cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
hmj.fkump@gmail.com
Editorial Address
Street of KH. Ahmad Dahlan PO Box 202 Purwokerto Central Java, Indonesia 53182
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Herb-Medicine Journal
ISSN : -     EISSN : 2620567X     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Herb-Medicine Journal (HMJ) merupakan Terbitan Berkala Ilmiah Herbal, Kedokteran, dan Kesehatan diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Purwokerto dengan frekuensi terbit 2 (dua) kali dalam setahun yaitu di bulan April dan Oktober. Jurnal ini merupakan media komunikasi ilmiah bagi siapapun yang tertarik menekuni bidang herbal baik dalam proses pendidikan, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat yang dihubungkan dengan bidang kedokteran maupun kesehatan secara luas. Secara terbuka, redaksi menerima kontribusi artikel ilmiah tentang herbal, kedokteran, dan kesehatan dari pihak manapun yang ingin berpartisipasi dalam perkembangan dunia herbal, kedokteran, dan kesehatan.
Arjuna Subject : -
Articles 105 Documents
Faktor Risiko Skabies di Pondok Pesantren Konvensional dan Modern Amanatun Avidah; Eko Krisnarto; Kanti Ratnaningrum
Herb-Medicine Journal: Terbitan Berkala Ilmiah Herbal, Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 2 (2019): Herb-Medicine Journal Oktober 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/hmj.v2i2.4496

Abstract

Scabies masih menjadi masalah kesehatan dan menjadi salah satu penyakit yang sering terjadi di lingkungan pondok pesantren. Beberapa penelitian sebelumnya telah membahas faktor risiko scabies pada pondok pesantren, rumah sakit, dan wilayah kerja sebuah puskesmas, tetapi belum ada yang menganalisis faktor risiko scabies pada beberapa pondok pesantren sekaligus, oleh karena itu peneliti ingin mengetahui faktor risiko skabies di pondok pesantren konvensional dan modern. Penelitian merupakan observasional analitik dengan desain case control, teknik simple random sampling. Penelitian menggunakan data primer berupa quesioner dan pemeriksaan untuk menentukan diagnosis scabies. Analisis menggunakan uji chi square. Dari 190 sampel di dapatkan hasil usia 5,5 kali meningkatkan risiko terjadinya scabies (OR=5.531; 95% CI=2.214 - 13.822), kebersihan kulit 2,7 kali meningktakan risiko terjadinya scabies (OR=2.715; 95%=1.223 - 6.027), kebersihan tangan 2,5 kali meningkatkan risiko terjadinya scabies (OR=2.499, 95%=1.296 - 4.812), kebersihan tempat tidur 3,5 kali meningkatkan risiko terjadinya scabies (OR=3.519; 95%=1.538 - 8.052). Faktor berganti pakaian, berganti alat sholat, kebersihan pakaian, dan kebersihan handuk tidak signifikan meningktakan risiko terjadinya scabies.
Penapisan Fitokimia, Kadar Kurkuminoid dan Aktivitas Antibakteri Temu Hitam (Curcuma aeruginosa (Christm) Roscoe.), Temu Putih (Curcuma zedoaria Roxb.) dan Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) Lia Marliani; Ika Kurnia Sukmawati; Dadang Juanda; Elmadhita Anjani; Ira Anggraeni
Herb-Medicine Journal: Terbitan Berkala Ilmiah Herbal, Kedokteran dan Kesehatan Vol 4, No 1 (2021): Herb-Medicine Journal Januari 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/hmj.v4i1.9092

