cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 372 Documents
Management of Ovarian Cancer in the Second Trimester of Pregnancy: A Case Report and Literature Review Syarief, Sri Dewi Rahmawati; Ritonga, Mulyanusa Amarullah; Anwar, Ruswana; Suardi, Dodi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.778

Abstract

Introduction: Ovarian carcinoma during pregnancy is a rare but clinically significant condition that requires swift and precise management to optimize maternal and fetal outcomes. This case report highlights the successful conservative surgical management of malignant mucinous ovarian cancer diagnosed in the second trimester. It provides insights into the feasibility and safety of surgical intervention during pregnancy, contributing valuable evidence to the existing literature on oncologic care during pregnancy.Case Illustration: A 21-year-old woman, G1P0A0, presented at 17-18 weeks of gestation with no complaints related to her pregnancy but reported abdominal enlargement over the past three months. At 6 weeks gestation, the patient was diagnosed with an ovarian cyst, later confirmed as a large cystic mass on the right ovary with papillary components through ultrasound. The IOTA simple rules indicate that the mass was suspected to be malignant. The provisional diagnosis was suspected ovarian malignancy with a differential diagnosis of multilocular ovarian cyst. The patient underwent a planned right oophorectomy at 18 weeks gestation. Histopathology revealed a mucinous malignant tumor of the right ovary that had not invaded the right fallopian tube. The pregnancy was continued, and the patient was closely monitored, with plans for further evaluation postpartum.Conclusion: This case highlights the feasibility and safety of conservative surgical management of ovarian cancer in the second trimester, demonstrating that timely intervention can optimize both maternal and fetal outcomes. The successful continuation of pregnancy after surgery reinforces the importance of individualized, multidisciplinary approaches to oncologic care during pregnancy.Penatalaksanaan Kanker Ovarium pada Kehamilan Trimester Kedua: Sebuah Laporan Kasus dan Tinjauan PustakaAbstrakPendahuluan: Karsinoma ovarium pada kehamilan merupakan kondisi yang jarang terjadi tetapi, memiliki implikasi klinis yang signifikan. Penatalaksanaannya memerlukan keputusan yang cepat dan tepat untuk mengoptimalkan hasil bagi ibu dan janin. Laporan kasus ini menyoroti keberhasilan manajemen bedah konservatif pada kanker ovarium mucinous ganas yang terdiagnosis pada trimester kedua kehamilan. Kasus ini memberikan wawasan mengenai kelayakan dan keamanan tindakan bedah selama kehamilan, serta berkontribusi terhadap literatur ilmiah terkait onkologi kehamilan.Ilustrasi Kasus: Seorang wanita berusia 21 tahun, G1P0A0, datang pada usia kehamilan 17 – 18 minggu tanpa keluhan, namun melaporkan pembesaran perut selama tiga bulan terakhir. Pada usia kehamilan 6 minggu, pasien didiagnosis dengan kista ovarium yang kemudian dikonfirmasi sebagai massa kistik besar pada ovarium kanan dengan komponen papiler melalui pemeriksaan ultrasonografi. Berdasarkan IOTA simple rules, massa tersebut dicurigai ganas. Diagnosis sementara adalah dugaan keganasan ovarium dengan diagnosis banding kista ovarium multilokular. Pasien menjalani operasi ooforektomi kanan yang terencana pada usia kehamilan 18 minggu. Hasil histopatologi menunjukkan tumor mukinosa ganas pada ovarium kanan yang tidak menyerang tuba falopi kanan. Kehamilan dilanjutkan, dan pasien dipantau secara ketat dengan rencana evaluasi lebih lanjut setelah persalinan.Kesimpulan: Kasus ini menyoroti kelayakan dan keamanan manajemen bedah konservatif pada kanker ovarium trimester kedua. Intervensi yang tepat dapat mengoptimalkan hasil bagi ibu dan janin. Keberhasilan kelanjutan kehamilan setelah tindakan bedah ini menegaskan pentingnya pendekatan multidisiplin yang disesuaikan dengan kondisi pasien dalam penatalaksanaan kanker pada kehamilan.Kata kunci: kanker ovarium, kehamilan, kanker ovarium musinosum
Relationship Between Severe Preeclampsia, Gestational Hypertension, Impending Eclampsia, Preeclampsia, Superimposed Preeclampsia, and Chronic Hypertension on Fetal Outcomes at Respati Maternal and Child Hospital, Tasikmalaya Utama, Firman Drajat; Desyari, Gina; Haruman, Kikeu Rizki; Perdana, Rikisetya Adhi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.765

