Articles
152 Documents
‘Gerakan Muncar Rumahku’ dan Strategi Mobilisasi Sumber Daya Pada Gerakan Sosial Penyelamatan Lingkungan
Joko Suwarno
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 3, No 2 (2016): Tantangan Gerakan Sosial
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (765.369 KB)
|
DOI: 10.22146/jps.v3i2.23533
Dalam beberapa tahun terakhir para nelayan di Kecamatan Muncar, Banyuwangi mengalami krisis dalam melakukan aktivitas di Selat Bali mereka akibat penggunaan teknik penangkapan ikan secara desktruktif seperti illegal fishing yang merusak kesinambungan alam. Untuk mengatasi hal tersebut, muncul gerakan lingkungan di tingkat lokal yang menamakan dirinya, ‘Gemuruh’ atau Gerakan Muncar Rumahku. Gerakan ini bukan hanya bertujuan untuk memberdayakan para nelayan bagi peningkatan kehidupan ekonomi mereka semata, melainkan juga sebagai pemberdayaan (literasi melalui pengetahuan dan praktik serta berorganisasi) yang ditujukan agar para nelayan memiliki pengetahuan yang memadai sehingga dapat memelihara dan menjaga keseimbangan lingkungan hidup yang menjadi sumber mata pencaharian mereka.
Akumulasi Kapital, Penghancuran Gerakan Kiri, dan Kemiskinan di Nusa Tenggara Timur
Didimus Dedi Dhosa
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 4, No 2 (2017): Merangkai Kebhinnekaan Indonesia
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (932.563 KB)
|
DOI: 10.22146/jps.v4i2.28578
Kemiskinan di Nusa Tenggara Timur dalam anggapan banyak pihak disebabkan oleh faktor seperti alam yang tandus, infrastruktur yang kurang memadai, sumber daya manusia yang minim, perilaku korup para pejabat publik, serta minimnya penerapan prinsip-prinsip good governance dalam tata kelola pemerintahan. Berbeda dengan pandangan di atas, tulisan ini melalui pendekatan ekonomi politik yang berusaha menelusuri jejak sejarah hingga era kolonial, berargumen bahwa kemiskinan di Timor disebabkan oleh akumulasi kapital dan penghancuran gerakan sosial kiri sampai ke akar-akarnya. Akumulasi kapital berlangsung bukan saja pada cara primitif melainkan juga dengan cara penjarahan yang meliputi sejarah panjang kolonialisme, privatisasi dan komodifikasi. Melalui akumulasi kapital Timor yang dahulu kala dikenal sebagai lumbung cendana dirampok hingga punah demi pembangunan negeri-negeri kolonial, bahkan pengelolaannya didominasi oleh negara pascakolonial. Selain itu, penguasaan agraria dan peternakan di Timor didominasi oleh segelintir elit tradisional yang terus mengalami metamorfosis kepemilikan pada kaum elit kontemporer. Kenyataan semacam itu diperburuk oleh adanya penghancuran gerakan sosial kiri pada tahun 1965 yang sebelumnya mendorong perjuangan keadilan distributif agraria dan kepemilikan ternak secara lebih merata di Timor.
Wajah Politik Perempuan: Studi Etnografi Representasi Suara Perempuan dalam Pemilu Legislatif 2014 di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)
Anis Izdiha
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 4, No 2 (2017): Merangkai Kebhinnekaan Indonesia
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1428.333 KB)
|
DOI: 10.22146/jps.v4i2.28579
Babak baru bagi representasi perempuan dalam politik di Indonesia diakui negara melalui Undang-Undang Nomor UU No 8 tahun 2012 tentang Partai Politik yang juga mensyaratkan keterwakilan perempuan 30 % dalam sistem kepartaian. Atas nama keadilan dan meneguhkan identitas perempuan, negara turut campur dalam pemberian hak khusus bagi perempuan untuk berkecimpung di dunia politik atau yang disebut sebagai kebijakan afirmasi. Kajian ini didasari oleh kepentingan untuk melihat kebijakan ini mampu direspon oleh kaum perempuan dalam konteks budaya politik yang dominan dengan mengambil studi kasus representasi suara perempuan dalam Pemilu Legislatif di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Studi dilakukan melalui pendekatan etnografi terhadap 3 calon anggota legislatif, 2 anggota legislatif perempuan, dan 2 tokoh gerakan politik perempuan DIY sejak Maret 2014 hingga Februari 2015. Perspektif perilaku politik dan gender dikembangkan dalam tulisan ini sebagai alat analisis. Hasil temuan studi menunjukkan bahwa perempuan telah berusaha menampakkan wajah baru dalam mencapai tujuan politik mereka. Strategi kolektif kolegial menjadi kekuatan yang dibangun perempuan untuk bergerak atas dasar kesamaan isu kesetaraan gender. Meski demikian, kebijakan ini tak lantas menghilangkan pasung sosial dikarenakan konsruksi patriakhis dan agama dimana perempuan tetap mengalami keterbatasan ruang politik (tidak bebas).