Abstract

The content of secondary metabolites in the rhizome of the Curcuma genus such as Black turmeric (Curcuma aeruginosa Roxb.), White turmeric (Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe) and Java turmeric (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) play a role in various pharmacological activities. One of them is the content of the curcuminoid compounds which have been proved to have antibacterial activity. This study aims to screen the content of secondary metabolite compounds, determine curcuminoid content and verify the antibacterial activity of the extracts of Black turmeric (Curcuma aeruginosa Roxb.), White turmeric (Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe) and Java turmeric (Curcuma xanthorrhiza Roxb.). Extraction was carried out by the maceration method using 95% ethanol as solvent. Phytochemical screening was tested for the content of alkaloid, polyphenols, flavonoids, quinones, tannins, saponins, and steroids/ triterpenoids compounds. Determination of curcuminoid content by UV-Vis Spectrophotometry method. The antibacterial activity test was carried out by the microdilution method against Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, and Propionibacterium acne bacteria. The results of phytochemical screening showed that the three extracts contained polyphenols and flavonoids. Quinone compounds are only contained in the extract of Black turmeric and Java turmeric. Saponin compounds were only detected in Black turmeric and White turmeric  extracts. Meanwhile, steroid/ triterpenoid compounds were detected in the extract of White turmeric and Java turmeric. The results of curcuminoid content determination on the three extracts showed that the Java turmeric extract had the highest content of curcuminoids (16.07 ± 0.023 mg CE/g extract). The results of the antibacterial test showed the strongest activity of the three test samples shown by Java turmeric extract with a minimum inhibitory concentration (MIC) value of 64 mg/mL against Staphylococcus aureus bacteria; 256 mg/mL against Staphylococcus epidermidis bacteria; and 32 mg/mL against the Propionibacterium acne bacteria. These results indicate that Java turmeric extract is more active against Propionibacterium acne bacteria.
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS TAMPON MINYAK BIJI JINTAN HITAM (Nigella sativa) DENGAN TAMPON RIVANOL 0,1% TERHADAP GEJALA KLINIS OTITIS EKSTERNA AKUT ferdian rifqy nur fachrudien; Muhammad nurrizki Haitamy; Andi muh maulana; Oke Kadarullah
Herb-Medicine Journal: Terbitan Berkala Ilmiah Herbal, Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 1 (2019): Herb-Medicine Journal April 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/hmj.v2i1.3079

Abstract

Latar Belakang: Otitis eksterna akut merupakan penyakit radang telinga luar meliputi bagian distal daun telinga sampai dengan bagian proximal membran timpani yang disebabkan oleh bakteri, jamur, maupun virus. Penyakit ini memiliki onset inflamasi yang cepat dengan gejala klinis berupa gatal, otalgia, edema, eritema, dan otorrhea. Terapi otitis eksterna akut dilakukan dengan pemberian antibiotik dan antiinflamasi topikal. Rivanol 0,1% terbukti memiliki efektivitas mengobati otitis eksterna akut dengan aktivitas panjang sebagai antiseptik aktif pada pH alkali yang akan berikatan dengan bakteri. Minyak biji Nigella sativa terbukti memiliki aktivitas sebagai antibakteri gram positif maupun negatif, antiinflamasi dan penyembuh luka dengan meningkatkan pertumbuhan serabut kolagen.Tujuan: Untuk membandingkan efektivitas penggobatan otitis eksterna akut terhadap gejala klinis menggunakan tampon rivanol 0,1% dengan tampon minyak biji Nigella sativa.Metode: Penelitian ini menggunakan desain post test only randomized controlled grup design dengan data primer yaitu skor gejala klinis sembilan subjek penderita otitis eksterna akut. Subjek dibagi menjadi dua kelompok terapi : empat penderita dengan tampon rivanol 0,1% dan lima penderita dengan tampon Nigella sativa. Evaluasi gejala klinis dilakukan pada hari ketiga dan kelima pengobatan.Hasil: Tidak ada perbedaan gejala klinis selama pengobatan antara kedua kelompok (p=0.329), namun terdapat perbaikan skor gejala klinis antara hari ketiga dan hari kelima pengobatan (p=0.001) di masing-masing kelompok.Simpulan: Minyak Nigella sativa memiliki efektifitas pada pengobatan otitis eksterna akut tetapi tidak terdapat perbedaan yang bermakna dengan pengobatan menggunakan rivanol 0,1%. Kata Kunci: Otitis eksterna, Nigella sativa, Rivanol 0,1%
STUDI KASUS PEMANFAATAN TOGA DAN AKUPRESUR PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2020 Gabe Gusmi Aprilla; Rachmadhi Purwana
Herb-Medicine Journal: Terbitan Berkala Ilmiah Herbal, Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 3 (2020): Herb-Medicine Journal Oktober 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/hmj.v3i3.6994

