cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
THE JOURNAL OF MUHAMMADIYAH MEDICAL LABORATORY TECHNOLOGIST
ISSN : 25973681     EISSN : 26142805     DOI : -
Core Subject : Health,
Merupakan media publikasi ilmiah yang memuat berbagai artikel ilmiah hasil tinjauan pustaka, dan hasil penelitian dalam bidang ilmu Patologi Klinik, Hematologi, Mikrobiologi, Parasitologi, Imunologi, Sitohistoteknologi, Kimia Kesehatan dan Ilmu Teknologi Laboratorium Medik
Arjuna Subject : -
Articles 210 Documents
A ANALISIS PENGARUH DURASI PENYIMPANAN SAMPEL URIN TERHADAP TOTAL BAKTERI PADA PENDERITA DIABETES MELITUS Niken Rositasari; Dita Artanti; Ainutajriani; Vella Rohmayani
THE JOURNAL OF MUHAMMADIYAH MEDICAL LABORATORY TECHNOLOGIST Vol 8 No 2 (2025): The Journal of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmlt.v7i2.30343

Abstract

Latar belakang : Diabetes Melitus (DM) merupakan gangguan metabolik kronik dengan ditandai hiperglikemia. Penderita DM rentan mengalami infeksi saluran kemih (ISK) karena tingginya kadar glukosa dalam urin yang mendukung pertumbuhan bakteri. Pemeriksaan urin yang tertunda dapat mempengaruhi akurasi hasil, khususnya dalam pemeriksaan total bakteri. Tujuan : Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hasil pemeriksaan total bakteri pada urin pasien DM berdasarkan penyimpanan sampel pada suhu ruang dengan perlakuan lama waktu penyimpanan sampel 0 jam, 3 jam, 5 jam, dan 7 jam. Metode : Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratorium dengan desain cross- sectional. Sampel urin pasien DM diambil secara midstream, lalu dilakukan pemeriksaan total bakteri menggunakan teknik kultur kuantitatif (colony counting/teknik mayo). Hasil uji berupa jumlah koloni yang tumbuh pada media MacConkey Agar dikalikan 102 CFU/mL. Data dianalisis menggunakan uji statistik non-parametrik menggunakan uji Spearman sesuai distribusi data. Hasil : Berdasarkan hasil penelitian pada pemeriksaan segera (0 jam) didapatkan rata-rata jumlah koloni sebesar 3,78 x 102 CFU/mL, setelah dilakukan penyimpanan pada suhu ruang dengan waktu penundaan pemeriksaan 3 jam didapatkan rata-rata jumlah koloni sebesar 22,72 x 102 CFU/mL, pada penundaan pemeriksaan 5 jam sebesar 41,89 x 102 CFU/mL, dan pada penundaan pemeriksaan 7 jam sebesar 69,83 x 102 CFU/mL. Sedangkan hasil uji spearman menunjukkan nilai koefisien korelasi lebih besar dari nilai signifikansi (p) 0.000 yaitu 0.973, yang berarti lama penundaan pemeriksaan berpengaruh terhadap jumlah koloni bakteri. Kata kunci: Diabetes Melitus, pemeriksaan total bakteri, waktu penyimpanan, suhu ruang Background: Diabetes Mellitus (DM) is a chronic metabolic disorder characterized by hyperglycemia. The DM patients are susceptible to urinary tract infections (UTIs) due to high glucose levels in the urine, which support bacterial growth. Delayed urine tests can affect the accuracy of results, particularly for total bacteria tests. Objective: This study aimed to determine the results of total bacteria tests in urine of DM patients based on sample storage at room temperature, with sample storage times of 0, 3, 5, and 7 hours. Methods: This was a laboratory experiment with a cross-sectional design. Urine samples from DM patients were collected midstream, then total bacteria were examined using quantitative culture techniques (colony counting/Mayo technique). The test results were the number of colonies grown on MacConkey Agar media multiplied by 102 CFU/mL. Data were analyzed using non- parametric statistical tests using the Spearman test based on the data distribution. Results: Based on the results of the study, the immediate examination (0 hour) yielded an average colony count of 3.78 x 102 CFU/mL. After storage at room temperature with a 3-hour delay, the average colony count was 22.72 x 102 CFU/mL. After a 5-hour delay, it was 41.89 x 102 CFU/mL, and then after a 7-hour delay, it was 69.83 x 102 CFU/mL. The Spearman test showed a correlation coefficient greater than the significance level (p) of 0.000, indicating that the length of the delay affected the number of bacterial colonies. Keywords: Diabetes Mellitus, total bacterial examination, storage time, room temperature
Perbandingan Konsentrasi RNA SARS CoV-2 dari Hasil Ekstraksi Menggunakan Metode Spin Column Manual dan Magnetic Beads Otomatis Puji Lestari; Nisa Kamilia Elsandra; Eva Ayu Maharani; Dewi Astuti; Burhanudin
THE JOURNAL OF MUHAMMADIYAH MEDICAL LABORATORY TECHNOLOGIST Vol 8 No 2 (2025): The Journal of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmlt.v7i2.26215

