cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Farmaseutik
ISSN : 1410590x     EISSN : 26140063     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Farmaseutic accepts submission concerning in particular fields such as pharmaceutics, pharmaceutical biology, pharmaceutical chemistry, pharmacology, and social pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol 19, No 4 (2023)" : 20 Documents clear
Gambaran Terapi dan Luaran Klinik pada Pasien COVID-19 di RSUD Dr. Moewardi Surakarta Astuti, Rini Budi; Andayani, Tri Murti; Puspitasari, Ika
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i4.74826

Abstract

Coronavirus Disease 19 (COVID-19) adalah infeksi virus yang sangat mudah menular yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang muncul di Wuhan, Cina dan menyebar ke seluruh dunia. Terapi pada pasien COVID-19 berbeda – beda untuk tiap negara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran terapi obat dan luaran klinik berupa mortalitas dan length of stay (LOS) pada pasien COVID-19 di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancangan cross sectional. Subjek dalam penelitian ini adalah pasien COVID-19 yang dilakukan rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta pada periode Januari  sampai Maret 2021. Data penelitian bersumber data sekunder yakni catatan medik. Analisis data dilakukan dengan cara penyajian data dalam bentuk tabel kemudian dhitung persentase berdasarkan jumlah sampel. Sebanyak 97 pasien terpilih selama periode Januari – Maret 2021.  Sebanyak 88,7% pasien berusia antara 18 – 59 tahun. Jumlah pasien perempuan (63,9%) lebih banyak dibanding dengan laki – laki (37,1%). Komorbid yang paling banyak diderita pasien adalah hipertensi (13,4%) dan diabetes melitus (DM) tipe 2 (16,5%). Sebanyak 90,7% pesien menerima antivirus. Antivirus yang paling banyak digunakan adalah favipiravir (60,8%). Sebanyak 94,8% pasien menerima terapi antibiotik dimana 100% pasien COVID-19 derajat berat dan kritis menerima antibiotik. Antibiotik yang paling banyak digunakan adalah azitromisin (72,2%). Sebanyak 93,8% pasien COVID-19 mendapatkan vitamin C. Sebanyak 57,7% pasien COVID-19 di RSUD dr. Moewardi mendapat terapi antikoagulan. Antikoagulan yang paling banyak diberikan adalah enoksaparin (32,9%). Sebanyak 21,6% pasien COVID-19 menerima terapi kortikosteroid. Sebanyak 15,5% pasien meninggal dunia. Rata – rata LOS pasien adalah 8,9 ± 4,2 hari.
Identification of Potentially Inappropriate Medications (PIMs) by Beers Criteria in Geriatric Patients at RSA UGM Yogyakarta Ejaz, Sundas Ejaz; Rahmawati, Fita; Ikawati, Zullies
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i4.75186

Abstract

PIM (Potentially Inappropriate Medications) is one of the primary concerns leading to adverse health outcomes, higher risk of Adverse Drug Reactions (ADEs), decreased therapeutic effects, hospitalization, and unnecessary healthcare costs in the geriatric population. Therefore, this study aimed to determine the prevalence PIMs, and to identify the most common PIMs prescribed to hospitalized geriatric patients admitted at RSA UGM, Yogyakarta based on Beers Criteria 2019. A cross sectional study using electronic medical records data was conducted in geriatric patients aged >60 years admitted to the internal medicine ward. PIMs were identified using the Beers criteria 2019. Descriptive statistics were used to describe patient and drug characteristics. Total 70 geriatric patients met the inclusion criteria. The results revealed that the geriatric patients who received PIM were male (65.71%), in the age group of 60-65 years (51.42%), had comorbidities and polypharmacy between 5-9 (48.5%) and 61.42% respectively. The overall prevalence of PIMs was 77.1%, followed by prevalence of PIMs to be used with caution (70 percent), and PIMs avoided in geriatric patients (62.8%). The most commonly prescribed PIMs were diuretics (48.5%) and sliding scale insulin (24.2%). A high prevalence of PIMs was found in this study, which is alarming. The prescription of PIMs can be overcome by encouraging strategies, such as close monitoring of the patient's condition for potential ADEs, gender and pharmacokinetic/pharmacodynamic consideration when prescribing drug therapy to geriatric patients.
Pengaruh Pemberian Inhalasi Budesonid/Formoterol Fumarat Dibandingkan Dengan Flutikason Propionat/Salmeterol Xinafoat pada Rehospitalisasi Pasien PPOK di RS Paru Respira Yulianti, Eni; Probosuseno, Probosuseno; Ikawati, Zullies
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i4.75256

