cover
Contact Name
netty herawati
Contact Email
nettyherawati76@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
nettyherawati76@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Jurnal Distilasi
ISSN : 25287397     EISSN : 26144042     DOI : -
Jurnal Distilasi merupakan berkala ilmiah yang dikelola oleh Program Studi Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Palembang yang mempublikasikan makalah-makalah ilmiah berupa hasil penelitian, studi kepustakaan, gagasan, teori dan kajian kritis di bidang ilmu Teknik Kimia. Jurnal Distilasi diterbitkan 2 (dua) kali setahun pada bulan Maret dan September.
Arjuna Subject : -
Articles 87 Documents
PEMANFAATAN PUPUK CAMPURAN LIMBAH KEMPAAN GAMBIR, ABU CANGKANG SAWIT DAN SEKAM PADI SEBAGAI MEDIA TUMBUH BIBIT CABAI RAWIT (CAPSICUM FRUTESCENS L) Susilawati, Nesi; Ade Putera, Ferdison
Jurnal Distilasi Vol 5, No 2 (2020): Jurnal Distilasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jd.v5i2.3029

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendapatkan komposisi yang baik dari pupuk campuran limbah kempaan gambir, abu cangkang sawit dan sekam padi dengan penambahan bioaktivator MOL dan EM-4 untuk media tanam pertumbuhan bibit tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L.) dalam polibag. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan Juni 2020. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan  variasi perbandingan limbah kempaan gambir : abu cangkang sawit : sekam padi, meliputi  (A1) 80:17:3 (A2) 70:25,5:4,5 (A3) 60:34:6 dan  jenis mikroba EM-4 (B1) dan MOL (B2).Pengamatan yang dilakukan meliputi parameter tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), lebar daun (cm) dan panjang daun (cm). Hasil Penelitian menunjukkan bahwa komposisi campuran yang baik untuk pertumbuhan bibit tanaman cabai rawit pada 7 MST adalah perlakuan  A1B2 yaitu campuran limbah kempaan gambir : abu cangkang sawit : sekam padi,  80:17:3 dengan biodekomposer MOL.dengan tinggi tanaman cabai rawit ; 10 cm, jumlah daun ; 5 helai ; lebar daun ; 1,4 cm dan panjang daun; 1,8 cm.
PENGARUH JUMLAH KOTORAN SAPI DAN SAMPAH ORGANIK TERHADAP PEMBIAKAN EM4 PADA PROSES ANAEROB Ariyanto, Eko; Kalsum, Ummi; Ruliansyah, M. Wahyu
Jurnal Distilasi Vol 6, No 1 (2021): Jurnal Distilasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jd.v6i1.3375

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara yang jumlah penduduknya mencapai 238.518.000 jiwa pada tahun 2015, data ini diambil setiap 5 tahun sekali. Hal tersebut menyebabkan lonjakan penggunaan bahan makanan tepatnya di kota palembang seperti sayur mayur dan sebagainya yang banyak dikonsumsi masyarakat yang semuanya akan menghasilkan sampah, pada tahun 2020 sampah di kota palembang adalah 1.400 ton / per tahun. hari. Dikhawatirkan akan menimbulkan masalah bagi masyarakat yang tentunya berdampak pada kesehatan. Sampah yang tidak dibuang dengan baik dapat menimbulkan penyakit seperti diare, disentri, kudis, jamur dan lain-lain. Seperti kita ketahui, rata-rata petani di Indonesia menggunakan pupuk anorganik yang dapat merusak unsur tanah dan senyawa lainnya. Melihat dari kondisi tersebut, kami memiliki solusi dengan mengolah sampah organik menjadi Struvite (pupuk organik) dengan menggunakan metode Anaerobik. Sampah organik merupakan sampah yang mengalami pelapukan dan mudah terurai yang biasa disebut dengan kompos. Kompos berasal dari limbah daun dan sayur yang dijual di pasaran. Berbagai macam teknologi dan metode telah digunakan untuk mengurangi pencemaran yang disebabkan oleh limbah, antara lain dengan menggunakan proses mebran dan penyerapan. Namun, karena biaya peralatan yang digunakan, itu banyak uang dan sedikit mahal. Metode ini terbagi menjadi dua yaitu metode anaerobik dan metode aerobik. Pengolahan limbah yang prosesnya tidak memerlukan adanya oksigen sebagai syarat kelangsungan hidup bakteri sehingga bakteri tersebut disebut bakteri anaerob. Proses pembuatan pupuk struvite dapat dilakukan dengan dua cara yaitu proses aerobik dan proses anaerobik. Proses aerobik merupakan proses yang membutuhkan oksigen agar fermentasi dapat terjadi, sedangkan anaerob adalah proses yang tidak membutuhkan oksigen sehingga bakteri akan disebut sebagai bakteri anaerob.
PEMBUATAN PULP DARI AMPAS TEBU PROSES BLEACHING HIDROGEN PEROKSIDA Legiso, Legiso; Kalsum, Ummi
Jurnal Distilasi Vol 3, No 2 (2018): Jurnal Distalasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jd.v3i2.2939