Abstract

Kasus Covid-19 telah menurun, namun tetap ada permintaan pemeriksaan Covid-19 dalam jumlah kecil. Metode ekstraksi RNA SARS CoV-2 telah banyak dikembangkan, mulai dari yang bersifat manual hingga otomatisasi. Metode otomatisasi lebih cepat dan efisien karena dapat melakukan ekstraksi banyak sampel per sekali pemeriksaan, namun biaya operasional alat cukup mahal. Jumlah permintaan pemeriksaan yang tidak banyak menyebabkan metode otomatisasi ini tidak efisien dalam hal biaya, sehingga perlu ditempuh usaha alternatif menggunakan metode manual. Perbedaan metode ekstraksi dapat memengaruhi konsentrasi RNA, sehingga pemilihan metode ekstraksi RNA yang tepat menjadi penting supaya didapatkan diagnosis yang akurat. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan konsentrasi RNA SARS CoV-2 dari hasil ekstraksi menggunakan metode spin column manual dan magnetic beads otomatis. Jenis penelitian ini adalah analitis numerik tidak berpasangan yang dilaksanakan di GSI Lab pada bulan April sampai Juni 2024. Penelitian ini menggunakan 30 sampel positif Covid-19 yang dilakukan ekstraksi dengan metode spin column manual dan magnetic beads otomatis. Hasil penelitian ini diuji dengan Mann Whitney. Konsentrasi RNA pada metode ekstraksi spin column manual dan magnetic beads otomatis berturut-turut adalah 3,9 (1,68 – 36,17) ng/µL dan 7,96 (2,28 – 113,59) ng/µL. Hasil uji Mann Whitney adalah 0,00 (nilai p< 0,05), yang berarti terdapat perbedaan yang bermakna antara hasil ekstraksi RNA dengan metode spin column manual dan magnetic beads otomatis. Keterbatasan penelitian ini adalah tidak mengkonfirmasi hasilnya dengan real time PCR.
ANALISA MUTU PERBANDINGAN PEMERIKSAAN SAMPEL KUKU PETANI MENGGUNAKAN METODE FLOTASI NaCl JENUH DAN PENGENDAPAN NaOH 0,25% Lilik Mursidah; Vella Rohmayani; Ainutajriani; Diah Ariana
THE JOURNAL OF MUHAMMADIYAH MEDICAL LABORATORY TECHNOLOGIST Vol 9 No 1 (2026): The Journal of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmlt.v9i1.30507

Abstract

Infeksi kecacingan merupakan suatu kondisi patologis yang disebabkan oleh infeksi parasit cacing yang menyerang tubuh manusia lalu berkembang biak dan menimbulkan penyakit. Orang yang memiliki resiko tinggi untuk terinfeksi Soil Transmitted Helminths (STH) adalah orang yang sering melakukan kontak langsung dengan tanah, petani merupakan salah satu yang rentan terinfeksi kecacingan, karena pekerjaannya sering kali melakukan kontak langsung dengan tanah. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan mutu pemeriksaan sampel kuku petani Sidorejo menggunakan metode flotasi NaCl jenuh dan metode pengendapan NaOH 0,25%. Metode:  Jenis penelitian menggunakan desain cross sectional. Populasi dari penelitian ini adalah petani di Sidorejo Kecamatan Sugio Kabupaten Lamongan dan diperoleh sampel 50 orang menggunakan teknik purposive random sampling. Teknik analisis data menggunakan Uji Mann-Whitney yang sebelumnya dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas. Hasil: Secara kuantitatif, perbandingan mutu antara pemeriksaan sampel kuku petani menggunakan metode flotasi NaCl jenuh dan pengendapan NaOH 0,25% diperoleh hasil sebagai berikut: pada metode pengendapan NaOH 0,25% ditemukan telur cacing Ascaris lumbricoides pada sampel positif kecacingan. Sedangkan pada metode NaCl jenuh tidak ditemukan hasil positif. Kesimpulan: Metode pengendapan NaOH 0,25% lebih efektif dan unggul untuk mendeteksi STH karena mampu mendeteksi telur cacing Ascaris lumbricoides. Bagi masyarakat sangat dianjurkan untuk meningkatkan kesadaran terhadap praktik kebersihan diri, terutama kebersihan kuku tangan dan kaki sebagai upaya pencegahan infeksi STH.
PERBEDAAN PROTEIN URIN SEMI KUANTITATIF METODE ASAM ASETAT YANG DIPERIKSA LANGSUNG DAN DITUNDA MENGGUNAKAN PENGAWET THYMOL Siti Desyi Nur Aini; Herlisa Anggraini; Ragil Saptaningtyas; Fitri Nuroini
THE JOURNAL OF MUHAMMADIYAH MEDICAL LABORATORY TECHNOLOGIST Vol 9 No 1 (2026): The Journal of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmlt.v9i1.31122

