cover
Contact Name
muhammad ikhsan
Contact Email
ichsan@uwgm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jmm.ummat@gmail.com
Editorial Address
Jalan KH. Ahmad Dahlan No 1 Pagesangan, Kota Mataram - NTB
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri)
ISSN : 25988158     EISSN : 26145758     DOI : 10.31764/jmm.v4i2.1962
Core Subject : Education,
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) is a journal published by the Mathematics Education Departement of Education Faculty of Muhammadiyah University of Mataram. JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) aims to disseminate the results of conceptual thinking and ideas, especially the results of educational research and technology to be realized in the community, including (1) Fields of science, applied, social, economic, cultural, health, ICT development, and administrative services, (2) Training and improvement in the results of educational, agricultural, information and communication, and religious technology (3) Teaching and empowering communities and communities of students, youth, youth and community organizations on an ongoing basis
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 2,932 Documents
IMPLEMENTASI SEKOLAH PEREMPUAN DALAM MENINGKATKAN POTENSI BATIK MANGROVE KHAS DESA TAMBAKBULUSAN Arshy Paramita; Deny Nurzaky; Ivena Diva Azarine; Muhammad Fakih Dermawan; Akyas Hanina Al Barri; Abdullah Manshurin Afriza; Alfina Zidannajiyah; Christian Wibowo; Yusuf Raihan Putra; Zhafirah Raihannisa; Zelina Alegra Dinanti; Nabila Syadidha; Angelia Putri Arti; Muhammad Fairuzulhaq; Retno Hartati
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 3 (2024): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i3.23095

Abstract

Abstrak: Desa Tambakbulusan menjadi fokus program sekolah perempuan yang dilaksanakan oleh BEM FPIK Undip dalam kegiatan PPK Ormawa 2023 yang bertujuan untuk memberdayakan kaum perempuan sebagai kader pengelola potensi Desa Tambakbulusan, terutama potensi hutan mangrove. Sekolah perempuan di Desa Tambakbulusan mengadopsi kurikulum non formal, membentuk tingkat kapasitas perempuan dalam pengetahuan dan keterampilan pembuatan batik menggunakan pewarna alami dari mangrove. Pembinaan kelompok kader Desa Tambakbulusan menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD) dan kegiatan praktik yang diawali dengan identifikasi potensi, masalah, dan kebutuhan desa, dengan menggunakan kurikulum pembelajaran selama 5 bulan. Pendampingan fokus pada proses produksi, pemasaran, hingga pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) pada motif batik yang dilakukan langsung oleh kelompok kader PUTIK. Kemitraan dengan instansi terkait mendukung keberlanjutan program, dan evaluasi menggunakan skala likert untuk menilai tingkat kepuasan dan pengetahuan sasaran, sehingga didapatkan adanya peningkatan kapasitas kelompok dalam pembuatan batik khas Tambakbulusan dan festival batik menjadi promosi ekonomi desa. Sehingga, diperoleh peningkatkan keterampilan kelompok kader PUTIK dalam kegiatan produksi batik, pemasaran, dan mendapatkan HAKI untuk motif batik Desa Tambakbulusan sebesar 77,3%.Abstract: The village of Tambakbulusan has become the focus of a women's school program carried out by BEM FPIK Undip as part of the 2023 Ormawa PPK activities aimed at empowering women as potential managers of Tambakbulusan Village, especially its mangrove forest potential. The women's school in Tambakbulusan adopts a non-formal curriculum, building women's capacity in the knowledge and skills of making batik using natural dyes from mangroves. Coaching for the cadre groups of Tambakbulusan Village utilizes the Focus Group Discussion (FGD) method and practical activities beginning with the identification of the village's potentials, problems, and needs, using a 5-month learning curriculum. Coaching focuses on the production process, marketing, and even registration of Intellectual Property Rights (IPR) for batik motifs conducted directly by the PUTIK cadre groups. Partnerships with relevant agencies support the sustainability of the program, and evaluation uses a Likert scale to assess the level of satisfaction and knowledge of the targets, resulting in increased group capacity in making Tambakbulusan's signature batik and turning the batik festival into a village economic promotion. Consequently, there was an improvement in the skills of the PUTIK cadre groups in batik production activities, marketing, and obtaining IPR for Tambakbulusan village batik motifs by 77.3%.
WANGI GAMBIRA: SOSIALISASI ISI PIRINGKU SEBAGAI PROGRAM EDUKASI ORANG TUA DALAM MENCEGAH GIZI BURUK PADA BALITA Wanda Lutfianisa Nur Azizah
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 2 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i2.22035

