cover
Contact Name
ALBACORE
Contact Email
albacore@apps.ipb.ac.id
Phone
+62251-8622935
Journal Mail Official
albacore@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
Jl. Agatis Kampus IPB, Dramaga – Bogor 16680 Telp. (0251)8622935
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Albacore : Jurnal Penelitian Perikanan Laut
ISSN : 25491326     EISSN : 2655559X     DOI : 10.29244
Albacore (Jurnal Penelitian Perikanan Laut) merupakan salah satu jurnal ilmiah di Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, FPIK IPB. Jurnal ini melanjutkan Bulletin PSP yang telah hadir lebih dahulu sejak tahun 1992 hingga tahun 2013.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 313 Documents
MANAJEMEN OPERASIONAL PENANGKAPAN IKAN DENGAN PURSE SEINE DI PPS NIZAM ZACHMAN (STUDI KASUS PADA KAPAL KM. MEKAR KENCANA 03) Sari, Ratih Purnama; Toratno; Krisnafi, Yaser; Istrianto, Kadi; Prasetyono, Untung
Jurnal Penelitian Perikanan Laut (Albacore) Vol 8 No 3 (2024): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.8.3.313-318

Abstract

Setiap operasi penangkapan ikan tidak terlepas dari proses manajemen yang dilakukan secara bertahap mulai dari perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating) dan pengendalian (controlling) agar ketercapaian penangkapan ikan dapat dipenuhi. Purse seine merupakan alat tangkap yang menghasilkan produksi perikanan yang paling tinggi di PPS Nizam Zachman Jakarta. Kajian mengenai proses manajemen operasi penangkapan masih terbatas sehingga perlu dilakukan kajian mengenai manajemen operasional penangkapan pada KM. Mekar Kencana 03 di PPS Nizam Zachman Jakarta. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi kegiatan penangkapan ikan di KM. Mekar Kencana 03 dan wawancara. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif. Persiapan keberangkatan dilakukan 30 menit sebelum keberangkatan. Jumlah anak buah kapal saat melakukan penangkapan di laut minimal sebanyak 32 orang termasuk nakhoda. Perbekalan disiapkan sesuai dengan jumlah awak kapal. Kondisi kapal harus dipantau seperti mesin induk dan mesin gardan. Dokumen perizinan kapal harus disiapkan, pengecekan alat tangkap dan pengecekan alat navigasi kapal juga dilakukan. Pengawasan operasi penangkapan dilakukan langsung oleh pemilik kapal yang berperan sebagai nakhoda kapal. Kata kunci: manajemen, operasional, purse seine, PPS Nizam Zachman
ESTIMASI SUPLAI AIR BERSIH DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA NIZAM ZACHMAN JAKARTA Muninggar, Retno; Sitimarwah Ibrahim, Nawan; Solihin, Akhmad; Eka Astarini, Julia
Jurnal Penelitian Perikanan Laut (Albacore) Vol 8 No 3 (2024): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.8.3.331-342