Abstract

Pencegahan rehospitalisasi terkait PPOK merupakan prioritas di dunia untuk memperlambat progresi penyakit. Pengontrol gejala PPOK yaitu kombinasi ICS/LABA sering digunakan, diantaranya adalah inhalasi budesonid/formoterol fumarat dan flutikason propionat/salmeterol xinafoat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian inhalasi budesonid/formoterol fumarat terhadap kejadian rehospitalisasi pasien terkait PPOK dalam 6 bulan jika dibandingkan dengan inhalasi flutikason propionat/salmeterol xinafoat. Penelitian observasional dengan desain kohort retrospektif ini mengggunakan sampel data RM pasien post-ranap RS Paru Respira periode KRS 1 Januari 2019-31 Desember 2020. Pengaruh penggunaan kedua obat inhalasi terhadap kejadian rehospitalisasi terkait PPOK dalam 6 bulan setelah KRS dianalisis dengan survival analysis Kaplan-Meier test. Pengaruh variabel perancu terhadap outcome dianalisis dengan Cox Proportional Hazard Model. Pada penelitian diperoleh sebanyak 190 sampel yang terbagi dalam 2 kelompok yaitu kelompok inhalasi Bud/Form (n=95) dan kelompok inhalasi FP/Salm (n=95).  Hasil survival analysis menunjukkan persentase yang lebih besar pada inhalasi Bud/Form (87,4%) dibanding pada inhalasi FP/Salm (83,2%) namun tidak berbeda bermakna (p value 0,442). Analisis multivariat dengan melibatkan pengaruh variabel perancu menunjukkan penurunan hazard namun tidak bermakna pada penggunaan inhalasi Bud/Form dibanding FP/Salm (HR 0,689; 95% CI 0,313-1,517; sig. 0,355). Sebagai kesimpulan, persentase ketahanan terhadap rehospitalisasi terkait PPOK dalam 6 bulan pada penggunaan inhalasi budesonid/formoterol fumarat lebih besar dibanding pada penggunaan inhalasi flutikason propionat/salmeterol xinafoat tanpa beda bermakna. Kedua sediaan inhalasi ICS/LABA tersebut tetap dapat direkomendasikan sebagai terapi pengontrol pada pasien dengan PPOK.
Trend Antimicrobial Resistance Patterns in Patients with Septic at The Intensive Care Unit : A Five years Retrospective Study Nurkhalika, Rachmi; Sari, Ika Puspita; Nuryastuti, Titik
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i4.76105