Abstract

Objective: This study aims to explore the impact of preeclampsia on fetal outcomes at birth.Methods: This research used a total sampling method with a cross-sectional design. The data were from all pregnant patients and newborns delivered at Respati Maternity and Children’s Hospital, Tasikmalaya, in 2023. Hypertensive disorders included preeclampsia, severe preeclampsia (SPE), superimposed preeclampsia, gestational hypertension (GHT), impending eclampsia, and chronic hypertension, while fetal outcomes included birth weight and prematurity.Results: A total of 1,190 subjects were included. There was an association between birth weight and SPE (p < 0.01, PR = 7.64), GHT (p < 0.01, PR = 13.33), and superimposed preeclampsia (p < 0.05, PR = 5.24). A significant association was found between prematurity and SPE (p < 0.01, PR = 2.79), impending eclampsia (p < 0.05, PR = 3.63), superimposed preeclampsia (p < 0.01, PR = 4.47), and chronic hypertension (p < 0.05, PR = 3.63). No significant associations were found between other variables and low birth weight or prematurity.Conclusion: There is an association between SPE and superimposed preeclampsia with low birth weight and prematurity, between GHT and low birth weight, and between impending eclampsia and prematurity.Hubungan antara Preeklampsia Berat, Hipertensi Gestasional, Impending Eklampsia, Preeklampsia, Superimposed Preeklampsia, dan Hipertensi Kronis terhadap Luaran Janin di RSIA Respati TasikmalayaAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi lebih dalam mengenai dampak preeklampsia terhadap luaran bayi saat lahir.Metode: Penelitian ini dilaksanakan dengan metode total sampling, menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan data pasien ibu hamil dan janin yang dilahirkan di RSIA Respati Tasikmalaya pada tahun 2023. Variabel gangguan hipertensi meliputi preeklampsia, preeklampsia berat (PEB), superimposed preeklampsia, hipertensi gestasional (HTG), impending eklampsia, dan hipertensi kronis, sedangkan variabel luaran bayi meliputi berat badan lahir (BBL) dan prematuritas.Hasil: Sebanyak 1.190 subjek dikumpulkan. Terdapat hubungan yang signifikan antara BBL dengan PEB (p < 0,01, PR = 7,64), HTG (p < 0,01, PR = 13,33), dan superimposed preeklampsia (p < 0,05, PR = 5,24). Terdapat hubungan yang signifikan antara prematuritas dengan PEB (p < 0,01, PR = 2,79), impending eklampsia (p < 0,05, PR = 3,63), superimposed preeklampsia (p < 0,01, PR = 4,47), dan hipertensi kronis (p < 0,05, PR = 3,63). Tidak ditemukan hubungan antara variabel lainnya dan BBLR atau prematuritas.Kesimpulan: Terdapat hubungan antara PEB dan superimposed preeklampsia dengan berat badan lahir rendah dan prematuritas, terdapat hubungan antara HTG dan BBLR, dan terdapat hubungan antara impending eklampsia dan prematuritas.Kata kunci: Fetomaternal, Luaran Janin, Preeklampsia, RSIA Respati.
Risk of Malposition in a 56-Year-Old Female Lippes Loop IUD User: A Case Report Sepriano, Muhammad Ardi Levrian; Susilo, Artha Falentin Putri; Sasotya, Raden Mas Sonny
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.766