Abstract

Abstrak: Gizi Buruk adalah keadaan kekurangan energi dan protein (KEP) tingkat berat akibat kurang mengkonsumsi makanan yang bergizi atau menderita penyakit tertentu. Permasalahan gizi buruk berupa stunting, wasting, underweight, dan overweight banyak terjadi pada anak khususnya balita. Dalam menjawab keresahan dari permasalahan tersebut, Wangi Gambira atau kependekan dari Lawan Gizi Buruk Gambirono Gembira hadir menjadi salah satu program sosialisasi yang ditujukan untuk memberikan edukasi kepada orang tua terkait pentingnya mencegah gizi buruk pada balita dengan memperkenalkan Isi Piringku. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan orang tua lebih paham akan pentingnya pemenuhan gizi untuk mencegah gizi buruk pada balita. Pengabdian Masyarakat ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan sosialisasi ceramah, kuis, dan juga diskusi. Adapun kegiatan ini diikuti oleh 36 ibu dari balita yang ada di wilayah Posyandu Mangga 100 Desa Gambirono, Jawa Timur. Evaluasi dilakukan dengan sistem monitoring yang membandingkan hasil akhir evaluasi dengan indikator keberhasilan yang telah disusun dan didapatkan hasil sudah 100% memenuhi target, yakni jumlah peserta yang melebihi target serta pengetahuan peserta yang meningkat setelah dinilai berdasarkan hasil kuesioner sebelum dan sesudah sosialisasi.Abstract: Malnutrition is a severe state of energy and protein deficiency (KEP) due to insufficient consumption of nutritious foods or suffering from certain diseases. Poor nutritional problems such as stunting, wasting, underweight, and overweight are common in children, especially youngsters. In response to the problem, Wangi Gambira or abbreviation of "Bad Nutrition, Gambirono Happy" is one of the socialization programmes aimed at giving education to parents about the importance of preventing malnutrition in the news by introducing the contents of my dishes. With the existence of this activity, it is hoped that parents will better understand the significance of nutritional fulfillment to prevent malnutrition in the newspapers. This community service is done using the socialization approach of lectures, quizzes, and even discussions. As for this activity followed by 36 mothers from the newspapers who are in the area of Posyandu Mangga 100 Gambirono Village, East Java. Evaluation is carried out using a monitoring system that compares the final results of the evaluation with the indicators of success that have been compiled and the results obtained have 100% met the target, i.e. the number of participants that exceed the target as well as the knowledge of the participants increased after being evaluated on the basis of the results of questionnaires before and after socialization.
IMPLEMENTASI KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN KECELAKAAN KERJA Rovila Bin Tahir; Jariyanti Jariyanti
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 1 (2024): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i1.21003

