cover
Contact Name
Sinta Paramita
Contact Email
sintap@fikom.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkomunikasi.untar@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Komunikasi
ISSN : 20851979     EISSN : 25822727     DOI : https://doi.org/10.24912/jk
Core Subject : Education,
Jurnal Komunikasi (P-ISSN: 2085-1979 and E-ISSN: 2528-2727) http://journal.untar.ac.id/index.php/komunikasi/index is a national journal published by Faculty of Communication Universitas Tarumanagara. Scientific articles published in Jurnal Komunikasi are result from research and scientific studies conduct by academics and practitioners in communication field. Jurnal Komunikasi published twice a year. First volume will be publish on Juli and second volume on December. Articles published in Jurnal Komunikasi have been trough peer-review process by reviewer. Final decision of articles acceptance will be taken by editor team.
Arjuna Subject : -
Articles 287 Documents
Teori-Teori Adaptasi Antar Budaya Lusia Savitri Setyo Utami
Jurnal Komunikasi Vol. 7 No. 2 (2015): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v7i2.17

Abstract

AbstractThis paper is a literature review of the theories of Intercultural Adaptation. The theory was included in the study Intercultural Communication (KAB). Adaptation is a problem that needs to be solved when a person or group of people communicate with others from different cultures. Cross-cultural adaptation process is an interactive process that evolves through communication activities between individual entrants with new socio-cultural environment. This paper uses a qualitative approach with descriptive analysis method. Through a case study, this paper presents how the theories of inter-cultural adaptations are implemented in the pattern of intercultural communication in everyday life when someone does adaptation, especially with a different culture from them. In this paper described five inter-cultural adaptation theory, namely Integrative Communication Theory, Anxiety / Uncertainty Management Theory, Uncertainty Reduction Theory, Theory of Acculturation and Culture Shock, and Co-cultural Theory. Theories of Intercultural Adaptation explains that adaptation is a collaboration of migrants effort and local environmental acceptance. Achieving maximum intercultural adaptation is when each individual entrants and individual local culture accept their culture of each other.AbstrakTulisan ini merupakan sebuah literature review  mengenai teori-teori Adaptasi Antar Budaya. Teori ini termasuk di dalam kajian Komunikasi Antar Budaya (KAB). Adaptasi merupakan suatu problema yang perlu dipecahkan ketika seseorang ataupun sekelompok orang berkomunikasi dengan pihak lain yang berbeda budaya. Proses adaptasi antar budaya merupakan proses interaktif yang berkembang melalui kegiatan komunikasi individu pendatang dengan lingkungan sosial budayanya yang baru. Tulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif. Melalui sebuah contoh kasus, tulisan ini menghadirkan bagaimana teori-teori adaptasi antar budaya tersebut diimplementasikan dalam pola komunikasi antar budaya sehari-hari ketika seseorang melakukan adaptasi, terutama dari sebuah budaya yang berbeda darinya. Di dalam tulisan ini dideskripsikan lima buah teori adaptasi antar budaya, yaitu Integrative Communication Theory, Anxiety/Uncertainty Management Theory, Uncertainty Reduction Theory, Teori Akulturasi dan Culture Shock, dan Co-cultural Theory. Teori-teori Adaptasi Antar Budaya tersebut menjelaskan bahwa adaptasi merupakan kolaborasi dari usaha pendatang dan penerimaan lingkungan setempat. Tercapainya adaptasi antar budaya yang maksimal adalah ketika masing-masing individu pendatang dan individu budaya setempat saling menerima budaya mereka satu sama lain. 
Konflik Budaya Dalam Konstruksi Kecantikan Wanita Indonesia (Analisis Semiotika Dan Marxist Iklan Pond’s White Beauty Versi Gita Gutawa) Wulan Purnama Sari
Jurnal Komunikasi Vol. 7 No. 2 (2015): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v7i2.18