Abstract

Kebutuhan air bersih merupakan salah satu kebutuhan primer bagi pengguna yang beraktivitas di Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman (PPSNZ) Jakarta. Besarnya kebutuhan air yang harus terpenuhi di pelabuhan menjadikan pengelola lebih memperhatikan kuantitas dan kualitas air bersih yang disediakan. Permasalahan terkait air bersih yang dihadapi PPSNZJ adalah belum adanya informasi yang menjelaskan ketersediaan dan kualitas air bersih di PPSNZJ dikaitkan dengan kekritisan air. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung kebutuhan, ketersediaan dan indeks kekritisan air bersih untuk menunjang kegiatan operasional di Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta; dan menghitung kualitas air bersih yang digunakan di Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan penentuan responden dilakukan secara purposive. Analisis data menggunakan indeks kekritisan air, dan analisis STORET. Hasil penelitian menunjukkan kebutuhan air bersih di PPSNZJ adalah 861478.1278 m3, ketersediaan air bersih adalah 885766.9 m3 serta persentase kekritisan air bersih di PPSNZJ sebesar 103% yakni air bersih yang berada di kawasan PPSNZJ tersebut tidak mengalami krisis air dan air bersih mencukupi untuk kebutuhan pengguna kawasan. Kualitas air bersih yang berada di PPSNZJ berdasarkan perhitungan STORET menunjukkan kualitas yang baik yaitu skor bernilai 0 atau sesuai baku mutu air bersih berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492/Menkes/Per/IV/2010 tentang air bersih. Kata kunci: indeks kekritisan air, kebutuhan, ketersediaan, kuantitas, kualitas
TINGKAT KESESUAIAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN PURSE SEINE DI PPN SIBOLGA TERHADAP REGULASI PENGELOLAAN PERIKANAN Simanjuntak, Boris Frans Edberg; Gigentika, Soraya; Sudarmo, Agnes Puspitasari
Jurnal Penelitian Perikanan Laut (Albacore) Vol 8 No 2 (2024): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.8.2.185-197

Abstract

Adanya regulasi pengenaan sanksi bagi pelaku pelanggaran terhadap ketentuan kesesuaian jalur dan daerah penangkapan ikan, ternyata belum sepenuhnya ditaati oleh kapal penangkap ikan yang berpangkalan di PPN Sibolga. Jumlah pelanggaran yang dilakukan kapal purse seine berdasarkan kategori ukuran yaitu ukuran 30-100 GT sebanyak 34 pelanggaran dan ukuran 100-200 GT sebanyak 23 pelanggaran. Menganalisis status dan kesesuaian daerah penangkapan ikan purse seine di PPN Sibolga pada regulasi pengelolaan perikanan merupakan tujuan yang ingin dicapai. Penelitian ini dilaksanakan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Sibolga dari bulan Januari-Maret 2024. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan metode yang digunakan adalah deskriptif. Responden adalah nahkoda dan mualim kapal purse seine. Penentuan sampel pada penelitian secara incidental sampling. Analisis data menggunakan skoring dan pembobotan serta komparasi. Pada hasil status dan kesesuaian daerah penangkapan ikan (DPI) potensial, jalur penangkapan <12 mil untuk nelayan purse seine pelagis kecil pukat rapat dengan ukuran kapal 30-100 GT tergolong potensial karena alat tangkap tersebut hanya mampu dioperasikan di jalur penangkapan <12 mil dan ikan yang menjadi target penangkapan melimpah di wilayah tersebut. Namun jalur penangkapan <12 mil bagi kapal berukuran 30-100 GT, tidak sesuai dengan regulasi PERMEN KP No. 58 tahun 2020 yang menyatakan bahwa kapal >30 GT memiliki jalur penangkapannya > 12 mil. Sementara itu daerah penangkapan ikan potensial untuk nelayan purse seine pelagis kecil pukat tongkol berukuran 30-100 GT dan nelayan kapal purse seine pelagis besar pukat tongkol berukuran 100-300 GT telah sesuai dengan regulasi PERMEN KP No. 58 tahun 2020. Kata kunci: DPI potensial, kesesuaian, pukat rapat, regulasi
KOMPOSISI DAN DISTRIBUSI UKURAN HASIL TANGKAPAN DOMINAN PUKAT CINCIN YANG DIDARATKAN DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI MUNCAR BANYUWANGI Iskandar, Mokhamad Dahri; Purboningrum, Ratna; Wahju, Ronny Irawan
Jurnal Penelitian Perikanan Laut (Albacore) Vol 8 No 2 (2024): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.8.2.199-209

