cover
Contact Name
M Taufik Rahmadi
Contact Email
taufikrahmadi@unimed.ac.id
Phone
+6281262337575
Journal Mail Official
jurnalgeografi@unimed.ac.id
Editorial Address
Jalan Willem Iskandar Pasar V Medan Estate, 20221, Indonesia
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Geografi
ISSN : 20858167     EISSN : 25497057     DOI : -
Jurnal Geografi is published as a scientific communication media in the field of Geography Education in particular and Geography in general, as well as other related fields, for faculty members, alumni of Geography Education both from the Faculty of Social Sciences of State University of Medan and alumni of geography from other universities. As a medium of scientific communication, this magazine serves to provide a means of publication for the field of development of concepts and theoretical studies, including actual issues that are relevant in the field of Geography Education in particular and Geography in general. The content of the writing does not have to be in line with the editorial policy. The magazine is published twice a year in February and August and is distributed as a publication for geography education, geography or other related fields. Circulation for the limited circle and enthusiasts can get it by changing the cost of printing and postage.
Articles 324 Documents
PEMETAAN KARAKTERISTIK WILAYAH URBAN DAN RURAL DI WILAYAH BANDUNG RAYA DENGAN METODE SPATIAL CLUSTERING Riya Supriyatin; Andrea Emma Pravitasari; Didit Okta Pribadi
JURNAL GEOGRAFI Vol 12, No 2 (2020): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v12i02.17647

Abstract

Perkembangan wilayah suatu daerah yang terus meningkat baik dari segi sosial maupun ekonomi menarik minat penduduk wilayah lain untuk berkegiatan di daerah tersebut. Perkembangan wilayah dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor baik faktor fisik maupun non fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengelompokkan dan memetakan karakteristik wilayah urban dan rural di wilayah Bandung Raya berdasarkan tipologi perkembangan wilayah di masing-masing kecamatan. Sehingga pembangunan yang direncanakan dapat efektif dan efisien sesuai kondisi di masing-masing kecamatan. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari berbagai instansi. Variabel yang digunakan antara lain indeks ketersediaan fasilitas ekonomi, indeks ketersediaan fasilitas sosial, indeks ketersediaan fasilitas pendidikan, rasio lahan terbangun, densitas jaringan jalan dan kepadatan penduduk dengan unit penelitian berjumlah 106 kecamatan. Data dianalisis menggunakan metode Skalogram Dimodifikasi, Principal Component Analisis dan Spatial Clustering. Hasil analisis menunjukkan berdasarkan tipologi perkembangan wilayah, Bandung Raya dikelompokan menjadi 3 cluster yaitu urban (perkotaan), suburban dan rural (perdesaan). Cluster perkotaan terdiri atas 34 kecamatan menyebar di Kota Bandung dan Kota Cimahi. Cluster suburban terdiri atas 43 kecamatan menyebar di Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Bandung. Cluster perdesaan terdiri atas 29 kecamatan menyebar di Kabupaten SumedangKata kunci: fasilitas, lahan terbangun, perkembangan wilayah, Skalogram Dimodifikasi, Spatial ClusterThe development of a region that continues to increase, both in terms of social and economic, attracts residents from other regions to have activities in the area. Regional development can be influenced by various factors, physical and non-physical factors. This study aimed to cluster the Greater Bandung area based on typology of regional development in each sub-district so that the planned development can be effective and efficient according to the conditions in each sub-district. This study used secondary data obtained from various institutions. Variables used in this study were the economic facilities availability index, social facilities availability index, educational facilities availability index, built up area ratio, road density and population density with total 106 sub-districts. These datas were analyzed using the Modified Skalogram method, Principal Component Analysis and Spatial Clustering. The analysis showed that based on the typology of regional development, Greater Bandung can be grouped into 3 clusters, consisting of urban zone, suburban zone and rural zone. Urban zone consists of 34 sub-districts spreading mostly in Bandung City and Cimahi City. Suburban zone consists of 43 sub-districts spreading mostly in West Bandung Regency and Bandung Regency. Rural zone consists of 29 sub-districts spreading mostly in Sumedang RegencyKey words: facilities, built up area, regional development, Modified Skalogram, Spatial Clustering
Penurunan Pemanfaatan Pasar Matur Kecamatan Matur Kabupaten Agam Yurni Suasti; Elvinalis Elvinalis
JURNAL GEOGRAFI Vol 3, No 1 (2011): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v3i1.7288