Abstract

Sebelum berkembangnya pengobatan modern, masyarakat di dunia menggunakan pengobatan tradisional sebagaiupaya memelihara kesehatan dan menyembuhkan penyakitnya. Di Indonesia bukti nenek moyang menggunakanbahan alam sebagai obat tradisional dari adanya naskah lama.Dalam sistem kesehatan nasional pemanfaatanTOGA dan Akupresur termasuk upaya pemberdayaan bersumber daya masyarakat (UKBM). TOGA merupakansekumpulan tanaman berkhasiat obat untuk kesehatan keluarga yang ditata menjadi sebuah taman dan memilikinilai keindahan. Sedangkan akupresur merupakan suatu prosedur melibatkan stimulasi titik-titik tertentu padatubuh dengan tekananPenelitian ini menggunakan data sekunder dari laporan Riset Kesehatan Dasar Tahun 2018. Data dianalisa secaradeskriptif dengan literatur review dengan tujuan mengetahui gambaran karakteristik masyarakat dalampemanfaatan TOGA dan Akupresur di Provinsi DKI Jakarta.Proporsi masyarakat Indonesia dalam memanfaatkan ramuan jadi 48%, ramuan buatan sendiri 31,8%,keterampilan manual 65,3%, keterampilan olah pikir 1,9% dan keterampilan energi 2,1%. Provinsi terbanyakmemanfaatkan ramuan jadi Kalimantan Selatan 58,4%, sedangkan provinsi terbanyak membuat ramuan sendiriSulawesi Barat 85,5%. Dalam hal memanfaatkan keterampilan manual terbanyak provinsi Kalimantan Selatan83,3%.Dalam hal pemanfaatan TOGA, masyarakat Provinsi Sulawesi Utara paling memanfaatkan TOGA sebesar55,6%, sedangkan masyarakat DKI Jakarta termasuk kurang memanfaatkan TOGA hanya 9,1%.Masyarakat DKIJakarta lebih banyak memanfaatkan ramuan jadi 59,6% dibandingkan membuat ramuan sendiri 18,7%, sedangkanuntuk keterampilan manual termasuk banyak 68,6%.Untuk mendorong masyarakat lebih antuasias memanfaatkan TOGA dan Akupresur, maka perlu strategi sepertimengadakan pelatihan bagi petugas Puskesmas, kader dan masyarakat, perlombaan tingkat Nasional dan Provinsi,inovasi dan sosialisasi
HUBUNGAN ANTARA KADAR ALFA AMILASE SALIVA DAN KADAR GLUKOSA DARAH PUASA PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI PUSKESMAS 1 KEMBARAN Ani Setiyowati; Refni Riyanto; Oke Kadarullah; Susiyadi Susiyadi
Herb-Medicine Journal: Terbitan Berkala Ilmiah Herbal, Kedokteran dan Kesehatan Vol 1, No 2 (2018): Herb-Medicine Journal Oktober 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/hmj.v1i2.2574

