cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 372 Documents
Sexual Function in Cervical Cancer Patients Based on Female Sexual Function Index Questionnaire at Dr. Hasan Sadikin Central General Hospital From 2018 – 2023 Zakaria, Bangbang Ahmad Kholila Muhyiddin Abadi; Rinaldi, Andi; Zulvayanti, Zulvayanti
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 2 July 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i2.899

Abstract

Objective: To describe the sexual function of cervical cancer patients undergoing radiation therapy at RSHS using the Female Sexual Function Index (FSFI) questionnaire.Methods: This cross-sectional study involved cervical cancer patients who received radiation therapy at RSHS between January 2018 and December 2023. Data were collected using the FSFI questionnaire and were analyzed descriptively.Results: Among 100 patients aged 15 to 70 years, the participants experienced overlapping symptoms. The most frequently reported dysfunctions were vaginal dryness (90.63%), orgasm disorders (79.17%), dyspareunia (64.58%), and decreased libido (58%). Comorbidities included hypertension, diabetes mellitus, and urinary tract infections.Conclusion: Most cervical cancer patients receiving radiation therapy experience sexual dysfunction, as identified using the FSFI questionnaire. Limited clinical discussion, psychosocial stress, and socioeconomic constraints contribute to this issue. Integrating sexual health assessment and support into survivorship care is essential to improving overall patient well-being.Fungsi Seksual pada Pasien Kanker Serviks Berdasarkan Kuesioner Female Sexual Function Index di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2018 – 2023Abstrak Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran fungsi seksual pasien kanker serviks yang menjalani terapi radiasi di RSHS menggunakan kuesioner Female Sexual Function Index (FSFI).Metode: Penelitian ini menggunakan metode potong lintang dan dilakukan pada pasien kanker serviks yang sedang menjalani terapi radiasi di RSHS antara Januari 2018 hingga Desember 2023. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner FSFI dan dianalisis secara deskriptif.Hasil: Dari 100 pasien berusia 15 – 70 tahun, para pasien mengalami gejala yang saling tumpang tindih. Disfungsi seksual yang paling sering dilaporkan adalah vagina kering (90,63%), gangguan orgasme (79,17%), dispareunia (64,58%), dan penurunan libido (58%). Komorbiditas yang ditemukan meliputi hipertensi, diabetes melitus, dan infeksi saluran kemih.Kesimpulan: Sebagian besar pasien kanker serviks yang menjalani terapi radiasi mengalami disfungsi seksual, sebagaimana diidentifikasi melalui kuesioner FSFI. Kurangnya diskusi klinis, stres psikososial, dan keterbatasan sosial ekonomi turut berkontribusi terhadap masalah ini. Integrasi penilaian dan dukungan kesehatan seksual dalam perawatan pascaterapi sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan pasien secara menyeluruh.Kata kunci: fungsi seksual; kanker serviks; komplikasi radioterapi
Comparison Between WHO Partograph and Friedman Curve in Diagnosing Labor Dystocia Winata, I Gde Sastra; Mahendrata, Prayascita; Putri, Desak Agung Istri Padma; Kusuma, I Komang Wira Ananta; Budiman, Ardelia Clara; Deviyanti, Gery Puspa; Nathalia, Jessica
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 2 July 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i2.824

