cover
Contact Name
Yushak Soesilo
Contact Email
yushak@sttintheos.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.dunamis@sttintheos.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
ISSN : 25413937     EISSN : 25413945     DOI : -
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani dengan nomor ISSN 2541-3937 (print), ISSN 2541-3945 (online) diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta. Tujuan dari penerbitan jurnal ini adalah untuk mempublikasikan hasil kajian ilmiah dan penelitian dalam bidang ilmu Teologi Kristen, terutama yang bercirikan Injili-Pentakosta, dan bidang Pendidikan Kristiani.
Arjuna Subject : -
Articles 355 Documents
Pendidikan Agama Kristen yang Membebaskan: Pedagogis Kritis Paulo Freire dalam Konteks Budaya Suku Boti Remegises Danial Yohanis Pandie; Desi Sianipar; Lamhot Naibaho
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 7, No 2 (2023): April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v7i2.944

Abstract

Abstract. This paper aimed to propose a liberating construction of Christian Religious Education (CRE). This study departs from research conducted on the Boti ethnic community in Boti Village, South Central Timor District. The Christians in the Boti community are still treated as adherents of foreign religions, whose existence is considered a threat to local culture. This fact makes Christians there unable to contribute optimally to the development of the local community. The method used in this study is a qualitative method with an ethnographic approach. Conducted by Paulo Freire's thinking about critical pedagogy, it is obtained a CRE construction that is relevant to the social situation of society. CRE must be contextual, holistic, liberative and transformative by directing all resources and pedagogical efforts to produce a generation that is critical and dialogical; they have sensitivity, solidarity, and ability to analyze social issues.Abstrak. Tujuan tulisan ini adalah mengusulkan konstruksi Pendidikan Agama Kristen (PAK) yang membebaskan. Kajian ini berangkat dari penelitian yang dilakukan pada masyarakat Suku Boti di Desa Boti, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Umat Kristiani di masyarakat Boti masih diperlakukan sebagai penganut agama asing, yang keberadaannya dianggap mengancam budaya lokal. Kenyataan tersebut membuat umat Kristiani di sana tidak dapat memberikan konstribusi secara maksimal bagi kemajuan masyarakat setempat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Dengan menggunakan bantuan pemikiran Paulo Freira tentang pedagogis kritis, diperoleh hasil suatu konstruksi PAK yang relevan situasi sosial masyarakat. PAK harus bersifat kontekstual, holistik, liberatif dan transformatif dengan mengarahkan segala daya dan upaya pedagogis agar menghasilkan generasi yang kritis, dialogis, memiliki kepekaan dan solidaritas kemanusiaan, dan memiliki kemampuan menganalisis masalah-masalah sosial.
Teologi Migrasi dan Diakonia Transformatif: Sebuah Tawaran Berteologi Merespons Realitas Migrasi di Era Globalisasi Lamria Sinaga
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 7, No 2 (2023): April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v7i2.750

Abstract

Abstract. This article seeks to explore an emerging Migration Theology to respond to the reality of global migration. Global migration indicates migrants often experience injustice, violence, exploitation, and human trafficking. Using qualitative research methods with a descriptive approach and literature study, this article concludes that transformative diaconia is recommended in responsding to the reality of global migration with three approaches, namely: increasing cooperation between institutions dealing with migrants, strengthening international diaconal institutions, and solidarity actions for migrants.Abstrak. Artikel ini bertujuan mengeksplorasi Teologi Migrasi dan relasinya dengan pembebasan dalam rangka merespons realita migrasi global. Migrasi global memperlihatkan, kaum migran acap kali mengalami ketidakadilan, kekerasan, eksploitasi, dan perdagangan manusia. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis dan kajian literatur, artikel ini menyimpulkan bahwa diakonia transformatif sebagai keniscayaan dalam merespons realitas migrasi global dengan tiga pendekatan, yaitu: peningkatan kerjasama antar lembaga yang menangani migran, penguatan lembaga diakonia internasional, dan aksi dukungan solidaritas kepada kaum migran.
Teodise dan Covid-19 Mateus Mali
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 7, No 2 (2023): April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v7i2.830