Abstract

AbstractThis study will explore the cultural conflict that is displayed in the advertisements Pond's White Beauty Gita version Velasquez with pretty white theme flushed like korea. Where this ad makes the construction of beauty in women Indonesia becomes opaque, just for the sake of following the trend that there are women in Indonesia made into a false consciousness of the concept of beauty. This research was conducted by using the method of semiotic analysis and Marxist analysis. The conclusion that can be derived from these studies is advertising Pond's creates a cultural conflict in terms of the meaning of beauty for women in Indonesia. Semiotic analysis shows that advertising Pond's White Beauty featuring stereotypes about the picture of beauty for women in Indonesia. Beautiful woman is a white female Korean people while for the people of Indonesia who have different genetic, it is becoming a benchmark that can not be equated. Pond's ad showing false consciousness, in which Indonesian women can have white skin like Korea only by using Pond's products. Based on Marxist analysis can be seen that ad Pond's is made for the benefit of the capitalists, which in this case is the product manufacturer Unilever. Unilever as capitalist menghegomoni Indonesian women to buy Pond's beauty products using advertising media to create false consciousness in the minds of Indonesian women about the picture of beauty.AbstrakPenelitian ini akan menggali konflik budaya yang ditampilkan dalam iklan Pond’s White Beauty versi Gita Gutawa dengan tema cantik putih merona seperti korea. Dimana iklan ini menjadikan konstruksi kecantikan pada wanita Indonesia menjadi buram, hanya demi mengikuti trend yang ada wanita di Indonesia dibuat menjadi memiliki kesadaran palsu akan konsep kecantikan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis semiotik dan juga analisis Marxist.  Kesimpulan yang dapat diperoleh dari studi ini adalah iklan Pond’s menciptakan konflik budaya dalam hal makna kecantikan bagi perempuan Indonesia. Analisis semiotik menunjukkan bahwa iklan Pond’s White Beauty menampilkan stereotip mengenai gambaran kecantikan bagi perempuan Indonesia. Perempuan yang cantik merupakan perempuan yang putih seperti orang Korea padahal bagi orang Indonesia yang memiliki genetik berbeda, hal ini menjadi tolak ukur yang tidak dapat disamakan. Iklan Pond’s ini menampilkan kesadaran palsu, dimana perempuan Indonesia dapat memiliki kulit putih seperti Korea hanya dengan menggunakan produk Pond’s. Unilever sebagai kapitalis menghegomoni para perempuan Indonesia untuk membeli produk kecantikan Pond’s dengan menggunakan media iklan untuk menciptakan kesadaran palsu dalam pikiran para perempuan Indonesia tentang gambaran kecantikan.
Pola Komunikasi Antara Pedagang dan Pembeli di Desa Pare, Kampung Inggris Kediri Suzy Azeharie
Jurnal Komunikasi Vol. 7 No. 2 (2015): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v7i2.19

Abstract

AbstractThis study will examine the patterns of communication used between merchants with shoppers, teachers and students, as well as in rural communities or village English Pare Kediri regency in East Java. Methodology used is a qualitative methodology with data collection through interviews, direct observation Pare village, and through the study of literature. The theories used are the theory of verbal and nonverbal communication, interpersonal communication, the theory of acculturation and assimilation of culture. The conclusion from this study is the communication patterns merchants with shoppers, teachers and students, as well as in rural communities Pare take place in the primary, which means face to face and in English. Basic English Course in operation since 1976 turned out to be a big impact in the lives of people in the village, such changes include the shift of the livelihoods of residents who are traditionally farmers have become the owner of an English language course, rent boarding houses, kiosks drinks and food, open rental bike, copy, etc.AbstrakPenelitian ini akan mengupas mengenai pola komunikasi yang digunakan antara pedagang dengan pembeli, guru dengan siswa, serta komunitas masyarakat di desa Pare atau kampung Inggris Kabupaten Kediri Jawa Timur. Metodelogi yang digunakan adalah metodologi kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi langsung ke desa Pare, dan melalui studi literatur. Teori-teori yang digunakan adalah teori komunikasi verbal dan non verbal, komunikasi interpersonal, teori akulturasi dan asimilasi budaya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pola komunikasi pedagang dengan pembeli, guru dengan siswa, serta komunitas masyarakat di desa Pare berlangsung secara primer, artinya bertatap muka dan menggunakan bahasa Inggris. Basic English Course yang beroperasi sejak tahun 1976 ternyata membawa pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat di desa tersebut, perubahan tersebut antara lain beralihnya mata pencaharian penduduk yang secara tradisional adalah petani menjadi pemilik kursus bahasa Inggris, menyewakan rumah kos, membuka warung minuman dan makanan, membuka rental sepeda, fotocopy, dll. 
Dinamika Pesan Iklan Eko Harry Susanto
Jurnal Komunikasi Vol. 6 No. 2 (2014): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v6i2.28

