cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
CaLLs : Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics
Published by Universitas Mulawarman
ISSN : 2460674X     EISSN : 25497707     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) published by Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman and published in June and December. CaLLs welcome articles and research reports utilizing an interdisciplinary approach to the study of culture. The object materials of the study may include aspects of language/linguistics, literature, arts (music and traditional arts).
Arjuna Subject : -
Articles 216 Documents
CULTURAL TERMS IN INDONESIAN CHILDREN’S STORIES: A STUDY OF HARI ISTIMEWA SUWIDAK LORO AND MAU MASAK APA, LINTANG? Sudirman, Eka Pratiwi; Muhajir, Fatimah
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Special Issue "SESANTI 2025"
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i0.22760

Abstract

This study examines how Indonesian cultural identity is represented and rendered in two children’s narratives, Hari Istimewa Suwidak Loro and Mau Masak Apa, Lintang?, through the identification of culture-specific lexical items and the translation strategies applied, based on Newmark’s (1988) framework. The findings indicate that material culture—particularly culinary references such as botok, klepon, and serabi—is the most prevalent category, followed by social culture, which includes kinship terms and communal practices. These categories reflect the translators’ emphasis on tangible and relational aspects of Indonesian life, suggesting that food and familial terms serve as culturally resonant vehicles for transmitting values and traditions to young readers. Six translation strategies were identified, with functional and cultural equivalence being the most frequently employed, indicating a prioritization of accessibility. Meanwhile, transference and amplification were used to preserve cultural specificity. These findings underscore the role of translation in mediating cultural representation and enhancing cross-cultural understanding through children’s literature.
Diskriminasi terhadap interseksionalitas tokoh perempuan di tengah keberagaman masyarakat Papua dalam novel Gadis Pesisir karya Nunuk Y. Kusmiana Giriani, Nella Putri; Fitriyah, Atiqotul; Sholihah, Lailatus
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Special Issue "SESANTI 2025"
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i0.22616

Abstract

Penelitian ini membahas keberagaman masyarakat Papua dan diskriminasi yang terjadi pada tokoh Halijah dalam novel Gadis Pesisir (2019) karya Nunuk Y. Kusmiana. Diskriminasi yang diterima oleh Halijah dan tokoh perempuan lainnya merupakan akibat dari perbedaan ras, usia, kelas, dan jenis kelamin atau interseksionalitas. Selain itu, adanya negosiasi dan resistensi tokoh perempuan menarik untuk diteliti. Tujuan penelitian ini ialah menampilkan masyarakat Papua yang multietnis dan multikulural dan mengungkap represi yang diterima tokoh perempuan karena keberagaman yang terjadi di Tanah Papua. Analisis dalam penelitian ini menggunakan teori identitas milik Stuart Hall, perspektif feminis multicultural Audre Lorde. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa novel Gadis Pesisir mencoba melawan bentuk-bentuk diskriminasi yang dialami perempuan karena perbedaan usia, ras, kelas, dan jenis kelamin. Selain itu, memberikan “ruang” yang berbeda untuk “meruntuhkan” pelekatan konstruksi identitas yang buruk terhadap perempuan asli Papua dan memberikan “ruang” baru untuk meruntuhkan tradisi pernikahan dini. 
IKN between symbol and struggle: Governmental framing and public perception on IKN in East Kalimantan Arifin, Muhammad Bahri; Rahayu, Famala Eka Sanhadi; Gunawan, Sindy Alicia
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Special Issue "SESANTI 2025"
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i0.22643

Abstract

This study investigates the ideological and discursive tensions surrounding Indonesia’s new capital city (IKN) project in East Kalimantan. While the government frames IKN as a “smart forest city” symbolizing national progress and ecological harmony, local communities—particularly indigenous groups—report environmental degradation and cultural displacement. Using Ecological Discourse Analysis (EDA) and framing theory, the research compares official narratives from presidential speeches and planning documents with grassroots perspectives documented by NGOs. The findings reveal a discursive gap that raises concerns about greenwashing and symbolic power in state-led development. This study contributes to ecolinguistics by highlighting how language mediates environmental ideology and public perception in contested urban transformations.
Tracing the immigrant narrative in the novel Babel through mapping identity and belonging Prafitri, Wilma; Nasir, Muhammad Alim Akbar; Triyoga, Anwar Ibrahim
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Special Issue "SESANTI 2025"
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i0.22627

