cover
Contact Name
Manpan Drajat
Contact Email
Manpan Drajat
Phone
-
Journal Mail Official
alafkarjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
al-Afkar, Journal For Islamic Studies
ISSN : 26144883     EISSN : 26144905     DOI : -
Core Subject : Social,
al-Afkar, Journal for Islamic Studies is published by Association of Secondment Lecturers (Asosiasi Dosen DPK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung Indonesia. Focus of al-Afkar, Journal for Islamic Studies is on publishing original empirical research articles and theoretical reviews of Islamic Studies, it covers various issues on the Islamic studies within such number of fields as Islamic Education, Islamic thought, Islamic law, political Islam, and Islamic economics from social and cultural perspectives and content analysis from al-Qur’an and Hadist. In other than forementioned field in Islamic Studies, al-Afkar, Journal for Islamic Studies also accepts articles which cover the topic on the cross section between Islam Studies and other scientific field, such as sociology, law, economics, and others.
Arjuna Subject : -
Articles 1,567 Documents
Manajemen Pendidikan Karakter Melalui Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Kartono
al-Afkar, Journal For Islamic Studies Vol. 5, No. 4, October 2022
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/afkarjournal.v5i4.383

Abstract

Tujuan penulisan ini adalah untuk mengkaji bagaimana manajemen pendidikan karakter pelajaran Pancasila melalui mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Pendidikan merupakan proses perubahan perilaku melalui interaksi dengan lingkungannya. Kualitas perilaku peserta didik di saat ini merupakan hasil pendidikan di masa lalu, dan pendidikan dasar saat ini akan berpengaruh besar terhadap perilaku peserta didik di masa yang akan datang. Untuk mencapai tujuan tersebut maka di dalam diri peserta didik harus ditanamkan nilai-nilai pembentuk karakter yang bersumber dari Agama, Pancasila, dan Budaya.  Pendidikan karakter bukan hal baru dalam tradisi pendidikan di Indonesia. Pendiri bangsa, seperti Soekarno telah mencoba menerapkan semangat pendidikan karakter sebagai pembentuk kepribadian dan identitas bangsa yang bertujuan menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berkarakter. Tulisan ini menyimpulkan bahwa tujuan pendidikan kewarganegaraan adalah menciptakan warga negara yang memiliki wawasan kenegaraan, menanamkan rasa cinta tanah air, dan kebanggaan sebagai warga negara Indonesia dalam diri para generasi muda penerus bangsa. Pendidikan Kewarganegaraan bertujuan membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air rasa ini diwujudkan dalam bentuk bela negara. Pendidikan kewarganegaraan adalah mempersiapkan pribadi sebagai warga negara dan anggota masyarakat yang bertanggungjawab, menanamkan dasar pembangunan berkelanjutan bagi kesejahteraan manusia dan pelestarian lingkungan hidup serta menyelenggarakan pendidikan yang berorientasi pada penguasaan pengembangan dan penyebaran Iptek dan seni demi kepentingan kemanusiaan.
Analisis Pemahaman Guru Terhadap Komponen Proses Pembelajaran Pada Instrumen Akreditasi Satuan Pendidikan (IASP) Di Tingkat SMA/MA Sagita Puspa Lestari; Sinta Dewi Aisyah; Muhammad Abdul Aziz
al-Afkar, Journal For Islamic Studies Vol. 6 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/afkarjournal.v6i1.377

Abstract

Pemahaman guru terhadap proses pembelajaran serta kondisi eksisting dalam standar pendidikan sangat krusial untuk dipahami dan direalisasikan guna menghasilkan pendidikan yang berkualitas. Maka atas dasar itu penelitian ini mecoba untuk mengetahui sejauh mana guru merealisasikan proses pembelajarannya sesuai dengan Instrumen IASP guna mencapai keberhasilan dari suatu pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penafsiran atau menggambarkan data disertai dengan ketercapaian pemahaman guru terhadap komponen proses pembelajaran dan kondisi eksisting yang tertera pada instrument akreditasi satuan pendidikan (IASP) terhadap Guru PAI dan Guru Non PAI. Adapun Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif. Instrumen dalam mengumpulkan data menggunakan angket dan wawancara. Berdasarkan hasil analisis data pemahaman Guru PAI dan Guru Non PAI bahwa terdapat sub komponen pemahaman yang memiliki nilai rendah yaitu pada pernyataan no.2 kemudian untuk kondisi eksisting pada indicator ke-4.
Joseph Schacht Dan Teori-Teori Skeptisisme Tentang Hadis Serta Bantahan Terhadapnya M. Ihsan Fauzi
al-Afkar, Journal For Islamic Studies Vol. 6 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/afkarjournal.v6i1.384