Abstract

Sepsis is a potentially fatal medical condition characterized by decreased organ function, lower mortality, and increased resistance. Antibiotic resistance can develop as a result of overuse and inappropriate indications. The WHO AWaRe classification categorizes antibiotics based on their potency and potential impact on antimicrobial multidrug resistance (AMR). This classification will make it easier to organize and select antibiotics, as well as reduce the occurrence of resistance. The goal of this study was to identify the pattern of bacterial resistance to antibiotics in septic patients from 2017-2021, as categorized by the WHO AWaRe classification. This study used a descriptive, non-experimental design and was carried out at the UGM Academic Hospital. The information was collected retrospectively from the medical records of patients diagnosed with sepsis in the intensive care unit and treated between January 2017-December 2021, who fulfilled the inclusion and exclusion criteria. According to the resistance pattern between 2017-2021, the gram-negative bacteria that caused sepsis were 55 isolates. The most common bacteria causing sepsis were Pseudomonas aeruginosa and Acinetobacter baumannii. When compared to antibiotics in the reserve category (meropenem and vancomycin), antibiotics in the access category (penicillin and/or beta-lactam inhibitors and first-generation cephalosporins), experienced the most resistance.
Aktivitas antibakteri eco-enzyme limbah Citrus sinensis, Musa paradisiaca L. var bluggoe, dan kombinasinya terhadap Staphylococcus aureus Irianto, Iramie Duma Kencana; Purnomo, Krestanto; Amanati, Arfiana; Savila, Dhea; Mardiyaningsih, Ana
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i4.79019

Abstract

Pengendalian penularan COVID-19 pada fase transmisi lokal dapat dilakukan dengan penyemprotan cairan disinfektan. Eco-enzyme memiliki banyak manfaat, salah satunya adalah sebagai disinfektan sehingga dapat menangani masalah pengolahan limbah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri dari eco-enzyme limbah Citrus sinensis, Musa paradisiaca L. var bluggoe, dan kombinasinya terhadap Staphylococcus aureus. Preparasi eco-enzyme dilakukan dengan mencampur limbah, molase dan air pada perbandingan 3:1:10. Fermentasi dilakukan selama 90 hari. Evaluasi berupa organoleptik, nilai pH, skrining fitokimia, dan uji aktivitas antibakteri. Eco-enzyme yang dihasilkan berwarna coklat tua beraroma khas menyengat dan lebih asam dibanding bahan segarnya. Eco-enzyme C.sinensis mengandung alkaloid, polifenol, flavonoid dan saponin. Eco-enzyme M.paradisiaca var. bluggoe mengandung tanin, polifenol, flavonoid dan saponin. Ketiga eco-enzyme yang dihasilkan mampu menghambat pertumbuhan bakteri S.aureus. Urutan aktivitas antibakteri terhadap S.aureus dari yang lebih kuat adalah (1) eco-enzyme M.paradisiaca; (2) eco-enzyme C.sinensis; (3) eco-enzyme kombinasi C.sinensis dan M.paradisiaca var. bluggoe.
Analisis Mutu Aktivitas Antioksidan Fraksi Daun Miana (Coleus atropurpureus L. Benth) Terhadap Masa Simpan Permen Jelly Muadifah, Afidatul; Ima, Ernisa Afidatul; Putri, Amalia Eka
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i4.79364

Abstract

Tanaman miana (Coleus artropurpureus L. Benth) menjadi salah satu sumber antioksidan alami yang dapat menangkal radikal bebas karena mengandung senyawa flavonoid, saponin, tanin, dan alkaloid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan fraksi daun miana, mutu fisik permen jelly fraksi daun miana dan umur simpan permen jelly fraksi daun miana berdasarkan laju perubahan kadar air dan aktivitas antioksidan. Fraksi daun miana dibuat variasi konsentrasi yaitu 20 ppm, 40 ppm, dan 60 ppm. Kemudian diuji aktivitas antioksidannya menggunakan metode DPPH dengan asam askorbat sebagai pembanding. Hasil nilai IC50 pada fraksi daun miana terbaik yaitu pada fraksi aquadestilata sebesar 79,943 ppm yang tergolong memiliki aktivitas antioksidan kuat. Kemudian variasi konsentrasi fraksi aquadestilata daun miana dimasukkan kedalam formulasi sediaan permen jelly. Permen jelly fraksi daun miana diukur aktivitas antioksidan dan kadar air setiap 4 hari sekali selama 12 hari dari hari ke 0. Diperoleh nilai IC50 pada sediaan permen jelly dari hari ke-0 sampai ke-12 yaitu 84,065 ppm, 91,238 ppm, 99,971 ppm, 110,335 ppm dan sediaan telah memenuhi persyaratan uji mutu fisik. Kadar air permen jelly fraksi daun miana untuk F1 pada hari ke-0 sampai ke-12 yaitu 11,73; 13,99; 16,91; 18,21. F2 pada hari ke-0 sampai ke-12 yaitu 12,81; 14,01; 16,89; 20,00. F3 pada hari ke-0 sampai ke-12 yaitu 11,97; 14,10; 17,03; 20,00. F4 pada hari ke-0 sampai ke-12 yaitu 11,99; 13,83; 16,87; 19,98. Berdasarkan perubahan kadar air pada permen jelly fraksi daun miana dihitung umur simpannya, didapat rata-rata pada keempat formulasi memiliki umur simpan selama 11 hari.
Analisis Biaya Penyakit Pneumonia pada Pasien Dewasa di Rumah Sakit Rastiti, Liza; Kristina, Susi Ari; Andayani, Tri Murti
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i4.80728

