cover
Contact Name
Bramastia
Contact Email
bramastia@staff.uns.ac.id
Phone
+6281567720009
Journal Mail Official
bramastia@staff.uns.ac.id
Editorial Address
S2 Pendidikan Sains FKIP UNS Surakarta Jalan Ir Sutami No 36A Surakarta Jawa Tengah https://jurnal.uns.ac.id/inkuiri/index
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
INKUIRI : Jurnal Pendidikan IPA
ISSN : 22527893     EISSN : 2615748     DOI : 10.20961
INKUIRI Jurnal Pendidikan IPAis a peer-reviewed open-access journal. The journal disseminates papers written based on the results of study and review of literature in the sphere of natural sciences education, biology education, physics education, and chemistry education in primary, secondary, and higher education. INKUIRI Jurnal Pendidikan IPA published three times a year, in February, June, and October until 2018. Since 2019, INKUIRI has been published twice a year, in April and October. Submitted papers must be written in English or Bahasa Indonesia for initial review stage by editors and further review process by minimum two international reviewers. Finally, accepted and published papers will be freely accessed in this website and the following abstracting & indexing databases: 1. Google Scholar 2. Indonesian Scientific Journal Database 3. Indonesia Publication Index (IPI) 4. Bielefeld Academic Search Engine (BASE) 5. Academia 6. ResearchGate 7. Road Directory 8. Indonesia OneSearch (IOS)
Articles 224 Documents
DISCO NING CDC (DISCOVERY LEARNING DENGAN CHEMICAL DOMINO CARD) MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR KIMIA PADA MATERI TATANAMA SENYAWA KIMIA BAGI SISWA KELAS X MIPA 4 SMA NEGERI 1 PURWOREJO TAHUN 2017/2018 Erna Umu Nurlaela
INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA Vol 9, No 1 (2020): INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA
Publisher : Magister Pendidikan Sains Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/inkuiri.v9i1.41377

Abstract

Tujuan penyusunan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar kimia siswa SMA Negeri 1 Purworejo kelas X.Dalam mempelajari materi kimia, siswa perlu memahami konsep, mengingat nama senyawa dan rumus kimia dari senyawa tersebut untuk memecahkan suatu permasalahan reaksi kimia. Diperlukan banyak sekali latihan dalam reaksi-reaksi kimia. Akan tetapi, siswa cenderung kurang latihan sehingga menganggap kimia itu sulit. Oleh karena itu diperlukan media yang mendorong siswa untuk sering berlatih, media pembelajaran berupa kartu dapat menarik minat siswa untuk berlatih. Dengan bermain sambil belajar di harapkan siswa tidak akan merasa jenuh. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar kimia siswa SMA Negeri 1 Purworejo kelas X materi sub pokok bahasan Tatanama senyawa Kimia. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dirancang dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap mulai dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Aktivitas belajar meningkat dari 12,90% sebelum siklus, 45,15% pada siklus pertama dan 80,63% pada siklus kedua, (2) hasil belajar meningkat, dari 38,71% sebelum siklus, 64,52% pada siklus pertama dan 87,10% pada siklus kedua. Oleh karena itu penggunaan media ini bisa menjadi salah satu referensi guru untuk melaksanakan proses pembelajaran.The purpose of preparing this Classroom Action Research is to improve the chemistry learning outcomes of students of SMA Negeri 1 Purworejo class X. In studying chemistry, students need to understand the concept, remember the name of the compound and the chemical formula of the compound to solve a chemical reaction problem. It takes a lot of practice in chemical reactions. However, students tend to lack practice so they think chemistry is difficult. Therefore we need media that encourage students to practice often, learning media in the form of cards can attract students' interest to practice. By playing while learning, it is hoped that students will not feel bored. This study aims to increase the activity and learning outcomes of chemistry students of SMA Negeri 1 Purworejo class X the subject matter of chemical compound nomenclature. The research method used is classroom action research. This research was designed in two cycles. Each cycle consists of four stages starting from planning, implementation, observation, and reflection. The results showed that: (1) learning activities increased from 12.90% before the cycle, 45.15% in the first cycle and 80.63% in the second cycle, (2) learning outcomes increased from 38.71% before the cycle, 64.52% in the first cycle and 87.10% in the second cycle. Therefore, the use of this media can be one of the teacher's references to carry out the learning process.
MENYELIDIKI ENERGI PADA FOTOSINTESIS TUMBUHAN Suyatman Suyatman
INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA Vol 9, No 2 (2020): INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA
Publisher : Magister Pendidikan Sains Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/inkuiri.v9i2.50085