Abstract

Artikel ini mendiskusikan teori-teori skeptisisme dari kalangan orientalis dalam kajian hadis. Salah satunya adalah Joseph Schacht. Schacht merupakan tokoh orientalis yang getol meragukan otentisitas hadis. Menurut pandangan Schacht, hadis adalah lanjutan tradisi Arab kuno yang direvisi dan kemudian disandarkan kepada Nabi. Menurutnya hadis telah dimanipulasi oleh para perawi dari kalangan sahabat, tabi’in, tabi’ al-tabi’in sehingga keotentikan hadis pun diragukan. Pemikiran Schacht yang meragukan keotentikan hadis tertuang dalam teori-teori yang ia dibangun, yakni: teori projecting back, teori argumentum e silentio, dan teori common link. Teori-teori skeptis yang Schacht kemukakan, banyak menuai kontroversi di antara para pengkaji hadis, baik dari kalangan sarjana Muslim maupun orientalis sendiri. Mereka memberikan kritik dan bantahan terhadap masing-masing teori tersebut.
Pengaruh Kepemimpinan Komite Sekolah Dan Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Manajemen Pembelajaran Dalam Mewujudkan Mutu Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di MAN 2 Garut Ferianto
al-Afkar, Journal For Islamic Studies Vol. 6 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/afkarjournal.v6i1.385

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Kepemimpinan Komite Sekolah Dan Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Manajemen Pembelajaran Dalam Mewujudkan Mutu Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di MAN 2 Garut. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis utama diketahui bahwa Manajemen Madrasah berpengaruh secara nyata dan signifikan terhadap Kinerja Guru dan Peningkatan Mutu Pendidikan Agama Islam yaitu sebesar 26,13%. Sedangkan sisanya sebesar 73,87% dipengaruhi oleh variabel lainnya di luar variabel Manajemen Madrasah.
Penguatan Budaya Literasi Santri Di Era Digital Pada Pondok Pesantren Zahrotul Islam Qurrota A'yuni; Devy Habibi Muhammad
al-Afkar, Journal For Islamic Studies Vol. 6 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/afkarjournal.v6i1.435

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penguatan litersi digital di Pondok Pesantren zahrotul islam. Di era digital perlu memberikan dukungan berupa pengetahuan yang mendalam dan abadi. Dipahami dan diproduksi melalui proses yang tepat. Literasi harus ditinggikan untuk mencapai masyarakat yang berilmu, kritir dan berpikiran terbuka, yang antara lain meliputi standar penulisan yang tinggi, berpikir kritis dan pemanfaatan teknologi. Metode penelitian dalam penelitian ini ini menggunakan kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang dilakukan di Pondok Pesantren zahrotul islam dringu. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi dan analisis data dengan reduksi, penyajian dan penarikan kesimpulan. Sedangkan untuk pengecekan keabsahan data pada penelitian ini dilakukan dengan perpanjangan pengamatan dan peningkatan ketekunan atau keajegan. Hasil penelitian dalam penelitian ini yaitu pondok pesantren Zahrotul Islam Dringu dengan menerapkan kurikulum bisnis dengan materi-materi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan santri dalam meningkatkan kemampuan digital serta proses kegiatanan pembelajaran yang dilaksanakan setiap hari. Terdapat perbedaan kendala yang dialami di pondok pesantren Zahrotul Islam Dringu pada masalah internal dan individu atau personal pribadi sedangkan kendala yang dipaparkan lebih kepada proses pelaksanaan program literasi digital. Pelaksaan program penguatan lierasi digital di pondok pesantren zahrotul islam santri mengalami peningkatan kemampuan digital sesuai dengan kebutuhan yang harus dimiliki oleh pelaku bisnis.
Mahabbah Teaching And The Problem Of Religious Moderation Nani Widiawati
al-Afkar, Journal For Islamic Studies Vol. 6 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/afkarjournal.v6i1.437

Abstract

Religious radicalism is related to misunderstandings in understanding the essential meaning of sacred texts so that religion appears to contradict the essence of the teachings it carries. This study aims to harmonize the values ​​of moderation in the concept of mahabbah as the core of Sufism teachings into religious practice. The results of the study show that the Mahabbah teachings offer moderate, humanist, and universal ideas. In the context of religious relations, the teachings of mahabbah erode egoism, strengthen harmony, release formal ties, and give birth to an open attitude to differences. Through the teachings of mahabbah, religion rediscovers its essential function and becomes a solution to the problem of religious radicalism.
Analisis Perkembangan Peserta Didik dan Perkembangan Agama Peserta Didik Perspektif Al-Quran Deden Hilmansah; Komarudin
al-Afkar, Journal For Islamic Studies Vol. 6 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/afkarjournal.v6i1.441

