cover
Contact Name
Sarip Hidayat
Contact Email
mohsyarifhidayat@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
metasastra@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bandung,
Jawa barat
INDONESIA
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra
ISSN : 20857268     EISSN : 25032127     DOI : -
Metasastra: Jurnal Penelitian Sastra is a journal published by Balai Bahasa Jawa Barat, ISSN printed 2085-7268 and ISSN online 2503-2127. This journal is a literary research journal that publishes various research reports, literature studies, and literary papers on literature. Published periodically twice a year in June and December. This journal also serves as a media dissemination of information research results and literature review.
Arjuna Subject : -
Articles 201 Documents
PRIYAYI DAN KAWULA DALAM PASAR KARYA KUNTOWIJOYO (Priyayi and Kawula in The Novel Entitled Pasar Written by Kuntowijoyo) Untoro, Ratun
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 5, No 1 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2012.v5i1.83-91

Abstract

Penelitian ini hendak mengungkap priyayi dan kawula dalam Pasar, sebuah novel karya Kuntowijoyo. Konsep bibit (keturunan), bebet (kekayaan), dan bobot (pengetahuan) yang digunakan sebagai kriteria untuk menjadi priyayi, di zaman modern ini harus kembali ditinjau. Selain priyayi terpelajar, ada dua jenis priyayi lain menurut Kuntowijoyo, yaitu priyayi yang bekerja pada raja dan priyayi yang bekerja untuk kerajaan. Penelitian ini menggunakan metode analisis konten dalam membedah novel Pasar dengan tujuan untuk mencari kriteria dan jenis gelar priyayi yang bisa diraih seseorang meski ia tidak mempunyai bibit dan bebet priyayi. Hasil penelitian pada novel ini menegaskan bahwa pendidikan dapat meningkatkan kelas sosial seseorang sebagaimana yang telah Kuntowijoyo definisikan sebagai priyayi terpelajar.Abstract:The research is intended to reveal the priyayi and kawula concept in the novel of Pasar, by Kuntowijoyo. Three modalities of bibit (descendant), bebet (wealth), and bobot (knowledge) used as a criterion to become priyayi, in this modern epoch have tobe evaluated. Besides educated priyayi, Kuncoro also divides  two other kinds of priyayi ,namely, priyayi who works for the king and the other who works for the kingdom (government). This research applies the content analysis method in order to find the criteria and type priyayi title which can be reached by  someone who does not have the priyayi’s bibit and bebet. The result of the  research on this novel asserts that education can improve someone’s standard as Kuntowijoyo defined as educated priyayi.
SURAT BALASAN SULTAN SEPUH VII CIREBON UNTUK RAFFLES: KAJIAN STRUKTURALISME GENETIK (Reply Letter from the 7th Sultan Sepuh of Cirebon to Raffles: Genetic Structuralism Approach) Aminuddin, Hazmirulllah
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 9, No 2 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2016.v9i2.211-224

Abstract

Pada 26 April 1811, Sultan Sepuh VII Cirebon menerima surat dari Thomas Stamford Raffles yang dibawa oleh Tengku Pangeran Sukma Dilaga. Melalui surat tertanggal 19 Desember 1810 itu, Raffles menyatakan keinginan Inggris untuk menduduki pulau Jawa. Ia berjanji tidak akan memperlakukan para penguasa (dan rakyat) secara kejam, sebagaimana orang-orang Belanda dan Prancis. Sultan Sepuh VII pun menulis surat balasan yang menyatakan bahwa dirinya merestui rencana Inggris. Surat inilah yang menjadi objek dalam penelitian ini. Penulis terlebih dahulu mengkaji naskah dan teks surat tersebut menggunakan metode kajian filologi. Selanjutnya, penulis mengkaji isi teks dengan menggunakan teori strukturalisme genetik. Teori itu meniscayakan penganalisisan segala sesuatu di luar teks, termasuk kondisi sosial, yang melatarbelakangi penciptaan sebuah karya sastra (dalam hal ini teks surat). Hasil penelitian menunjukkan, surat balasan yang berisi restu terhadap rencana Inggris tersebut merupakan respons Sul- tan Sepuh VII karena sudah tak lagi kuat menanggung beban dari pemerintah kolonial Belanda Prancis.Abstract:  On April 26th 1811, the 7th  Sultan Sepuh of Cirebon received a letter from Thomas Stamford Raffles brought by Tengku Pangeran Siak. By letter dated December 19th, 1810, Raffles expressed his plan to occupy  Java island. He promised not to treat the rulers (and  their people) cruelly, as the Dutch and French did. The Sultan wrote a reply stating that he approved the British plan. The reply letter is the object of this research. Firstly, the writer examined the text of the letter by using the philological approach.  Secondly, the writer reviewed it by using the genetic structuralism theory. The theory  focuses on analyzing everything beyond the text, including the social conditions,  underlying  the creation of a literary work (the text of the letter taken as a source of data in the study). The result of the research reveals that  the  letter containing the Sultan’s blessing to the British plan was his response  as he could no longer endure the burden from the Dutch-French colonial government. 
CERITA SI KABAYAN: TRANSFORMASI, PENCIPTAAN, MAKNA, DAN FUNGSI Durachman, Memen
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 1, No 1 (2008)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2008.v1i1.1-17