Abstract

Abstrak: Penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di bengkel GRT Fakfak pada karyawan sangat penting saat melakukan aktivitas kerja. Pemeilik bengkel GRT Fakfak mempekerjakan tiga karyawan. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara diketahui bahwa karyawan belum mengetahui pentingnya penerapan K3. Kondisi lingkungan kerja memiliki potensi hazard fisik dan kimia, serta karyawan yang tidak terbiasa bekerja dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) dapat meningkatkan resiko terjadinya kecelakaan kerja. Tujuan dari pengabdian ini adalah untuk meningkatkan pemahaman pada mitra melalui sosialisasi akan pentingnya penerapan K3 dan pemberian atribut APD. Evaluasi dilaksanakan dengan cara mitra mengisi kuesioner pada akhir penyampaian materi. Hasil evaluasi menunjukan terdapat peningkatan pemahaman tentang K3 sebesar 24,33 %.Abstract: The implementation of occupational safety and health in the GRT Fakfak workshop for employees is very important when carrying out work activities. The owner of the GRT Fakfak workshop employs three employees. Based on the results of observations and interviews, it is known that employees do not yet know the importance of implementing K3. Working environmental conditions have the potential for physical and chemical hazards, and employees who are not used to working using personal protective equipment (PPE) can increase the risk of work accidents. The aim of this service is to increase understanding among partners through socializing the importance of implementing of occupational safety and health and providing PPE attributes. Evaluation is carried out by partners filling out a questionnaire at the end of delivering the material. The evaluation results show that there is an increase in understanding of occupational safety and health by 24,33%.
PEMBERDAYAAN KELOMPOK MITRA DESA DALAM PELAKSANAAN TONTHOLO UNTUK MENINGKATKAN PENGETAHUAN KADER DAN MENINGKATKAN PRODUKSI ASI DAN MEMPERCEPAT INVOLUSI PADA IBU NIFAS Juli Gladis Claudia; Yollanda Dwi Santi; Melisawati L. Amu; Vyani Kamba
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 1 (2024): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i1.20012

Abstract

Abstrak: Kelurahan Lekobalo merupakan salah satu daerah yang mempunyai masalah jumlah stunting yang masih tinggi dan cakupan ASI ekslusif rendah. Kurangnya pengetahuan kader tentang tontholo berdampak pada ibu nifas yang tidak menyusui bayinya karena asi kurang. Tujuan pengabdian masyarakat yaitu meningkatkan pengetahuan kader tentang tontholo dengan pemberian pelatihan dan meningkatkan produksi ASI serta mempercepat involusi uterus pada ibu nifas. Metode pengabdian masyarakat yaitu membuat kelompok kader, kemudian melatih mereka tentang tontholo yang bisa mempercepat proses involusi dan meningkatkan produksi ASI, membagikan buku tontholo sebagai panduan, mendampingi kader saat pelaksanaan tontholo kepada ibu post partum, mengevaluasi hasil pelaksanaan tontholo menggunakan lembar ceklis yang telah disusun dengan mengobservasi tindakan kader apakah sesuai dengan materi pelatihan. Mitra pada pengabmas ini yaitu kader sebanyak 10 orang dengan sasarannya ibu nifas yang berjumlah 30 orang. Hasil pengabdian masyarakat didapatkan bahwa pengetahuan Kader sebelum dan sesudah pelatihan meningkat dari 62% menjadi 69,30%. Dari 30 ibu nifas setelah dilakukan tontholo dan diobservasi hari 1 dan ke 2, didapatkan 23 orang (75%) ibu nifas mengatakan asinya keluar banyak setelah dilakukan tontholo, dan 29 orang (96%) setelah diperiksa TFU tidak teraba lagi.Abstract: Lekobalo is one of the areas that has the problem of a high number of stunts and low exclusive milk coverage. The lack of knowledge of the curriculum affects mothers who do not breast-feed their babies because they are less likely. The aim of community service is to increase cadres' knowledge about tontholo by providing training, increasing breast milk production, and accelerating uterine involution in postpartum mothers. The community service method is to create a group of cadres, then train them about tontholo, which can speed up the involution process and increase breast milk production; distribute tontholo books as a guide; accompany cadres during the implementation of tontholo to postpartum mothers; and evaluate the results of the implementation of tontholo using a checklist that has been prepared by observing cadre actions to determine whether they are in accordance with the training material. The partners in this community service are a cadre of 10 people, with the target being 30 postpartum mothers. The results of the public dedication obtained show that the knowledge of Kader before and after training increased from 62% to 69.30%. Of 30 mothers who breathed after doing tontolo and observed on days 1 and 2, 23 people (75%) said that the mother was out a lot after having done tontolo, and 29 people (96%) after examining the TFU were no longer in sight.
PEMANFAATAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE UNTUK MENUNJANG PROSES BELAJAR MENGAJAR DI SEKOLAH Ahmad Firman; Muhammad Yassir; Andi Ircham Hidayat; Nurul Istiqamah; Eka Wijaya Paula; Muh. Syilfa Nooviar; Muhammad Komeini; Agusrianto Agusrianto
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 4 (2024): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i4.24408