Abstract

Pemeriksaan protein urin merupakan salah satu parameter penting dalam deteksi dini gangguan fungsi ginjal. Keterlambatan pemeriksaan dapat mempengaruhi hasil analisis; oleh karena itu, bahan pengawet seperti timol diperlukan untuk menjaga stabilitas sampel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil protein urin menggunakan metode asam asetat antara pemeriksaan segera dan pemeriksaan tertunda menggunakan timol. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Sebanyak 16 sampel urin positif protein dari pasien di Puskesmas Sawangan Magelang, dilakukan pemeriksaan semi kuantitatif dengan menggunakan asam asetat 6% dengan dua kondisi, pemeriksaan urin langsung dan urin tertunda selama 2 jam dengan timol, menggunakan skala ordinal dari positif (+1) hingga positif (+4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemeriksaan urin langsung didominasi pada kadar positif (+2) sebesar 37,5%, sedangkan pemeriksaan tertunda menggunakan timol juga menunjukkan dominasi pada kadar positif (+2) sebesar 50%. Analisis statistik menggunakan uji Wilcoxon menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna (p > 0,05) yang berarti penundaan pemeriksaan dengan menggunakan bahan pengawet timol tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap kadar protein urin.
ANALISIS NILAI NLR (Neutrophil-Lymphocyte Ratio) PADA PASIEN COVID-19 DENGAN KOMORDIBITAS DIABETES MELLITUS Anggraini Chaya Dwi Putri; Ellies Tunjung Sari Maulidiyanti; Rahma Widyastuti; Abdul Aziz Alimul Hidayat
THE JOURNAL OF MUHAMMADIYAH MEDICAL LABORATORY TECHNOLOGIST Vol 9 No 1 (2026): The Journal of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmlt.v9i1.32825

Abstract

COVID-19 merupakan penyakit yang menginfeksi saluran respirasi. Pada penderita Diabetes Mellitus rentan terhadap infeksi virus COVID-19, hal ini dikarenakan adanya gangguan imunitas. Gangguan tersebut dapat memperparah infeksi dari virus yang masuk ke tubuh. Penderita COVID-19 dengan komorbid Diabetes Mellitus memiliki resiko mengalami kematian lebih besar dibandingkan dengan pasien yang tidak memiliki komorbid. Saat ini telah banyak pemeriksaan laboratorium yang digunakan untuk mendiagnosa COVID-19. Salah satu parameter pemeriksaan laboratorium yang digunakan untuk mendiagnosa adalah NLR (Neutrophil-Lymphocyte Ratio). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran nilai NLR (Neutrophil-Lymphocyte Ratio) pada pasien coronavirus (COVID-19) dengan komorbid Diabetes Mellitus. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif, dengan data yang diperoleh sebanyak 50 responden. Data yang digunakan didapatkan dari data rekam medik pasien COVID-19 di Rumah Sakit Brawijaya Surabaya dalam kurun waktu 1 tahun (Desember 2020 – Desember 2021). Hasil keseluruhan dari data tersebut didapatkan 19 sampel (38%) memiliki nilai NLR normal (< 3,13), dan 31 sampel (62%) memiliki nilai NLR diatas nilai normal.
Efektivitas Pemberian Ekstrak Kulit Jeruk Pacitan (Citrus sinensis) dengan Konsentrasi Berbeda terhadap Kandungan Formalin pada Ikan Asin Jambal Roti Nabila Yuretan; Nastiti Kartikorini; Siti Mardiyah; Diah Ariana
THE JOURNAL OF MUHAMMADIYAH MEDICAL LABORATORY TECHNOLOGIST Vol 9 No 1 (2026): The Journal of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmlt.v9i1.32826