Abstract

Objective: This study aims to determine the importance of appropriate device selection and training in optimizing delivery outcomes and reducing the incidence of cesarean delivery.Methods: The method used in this research is a literature review using three databases: PubMed, NCBI, and Google Scholar, covering publications from 2014 to 2024. A total of 19 articles were included after screening.Results: Labor dystocia is characterized by slow progress of labor. It is the leading cause of unplanned cesarean delivery. The WHO Partograph, recognized for its flexibility and real-time monitoring capabilities, enables early detection of complications and helps reduce unnecessary interventions. Conversely, the Friedman Curve provides a more rigid temporal framework, which may lead to overdiagnosis and higher cesarean delivery rates. Conclusion: While both tools are beneficial, the WHO Partograph demonstrates greater adaptability and effectiveness in managing labor dystocia, particularly in varied clinical environments.Perbandingan Antara Partograf WHO dan Kurva Friedman dalam Diagnosis Labor DystociaAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pentingnya pemilihan alat yang tepat dan pelatihan untuk mengoptimalkan hasil persalinan dan mengurangi kejadian persalinan sesar.Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tinjauan literatur dengan menggunakan tiga database yaitu PubMed, NCBI, dan Google Scholar. Dengan rentang waktu pencarian selama 10 tahun terakhir yaitu tahun 2014 hingga tahun 2024. Setelah dilakukan skrining, terdapat 19 artikel yang digunakan dalam penelitian iniHasil: Persalinan macet (Labor dystocia) ditandai dengan kemajuan persalinan yang lambat. Hal ini merupakan penyebab utama persalinan sesar yang tidak direncanakan. Partograf WHO, yang dikenal dengan fleksibilitas dan pemantauan waktu yang nyata, memungkinkan deteksi dini komplikasi dan mengurangi intervensi yang tidak perlu. Sebaliknya, Kurva Friedman memberikan kerangka kerja temporal yang lebih kaku, yang dapat menyebabkan overdiagnosis dan peningkatan angka persalinan sesar. Kesimpulan: Meskipun kedua alat tersebut berharga, Partograf WHO menunjukkan kemampuan beradaptasi dan efektivitas yang lebih besar dalam mengelola distosia persalinan,
Female Sexual Function and Quality of Life After Pelvic Floor Surgery Krisna, Ratih; Fauzi, Amir; Latifah, Murwani Emasrissa; Andrina, Hana; Arini, Putri; Astawa, I Gede Agus; Stevanny, Bella
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 2 July 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i2.735

Abstract

Introduction: Pelvic floor surgery can significantly affect female sexual function and quality of life, impacting clinical outcomes and patient satisfaction. Understanding these effects is crucial for optimizing patient care.Objective: To review the literature about the impact of pelvic floor surgery on female sexual function and quality of life.Methods: A comprehensive literature search was conducted through PubMed and Scopus databases, covering publications from the last ten years. Articles were