Abstract

This research examines the immigrant experience in R.F. Kuang’s Babel: An Arcane History of the Oxford Translators’Revolution (2022), emphasizing the interplay of language, power, and identity within the colonial context of 19th-century Oxford. This project employs a synthesis of postcolonial literary theory and literary cartography to delineate the emotional and spatial trajectories of immigrant characters, with a focus on Robin Swift, a Chinese orphan reared in England. The analysis demonstrates that translation serves as both an instrument of imperial control and a locus of resistance, situating immigrant scholars as both vital and marginalized within the empire. This research employs meticulous textual analysis to reveal patterns of assimilation, alienation, and rebellion, demonstrating how Kuang’s story critiques colonial processes and reasserts linguistic agency. This multidisciplinary approach provides a unique contribution to Babel study by depicting immigrant identity as a dynamic negotiation of cultural memory, displacement, and resistance.
Kidung Rumekso Ing Wengi sebagai Simbol Spiritualitas dan Instrumen Sosial: Membaca Ulang Tradisi Lokal dalam Konteks Budaya Jawa Kontemporer Khusniyah, Aziizatul; Indrariani, Eva Ardiana
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Vol 11, No 2 (2025): CaLLs, December 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i2.22229

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ulang peran ulang dan makna sosial-spiritual Kidung Rumekso Ing Wengi , sebuah teks kidung Jawa kuno, dalam membentuk identitas budaya dan spiritual masyarakat Jawa di era modern. Fenomena meningkatnya popularitas kidung ini di media sosial menandakan adanya kebangkitan spiritualitas lokal di tengah krisis identitas dan tekanan modernisasi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif melalui analisis teks, observasi partisipatif, dan wawancara mendalam, studi ini mengeksplorasi bagaimana kidung ini tidak hanya berfungsi sebagai doa perlindungan tetapi juga sebagai instrumen sosial yang memperkuat kohesi komunitas dan ketahanan budaya. Mengacu pada teori identitas sosial, pertukaran sosial, dan adaptasi budaya, hasil penelitian menunjukkan bahwa Kidung Rumekso Ing Wengi memainkan peran dinamis dalam kehidupan masyarakat Jawa sebagai simbol spiritual yang terus beradaptasi, sekaligus menjadi cermin sosial yang memfasilitasi pemaknaan ulang atas tradisi di tengah transformasi sosial. Temuan ini memberikan kontribusi penting dalam kajian ilmu sosial, khususnya dalam memahami interaksi antara spiritualitas lokal, identitas budaya, dan dinamika sosial kontemporer.
Joy in “Happiness”: A Semiotic Analysis Camelia, Royan; Agustina, Mia Fitria; Trisnawati, Ririn Kurnia
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Vol 11, No 2 (2025): CaLLs, December 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i2.18972

Abstract

This study aims to determine the meaning of happiness in the short movie “Happiness” by Steve Cutts. In interpreting the happiness, this study uses Saussure’s Semiotics theory. This study employed a qualitative method. The discussion of this study is divided into billboards, food and beverages billboards/brochures, fashion billboards and brochures, and medicines billboards. The results of this study indicated that happiness because of alcohol, food, beverages, fashion, and drugs are temporary. The effect of happiness that is obtained is instant, where happiness is easy to get but also easy to lose, it will not last long. From the results of this study, it can be understood that the meaning of happiness in real life and even in the short movie “Happiness” cannot be taken lightly since being happiness is something that we feel rather than what we think.
Pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence) generatif dalam pengungkapan retorika separatisme: Kajian linguistik forensik pada narasi kebencian etnis Kusno, Ali
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Special Issue "SESANTI 2025"
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i0.23047

Abstract

This research utilizes Generative Artificial Intelligence (AI) as an analytical tool for digital discourse. Its main objective is to identify the rhetorical strategies of separatism and ethnic hate speech against the Javanese people disseminated on social media, particularly on Instagram. Using a qualitative approach and Fairclough's Critical Discourse Analysis (CDA) framework, this study examines how texts containing discriminatory sentiments, emotional sentence constructions, and exclusive symbols are produced and spread in the digital space. In-depth analysis reveals that user interaction patterns accelerate the dissemination of separatist ideas. From a forensic linguistics perspective, these findings underscore the damaging impact of digital rhetoric on social cohesion, with the potential to erode brotherhood and trigger the fragmentation of national identity. This paper argues that hate narratives are not merely linguistic constructions but also social actions that require a multidisciplinary response. The study concludes with specific recommendations, such as the development of counter-narratives based on linguistic evidence, improved digital literacy, and the formulation of public policies that are pro-national unity. This research provides a significant contribution to maintaining national stability amid information disruption.
Cerminan nilai budaya dalam sikap pengguna media sosial di Indonesia terhadap isu muatan LGBTQ+ pada film Lightyear sebagai dampak komunikasi lintas budaya Sambodo, Unggul Putro; Juanda, Mochammad Rizki
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Special Issue "SESANTI 2025"
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i0.22625