Abstract

Abstract. The Covid-19 pandemic has created human’s suffering. Human suffering itself has evoked many questions about God's omniscience and omnipotence, which are often known as theodicy problem. This paper is an attempt to account for God's ways of human suffering. The method used in this study was a literature study by conducting a reflective analysis of several philosophers and theologians' thoughts. The results of this study showed that faith in Jesus Christ enables people to accept suffering positively. Suffering can bring to awareness of human limitations, awareness that suffering can be turned into strength, raise a sense of optimism for a better future, and awaken solidarity.Abstrak. Pandemi Covid-19 telah membuat manusia menderita. Penderitaan manusia itu sendiri telah mengundang banyak pertanyaan terhadap kemahatahuan dan kemahakuasaan Allah, yang sering dikenal dengan persoalan teodise. Tulisan ini adalah sebuah usaha untuk mempertanggungjawabkan jalan-jalan Tuhan atas penderitaan manusia. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah studi literatur dengan melakukan analisis reflektif dari beberapa pemikiran filsuf dan teolog. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa iman kepada Yesus Kristus membuat orang dapat menerima penderitaan secara positif. Penderitaan dapat mengajarkan kesadaran akan keterbatasan manusiawi, kesadaran bahwa penderitaan dapat diubah menjadi kekuatan, bangkitnya rasa optimis akan masa depan yang lebih baik, dan bangkitnya solidaritas.
Analisis Konsep Misi Social Gospel dan Relevansinya Bagi Misi Gereja Masa Kini Yosep Belay
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 7, No 2 (2023): April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v7i2.816

Abstract

Abstract. This article examines the concept of the the Social Gospel’ mission as a dialectical effort to find its relevance to the mission of the church today. Through this article the author presents the main ideas of the Social Gospel as a critique of the church's mission approach regarding social problems. The method used in this paper is a literature study. Through this study, the result is that Social Gospel theology which emphasizes the preaching of the Kingdom of God makes it against to conservative theology. However, the Social Gospel mission approach can be a critique to the conservative mission approach, so that the mission paradigm can be further expanded, not only paying attention to futuristic personal salvation, but also caring about social salvation today.Abstrak. Artikel ini mengkaji konsep misi Social Gospel sebagai usaha dialektik untuk menemukan relevansinya bagi misi gereja masa kini. Melalui artikel ini penulis mengemukakan gagasan pokok Sosial Gospel sebagai kritik terhadap pendekatan misi gereja terhadap permasalahan sosial. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah studi literatur. Melalui studi ini diperoleh hasil bahwa teologi Social Gospel yang menekankan pada pemberitaan Kerajaan Allah membuatnya berseberangan dengan teologi konservatif. Meski demikian, pendekatan misi Social Gospel dapat menjadi kritik bagi pendekatan misi konservatif, sehingga paradigma misi dapat semakin diperluas, tidak hanya memperhatikan keselamatan pribadi yang futuristik, namun juga perduli terhadap keselamatan sosial pada masa kini.
Kekerasan Seksual dan Relasi Kuasa: Tinjauan Plot Narasi 2 Samuel 11:1-27 Muryati Muryati; Alvin Koswanto; Yusak Setianto; Melvin Abrillian
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 7, No 2 (2023): April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v7i2.822

Abstract

Abstract. This article was written with the purpose of studying the corelation between power relation and sexual abuse in the King David and Bathsheba narrative to raise awareness of the danger posed by a power relation. By using plot analysis in the 2 Samuel 11:1-27 narrative, it can be understood that with the power he possessed, David committed an abuse of power to commit acts of sexual abuse against Bathsheba. Bathsheba, in this case who was in a position of lower power, could not refuse King David's lust. Thus, power relation should not be taken for granted, but must be understood critically.Abstrak. Artikel ini ditulis dengan tujuan untuk untuk mengkaji hubungan relasi kuasa dengan kekerasan seksual dalam narasi Raja Daud dan Batsyeba sehingga dapat menumbuhkan kesadaran akan bahaya yang ditimbulkan dari suatu relasi kuasa. Dengan menggunakan analisis plot pada narasi 2 Samuel 11:1-27, dapat dipahami bahwa dengan kekuasaan yang dimiliki, Daud melakukan tindakan penyalahgunaan kekuasaan secara sadar dan terencana untuk melakukan tindakan kekerasan seksual terhadap Batsyeba. Batsyeba, dalam hal ini yang berada di posisi kekuasaan lebih rendah, tidak dapat menolak keinginan Raja Daud tersebut. Dengan demikian, relasi kuasa semestinya tidak diterima begitu saja, namun harus dipahami secara kritis.
Alkitab Tidak Identik Dengan Firman Allah? Tinjauan Teologis Atas Konsepsi Karl Barth Tentang Alkitab Yudi Jatmiko
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 7, No 2 (2023): April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v7i2.890

