cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Farmaseutik
ISSN : 1410590x     EISSN : 26140063     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Farmaseutic accepts submission concerning in particular fields such as pharmaceutics, pharmaceutical biology, pharmaceutical chemistry, pharmacology, and social pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 518 Documents
Narrative Review: Efektivitas Kombinasi Nifedipin dan Magnesium Sulfat dalam Tatalaksana Preeklamsia Nanang Munif Yasin; Wahda Aqiedaty; Mustofa Mustofa
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 2 (2026): in press
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i2.102094

Abstract

Preeklamsia merupakan kondisi kehamilan yang ditandai dengan adanya hipertensi yang muncul bersamaan dengan gangguan fungsi organ ibu dan/atau pertumbuhan janin yang terhambat. Penyakit ini masih menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada ibu dan bayi. Seiring dengan berkembangnya pemahaman mengenai mekanisme penyakit ini, peluang untuk mengembangkan terapi baru yang tidak hanya menggunakan antihipertensi tetapi juga melindungi pembuluh darah ibu mulai terbuka. Tujuan penelitian ini ialah untuk melihat efektivitas kombinasi terapi nifedipin dan magnesium sulfat pada pasien preeklamsia. Penelitian berupa narrative review yang dilakukan dengan menentukan kata kunci, kriteria inklusi dan eksklusi, penyaringan data dan analisis hasil. Pencarian literature dilakukan melalui tiga database elektronik yaitu Pubmed, Cochrane, dan Google Schoolar. Berdasarkan review yang dilakukan, kombinasi nifedipine dan magnesium sulfat sebagai tatalaksana preeklamsia memberikan hasil yang secara signifikan lebih efektif dalam mengontrol atau menurunkan tekanan darah, memperbaiki biomarker fungsi endotel dan mengurangi disfungsi vaskular dengan memperbaiki koagulasi darah, mengoptimalkan perfusi darah serta mengurangi stres oksidatif. Kombinasi terapi ini juga menurunkan resiko komplikasi kehamilan seperti pendarahan postpartum, abrupsi plasenta dan gangguan pernafasan pada neonatus.
Hubungan Rasionalitas Antibiotik empiris terhadap Luaran Klinis serta LOS Pasien di Rsud dr. Rehatta Jepara Eny Munfarida; Ika Puspitasari; Titik Nuryastuti
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 2 (2026): in press
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i1.106957

Abstract

Antibiotik yang irasional berkontribusi terhadap resistensi antimikroba. Tujuan penelitian untuk mengetahui persentase rasionalitas antibiotik pada pasien rawat inap pasien di RSUD dr. Rehatta Jepara menggunakan metode Gyssens serta menganalisis keterkaitan antara rasionalitas antibiotik dengan luaran klinis dan LOS (length of stay). Rancangan penelitian adalah kohort retrospektif dengan data dari  catatan rekam medis pasien anak dan penyakit dalam yang mendapatkan terapi antibiotik empiris selama rawat inap periode 1 Januari – 31 Desember 2023. Data pasien anak sejumlah 58 dan penyakit dalam 118. Rasionalitas antibiotik dikategorikan berdasarkan metode Gyssens dan uji statistik Chi-Square atau Fisher Exact test digunakan untuk menganalisis korelasi rasionalitas antibiotik empiris terhadap luaran klinis dan LOS dan multivariat regresi logistik untuk analisis faktor perancu. Hasil penelitian menghasilkan dari 230 regimen antibiotik, 30% antibiotik rasional dan 70% irasional. Kategori irasional paling banyak adalah pemilihan antibiotik yang kurang efektif sebesar 29,1% dan pemberian tanpa indikasi 16,5%. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara rasionalitas antibiotik empiris terhadap luaran klinis (p=0,129,p>0,05) maupun LOS pasien (p= 0,917, p>0,05) dengan faktor usia berpengaruh terhadap LOS.  
Hubungan Antara Rasionalitas Pemberian Antibiotik Profilaksis Dengan Kejadian Infeksi Luka Operasi Pada Pasien Bedah DI RSA UGM Aron Saputra Thie; Ika Puspitasari; Titik Nuryastuti
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 2 (2026): in press
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i2.106960