Abstract

Indonesia merupakan negara agraris penghasil bahan pangan yang besar, seperti padi, jagung, kedelai, tebu dan lain-lain. Ampas tebu, atau disebut juga dengan bagasse adalah hasil samping dari proses ekstraksi cairan tebu yang sebagian besar mengandung lignin selulosa. Panjang seratnya antara 1,7-2 mm dengan diameter sekitar 20 µm, sehingga ampas tebu ini dapat memenuhi persyaratan untuk diolah menjadi papan-papan buatan dan bahan pembuatan pembuatan pulp. Kurangnya pemanfaatan limbah ampas tebu menjadikan ampas tebu menjadi tumpukan sampah yang mencemari lingkungan. Metode penelitian dilakukan dengan proses hidrogen peroksida dengan larutan pemasak pada konsentrasi NaOH 3%, 5%, 7%, 9%, dan 11% dengan waktu 70 m, 80 m, 90m 100m, dan 110 m kemudian dilanjutkan dengan menghitung persentasi rendemen dan bilangan permanganate tujuan dalam penelitian ini adalah mendapatkan persentase rendemen dan bilangan permanganat yang merupakan bagian pengujian kuantitas dan kualitas pulp secara kimiawi dengan perbedaan waktu dan konsentrasi larutan pemasakan yang konstan. Dari penelitian persentasi yang didapat 66,1 % dan bilangan permanganate 3,9.
PEMBUATAN KARBON AKTIF DARI ARANG TONGKOL JAGUNG DENGAN VARIASI KONSENTRASI AKTIVATOR NATRIUM KARBONAT (Na2CO3) Meilianti, Meilianti
Jurnal Distilasi Vol 5, No 1 (2020): Jurnal Distilasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jd.v5i1.3025

Abstract

Tongkol buah jagung merupakan hasil perkebunan jagung yang biasanya langsung dibuang oleh para pedagang yang menjual makanan yang berbahan baku buah jagug ke lingkungan.  Tongkol buah jagung dapat dimanfaatkan menjadi bahan baku pembuatan karbon aktif karena mempunyai struktur berpori dan mengandung selulosa (41%) dan hemiselulosa (36%) yang cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik karbon aktif  yang dibuat dari arang tongkol jagung dengan aktivator Na2CO3. Proses karbonisasi karbon aktif dilakukan menggunakan alat furnace selama 30 menit dengan suhu 550 °C. Karbon aktif hasil proses karbonisasi dihaluskan dan diayak dengan ukuran 70 mesh dan diaktivasi selam 24 jam dengan larutan Na2CO3 dengan variasi konsentrasi 4.5%w/v, 5.0%w/v, 5.5%w/v, 6.0%w/v dan 6.5%w/v. Setelah dilakukan pengujian terhadap beberapa variable yang mengacu pada SNI 06 – 3730   – 1995 didapat kesimpulan bahwa karakterisasi karbon aktif dengan aktivator Na2CO3 yang yaitu kadar air terendah pada sampel 4.5 %w/v sebesar 0,20 %, kadar abu terendah pada sampel 4.5%w/v sebesar 0.85%w/v, zat terbang terendah pada sampel 6.5 %w/v sebesar 5,05 %, dan daya serap maksimum terhadap iodium pada konsentrasi 6,0 %w/v sebesar 1143 mg/g.
PEMBUATAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI Martini, Sri; Yuliwati, Erna; Kharismadewi, Dian
Jurnal Distilasi Vol 5, No 2 (2020): Jurnal Distilasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jd.v5i2.3030