Abstract

Cahaya matahari memiliki sifat polikromatik bila dibiaskan akan menghasilkan cahaya-cahaya monokromatik. Cahaya-cahaya monokromatik inilah yang ditangkap oleh klorofil dan digunakan dalam proses fotosintesis. Dalam suatu percobaan diketahui bahwa gelombang cahaya biru dan cahaya merah adalah yang paling efektif dalam melakukan proses fotosintesis. Kesimpulan: 1). Gelombang cahaya biru dan cahaya merah adalah yang paling efektif dalam melakukan proses fotosintesis. Cahaya merah mempunyai energi foton 1.65-2.00 eV, sedangkan cahaya biru mempunyai energi foton 2.5-2.75 eV. 2). Pada fotosintesis terdapat dua reaksi yaitu reaksi terang dan reaksi gelap. Reaksi terang terjadi Pemecahan air (H2O) menjadi ion Hidrogen (H+) dan molekul air menggunakan energi cahaya, menghasikan O2, ATP, dan NADP H2. Reaksi gelap terjadi pengikatan karbondioksida (CO2) dan mengkombinasikannya dengan ion hidrogen (H+) sehingga membentuk gula. 3). Dalam fotosintesis berlaku hukum kekekalan energi yaitu Energi radiasi sinar matahari ditangkap oleh klorofil kemudian diubah menjadi energy kimia melalui proses fotosintesis. Dalam hal ini tidak ada energi yang musnah. Energy kimia tersebut digunakan untuk mensintesis CO2 dan H2O menjadi glukosa dan senyawa kompleks lainnya yang tersimpan dalam bentuk senyawa karbohidrat.Sunlight has polychromatic properties when refracted will produce monochromatic light. This monochromatic light is captured by chlorophyll and used in the process of photosynthesis. In an experiment it was found that blue light and red light are the most effective in carrying out photosynthesis. Conclusion: 1). Blue light and red light are the most effective in carrying out photosynthesis. Red light has a photon energy of 1.65-2.00 eV, while blue light has a photon energy of 2.5-2.75 eV. 2). There are two reactions in photosynthesis, namely the light reaction and the dark reaction. The light reaction occurs The splitting of water (H2O) into Hydrogen ions (H+) and water molecules using light energy, producing O2, ATP, and NADP H2. The dark reaction occurs when carbon dioxide (CO2) is bound and combines with hydrogen ions (H+) to form sugars. 3). In photosynthesis, the law of conservation of energy applies, namely the energy of solar radiation captured by chlorophyll and then converted into chemical energy through the process of photosynthesis. In this case no energy is lost. The chemical energy is used to synthesize CO2 and H2O into glucose and other complex compounds that are stored in the form of carbohydrate compounds.
PENGEMBANGAN MODUL IPA BERBASIS SAINTIFIK PADA MATERI INTERAKSI MAHLUK HIDUP DENGAN LINGKUNGAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VII SMP Imega Syahlita Dewi; Widha Sunarno; Sri Dwiastuti
INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA Vol 8, No 2 (2019): INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA
Publisher : Magister Pendidikan Sains Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/inkuiri.v8i2.37757