Abstract

Abstract: The dynamics of the spread of ads that are more interesting and varied portrait of real freedom of communication that thrives in Indonesia after the change of government that strict monitoring of the messages being diffused to the public. Essentially it encourages free expression of creative ideas in the competition to market their goods and services. Critical observations on the development of advertising, shows that advertising still remains within the scope of science communication plays an important role in providing organizing messages limit. Nevertheless the practical aspects in society as a consumer or target advertising messages, advertising is not impossible also more focused on profit efforts. Of course the size of the business, good advertising is a creed which is able to attract consumer interest, although not impossible is not in line with the ideal advertisement should provide transparent and comprehensive information to the public.Abstrak: Dinamika penyebaran iklan yang semakin menarik dan variatif merupakan potret nyata kebebasan berkomunikasi yang tumbuh subur di Indonesia pasca pergantian pemerintahan yang melakukan pengawasan ketat terhadap pesan-pesan yang didifusikan kepada masyarakat. Hakikatnya kebebasan berekspresi memang mendorong munculnya ide kreatif dalam persaingan untuk memasarkan barang dan jasa. Pengamatan kritis terhadap berkembangnya periklanan, menunjukkan bahwa iklan masih tetap dalam lingkup ilmu komunikasi yang berperan penting dalam memberikan batasan pengorganisasian pesan. Kendati demikian dalam aspek yang praktis di masyarakat ataupun konsumen sebagai sasaran pesan iklan, bukan mustahil iklan juga lebih berfokus kepada upaya keuntungan. Tentu saja dalam ukuran bisnis, kredo iklan yang baik adalah yang mampu menarik minat konsumen, meskipun bukan mustahil tidak sejalan dengan iklan ideal yang seharusnya transparan dan komprehensif memberikan informasi kepada khalayak.  
Rok Mini Di Persimpangan Jalan Antara Kebebasan Dan Eksploitas Lisa Lindawati
Jurnal Komunikasi Vol. 6 No. 2 (2014): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v6i2.29

Abstract

Abstract: The media has the power to destroy the so-called 'taboo' and reconstruct it back into a different shape. Whether through films, soap operas, music, advertising, novels and even the news, women become the center of the story. Construction for the sake of construction, do not ever run away from what should be and how it should be women. This is why the study of women never lead. As well as the mini skirt that identically to women. Since its emergence in the early 1960s, miniskirt trends are always accompanied by controversy. Media to be one of the elements that can strengthen the two positions. Is encouraging women dream of liberation or exploitation became the main actors. Female fans of the miniskirt at a crossroads. Abstrak:Media mempunyai kekuatan untuk menghancurkan apa yang disebut ‘tabu’ dan mengkonstruksikannya kembali menjadi bentuk berbeda. Entah melalui film, sinetron, musik, iklan, novel dan bahkan berita, perempuan menjadi pusat ceritanya. Konstruksi demi konstruksi, diselingi dengan dekonstruksi demi dekonstruksi, tidak pernah jauh berlari dari apa yang harus dan bagaimana seharusnya perempuan. Inilah mengapa kajian perempuan seperti air yang tidak sampai juga ke hulunya. Begitu juga dengan rok mini yang identik dengan perempuan. Sejak kemunculannya di awal tahun 1960an, tren rok mini selalu diiringi dengan kontroversi. Media menjadi salah satu elemen yang dapat menguatkan dua posisi. Apakah mendorong semangat pembebasan idaman kaum perempuan atau justru menjadi pelaku utama eksploitasi. Perempuan penggemar rok mini ada di persimpangan jalan.  
Pemetaan Karakteristik Sosial Dan Budaya Masyarakat Studi Deskriptif Upaya Pemberdayaan Masyarakat Dalam Konservasi Air FX. Ari Agung Prastowo
Jurnal Komunikasi Vol. 6 No. 2 (2014): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v6i2.30