Abstract

Infeksi luka operasi (ILO) dapat memberikan efek yang signifikan terhadap kualitas hidup pasien. Penggunaan antibiotik profilaksis dapat menurunkan kejadian ILO. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah penggunaan antibiotik profilaksis yang rasional, mengetahui jumlah kejadian ILO, mengidentifikasi faktor risiko yang berpengaruh terhadap ILO dan mengetahui hubungan rasionalitas antibiotik profilaksis pada pasien bedah dengan kejadian ILO di RSA UGM. Penelitian ini merupakan penelitian dengan rancangan kohort retrospektif. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang menjalani tindakan pembedahan dan mendapatkan antibiotik profilaksis di RSA UGM selama bulan Januari sampai dengan Desember 2023. Terdapat 156 pasien yang menjalani tindakan bedah dan masuk dalam kriteria inklusi pada penelitian ini. Rasionalitas penggunaan antibiotik profilaksis berdasarkan metode Gyssens (kategori 0) pada penelitian ini sebesar 39,7% (62 pasien) dan angka kejadian ILO pada penelitian ini sebesar 5,1% (8 dari total 156 pasien). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara ketidakrasionalan penggunaan antibiotik profilaksis dengan kejadian ILO (P=1,000). Terdapat hubungan yang signifikan antara lama rawat inap post operasi, Intraoperative Blood Loss, dan waktu pemberian antibiotik dengan kejadian ILO berdasarkan analisis bivariat. Analisis multivariat menunjukkan bahwa lama rawat inap post operasi memiliki hubungan yang bermakna dengan angka kejadian ILO. Individu dengan lama rawat inap post operasi lebih dari 3 hari memiliki risiko 0,167 lebih tinggi untuk mengalami ILO (OR 0,167; CI 95% 0,036-0,765; p = 0,021).
Empirical Use of Cephalosporins in Pediatric Infections in Indonesia: A Systematic Review Melisa Rezki Puspitasari; Tifany Maulida Candra; Agung Endro Nugroho; Ika Puspita Sari
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 2 (2026): in press
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i2.110356

Abstract

Cephalosporins, particularly third-generation agents like ceftriaxone, remain widely used in pediatric populations in Indonesia despite declining effectiveness due to high rates of ESBL-producing pathogens. This systematic review synthesized evidence on cephalosporin use, resistance patterns, and effectiveness in Indonesian children across various clinical settings, based on five studies published between 2019–2025. Data included study characteristics, patient profiles, indications, and outcomes. Ceftriaxone was the most common empirical choice for infections such as sepsis, pneumonia, and urinary tract infections. However, susceptibility of Escherichia coli and Klebsiella pneumoniae was often below 30%, whereas amikacin and meropenem maintained over 90% activity. Notably, one tertiary pediatric ward reduced ESBL prevalence after restricting ceftriaxone use, demonstrating the potential of targeted stewardship programs. The findings reveal a disconnect between prescribing practices and resistance data, emphasizing the need for real-time microbiological surveillance, updated pediatric empirical therapy guidelines, and improved prescriber education. Strengthening pediatric antimicrobial stewardship is crucial to preserving antibiotic effectiveness and optimizing clinical outcomes in children amid rising resistance.
Sustainable Pharmacutical Excipients Drom Indonesia: A Scooping Review Heka Mareta Nugraheni; Mega Dannyingdyah Primartati
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 2 (2026): in press
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i2.116458

Abstract

Ketergantungan industri farmasi terhadap eksipien sintetis menimbulkan kekhawatiran terkait dampak lingkungan dan keamanan, seperti sifat tidak mudah terurai dan potensi reaksi hipersensitivitas. Eksipien Farmasi Berkelanjutan (SPE) yang berasal dari limbah tanaman alami menawarkan alternatif yang lebih ramah lingkungan. Indonesia memiliki biomassa pertanian yang berlimpah dengan potensi besar untuk pengembangan SPE. Tinjauan ini bertujuan untuk memetakan penelitian terkait konversi limbah tanaman Indonesia menjadi eksipien farmasi serta mengidentifikasi ketidakseimbangan penelitian yang ada.Scooping review dilakukan pada basis data Scopus, PubMed, dan Lens.org mengikuti pedoman PRISMA hingga tahun 2025. Data yang diekstraksi mencakup tanaman, jenis eksipien, metode pengolahan, aplikasi farmasi, dan aspek keracunan, kemudian dianalisis secara naratif. Sebanyak lima studi memenuhi kriteria inklusi, dengan pemanfaatan limbah kulit pisang, eceng gondok, bonggol nanas, umbi singkong pembohong, dan purun tikus. Limbah tersebut diolah menjadi pektin, pati termodifikasi, selulosa, dan mikrokristalin selulosa, terutama melalui metode enzimatik atau mikroba. Karakterisasi fisikokimia umumnya dilakukan secara komprehensif, namun hanya satu penelitian yang berkelanjutan hingga tahap formulasi sediaan farmasi. Tidak satupun studi melakukan penilaian secara formal.Secara keseluruhan, penelitian SPE berbasis biomassa Indonesia masih terbatas tetapi menunjukkan potensi. Penelitian selanjutnya perlu mengintegrasikan evaluasi kuantitatif dan pengujian formulasi terapan untuk mendukung pengembangan eksipien yang berkelanjutan dan layak secara komersial.
Hubungan Durasi Terapi Anti Tuberkulosis Kategori I Dengan Kejadian Hepatotoksisitas Pada Pasien Tuberkulosis Di Rawat Jalan Rumah Sakit Islam Sunan Kudus Nabila Aulia Putri; Endang Setyowati; Fahrudin Arif
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 2 (2026): in press
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i2.116952

