 3-hexen-1-ol memiliki merupakan senyawa yang paling disukai oleh E. flavescens. Sementara itu, uji lapangan menunjukkan bahwa modifikasi sticky trap berwarna merah dan senyawa volatil lebih menarik bagi E. flavescens dibandingkan kontrol. Perlakuan 3-hexen-1-ol memiliki persentase E. flavescens yang terperangkap paling tinggi dengan rata-rata Empoasca yang terperangkap sebanyak 0,3 - 5 ekor/perangkap.
Kekerabatan Genetik 50 Klon Kina (Cinchona ledgeriana) Berdasarkan Karakter Morfologi pada Fase Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) Vina Dwiayu Wardhani; Vitria Puspitasari, Rahadi; Heri, Syahrian; M. Khais, Prayoga
Jurnal Penelitian Teh dan Kina Vol 3 No 1 (2024): Jurnal Sains Teh dan Kina
Publisher : Pusat Penelitian Teh dan Kina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/pptk.jur.jstk.v3i1.178

Abstract

Kina (Cinchona) merupakan tanaman yang banyak dibudidayakan di Indonesia karena memiliki kandungan alkaloid, kinin sulfat, dan saponin yang baik untuk kesehatan manusia. Untuk merakit varietas unggul baru melalui persilangan buatan perlu diketahui data tingkat kekerabatan antar klon terlebih dahulu dalam memilih tetua. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui tingkat kekerabatan 50 klon koleksi plasma nutfah kina berdasarkan karakter morfologi. Penelitian dilaksanakan di kebun kina Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, mulai bulan Juli sampai Agustus 2022. Karakter morfologi tanaman kina yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, panjang daun, lebar daun, bentuk daun, bentuk pangkal daun, dan jumlah tulang daun. Tingkat kekerabatan 50 klon kina ditentukan dengan metode analisis komponen utama (Principal Component Analysis/PCA) dan analisis klaster (Cluster Analysis) dengan menggunakan aplikasi PAST3 sehingga menghasilkan dendrogram antar klon kina. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 50 klon plasma nutfah kina yang diteliti memiliki keragaman pada karakter morfologi tinggi tanaman, jumlah daun, dan bentuk daun dengan nilai koefisien keragaman masing-masing 32,09%, 36,36%, dan 48,85%. Hasil dendrogram 50 klon tersebut terbagi menjadi 4 kelompok pada titik potong jarak di atas skala 25, sedangkan jarak ketidakmiripan mencapai skala 40. Kelompok I terdiri dari 14 klon dengan karakteristik morfologi bentuk daun tipe 2. Kelompok II terdiri dari 2 klon dengan karakteristik morfologi bentuk daun tipe 1. Kelompok III terdiri dari 26 klon dengan karakteristik morfologi bentuk daun tipe 3. Sedangkan kelompok IV terdiri dari 6 klon dengan morfologi bentuk daun tipe 4.
Potensi Ekstrak Gulma Bandotan (Ageratum conyzoides) dan Pegagan (Centella asiatica) sebagai Biopestisida Terhadap Hama Empoasca flavescens pada Tanaman Teh Astrakusuma, Ratu Salsabila; Fauziah, Fani
Jurnal Penelitian Teh dan Kina Vol 3 No 1 (2024): Jurnal Sains Teh dan Kina
Publisher : Pusat Penelitian Teh dan Kina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/pptk.jur.jstk.v3i1.182