Abstract

Setiap peserta didik memiliki karakteristik yang berbeda-beda sesuai dengan karakteristik dari perkembangan peserta didik itu sendiri, dengan adanya perbedaan tersebut akan sangat berpengaruh dalam menentukan cara dan pendekatan yang digunakan dalam pembentukan sikap, tidak terkecuali pembentukan sikap keberagamaan. Oleh karenanya sangat penting bagi pendidik untuk memahami hakikat, karakteristik, komponen dan faktor-faktor yang mempengaruhi serta cara mengembangkan sikap keberagamaan peserta didik sesuai dengan tahapan perkembangannya, karena sikap keberagamaan bukan merupakan sikap bawaan melainkan bentukan setelah individu dilahirkan. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan tentang hakikat peserta didik perspektif Al-quran, perkembangan peserta didik perspektif Al-quran dan perkembangan agama peserta didik perspektif Al-quran. Melalui metode deskriptif dengan memanfaatkan studi literatur dapat disimpulkan bahwa a) hakikat peserta didik adalah semua orang yang sedang menuntut ilmu, mengamalkannya dan mengajarkannya kepada orang lain yang hukumnya wajib dalam rangka meraih kebahagian di dunia dan di akhirat; b) perkembangan peserta didik terbagi menjadi dua bagian yaitu: fase perkembangan berdasarkan ciri-ciri psikis yaitu la’ib (permainan atau periode periode bayi dan anak usia dini atau anak prasekolah), lahw (senda gurau atau periode anak sekolah dasar), zinah (perhiasan atau periode remaja), tafakhur (saling bermegah-megahan atau berbangga atau periode dewasa), takasur fi al-Amwal wa al-Aulad (saling menyombongkan tentang banyaknya harta dan anak atau periode tua) dan fase perkembangan berdasarkan ciri-ciri biologi yaitu kondisi fisik secara umum, dimulai dari dha’if (lemah atau bayi atau anak-anak) menjadi quwwah (kuat atau remaja, dewasa) kemudian kembali menjadi dha’if (lemah atau tua) dan kondisi fisik secara terperinci, dimulai dari lahir sebagai (tifl) anak kemudian menginjak usia remaja (baligh) dan (ashuddakum) yang artinya kamu semua menjadi dewasa selanjutnya memasuki tahapan terakhir yaitu (shuyukh) tua dan meninggal; c) perkembangan agama peserta didik pada hakikatnya telah memiliki kecenderungan dan kesadaran beragama sejak ditiupkan ruh dalam kandungan sebagaimana dapat dilihat dalam perjanjian primordial manusia dengan Allah yang dijelaskan dalam surat Al-A’raf ayat 172 akan tetapi pada proses perkembanganya manusia lahir dipengaruhi oleh lingkungannya.
Peran Dosen Pendidikan Agama Islam Dalam Menanamkan Pembelajaran Dengan Nilai-Nilai Islam Berwawasan Multikultural Ijudin; Nenden Munawaroh; Yasya Fauzan Wakila
al-Afkar, Journal For Islamic Studies Vol. 6 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/afkarjournal.v6i1.442