Abstract

Introduction: The intrauterine device (IUD) stands as a widely utilized contraceptive modality globally, renowned for its effectiveness and long-term reliability. However, within the spectrum of potential complications, the occurrence of perforation, though rare, represents a significant concern due to its potential for serious sequelae. Perforation entails the unintended penetration of the uterine wall by the IUD, leading to its migration beyond the uterine cavity. Despite its gravity, perforation often presents as an asymptomatic phenomenon, with some cases remaining undetected for extended durations following insertion. Lippes loop IUD complications are relatively low risk like malposition, embedded, or perforation.Case Report: This study documents a notable case involving a 56-year-old, P1A0, who had been utilizing an intrauterine device for a remarkable 31-year period. Referred from Hermina Arcamanik Hospital, the patient sought intervention for IUD removal, notwithstanding the absence of associated symptoms. Notably, physical examination and laboratory analyses yielded unremarkable findings, highlighting the latent nature of this complication. Further diagnostic elucidation through ultrasound examination confirmed the presence of a Lippes Loop (LL) IUD embedded within the uterine cavity. The intrauterine device (IUD) became embedded, rendering it impossible to remove. The IUD extraction is performed using hysteroscopy. Subsequent peri hysteroscopic extraction of the IUD unveiled partial embedding within the posterior uterine cavity, necessitating precise intervention to mitigate potential complications. Fortunately, postoperative surveillance revealed an absence of pain or hemorrhagic complications, culminating in the patient’s discharge on the first postoperative day. Conclusion: Constituted primarily of plastic material, LL IUDs offer prolonged utility devoid of significant adverse sequelae, underscoring their role as a viable contraceptive option with a slight risk of embedded for women seeking enduring contraception.Risiko Malposisi pada Akseptor Lippes Loop IUD pada Wanita Usia 56 Tahun: Sebuah Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) merupakan metode kontrasepsi yang banyak digunakan di seluruh dunia karena efektivitas dan keandalannya dalam jangka panjang. Namun, di antara berbagai potensi komplikasi, perforasi menjadi salah satu kekhawatiran utama meskipun jarang terjadi, mengingat potensi dampak serius yang dapat ditimbulkannya. Perforasi terjadi ketika IUD secara tidak sengaja menembus dinding rahim, menyebabkan migrasi IUD keluar dari kavitas uterus. Meskipun serius, komplikasi ini sering ersifat asimtomatik dan tidak terdeteksi dalam jangka waktu lama setelah pemasangan. Komplikasi IUD tipe lippes loop dapat terjadi seperti malposisi, embedded atau perforasi, tetapi pada kasus yang jarang. Presentasi Kasus: Studi ini melaporkan kasus menarik pada seorang wanita berusia 56 tahun, P1A0, yang telah menggunakan IUD selama 31 tahun. Pasien dirujuk dari RS Hermina Arcamanik untuk menjalani prosedur pengangkatan IUD, meskipun tidak mengalami gejala terkait. Pemeriksaan fisik dan analisis laboratorium tidak menunjukkan kelainan, menekankan sifat laten komplikasi ini. Pemeriksaan ultrasonografi lebih lanjut mengonfirmasi keberadaan IUD jenis Lippes Loop (LL) yang tertanam di dalam kavitas rahim. Prosedur histeroskopi dilakukan karena IUD tertanam di dalam kavitas rahim sehingga membuat IUD sulit untuk diekstraksi secara normal. Saat prosedur histeroskopi, ditemukan bahwa sebagian IUD tertanam di dinding posterior rahim, memerlukan intervensi presisi guna mencegah komplikasi lebih lanjut. Pemantauan pascaoperasi tidak menunjukkan adanya nyeri atau komplikasi perdarahan, dan pasien dipulangkan pada hari pertama setelah operasi.Kesimpulan: Karena terbuat dari bahan dasar plastik, IUD LL menawarkan masa pemakaian yang lama tanpa menimbulkan efek samping yang signifikan, menjadikannya pilihan kontrasepsi yang andal, namun dengan risiko kecil terjadi embedded bagi wanita yang mencari solusi kontrasepsi jangka panjang.Kata kunci: Alat kontrasepsi dalam rahim, embedded, lippes loop, risiko
Tubal Pathology in Infertility Tjahyadi, Dian
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.845

Abstract

Infertility is a complex reproductive issue which requires thorough evaluation and targeted intervention. A key cause of female infertility is fallopian tube dysfunction, which plays role in egg transport and fertilization. Structural damage to the tubes, including blockages, adhesions, and deformities, significantly reduces fertility potential. One major cause of tubal disease is sexually transmitted infections, especially Chlamydia trachomatis and Neisseria gonorrhoeae, which can lead to pelvic inflammatory disease (PID). 1 In regions where Mycobacterium tuberculosis infection is still prevalent, genital tuberculosis is another contributor to tubal disease, causing inflammation and eventual obstruction. Chronic infection promotes scarring, narrowing, and complete obstruction of the fallopian tubes. Additionally, endometriosis can also exacerbate tubal dysfunction by creating adhesions and disrupting normal tube anatomy
Overview of Menstrual Patterns in Female Patients Diagnosed with Tuberculosis with a History of Infertility at DOTS Polyclinic Hasan Sadikin Hospital and Community Health Centers in Bandung City Madjid, Tita Husnitawati; Utomo, Suhendro Rahmat; Susilo, Artha Falentin Putri; Ritonga, Mulyanusa Amarullah; Arya, Insi Farisa Desy
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.725