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Prevalensi Diabetes melitus (DM) terus meningkat selama beberapa dekade terakhir. Menurut International Diabetes Federation, pada tahun 2014 jumlah penduduk dunia yang menderita diabetes melitus adalah sebanyak 415 juta dan diperkirakan pada  tahun  2040 akan meningkat menjadi 642 juta jiwa. Diagnosis diabetes melitus telah dilakukan secara rutin melalui pemeriksaan kadar glukosa darah dengan pengambilan sampel darah yang merupakan tindakan invasif. Saliva merupakan salah satu sampel klinis yang dapat digunakan sebagai alternatif skrining kadar glukosa darah dan bersifat non invasif melalui pemeriksaan kadar enzim alfa amilase saliva. Tujuan: Mengetahui hubungan antara kadar alfa amilase saliva dan kadar glukosa darah puasa pada penderita diabetes mellitus tipe 2 di Puskesmas 1 Kembaran.Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional, melibatkan 28 sampel dengan metode pemilihan total sampling. Selanjutnya data dianalisis menggunakan uji Pearson.Hasil: Dari hasil penelitian didapatkan korelasi antara kadar alfa amilase saliva dan kadar glukosa darah puasa pada penderita diabetes mellitus tipe 2 bermakna secara signifikan (p=0.000).Simpulan: Terdapat hubungan antara kadar alfa amilase saliva dan kadar glukosa darah puasa pada penderita diabetes mellitus tipe 2 di Puskesmas 1 Kembaran. Kata Kunci: alfa amilase saliva, glukosa darah puasa, diabetes mellitus tipe 2
Ekstrak Daun Kersen (Muntingia calabura L.) Mencegah Kerusakan Mukosa Duodenum Tikus Wistar Yang Dipapar Etanol 40% Moh Iqbal Setiawan
Herb-Medicine Journal: Terbitan Berkala Ilmiah Herbal, Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 2 (2020): Herb-Medicine Journal Juli 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/hmj.v3i2.7050

Abstract

Latar belakang: Etanol menimbulkan cedera duodenum yang disebabkan stres oksidatif akibat radikal bebas.. Efek buruk radikal bebas dapat dinetralisir oleh antioksidan. Daun Kersen mempunyai efek antioksidan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun kersen terhadap gambaran histopatologi duodenum tikus wistar yangdiinduksi etanol 40%.Metode : Penelitian ini menggunakan rancangan Post test only group design. Sampel terdiri dari 24 tikus wistar jantan yang dibagi 4 kelompok. K- diberi placebo aquadest 1.8ml/200g/hari. Kelompok K+ diberi etanol 40% dosis 1.8ml/200g/hari. Kelompok P1 diberi ekstrak daun kersen 500mg/KgBB selang 60 menit diberi etanol 40%. Kelompok P2 diberi ekstrak daun kersen 750mg/KgBB selang 60 menit diberi etanol 40%. Perlakuan pada tiap kelompokselama 30 hari. Pada hari ke 31 tikus diterminasi dan dibuat sediaan histopatologi duodenum. Gambaran derajat kerusakan duodenum diperiksa dengan skor Barthel-Manja. Rerata kerusakan dianalisis dengan Uji One way anova dan Uji Post hoc Lsd.Hasil : Rerata skor kerusakan duodenum K-= 0.76,K+=2.60, P1=0.60 dan P2=0.84 (p<0.001). Perbedaan Derajat kerusakan mukosa duodenum pada K+, P1, P2 dibanding K- berturut-turut (ρ<0.001); (ρ: 0.491); (ρ:0.729) Simpulan: Pemberian dosis 500mg/KgBB mampu memberikan efek sitoprotektif pada mukosa duodenum tikus wistar yang diinduksi etanol 40%.
PERBEDAAN JUMLAH DAN SPESIES BAKTERI DI LABORATORIUM BIOMEDIS FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO SEBELUM DAN SESUDAH DESINFEKSI DENGAN ALKOHOL 70% Tyas Ratna Pangestika; Prima Maharani Putri; Ratna Wulan Febriyanti
Herb-Medicine Journal: Terbitan Berkala Ilmiah Herbal, Kedokteran dan Kesehatan Vol 1, No 1 (2018): Herb-Medicine Journal April 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/hmj.v1i1.2481