Abstract

Perkembangan sektor industri yang sangat pesat tidak hanya memberikan sisi positif terhadap perkembangan perekonomian, kemajuan sosial serta teknologi bagi masyarakat, namun juga hasil samping berupa berbagai limbah termasuk limbah cair yang pada umumnya masih mengandung sejumlah partikel polutan yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan serta ekosistem. Dengan demikian, teknologi pengolahan yang tepat harus diberikan sebagai perlakuan pada limbah sebelum dialirkan ke tempat pembuangan akhir. Filtrasi membran, adsorpsi, proses oksidasi, koagulasi, flokulasi, dan pemanfaatan mikroorganisme secara biologi adalah beberapa contoh teknologi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas air limbah. Sebagaimana yang dibahas didalam artikel ini sehingga dapat memberikan gambaran ringkas mengenai beberapa teknologi yang tersedia dan dapat diapikasikan pada limbah cair hasil proses industri.
PEMBUATAN BIOETANOL DARI PATI UBI TALAS (COLOCASIA L. SCHOOT) DENGAN PROSES HIDROLISIS Herawati, Netty; Juniar, Heni; Setiana, Rizky Wahyu
Jurnal Distilasi Vol 6, No 1 (2021): Jurnal Distilasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jd.v6i1.3376

Abstract

Talas merupakan tanaman dari jenis umbi-umbian yang merupakan salah satu bahan pangan non beras yang bergizi cukup tinggi,terutama kandungan karbohidratnya sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk bahan baku pembuatan etanol (Retno, 2017). Bioetanol diproduksi dari hasil fermentasi yeast yaitu Saccharomyces sp. yang mengkonversi glukosa menjadi etanol dan gas karbondioksida. Untuk mendapatkan glukosa, bahan baku berupa pati sebelumnya dipecah terlebih dahulu menjadi bahan yang lebih sederhana melalui proses hidrolisa pati dengan enzim. Hasil pembuatan etanol dari talas didapatkan  kadar etanol paling tinggi pada waktu fermentasi 7 hari dan penambahan NPK sebanyak 20 gram yaitu 48,2 %. Penelitian dilakukan dengan metode hidrolisis enzim. Enzim yang digunakan yaitu ?-amilase dan glukoamilase dengan penambahan volume masing-masing ?-amilase  (0,5;1,0;1,5;2,0;2,5) ml dan glukoamilase (0,5;0,8;1,1;1,4;1,6) ml. Sari talas yang sudah dipisahkan dari ampasnya, lalu dihidrolisis pada suhu 96 °C, dilanjutkan fermentasi selama 7 hari, dan destilasi pada suhu 90 °C. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh variasi dan konsentrasi enzim terhadap produksi bioetanol yang dihasilkan yaitu densitas, indeks bias, dan titik nyala. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, diperoleh hasil optimal pada proses pembuatan bioetanol dari umbi talas yaitu sebanyak 33,4 ml pada enzim glukoamilase dengan konsentrasi 1,4 ml dengan kadar glukosa 11,98%, kadar bioetanol sebesar 50,46%, %rendemen sebesar 2,9153%, densitas bioetanol sebesar 0,87284 gr/ml, indeks bias sebesar 1,3490 dan titik nyala sebesar 28 °C.
PENINGKATAN MUTU MINYAK GORENG BEKAS DENGAN PROSES ADSORPSI MENGGUNAKAN Ca BENTONIT Atikah, Atikah
Jurnal Distilasi Vol 3, No 2 (2018): Jurnal Distalasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jd.v3i2.2940

Abstract

Minyak goreng bekas ditinjau dari parameter fisik maupun kimia telah mengalami perubahan dan tidak layak untuk digunakan lagi, oleh karena itu perlu adanya usaha pengolahan minyak goreng bekas agar dapat digunakan kembali untuk kebutuhan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari sejauh mana mutu minyak goreng bekas dapat diperbaiki dengan proses adsorpsi. Proses utama dalam penelitian ini adalah adsorpsi dengan Ca bentonit dan pengamatan perubahan nilai FFA, bilangan peroksida, kadar air, kejernihan dan kotoran yang merupakan indikator mutu minyak goreng. Prosedur yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi aktivasi adsorben Ca bentonit, analisa awal minyak goreng bekas, pengolahan secara adsorpsi dengan memvariasikan kondisi operasi yang meliputi temperatur operasi 60?C, 80?C, 100?C dan berat Ca bentonit 40, 50, 60, 70, 80 gram serta analisa mutu minyak goreng yang telah diadsorpsi. Pada penelitian ini hasil terbaik untuk semua parameter didapat pada kondisi temperatur 100oC dan berat Ca bentonit 80 gram. Hasil terbaik untuk parameter FFA 0,7 mg KOH/g, bilangan peroksida 16,2 mek O2/kg, kadar air 0,022 %b/b, kejernihan 1,10 dan kadar kotoran 1,009 mg/g
PENGARUH SORBITOL DAN CARBOXYMETHYL PADA BIOPLASTIK DARI AMPAS TEBU DAN AMPAS TAHU Kalsum, Ummi; Juniar, Henny; Khirnanda, Indah
Jurnal Distilasi Vol 5, No 1 (2020): Jurnal Distilasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jd.v5i1.3026