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) karakteristik modul IPA berbasis saintifik pada materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungan; 2) kelayakan modul IPA berbasis saintifik pada materi interaksi mahluk hidup dengan lingkungan yang telah dikembangkan dalam pembelajaran IPA;3) keefektifan modul IPA berbasis saintifik pada materi interaksi mahluk hidup dengan lingkungan. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian pengembangan atau research and development (R&D). Model pengembangan yang digunakan adalah model Four-D yang diadaptasi dari Thiagarajan (1974) yang terdiri dari empat tahapan meliputi: pendefinisian (define),perancangan (design),pengembangan (develop), dan penyebaran (disseminate). Subyek uji coba terbatas dilakukan kepada 9 siswa kelas VII F di SMP Negeri 1 Weru dan uji coba skala luas dimplementasikan kepada 30 siswa di kelas VII D di SMP Negeri 1 Weru. Uji coba pemakaian dilakukan menggunakan pre- experimental design jenis One-Shot Case Study. Teknik analisis yang digunakan adalah deskriptif kualitatif-kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) karakteristik modul IPA berbasis saintifik untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar pada materi interaksi makhluk  hidup dengan lingkungan telah berhasil dikembangkan menggunakan model pengembangan Four-D, 2)  hasil kelayakan modul yang divalidasi oleh validator ahli, praktisi pendidikan, teman sejawat, serta respon yang diberikan oleh guru dan siswa setelah pembelajaran menggunakan modul maka didapatkan hasil bahwa modul dengan kategori sangat baik dan layak digunakan dalam pembelajaran, 3)Keefektifan modul dapat dilihat dari tingkat keterbacaan yang tinggi serta sesuai dengan kemampuan atau penguasaan pemahaman siswa terhadap modul yang dikembangkan, dalam  penelitian ini yang diuji adalah keefektifan modul terhadap kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa. Keefektifan modul dapat dilihat dari rata-rata persentase kemampuan berpikir kritis siswa yang tinggi pada setiap kegiatan belajar yaituKB I 72,97% dengan kategori cukup, KB II mengalami peningkatan 85,72% dengan kategori baik, dan pada KB III meningkat 89,32% dengan kategori baik. Rata-rata hasil belajar siswa aspek pengetahuan pada KB I- KBIII meningkat dengan rincian pada KB I 80% siswa sudah mencapai KKM, KB II 83,34% siswa sudah mencapai KKM, KB III 96,64% siswa sudah mencapai KKM.Rata-rata hasil belajar siswa aspek sikap meningkat dari KB I– KB III berturut-turut menjadi 3,25; 3,36; 3,47 dengan kriteria baik. Rata-rata hasil belajar siswa aspek keterampilan meningkat dari KB I – KB III berturut-turut menjadi 3,07; 3,30; 3,45 dengan kriteria baik. Dapat disimpulkan bahwa modul IPA berbasis saintifik pada materi makhluk hidup dengan lingkungan efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa.
SISTEM NAVIGASI MAKLUK HIDUP: MENAKISME PENJELAJAHAN SECARA ALAMIAH (IMPLEMENTASI STRATEGI PEMBELAJARAN TEMATIK PADA MATERI INDUKSI ELEKTROMAGNETIK) Sabar Nurohman; Sarwanto Sarwanto
INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA Vol 9, No 2 (2020): INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA
Publisher : Magister Pendidikan Sains Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/inkuiri.v9i2.50072

Abstract

Kompetensi Dasar 3.6 Kelas IX memberi tantangan bagi guru sains untuk mengelaborasi konsep sains secara terpadu. Pada kompetensi dasar tersebut konsep fisika tentang elektromagnetisme digabungkan dengan konsep biologi tentang sistem navigasi. Melalui studi literatur terhadap berbagai jurnal ilmiah, artikel ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana konsep listrik dan magnet memiliki peran penting dalam peristiwa pergerakan/navigasi beberapa jenis hewan. Kajian ini juga diperluas terhadap hewan-hewan yang melakukan navigasi menggunakan gelombang bunyi. Secara lebih terperinci, tujuan artikel ini adalah untuk menganalisis bagaimana mekanisme berbagai jenis hewan melakukan migrasi dikaitkan dengan beberapa konsep fisika berupa kelistrikan, kemagnetan, dan gelombang bunyi.Basic Competence 3.6 Class IX presents a challenge for science teachers to elaborate science concepts in an integrated manner. In these basic competencies, the physics concept of electromagnetism is combined with the biological concept of navigation systems. Through literature studies of various scientific journals, this article aims to examine how the concepts of electricity and magnetism have an important role in the movement/navigation of several types of animals. This study was also extended to animals that navigate using sound waves. In more detail, the purpose of this article is to analyze how the mechanism by which various types of animals migrate is related to several physical concepts in the form of electricity, magnetism, and sound waves.
PENGEMBANGAN MODUL FISIKA SMA BERBASIS SCIENCE TECHNOLOGY SOCIETY PADA MATERI ELASTISITAS UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR DAN HASIL BELAJAR SISWA Yulia Dwisetyaningrum; Sarwanto Sarwanto; Nonoh Siti Aminah
INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA Vol 8, No 1 (2019): INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA
Publisher : Magister Pendidikan Sains Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/inkuiri.v8i1.31806