Abstract

Tulisan ini berupaya untuk menjabarkan mengenai cerminan nilai budaya dalam sikap pengguna media sosial terkait isu LGBTQ+ di Indonesia. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh polemik terkait pembatalan penayangan film Lightyear yang mengandung muatan LGBTQ+. LGBTQ+ merupakan suatu isu yang sedari lama telah dianggap buruk dan tabu di masyarakat. Namun, dalam beberapa tahun telah terjadi suatu pergeseran sikap terhadap LGBTQ+ di Indonesia. Hal ini pun terlihat dalam tanggapan berbagai pengguna media sosial yang menerima dan menolak segala aktivitas LGBTQ+, termasuk dalam film Lightyear. Data dalam tulisan ini adalah beragam ekspresi bahasa yang digunakan untuk mengkomunikasikan sikap para pengguna media sosial di Indonesia terhadap isu LGBTQ+ dalam film Lightyear. Sumber data dalam penelitian ini adalah beberapa media sosial yang aktif digunakan di Indonesia, seperti Facebook dan Twitter. Berdasarkan hasil temuan dan analisis data, dapat disimpulkan bahwa saat ini telah terjadi pergeseran nilai budaya yang tercermin melalui sikap masyarakat terhadap isu LGBTQ+ dalam pembatalan film Lightyear. Penerimaan terhadap LGBTQ+ lebih banyak ditunjukkan oleh pengguna Twitter. Adapun, para pengguna Facebook cenderung menolak keras adanya segala aktivitas LGBTQ+. Alasan penerimaan dan penolakan ini pun sangat beragam, mulai dari kealamian LGBTQ+, psikologis, norma, agama, hingga pesatnya perkembangan negara.
Translation techniques analysis of local terms in the abstracts of literature research articles Noviantina, Irna; Nugroho, Muhammad Aprianto Budie; Suryana, Yayan
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Vol 11, No 2 (2025): CaLLs, December 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i2.19806

Abstract

As globalization increases the visibility of academic research, the accurate translation of culturally rooted local terms becomes more crucial and challenging. This research investigates the translation techniques and equivalence of local terms in the abstracts of literature research articles, focusing on translations from Indonesian to English. To achieve this goal, a total of 35 abstracts published between 2020 and 2024 were analyzed using a qualitative method with a case study design. The research applied Molina & Albir's 18 translation techniques and examined translation equivalence based on Baker and Nida's frameworks. From the abstracts, 712 data points were collected for analysis. The findings revealed that single techniques were used most frequently used (88.76%), followed by duplet technique (7.16%), triplet technique (3.79%), and quadruplet techniques (0.28%). Among the single techniques, borrowing was the most dominant (72.19%), indicating a strong preference for maintaining local terms in their original form to preserve cultural identity and avoid misinterpretation. Furthermore, in terms of translation equivalence, non-equivalence occurred most frequently (73.60%), while formal equivalence accounted for 23.88%, and dynamic equivalence was the least common (2.53%). These findings suggest that translators often prioritize cultural preservation and face challenges in finding equivalent English terms for Indonesian local terminology, highlighting the complexity and cultural sensitivity required in translating literary abstracts containing local terms.
Oposisi semiotik dan simbolik perspektif Julia Kristeva pada tradisi Sayyang Pattuqduq Khairunnisa, Khairunnisa
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Special Issue "SESANTI 2025"
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i0.22621

Abstract

 Tradisi Sayyang pattuqduq merupakan salah satu warisan budaya Mandar yang dilaksanakan sebagai bentuk perayaan khatam Al-Qur’an anak-anak, menggabungkan unsur agama, adat, dan ekspresi estetis. Penelitian ini bertujuan menganalisis oposisi semiotik dan simbolik dalam prosesi Sayyang pattuqduq menggunakan kerangka teori Julia Kristeva. Pendekatan kualitatif dengan metode etnografi budaya digunakan untuk mengumpulkan data melalui observasi langsung, dokumentasi visual, dan wawancara dengan tokoh adat serta pelaku tradisi. Hasil analisis menunjukkan bahwa unsur simbolik tampak melalui struktur prosesi, penggunaan busana adat, hiasan kuda yang merepresentasikan status sosial, serta aturan yang selaras dengan norma agama. Sementara itu, unsur semiotik hadir dalam gerak ritmis kuda, sorakan penonton, dan nyanyian yang mencerminkan luapan emosi kolektif masyarakat. Interaksi kedua unsur tersebut membentuk dialektika yang menjaga keseimbangan antara ekspresi kebebasan budaya dan pengukuhan identitas sosial-religius. Hasilnya menunjukkan bahwa Sayyang pattuqduq tidak hanya digunakan sebagai ritus perayaan, tetapi juga sebagai tempat untuk berbicara tentang makna. Nilai-nilai tradisional dikombinasikan dengan dinamika ekspresi kultural masyarakat Mandar.