Abstract

Muncar merupakan salah satu tempat pendaratan ikan lemuru terbesar di Banyuwangi. Ikan lemuru banyak ditangkap dengan menggunakan purse seine. Pada penangkapan ikan dengan menggunakan purse seine, lemuru merupakan target penangkapan sedangkan ikan lainnya merupakan hasil tangkapan sampingan (bycatch). Beberapa peneliti menunjukkan bahwa hasil tangkapan sampingan (bycatch) merupakan salah satu penyebab menipisnya stok ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi hasil tangkapan dan distribusi ukuran hasil tangkapan dominan purse seine. Pengambilan data dilakukan melalui metode sampling hasil tangkapan dominan pukat cincin yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Pantai Muncar. Data yang diperoleh dari sampling selanjutnya diukur dan dianalisis dengan metode statistic untuk mendapat hasil yang diinginkan. Hasil dari pengamatan di lapang menunjukkan bahwa hasil tangkapan purse seine selama 10 trip penangkapan didominasi oleh ikan lemuru (Sardinella lemuru) dengan jumlah sebanyak 3.360 ekor ikan dengan proporsi sebanyak 77,83% sebagai target spesies dan hasil tangkapan sampingan berupa ikan layang (Decapterus ruselli) sebanyak 596 ekor ikan dengan proporsi sebanyak 13,77%, dan ikan slengseng (Scomber australasicus) sebanyak 363 ekor ikan dengan proporsi sebanyak 8,40%. Ikan lemuru yang tertangkap pada penelitian ini berkisar 12-21 cm. Ukuran dominan ikan lemuru yang tertangkap berkisar antara 14-15 cm sebanyak 2.032 ekor (46,97%) dan yang paling sedikit berada pada ukuran di atas 18 cm dengan jumlah sebanyak 7 ekor ikan (0,16%). Ukuran ikan layang yang tertangkap pada penelitian ini berkisar pada ukuran 13-25 cm. Hasil tangkapan dominan ikan laying yang tertangkap berada pada kisaran 19-20,5 cm yakni sebanyak 255 ekor (5,20%) dan hasil tangkapan yang paling sedikit berada pada kisaran 23,5-25 cm dengan jumlah sebanyak 1 ekor (0,02%). Ukuran hasil tangkapan ikan slengseng pada penelitian ini berkisar antara 13-28 cm. Dominan hasil tangkapan ikan slengseng berada pada ukuran 23-25 cm dengan jumlah sebanyak 143 ekor ikan. Adapun hasil tangkapan yang paling sedikit berada pada kisaran ukuran 27-28 cm dengan jumlah sebanyak 2 ekor ikan (0,04%). Kata kunci: distribusi ukuran, hasil tangkapan sampingan, lemuru, purse seine
ANALISIS SUSTAINABLE LIVELIHOOD NELAYAN SUKU BAJO DI KAMPUNG WURING KECAMATAN ALOK BARAT KABUPATEN SIKKA Ibrahim, Sofian; Sapanli, Kastana; Suhana
Jurnal Penelitian Perikanan Laut (Albacore) Vol 8 No 3 (2024): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.8.3.275-287