selected based on relevance, quality, and focus on sexual function and quality of life after pelvic floor surgery.Results: Pelvic floor surgery may affect female sexual function through physical, emotional, and anatomical changes. Postoperative dysfunction may involve pain, vaginal scarring, altered anatomy, or psychological distress. Decreased function is reported in 13% of women undergoing stress incontinence surgery and 37.5% of those undergoing complex urgency-type incontinence surgery. However, many studies report improvements in quality of life and sexual function following successful repair of pelvic organ prolapse or incontinencConclusion: Pelvic floor surgery can affect sexual function and the quality of life. A multidisciplinary approach is essential to help women regain sexual satisfaction and achieve optimal quality of life after pelvic floor surgery.Fungsi Seksual dan Kualitas Hidup Wanita Pasca Operasi Dasar PanggulAbstrakPendahuluan: Bedah dasar panggul dapat secara signifikan memengaruhi fungsi seksual dan kualitas hidup wanita, yang berdampak pada hasil klinis dan kepuasan pasien. Oleh karena itu, pengetahuan mengenai fungsi seksual dan kualitas hidup wanita pasca operasi dasar panggul sangat penting untuk mengoptimalkan perawatan pasien.Tujuan: Meninjau literatur mengenai dampak operasi dasar panggul terhadap fungsi seksual dan kualitas hidup wanita.Metode: Tinjauan pustaka dilakukan melalui basis data PubMed dan Scopus untuk publikasi 10 tahun terakhir. Artikel dipilih berdasarkan relevansi, kualitas, serta fokus pada fungsi seksual dan kualitas hidup pasca operasi dasar panggul.Hasil: Operasi dasar panggul dapat memengaruhi fungsi seksual melalui perubahan fisik, emosional, dan anatomi. Disfungsi seksual pascaoperasi dapat berupa nyeri, jaringan parut, perubahan anatomi, atau stres psikologis. Penurunan fungsi dilaporkan pada 13% pasien pascaoperasi inkontinensia urin tipe stres dan 37,5% pada kasus kompleks urgensi. Namun, banyak studi menunjukkan perbaikan fungsi seksual dan kualitas hidup setelah perbaikan prolaps atau inkontinensia yang berhasil..Kesimpulan: Pembedahan dasar panggul dapat mempengaruhi fungsi seksual dan kualitas hidup pasien. Pendekatan multidisiplin sangat penting untuk membantu wanita mencapai kembali kepuasan seksual serta kualitas hidup yang optimal setelah operasi dasar panggul.Kata Kunci: Fungsi Seksual Wanita; Inkontinensia Urin; Operasi Dasar Panggul; Prolaps Organ Panggul 
Blood Cadmium and Preterm Birth: A Systems Toxicology Review of Molecular Mechanisms, Placental Disruption, and Translational Obstetric Implications Sanjaya, I Nyoman Hariyasa; Andonotopo, Wiku; Bachnas, Muhammad Adrianes; Dewantiningrum, Julian; Pramono, Mochammad Besari Adi; Mulyana, Ryan Saktika; Pangkahila, Evert Solomon; Akbar, Muhammad Ilham Aldika; Yeni, Cut Meurah; Aldiansyah, Dudy; Bernolian, Nuswil; Wiradnyana, Anak Agung Gede Putra; Pribadi, Adhi; Sulistyowati, Sri; Stanojevic, Milan; Kurjak, Asim
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 2 July 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i2.949