Abstract

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular akibat infeksi Mycobacterium tuberculosis. Tingginya kasus penemuan penyakit TB baru menyebabkan penggunaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) mencakup isoniazid, rifampisin, dan pirazinamid yang bersifat hepatotoksik semakin meningkat dan penggunaannya dalam jangka waktu yang lama dapat meningkatkan risiko kejadian hepatotoksisitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan durasi terapi anti tuberkulosis kategori I dengan kejadian hepatotoksisitas pada pasien tuberkulosis di rawat jalan Rumah Sakit Islam Sunan Kudus. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif observasional analitik dengan desain case cohort yang bersifat Retrospektif, dilakukan pada bulan Januari - Desember 2025. Pengambilan sampel menggunakan teknik sampel total yaitu pada 14 pasien TB paru, dan pengumpulan data menggunakan data sekunder dari Rekam Medis pasien TB paru kategori I. Metode analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Spearman Rank dan uji Mann-Whitney U. Pola terapi yang diberikan pada pasien TBC paling banyak yaitu OAT KDT (isoniazid 150 mg, rifampisin 75 mg, pirazinamid 400 mg, dan etambutol 275 mg) pada fase intensif. Persentase kejadian hepatotoksisitas pada fase intensif hanya terjadi pada 1 pasien (9,1%) dan tidak terjadi hepatotoksisitas pada fase intensif dan lanjutan pada 13 pasien (90,9%). Hasil analisis menunjukkan nilai ρ value = 0,602 dan r = -0,145.
Analisis Interaksi Obat Pada Penggunaan Analgesik OTC dan Obat Lain di Apotek X Pati Hendira Gian Apriliawati; Endang Setyowati; Ulviani Yulia Husna
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 2 (2026): in press
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i2.117725

Abstract

Analgesik over the counter (OTC) merupakan obat pereda nyeri yang banyak digunakan masyarakat dalam praktik swamedikasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi interaksi obat pada penggunaan analgesik OTC yang dikonsumsi bersamaan dengan obat lain di Apotek X Pati. Penelitian menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional terhadap 96 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan kuesioner, kemudian dianalisis secara univariat. Identifikasi potensi interaksi obat dilakukan berdasarkan mekanisme interaksi dan tingkat keparahan menggunakan basis data Drugs.com dan Stockley’s Drug Interactions. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden didominasi oleh perempuan (59,4%) dengan kelompok usia terbanyak >45 tahun (28,1%). Analgesik Non NSAID yang paling banyak digunakan adalah paracetamol 500 mg (25,0%), dan analgesik NSAID paling banyak digunakan ibuprofen 400 mg (24,0%). Responden menggunakan analgesik dengan frekuensi sering (>3 hari berturut-turut) sebesar 62,5%. Kombinasi obat yang paling banyak ditemukan adalah antara NSAID dengan kortikosteroid (35,4%). Potensi interaksi obat yang ditemukan termasuk dalam mekanisme farmakodinamik dengan tingkat keparahan dominan kategori moderat (43,8%). Efek samping yang dilaporkan responden antara lain mual (7,3%) dan pusing (2,1%).  
Kualitas Hidup Pasien Penyakit Ginjal Kronis Rawat Inap Di Rumah Sakit Arini Salsabila; Woro Supadmi; Endang Yuniarti; Bangunawati Rahajeng
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 2 (2026): in press
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i2.117739

Abstract

Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan kondisi progresif yang dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan pasien, termasuk kondisi fisik, psikologis, dan sosial, sehingga berdampak pada kualitas hidup. Oleh karena itu, penilaian kualitas hidup menjadi penting untuk menggambarkan kondisi pasien selama menjalani perawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kualitas hidup pasien PGK rawat inap berdasarkan domain Kidney Disease Quality of Life‑36 (KDQOL‑36) di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan observasional kuantitatif dengan desain prospective cross‑sectional yang dilaksanakan pada periode Oktober hingga Desember 2025. Sebanyak 70 pasien PGK rawat inap yang memenuhi kriteria inklusi dilibatkan sebagai sampel penelitian. Data kualitas hidup dikumpulkan menggunakan instrumen KDQOL‑36, sedangkan karakteristik pasien diperoleh melalui data rekam medis dan wawancara. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk menggambarkan skor pada setiap domain kualitas hidup. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan skor pada masing‑masing domain KDQOL‑36. Rerata skor tertinggi terdapat pada domain fungsi fisik, sedangkan skor terendah pada domain keterbatasan fisik. Domain lainnya, seperti nyeri tubuh, kesehatan umum, fungsi sosial, keterbatasan emosional, vitalitas, dan kesehatan mental, berada pada kategori sedang. Secara keseluruhan, sebagian besar pasien memiliki fungsi fisik dasar relatif masih baik, keterbatasan dalam aktivitas fisik tetap menjadi aspek yang menonjol dalam kualitas hidup pasien PGK rawat inap. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan perawatan yang tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga mencakup pengelolaan gejala fisik, dukungan psikososial, dan edukasi pasien untuk meningkatkan kualitas hidup.