Abstract

Pneumonia adalah salah satu penyakit dengan pembiayaan perawatan di rumah sakit yang paling tinggi di Amerika Serikat, dengan biaya $9,5 miliar secara nasional. Beban ekonomi pneumonia di Filipina sebesar 8,48 miliar peso filipina (PHP) untuk Community-acquired Pneumonia (CAP) Moderate Risk dan PHP 643,76 juta untuk CAP-High Risk. Belum ada penelitian terkait beban ekonomi penyakit pneumonia pada pasien dewasa di Indonesia hingga penelitian ini dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui biaya penyakit pneumonia rawat inap pasien dewasa, komponen-komponen biayanya, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian dilakukan dengan metode observasional analitik dengan desain cross-sectional. Analisis biaya penyakit dilakukan dalam perspektif rumah sakit dengan pendekatan prevalensi. menggunakan metode bottom-up. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif pada periode 1 Juli – 31 Desember 2021. Subjek penelitian adalah semua pasien pnuemonia rawat inap dewasa dengan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang tidak terdiagnosis sebagai pasien COVID-19. Hasil penelitian diperoleh 49 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Total biaya penyakit pneumonia rawat inap pada pasien dewasa sebesar Rp 369.748.868,00. Rata-rata biaya penyakit dalam satu episode rawat inap per pasien (± SD) sejumlah Rp 7.545.895.27 ±  5.057.691,81. Komponen biaya terbesar adalah biaya obat dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) dengan proporsi 46,11% dari jumlah biaya penyakit pneumonia. Faktor Length of Stay (LOS) dan komorbiditas berpengaruh terhadap biaya penyakit pneumonia (p<0.05).
Determination of Octyl Methoxycinnamate Levels On The Face Sunscreen Gel Using Uv-Vis Spectrophotometry Method Rochmiyanti, Hidayah; Haresmita, Perdana Priya; Syarifuddin, Alfian; Kusumorini, Nindya
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i4.81911

Abstract

Sunlight has many benefits for the health of the body, but excessive and long-term exposure to sunlight can have an impact on skin damage, such as sunburn, photoaging (premature aging), and dull skin. Ultraviolet (UV) radiation is a major cause of skin cancer, so many sunscreen gels contain UV filters. Octyl methoxycinnamate is an example of an active UV filter agent. Octyl methoxycinnamate is a cinnamic compound that absorbs light wavelengths 280 nm–320 nm (UVB). This study aims to determine the octyl levels of methoxycinnamate in sunscreen gel preparations circulating in Magelang Regency and assess whether these preparations meet the predetermined safety limits. The analysis used in this research is qualitative and quantitative analysis. Qualitative study using thin layer chromatography (TLC) with silica gel F254 as stationary phase and mobile phase n-hexane : ethyl acetate (7.5 : 2.5) and then detected on UV light at 254 nm. Quantitative analysis using UV-Vis spectrophotometer at a maximum wavelength of 310.5 nm. The results of the qualitative analysis showed that the three samples X, Y and Z were positive contain octyl methoxycinnamate. The results of the TLC showed that samples X, Y, and Z produced purple stains and had the same Rf values between the samples and the standards. Octyl methoxycinnamate levels in sample X of 0.155%; Y 0.824%; and Z 1.954%. The results obtained by the relative standard deviation (RSD) of the sunscreen gel sample were X 0.015%; Y 0.048%; and Z 0.921%. It can be concluded that the three tested sunscreen gel samples are safe for use by the general public.
Observasi Pengelolaan Obat Tahap Penyimpanan dan Distribusi Di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Daerah Konawe Selatan Ruslan, Riswati; Puspandari, Diah Ayu; Endarti, Dwi
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i4.83793