Abstract

Masyarakat nelayan suku Bajo Kampung Wuring merupakan salah satu bagian masyarakat pesisir yang bisa beradaptasi dan mampu memanfaatkan sumberdaya perikanannya. Namun mayoritas nelayan suku Bajo masih hidup serba keterbatasan terutama nelayan kecil dan buruh nelayan. Nelayan suku Bajo masih memiliki masalah dengan keberlanjutan hidupnya dari masalah sosial, ekonomi dan lingkungan serta dampak perubahan iklim. Perubahan iklim seperti permukaan air laut naik, gelombang tinggi, hujan deras dan badai sangat mempengaruhi keberlanjutan hidup nelayan suku Bajo. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status aset sustainable livelihood suku Bajo di Kabupaten Sikka. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September-Oktober 2023 di Kampung Wuring Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara. Metode penelitian yang digunakan analisis sustainable livelihood adalah Multiaspect Sustainability Analysis (MSA) untuk menilai status keberlanjutan. Hasil penelitian dalam analisis status sustainable livelihood nelayan suku Bajo di Kampung Wuring dengan total nilai rata-rata sebesar 48,3. Sustainability nilai yang tertinggi adalah aspek human capital (73,4), social capital (73,4) dan economic and financial capital (53,4), sedangkan aspek yang terendah adalah physical capital (40) dan natural capital (26,6). Sehinga perlu perhatian khusus terhadap fakor natural capital kerena memiliki nilai status kurang berkelanjtan. Kata kunci: capital, keberlanjutan, nelayan, suku Bajo
ANALISIS JARINGAN KERJA PENERBITAN SURAT PERSETUJUAN BERLAYAR (SPB) KAPAL PENANGKAP IKAN DI PPP TASIKAGUNG, REMBANG Irvan Nur Rokhim; Izza Mahdiana Apriliani; Ine Maulina; Pringgo Kusuma Dwi Noor Yadi Putra
Jurnal Penelitian Perikanan Laut (Albacore) Vol 8 No 2 (2024): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.8.2.211-220

Abstract

Surat Persetujuan Berlayar (SPB) adalah dokumen penting yang harus dibawa kapal penangkap ikan saat akan berlayar. Sering terjadinya ketidakpastian waktu penerbitan SPB menjadi masalah bagi kapal yang sudah menjadwalkan keberangkatan sehingga mengakibatkan kerugian. Salah satu upaya untuk mengatasi ketidakpastian waktu yaitu dengan menganalisis jaringan kerjanya. Riset ini bertujuan untuk menerangkan jaringan kerja, menentukan jalur kritis dan menemukan faktor pendukung serta penghambat penerbitan SPB. Tahapan dan waktu penerbitan SPB dianalisis menggunakan jaringan kerja dengan Critical Path Method (CPM). Hasil riset memperlihatkan penerbitan SPB di kantor syahbandar PPP Tasikagung membutuhkan waktu selama 81 menit dan berdasarkan perhitungan CPM dapat diselesaikan selama 56 menit dengan jalur kritis terletak pada kegiatan: 1) Pengajuan melalui aplikasi e-PIT (A), 2) Pemeriksaan dan verifikasi dokumen persyaratan (C), 3) Penyusunan laporan administratif (E), 4) Validasi pemeriksaan administratif, teknis dan nautis (F), 5) Pencetakan SPB (G), 6) SPB diberikan kepada nelayan (H). Faktor-faktor yang memengaruhi penerbitan SPB terdiri dari faktor pendukung (hukum dan koordinasi antara instansi) dan faktor penghambat (sistem teknologi, ketidakcermatan pemohon dan cuaca). Kata kunci: CPM, faktor pengaruh, penerbitan SPB
PEMANFAATAN PERIKANAN PUKAT CINCIN DI PERAIRAN LARANTUKA KABUPATEN FLORES TIMUR PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Kurman, Mathilda; Suharyanto; Baskoro, Mulyono S.
Jurnal Penelitian Perikanan Laut (Albacore) Vol 8 No 3 (2024): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.8.3.289-302