Abstract

Introduction: Female genital tuberculosis (FGTB) is one of the leading causes of infertility in countries with high cases of tuberculosis. However, there is a lack of data showing the menstrual patterns of FGTB patients in Indonesia. This study was conducted to describe the menstrual patterns of female patients diagnosed with TB and who have a history of infertility at the Directly Observed Treatment Short Course Polyclinic of Hasan Sadikin Hospital and community health centers in Bandung City.Method: This is a descriptive observational study using primary data. The subjects were outpatient TB patients with a history of infertility in the Directly Observed Treatment Short Course polyclinic of Hasan Sadikin Hospital and community health centers in Bandung City from 2018 to 2022. Data collection was conducted through questionnaire-based interviews.Results: Out of 950 TB patients of childbearing age recorded in medical records, 41 patients matched the specified criteria. The menstrual disorders experienced by patients included polymenorrhagia, oligomenorrhea, amenorrhea, prolonged menstrual cycles, irregular cycles, hypomenorrhea, heavy menstrual bleeding, and intermenstrual bleeding.Conclusion: The most common menstrual disorders in TB patients with a history of infertility were irregular cycles (36.6%), hypomenorrhea (31.7%), and oligomenorrhea (19.5%).Gambaran Pola Menstruasi pada Pasien Perempuan dengan Diagnosis Tuberkulosis dan Riwayat Infertilitas di Poli DOTS RSHS dan Puskesmas Kota BandungAbstrakPendahuluan: Female genital tuberculosis merupakan salah satu penyebab utama infertilitas pada negara dengan kasus tuberkulosis yang tinggi. Sebagai salah satu dari gejalanya, belum ada data yang menunjukkan pola menstruasi dari pasien female genital tuberculosis di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pola menstruasi pada pasien wanita dengan diagnosis tubekulosis dan memiliki riwayat infertilitas di Poliklinik Directly Observed Treatment Short Course Rumah Sakit Hasan Sadikin dan Puskesmas Kota Bandung.Metode: Penelitian deskriptif dengan menggunakan data primer. Subjek penelitian adalah pasien tuberkulosis wanita dengan riwayat infertilitas yang dirawat jalan di poliklinik Directly Observed Treatment Short Course Rumah Sakit Hasan Sadikin dan 4 Puskesmas di Kota Bandung dari tahun 2018 - 2022. Subjek diperoleh melalui wawancara berbasis kuesioner.Hasil: Dari 950 pasien tuberkulosis wanita usia subur yang terdata di rekam medis, didapatkan 41 data pasien yang sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Gangguan menstruasi yang dialami pasien dapat berupa polimenore, oligomenore, amenore, siklus menstruasi yang memanjang, siklus yang irreguler, hipomenore, heavy menstrual bleeding, dan perdarahan intermenstrual.Kesimpulan: Gangguan menstruasi yang paling sering terjadi pada pasien TB dengan riwayat infertilitas adalah siklus yang irreguler (36.6%), hipomenore (31.7%), dan oligomenore (19.5%).Kata Kunci: Infertilitas, Kota Bandung, Pasien TB wanita, Pola Menstruasi.
Association Between Cervical Cancer Stage and Sexual Dysfunction as a Side Effect of Radiotherapy in Patients at Margono Soekardjo Hospital, Purwokerto Utomo, Aditya; Putri Susilo, Artha Falentin; Armawan, Edwin; Sutrisno, Sutrisno; Marlina, Dina; Adinda Adriansyah, Putri Nadhira
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.761