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kayanya cerita si Kabayan yang transformasi. Cerita si Kabayan pada awalnya hanyalah sastra lisan/tradisi lisan. Akan tetapi, mengalami transformasi dalam tradisi tulis. Bahkan si Kabayan mengalami transformasi pula dalam kelisanan kedua. Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran tentang struktur cerita si Kabayan dan transformasinya, penciptaan, makna, dan fungsinya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Artinya, seluruh cerita dideskripsikan dari segi struktur dan transformasinya, proses penciptaan, makna, dan fungsinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur cerita si Kabayan umumnya sederhana, baik dari alur, tokoh, dan latar. Transformasi yang terjadi berupa ekspansi dan konversi. Penciptaannya didasari oleh skema. Maknanya umumnya ialah kearifan menghadapi hidup. Fungsi ialah umumnya berkaitan dengan pengesahan kebudayaan, alat pemaksa berlakunya terhadap norma-norma sosial, alat pengendali sosial, alat pendidikan, hiburan, dan protes ketidakadilan dalam masyarakat.
PANDUAN PENULIS Mulyani, Yeni
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2011.v4i1.%p

Abstract

SEJARAH DAN REALITAS KEKINIAN DALAM NOVEL RAHASIA MEEDE (History and Today’s Reality in Rahasia Meede) Arriyanti, Arriyanti
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 9, No 1 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2016.v9i1.1-12

Abstract

Makalah ini membahas wacana sejarah dalam kaitannya dengan realitas kekinian yang tergambar dalam novel Rahasia Meede karya ES Ito. Wacana tersebut diungkap dari pengamatan penulis terhadap bagian-bagian cerita dan jalinan peristiwa yang terangkai dalam cerita. Novel Rahasia Meede merupakan novel sejarah yang menyuarakan begitu banyak pesan peradaban. Sejarah dimanfaatkan oleh pengarang sebagai media pencetus ide. Selain itu, fakta sejarah juga digunakan oleh pengarang untuk mengingatkan bangsa ini, khususnya generasi muda untuk lebih hati-hati dalam menjalani hidup. Pengarang ingin mengajak pembaca untuk sekilas berpaling dari aktivitas sehari-hari dan melongok ke jendela masa lalu dan menjadikannya sebagai cermin untuk melangkah ke depan.
MUSLIM KELAS MENENGAH DALAM TIGA PUISI MUSTOFA BISRI (Middle Class Muslim in Three Poetries by Mustofa Bisri) Mulyana, Topik
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 10, No 1 (2017)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2017.v10i1.73-84

Abstract

Sebagaimana gejala sosial lainnya, gejala muslim kota juga tak luput dari sorotan para sastrawan yang kemudian merekam sekaligus menanggapinya dalam bentuk karya sastra, termasuk puisi. Beberapa puisi karya Mustofa Bisri merupakan puisi-puisi yang dengan kuat merekam dan menanggapi gejala muslim kelas menengah. Penelitian ini akan menelaah bagaimana muslim kelas menengah digambarkan dan bagaimana latar sosial penyair turut membentuk tanggapan tertentu terhadapnya. Pendekatan yang digunakan adalah sosiologi sastra; menyorot karya dengan memerhatikan aspek realitas sosial di luar karya dan ideologi serta posisi sosial penyairnya sehingga ketiga puisi Mustofa Bisri bisa dilihat sebagai refleksi penyair atas gejala simbolisasi yang tidak ada pengembangan dan penemuan baru. Selain itu, dari segi pembaca, puisi Mustofa Bisri bisa dilihat sebagai kampanye anti-radikalisasi Islam sekaligus imbauan kepada umat Islam.AbstrakLike other social phenomena, the muslims in cities are also not missed from the spotlight of writers who then record and respond in the form of literary works, including poetry. Some of the poems by Mustofa Bisri strongly record and respond to middle-class muslim phenomena. This research examines how middle class muslims are portrayed and how the social background of the poets has shaped a certain responses to it. The approach used is the sociology of literature; highlighting the work by looking at the aspects of social reality beyond the work and ideology and social position of his poems. Hence, the three poems of Mustofa Bisri can be seen as a poet’s reflection on the symptom of symbolization with no new development and discovery. In addition, in terms of readers, Mustofa Bisri’s poem can be seen as a campaign of anti-radicalization of Islam as well as an appeal to muslims.
MUSIK DAN SEKSUALITAS DALAM NOVEL DIE KLAVIERSPIELERIN KARYA ELFRIEDE JELINEK (Music and Sexuality in Elfriede Jelinek’s Novel “Die Klavierspielerin”) Hapitta, Okky Dwi; Aksa, Yati; Noorman, Safrina
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i1.91-104

