cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
CaLLs : Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics
Published by Universitas Mulawarman
ISSN : 2460674X     EISSN : 25497707     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) published by Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman and published in June and December. CaLLs welcome articles and research reports utilizing an interdisciplinary approach to the study of culture. The object materials of the study may include aspects of language/linguistics, literature, arts (music and traditional arts).
Arjuna Subject : -
Articles 216 Documents
Kolaborasi asimetris antara negara dan masyarakat adat dalam perlindungan warisan budaya takbenda di Kutai Barat Vivian, Yofi Irvan; Mubarok, Ahmad
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Special Issue "SESANTI 2025"
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i0.22672

Abstract

Program perlindungan Warisan Budaya Takbenda (HTN) di Indonesia terus mengungkap asimetri antara negara dan masyarakat adat. Studi ini mengkaji perlindungan HTN di Kutai Barat. Negara diwakili oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Barat, sementara masyarakat Dayak Benuaq mendefinisikan masyarakat adat. Pendekatan etnografi kualitatif digunakan melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan analisis dokumen. Temuan menunjukkan bahwa kolaborasi pada dasarnya bersifat asimetris. Negara cenderung mendominasi melalui mekanisme administratif yang kaku, dokumentasi, dan kebijakan birokrasi, sementara masyarakat adat berupaya melestarikan warisan mereka melalui praktik-praktik organik. Meskipun negara bergantung pada masyarakat adat untuk melindungi HTN, masyarakat ini seringkali menjadi sasaran eksploitasi budaya dengan dalih perlindungan HTN. Asimetri ini menimbulkan beberapa polemik, termasuk klaim keaslian, persaingan antardaerah, dan terbatasnya partisipasi masyarakat adat dalam perumusan kebijakan. Studi ini menyoroti bahwa masih terdapat ruang yang cukup besar untuk negosiasi dan dialog antara negara dan masyarakat adat. Dinyatakan bahwa penguatan lembaga-lembaga Pribumi, desentralisasi pengambilan keputusan, dan pengakuan otoritas budaya lokal merupakan langkah-langkah penting menuju terciptanya kerangka kerja yang lebih adil dan berkelanjutan untuk menjaga ICH. 
Representasi politik Dayak: Kajian ideologi dan kekuasaan dalam cerita rakyat Kalimantan Timur Nugroho, Bayu Aji; Yusriansyah, Eka
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Special Issue "SESANTI 2025"
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i0.22568

Abstract

This research examines the representation of power and ideology in Dayak folklore from East Kalimantan using the theoretical frameworks of Michel Foucault and Antonio Gramsci. Folklore is understood as a symbolic arena that records power relations in spiritual, customary, moral-ecological, and political forms. Data were collected from Dayak folktales circulating in East Kalimantan and analyzed qualitatively through a descriptive thematic approach. The findings reveal that spiritual power (as in the tale of Danau Aco), customary authority (Temputn Tolakng), and moral-ecological power (Anak Buaya) function to establish social rules and cultural legitimacy. Meanwhile, the tale of Sumbang Lawing emphasizes the importance of political legitimacy through counter-hegemony against tyrannical figures, Ikan Baung Putih generates moral-ecological regulations in the form of river taboos, and Sri Bangun illustrates colonial trauma shaping a defensive communal identity. This study concludes that Dayak folklore is not merely a moral narrative but also a political-cultural text that represents hegemony, resistance, and collective identity. It highlights folklore as both a medium of negotiating power and a cultural archive in the context of social change in East Kalimantan. 
Morrison's Use of Symbolism: The Significance of Blue Eyes in The Bluest Eye Muahamad, Hajar Hassan; Salh, Pana Mahmud; Mahmud, Shene Jamal; Ahmad, Hedayat Muhamad; Abdlalla, Shabaz
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Vol 11, No 2 (2025): CaLLs, December 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i2.22266

Abstract

The symbolic and psychological meaning of blue eyes in Toni Morrison's The Bluest Eye is critically examined in this analysis with a specific emphasis on the destructive effect of Eurocentric definitions of beauty on Black identity and self-esteem. Through the tragic Pecola Breedlove, Morrison lays bare how cultural definitions of beauty specifically the idealization of Whiteness and blue eyes result in internalized racism, self-loathing, and mental breakdown among African Americans. The study examines how these ideals are sustained in literature, the media, domestic life, and text materials to create a cultural discourse whereby Blackness is belittled. Blue eyes are used by Morrison not just as physical appearance but as Whiteness, acceptance, and worth attributes denied Blacks in the segregated world. By analyzing Symbolism, form, and periodization in the novel, this volume argues that The Bluest Eye is both a caustic critique of racialized codes of beauty and an imperative to rewrite cultural values on terms friendly to Black dignity, worth, and personhood.
Political Discourse Analysis: A Critical Analysis of Donald Trump’s Political Speeches El Bakri, Jawad
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Vol 11, No 2 (2025): CaLLs, December 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i2.18876