Abstract

Objectives: Preterm birth (PTB) remains a leading global cause of neonatal morbidity and mortality, with multifactorial origins including inflammation, endocrine disruption, and placental dysfunction. Recent evidence identifies cadmium (Cd), a persistent environmental toxicant, as a modifiable contributor to PTB. This review aims to integrate the mechanistic, molecular, and clinical literature on maternal blood cadmium exposure and its role in the pathogenesis of PTB.Methods: A systematic and integrative review was conducted following PRISMA 2020 guidelines. Literature from 2000 to 2025 was retrieved using PubMed, Scopus, Embase, and Web of Science. Eligible studies included molecular toxicology, animal models, human epidemiological data, and placental mechanistic research addressing cadmium exposure and preterm birth. Inclusion criteria emphasized mechanistic clarity, gestational outcome relevance, and measurable cadmium biomarkers. Figures, tables, and mechanistic diagrams were used to illustrate toxicological convergence pathways.Results: Cadmium disrupts placental homeostasis via oxidative stress, endothelial dysfunction, impaired trophoblast invasion, progesterone suppression, and activation of inflammatory cascades such as the NLRP3 inflammasome. Consistent associations between maternal cadmium burden and PTB risk were found across animal, cellular, and human population studies. However, heterogeneity in exposure assessment, absence of unified risk thresholds, and confounding from co-exposures challenge causal inference. Literature remains fragmented, lacking integration between mechanistic insights and clinical risk models.Conclusions: Cadmium should be reclassified as a central agent in the pathophysiology of PTB. We propose a precision obstetrics framework that includes environmental cadmium screening in high-risk pregnancies, implementation of exposome-informed policies, and prospective multicenter studies with molecular endpoints. Obstetric care must evolve to include toxicological risk profiling as standard practice in the prevention of PTB.Kadmium dalam Darah dan Kelahiran Prematur: Tinjauan Toksikologi Sistemik terhadap Mekanisme Molekuler, Disrupsi Plasenta, dan Implikasi Obstetri TranslasiAbstrakTujuan: Kelahiran Prematur (preterm birth/PTB) tetap menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas neonatal di seluruh dunia dengan etiologi multifaktorial yang mencakup inflamasi, gangguan endokrin, dan disfungsi plasenta. Bukti terbaru mengidentifikasi kadmium (Cd), suatu toksikan lingkungan persisten, sebagai faktor kontribusi yang dapat dimodifikasi terhadap PTB. Tinjauan ini bertujuan untuk mengintegrasikan literatur mekanistik, molekuler, dan klinis mengenai paparan kadmium dalam darah maternal dan perannya dalam patogenesis PTB.Metode: Tinjauan sistematis dan integratif dilakukan sesuai pedoman PRISMA 2020. Literatur dari tahun 2000 hingga 2025 dikumpulkan melalui database PubMed, Scopus, Embase, dan Web of Science. Studi yang memenuhi syarat mencakup toksikologi molekuler, model hewan, data epidemiologi manusia, dan penelitian mekanistik plasenta yang mengevaluasi hubungan antara paparan kadmium dan kelahiran prematur. Kriteria inklusi menekankan kejelasan mekanistik, relevansi terhadap hasil kehamilan, serta penggunaan biomarker kadmium yang terukur. Gambar, tabel, dan diagram mekanistik digunakan untuk mengilustrasikan jalur konvergensi toksikologis.Hasil: Kadmium mengganggu homeostasis plasenta melalui stres oksidatif, disfungsi endotel, gangguan invasi trofoblas, supresi progesteron, dan aktivasi jalur inflamasi seperti inflammasom NLRP3. Hubungan konsisten antara beban kadmium maternal dan risiko PTB ditemukan dalam studi hewan, seluler, dan populasi manusia. Namun, adanya heterogenitas dalam penilaian paparan, belum adanya ambang risiko yang seragam, serta pengaruh faktor pajanan lainnya menjadi tantangan dalam penarikan kesimpulan kausal. Literatur masih terfragmentasi dan belum mengintegrasikan temuan mekanistik dengan model risiko klinis secara menyeluruh.Kesimpulan: Kadmium seharusnya diklasifikasikan ulang sebagai agen sentral dalam patofisiologi PTB. Kami mengusulkan suatu kerangka kerja obstetri presisi yang mencakup skrining lingkungan terhadap kadmium pada kehamilan berisiko tinggi, menerapkan kebijakan berbasis exposome, serta studi prospektif multisentra dengan titik akhir molekuler. Pelayanan kebidanan harus berkembang dengan mengadopsi profil risiko toksikologis sebagai bagian dari praktik standar dalam pencegahan kelahiran prematur.Kata kunci: Disrupsi Plasenta; Interaksi Endokrin-Inflamasi; Kesehatan Reproduksi Lingkungan; Mekanisme Kelahiran Prematur; Toksisitas Kadmium,
The Influence of COVID-19 Severity on Maternal and Perinatal Outcomes: Evidence from a Cohort Study in Indonesia Aziz, Muhammad Alamsyah; Nurdiawan, Windi; Avivi, Safiya Fathina; Wahyudi, Kurnia; Irianti, Setyorini; Fauzi, Ali Amali; Lillah, Alfarisi Syukron; Mariana, Ana; Nugrahani, Annisa Dewi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 2 July 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i2.883