Abstract

Perikanan layang (Decapterus spp) adalah jenis hasil tangkapan dengan nilai finansial tinggi bagi masyarakat Flores Timur. Berdasarkan data produksi yang diperoleh pada periode 2017-2022, ikan layang tercatat sebagai hasil tangkapan terbanyak oleh nelayan pukat cincin jika dibandingkan dengan jenis ikan pelagis kecil yang lainnya. Maka dilakukan penelitian terhadap pemanfaatan ikan layang di perairan Larantuka dengan tujuan mengetahui nilai pemanfaatan sumberdaya dengan menggunakan kajian bioekonomi model Gordon-Schaefer. Teknik penelitian yang dipakai adalah analisis deskriptif dengan melibatkan informasi pengelolaan ikan layang tahun 2017-2022 dengan perolehan informasi seperti upaya dan hasil tangkapan ikan layang serta informasi penting seperti biaya penjualan dan biaya fungsional. Hasil pengujian bioekonomi model Gordon-Schaefer terhadap ikan layang menunjukkan nilai CMSY sebesar 705.826 kg/tahun dan upaya penangkapan sebanyak 1.278 trip/alat tangkap, nilai CMEY sebesar 686.875 kg/tahun terlebih lagi upaya tangkapannya bertambah 1.069 trip/alat tangkap dan COAE senilai 386.817 kg/tahun dengan jumlah upaya tangkap 2.137 trip/alat tangkap, sedangkan laju pemanfaatan ikan layang (Decapterus spp) di perairan Larantuka telah mencapai angka 103% dengan klasifikasi pemanfaatan berlebihan dan tingkat pengupayaan dengan angka 41%. Berdasarkan hasil eksplorasi, terdapat tiga jenis ikan layang di perairan Larantuka, yaitu ikan layang ekor biru (Decapterus macarellus), ikan layang deles (Decapterus macrosoma), dan ikan layang ekor merah (Decapterus akaadsi). Kata kunci: bioekonomi Gordon-Schaefer, ikan layang, pukat cincin
ANALISIS KUALITAS AIR SEBAGAI INDIKATOR PELABUHAN PERIKANAN BERWAWASAN LINGKUNGAN DI PPN MUARA ANGKE Liana, Lina; Jabbar, Meuthia Aula; Nurhudah, Moch
Jurnal Penelitian Perikanan Laut (Albacore) Vol 8 No 3 (2024): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.8.3.245-254

Abstract

PPN Muara Angke adalah salah satu sentral perikanan yang memenuhi kebutuhan ikan Provinsi DKI Jakarta dan wilayah sekitarnya. Kegiatan perikanan, pembuangan limbah cair langsung ke kolam pelabuhan dan adanya sampah di kolam pelabuhan, apabila terus dibiarkan dapat menimbulkan penurunan kualitas air. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kualitas air di pelabuhan sebagai salah satu indikator pelabuhan perikanan yang berwawasan lingkungan (eco-fishing port). Data kualitas air diambil dua kali pada bulan Oktober dan Desember 2023 pada 4 stasiun. Parameter kualitas air yang diukur secara in situ adalah salinitas, kecerahan, suhu, keberadaan sampah dan lapiran minyak. Selanjutnya parameter TSS, amonia total (NH3-N), surfaktan, raksa (Hg), kadmium (Cd), timbal (Pb) dan total coliform diukur di laboratorium PT. Unilab Perdana. Data kualitas air hasil pemeriksaan dibandingkan dengan baku mutu air laut untuk pelabuhan perikanan yang mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021. Penghitungan Indeks pencemaran bagi peruntukan air (Plj) mengacu pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 115 Tahun 2003. Hasil survei parameter yang sesuai dengan baku mutu adalah TSS, suhu, salinitas, pH, surfaktan, raksa, kadmium, timbal dan total coliform sedangkan yang telah melebihi baku mutu adalah kecerahan, lapisan minyak, sampah dan amonia total. Hasil penghitungan indeks pencemaran berkisar 1,054-2,645 yang berarti termasuk dalam kategori tercemar ringan sehingga PPN Muara Angke perlu melakukan perbaikan agar dapat dinyatakan sebagai pelabuhan perikanan berwawasan lingkungan. Kata kunci: Eco-fishing port, indeks pencemaran, kualitas air
NILAI EKONOMI EKOSISTEM KARANG PULAU PARI DAN PENGELOLAAN BERKELANJUTAN Naufalzuhdi, Achyar; Yulianto, Gatot; Sapanli, Kastana
Jurnal Penelitian Perikanan Laut (Albacore) Vol 8 No 3 (2024): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.8.3.255-266