Abstract

Objective: This study aims to determine the side effects of radiotherapy on sexual function and its association with cancer staging in cervical cancer patients at Margono Soekardjo Hospital in 2017-2022.Methods: This research uses a cross-sectional analysis with a retrospective data collection method. The data collected include primary data from FSFI questionnaire results and secondary data from medical records containing demographic data, cervical cancer stage, and treatment given to cervical cancer patients at Margono Soekardjo Hospital, Purwokerto. Results: There were 79 subjects with a mean age of 48.8 ± 10 years old, with the most prevalent age group being 45-59 years old. The majority of patients were at stage IIB (45.57%). The mean FSFI score obtained was 27.31 ± 14.69, with 46 patients (58%) having sexual dysfunction. Based on the results of the Chi-Square test, there is no significant relationship between the stage of cervical cancer and sexual function (p=0.586). Conclusion: The study results show a high incidence of sexual dysfunction among cervical cancer survivors, particularly in those with an average age of 48.8 years and most commonly diagnosed at stage IIB. Radiotherapy significantly impacted sexual function, with an average FSFI score of 27.31. Regular sexual function evaluations before and after radiotherapy are recommended to enable early management and reduce morbidity.Hubungan antara Stadium Kanker Serviks dan Disfungsi Seksual sebagai Efek Samping Radioterapi pada Pasien di Rumah Sakit Margono Soekardjo, PurwokertoAbstrakTujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efek samping radioterapi terhadap fungsi seksual serta hubungannya dengan stadium pada pasien kanker serviks di RS Margono tahun 2017-2022.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik cross-sectional dengan metode pengambilan data secara retrospektif. Data yang diambil merupakan data primer berupa hasil kuesioner FSFI serta data sekunder berupa rekam medis berisi data demografi, stadium kanker serviks, dan tatalaksana yang diberikan pada pasien kanker serviks di RS Margono yang selanjutnya dilakukan uji analisis Chi-Square. Hasil: Terdapat 79 pasien kanker serviks yang merupakan subjek penelitian dengan rerata usia 48,8±10 tahun dengan kelompok usia terbanyak 45 - 59 tahun. Mayoritas pasien berada pada stadium IIB sebanyak 36 pasien (45,57%). Rerata skor FSFI yang didapat 27,31±14,69 dengan 46 pasien (58%) memiliki disfungsi seksual. Berdasarkan hasil uji Chi-Square tidak terdapat hubungan yang sifgnifikan antara stadium kanker serviks dan fungsi seksual (p=0,586).Kesimpulan: Studi ini menemukan insidensi tinggi disfungsi seksual pada penyintas kanker serviks, terutama pada pasien dengan rata-rata usia 48,8 tahun dan mayoritas terdiagnosis pada stadium IIB. Radioterapi secara signifikan memengaruhi fungsi seksual dengan skor rata-rata FSFI sebesar 27,31. Evaluasi fungsi seksual secara rutin sebelum dan setelah radioterapi direkomendasikan untuk memungkinkan penanganan dini dan mengurangi morbiditas.Kata kunci: Disfungsi seksual, FSFI, Kanker serviks 
Comparison Of Igf-1 Protein Expression As A Marker For Type I Collagen Production in The Uterosacral Ligament Of Patients With Uterine Prolapse and without Uterine Prolapse to Prevent Uterine Prolapse Praharsini, Kania; Sasotya, R. M. Sonny; Sukarsa, M. Rizkar Arev
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.773