Abstract

Keberadaan modul fisika SMA yang mengaitkan konsep sains dan teknologi serta dampaknya ke masyarakat masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik, mengukur kelayakan, dan mengukur peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa pada penggunaan modul Fisika berbasis science technology society (STS) pada materi elastisitas. Penelitian ini merupakan penelitian dan pengembangan (R&D) yang mengacu pada model Borg & Gall yang dimodifikasi menjadi lima langkah. Modul yang sudah melalui tahap validasi ahli, guru, dan teman sejawat kemudian diujicobakan secara luas kepada 29 siswa. Hasil analisis data penelitian menunjukkan: 1) karakteristik modul adalah modul dikemas dalam tampilan yang menarik dan mudah digunakan, modul dikemas dengan menyajikan materi secara utuh, kegiatan belajar dalam modul bersifat saintifik yang mendukung Kurikulum 2013, dan modul menyajikan materi yang adaptif dan visioner; 2) kelayakan modul dilihat dari penilaian ahli, guru, teman sejawat yang memiliki nilai rata-rata di atas nilai cut off score (89% > 88%) dan penilaian produk oleh siswa (84% > 83%) 3) Penggunaan modul Fisika SMA berbasis STS pada materi elastisitas dapat meningkatkan hasil belajar (n-gain kategori sedang) dan motivasi belajar siswa (n-gain kategori rendah) dan 79% siswa mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).
EFEKTIVITAS MODUL BERBASIS PROBLEM SOLVING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN ANALISIS SISWA Try Nesia Nurhemy; Sutarno Sutarno; Baskoro Adi Prayitno
INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA Vol 8, No 2 (2019): INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA
Publisher : Magister Pendidikan Sains Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/inkuiri.v8i2.37751

Abstract

Tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah mengetahui keefektivan modul berbasis Problem solving untuk meningkatkan kekampuan analisis siswa. Metode yang digunakan untuk penelitian dan pengembangan sesuai dengan prosedur Borg and Gall yang dimodifikasi menjadi sembilan tahapan dengan menerapkan sintaks model pembelajaran Problem solving. Penelitian dan pengembangan ini menggunakan rancangan eksperimen one group pretest posttest design. Hasil penelitian dan pengembangan ini menyatakan bahwa modul berbasis Problem solving pada materi pencemaran lingkungan efektif meningkatkan kemampuan analisis siswa. Hasil uji Wilcoxon terdapat perbedaan antara nilai sebelum diberikan modul berbasis Problem solving dan sesudah diberikan modul dengan nilai probabilitas (p) sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05. Menurut hasil uji Wilcoxon dapat disimpulkan bahwa modul berbasis Problem solving efektif meningkatkan kemampuan analisis pada materi pencemaran lingkungan
EFEK KOMBINASI YAKULT DAN TAPIOKA PADA PROSES PEMBUATAN TEMPE TERHADAP KETAHANAN TEMPE DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI BERBASIS SETS DI KELAS X SMA TUNAS PATRIA UNGARAN KABUPATEN SEMARANG Sarini Rahayu
INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA Vol 9, No 1 (2020): INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA
Publisher : Magister Pendidikan Sains Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/inkuiri.v9i1.41408