Abstract

Objective: This study aimed to assess the association between COVID-19 severity and maternal and neonatal outcomes at Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, Indonesia.Methods: A retrospective cohort study was conducted among pregnant women with confirmed COVID-19 who delivered between March 1, 2020, and March 31, 2022. Patients were categorized by disease severity (asymptomatic, mild, moderate, severe, or critical). Demographic, clinical, maternal, and neonatal data were collected. Statistical analyses included Fisher’s exact and Kruskal-Wallis tests for bivariate analysis and Poisson regression for multivariate analysis (significance level α = 0.05).Results: Among 199 pregnant women, most were asymptomatic (42.7%) or had mild symptoms (37.2%). Higher COVID-19 severity was significantly associated with increased ICU/semi-ICU admission and oxygen therapy, as well as neonatal complications. After adjustment, moderate to critical cases showed significantly increased risks for ICU/semi-ICU care (p = 0.012, aRR 14.6; 95% CI: 1.8–118.2) and oxygen therapy (p = 0.001, aRR 12.2; 95% CI: 2.7–55.3). Mild cases were not linked to adverse outcomes.Conclusion: Moderate to critical COVID-19 during pregnancy is associated with higher risks of adverse maternal and neonatal outcomes, emphasizing the importance of early detection and close monitoring.Dampak Keparahan COVID- 19 pada Luaran Kehamilan: Studi Kohort di IndonesiaAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan mengevaluasi hubungan antara tingkat keparahan COVID-19 dan luaran kehamilan serta neonatal di RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung.Metode: Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kohort retrospektif pada ibu hamil dengan konfirmasi COVID-19 yang melahirkan antara 1 Maret 2020 hingga 31 Maret 2022. Pasien dikelompokkan berdasarkan tingkat keparahan (asimtomatik, ringan, sedang, berat, kritis). Data demografi, klinis, serta luaran ibu dan bayi dikumpulkan. Analisis statistik dilakukan menggunakan SPSS, dengan uji Fisher’s exact dan Kruskal-Wallis untuk bivariat, serta regresi Poisson untuk multivariat (α=5%).Hasil: Hasil penelitian menunjukkan dari 199 ibu hamil yang dianalisis, mayoritas bersifat asimtomatik (42,7%) atau ringan (37,2%). Keparahan penyakit yang lebih tinggi secara signifikan berhubungan dengan peningkatan kebutuhan perawatan ICU/semi-ICU dan terapi oksigen, serta komplikasi neonatal. Setelah penyesuaian, COVID-19 sedang–kritis berkorelasi dengan peningkatan risiko ICU/semi-ICU (p=0,012, aRR 14,6; 95% CI 1,8–118,2) dan terapi oksigen (p=0,001, aRR 12,2; 95% CI 2,7–55,3). Kasus ringan tidak menunjukkan hubungan dengan luaran buruk.Kesimpulan: Keparahan COVID-19 sedang hingga kritis pada kehamilan meningkatkan risiko luaran buruk sehingga diperlukan identifikasi dini dan pemantauan ketat.
Congenital Lymphangioma of the Fetal Limb: A Rare Case Riandi, Diki; Suhaimi, Donel
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 2 July 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i2.851