Abstract

Ikan asin jambal roti berasal dari ikan lele (Arius thallasinus) yang merupakan salah satu jenis ikan asin yang terkenal di Indonesia. Istilah jambal roti digunakan karena memiliki tekstur daging yang mudah pecah setelah digoreng seperti roti panggang. Tingginya permintaan ikan asin jambal roti memaksa beberapa produsen melakukan berbagai cara agar ikan asinnya bisa bertahan lebih lama, salah satunya dengan menggunakan formalin. Saponin merupakan senyawa aktif yang dapat mengikat formalin pada ikan asin jambal roti. Senyawa aktif ini dapat ditemukan pada kulit jeruk Pacitan (Citrus sinensis). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian konsentrasi kulit jeruk pacitan terhadap penurunan kadar formalin pada ikan asin jambal roti. Jenis penelitian ini adalah metode eksperimen. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 25 sampel dengan 5 kali pengulangan. Perlakuan penelitian ini adalah konsentrasi 0%, 0,5%, 1%; 1,5%, dan 2%. Hasil penelitian menunjukkan formalin tertinggi pada konsentrasi 0% sebanyak 626,5 mg/L dan konsentrasi 2% paling efektif dengan rata-rata rendemen sebesar 402,4 mg/L. Dari hasil penelitian diketahui hasil uji normalitas berdistribusi normal dan hasil uji ANOVA sig = < 0,001 dimana sig < 0,05. Hipotesis alternatif (H1) diterima. Kesimpulannya terdapat pengaruh pemberian konsentrasi kulit jeruk pacitan terhadap penurunan kadar formalin pada ikan asin jambal roti. Tes Tukey dilanjutkan untuk menentukan pengobatan yang paling efektif.
Efek Waktu Penyimpanan Plasma Sitrat terhadap Hasil Uji Pemeriksaan Koagulasi Prothrombin Time (PT) dan Activated Partial Thromboplastin Time (APTT) Gerhana Dyah Yuni Ningtyas; Hartono Kahar; Siti Mardiyah3
THE JOURNAL OF MUHAMMADIYAH MEDICAL LABORATORY TECHNOLOGIST Vol 9 No 1 (2026): The Journal of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmlt.v9i1.32827

Abstract

Pemeriksaan Prothrombin Time (PT) dan Activated Partial Thromboplastin Time (APTT) merupakan pemeriksaan koagulasi yang penting dalam menegakkan diagnosis serta menentukan penatalaksanaan gangguan perdarahan. Dalam praktik laboratorium, keterbatasan sumber daya manusia dan alat sering menyebabkan keterlambatan pemeriksaan, sehingga sampel plasma sitrat harus disimpan sebelum dianalisis. Lama penyimpanan sampel berpotensi memengaruhi stabilitas faktor koagulasi dan keakuratan hasil pemeriksaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama penyimpanan sampel plasma sitrat terhadap hasil pemeriksaan PT dan APTT. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan perlakuan berdasarkan variasi lama penyimpanan. Sampel yang digunakan adalah plasma sitrat sebanyak 6 sampel. Pemeriksaan PT dan APTT dilakukan pada waktu penyimpanan 0 jam, 2 jam, 4 jam, dan 8 jam. Data diperoleh melalui pemeriksaan laboratorium dan dianalisis secara statistik menggunakan uji ANOVA untuk mengetahui perbedaan antar kelompok waktu penyimpanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai PT pada penyimpanan 0 jam, 2 jam, 4 jam, dan 8 jam berturut-turut adalah 14,17 detik; 12,17 detik; 14,83 detik; dan 31,43 detik. Sementara itu, rata-rata nilai APTT pada penyimpanan 0 jam, 2 jam, 4 jam, dan 8 jam berturut-turut adalah 27,00 detik; 26,83 detik; 20,17 detik; dan 18,17 detik. Analisis statistik menunjukkan bahwa lama penyimpanan plasma sitrat memberikan pengaruh yang bermakna terhadap hasil pemeriksaan PT dan APTT. Lama penyimpanan sampel plasma sitrat berpengaruh signifikan terhadap nilai PT dan APTT. Penundaan pemeriksaan dapat menyebabkan perubahan hasil yang berpotensi menimbulkan kesalahan interpretasi klinis. Oleh karena itu, pemeriksaan PT dan APTT disarankan dilakukan sesegera mungkin atau sesuai dengan batas waktu penyimpanan yang direkomendasikan.
Efektivitas Perendaman Dalam Larutan Garam Dengan Konsentrasi Berbeda Terhadap Kandungan Formalin Pada Tahu Elga Faya Putra Perdana; Siti Mardiyah; Diah Ariana; Fitrotin Azizah
THE JOURNAL OF MUHAMMADIYAH MEDICAL LABORATORY TECHNOLOGIST Vol 9 No 1 (2026): The Journal of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmlt.v9i1.32828