Abstract

Abstrak: Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI) memiliki potensi besar dalam dunia pendidikan. Tujuan pengabdian ini dimaksudkan untuk memberikan pelatihan kepada guru Sekolah Menengah Atas tentang AI. Selain memberikan pelatihan hardskill, pengabdian ini juga memberikan gambaran perkembangannya saat ini dalam bidang Pendidikan.Tujuan pengabdian ini dimaksudkan untuk memberikan penyuluhan sekaligus pelatihan kepada guru/tenaga pendidik tentang AI serta perkembangannya saat ini dalam bidang pendidikan, Peserta dari kegiatan ini adalah seluruh Guru yang ada di SMK Negeri 3 sebanyak 25 orang. Metode kegiatan yang dilakukan meliputi persiapan, pelaksanaan hingga evaluasi, sehingga pencapaian dalam meningkatkan kinerja pengajaran guru dapat terlaksana secara masifmencakup pemaparan materi kepada peserta yang kemudian dilanjutkan dengan praktik menggunakan AI. Berdasarkan hasil evaluasi kuesioner yang diberikan kepada peserta, hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dapat diamati bahwa adanya peningkatan pemahaman sebesar 85% dengan indikator guru-guru yang memahami konsep AI, Menggunkan tools AI serta mengimplementasikan AI. Setelah kegiatan ini para guru ingin terus mengembangkan keterampilan dan pengetahuan dalam penggunaan teknologi baru dan perlu diadakan kegiatan lanjutan berupa implementasi lebih mendalam berbagai tools berbasis AI yang dapat membantu guru meningkatkan kualitas pengajaran mereka dan tetap relevan dalam dunia pendidikan yang terus berubah. Abstract: Artificial Intelligence (AI) has great potential in the world of education. The purpose of this service is intended to provide training to high school teachers about AI. Apart from providing hard skills training, this service also provides an overview of current developments in the field of education. The aim of this service is intended to provide counseling and training to teachers/teaching staff about AI and its current developments in the field of education. Participants in this activity are all existing teachers at SMK Negeri 3 as many as 25 people. The activity methods carried out include preparation, implementation and evaluation, so that achievements in improving teacher teaching performance can be achieved on a massive scale, including exposure of material to participants which is then followed by practice using AI. Based on the results of the questionnaire evaluation given to participants, the results of this community service activity can be observed that there is an increase in understanding of 85% with indicators of teachers who understand AI concepts, use AI tools and implement AI. After this activity, teachers want to continue developing skills and knowledge in using new technology and need to hold follow-up activities in the form of more in-depth implementation of various AI-based tools that can help teachers improve the quality of their teaching and remain relevant in the ever-changing world of education.
SOSIALISASI PENCEGAHAN DAN DAMPAK PERNIKAHAN DINI BAGI ANAK DI BAWAH UMUR DARI SUDUT PANDANG PSIKOLOGI KOMUNIKASI Ade Nur Atika Sari; Adelia Winda Hapsari; Lieta Dwi Novianti; Rizki Apriliyanti
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 3 (2024): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i3.23070

Abstract

Abstrak: Menghindari zina, takut tidak laku, dan menghindari aib menjadi faktor pernikahan dini terjadi di Kalimantan Selatan. Oleh karena itu, pemberian sosialisasi dan edukasi tentang pernikahan dini, dampak serta pencegahannya menjadi agenda penting di dalam program ini yang dilaksanakan di desa Bantuil Kecamatan Cerbon Kabupaten Barito Kuala. Tujuan utama dari kegiatan edukasi ini ialah memberikan pemahaman kepada warga desa Bantuil terkait bahaya dan dampak negatif dari pernikahan dini. Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan di kantor desa yang berfokus pada warga desa Bantuil sebanyak 15 orang terdiri dari remaja dan orang tua. Edukasi dan sosialisasi disampaikan dengan ceramah dan diskusi. Kesimpulannya, dari sosialisasi dengan warga desa Bantuil tersebut berjalan dengan baik. Terdapat peningkatan yang signifikan dalam wawasan warga tentang pernikahan dini, resiko dan dampaknya, dengan persentase rata-rata sebesar 47% pada pre-test, naik dengan rata-rata persentase 73% pada post-test.Abstract: Avoiding adultery, fear of not selling well, and avoiding disgrace are factors in early marriage in South Kalimantan. Therefore, providing outreach and education about early marriage, its impacts and prevention is an important agenda in this program which is being implemented in in Desa Bantuil, Cerbon District, Batola Regency. The main aim of this educational activity is to provide understanding to Bantuil village residents regarding the dangers and negative impacts of early marriage. The activities were carried out at the village office which focused on Bantuil village residents totaling 15 people consisting of teenagers and parents. The conclusion, the socialization with Bantuil village residents went well. There was a significant increase in residents' insight into early marriage, its risks and impacts, with an average percentage of 47% in the pre-test, increasing to an average percentage of 73% in the post-test.
MEMBANGUN ERA BARU PEMBELAJARAN: PELATIHAN PEMBUATAN E-MODUL PRAKTIKUM IPA DENGAN CANVA DALAM KURIKULUM MERDEKA Adean Mayasri; Muhammad Reza; Muhammad Rafdi
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 2 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i2.21763