Sakralitas Nasionalisme Papua: Studi Kasus Pergerakan Aliansi Mahasiswa Papua
Fred Keith Hutubessy;
Jacob Daan Engel
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 6, No 1 (2019): Dekolonisasi Ilmu Sosial Humaniora Dari Pengetahuan Lokal ke Pemberdayaan Masyar
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1051.938 KB)
|
DOI: 10.22146/jps.v6i1.47468
Kajian ini membahas tentang pergerakan Aliansi Mahasiswa Papua di Yogyakarta dan persebaran wacana nasionalisme Papua. Situasi problematik Papua pasca integrasi dengan Republik Indonesia telah menjadi perhatian penting bagi dunia internasional. Fenomena kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM)(HAM) sebelum dan sesudah integrasi dengan Indonesia menjadi keprihatinan bersama, khususnya bagi Aliansi Mahasiswa Papua di Yogyakarta. Berbagai aksi yang dilakukan komunitas ini merupakan wujud ekspresi pembebasan sebagai respon atas pelanggaran HAM dan pembungkaman ruang demokrasi terhadap masyarakat Papua selama ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pergerakan Aliansi Mahasiswa Papua dilakukan dengan membangun resistensi terhadap konstruksi nasionalisme Indonesia. Hal itu dilakukan komunitas pergerakan melalui pemetaan musuh dalam melakukan perlawanan. Peran kapitalisme, imperialisme dan militerisme diidentifikasi sebagai musuh yang dengan sengaja dibentuk oleh penguasa (pemerintah Indonesia) untuk mendominasi bangsa Papua. Sakralitas sebagai bangsa Papua dianggap sebagai nasionalisme yang sesungguhnya ketimbang yang dikonstruksikan oleh penguasa di Indonesia.
Orality and Ritual in Collective Memory: A Theoretical Discussion
Izak Y. M. Lattu
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 6, No 2 (2019): Memposisikan "Global South" dalam Peta Kajian Akademik di Indonesia
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (827.069 KB)
|
DOI: 10.22146/jps.v6i2.51580
Kajian ini mengeksplorasi oralitas dan ritual dalam memori kolektif dari perspektif sosiologis. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pertanyaan tentang bagaimana komunitas dalam masyarakat yang berorientasi lisan kuat menjaga memori kolektif. Sementara dalam masyarakat tertulis kanon merupakan wadah ingatan kolektif. Masyarakat berorientasi lisan yang kuat mempertahankan ingatan dalam kinerja lisan dan ritual. Oralitas menciptakan memori kolektif melalui pelestarian sejarah masa lalu. Kinerja ritual, membawa masa lalu kembali ke masa sekarang untuk mengantisipasi interaksi sosial di masa depan. Oleh karena itu, perangkat mnemonik berfungsi untuk melestarikan nilai-nilai komunal dan untuk mengirimkan narasi komunal ke generasi berikutnya. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan melalui perspektif Durkheimian untuk menjadi batu ujian untuk memahami ritual keagamaan dan memori kolektif dalam masyarakat yang berorientasi lisan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ingatan kolektif dalam masyarakat yang berorientasi pada lisan kuat diciptakan secara kultural melalui bentuk-bentuk oralitas seperti narasi, simbol lisan serta pertunjukan ritual keagamaan.
Model Interprestasi Al-Quran dalam Pendekatan Hermeneutika Kontekstual Abdullah Saeed
Thoriq Aziz Jayana
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 6, No 2 (2019): Memposisikan "Global South" dalam Peta Kajian Akademik di Indonesia
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1001.617 KB)
|
DOI: 10.22146/jps.v6i2.51581
Kajian ini adalah telaah pemikiran Abdullah Saeed tentang metode penafsiran Al-Quran. Pemikiran Saeed sebagai penyempurna dari hermeneutika double movement-nya Fazlur Rahman, berupaya memberikan sebuah alternatif dalam menafsirkan Al-Quran di abad 21 ini dengan sebuah ‘interpretasi kontekstual’ yang lebih fleksibel dan memperhatikan konteks masa kewahyuan. Terutama pada ayat-ayat yang bermuatan ethico-legal. Dengan menyebut dirinya sebagai ‘kontekstualis’, Saeed merumuskan langkah-langkah interpretasi sebagai sebuah metodologi yang menarik untuk dikaji pada masa sekarang ini, sehingga Al-Quran tetap dapat ‘hidup’ pada seluruh zaman; dulu, sekarang dan nanti.