Abstract

Latar Belakang : Penyakit infeksi saat ini masih menjadi 10 penyebab kematian di dunia. Penyakit infeksi disebabkan oleh kuman patogen yang dapat berkembang di lingkungan yang spesifik seperti laboratorium. Kuman patogen yang ada di laboratorium dapat menyebabkan penyakit kerja bagi pekerja laboratorium. Proses desinfeksi berguna untuk mengurangi kontaminasi kuman patogen menggunakan bahan kimia seperti alkohol, etanol, sabun anti bakteri dan pemutih.Tujuan : Mengetahui perbedaan jumlah dan spesies bakteri di laboratorium biomedis Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Purwokerto sebelum dan sesudah desinfeksi dengan alkohol 70%.Metode : Sampel diambil dari laboratorium biomedis Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Teknik sampling yang digunakan adalah simple random sampling. Sampel pertama diambil dari swab permukaan tiap titik sampling sebelum dilakukan desinfeksi. Sampel kedua diambil dari permukaan objek yang sama setelah desinfeksi. Masing-masing sampel ditanam pada Blood Agar, Nutrient Agar dan Mac Conkey Agar kemudian dilakukan pewarnaan gram serta uji biokimia. Data jumlah bakteri dianalisis menggunakan uji T berpasangan sedangkan data spesies bakteri dianalisis secara deskriptif.Hasil : Rerata jumlah bakteri sebelum desinfeksi lebih tinggi daripada setelah desinfeksi. Perbedaan antar kedua kelompok bermakna secara signifikan karena nilai signifikansi yang didapat yaitu p=0.010 (p<0.05), hal ini menunjukkan bahwa jumlah bakteri berbeda secara signifikan. Jumlah bakteri berkurang sebanyak 34,45%  setelah dilakukan desinfeksi. Enterobacter intermedius adalah spesies yang paling banyak ditemukan.Kesimpulan : Terdapat perbedaan jumlah dan spesies bakteri di Laboratorium Biomedis Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Purwokerto sebelum dan sesudah desinfeksi dengan alkohol 70% yaitu jumlah bakteri berkurang setelah desinfeksi.
EFEKTIFITAS EKSTRAK DAUN KELOR (Moringa oleifera lam) DALAM MEMPERBAIKI PROFIL SERUM IRON, SATURASI TRANSFERIN, DAN TOTAL IRON BINDING CAPACITY TIKUS PUTIH JANTAN DIET RENDAH ZAT BESI Diah Hermayanti; Fathiyah Syafitri
Herb-Medicine Journal: Terbitan Berkala Ilmiah Herbal, Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 1 (2020): Herb-Medicine Journal April 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/hmj.v3i1.6365

Abstract

Background : Iron deficinecy can cause anemia which affect health and work productivity. Moringa oleifera leaves contain a lot of iron and vitamin C, are thought to increase serum iron levels, transferin saturation, and improve total iron binding capacity.Objectives : To determine the  effectiveness of Moringa oleifera lam. leaf extract on serum iron levels, transferin saturation, and total iron binding capacity in white rats (Rattus novergicus strain wistar) given a diet low in iron (Fe).Materials and methods : true experimental research using post test only control group design. The object of theis study was thirty male white mice (Rattus novergicus strain wistar) who were given a low iron diet. The study was divided into negative control group, positive control, treatment groups with a dose of Moringa leaf extract 400 mg/kg BW, 800 mg/kgBW, 1,600 mg/kg/BW, an the ferro fumaras control group (FF) 175 mg/200 BW.Results and discussion : Multivariate manova serum iron 0.001 (p<0.05), TBC 0.19 (P>0.05), and transferin saturation 0.001(p<0.05). In the post Hoc Tukey the mean serum iron and transferin saturation appeared to differ significant in the negative control group with all the other treatment groups, but did not show a significant diffrence beetwen the positive control group, FF Group, and the treatment groups.Conclusion : The adminstration of Moringa oleifera leaf extractwas less significant in improving serum iron levels, transferin saturation, and total iron binding capacity of male white mice induced by a low iron diet.
Pengaruh Variasi Tekanan Negatif Suction Endotracheal Tube (ETT) Terhadap Nilai Saturasi Oksigen (SpO2) Sri Suparti
Herb-Medicine Journal: Terbitan Berkala Ilmiah Herbal, Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 2 (2019): Herb-Medicine Journal Oktober 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/hmj.v2i2.4914