Abstract

Abstract. Responding to the spirit of Liberalism who overruled his age, Karl Barth exerted to “save” the Scripture from the mocking of liberal theologians. One of Barth’s positive influences is that the Scripture resumed to be respected as a media where God reveals himself. However, Barth unfortunately treated the Scripture as no more than testimonies about God. To Barth, the Bible is fallible because it is written by men. This is the focus of this study. This writing endeavors to articulate Barth’s concept of the Bible (also known as neo-orthodoxy) and provides critical analysis and arguments towards Barth’s view, especially related with the nature of the Bible. Through this study it can be concluded that Barth's thoughts about the Bible are heavily influenced by existentialism, and therefore are subjective.Abstrak. Menyikapi semangat Liberalisme yang melanda zamannya, Karl Barth berusaha “menyelamatkan: Kitab Suci dari hinaan para teolog liberal. Salah satu pengaruh Barth yang positif adalah dihormatinya kembali Kitab Suci sebagai media Allah menyatakan diri-Nya.  Walaupun demikian, sangat disayangkan bahwa Barth memandang Kitab Suci tidak lebih dari sekadar kesaksian tentang Allah. Bagi Barth, Alkitab memiliki kapasitas kesalahan karena ditulis oleh manusia. Ini menjadi fokus penelitian penulis. Tulisan ini berusaha memaparkan konsepsi Barth (atau yang dikenal sebagai neo-ortodoksi) tentang Alkitab dan memberikan analisis dan argumentasi kritis terhadap pandangan ini, khususnya berkaitan dengan natur Alkitab. Melalui kajian ini dapat disimpulkan bahwa pemikiran Barth tentang Alkitab sangat dipengaruhi oleh eksistensialisme, dan karenanya bersifat subyektif.
Peran Roh Kudus dalam Penderitaan Orang Kristen Thio Christian Sulistio
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 7, No 2 (2023): April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v7i2.769

Abstract

Abstract. Indonesia is prone to natural disasters and crime. These natural disasters and crimes cause suffering in human life, including the lives of Christians. In the suffering experienced by Christians, the question arises what is the role of the Holy Spirit in this kind of suffering? The author attempts to answer this question by using the literature research method. Through this study it can be concluded that the Holy Spirit plays a role in the entire life of a believer, including in everyday life that is supposed to be profane.Abstrak. Indonesia rawan terhadap bencana alam dan kejahatan. Bencana alam dan kejahatan ini menimbulkan penderitaan di dalam kehidupan manusia termasuk kehidupan orang-orang Kristen. Di dalam penderitaan yang dialami oleh orang Kristen maka muncul pertanyaan apakah peranan dari Roh Kudus dalam penderitaan tersebut? Penulis berupaya untuk menjawab pertanyaan ini dengan menggunakan metode riset literatur. Melalui kajian ini dapat disimpulkan bahwa Roh Kudus berperan dalam seluruh kehidupan orang percaya sepenuhnya, termasuk dalam kehidupan sehari-hari yang bersifat profan.
Afirmasi Agama dan Negasi atas Ateisme dalam Pemikiran Kant tentang Moralitas Iventus Ivos Kocu; R.F. Bhanu Viktorahadi
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 7, No 2 (2023): April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v7i2.695