Perkembangan Ilmu Komunikasi di Indonesia: Instrumentalisasi Kuasa Hingga Mekanisme Pasar
Justito Adiprasetio
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 6, No 2 (2019): Memposisikan "Global South" dalam Peta Kajian Akademik di Indonesia
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (971.646 KB)
|
DOI: 10.22146/jps.v6i2.51583
Jatuhnya Orde Baru pada tahun 1998, pada dasarnya memberikan berbagai harapan bagi Ilmu Sosial di Indonesia. Namun, harapan ini cenderung tumpul dalam menghadapi Ilmu Komunikasi. Mengutip Rahardjo (2012), komunikasi sering hanya dianggap sebagai studi teoritis yang organisasinya memiliki orientasi untuk menghasilkan lulusan yang cepat terserap oleh pasar. Artikel ini adalah upaya untuk menemukan cara untuk pengembangan Ilmu Komunikasi, dengan upaya untuk mengisi ketiadaan studi terkait dengan metamorfosis Ilmu Komunikasi, sehingga artikel ini disusun untuk menunjukkan kontinuitas dan diskontinuitas wacana Ilmu Komunikasi selama Orde Baru hingga Pasca Orde Baru. Beberapa temuan dalam penelitian ini diharapkan berkontribusi pada gagasan pengembangan studi Ilmu Komunikasi itu sendiri. Artikel ini juga bertujuan untuk melanjutkan proyek yang sebelumnya dilakukan oleh Dhakidae (2003), Heryanto (2004), Haryanto (2008), Samuel (2010), untuk menunjukkan praktik kekuasaan dan pembentukan diskursif ilmu sosial di Indonesia.
Kritik Kekuasaan Mpu Tantular sebagai Ulayatisasi Ilmu Sosial Indonesia
Hartmantyo Pradigto Utomo;
Purwanto Purwanto
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 6, No 2 (2019): Memposisikan "Global South" dalam Peta Kajian Akademik di Indonesia
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (816.814 KB)
|
DOI: 10.22146/jps.v6i2.51584
Orientalisme dan kebergantungan akademis merupakan dua unsur yang menjangkiti ilmu sosial di Indonesia. Kedua unsur tersebut mengakibatkan kekosongan tradisi pemikiran ilmu sosial yang berasal dari Indonesia. Oleh karena itu, tulisan ini mengupayakan tradisi pemikiran alternatif melalui gagasan Mpu Tantular dalam Kakawin Sutasoma yang berasal dari zaman Kerajaan Majapahit. Pemikiran Mpu Tantular dipilih berdasarkan dua pertimbangan. Pertama belum terdapat penelitian ilmu sosial yang berfokus pada pemikiran zaman kerajaan Kedua relevansi pemikiran kritis yang terdapat di dalamnya. Penafsiran pemikiran Mpu Tantular dikerangkai dengan konsep Ulayatisasi Ilmu Sosial yang bertujuan untuk menghadirkan pusat ilmu pengetahuan yang baru. Metode penafsiran menggunakan hermeneutika untuk menghadirkan tafsir baru terhadap teks. Meletakkan pemikiran Mpu Tantular dalam tradisi ilmu sosial Indonesia dengan menghadirkan relevansi wacana kebergantungan akademis pada tradisi ilmu sosial Barat yang memuncak di zaman Orde Baru. Kebergantungan akademis dihadirkan melalui penerapan gagasan modernisme Amerika yang berbasis pada pemikiran Talcott Parsons. Ilmuwan sosial menerapkan gagasan modernisme Amerika yang bertujuan untuk melegitimasi kekuasaan ekonomi politik yang disertai dengan kekerasan rezim Orde Baru. Pada kondisi tersebutlah pemikiran Mpu Tantular mendapatkan relevansinya sebagai kajian awal guna menghadirkan tradisi pemikiran ilmu sosial Indonesia melalui gagasan kritik kekuasaan.
Melacak Materialisme Dialektis Tan Malaka Dalam Sejarah Ilmu Sosial Indonesia
Gregorius Ragil Wibawanto
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 6, No 2 (2019): Memposisikan "Global South" dalam Peta Kajian Akademik di Indonesia
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (921.096 KB)
|
DOI: 10.22146/jps.v6i2.51585
Artikel ini melacak ulang kemunculan materialisme dialektis Tan Malaka di tahun 1920an dan membahas posisinya dalam sejarah ilmu sosial Indonesia. Studi pendahulu telah berkontribusi pada kajian-kajian mengenai sejarah komunisme di Indonesia secara general dan pemikirannya secara partikular. Artikel ini mencoba memberikan paparan mengenai materialisme dialektis Tan Malaka dan perjalannya melintasi konteks kebangkitan nasional, pendudukan jepang, orde lama, orde baru, dan merefleksikannya dalam konteks hari ini. Artikel ini menggunakan metode linguistic contextualism oleh Quentin Skinner dengan revisi Parekh dan Berki mengenai pentingnya mempertimbangkan ide-ide universal yang dapat melintas konteks. Dengan berbasis pada prosedur metodologis tersebut, artikel ini berargumen bahwa materialisme dialektis Tan Malaka memberikan kerangka filosofis dan saintifik yang relevan untuk digunakan dalam memindai sejarah produksi pengetahuan di Indonesia.