Abstract

Pelayanan kefarmasian di rumah sakit dalam hal ini terkait pengelolaan obat harus dilaksanakan secara multidisplin, terkoordinir dan menggunakan proses yang efektif untuk menjamin mutu, manfaat, keamanan dan khasiat sediaan farmasi. Gudang instalasi farmasi memiliki tanggung jawab dalam menjaga sediaan farmasi agar terhindar dari kerusakan dan menjamin mutu obat selama proses penyimpanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian penyimpanan dan distribusi obat di RSD Konawe Selatan berdasarkan Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif, dilakukan dengan pendekatan cross-sectional. Metode pengambilan data dengan menggunakan lembar ceklist observasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 28 indikator penyimpanan 6 indikator belum sesuai standar dan 22 indikator telah sesuai standar. Sedangkan tahap distribusi terdapat 13 indikator pendistribusian dimana 3 indikator yang tidak diterapkan oleh RSD Konawe Selatan yaitu sistem desentralisasi, floor stock dan sistem kombinasi.
Pengaruh Pemberian Leaflet Digital terhadap Peningkatan Pengetahuan tentang Osteoartritis dan Pengobatannya Raditya, Rakta; Nugroho, Agung Endro; Ikawati, Zullies
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i4.83880

Abstract

Osteoartritis (OA) merupakan salah satu bentuk penyakit artritis yang kerap ditemukan dan berdampak besar dalam masalah kesehatan di masyarakat. Informasi yang jelas dan lengkap dengan bahasa yang mudah dipahami dibutuhkan sebagai landasan dalam membangun program pengobatannya. Seiring dengan perkembangan media berbasis internet, leaflet digital dapat digunakan sebagai media pemberian informasi tersebut. Penelitian bertujuan untuk melihat gambaran pengetahuan masyarakat dan untuk mengetahui dampak pemberian leaflet digital terhadap peningkatan pengetahuan OA dan pengobatannya. Penelitian kuasi eksperimental dilakukan dengan desain pre-test dan post-test kelompok perlakuan dan kelompok kontrol yang melibatkan 91 peserta dari kalangan masyarakat umum di Daerah Istimewa Yogyakarta pada 14-28 Desember 2022. Pemberian leaflet digital dilakukan melalui aplikasi Whatsapp. Pengetahuan peserta terkait OA dan pengobatannya diukur menggunakan kuisioner. Rata-rata pengetahuan pre-test peserta (78,90±12,10) menunjukkan bahwa peserta sudah memiliki pengetahuan terkait OA dan pengobatannya. Rata-rata nilai post-test kelompok kontrol (83,19±12,44) lebih kecil dari kelompok perlakuan (87,39±12,59). Peningkatan nilai pengetahuan pada kelompok kontrol (3,40±12,11) juga lebih kecil dari kelompok perlakuan (8,98±10,76). Hasil uji Wilcoxon dan uji Mann-Whitney memperlihatkan pemberian leaflet digital dapat meningkatkan pengetahuan OA dan pengobatannya secara signifikan dalam kelompok perlakuan (p=0,000) tetapi peningkatan nilai pengetahuan kelompok kontrol tidak berbeda signifikan dengan perlakuan (p=0,052).

Page 1 of 2 | Total Record : 20