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang 1) Bagaimana daya simpan tempe dengan pemberian yakult dan tapioka .2) Bagaimana jamur kapang terdapat dalam tempe. 3) Untuk mengetahui kualitas hasil belajar siswa tentang materi fungi dengan menggunakan E LKS berbasis SETS pada materi fungi di kelas X SMA TUNAS PATRIA UNGARAN. Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu dengan Berdasarkan hasil penelitian diperoleh lama simpan tempe yang paling bagus pada penemabahan yakult 20 % dan tapioka 0,8 % P2 B2 dengan lama simpan umur tempe pada hari ke enam. Kesukaan masyrakat terhadap rasa atau aroma khas  tempe dapat diuji dengan organoleptik selain aroma dapat diketahui kekompakan dan warna. Aroma khas tempe dapat diketahui dengan nilai tertinggi pada penambahan yakult dan tapioka P1 B2 dan P2 B2 sebanyak 90 dan 91 total keseluruhan dengan rata rata sangat suka. kesukaan masyarakat pada aroma tempe kedelai pada K1B1, K1B2, kedelai dan ragi, P1 B1, P1B2 kedelai ragi, dan yakul ,P2 B1, P2B2 Kedelai ,ragi dan tapioka P3 B1, P3B2 kedelai, ragi yakul dan tapioka dari hari perta sampai hari ke 4 dan hari kelima dan selanjutnya sudah tercium aroma amoniak. Kekompakkan pada tempe dapat dilihat K1B1, K1B2, kedelai dan ragi, P1 B1, P1B2 kedelai ragi, dan yakul ,P2 B1, P2B2 Kedelai ,ragi dan tapioka P3 B1, P3B2 kedelai, ragi yakul dan tapioka dari hari pertama sampai hari ke 7 dan hari ketujuh dan selanjutnya sudah tidak terlihat kompak meselium tidak menyebar dipermukaan tempe warna pada tempe dapat dilihat K1B1, K1B2, kedelai dan ragi, P1 B1, P1B2 kedelai ragi, dan yakul ,P2 B1, P2B2 Kedelai ,ragi dan tapioka P3 B1, P3B2 kedelai, ragi yakul dan tapioka berwarna putih pada hari 2 sampai hari ke 5 dan hari ke 6 selanjutnya berwarna coklat pada Implikasi pembelajaran dengan penerapan pendekatan Sains Teknologi Lingkungan dan Masyarakat (Salingtemas) pada pokok bahasan fungi di kelas X IPA SMA TUNAS PATRIA UNGARAN Kabupaten Semarang pada pertemuan II aspek afektif adalah 82,35% , dengan ketuntasan klasikal adalah 88%, psikomotorik adalah 80,17% dengan ketuntasan klasikal 94%,aspek kognitif adalah 78,72%, dengan ketuntasan klasikal 88%.This study aims to examine 1) How is the shelf life of tempeh by giving yakult and tapioca. 2) How is mold fungus found in tempeh. 3) To find out the quality of student learning outcomes about fungi by using SETS-based E LKS on fungi in class X SMA TUNAS PATRIA UNGARAN. This type of research is a quasi-experimental. Based on the results of the study, the best tempeh shelf life was at the addition of 20% yakult and 0.8% tapioca P2 B2 with the shelf life of tempeh on the sixth day. The public's preference for the distinctive taste or aroma of tempeh can be tested by organoleptic, in addition to the aroma, compactness and color can be known. The distinctive aroma of tempeh can be seen with the highest value in the addition of yakult and tapioca P1 B2 and P2 B2 as much as 90 and 91 in total, with an average of very like. people's preferences for the aroma of soybean tempeh in K1B1, K1B2, soybean and yeast, P1 B1, P1B2 soybean yeast, and yakul, P2 B1, P2B2 Soybean, yeast and tapioca P3 B1, P3B2 soybeans, yakul yeast and tapioca from day one to day 4 and the fifth day onwards already smelled the smell of ammonia. The compactness of tempeh can be seen in K1B1, K1B2, soybean and yeast, P1 B1, P1B2 soybean yeast, and yakul, P2 B1, P2B2 Soybean, yeast and tapioca P3 B1, P3B2 soybean, yakul yeast and tapioca from day 1 to day 7 and on the seventh day and onwards, the mecelium did not appear to be compact, the color of the tempeh could be seen K1B1, K1B2, soybean and yeast, P1 B1, P1B2 soybean yeast, and yam, P2 B1, P2B2 Soybean, yeast and tapioca P3 B1, P3B2 soybean , Yakul yeast and tapioca are white on day 2 to day 5 and the next day 6 is brown on the implication of learning with the application of the Environmental and Community Science Technology approach (Salingtemas) on the subject of fungi in class X IPA SMA TUNAS PATRIA UNGARAN Semarang Regency on second meeting affective aspect is 82.35%, with classical completeness is 88%, psychomotor is 80.17% with classical completeness 94%, cognitive aspect is 78.72%, with classical completeness 88%.
PENGEMBANGAN MODUL FISIKA BERBASIS LEARNING CYCLE 5E UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR ANALITIS SISWA Farida Hannum; Sukarmin Sukarmin; Cari Cari
INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA Vol 8, No 1 (2019): INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA
Publisher : Magister Pendidikan Sains Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/inkuiri.v8i1.31824