Abstract

Abstrak: Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Kimia, Fisika, dan Biologi di Madrasah Aliyah Kota Banda Aceh, melalui ketua MGMP menyampaikan bahwa hampir seluruh guru dalam MGMP belum pernah mengembangkan e-modul praktikum. Temuan tersebut menguatkan bahwa guru belum siap dalam implementasi kurikulum merdeka, khususnya dalam memadukan teknologi digital dengan pembelajaran konvensional. Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah untuk (1) meningkatkan kecakapan digital guru mengembangkan e-modul praktikum IPA; dan (2) memanfaatkan aplikasi Canva untuk pengembangan e-modul praktikum IPA yang dapat digunakan dalam implementasi kurikulum merdeka pada fase E dan F di madrasah. Metode pengabdian ini adalah Community Based Research (CBR), dimana model ini merupakan metode terkini yang melibatkan 30 guru dalam MGMP sebagai mitra. Hasil yang diperoleh yaituHasil post-test menunjukkan adanya peningkatan pemahaman guru dalam membuat e-modul praktikum IPA menggunakan Canva , sesuai dengan N-gain rata-rata dari pelaksanaan pelatihan ini yaitu 0,72 dengan kriteria tinggi. Efektivitas N-gain sebesar 72% dengan kriteria pelaksanaan pelatihan ini cukup efektif.Abstract: The chief of MGMP of Chem-Phy-Bio at Madrasah Aliyah in Banda Aceh informed that almost all teachers under their MGMP have never developed an e-module of practicum. The findings confirmed that teachers are not ready to implement an merdeka curriculum. The aim of this community service is to (1) improve the digital competence of teachers in developing the e-module; (2) utilize the Canva application for developing the e-module; and (3) generate the e-module of science practicum that can be used in the implementation of the independent curriculum at phases E and F in Madrasah. This community service method is Community Based Research (CBR), where this model is a state-of-the-art method involving 30 teachers in MGMP as partners. The result ofBased on pottest result, this action shows an improvement in the teacher's understanding of making the e-module by using Canva, according to the average N-gain value of 0.72 with high criteria.
BRIKET AMPAS SAGU SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN BAKAR RAMAH LINGKUNGAN Nur Abu; Ponisri Ponisri; Anif Farida; Bertha Mangallo; Muhammad Fadli Hasa; La Ibal
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 1 (2024): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i1.20470

