cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. indragiri hilir,
Riau
INDONESIA
SYAHADAH : Jurnal Ilmu Al-Qur?an & Keislaman
ISSN : 23380349     EISSN : 23380349     DOI : -
Jurnal Syahadah merupakan jurnal Ilmu al-Qur’an dan keislaman dengan kajian multidisipliner, terbit dua kali dalam satu tahun (April dan Oktober), dikelola oleh Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri Tembilahan. Redaksi menerima tulisan yang relevan selama mengikuti petunjuk penulisan yang ditetapkan.
Arjuna Subject : -
Articles 112 Documents
METODE TEMATIK FRASE Konstruksi Metode Baru Dalam Studi Al-Qur’an Dan Tafsir Ridhoul Wahidi
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Metode tematik yang berkembang dan dipakai dalam studi al-Qur’an sampai saat ini ada empat yakni, tematik term, tematik konseptual, tematik tokoh, dan tematik surat. Pada artikel ini ditemukan model tematik baru yang dapat mengungkap kandungan makna-makna al-Qur’an secara komprehensif ditengah era kontemporer. Adapun yang dimaksud adalah metode tematik frase. Metode tematik frase adalah cara menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an berdasarkan frase ayat dalam al-Qur’an. Bangunan dan sistematika metode tematik frase ini adalah menetapkan frase yang akan dibahas, membuat sistem penanggalan (tanggal, bulan, dan tahun penulisan), menghimpun seluruh ayat-ayat yang frasenya sama, menyusun uruturutan ayat terpilih sesuai dengan perincian masalah dan atau masa turunnya, sehingga terpisah antara ayat Makki dan Madani, mempelajari/memahami korelasi (munāsabah) masing-masing frase ayat dengan surahsurah di mana frase ayat tersebut ada (setiap ayat berkaitan dengan terma sentral pada suatu surah), melengkapi bahan-bahan dengan hadis-hadis yang berkaitan dengan frase ayat yang dibahas, menyusun outline pembahasan dalam kerangka yang sempurna sesuai dengan hasil studi masa lalu, sehingga tidak diikutkan hal-hal yang tidak berkaitan dengan pokok masalah, mempelajari semua frase ayat yang terpilih secara keseluruhan dan atau mengkompromikan antara yang umum dengan yang khusus, yang mutlak dan muqayyad, dan lain-lain sehingga kesemuanya bertemu dalam muara tanpa perbedaan atau pemaksaan dalam penafsiran, dan menyusun kesimpulan sebagai jawaban terhadap masalah yang dibahas. Metode tematik frase ini telah digunakan oleh mahasiswa program studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir dalam menyelesaikan tugas akademik pada perguruan tinggi yang memiliki jurusan tersebut
DISKURSUS METODE AR-RA’YU DALAM PENAFSIRAN AL-QUR’AN Syafril Syafril; Fiddian Khairudin
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diskursus tafsir ar-ra’yu menjadi salah satu poin yang seirng diperdebatkan dikalangan peminat kajian al- Qur’an. Di satu sisi ada kelompok yang menolak menggunakan ra’yu (logika) dalam tafsir al-Qur’an. Namun di sisi lain, ada pula kelompok yang membolehkannya. Berdasarkan realitas sejarah perkembangan tafsir al-Qur’an dari masa ke masa, dari klasik hingga kontemporer, keberadaan tafsir ar-ra’yu tidak terbantahkan bahkan melaju dengan sangat pesat di bandingkan dengan kedua metode tafsir lainnya, yakni al- ma’tsur dan al-isyari. Terlepas dari adanya perbedaan pandangan itu, keduanya kelompok tersebut sepakat menerima tafsir ar-ra’yu jika diartikan sebagai tafsir yang menjadikan ra’yi atau ijtihad sebagai dasar penafsirannya, baik dengan menggunakan analisis kebahasaan, asbabun nuzul, makiyyah dan madaniyyah, nasikh mansukh, qiraat, korelasi antar ayat dan surat atau munasabah, dan keilmuan lainnya yang termasuk perangkat penafsiran al- Qur’an. Dengan demikian, maka perbedaan pendapat itu terjadi hanya pada istilah saja bukan substansinya.
PETA STUDI AL-QUR’AN TIGA KAWASAN: TIMUR TENGAH, BARAT DAN INDONESIA Humaidi Humaidi; Syafril Syafril
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 9 No 1 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Minat kajian terhadap studi Qur’an semakin luas dan beragam, tidak lagi terbatas pada kalangan akademisi muslim semata dan hanya menjadi domain dikawasan masyakarat pemeluk Islam. Studi Qur’an meluas melampaui sekedar sekat wilayah geografis. Karenanya, menarik untuk dicermati bagaimana tren studi Qur’an di berbagai wilayah tersebut. Tulisan ini menelisik tren penelitian yang dilakukan oleh pemerhati studi Qur’an di tiga kawasan: Timur Tengah, Barat dan Indonesia. Ketiga kawasan ini layak dibahas karena masiang-masing memiliki kecendrungan karakteristik tren kajian yang berbeda satu sama lain. Karakteristik minat kajian di masing-masing kawasan terhadap studi Qur’an terhadaptema-tema di dalam studi Qur’an dilakukan dengan pendekatan dan penelitian yang berbeda, yang pada akhirnya memunculkan kekhasan model penelitian di masing-masing kawasan.