Abstract

Abstract. Believing in God and not is a human attitude in facing the ontological big reality, including his existence. Various arguments have proven the existence of God whether through ontological, cosmological, or teleological evidence in the context of philosophy and theology. This paper presents Kant's thinking which rejected all these arguments. Using Wittgenstein's method of philosophical investigation, this paper showed that for Kant, such evidence was a futile effort because human reason is limited. Kant argued that through morality, humans can find God and religion. Through morality too, Kant rejected atheism. This study can contribute to the deepening of the discussion on the existence of religion, which has always been the subject of awareness of human existence; as well as being material that can be presented in public discussions to maintain social harmonization.Abstrak. Mempercayai Tuhan dan tidak adalah sikap manusia dalam menghadapi realitas besar ontologis, termasuk keberadaan dirinya. Berbagai argumen telah berupaya untuk membuktikan keberadaan Tuhan melalui bukti ontologis, kosmologis, dan teleologis dalam konteks filsafat dan teologi. Tulisan ini menghadirkan pemikiran Kant yang menolak semua argumentasi itu. Dengan metode investigasi filosofis ala Wittgenstein, tulisan ini menunjukkan bahwa bagi Kant, pembuktian-pembuktian adanya Tuhan tersebut merupakan upaya kesia-siaan lantaran akal budi manusia itu terbatas. Kant mengetengahkan bahwa melalui moralitas, manusia bisa menemukan Tuhan dan agama. Melalui moralitas pula, Kant menolak ateisme. Kajian ini dapat memberikan kontribusi pada pendalaman diskusi tentang eksistensi agama, yang selalu menjadi bahan kesadaran eksistensi manusia; sekaligus menjadi bahan yang dapat dihadirkan pada diskusi-diskusi publik untuk menjaga harmonisasi sosial.
Profleksi Liturgi Misional Pentakostal: Revitalisasi Liturgi Pentakostal dalam Ibadah Minggu Fredy Simanjuntak
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 7, No 2 (2023): April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v7i2.813

Abstract

Abstract. The phenomenon of the Pentecostal liturgical movement has been shown to significantly change the face of Christianity globally. The most effective particularity for this movement is its liturgical style which is relevant and connected to contemporary culture. Pentecostal creative liturgy has proven to be a contributing factor in the development of this movement. However, along with the development and growth of the Pentecostal movement, implied a shift in focus from missionary goals to individual goals in the liturgy of worship. This is certainly a challenge for the Pentecostal Church in revitalizing its liturgy. This study used qualitative research methods by utilizing various data from literature studies. This paper aimed to construct the concept of proflexion which was initiated by Joas Adiprasetya in revitalizing the Pentecostal liturgy. The results showed that the concept of proflection is in line with the vitality of the Pentecostal liturgical movement at this time.Abstrak. Fenomena gerakan liturgi kelompok Pentakostal telah terbukti secara signifikan mengubah wajah kekristenan secara global. Adapun partikularitas yang paling efektif bagi gerakan ini adalah corak liturginya yang relevan terkoneksi dengan budaya kontemporer. Liturgi kreatif Pentakostal telah terbukti menjadi faktor pendukung dalam perkembangan aliran ini. Namun seiring dengan pekembangan dan pertumbuhan gerakan Pentakostal tersebut, tersirat pergeseran fokus dari tujuan misional ke tujuan individual dalam liturginya ibadahnya. Hal ini tentunya menjadi tantangan bagi Gereja Pentakostal dalam merevitalisasi liturginya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan memanfaatkan berbagai data dari studi literatur. Penulis mengajukankonstruksi konsep profleksi yang digagas oleh Joas Adiprasetya dalam merevitalisasi liturgi Pentakostal.Hasil penelitian menunjukkan konsep profleksi sejalan dengan vitalitas gerakan liturgi Pentakostal pada masa kini yang berlandaskan karya Roh Kudus.
The Practice of Silence for Achieving Spiritual Perfection Hendi Hendi
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 7, No 2 (2023): April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v7i2.821

Abstract

The most important things about this paper are that Christians find perfection in the spiritual world, by being saved immediately and for all time through Christ. The exercise of silence and hesychia is the way to achieve perfection, and it can be applied to us nowadays. The goal of this article is to discover Apophthegmata Patrum in terms of the answers given in the sayings of the Desert Fathers. Silence and hesychia are crucial elements of monastic life, as are the elements of spiritual perfection such as the purification of sins, or logismoi, the renunciation of the world, or repose, listening to and loving God, and discovering the Kingdom of God within the heart. The practice of silence for us living nowadays is to build our spiritual cell in the silence and repose of this busy world. The cell is the first step toward silence, followed by the hesychia.