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk melihat daerah-daerah yang memanfaatkan Pasar Matur dan faktor-faktor penyebab penurunan pemanfaatannya.Subjek penelitian ini terdiri dari tokoh masyarakat dan masyarakat yang pernah memanfaatkan Pasar Matur (penjual dan pembeli).Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Penelitian ini menemukan: (1) Periode tahun 1950-1958, daerah yang memanfaatkan pasar meliputi nagari yang ada di Kecamatan Matur kecuali Nagari Lawang dan Nagari Tigo Balai, dan daerah-daerah yang berbatasan dengan Kecamatan Matur,  serta Bukittinggi, Lubuk Basung, Payakumbuh dan Pasaman, (2) Periode tahun 1958-1962, pemanfaatan Pasar Matur semakin optimal, seluruh daerah pada poin satu memanfaatkan pasar ini termasuk Nagari Lawang dan Nagari Tigo Balai yang sebelumnya tidak memanfaatkan pasar Matur, (3) Periode tahun 1962-1985, daerah yang memanfaatkan Pasar Matur mulai berkurang, seperti daerah  Payakumbuh, Bukittinggi, Pasaman, Lubuk Basung dan Maninjau. Hal ini seiring dengan pemindahan pasar ternak yang tadinya terletak berdampingan dengan pasar Matur.Meskipun demikian Pasar Matur masih berfungsi dengan baik. (4) Periode tahun 1985 sampai sekarang. Periode ini ditandai semakin berkurangnya daerah yang memanfaatkan pasar Matur sekaligus penurunan fungsi pasar yang signifikan.Kata kunci:   Periodisasi, pemanfaatan pasar, daerah yang memanfaatkan
Analisis Perubahan Penggunaan Lahan Wilayah Pesisir Desa Tanjung Rejo Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang (1990-2011) Winda Lestari; Nahor M. Simanungkalit
JURNAL GEOGRAFI Vol 4, No 2 (2012): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v4i2.8067

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) perubahan penggunaan lahan pada tahun 1990-2011 Wilayah Pesisir Desa Tanjung Rejo Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang, (2) kesesuaian perubahan penggunaan lahan Desa Tanjung Rejo dengan RUTR Kecamatan Percut Sei Tuan dan RTRW.  Penelitian ini bersifat deskriptif dengan teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan studi dokumentasi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kawasan Desa Tanjung Rejo sekaligus menjadi sampel penelitian. Teknik pengolahan data dilakukan melalui metode deskriptif yaitu analisis perbandingan peta penggunaan lahan Desa Tanjung Rejo tahun 1990-2011 secara sistematik. Hasil penelitian menunjukan (1) dalam kurun waktu 22 tahun yaitu tahun 1990 sampai 2011 terjadi perubahan penggunaan lahan atau perubahan fungsi lahan terutama penggunaan lahan berupa hutan mangrove mengalami pengurangan luas sebesar 234,92 Ha (5,34%) walaupun sudah ada program rehabilitasi mangrove, perumahan mengalami penambahan luas sebesar 33,98 Ha (0,77%), penggunaan lahan berupa tambak mengalami penambahan luas sebesar 465,12 Ha (3,74 %), dan alih fungsi lahan dari lahan pertanian sawah menjadi kebun kelapa sawit seluas 164,81 Ha (3,74%), (2) perubahan penggunaan lahan tidak sesuai sejak tahun 1990 hingga tahun 2011 dengan RUTR dan RTRW yang mengarahkan wilayah Desa sebagai wilayah jalur hijau (kawasan lindung).Kata kunci :      Analisis perubahan, Penggunaan lahan, Wilayah pesisir
Daya Tarik Wisata Pantai Wediombo Sebagai Alternatif Wisata Bahari Di Daerah Istimewa Yogyakarta Achmad Andi Rif'an
JURNAL GEOGRAFI Vol 10, No 1 (2018): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v10i1.7955

Abstract

DIY (Daerah Istimewa Yogyalarta/ Special Region of Yogyakarta) coastal area has so many nice beaches that is very interesting to visit. One of them is Wediombo Beach. Wediombo Beach is not so well known by tourists yet, and still less famous than other beaches in DIY. This study intends to introduce Wediombo Beach as an alternative maritime tourism in the coastal area of DIY. The purpose of this research are: to identify the general profile of Wediombo Beach; to identify the tourist attractions offered Wediombo Beach; to identify the accessibility to the location of Wediombo Beach; and identify the characteristics of tourists visiting the Wediombo Beach. The method used in this study is a qualitative approach by using descriptive analysis using primary data obtained from the field survey, documentation, and in-depth interviews with official and the visitors / tourists. Wediombo Beach has many attractions that can attract tourists to visit, which can be classified as something to see, something to do, and something to buy. Accessibility to the beach Wediombo quite easily accessed which can be reached using public transport or private vehicles. Tourists visiting the beach Wediombo have different characteristics that can be seen from the age, gender, occupation, income, origin of tourists, and tourist motivation.Keywords: Coastal Tourism, Attraction, Accessibility, Tourists Characteristic
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI FERTILITAS PASANGAN USIA SUBUR PESERTA KB DI KELURAHAN AUR KUNING KECAMATAN AUR BIRUGO TIGO BALEH BUKITTINGGI Zulwida Rahmayeni
JURNAL GEOGRAFI Vol 8, No 2 (2016): Jurnal Geografi
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v8i2.5777