Abstract

Abstrak: Masyarakat kampung Baingkete belum memanfaatkan ampas sagu sebagai bahan bakar briket karena keterbatasan pengetahuan dan keterampilan masyarakat. Ampas sagu hanya di biarkan terbuang ke rawa - rawa dan sungai sehingga menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan. Terdapat dua mitra dalam kegiatan ini antara lain Kelompok Tani Kampung Baingkete dan Kelompok Persekutuan Wanita Kampung Baingkete dengan jumlah peserta 20 orang. Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat tentang pembuatan briket dari ampas sagu adalah untuk memberikan pemahaman dan keterampilan dalam pembuatan briket sehingga di harapkan kontribusi positif dengan memanfaatkan limbah ampas sagu untuk menciptakan produk yang bernilai ekonomi dan sekaligus mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian ini terdiri dari beberapa tahap yakni sosialisasi, praktek pembuatan briket, dan pendampingan. Hasil yang dicapai adalah kegiatan sosialisasi dan pembuatan briket ampas sagu di kampung Baingkete, Distrik Makbon, Kabupaten Sorong memberikan peningkatan pengetahuan dari 25% menjadi 75 % dan keterampilan dari 20% menjadi 65%.Kegiatan ini dapat berdampak secara ekonomi yaitu masyarakat Kampung Baingkete dapat mengurangi pengeluaran harian untuk membeli minyak tanah untuk keperluan sehari-hari.Abstract: The people of Baingkete village have not yet used sago dregs as fuel for briquettes due to limited community knowledge and skills. Sago dregs are simply allowed to be thrown into swamps and rivers, causing environmental pollution. The aim of community service activities regarding making briquettes from sago dregs is to provide understanding and skills in making briquettes so that positive contributions are expected by utilizing sago dregs waste to create products that have economic value and at the same time reduce negative impacts on the environment. The method for implementing this service activity consists of several stages, namely socialization, practice of making briquettes, and mentoring. The results achieved were socialization activities and making sago dregs briquettes in Baingkete village, Makbon District, Sorong Regency, providing an increase in knowledge and skills to the community by 45%. This activity can have an economic impact, namely that the people of Baingkete Village can reduce their daily expenses for buying kerosene for their daily needs.
PELATIHAN PEMANFAATAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE UNTUK PENDIDIK IPA DALAM MEMFASILITASI MICROLEARNING Siti Nurul Hidayati; Wahono Widodo; Hasan Subekti; Ernita Vika Aulia; Dyah Permata Sari
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 1 (2024): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i1.19712

Abstract

Abstrak: Pendekatan microlearning memfasilitasi terbatasnya kemampuan kita dalam belajar dengan lebih baik. Berkembangnya kecerdasan buatan/artificial inttellingence (AI) Era digital perlu disikapi dengan bijak, terutama dalam pengembangan Pendidikan kedepannya. Sayangnya mitra pelatihan ini yakni MGMP Guru IPA yang berjumlah 41 orang guru masih belum pernah memanfaatkannggunakan AI dan juga microlearning dalam pembelajaran. Pelatihan dan pendampingan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan penggunaan AI dalam mendesain pembelajaran berorientasi microlearning. Metode dalam pelaksanaan pelatihan ini di bagi dalam tiga tahap yakni, persiapan, pelatihan dan pendampingan, serta evaluasi. Instrument yang digunakan dalam pemetaan hasil kegiatan ini adalah instrumen pretest posttest, angket respon dan lembar penilaian video microlearning. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil pada aspek pengetahuan dan juga keterampilan. Pada Aspek pengetahuan terlihat dari peningkatan rerasa skor pretest dan posttest sebesar 32%, sedangkan aspek keterampilan didapatkan dari skor video microlearning yang juga terdapat peningkatan 58,7%. Berdasarkan hasil respon data menunjukkan respon positif terhadap pelaksanaan pelatihan. Simpulan dari hasil pelatihan ini adalah,terdapat peningkatan rerata pengetahuan skor N-gain 0,6 dengan kategori sedang dan keterampilan skor 0,72 dengan kategori tinggi dari peserta setelah diberikan pelatihan pemanfaatan artificial intelligence untuk pendidik ipa dalam memfasilitasi microlearning.Abstract: Our limited capacity to learn better is facilitated by the microlearning approach. It is important to respond to the rise of artificial intelligence in a thoughtful manner, particularly as it relates to the future of education. Unfortunately, this training partner, namely MGMP Science Teachers, totaling 41 teachers, still does not utilize AI and microlearning in learning. Giving partners knowledge and abilities in applying AI to develop microlearning-oriented learning is the goal of this training and mentorship. Implementing this training is divided into three stages, namely, preparation, training and mentoring, and evaluation. He instruments used in mapping the results of this activity were prepost-test instruments, response questionnaires and microlearning video assessment sheets. He knowledge component is demonstrated by a 32% rise in pre- and post-test scores, while the skills component is demonstrated by a 58.7% increase in the microlearning video score. The response data indicates that there was a favorable reaction to the training's execution. The conclusion from the results of this training is that there was an increase in the average knowledge score of N-gain of 0.6 in the medium category and skill score of 0.72 in the high category of participants after being given training on the use of artificial intelligence.
PENGUATAN KAPASITAS MASYARAKAT MELALUI PENDEKATAN COMMUNITY BASED TOURISM PADA DESTINASI WISATA SITU BOLANG KABTUPATEN INDRAMAYU Yani Hendrayani; Uljanatunnnisa Uljanatunnnisa; Priyono Sadjijo; Rainer Fansiskus Nockas; Ilyas Naufal Zuhdi
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 4 (2024): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i4.25356