MAKNA SHALAWAT: PENAFSIRAN SURAT AL-AHZAB AYAT 56 Telaah Epistimologi Tafsir Nasrullah Nasrullah; Ahmad Royhan Afif
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 9 No 1 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The qur'an as a guide to muslims is a collection oftheoretical and practical topics. If the doctrine is carriedout all, one will have happiness in both the world and theafterlife. The model of understanding the qur'an wasepistimology divided into three periods. First, an ageformative with quasi-critical thought. Second, an era ofaffirmative with ideological reason. And third, thereformative era with critical reason. These three periodshave their own distinctive traits in giving understanding ofverses from the qur'an. Confirming a scripture on aparticular topic requires analysis to confirm its meaning.The same is true of understanding of meaning in the 56thverse of al-ahzab. In people this verse is often the basis forprayer (shalawat). Hence, it was done to give people adeeper understanding. This kind research is libraryresearch. The methods used are qualitative. The dataanalysis used is a descriptive analysis. Basically the ulamaagreed to be the meaning of the verse is a command to readblessings on the Prophet Muhammad, but there aredifferent opinions regarding the law. Imam Syafi'i andImam Ahmad are of the opinion that it is obligatory to hearthe name of the Prophet mentioned, and in the recitation oftasyahud in prayer. Meanwhile, Imam Hanafi and Imam Malik have the opposite opinion. Praying to Prophet isenough to be done once in a lifetime and prayer in tasyahudrecitation in the legal prayer is the sunnah muakkad
MANUSIA DAN FALSAFAH HIDUP Perspektif Tafsir dan Sains Anhar Ansyory
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 9 No 1 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penguasan kemajuan sciense dan teknologi dewasa inimengorbitkan para scientist seolah-olah serba palinghebat, dan paling paham tentang sejarah penciptanmanusia, proses evolusi manusia, potensi dasar danhakikat hidup manusia, lalu mereka merasa paling benar,sehingga menjadikan manusia seolah-olah menjadi”Tuhan”. Kemajuan sciense dan teknologi di negaranegarayang sudah maju kadang menjadikan umat Islamsemakin merasa takjub, terbelakang dan kerdil. SeolaholahIslam dengan Kitab Sucinya tidak memiliki andil,peran, dan prestasi sedikitpun dalam bidang sains danteknologi. padahal Al-Qur’an diturunkan oleh Allahsebagai petunjuk hidup yang bersifat holistik sekaligussebagai sumber ilmu pengetahuan, dan Al-Qur’an jugaberbicara tentang manusia, baik dari aspek fisik maupunpsikis secara ilmiah dan orang akan dapat memahamimanusia secara ilmiah apabila menjadikan Qur’an danSunnah sebagai dasar pemikian dan secara historis telahtebukti.
SOLUSI PEMENUHAN HAK SEKSUAL DALAM KETAHANAN KELUARGA PERSPEKTIF AL-QUR’AN Dewi Murni
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 9 No 1 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi tentang ayat-ayat yang berhubungan denganpernikahan menyimpulkan sejumlah prinsip dasar yangseharusnya menjadi dasar sebuah pernikahan. Prinsipyang dimaksud di antaranya, terpenuhinya prinsip sakînah,mawaddah wa rahmah (ketenangan, cinta dan kasihsayang). Prinsip tersebut menjadi dasar dari setiapperjanjian antara dua pihak. Perjanjian yang dibuat tanpamerealisasikan prinsip-prinsip yang menimbulkanketimpangan dan ketidakadilan. Al-Qur’an dengan jelasmenyatakan “Hunna libâsun lakum wa antum libâsunlahun” (mereka perempuan adalah pakaianmu, dan kamulaki-laki adalah pakaian mereka). Dengan itu, pernikahanharus dibangun di atas prinsip kesetaraan seksual.