Abstract

Introduction: Lymphangioma is a rare congenital malformation caused by the failure of primitive lymphatic channels to connect with the venous system. Its incidence is approximately 1 in 6,000 pregnancies, with only 2% affecting the limbs. Prenatal diagnosis remains challenging, requiring advanced imaging techniques for accurate differentiation from other congenital masses.Case Presentation: A 39-year-old woman, G6P4A1L4, was referred to Arifin Achmad Hospital at 25+6 weeks due to fetal lower limb enlargement and ascites. Ultrasound revealed a large multicystic mass on the fetal left thigh and buttock, measuring 10.2 × 7.8 × 6.4 cm. Initially suspected as sacrococcygeal teratoma, further evaluation suggested lymphangioma. The Doppler study indicated reduced vascularity. After thorough counseling and an ethics committee review involving obstetricians, neonatologists, and pediatric surgeons, the parents opted for termination. Labor was induced with misoprostol 50 mcg orally every 4 hours (two doses), leading to the delivery of a 1,400-gram male infant with an APGAR score of 3 and 0. The baby died 15 minutes post-birth. Maternal condition remained stable with normal vital signs and laboratory results post-delivery.Discussion: Prenatal diagnosis of lymphangioma is difficult due to its resemblance to other congenital masses. Regular extremity screening is crucial for early detection. Postnatal histopathology confirmed lymphangioma, showing dilated lymphatic channels without solid components. This case highlights the importance of multidisciplinary management and serial imaging for prognosis refining prognosis. Conclusion: Prenatal diagnosis is crucial for management planning. Serial ultrasound and MRI can refine prognosis. A multidisciplinary approach is essential for optimal care.Limfangioma Kongenital pada Ekstremitas Bawah Janin: Kasus Langka Abstrak Pendahuluan: Limfangioma adalah malformasi kongenital langka yang disebabkan oleh kegagalan saluran limfatik primitif untuk terhubung dengan sistem vena. Insidensinya 1 dalam 6.000 kehamilan, dengan hanya 2% yang mengenai ekstremitas. Diagnosis prenatal tetap menjadi tantangan, memerlukan teknik pencitraan canggih untuk membedakannya secara akurat dari massa kongenital lainnya. Presentasi Kasus: Seorang wanita berusia 39 tahun dengan G6P4A1H4 dirujuk ke Rumah Sakit Arifin Achmad pada usia kehamilan 25+6 minggu karena pembesaran ekstremitas bawah janin dan asites. Ultrasonografi menunjukkan massa multikistik besar pada paha kiri dan bokong janin, berukuran 10,2 × 7,8 × 6,4 cm. Awalnya dicurigai sebagai teratoma sakrokoksigeal, namun evaluasi lebih lanjut mengarah pada dugaan limfangioma. Studi Doppler menunjukkan vaskularisasi yang berkurang. Setelah konseling menyeluruh dan tinjauan oleh komite etik yang melibatkan dokter obstetri, neonatologi, dan bedah anak, orang tua memilih terminasi kehamilan. Persalinan diinduksi dengan misoprostol 50 mcg per oral setiap 4 jam (dua dosis). Induksi ini menghasilkan kelahiran bayi laki-laki seberat 1.400 gram dengan skor APGAR 3 dan 0. Bayi meninggal 15 menit setelah lahir. Kondisi ibu tetap stabil dengan tanda vital dan hasil laboratorium normal pascapersalinan.Diskusi: Diagnosis prenatal limfangioma sulit karena kemiripannya dengan massa kongenital lainnya. Skrining ekstremitas secara rutin sangat penting untuk deteksi dini. Histopatologi pascanatal mengonfirmasi limfangioma dengan menunjukkan saluran limfatik yang melebar tanpa komponen solid. Kasus ini menekankan pentingnya manajemen multidisiplin dan pencitraan serial untuk memperjelas prognosis.Kesimpulan: Diagnosis prenatal sangat penting dalam perencanaan manajemen. Ultrasonografi serial dan MRI dapat membantu memperjelas prognosis. Pendekatan multidisiplin sangat diperlukan untuk perawatan optimal. Kata kunci: Diagnosis prenatal, Limfangioma, Malformasi limfatik, Manajemen perinatal, Massa ekstremitas janin.
Characteristics of Patients with Placenta Accreta Spectrum at Dr. Hasan Sadikin Central General Hospital in 2019-2023 Passamula, Muhammad Hasan; Susiarno, Hadi; Irianti, Setyorini
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 2 July 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i2.926