Abstract

Latar belakang penelitian ini adalah karena keterbatasan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran bagi siswa dan guru. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan karakteristik modul pembelajaran fisika berbasis Learning Cycle 5E, (2) mengetahui kelayakan modul, (3) mengetahui efektivitas penggunaan modul terhadap kemampuan berpikir analitis dan hasil belajar siswa. Metode penelitian yang digunakan Research and Development (R&D) dengan model 4-D yang terdiri dari: (1) define, (2) design, (3) develop, dan (4) disseminate. Materi yang dikembangkan dalam modul adalah Fluida Statis yang diperuntukkan siswa SMA kelas XI IPA. Modul  yang dikembangkan divalidasi oleh ahli materi, ahli bahasa, ahli media, reviewer, dan peer review. Modul dikategorikan layak untuk implementasikan. Modul diujicobakan secara terbatas pada 12 siswa di SMA Negeri 2 Ngawi dan diperoleh hasil bahwa modul termasuk dalam kategori “Sangat Baik” menurut siswa. Modul diujicoba dalam skala besar pada siswa kelas XI SMA Negeri 2 Ngawi. Data yang diperoleh yaitu data kemampuan berpikir analitis dan hasil belajar. Berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan disimpulkan bahwa: (1) karakteristik modul fisika yang dikembangkan berupa modul cetak materi fluida statis yang berbasis Learning Cycle 5E dengan tahapan engage, explore, explain, elaborate, dan evaluate dengan memunculkan indikator kemampuan berpikir analitis dalam setiap tahapannya yaitu menginterpretasi informasi, menggunakan konsep dalam pemecahan masalah, membuat dan mengevaluasi kesimpulan, serta memberikan alasan setiap jawaban, (2) modul pembelajaran fisika berbasis Learning Cycle 5E yang dikembangkan layak karena memenuhi kriteria nilai kelayakan berdasarkan Cut Off Score yaitu sebesar 87,32%, respon guru dalam tahap penyebaran sebesar 84,00% dalam kategori sangat baik, dan hasil angket respon modul oleh siswa sebesar 80,62% dalam kategori sangat baik, (3)  modul pembelajaran fisika berbasis Learning Cycle 5E efektif dalam meningkatkan  kemampuan berpikir analitis serta ketercapaian ketuntasan hasil belajar siswa. Nilai rata-rata kemampuan berpikir analitis siswa sebesar 0,41 yang termasuk kategori “Sedang”. Sedangkan rata-rata ketuntasan hasil belajar siswa sebesar 87,50% meningkat melampaui KKM.
ANALISIS KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR MAHASISWA CALON GURU BIOLOGI DI PENDIDIKAN BIOLOGI FKIP UAD Hani Irawati
INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA Vol 9, No 1 (2020): INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA
Publisher : Magister Pendidikan Sains Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/inkuiri.v9i1.41378