Abstract

Musik banyak diangkat menjadi tema dalam karya-karya yang ditulis Jelinek. Dalam novel Die Klavierspielerin  yang terbit tahun 1983, Jelinek mengangkat tema musik. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan fungsi musik dan keterkaitannya dengan seksualitas tokoh utama. Kajian ini dilandasi oleh teori fungsi musik yang dikemukakan Alan P. Merriam, teori seksualitas yang dikemukakan oleh Padgug, serta teori seksualitas yang berkaitan dengan relasi kuasa yang dikemukakan oleh M. Foucault. Hasil analisis menunjukkan bahwa di dalam novel tersebut terdapat fungsi musik sebagai representasi simbolis yang dijadikan sarana antar tokoh untuk saling menekan antara ibu terhadap Erika sebagai anak, Erika sebagai guru terhadap Klemmer sebagai murid. Musik juga memunculkan relasi kuasa yang mempengaruhi seksualitas Erika.Abstract: Music was mostly taken as a theme in many works written by Jelinek.  In the Die Klavierspielerin novel  published in 1983, Jelinek took theme of music. The study is aimed at revealing music function  and its links with the main character’s sexuality. This study is based on music function theory introduced by Alan P. Merriam, sexuality theory introduced by Padgug, and sexuality theory concerning power relation introduced by M. Foucault. The  results of analysis indicate that in the novel there are musical functions as symbolic representation used as a reference between characters to repress each other, such as,  mother to Erika as a child, Erika as a teacher to Klemmer as a student.
RANDA BENGSRAT: EMANSIPASI, CINTA, DAN KEIMANAN Suminar, Cucu
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 1, No 1 (2008)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2008.v1i1.68-79

Abstract

Dalam cerita-cerita tentang wanita, ditemukan citra wanita sesuai dengan sudut pandang pengarangnya. Citra wanita pertama ialah yang bertingkah baik yang menampilkan sifat penurut dan berbakti kepada orang lain. Citra wanita kedua ialah wanita yang dapat mengekspresikan diri melawan dominasi pria. Salah satu roman yang menceritakan kehidupan wanita ialah Randa Bengsrat ‘Janda Utuh’. Randa Bengsrat merupakan roman Sunda karya Jus Rusamsi. Randa Bengsrat adalah sebuah roman (modern) yang cukup menarik dan mengesankan untuk bacaan generasi muda. Randa Bengsrat banyak membahas masalah-masalah aktual bertalian dengan perjuangan kaum wanita untuk menempatkan dirinya dalam masyarakat di Negara sedang berkembang yang bersifat majemuk, seperti Indonesia.
ANTROPOLOGI  SASTRA: PERKENALAN AWAL (Anthropology Literature: an Early Introduction) Kutha Ratna, I Nyoman
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 4, No 2 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2011.v4i2.150-159

Abstract

“Antropologi Sastra: Perkenalan Awal”, judul artikel ini mendeskripsikan atau mengenalkan sebuah teori yang relatif baru dalam sejarah pendekatan terhadap karya sastra, yaitu antropologi sastra. Secara panjang lebar, di dalam artikel dijelaskan perbedaan antara istilah antropologi sastra dan sastra antropologi serta hubungan kedua istilah tersebut. Kemudian, dijelaskan pula tentang sejarah lainnya, yaitu antropologi sastra, identifikasi antropologis dalam karya sastra dan antropologi sastra di masa depan. Dalam penutup disampaikan bahwa antropologi sastra memiliki kemampuan maksimal untuk mengungkapkan berbagai permasalahan yang muncul dalam karya sastra, seperti masalah kearifan lokal, sistem religi, dan masalah kebudayaan yang lain.Abstract:This article describes   a relatively new theory in the history of literary work approach, the anthropological literature. At length, the article explains that the difference between the terms of literary anthropology and anthropology and the relation between those terms.  Then, it also discusses another history of literary anthropology, anthropological identification in literary work and anthropological literature in the future. In closing it is submitted that the anthropological literature has the maximum ability to describe various problems emerged in literary works, such as the problem of local wisdom, religion, and other cultural issues.
Cover Metasastra Vol. 7, No. 1, 2014 Mulyani, Yeni
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 7, No 1 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2014.v7i1.%p

Abstract