Abstract

Plastik Biodegradable adalah bahan plastik yang dibuat dari bahan berbasis bio (alam) seperti pati, kitosan, rumput laut, asam poli laktat, protein dan sebagainya. Pati merupakan simpanan karbohidrat dalam tumbuh-tumbuhan dan merupakan  karbohidrat  utama  yang  dimakan  manusia di seluruh dunia. Dari hasil analisa pengaruh konsentrasi sorbitol degan carboxymethyl cellulose pada pembuatan plastik dari ampas tebu dan pati ampas tahu dapat di simpulkan bahwa dapat digunakan sebagai bahan pengental, pembentuk gel, perekat, dan ikatan pada bioplastik. Pengaruh konsentrasi sorbitol sebagai plasticizer untuk mengurangi kerapuhan, meningkatkan fleksibilitas dan ketahanan. Pengaruh konsentrasi carboxymethyl cellulose dan sorbitol dapat memperlambat degradasi plastik di dalam tanah dan membutuhkan waktu yang cukup lama.
PEMBUATAN BIOPLASTIK DARI AMPAS TAHU DAN AMPAS TEBU DENGAN PENGARUH PENAMBAHAN GLISEROL DAN TEPUNG MAIZENA Kalsum, Ummi; Robiah, Robiah; Yokasari, Yokasari
Jurnal Distilasi Vol 5, No 2 (2020): Jurnal Distilasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jd.v5i2.3031

Abstract

Penggunaan plastik sebagai pengemas sudah sangat umum dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, dibutuhkan alternatif plastik ramah lingkungan yang berasal dari bahan yang dapat terurai di lingkungan dan tersedia di alam dalam jumlah besar, contohnya bioplastik yang terbuat dari pat dan selulosa. Limbah ampas tahu merupakan limbah yang bisa dimanfaatkan untuk menjadi bahan baku pembuatan bioplastik, sedangkan kandungan selulosa pada ampas tebu bisa dimanfaatkan menjadi bahan baku plastik karna semakin tinggi kandungan selulosa dapat menghasilkan daya kuat tarik yang tinggi. Tepung maizena digunakan sebagai pengental dari karekteristik bioplastik. Pembuatan bioplastik dengan pengaruh konsentrasi gliserol dan tepung maizena menggunakan pati ampas tebu dan ampas tahu melalui 3 tahap yaitu pembuatan tepung dari pati ampas tahu dan ampas tebu, pembuatan bioplastik dan analisa bioplastik. Hasil terbaik dari berbagai analisa sampel adalah nilai kuat tarik sebesar 0,00367 mPa, nilai swelling sebesar 43,3% dan elongation sebesar 7 %.
LEACHING KALIUM DARI LIMBAH SABUT KELAPA DENGAN PELARUT AIR (KAJIAN PENGARUH VARIASI TEMPERATUR DAN WAKTU) Melani, Ani; Purnama, Diah; Robiah, Robiah
Jurnal Distilasi Vol 6, No 1 (2021): Jurnal Distilasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jd.v6i1.3386

Abstract

Indonesia merupakan salah satu penghasil dari sektor pertanian yang sangat melimpah sehingga terdapat banyak masalah limbah dari hasil pertanian. Pada penelitian ini dipelajari proses leaching kalium dari  limbah sabut kelapa dengan menggunakan pelarut air. Kandungan kalium dalam serabut kelapa mengandung 30% serat yang kaya dengan unsur kalium, kandungan kalium pada sabut kelapa ini lebih tinggi dibandingkan dengan kandungan phosphornya. Pada penelitian ini dilakukan proses Leaching kalium dari limbah sabut kelapa dengan pelarut air (kajian pengaruh variasi temperatur dan waktu). Sabut kelapa dibersihkan dan dikeringkan menggunakan oven dengan suhu 110°C, kemudian dihancurkan dan diayak 50 mesh, lalu di bakar dengan furnace pada suhu 600 °C, 25 gram  abu  hasil ayakan dari abu limbah sabut kelapa tersebut diekstraksi dengan 125 ml pelarut air. Variasi temperatur yang digunakan yaitu 60, 70 dan 80 °C dan variasi waktu 50, 60 dan 70 menit. Kecepatan pengadukan sebesar 250 rpm . Hasil ekstraksi dipisahkan dengan kertas whatman no. 1 untuk memperoleh ekstrak kalium. Dari hasil penelitian ini persentase kalium tertinggi pada temperatur 80°C dan waktu 70 menit diperoleh nilai konsentrasi normalitas 1,53 N dan persentase kalium 21,54%.