Abstract

Abstrak: Desa Jatisura dinilai memenuhi syarat memiliki potensi pariwisata dari segi sumber daya alam, sosial, dan budaya. Namun, pengembangannya menghadapi tantangan seperti rendahnya SDM, manajemen destinasi yang belum optimal, konflik kepentingan, dan hegemoni kekuasaan. Memaksimalkan keterlibatan dan Partisipasi masyarakat sangat menentukan kesuksesan melalui pengembangan Community Base Tourism. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi masyarakat desa dalam pengelolaan desa wisata serta meningkatkan kefahaman tentang Community Based Tourism. Metode yang digunakan adalah (a) FGD internal; (b) workshop dengan narasumber dari desa wisata percontohan untuk mengungkap hal-hal yang menarik yang akan dikembangkan di desa Jatisura; dan (c) Bencmarking ke Desa Wisata yang berprestasi tingkat dunia, yaitu Desa Nglanggeran. Terdapat tiga tahap yang dilaksanakan yaitu persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Tahap terakhir yaitu evaluasi yang mencakup pretest-posttest dan survey kepuasan yang berfungsi sebagai alat ukur ketercapaian kegiatan. Soal prestest dan posttest terdiri dari 10 soal pilihan ganda yang disebarkan melalui google form.Peserta pengabdian terdiri dari kelompok Masyarakat sadar wisata, pemerinta Dinas Pariwisata Indramayu serta representasi pemerintah desa, berjumlah 17 orang. Tingkat ketercapaian kegiatan didasarkan pada peningkatan nilai pretest-posttest dan angket kepuasan peserta. Hasil kegiatan diperoleh bahwa setelah penyelenggaraan workshop; (1) kefahaman tentang pengelolaan desa wisata melalui pendekatan community based turism meningkat sebesar (81%), selanjutnya; dan (2) kefahaman tentang partisipasi masyarakat dalam menciptakan hubungan yang erat antara pariwisata, masyarakat, lokal, dan pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat (70%).Abstract: Jatisura Village, Indramayu, has great tourism potential in terms of natural, social, and cultural resources. However, its development faces challenges such as low human resources, suboptimal destination management, conflicts of interest, and hegemony of power. The Community Based Tourism approach that involves community participation is expected to overcome these problems to realize successful and sustainable tourism. This service activity aims to improve the competence of village communities in managing tourist villages and increase understanding of community-based tourism. The methods used are (a) internal FGDs; (b) workshops with resource persons from pilot tourism villages to reveal interesting things that will be developed in Jatisura village; and (c) Bencmarking to Tourism Villages that have achieved world-class achievements, namely Nglanggeran Village. There are three stages involved, namely preparation, implementation, and evaluation. The last stage is evaluation, which includes a pretest-posttest and satisfaction survey that serves as a measuring tool for the achievement of the activity. The pretest and posttest questions consisted of 10 multiple choice questions distributed via google form. The service participants consisted of the Tourism Awareness Society group, the Indramayu Tourism Office government and village government representatives totaling 17 people. The level of achievement of the activity is based on the increase in pretest-posttest scores and participant satisfaction questionnaires. The results of the activity obtained that after organizing the workshop (1) Understanding of tourism village management through a community-based tourism approach increased by (80%), then; and (2) Understanding of community participation in creating a close relationship between tourism, community, local, and government in improving community welfare (70%).