Abstract

Objective: This study aims to investigate the risk factors associated with the lower IGF-1 protein expression in the uterosacral ligament in relation to the incidence of uterine prolapse. By identifying the relationship between IGF-1 protein expression in the uterosacral ligament and the incidence of uterine prolapse, it is anticipated that this study will provide a basis for the early identification of uterine prolapse.Method: This study utilized a cross-sectional immunohistochemistry method for IGF-1 protein on 34 pelvic organ prolapse (POP) subjects and 34 controls at RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung, in 2024. A sample is taken from the distal portion of the uterosacral ligament, prepared into paraffin blocks and underwent immunochemistry staining. It was then reviewed and IGF-1 protein expression graded by a consultant pathologist. Results: IGF-1 protein expression in the uterosacral ligament was found to be lower in uterine prolapse patients (168.2 + 3.1) compared to those without uterine prolapse (181.2 + 13.3) (p=0.002).Conclusion: IGF-1 levels in uterine prolapse are lower than those without uterine prolapse.Perbandingan Ekspresi Protein IGF-1 sebagai Penanda Produksi Kolagen Tipe I pada Ligamentum Sakrouterina Penderita Prolaps Uterus dan Tanpa Prolaps Uterus untuk Pencegahan Prolaps UterusAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk meneliti faktor risiko rendahnya ekspresi protein IGF-1 pada ligamentum sakrouterina terhadap kejadian prolaps uterus. Dengan diketahui adanya hubungan antara ekspresi protein IGF-1 pada ligamentum sakrouterina dengan terjadinya prolaps uterus, diharapkan penelitian ini dapat berguna sebagai acuan untuk identifikasi prolaps uterus lebih dini.Metode: Penelitian ini menggunakan metode potong lintang imunohistokimia protein IGF-1 pada 34 subjek prolaps organ panggul (POP) dan 34 kontrol di RS Dr. Hasan Sadikin Bandung tahun 2024. Sampel diambil dari bagian distal ligamentum sakrouterina, dibuat blok paraffin, dan dilakukan pewarnaan histokimia. Ekspresi protein IGF-1 kemudian diperiksa dan dinilai oleh ahli patologi. Hasil: Ekspresi protein IGF-1 di ligamentum sakrouterina pada penderita prolaps uterus lebih rendah (168,2 + 3,1) dibandingkan dengan tanpa prolaps uterus (181,2 + 13,3) (p=0,002).Kesimpulan: Kandungan IGF-1 pada prolaps uterus lebih rendah dibandingkan dengan tanpa prolaps uterus.Kata kunci: IGF-1, kolagen tipe I, ligamentum sakrouterina, prolaps uterus
Diagnostic and Management Challenges of Systemic Lupus Erythematosus in Pregnancy Complicated with Severe Preeclampsia and Intrauterine Growth Restriction: A Case Report Suhartono, Azza Nurlaila; Giantari, Ifrinda; Setiaji, Danang; Putri, Rizky Ramadhani; Wajiih, Wildan Chanieful
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.775

Abstract

Introduction: Systemic lupus erythematosus (SLE) is a chronic systemic autoimmune disease more common in women than men. The risk of lupus flare increases during pregnancy. This case report describes the diagnostic and management challenges of SLE in pregnancy.Case Illustration: This case report describes a 27-year-old female, G3P1A1, 27 weeks of pregnancy, who presented with a six-hour history of headache, epigastric pain, and irregular uterine contractions. The patient has a poor obstetric history, with a miscarriage in her first pregnancy and an intrauterine fetal death (IUFD) in her second pregnancy. Ultrasonography showed an estimated fetal weight (EFW) of 878 grams. The laboratory test results revealed elevated levels with ANA of 140.2 units, anti-dsDNA of 1094 IU/mL, positive direct and indirect Coombs tests, and 1000 mg/dL urine protein. Conclusion: The diagnosis of SLE is established when a group of symptoms and signs are found according to the SLE Risk Probability Index criteria or the criteria for SLE in The Assessment using the European League Against Rheumatism/American College of Rheumatology. Early diagnosis of SLE in women is expected to prevent its impact on pregnancy. Management of SLE during pregnancy includes the use of hydroxychloroquine, azathioprine, steroid therapy, and addressing any complications that have occurred.Tantangan Diagnosis dan Tatalaksana Lupus Eritematosus Sistemik pada Kehamilan yang Disertai Preeklampsia Berat dan Restriksi Pertumbuhan Intrauterin: Sebuah Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Systemic lupus erythematosus (SLE) adalah penyakit autoimun sistemik kronis yang lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Risiko lupus flare meningkat selama kehamilan. Laporan kasus ini bertujuan untuk menjelaskan tantangan diagnostik dan tatalaksana SLE pada kehamilan. Laporan Kasus: Laporan kasus ini menggambarkan seorang perempuan berusia 27 tahun, G3P1A1, usia kehamilan 27 minggu yang datang dengan keluhan nyeri kepala, nyeri epigastrium, dan kontraksi rahim tidak teratur selama enam jam. Pasien memiliki riwayat obstetri yang kurang baik, dengan keguguran pada kehamilan pertama dan kematian janin dalam kandungan (IUFD) pada kehamilan kedua. Pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan estimasi berat janin (EFW) sebesar 878 gram. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan peningkatan ANA sebesar 140,2 unit, Anti-dsDNA sebesar 1094 IU/mL, tes Coombs langsung dan tidak langsung yang positif, serta protein urin sebesar 1000 mg/dL. Kesimpulan: Diagnosis SLE ditegakkan apabila ditemukan kumpulan gejala dan tanda sesuai SLE Risk Probability Index (SLERPI) atau kriteria SLE pada The assessment using the European League Against Rheumatism/American College of Rheumatology (EULAR/ACR). Penegakan dini SLE pada perempuan diharapkan dapat mencegah dampaknya pada kehamilan. Tatalaksana SLE selama kehamilan meliputi pemberian hydroxychloroquine, azathioprine, terapi steroid, serta penanganan komplikasi yang telah terjadi.Kata kunci: kehamilan, preeeklamsia, sistemik lupus eritematosus 
Case Report: Recurrent Surgical Wound Dehiscence in a Patient With Surgical Site Infection, Type 2 Diabetes, and Obesity Yogaswara, Hilman Ares; Sukarsa, Mochamad Rizkar Arev; Rachmawati, Anita
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.767