Abstract

This research paper explores political discourse analysis in relation to language use, focusing on how political actors employ communication to legitimize policies, influence audiences, and shape perceptions of social and political realities. It examines the historical roots of this relationship and analyzes tools for studying political speech, with a particular focus on the intersection of discourse and manipulation. The paper includes a practical analysis of speeches by former U.S. President Donald Trump, especially regarding his slogan “Make America Great Again,” exploring themes like immigration, ISIS, nuclear agreements, and Russian interference in the 2016 elections. The study also tests the hypothesis that Trump frequently contradicts himself on these issues.
Analisis semantis verba bermakna "Jatuh" dalam bahasa Banjar Hajjah, Fauziah; Fahmia, Nur; Junaidi, Ahmad
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Special Issue "SESANTI 2025"
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i0.22648

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan mendeskripsikan komponen makna yang terdapat pada verba ‘jatuh’ dalam bahasa Banjar. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode simak dan teknik catat. Data yang dikumpulkan berupa verba bermakna ‘jatuh’ dalam bahasa Banjar yang diperoleh dari Kamus Bahasa Banjar-Indonesia. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan metode analisis komponensial dan disajikan menggunakan metode formal berupa identifikasi komponen makna ke dalam matriks dan metode informal untuk menguraikan komponen makna ke dalam kata-kata secara deskriptif.  Dari hasil penelitian, ditemukan empat belas verba bermakna ‘jatuh’ dalam bahasa Banjar. Verba-verba tersebut kemudian diklasifikasikan berdasarkan lokasi jatuhnya, yakni jatuh ke permukaan air dan jatuh ke permukaan yang keras. Verba ‘jatuh’ ke permukaan air, yaitu cabur, calubuk, dan camplung. Sementara itu, verba ‘jatuh’ ke permukaan yang keras, yaitu barusuk, dangsar, hantak, jungkang, kipay, lingsir, pulanting, rabah, runtuh, sarudup, dan sumbalit.
Perempuan dalam belenggu sistem kelas sosial pada novel Gadis Pantai dan cerpen “Sagra” Gunawiayu, Asih; Lingga, Wedar Pahala
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Special Issue "SESANTI 2025"
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i0.22644

Abstract

Kehidupan masyarakat kerap terepresentasi dalam karya sastra, tidak terkecuali tekanan yang dialami oleh perempuan dari berbagai latar belakang budaya dan zaman. Penelitian ini membahas dua tokoh perempuan berlatar belakang budaya Jawa dan Bali dari zaman yang berbeda pada novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer, dan Cerpen “Sagra” karya Oka Rusmini. Melalui tokoh-tokoh dalam kedua karya sastra tersebut, terlihat adanya isu ketimpangan relasi kuasa dalam sistem kelas sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan representasi keterbelengguan perempuan dalam dua budaya dan zaman yang berbeda. Untuk dapat mencapai tujuan penelitian tersebut, maka akan digunakan kerangka studi gender dan pendekatan sosiologi sastra. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam kedua karya sastra tersebut perempuan ditampilkan sebagai komoditas, meskipun kedua tokoh tersebut memiliki keberdayaan diri, tetapi mereka tetap menjadi korban dalam sistem kelas sosial. Hal tersebut disebabkan oleh latar belakang kelas sosial mereka yang dianggap lebih rendah. Selain itu, ketimpangan relasi kuasa pun tercerminkan melalui konflik antartokoh.
Pinisi, warisan budaya tak benda: Antara simbol, identitas, dan tantangan komersialisasi di era pariwisata Haris, Basmawati
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Special Issue "SESANTI 2025"
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i0.22667

Abstract

Pinisi merupakan warisan budaya tak benda asal Bulukumba, Sulawesi Selatan, yang telah diakui UNESCO sejak 2017. Lebih dari sekadar kapal layar tradisional, Pinisi adalah simbol kebanggaan, keterampilan maritim, serta identitas kultural masyarakat Bugis-Makassar. Artikel ini membahas Pinisi dalam tiga dimensi utama, yaitu simbol, identitas, dan tantangan komersialisasi di era pariwisata. Dari sisi simbol, Pinisi mengandung nilai spiritual, filosofis, dan sosial yang tercermin dalam ritual adat serta keterampilan teknis pembuatannya. Dari perspektif identitas, Pinisi berfungsi pada level lokal sebagai warisan kolektif, pada level nasional sebagai representasi Indonesia sebagai negara maritim, dan pada level global sebagai instrumen diplomasi budaya. Namun, transformasi Pinisi menjadi ikon wisata dan kapal modern menimbulkan tantangan serius, termasuk risiko hilangnya autentisitas, marginalisasi komunitas pembuat, serta dominasi pasar pariwisata. Artikel ini menegaskan bahwa keberlanjutan Pinisi membutuhkan strategi pelestarian partisipatif yang menyeimbangkan antara autentisitas budaya dan tuntutan ekonomi. Pendekatan berbasis komunitas, edukasi generasi muda, perlindungan hukum, serta kolaborasi multilevel menjadi kunci agar Pinisi tetap relevan dan bermakna di tengah arus globalisasi pariwisata. Kata kunci: Pinisi, warisan budaya, identitas, komersialisasi, pariwisata 
Resepsi Pernikahan Minimalis dalam Perspektif Islam: Antara Kesederhanaan dan Prestise Sosial Robiansyah, Firman; Pratama, Muhammad Tajdid; Agustin, Saskiyah; Jayanti, Zulfaa Dwi
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Vol 11, No 2 (2025): CaLLs, December 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i2.19995