Abstract

Empoasca flavescens merupakan hama dominan pada budidaya tanaman teh di Indonesia. Hama ini dapat menurunkan produksi teh hingga 50% dalam 45 hari. Di sisi lain, tumbuhan bandotan (Ageratum conyzoides) dan pegagan (Centella asiatica) merupakan gulma yang sering ditemukan di area perkebunan teh. Kedua tumbuhan ini mengandung flavonoid, metabolit sekunder yang telah dilaporkan dapat menghambat metabolisme serangga dan hama. Maka dari itu, gulma bandotan dan pegagan berpotensi digunakan sebagai biopestisida. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan respons olfaktometri dari hama E. flavescens terhadap ekstrak gulma bandotan dan pegagan. Kadar flavonoid juga diukur dengan metode spektrofotometri UV-Vis berdasarkan pembentukan kompleks aluminium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hama E. flavescens secara signifikan menghindari larutan 10% dan 50% (b/v) ekstrak gulma dalam pelarut etanol 70%. Konsentrasi (% b/v) dan jenis pelarut ekstrak berpengaruh signifikan pada kadar flavonoid, dengan kadar flavonoid tertinggi terdapat dalam larutan 50% (b/v) ekstrak gulma pegagan dalam etanol 70%. Kadar flavonoid yang semakin tinggi ini berkorelasi dengan respons olfaktometri dari hama, sehingga ekstrak gulma bandotan dan pegagan berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai biopestisida komoditas teh. Penggunaan ekstrak gulma sebagai biopestisida akan sekaligus mengatasi masalah gulma dan hama pada tanaman teh, sehingga dapat menaikkan kualitas dan produksi komoditas teh Indonesia.
Preferensi Serangga di Perkebunan Teh PPTK Gambung terhadap Perangkap Warna Hashima Mega Pertiwi; Fani, Fauziah
Jurnal Penelitian Teh dan Kina Vol 3 No 1 (2024): Jurnal Sains Teh dan Kina
Publisher : Pusat Penelitian Teh dan Kina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/pptk.jur.jstk.v3i1.185

Abstract

Serangga dapat ditemukan di hampir seluruh daerah karena memiliki tingkat adaptasi yang baik. Khusus pada bidang pertanian, serangga dapat berdampak positif maupun negatif. Maka dari itu, dilakukan pemantauan serangga atau monitoring. Selain itu, karena mereka memiliki mata yang mampu menangkap gelombang warna berbeda, menyebabkan serangga memiliki preferensi masing-masing terhadap warna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman serangga di kebun teh PPTK Gambung dan mengetahui preferensi serangga terhadap perangkap warna. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Purposive Sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 7 Ordo seranggga yang terdiri dari Ordo Hymenoptera (48%), Diptera (41%), Hemiptera (8%), Lepidoptera (2%), Coleoptera (1%), dan Odonata (<1%). Serta membuktikan bahwa perangkap berwarna merah menarik serangga lebih banyak daripada warna kuning, hijau, dan biru pada perkebunan PPTK Gambung.
Biodiversitas Serangga Tanah di Perkebunan Teh PPTK Gambung Cahya, Martyas Adi; Maharani, Indika Rona; Fauziah, Fani
Jurnal Penelitian Teh dan Kina Vol 3 No 1 (2024): Jurnal Sains Teh dan Kina
Publisher : Pusat Penelitian Teh dan Kina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/pptk.jur.jstk.v3i1.186

Abstract

Perkebunan teh (Camellia sinensis L.) merupakan suatu agroekosistem kompleks yang dihuni oleh berbagai flora dan fauna. Serangga tanah menjadi salah satu fauna yang habitatnya di perkebunan teh, khususnya di atas permukaan atau di dalam tanah. Serangga tanah memiliki beragam fungsi dalam ekosistem. Keragaman atau biodiversitas menjadi indikator keseimbangan ekosistem dan menggambarkan proses berjalannya jaring-jaring makanan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui biodiversitas serangga tanah di perkebunan teh Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gambung. Sampel penelitian diambil dari 8 blok berbeda dengan masing-masing 3 titik sampel menggunakan metode pitfall trap. Serangga tanah yang diperoleh selanjutnya dikoleksi dan diidentifikasi. Data dianalisis dengan menghitung persentase serangga berdasarkan ordo dan spesies. Indeks Shannon-Wiener digunakan untuk menganalisis diversitas serangga tanah. Jumlah serangga tanah yang diperoleh, yaitu 285 individu yang terdiri atas 6 ordo, 8 famili, dan 13 spesies. Hasil analisis menunjukkan bahwa Diacamma sp. menjadi spesies yang dominan dengan persentase 73% dan termasuk dalam Ordo Hymenoptera (Famili: Formicidae) yang memiliki persentase 88,1%. Biodiversitas serangga tanah di perkebunan teh PPTK Gambung tergolong sedang dengan nilai Indeks Shannon-Wiener sebesar 1,11.