Abstract

Introduction: Surgical site infection (SSI) is the most likely complication following a Cesarean section (CS). SSI is considered a contributing factor to the occurrence of surgical wound dehiscence (SWD). This condition is often associated with various risk factors, such as type 2 diabetes mellitus (T2DM) and obesity. Understanding the risk factors and management of SWD in high-risk populations is essential for improving clinical outcomes.Case Report: A 27-year-old woman, G2P2A0, was referred due to SWD. The patient underwent a CS at a secondary-level hospital due to oxytocin drip failure 20 days prior to referral. She was diagnosed with SSI six days post-surgery, and had received antibiotics and undergone re-hecting 11 days after the CS. The surgical wound reopened two days after the re-hecting procedure, prompting referral. The patient had uncontrolled T2DM and morbid obesity as comorbidities. Physical examination revealed an open CS wound measuring 15x5x3 cm with exposed fascia and discharge of pus and blood. Wound care was performed using gauze coated with antibiotics changed every 12 hours. Antibiotic administration was based on culture, sensitivity, and resistance testing before another re-hecting procedure was performed.Conclusion: Obesity and diabetes mellitus were risk factors for SWD in this case. The use of antibiotics guided by culture sensitivity and resistance testing, effective SSI management, and early detection and management of comorbid conditions are necessary to prevent and treat SWD complications.Laporan Kasus: Recurrent Surgical Wound Dehiscence pada Pasien Infeksi Daerah Operasi yang Memiliki Komorbid Diabetes Tipe 2 dan ObesitasAbstrakLatar belakang: Infeksi Daerah Operasi (IDO) merupakan komplikasi yang paling mungkin terjadi setelah operasi Caesar (SC). IDO dianggap sebagai faktor terjadinya Surgical Wound Dehiscence (SWD). Kondisi ini sering dikaitkan dengan berbagai faktor risiko seperti diabetes melitus tipe 2 (DMT2) dan obesitas. Pemahaman mengenai faktor risiko dan penanganan SWD pada populasi berisiko tinggi menjadi penting untuk meningkatkan luaran klinis.Laporan Kasus: Wanita 27 tahun, P2A0, dirujuk karena SWD. Pasien menjalani SC di RS PPK tingkat II karena gagal drip oksitosin 20 hari sebelum dirujuk. Pasien didiagnosis IDO 6 hari setelah operasi dan telah mendapatkan antibiotik dan dilakukan re-hecting 11 hari setelah SC. Luka operasi terbuka kembali dua hari setelah re-hecting, sehingga pasien dirujuk. Pasien memiliki komorbid DMT2 tidak terkontrol dan obesitas morbid. Pemeriksaan fisik menunjukkan tampak luka bekas SC terbuka berukuran 15x5x3 cm dengan dasar fasia dengan nanah dan darah. Perawatan luka dilakukan dengan kasa dilapisi antibiotik dan diganti setiap 12 jam. Antibiotik diberikan berdasarkan hasil tes kultur, sensitivitas, dan resistensi, sebelum dilakukan re-hecting kembali. Kesimpulan: Obesitas dan diabetes melitus menjadi faktor risiko terjadinya SWD pada kasus ini. Penggunaan antibiotik sesuai hasil kultur sensitivitas dan resistensi, perawatan IDO, serta deteksi dan manajemen faktor komorbid diperlukan untuk mencegah dan mengobati komplikasi SWD.Kata kunci: Diabetes mellitus tipe 2, infeksi daerah operasi, luka operasi terbuka, rekurensi 
Recurrent Premature Rupture of Membranes in a Patient with Conservative Treatment Failure, Leading to Placental Abruption and Preterm Delivery: A Case Report. Dwi Putra, Nanda Ghaffar; Kurniawan, Rommy Andika
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.802