Abstract

Pasien kritis yang terpasang endotracheal tube (ETT) dan ventilasi mekanik di Intensive Care Unit (ICU) membutuhkan tindakan suction untuk membersihkan dan mempertahankan kepatenan jalan nafas. Suction ETT selain manfaatnya juga bisa menyebabkan dampak negatif seperti penurunan saturasi oksigen, trauma, hipoksemia, bronkospasme, kecemasan bahkan menstimulasi peningkatan tekanan intravaskular. Tujuan penelitian ini adalah menganlisis pengaruh variasi tekanan negatif suction terhadap nilai saturasi oksigen pasien yang terpasang ventilator di ICU. Jenis penelitian adalah experimen semu (quasi experiment), dengana desain two group pretest-postest, total sampel adalah 37 yang diambil dengan teknik consecutive sampling. Kriteria inklusi pasien dewasa ≥ 15 tahun, terpasang ETT dan ventilator. Adapun kriteria eksklusi adalah pasien hanya mendapatkan suction 1 kali, dalam kondisi t-piece, diagnosis pneumonia dan observasi tidak lengkap.Variabel bebas adalah tekanan negatif suction dan variabel dependent adalah  saturasi oksigen. Analisis data menggunakan uji paired t-test dan independent t-test dengan signifikasi 5%. Etik penelitian diperoleh dari komite Etik RS RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo dengan No: 420/004349/I/2019. Hasil penelitian menujukan terdapat pengaruh variasi tekanan negatif 25 dan 25 kPa terhadap nilai saturasi oksigen pada analisis masing-masing kelompok dengan perbedaan nilai mean yang signifikan p value 0,001<0,05, tetapi tidak terdapat perbedaan signifikan diantara dua kelompok dengan p value 0,284>0,05. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan tekanan negatif 25 kPa lebih efektif dalam mengeluarkan sekresi sekret pada jalan nafas dan memungkinkan penigkatan saturasi oksigen setelah tindakan suction pada pasien dengan ventilator dibandingkan dengan tekanan 20 kPa.
TINGKAT PENDIDIKAN DAN KEAKTIFAN KUNJUNGAN TERHADAP STATUS GIZI LANSIA Shofiana Fajrin Hanifa; Mohammad Shoim Dasuki; Burhannudin Ichan; Tri Agustina
Herb-Medicine Journal: Terbitan Berkala Ilmiah Herbal, Kedokteran dan Kesehatan Vol 4, No 1 (2021): Herb-Medicine Journal Januari 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/hmj.v4i1.7844

Abstract

Jumlah populasi lansia selalu meningkat setiap tahunnya di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Kelompok usia ini berisiko mengalami gangguan gizi, baik malnutrisi, maupun obesitas. Angka kejadian malnutrisi dan obesitas pada lansia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Diduga tingkat pendidikan dan kehadiran ke posyandu akan mempengaruhi status gizi pada lansia.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan dan keaktifan kunjungan pada program Posyandu Lansia dengan status gizi lansia di Posyandu Gatak. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan metode cross sectional yang melibatkan 62 orang lansia. Data diperoleh dengan pemeriksaan langsung dan dianalisis menggunakan metode Chi Square. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lansia yang memiliki tingkat pendidikan tinggi memiliki status gizi lebih baik (p = 0,04; OR = 5,87), serta ditemukannya kecenderungan peningkatan status gizi seiring dengan peningkatan keaktifan kunjungan lansia (p = 0,01; OR = 5,82). Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dan keaktifan dengan status gizi lansia. Tingkat pendidikan dan keaktifan berkunjungan berhubungan dengan status gizi lansia

Page 6 of 11 | Total Record : 105