Abstract

Abstract: The company's ongoing business commitment begins with building good relationships with neighbors. Where a relationship is built to develop independent and prosperous society through corporate social activity better known as Corporate Social Responsibility. CSR activities are often interpreted as a charity activity that many companies that are merely acting as Santa Claus handing out gifts only to establish relationships with the community. It needs to be a consideration for the company that CSR activities should be based on the expectations and needs and in implementing tailored to the social and cultural conditions of communities around the organization. Therefore, the first step that must be done is to do social mapping in the area of operations. Social mapping is done in order to program planning and communication on target and has a high value of benefits to society. This is also done by PT X in the area of operations, PT X has conducted social mapping in the area around the organization. The results of the social mapping found potential, habits and obstacles that will be encountered in CSR activities based company's core business. Abstrak: Komitmen bisnis berkelanjutan perusahaan diawali dengan membina hubungan baik dengan tetangga. Dimana hubungan dibangun untuk mengembangkan masyarakat yang mandiri dan sejahtera melalui aktivitas sosial perusahaan yang lebih dikenal dengan Corporate Social Responsibility. Aktivitas CSR perusahaan seringkali dimaknai sebagai aktivitas charity sehingga banyak perusahaan yang bertindak sebagai sinterklas semata yang hanya membagi- bagikan kado untuk menjalin relasi dengan masyarakat. Perlu menjadi catatan bagi perusahaan bahwa aktivitas CSR harus berbasis harapan dan kebutuhan serta dalam implementasikan disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat sekitar organisasi. Oleh karena itu, langkah awal yang harus dilakukan adalah melakukan pemetaan sosial di daerah operasi. Pemetaan sosial di lakukan agar perencanaan program dan komunikasinya tepat sasaran dan memiliki nilai manfaat yang tinggi bagi masyarakat. Hal ini juga dilakukan oleh PT X di daerah operasi, PT X telah melakukan pemetaan sosial pada daerah sekitar organisasi. Hasil dari pemetaan sosial tersebut ditemukan potensi, kebiasaan dan hambatan yang akan ditemui dalam aktivitas CSR berbasis core bisnis perusahaan. 
Transformasi Branding Kota Cimahi Sebagai Kota Kreatif Nada Arina
Jurnal Komunikasi Vol. 6 No. 2 (2014): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v6i2.31

Abstract

Abstract: This research used qualitative approach with the constructivism paradigm and case study form of study. The subject were Cimahi government officials and businessmen who are members of the entrepreneurial community in Cimahi which were purposively selected. Data were collected through in in depth interview, passive participant observation. The result of this research revealed that background of Transformation Branding Creative City Cimahi as seen from the absence of territory and natural resources, abundant potential of human and creative products, based on center government regulations and the city as well as a declining manufacturing industry. While the background of the local Economic Development in an effort to realize the Creative City is the quickness of cooperation and participation of government and society, develop the local economy Cimahi, the lack of communication channels to between entrepreneurs, business people and government, no previous systematic development, assistance from organizations world, and the launching of the program of the government. The understanding of the relevant parties regarding the Transformation Branding Cimahi as a creative city, seen from the understanding of the campaign, understanding local Economic Development (LED) program in an effort to realize the Creative City, the campaign goal, and uniqueness of Cimahi. While government programs Cimahi city and related agencies in supporting the transformation of city branding Creative Cimahi as the city is divided into 3 phases, namely planning, execution and evaluation. Communication patterns Cimahi city government and relevant agencies to promote the transformation of city branding Cimahi as Creative cities are categorized into two, namely to businesses as the primary and the general public. Abstrak:  Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan paradigma konstruktivisme, dan jenis studi kasus. Subjek penelitiannya adalah aparatur Pemerintah Kota Cimahi serta pelaku usaha yang tergabung di komunitas kewirausahaan di Cimahi yang dipilih secara purposif. Pengumpulan data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipan pasif, dan studi pustaka. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa: latar belakang Transformasi Branding Kota Cimahi sebagai Kota Kreatif dilihat dari ketiadaan wilayah dan SDA, potensi SDM yang melimpah dan produknya yang kreatif, berdasarkan peraturan pemerintah pusat dan kota serta industri manufaktur yang menurun. Sedangkan latar belakang Pengembangan Ekonomi lokal sebagai upaya untuk mewujudkan Kota Kreatif adalah butuhnya kerjasama dan partisipasi pemerintah dan masyarakat, menumbuhkembangkan ekonomi lokal Cimahi, tidak adanya saluran komunikasi untuk antara antara pelaku usaha, pelaku usaha dan pemerintah, pengembangan terdahulu yang tidak sistematis, bantuan dari organisasi dunia, dan pencanangan program dari pemerintah. Adapun pemahaman pihak-pihak terkait mengenai Transformasi Branding Kota Cimahi sebagai Kota kreatif, dilihat dari pemahaman kampanye, pemahaman program Pengembangan Ekonomi lokal (PEL) dalam upaya mewujudkan Kota Kreatif, Tujuan kampanye, dan keunikan Kota Cimahi. Sedangkan program-program pemerintah kota Cimahi dan dinas-dinas terkait dalam mendukung upaya transformasi branding kota Cimahi sebagai kota Kreatif terbagi atas 3 fase, yaitu perencanaan, eksekusi dan evaluasi. Pola-pola komunikasi yang dilakukan pemerintah kota Cimahi dan dinas-dinas terkait untuk mensosialisasikan transformasi branding kota Cimahi sebagai kota Kreatif dikategorikan menjadi dua, yaitu kepada pelaku usaha sebagai target utama dan masyarakat umum.  
Alur Pesan Kampanye Gerakan Cikapundung Bersih Dalam Meningkatkan Kesadaran Kebersihan Lingkungan Meria Octavianti
Jurnal Komunikasi Vol. 6 No. 2 (2014): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v6i2.32