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi, menganalisis dan membahas data empiris tentang fertilitas PUS peserta KB ditinjau dari segi tingkat Pendidikan, pendapatan, serta usia perkawinan di Kelurahan Aur Kuning Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh Bukittinggi.Sesuai dengan permasalahan dengan tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini, maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah semua pasangan usia subur (PUS) yang berusia antara 15-49 tahun, dengan populasi 1.024 orang dan sampel 103 orang, dimana sampel responden diambil dengan menggunakan teknik proporsional random sampling.Berdasarkan data penelitian Pasangan Usia Subur (PUS) peserta KB di Kelurahan Aur Kuning Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh Bukittinggi dimana terdapat 103 responden. Dimana fertilitas berbanding lurus terhadap tingkat pendapatan dan usia perkawinan pasangan usia subur peserta KB di Kelurahan Aur Kuning Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh Bukittinggi, Namun fertilitas berbanding tetbalik terhadap tingkat pendidikan pasangan usia subur (pus) peserta KB di Kelurahan Aur Kuning Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh Bukittinggi.Kata kunci: pendidikan, pendapatan, usia perkawinan, fertilitas, pasangan usia subur
Zonasi Tingkat Kerawanan Banjir Pada Ruas Bekas Sungai di Kabupaten Sukoharjo Agra Kurnia Saputra; Dian Hudawan Santoso; Andi Renata Ade Yudono
JURNAL GEOGRAFI Vol 12, No 1 (2020): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v12i01.14390

Abstract

AbstractKecamatan Tawangsari dan Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah merupakan wilayah yang dilalui proyek pelurusan Sungai Bengawan Solo. Setelah dilakukan pelurusan Sungai Bengawan Solo timbul masalah baru, yaitu munculnya beberapa ruas bekas sungai. Pada awal tahun 2006 terjadi bencana banjir di sekitar ruas bekas sungai akibat masuknya aliran dari Sungai Bengawan Solo melalui ruas bekas sungai sehingga menggenangi permukiman dan lahan pertanian. Berdasarkan hal tersebut, ruas bekas sungai belum dikelola dengan baik sehingga menimbulkan masalah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerawanan banjir di kawasan sekitar ruas bekas sungai di lokasi penelitian. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode survei dan pemetaan lapangan serta metode skoring dan pembobotan. Skoring dan pembobotan dilakukan terhadap beberapa parameter, yaitu curah hujan, kemiringan lereng, jenis tanah, penggunaan lahan, elevasi, dan jarak wilayah dengan sungai (buffer). Zonasi kerawanan banjir didapatkan dengan metode skoring dan pembobotan berdasarkan parameter tersebut. Hasil penelitian menunjukkan di lokasi penelitian terdiri dari 3 zona kerawanan banjir yaitu kerawanan rendah sebesar 66,7%, kerawanan sedang sebesar 27,75%, dan kerawanan tinggi sebesar 5,55% dari total luas daerah penelitian.Kata kunci: Kerawanan Banjir, Ruas Bekas Sungai, Zonasi Tawangsari Subdistrict and Sukoharjo Subdistrict, Sukoharjo Regency, Central Java Province are the areas that have passed the Bengawan Solo River alignment project. After rectifying the Bengawan Solo River, a new problem arose, namely the emergence of several ex-river segments called billabong. In the early of 2006 there was a flood around the former river section due to the influx of flow from the Solo River along the former river section so that it inundated settlements and agricultural land. Based on this, the former river section has not been managed well, causing environmental problems. This study aims to determine the use of the former river section as a flood disaster control engineering. This study aims to determine the level of flood vulnerability in the area around the former river section of the study location. The methods used in data collection are survey and field mapping methods as well as scoring and weighting methods. Scoring and weighting are carried out on several parameters, namely rainfall, slope, soil type, land use, elevation, and distance of the area from the river (buffer). Zoning of flood hazard is obtained by scoring and weighting methods based on these parameters. The research area has three flood vulnerability zones, namely low vulnerability with 66,7%, moderate vulnerability with 27,75%, and high vulnerability level with 5,55% of the total area of the study area.Key words: Flood Hazard, Billabong, Zoning
Analisis Kelas Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Bawang Merah di Desa Pasaran Parsaoran Kecamatan Nainggolan Kabupaten Samosir Desmi Sianturi; Nahor M. Simanungkalit
JURNAL GEOGRAFI Vol 9, No 2 (2017): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v9i2.6971