Abstract

Tahu merupakan bahan makanan yang banyak diminati oleh masyarakat di Indonesia. Daya simpan tahu sangat terbatas, pada kondisi biasa (suhu kamar) daya tahanya rata-rata 1 sampai 2 hari. Penyimpanan yang sangat relative singkat ini tentu merugikan para pedagang dan produsen. Apabila formalin yang tercampur dalam makanan dan termakan, maka dapat menyebabkan keracunan pada tubuh manusia.Untuk mengurangi kadar formalin dapat dilakukan dengan cara diantaranya melalui proses penggaraman, pada proses penggaraman terjadi penetrasi garam. Karena adanya perbedaan konsentrasi. Lama-kelamaan kecepatan proses pertukaran garam semakin lambat dan menurunkan bahkan berhenti sama sekali setelah terjadinya keseimbangan garam dengan konsentrasi tinggi akan menyerap cairan pada sampel yang memiliki konsentrasi yang lebih rendah.tujuan penelitian ini adalah umtuk mengidentifikasi ada tidaknya tahu yang mengandung formalin dan pada konsentrasi berapa larutan garam dapat mengurangi formalin.sampel penelitian ini adalah tahu putih yang ada di pasar tradisional sumberrejo Bojonegoro. jenis peneltian ini yang digunakan adalah eksperimental. Banyak sampel pada penelitian ini adalah 10 sampel tahu. Konsentrasi pada penelitian menggunakan 2,5% dan 5%. Dan hasil penelitian ini adalah dari 10 sampel yang direndam dengan larutan garam tidak ada yang mengandung formalin, dan rata-rata konsentrasi penurunan formalin 2,5% : 0.36 dan 5% : 0,29
Hubungan Faktor Risiko dan Efektivitas Kombinasi Minyak Aloe vera dan Ocimum sanctum sebagai Pedikulosida Alami terhadap Pediculus humanus capitis pada Anak Santri di Kabupaten Ciamis Rahayu Nirmatul Mutmainah; Anggi Septiana Hanggara; Najwa Novanna Lestari; Ary Nurmalasari; Undang Ruhimat
THE JOURNAL OF MUHAMMADIYAH MEDICAL LABORATORY TECHNOLOGIST Vol 9 No 1 (2026): The Journal of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmlt.v9i1.33532