Abstract

Abstract: Awareness of environmental cleanliness is very important, especially for those who live along the river. Cikapundung is a river that stream down from the north until the south in Bandung City, the Capital of West Java Province, Indonesia. Cikapundung river's conditions is so bad. The data showed that 90% rubbish from the people who live along the Cikapundung River discarded in to the river. The condition causes the river receives the waste bin more than 5.5 million liters/day. To resolve this problem, the government launched a environmental cleanliness campaign that called “Gerakan Cikapundung Bersih” (GCB). The purpose of this campaign will not be achieved if the campaign messages can not be conveyed properly to the public, especially people who live in the Cikapundung Riverbank. Therefore, this research contains a study on the flow delivery of campaign messages consisting of the receipt of the message, the form of the message and the use of media in the GCB campaign. This research showed that the presence of the local community who care of cleanliness Cikapundung River has an important role in the process of delivering campaign message. Face to face communication channels with the informal message used by the local community. While the mass media with the formal message used by the government to delivering campaign messages. Abstrak: Kesadaran kebersihan lingkungan sangat penting, terutama bagi mereka yang tinggal di bantaran sungai. Cikapundung merupakan sungai yang mengalir dari utara sampai ke selatan Kota Bandung. Kondisi Sungai Cikapundung sangatlah buruk. Data menunjukkan bahwa 90% sampah dari orang-orang yang tinggal di sepanjang Sungai Cikapunung dibuang ke sungai. Kondisi tersebut menyebabkan sungai ini menerima limbah sampah lebih dari 5,5 juta liter/hari1. Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah mencanangkan kampanye kebersihan lingkungan yang disebut Gerakan Cikapundung Bersih (GCB). Tujuan dari kampanye ini tidak akan tercapai apabila pesan-pesan kampanye tidak dapat tersampaikan dengan baik kepada masyarakat, khususnya masyarakat yang tinggal di Bantaran Sungai Cikapundung. Oleh karena itu, penelitian ini berisikan kajian mengenai alur penyampaian pesan kampanye yang terdiri dari proses penerimaan pesan, bentuk pesan dan penggunaan media dalam kampanye Gerakan Cikapundung Bersih (GCB). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi dan studi kepustakaan. Triangulasi sumber dilakukan dan member check dilakukan untuk menguji keabsahan data yang digunakan. Penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan komunitas yang peduli akan kebersihan Sungai Cikapundung memiliki peran penting dalam proses penyampaian pesan kampanye. Saluran komunikasi tatap muka digunakan oleh komunitas dalam menyampaikan pesan kampanye secara informal. Sedangkan saluran komunikasi massa digunakan oleh pemerintah untuk menyampaikan pesan kampanye secara formal. 
Media Dan Politik:?Pertarungan Ruangn & Kuasa Media Menjelang Pemilihan Presiden Didik Haryadi Santoso
Jurnal Komunikasi Vol. 6 No. 2 (2014): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v6i2.33