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1) Karakteristik kualitas lahan (temperatur, curah hujan rata-rata, drainase, tekstur, kedalaman perakaran, KTK, pH, N-total, K2), P2O5, kemiringan lereng, batuan di permukaan dan singkapan batuan), 2) Kelas kesesuaian lahan untuk tanaman bawang merah di Desa Pasaman Parsaoran Kecamatan Nainggolan Kabupaten Samosir. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh lahan kering di Desa Pasaman parsaoran seluas 1055 Ha. Sampel ditentukan secara Purposive Sampling, dipilih berdasar 2 (dua) ketentuan tertentu : 1) ketinggian tempat yang berdampak pada suhu mikro, dan 2) bentuk relief daerah penelitian yang memiliki topografi bergelombang dengan menggunakan kontur interval 10 meter, sehingga diperoleh sampel sebanyak 4 titik. Teknik pengumpulan data yang dilakukan ialah Observasi, teknik pengukuran dan studi dokumenter. Data dianalisis secara deskriftif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Kualitas lahan di Desa Pasaman Parsaoran tidak baik untuk tanaman bawang merah akibat ketersediaan air (w) yang berlebih. 2) Kelas kesesuaian lahan untuk tanaman bawang merah berada pada kelas Nw karena kondisi curah hujan yang tinggi. Lahan yang memiliki pembatas paling banyak berada pada wilayah dusun III dengan faktor pembatasnya curah hujan (w) pada kelas N, pH dan lereng pada kelas S3 (sesuai marginal), suhu, drainase pada kelas S2. Lahan yang memiliki penghambat paling sedikit berada pada dusun II dengan faktor pembatas ketersediaan air (w) berada pada kelas N. Nilai Ph, suhu, KTK, pada kelas S2 dan faktor pendukungnya ialah tekstur, kedalaman efektif tanah, N-total, P2O5, batuan di permukaan, dan singkapan batuan pada kelas S1. Kata kunci : Kelas kesesuaian lahan, Bawang merah
Studi Mengenai Koefisien Aliran Sebagai Indikator Kerusakan Lingkungan Di Daerah Aliran Sungai Deli Anik Juli Dwi Astuti; Nurmala Berutu
JURNAL GEOGRAFI Vol 4, No 1 (2012): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v4i1.7924

Abstract

Daerah penelitian adalah DAS Deli yang meliputi enam subDAS dan mempunyai luas 47.302,10 ha. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) menilai besarnya rata-rata koefisien aliran sebagai salah satu indikator rusak atau tidaknya lingkungan DAS Deli dilihat dari aspek tata air. 2) mengetahui sebaran besarnya nilai koefisien aliran di DAS Deli. 3) Merumuskan strategi pengelolaan lingkungan untuk mencegah meningkatnya nilai koefisien aliran di DAS Deli. Dalam penelitian ini dilakukan survei instansional, dan lapangan. Survei instansional dilakukan untuk mendapatkan data hidrometeorologi (curah hujan, suhu). Survei lapangan dilakukan untuk menguji kebenaran hasil peta yang telah dibuat dan dan mengambil data fisik yang terdiri dari kemiringan lereng, dan tekstur tanah. Perhitungan koefisien aliran  menggunakan metode Cook.Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata koefisien aliran di DAS Deli  adalah 0,52, yang menunjukkan bahwa DAS Deli masih dalam kondisi normal. Namun ada beberapa subDAS di DAS Deli yang mempunyai koefisien aliran yang tinggi seperti subDAS Petane, Simaimai dan Babura. Tingginya nilai koefisien aliran dapat menyebabkan banjir dan erosi yang tinggi. Untuk itu diperlukan strategi pengelolaan lingkungan untuk mencegah terjadinya kenaikan koefisien aliran dengan prinsip pengelolaan lingkungan DAS ”one river and one management”. Kegiatan pengelolaan meliputi meliputi: perencanaan, penataan, penetapan, pemanfaatan, pelestarian, dan pemantauan (7P) yang tentu harus melibatkan tiga unsur kelembagaan, yaitu, Pemerintah, masyarakat dan lembaga swasta.Kata kunci:    Koefisien aliran, kerusakan lingkungan, Daerah Aliran Sungai
Inovasi Meida Pembelajaran Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Tata Ruang Melalui Pemanfaatan Teknologi Informasi Geografis Darwin Parlaungan Lubis; Mahara Sintong; Maringan Sirait
JURNAL GEOGRAFI Vol 5, No 2 (2013): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v5i2.8157