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keterampilan dasar mengajar mahasiswa prodi pendidikan biologi FKIP UAD tahun akademik 2018-2019 yang mengambil mata kuliah micro teaching. Adapun keterampilan yang ingin dilihat yaitu: 1) keterampilan membuka pelajaran, 2) keterampilan menjelaskan, 3) keterampilan memberi penguatan, 4) keterampilan mengadakan variasi, 5) keterampilan membimbing diskusi, 6) keterampilan mengelola kelas, 7) keterampilan bertanya, dan 8) keterampilan menutup pelajaran. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan populasi seluruh mahasiswa prodi pendidikan biologi FKIP UAD angkatan 2016 yang mengambil mata kuliah micro teaching. Penentuan sampel penelitian menggunkan teknik purposive random sampling, sampling penelitian terdiri atas mahasiswa micro teaching kelas A, D, E, F, dan J yang berjumlah 65 mahasiswa. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan observasi dan instrumen pengumpulan data dengan menggunakan lembar observasi. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: keterampilan dasar mengajar mahasiswa calon guru program studi pendidikan biologi FKIP UAD berada dalam kategori sangat baik pada aspek membuka pelajaran, bertanya, dan menutup pelajaran. Kategori baik pada aspek penguasaan kelas, menjelaskan, dan memberikan penguatan. Kategori cukup pada aspek melakukan variasi, dan kategori kurang pada aspek memimpin diskusi kelompok kecil.This study aims to determine the level of basic teaching skills for Biology Education Study Program students of FKIP UAD for the academic year 2018-2019 who take micro-teaching courses. The skills to look at are: 1) opening lesson skills, 2) explaining skills, 3) reinforcement skills, 4) variation skills, 5) discussion guiding skills, 6) classroom management skills, 7) questioning skills, and 8) closing skills. This research is a quantitative study using a population of all students of biology education study program FKIP UAD class of 2016 who take micro-teaching courses. Determination of the research sample using purposive random sampling technique, the research sampling consisted of 65 students of micro-teaching classes A, D, E, F, and J. Data collection techniques using observation and data collection instruments using observation sheets. Data were analyzed descriptively quantitatively. The results showed that: the basic teaching skills of prospective teachers of the biology education study program FKIP UAD were in the very good category in the aspects of opening lessons, asking questions, and closing lessons. Good category on aspects of class mastery, explaining, and providing reinforcement. The category is sufficient on the aspect of doing variations, and the category is less on the aspect of leading small group discussions.
LEVEL OF INQUIRY PEMBELAJARAN FISIKA: PENGARUHNYA TERHADAP KEMAMPUAN KOGNITIF DITINJAU DARI SIKAP ILMIAH SISWA Sarwanto Sarwanto
INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA Vol 9, No 2 (2020): INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA
Publisher : Magister Pendidikan Sains Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/inkuiri.v9i2.50086

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis: (1) pengaruh level of inquiry (LoI) terhadap kemampuan kognitif; (2) pengaruh sikap ilmiah terhadap kemampuan kognitif, (3) dampak pembelajaran LoI terhadap sikap ilmiah siswa. Pembelajaran LoI dari dibatasi pada inquiry lesson dan guided inquiry lesson. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X salah satu SMA Negeri di Kabupaten Sukoharjo. Sampel dipilih dengan teknik cluster random sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, tes, dan dokumen; analisis data menggunakan uji anova. Hasil penelitian disimpulkan: (1) kemampuan kognitif antara siswa yang diberi pembelajaran guided inquiry lab lebih baik daripada inquiry lesson (Fobs=4,12 > Fα=3,97), (2) kemampuan kognitif siswa yang memiliki sikap ilmiah tinggi lebih tinggi sikap ilmiah rendah (Fobs=5,03 > Fα=3,97), (3) tidak ada interaksi pengaruh antara penggunaan pembelajaran inquiry lesson dan guided inquiry lab dengan kategori sikap ilmiah tinggi dan rendah terhadap kemampuan kognitif siswa (Fobs=0.33 > Fα=3,97).This study aims to analyze: (1) the effect of level of inquiry (LoI) on cognitive abilities; (2) the influence of scientific attitudes on cognitive abilities, (3) the impact of LoI learning on students' scientific attitudes. LoI learning is limited to inquiry lessons and guided inquiry lessons. This study uses a quasi-experimental method. The population of this study were students of class X one of the public high schools in Sukoharjo Regency. The sample was selected by cluster random sampling technique. Data collection techniques using observations, tests, and documents; data analysis using ANOVA test. The results of the study concluded: (1) the cognitive abilities of students who were given guided inquiry lab learning were better than the inquiry lesson (Fobs=4.12 > Fα=3.97), (2) the cognitive abilities of students who had high scientific attitudes had higher attitudes. low scientific knowledge (Fobs=5.03 > Fα=3.97), (3) there is no interaction effect between the use of inquiry lesson and guided inquiry lab learning with high and low scientific attitude categories on students' cognitive abilities (Fobs=0.33 > Fα= 3.97).

Page 6 of 23 | Total Record : 224