Abstract

Pediculosis capitis merupakan penyakit akibat infestasi Pediculus humanus capitis yang masih menjadi masalah kesehatan pada anak, terutama santri di pondok pesantren. Tingginya kepadatan hunian, interaksi antarsantri, perilaku personal hygiene yang kurang baik, serta penggunaan barang pribadi secara bersama meningkatkan risiko penularan. Selain menyebabkan pruritus, infestasi kutu kepala dapat menimbulkan dermatitis, infeksi sekunder, gangguan tidur, hingga anemia sehingga diperlukan upaya pengendalian yang tidak hanya berfokus pada pencegahan, tetapi juga pengobatan yang efektif dan aman. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor risiko dengan kejadian infestasi Pediculus humanus capitis pada santri di Kabupaten Ciamis serta mengevaluasi aktivitas pedikulosida kombinasi minyak lidah buaya (Aloe vera) dan minyak daun kemangi (Ocimum sanctum). Penelitian menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross-sectional untuk menganalisis faktor risiko melalui kuesioner dan pemeriksaan langsung, serta penelitian eksperimental menggunakan lima kelompok perlakuan, yaitu T1 (1:3), T2 (1:1), T3 (3:1), T4 (kontrol positif), dan T5 (kontrol negatif) dengan lima kali pengulangan. Analisis hubungan faktor risiko menggunakan uji Chi-square, sedangkan data waktu mortalitas dianalisis menggunakan One-Way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi infestasi sebesar 54,3%. Faktor yang berhubungan secara signifikan dengan infestasi meliputi jenis kelamin, panjang rambut, frekuensi mencuci rambut, penggunaan aksesoris kepala bersama, dan penggunaan alas tidur bersama. Kombinasi minyak lidah buaya dan minyak daun kemangi menunjukkan aktivitas pedikulosida, dengan perlakuan T1 menghasilkan waktu mortalitas tercepat, yaitu 115,0 ± 13,77 detik. Disimpulkan bahwa pengendalian Pediculosis capitis pada santri memerlukan pendekatan terpadu melalui pengendalian faktor risiko dan pemanfaatan kombinasi minyak lidah buaya serta minyak daun kemangi sebagai alternatif pedikulosida alami
Evaluasi Hasil Pemeriksaan Mikroskopis Basil Tahan Asam (BTA) pada Pasien Tuberkulosis Paru Setelah Terapi Bulan Pertama dan Kedua di Puskesmas Sindangkasih Muhammad Abdul Hadi Rabbani; Aldi Febriansyah; Rivana Ariyadi; Undang Ruhimat
THE JOURNAL OF MUHAMMADIYAH MEDICAL LABORATORY TECHNOLOGIST Vol 9 No 1 (2026): The Journal of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmlt.v9i1.33533

Abstract

Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat global. Indonesia menempati peringkat kedua di dunia dengan beban tuberkulosis dan tuberkulosis resisten obat (TB-RO) tertinggi setelah India. Berdasarkan Global Tuberculosis Report 2023 yang diterbitkan oleh World Health Organization (WHO), diperkirakan terdapat sekitar 1.060.000 kasus TB setiap tahun di Indonesia. Evaluasi keberhasilan terapi tuberkulosis pada fase intensif umumnya dilakukan melalui pemeriksaan Basil Tahan Asam (BTA) pada sputum setelah satu hingga dua bulan pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil pemeriksaan BTA pada sputum pasien tuberkulosis paru setelah menjalani pengobatan selama satu dan dua bulan. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan melibatkan 15 pasien tuberkulosis paru yang menjalani terapi fase intensif. Pemeriksaan sputum dilakukan menggunakan metode pewarnaan Ziehl–Neelsen untuk menentukan hasil Basil Tahan Asam (BTA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 12 pasien (80,0%) telah mengalami konversi BTA menjadi negatif, sedangkan 3 pasien (20,0%) masih menunjukkan hasil BTA positif, yang terdiri atas masing-masing satu pasien dengan hasil scanty, positif (+1), dan positif (+2). Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar pasien telah mencapai konversi BTA negatif selama fase intensif pengobatan, meskipun sebagian kecil pasien masih menunjukkan hasil BTA positif sehingga memerlukan pemantauan lanjutan sesuai dengan program pengobatan tuberkulosis. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa mayoritas pasien tuberkulosis paru telah mencapai konversi BTA negatif setelah menjalani pengobatan selama satu hingga dua bulan, yang menunjukkan keberhasilan respons terapi pada fase intensif.

Filter by Year

2017 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 9 No 1 (2026): The Journal of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist Vol 8 No 2 (2025): The Journal of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist Vol 7 No 1 (2024): The Journal of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist Vol 6 No 2 (2023): The Journal Of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist Vol 6 No 1 (2023): The Journal Of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist Vol 5, No 2 (2022): The Journal Of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist Vol 5, No 1 (2022): The Journal Of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist Vol 5 No 1 (2022): The Journal Of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist Vol 4, No 2 (2021): The Journal of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist Vol 4, No 1 (2021): The Journal of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist Vol 3, No 2 (2020): The Journal of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist Vol 3 No 1 (2020): The Journal of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist Vol 3, No 1 (2020): The Journal of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist Vol 2, No 2 (2019): The Journal of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist Vol 2, No 1 (2019): The Journal of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist Vol 1, No 2 (2018): The Journal of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist Vol 1, No 1 (2018): The Journal of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist Edisi 4: The Journal of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist Edisi 3: The Journal of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist Edisi 2: The Journal of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist Edisi 1: The Journal of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist More Issue