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas mahasiswa melakukan praktek lapangan dalam inovasi pembelajaran Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Tata Ruang  melalui model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) dan meningkatkan  kemampuan mahasiswa dengan  pemanfaatan media  WebCT e-Learning dalam penerapan model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) . Dalam penelitian ini model pembelajaran yang diterapkan adalah kuliah kerja lapangan, dimana mahasiswa dituntut untuk melakukan pembelajaran di lapangan dengan mengamati dan meanalisis kenampakan di lapanangan dengan konsep teori yang di pelajari.Selain itu, mahasiswa juga terlbat langsung dalam pemenfaatan IT melalui pencarian data dan informasi menggunakan internet. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang sedang mengambil mata kuliah Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Tata Ruang  pada semester ganjil tahun akademik 2011/2012.Disamping itu, mahasiswa yang sedang melakukan penelitian dengan kajian pengembangan wilayah juga dilibatkan dalam penelitian ini.Berdasar hasil penilaian kerja kelompok mahasiswa dari tahap pra lapanganhingga tahappasca lapanga pada kegiatan pembelajaran praktek lapangan pengantar perencanaan pembangunan dan pengembangan wilayah mengalami peningkatan. Hal ini terlihat nilai mahasiswa pada tahap pra lapangan rata-rata nilai mahasiswa 80,47 dengan komposisi nilai (B = 72,50% dan C = 27,50 %) , tahap lapangan nilai rata-rata mahasiswa 81,56 dengan komposisi nilai (A = 12,50 %, B = 82,50 % dan nilai C = 12,50 %) dan tahap pasca lapangan memperoleh nilai rata-rata 81,56 dengan komposisi nilai (A = 22,70 %, B = 82,50 % dan C = 2,50 %). Hasil ini menunjukkan jumlah mahasiswa yang memiliki nilai yang tinggi semakin meningkat.Kata Kunci : Inovasi Pembelajaran, Praktek Lapangan, Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Tata Ruang   
IDENTIFIKASI PERMASALAHAN DAN REKOMENDASI STRATEGI PENGELOLAAN PESISIR PURWOREJO-JAWA TENGAH (Studi Kasus : Areal Bekas Penambangan PT ANTAM) Riki Rahmad
JURNAL GEOGRAFI Vol 8, No 1 (2016): Jurnal Geografi
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v8i1.5257

Abstract

Pasir besi memiliki nilai ekonomis tinggi dan memiliki manfaat pendukung yang sangat besar bagi industri. Pasir besi dengan potensi tinggi terdapat di pantai selatan Jawa, salah satunya di pesisir Purworejo. Survei lapangan yang dilakukan di Pesisir Kabupaten Purworejo bertujuan untuk meninjau dan mengkaji kondisi dari berbagai aspek daerah penambangan pasir besi. Kerusakan fisik yang utama pada bekas pertambangan antara lain kerusakan bentanglahan gumuk pasir dengan terbentuknya banyak lembah atau kubangan akibat pengambilan pasir. Penambangan pasir besi yang dilakukan di Purworejo menggambarkan bahwa disatu sisi aktivitas ini meningkatkan nilai perekonomian daerah tetapi disisi lain kegiatan ini juga merusak ekositem pesisir pantai selatan Jawa. Kendala dalam bidang peternakan dan pertanian yang dialami saat ini antara lain masih minimnya antusiasme masyarakat dalam bidang peternakan dan pertanian serta terbatasnya modal dalam pengembangan peternakan dan pertanian. Berdasarkan perspektif dalam sosial ekonomi masyarakat terlihat bahwa respon warga cukup baik terhadap program pembangunan kembali kondisi sosial dan ekonomi masyarakat pasca penambangan pasir besi yang dilakukan oleh PT. ANTAM. Beberapa hal yang masih menjadi kekurangan dalam program pemberdayaan sosial dan ekonomi masyarakat yaitu terkait dengan distribusi modal yang terlihat kurang merata.Kata kunci: Pasir besi, Pesisir, Purworejo, ANTAM

Page 11 of 33 | Total Record : 324