Abstract

Penelitian ini membahas tentang peran dosen pendidikan agama Islam dalam menanamkan pembelajaran dengan nilai-nilai Islam berwawasan multikultural. Penelitian yang memfokuskan pada deskripsi konsepsi dan langkah-langkah peran dosen pendidikan agama Islam dalam proses pembelajaran, kaitannya nilai-nilai Islam untuk menciptakan wawasan multikultural. Sumber data penelitian ini diperoleh dari beberapa sumber berupa referensi-referensi pendukung dan pendamping yang sesuai dengan tema penelitian. Penelitian ini adalah penilitian kepustakaan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu berusaha untuk menggambarkan tentang suatu variabel, gejala atau keadaan. Hasil dari tulisan ini memperlihatkan bahwa dosen pendidikan agama Islam harus senantiasa memiliki dan mengembangkan proses pembelajaran dengan tujuan menciptakan proses pembelajaran peserta didik yang aktif  dengan berwawasan nilai-nilai Islam multikultural dan memberikan makna inspiratif. Dari konsepsi peran dosen pendidikan agama Islam dalam menanamkan pembelajaran nilai-nilai Islam melahirkan sebuah pengetahuan dan keterampilan peserta didik dengan nilai-nilai Islam berwawasan multikultural dalam pembelajaran dan kompetensi yang lebih mengedepankan moral secara psikologis dan keterikatan, tidak hanya terorientasi pada pengetahuan dan keterampilan peserta didik yaitu dengan metode pembelajaran pendidikan agama Islam berwawasan multikultural yang dimaksud terdiri dari tiga hal, yaitu strategi pengorganisasian pembelajaran, strategi penyampaian pembelajaran, dan strategi pengelolaan pembelajaran.
Tradisi Pembacaan Q.S. At-Taubah [9]: 128-129 Di Pondok Pesantren Hidayatul Insan Palangka Raya Putri Salsabila; Taufik Warman Mahfudz; Nor Faridatunnisa
al-Afkar, Journal For Islamic Studies Vol. 6 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/afkarjournal.v6i1.446

Abstract

The tradition of reciting Q.S. At-Taubah [9]: 128-129 at the Hidayatul Insan Islamic Boarding School in Palangka Raya is unique, where usually Q.S. At-Taubah [9]: 128-129 are read at the time of the Prophet's Birthday, but at the Hidayatul Insan Palangka Raya Islamic Boarding School, it becomes a routine practice by all the occupants of the hut after the obligatory prayers were performed. This research is qualitative research with a type of field research using Peter L. Berger's theory, namely the Sociology of Knowledge. The results showed that this practice was carried out by students of the Hidayatul Insan Palangka Raya Islamic Boarding School. They do this practice because they want fadilah or benefits such as peace of mind, and istiqomah in worship. The practice of remembrance is carried out after completing the Fajr and Maghrib prayers. As for how to practice the practice of remembrance reciting the readings 7 times after the wirid prayers at dawn and maghrib prayers. These practices can be done anywhere, whether in a prayer room, mosque, or room. Meanwhile, the effects felt by the perpetrators include consistency in worship, keeping the heart from mental illness, being given peace of mind and strength of rote memory so that it is given fluency in memorizing muraja'ah. As for the origin of this tradition, it is based on the hereditary habits of the previous Pondok Leaders and was given to the students to always practice.
Batas Usia Perkawinan Perspektif Undang-Undang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam Rahmad Fauzi Salim; Dhiauddin Tanjung
al-Afkar, Journal For Islamic Studies Vol. 6 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/afkarjournal.v6i1.465

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk berbagi pengetahuan dan memberikan sudut pandang mengenai perspektif undang-undang nomor 16 tahun 2019 tentang perubahan atas undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan dan instruksi presiden tentang kompilasi hukum islam. Didalam undang-undang perkawinan pasal 7 ayat 1 dan 2 dijelaskan mengenai usia perkawinan bahwa usia minimal perkawinan didalam pasal tersebut yaitu 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk laki-laki. Namun hal ini bertentangan dengan undang-undnag perlindungan anak oleh karena itu maka di judicial review uu ini menjadi undang-undang nomor 16 tahun 2019 yang menaikan usian minimal perkawinan menjadi 19 tahun. Permasalahan yang akan dikaji didalam penelitian ini yaitu Pertama, mengenai bagaimana perspektif undang-undang nomor 16 tahun 2019 perubahan atas undang-undang nomor 1 tahun1974. Kedua, mengenai faktor-faktor yang melatarbelakangi lahirnya undang-undang nomor 16 tahun 2019 ini dan yang Ketiga, mengenai bagaimana pandangan hukum islam terhadap perubahan undnag-undang ini. Adapun metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian yuridis normatif, dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan (statute approach). Adapun hasil yang penulis dapatkan mengenai perubahan frasa “minimal 16 tahun” menjadi “19 tahun” yang bertujuan untuk mengurangi angka perceraian serta memberi peluang untuk anak-anak agar mendapat banyak waktu untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi, adapun mengenai usia perkawinan tertentu yang diatur didalam Hukum Islam tidak ada, yang hanya jika seorang wanita ataupun laki-laki yang sudah matang dan sudah mampu maka menikahlah. Namun disini juga hukum islam membuka peluang yang sebesar-besarnya untuk memperbaharui hukum sesuai perkembangan zaman namun tidak keluar dari ranah hukum al-Qur’an dan Sunnah.

Page 22 of 157 | Total Record : 1567