Abstract

Artikel ini mengkaji fenomena resepsi pernikahan minimalis dalam perspektif Islam, dengan menyoroti ketegangan antara nilai kesederhanaan yang dianjurkan dalam ajaran agama dan dorongan prestise sosial dalam masyarakat modern. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan menganalisis literatur keislaman, budaya, dan hukum pernikahan di Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa banyak pasangan Muslim memilih resepsi mewah karena pengaruh adat, ekspektasi keluarga, dan tren sosial, meskipun hal tersebut sering kali menimbulkan beban ekonomi dan mengabaikan nilai spiritual pernikahan. Islam mengajarkan bahwa pernikahan yang paling berkah adalah yang paling ringan bebannya. Artikel ini menawarkan solusi seperti penyederhanaan mahar, edukasi masyarakat tentang makna walimah yang sesuai syariat, serta optimalisasi peran tokoh agama dalam membimbing umat. Dengan demikian, tercipta keseimbangan antara pelaksanaan ajaran Islam dan tuntutan sosial yang terus berkembang.
Ketahanan budaya Indonesia dalam pertunjukan paduan suara: Studi kasus Immanuel Choir Setiawan, Pieter Very; Mahardiko, Yohanes Dwi Pramono
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Special Issue "SESANTI 2025"
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i0.22656

Abstract

Penelitian ini mengkaji kiprah Immanuel Choir dalam merepresentasikan identitas dan multikulturalisme Indonesia melalui pertunjukan paduan suara. Sebagai grup paduan suara, Immanuel Choir tidak hanya menampilkan musik sebagai seni bunyi, tetapi juga mengintegrasikan unsur visual seperti koreografi, kostum, dan ekspresi tubuh yang memperkuat narasi budaya. Repertoar Nusantara yang dibawakan—berasal dari berbagai daerah dengan latar budaya yang beragam—menjadi simbol kebhinekaan sekaligus sarana pemajuan kebudayaan Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, melalui analisis dokumentasi pertunjukan, wawancara, serta kajian literatur terkait musik, performativitas, dan identitas budaya. Hasil kajian menunjukkan bahwa pertunjukan Immanuel Choir berfungsi tidak hanya sebagai ekspresi artistik, tetapi juga sebagai medium narasi kebangsaan dan ketahanan budaya di era global. Immanuel Choir mampu menghadirkan musik paduan suara sebagai bentuk ketahanan budaya, di mana tradisi lokal diolah dan dipresentasikan ulang secara kreatif. Dengan demikian, Immanuel Choir dapat dibaca sebagai representasi multikulturalisme Indonesia yang merawat kebhinekaan melalui paduan suara. Temuan ini juga menegaskan pentingnya paduan suara sebagai medium pemajuan kebudayaan sekaligus sarana diplomasi budaya Indonesia.
Tarsul dan Bedandeng Kutai dalam membangun identitas budaya masyarakat Kabupaten Kutai Kartanegara Pratama, Zamrud Whidas; Putra, Agus Kastama; Rifaneo, Diva Farnita
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Special Issue "SESANTI 2025"
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i0.22657

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Tarsul dan Bedandeng dalam membangun identitas budaya masyarakat Kutai Kartanegara. Tarsul, sebagai seni tutur yang berkembang dari akulturasi antara tradisi lokal dan pengaruh Islam, berfungsi sebagai simbol keagamaan, spiritualitas, serta pelestarian nilai-nilai adat dalam berbagai acara khusus, seperti perkawinan dan khatam Al-Quran. Sementara itu, Bedandeng muncul sebagai kesenian vokal yang dilantunkan dalam aktivitas sehari-hari, seperti berladang dan mencari ikan, berfungsi sebagai media ekspresi emosi, identitas personal, dan penguatan kohesi sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi, meliputi observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi praktik budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tarsul dan Bedandeng tidak hanya mempertahankan kontinuitas tradisi, tetapi juga menegaskan identitas budaya yang dinamis dan adaptif terhadap perubahan sosial, sesuai dengan perspektif Stuart Hall (1996) bahwa identitas kebudayaan bersifat prosesual dan selalu dalam tahap “becoming.” Penelitian ini menegaskan bahwa kesenian tradisional berperan sebagai media representasi, negosiasi, dan rekonstruksi identitas budaya masyarakat Kutai Kartanegara.