EUTHANASIA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN Fiddian Khairudin; Amaruddin Amaruddin; Ridhoul Wahidi
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 9 No 1 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ajaran Islam diarahkan untuk menciptakan kemaslahatan hidup dan kehidupan manusia, termasuk didalamnya yang berhubungan dengan keselamatan hidup manusia. Dalam Islam prinsipnya segala upaya atau perbuatan yang berakibat matinya seseorang, baik disengaja atau tidak sengaja, tidaklah dapat dibenarkan, kecuali dengan sebab atau alasan yang dibenarkan oleh syara’. Perkembangan moral dan etika yang semakin pesat berpengaruh sangatbesar terhadap pola pikir dan pilihan hidup yang diambil. Salah satu konsekwensi dari perkembangan moral dan etika yang terjadi di masyarakat tersebut adalah euthanasia yang kompleks dan kontroversial, menimbulkan kubu yang pro dan kontra. Euthanasia merupakan tindakan medis yang dilakukan secara sadar untuk mengakhiri suatu kehidupan untuk melepaskannya dari penderitaan, atau tindakan memudahkan kematian, mengakhiri hidup seseorang dengan sengaja tanpa merasakan sakit, karena kasihan untuk meringankan penderitaan. Lalu bagaimana sesungguhnya yang dimaksud dengan euthanasia dan halihwal berkaitan dengannya, serta bagaimana sesungguhnya pandangan Islam terhadap euthanasia dalam perspektif al-Qur’an
HERMENEUTIKA AL-QUR’AN; SUATU TELAAH KONSEPTUAL Syafril Syafril; Nasrullah Nasrullah
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 9 No 2 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hermeneutika diperkenalkan pertama kali sebagai metode penafsiran oleh Dannhauer pada abad ke 17 Masehi. Kecenderungan menggunakan hermeneutika sebagai teori penafsiran kitab suci bermula ketika kalangan Protestan membutuhkan buku pedoman penerjemahan untuk membantu para pendeta memahami dan menafsirkan Bibel, disaat otoritas Gereja dituntut menyelesaikan persoalan-persoalan penafsiran. Belakangan ini, hermeneutika digunakan sebagai metode penafsiran al-Qur’an. Hal ini disebabkan hermeneutika berusaha menggali makna dengan mempertimbangkan horison-horison yang melingkupi teks tersebut. Horison yang dimaksud adalah horison teks, horison pengarang dan horison pembaca. Dengan memperhatikan ketiga unsur triadik di atas, diharapkan akan berhasil melahir makna-makna baru sesuai dengan situasi dan kondisi saat teks itu di baca atau di pahami. Dengan bahasa lain, metode penafsiran dengan hermeneutika harus memperhatikan tiga komponen pokok, teks, konteks, dan uapaya kontekstualisasi. Dengan demikian, maka penafsiran al-Qur’an akan tetap hidup dan relefan dengan perkembangan zaman.
Penafsiran Ayat Al-Libảs dalam Tafsir Kontemporer Dewi Murni; Hani Asparul
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 9 No 2 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini mengkaji kata libảs dalam Al-Qur’an berbasis kontemporer. Adapun permasalahan pokoknya adalah apa saja makna kata al-Libảs secara kontemporer di dalam Al-Qur’an. Hal yang demikian ini karena dilatarbelakangi oleh penafsiran-penafsiran klasik sebelumnya hanya menyebutkan makna al-Libảs pakaian saja. Untuk menjawab pernyataan tersebut, penulis menggunakan metode deskriptif-analitis. Metode deskriptif dimaksudkan untuk mengurai makna kata al-libảs yang terdapat di dalam kamus dan Al-Qur’an, dengan mengumpulkan dan mengidentifikasi ayat-ayat tentang al-Libảs. Sedangkan metode analitis dimaksudkan untuk menganalisa bentuk variasi dan perbedaan makna dari pengertian yang menunjukkan arti pakaian. Hasil dari penelitian ini adalah: Pertama, kata al-Libảs di dalam Al-Qur’an memiliki Fungsi Pakaian sebagai Penutup (Aurat), dalam fungsinya sebagai penutup, tentunya pakaian menutupi segala yang tidak boleh diperlihatkan oleh pemakai. Kedua, pakaian mempunyai fungsi sebagai Perhiasan salah satu yang harus digarisbawahi adalah selama perhiasaan tersebut tidak menimbulkan rangsangan berahi dari yang melihatnya. Ketiga pakaian berfungsi sebagai perlindungan (ketakwaan)pakaian justru bisa memberikan pengaruh psikologis bagi pemakainya untuk senantiasa taat kepada-Nya dan memberikan nilai-nilai moral kepada orang yang melihatnya. Keempat, kata Libâs adalah pasangan suami istri yang diibaratkan pakaian, karena keduanya saling membutuhkan, melindungi, dan merasakan kenikmatan dalam hubungan seksual.
Studi Living Qur’an tentang Implementasi Program Baca Tulis Qur’an melalui Tradisi Literasi Al-Qur’an di MAN 1 Gunungkidul Jauharotun Nafiisah; Ahmad Hanany Naseh; Muh Aufal Minan; Ridhoul Wahidi
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 9 No 2 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Al-Qur'an is the word of Allah, which is eternal and has no equal. The content of the Qur'an contains all scopes of knowledge. The Qur'an as the basis for teaching also provides inspiration, motivation, and contribution in building and developing various knowledges through verses that command to read, write, explore, memorize, interpret, and understand the Qur'an in the same sense broadly. This meaning is commonly referred to as Al-Qur'an literacy. This study uses descriptive research with a qualitative approach through a case study at MAN 1 Gunungkidul. The data collection is done by interview with informants and library research from various literature sources in accordance with the research theme. Based on the results of the study, the concept of Al-Qur'an literacy includes the implementation process of determining the schedule, time and place of implementation, and the parties involved; the practice of developing the Qur'anic literacy tradition; and its contribution to the potential development and success of students. Thus, learning the Qur'an, including moral education, is expected to create a generation who loves the Qur'an accompanied by practical practices in everyday life.

Page 9 of 12 | Total Record : 112