Abstract

Terumbu karang Pulau Pari Kepulauan Seribu berperan penting dalam sektor perikanan dan pariwisata, namun tidak terlepas dari ancaman kerusakan akibat aktivitas manusia dan dampak perubahan iklim. Nilai ekonomi dan pengelolaan berkelanjutan diperlukan agar jasa ekosistem dapat dimanfaatkan secara terus-menerus hingga dimasa mendatang. Tujuan dari penelitian ini untuk menduga nilai ekonomi karang dan karakteristik masyarakat yang berpengaruh terhadap nilai ekonomi, serta menentukan strategi pengelolaan secara berkelanjutan. Metode survey digunakan dalam pengumpulan data dengan kuisioner dan observasi. Nilai ekonomi ekosistem dianalisis menggunakan Contingent Valuation Method untuk mengukur nilai WTP masyarakat atas jasa ekosistem. Karakteristik masyarakat yang berpengaruh terhadap nilai ekonomi karang menggunakan model regresi linier berganda. Analisis program berkelanjutan menggunakan Analytical Hierarchy Process untuk menghasilkan alternatif prioritas. Hasil penelitian diperoleh besaran nilai WTP masyarakat atas jasa ekosistem Rp9.500 dengan nilai total WTP Rp384.750.000 per tahun sebagai nilai ekonomi karang. Karakteristik masyarakat yang berpengaruh adalah pendapatan, artinya pendapatan yang meningkat maka meningkat pula nilai ekonomi ekosistem karang. Analisis AHP menunjukkan strategi pemberdayaan masyarakat sebagai alternatif prioritas sehingga direkomendasikan sebagai strategi pengelolaan secara berkelanjutan. Program pelatihan dan pendampingan masyarakat diperlukan dalam pengelolaan ekosistem terumbu karang yang berkelanjutan. Kata kunci: kesediaan membayar, pengelolaan berkelanjutan, Pulau Pari
PENDUGAAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN UNTUK BAGAN TANCAP MENGGUNAKAN CITRA SATELIT DI KABUPATEN KARAWANG Wulandari, Ully; Sulistyowati, Beta Indi; Suharyanto; Istrianto, Kadi
Jurnal Penelitian Perikanan Laut (Albacore) Vol 8 No 3 (2024): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.8.3.235-243

Abstract

Padat dan tingginya aktivitas di wilayah pesisir Dusun Tangkolak mengakibatkan tekanan dan turut menjadi penyumbang sampah serta pencemaran di wilayah perairan pesisir Dusun Tangkolak. Selain itu, musibah terjadinya tumpahan minyak yang disebabkan oleh bocornya pipa Pertamina yang berada di kawasan perairan pantai wilayah Karawang juga menyebabkan terjadinya pencemaran perairan di kawasan pesisir Karawang. Dampak tersebut kemudian menyebabkan terjadinya degradasi daerah penangkapan ikan dan pergeseran daerah penangkapan ikan. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah menduga wilayah perairan yang potensial sebagai daerah penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap bagan tancap di wilayah pesisir Dusun Tangkolak, Kabupaten Karawang. Pelaksanaan penelitian selama enam bulan (Maret-Agustus 2021). Data penelitian dikumpulkan secara insitu untuk parameter oseanografi yaitu suhu, salinitas, pH, sedangkan pendugaan daerah penangkapan ikan dikumpulkan melalui data citra satelit Aqua Modis untuk parameter suhu dan klorofil-a. Analisis dilakukan secara spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dugaan wilayah potensial penangkapan ikan adalah pada koordinat -5.8360 LU 107.5080 BT sampai dengan -5.9440 LU 107.7090 BT pada bulan Maret dan -5.5610 LU 107.5510 BT sampai dengan -5.9620 LU 107.7540 BT pada bulan April. Sedangkan bulan Mei sampai dengan Agustus adalah bulan paceklik untuk nelayan bagan di Karawang. Kata kunci: aqua modis, bagan tancap, daerah penangkapan ikan, Karawang