Abstract

Introduction: Preterm Premature Rupture of Membranes in premature labor refers to the rupture of the amniotic sac before 37 weeks of gestation. PPROM is one of the most common complications during pregnancy and can lead to more serious risks for both the mother and the fetus. While premature labor is the most prevalent complication associated with PROM, it is important to note that placental abruption, though rare, can also occur concurrently.Case: A 24-year-old woman with a gestational age of 30-31 weeks has been treated conservatively at 27-28 weeks of gestation and returned to the hospital with complaints of watery discharge and blood spots. Physical examination found abdominal tenderness and defans. From the internal examination, it was found that there was no amniotic fluid with a cervical opening of 3-4 cm, and the bleeding was blackish-red. The patient was diagnosed with G2P1A0 (second pregnancy, one live birth, and no abortions) at 30-31 weeks with placental abruption lasting more than 24 hours and failed conservative treatment. An emergency cesarean section was performed and the infant was placed under NICU care.Discussion: The infection and inflammatory process following conservative treatment can be a cause behind placental abruption in mothers. The primary management approach involves monitoring the vital signs of both the mother and the fetus. This assessment is crucial in determining the best next steps, and a cesarean section is often expected to ensure the safety of both the fetus and the mother.Conclusion: Placental abruption is a serious obstetric emergency that can endanger both the mother and the fetus. The most prevalent cause of abruption is an infection inflammatory reaction in the uterus. While PPROM rarely triggers placental abruption, it did occur in this case.Rekurensi Ketuban Pecah Dini pada Pasien Gagal Perawatan Konservatif Yang Menyebabkan Solusio Plasenta dan Persalinan PrematurAbstrak Pendahuluan: Ketuban pecah dini pada persalinan prematur merupakan pecahnya lapisan ketuban sebelum usia 37 minggu. Ini merupakan kondisi komplikasi yang paling sering terjadi pada kehamilan dan dapat memunculkan komplikasi yang lebih serius pada ibu dan janin. Komplikasi ketuban pecah dini paling sering adalah pada persalinan prematur. Namun demikian, adanya solusio plasenta pada persalinan prematur masih jarang terjadi.Kasus: Wanita 24 tahun dengan usia kehamilan 30 - 31 minggu telah dirawat secara konservatif pada saat usia kehamilan 27 - 28 minggu datang kembali ke rumah sakit dengan keluhan keluar air dan bercak darah. Dari pemeriksaan fisik, diketahui adanya nyeri tekan pada perut dan defans. Saat pemeriksaan dalam, tidak ditemukan adanya ketuban, namun terdapat pembukaan pada serviks 3 - 4 cm dan adanya perdarahan berwarna merah kehitaman. Pasien didiagnosis dengan G2P1A0 30-31 minggu dengan solusio plasenta ketuban pecah dini durasi >24 jam dan gagal rawat konservatif. Dilakukan sectio cesarea emergensi dan perawatan NICU untuk bayi.Diskusi: Adanya proses infeksi-inflamasi post perawatan konservatif menjadi salah satu mekanisme terjadinya solusio plasenta pada ibu. Tatalaksana berupa pemantauan tanda vital ibu dan janin, ini menjadi prinsip utama dalam penentuan langkah berikutnya dan operasi sectio sesarea diharapkan dapat menyelamatkan janin dan ibu.Kesimpulan: Solusio plasenta merupakan salah satu kegawatdaruratan obstetri yang berpotensi membahayakan ibu dan janin. Ada banyak faktor pencetus solusio dan yang paling sering di antaranya adalah adanya reaksi infeksi-inflamasi dalam uterus. Ketuban pecah dini menjadi pencetus yang jarang ditemukan pada kasus solusio plasenta, namun ditemukan pada kasus ini.Kata kunci:Inflamasi, Infeksi, Ketuban Pecah Dini, Solusio Plasenta