Abstract

Abstrak: Pemilihan umum tidak hanya melahirkan pertarungan kuasa melainkan juga pertarungan ruang. Ruang sosial, ruang media dan ruang elit saling bersilang sengkarut. Bagaimana pertarungan ruang dan kuasa media menjelang pemilihan presiden? Setidaknya pertanyaan tersebut menjadi benang merah dari tulisan ini. Pertarungan ruang dan kuasa dirintis melalui remediasi ruang. Dimana ruang sosial tergiring kedalam ruang media kemudian masuk kedalam ruang elit. Ruang tersebut berbenturan dengan ragam kepentingan media dan partai politik. Kesemuanya saling mereduksi, saling menguasai dan saling mendominasi. Bentuk dominasi ini hadir dalam dua bentuk; Pertama, dominasi atas sumber daya manusia dan Kedua, dominasi atas sumber daya materi. Pertarungan ruang media dan kuasa tidak lagi berkutat pada state based power. Bukan pula terhenti pada market based power melainkan bermuara pada political based power dengan ragam kepentingan politik yang sesaat, instan dan pragmatis. Abstract:Elections are not only about the power but also about how to fight the battle space. Social space, media space and elite space crossed chaos. How bout space and power of the media ahead of the presidential election? At least the question becomes common thread of this paper. Battle space and power initiated remediation through space. Social space are led into the media space and then enter the elite space. The space is in conflict with the interests of a variety of media and political parties. All of reducing mutual, mutual control and dominate the other. Form of domination is present in two forms; First, the dominance of human resources and Second, dominance over material resources. The fight media space and power are no longer dwell on the state-based power. Nor is stopped at a market-based power but boils down to political power with a variety of interest-based politics that instant and pragmatic.  
Posisi Aktor-Aktor Pasar Perangakat Lunak Komputer Indonesia: (Studi Kasus Posisi Negara Dan Masyarakat Dalam Memorandum Of Understanding Pemerintah Indonesia Dan Microsoft 2006) Bayu Indra Pratama
Jurnal Komunikasi Vol. 6 No. 2 (2014): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v6i2.34

Abstract

Abstract: The Government of Indonesia signed a Memorandum of Understanding (MoU) with Microsoft in 2006. Society together with the House of Representatives and the Business Competition Supervisory Commission (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) rejected this MoU. The reason why they rejected this partnership because it has the potential to harm Indonesia. This agreement also shows the government inconsistency of Indonesia, Go Open Source program that have been announced previously. This study aims to determine the position and arguments between the state and the society about the Indonesia Government MoU with Microsoft in 2006. This study uses a case study method. Competition between open source software and proprietary software become the context in this study. This research was also supported by a historical review of the position of the state and society in the development of computers in Indonesia. The results from this study showed that people with the House of Representatives and the Business Competition Supervisory Commission (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) appeared as a dialectic of control of the government. It is shown by the discontinuation of the MoU in the implementation stage. Weak arguments of the government makes it difficult to continue the agreement. The society and informal institutions pressure that exist make the government do not have a reason other than not to continue the MoU.Abstrak:Pemerintah Indonesia menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Microsoft pada tahun 2006. Masyarakat bersama- sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha menolak Nota Kesepahaman ini. Alasan penolakan kemitraan ini karena memiliki potensi untuk merugikan Indonesia. Perjanjian ini juga menunjukkan inkonsistensi pemerintah terhadap program Indonesia, Go Open Source yang telah dicanangkan sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui posisi dan argumen antara negara dan masyarakat tentang Pemerintah Indonesia MoU dengan Microsoft pada tahun 2006. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus. Persaingan antara open source sofware dan  propriertary sofware menjadi konteks dalam penelitian ini. Penelitian ini juga didukung oleh tinjauan historis posisi negara dan masyarakat dalam pengembangan komputer di Indonesia. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat bersama DPR dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) muncul sebagai dialectics of control bagi pemerintah. Hal ini ditunjukkan tidak dilanjutkannya MoU pada tahap implementasi kebijakan. Pemerintah sulit untuk melanjutkan kerjasama tersebut karena argument yang dimiliki lemah. Masyarakat bersama lembaga-lembaga formal yang menekan dan membuat pemerintah tidak memiliki alasan untuk melanjutkan MoU tersebut.