Abstract

Objective: This study aimed to describe the epidemiological characteristics of placenta accrete spectrum (PAS) and to identify contributing factors of the patients treated at Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung. PAS is a serious obstetric complication caused by abnormal trophoblast invasion into the myometrium. Historically rare—1 in 30,000 conceptions in 1960—its incidence has increased significantly, now occurring in 1 in 500 to 1 in 533 pregnancies. Methods: A cross-sectional study was conducted using secondary data from 2019–2023. Patient characteristics were analyzed using descriptive statistics. Result: This study shows the median age of patients was 35 years (23 – 45 years). Nearly half (49.1%) had a history of one prior cesarean section. Urinary tract complications occurred in 8.5% and digestive tract involvement in 9.4% of cases. Additionally, 84.9% of neonates had low birth weight. Higher degrees of PAS were more frequently managed with hysterectomy. However, so far there is no guideline stating the definite indications for conservative management and hysterectomy.Conclusion: The study highlights the importance of risk identification and prenatal care in managing PAS cases and reducing adverse outcomes. Further longitudinal research is necessary to explore associations between identified risk factors and maternal-fetal outcomes.Karakteristik Pasien dengan Spektrum Plasenta Akreta di RSUD Dr. Hasan Sadikin Tahun 2019 – 2023AbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik epidemiologis kasus spektrum plasenta akreta (Placenta Accreta Spectrum/PAS) dan mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi pada pasien yang dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin, Bandung. PAS merupakan komplikasi obstetri serius yang disebabkan oleh invasi abnormal trofoblas ke dalam miometrium. Dahulu kondisi ini sangat jarang terjadi—sekira 1 dari 30.000 konsepsi pada tahun 1960—namun kini insidennya meningkat secara signifikan menjadi 1 dari 500 hingga 1 dari 533 kehamilan. Metode: Penelitian dilakukan secara potong lintang menggunakan data sekunder dari tahun 2019 hingga 2023. Karakteristik pasien dianalisis menggunakan statistik deskriptif.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan median usia pasien 35 tahun (23 – 45 tahun). Hampir setengah dari pasien (49,1%) memiliki riwayat satu kali operasi sesar. Komplikasi saluran kemih ditemukan pada 8,5% pasien, dan keterlibatan saluran pencernaan pada 9,4% kasus. Selain itu, 84,9% neonatus lahir dengan berat badan lahir rendah. Terdapat hubungan yang signifikan antara derajat PAS dengan jenis penatalaksanaan yang diterima pasien. Namun, hingga kini belum ada pedoman yang menyatakan secara pasti indikasi penggunaan manajemen konservatif atau histerektomi.Kesimpulan: Penelitian ini menekankan pentingnya identifikasi faktor risiko dan perawatan antenatal dalam menangani kasus PAS guna mengurangi komplikasi. Penelitian longitudinal lebih lanjut diperlukan untuk menilai hubungan antara faktor risiko yang teridentifikasi dengan luaran maternal dan janin.Kata Kunci: Deskripsi; Epidemiologi; Karakteristik; Spektrum Plasenta Akreta
Colorectal Anal Distress Inventory 8 (CRADI-8) Scores in PFDI-20 In Women With OASIS Before and After Repair Mulyana, Rifqi Rahman; Sukarsa, M. Rizkar Arev; Rinaldi, Andi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 2 July 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i2.780

Abstract

Objectives: This research aims to assess and compare CRADI-8 scores in women with grade 3-4 OASIS before and after surgical repair. Methods: This cross-sectional study analyzed 37 OASIS patients at Hasan Sadikin Hospital, Bandung (January 2021-December 2023). CRADI-8 scores were measured pre- and post-surgery, with scores categorized by grade (0-4). The McNemar test was used for statistical analysis (p
Clomiphene-Metformin vs Clomiphene in Infertil Women with Polycystic Ovary Syndrome: A Systematic Review and Meta-analysis Prilia, Arifah Mabruroh; Kurniawati, Devita; Pramono, Adi; Jiwanggana, Parada
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 2 July 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i2.811

Abstract

Objective: To compare the efficacy of clomiphene citrate and metformin with clomiphene citrate alone in treating primary infertility in women with polycystic ovarian syndrome.Methods: PubMed, SCOPUS, and Google Scholar databases were searched for English-language randomized controlled trials from 2015 to 2024. Inclusion criteria: reproductive age group (15 - 35 years), all ethnicities, diagnosed with PCOS by all current criteria, who are primarily infertile, and received clomiphene citrate and metformin compared to clomiphene citrate alone or with placebo. Primary outcomes: efficacy or improvement in fertility.Result: The search returned 1251 articles; 120 articles addressed metformin or clomiphene citrate, and four randomized controlled trials (RCTs) comparing metformin and clomiphene citrate with clomiphene citrate alone were included. One thousand seven hundred thirty-seven (1737) women with primary infertility and PCOS were included in this systematic review. The dose of metformin was 500 - 850mg twice or thrice daily, and the dose of clomiphene citrate was 50 - 100mg once daily. Based on four articles, the efficacy of fertility improvement of metformin and clomiphene citrate was significantly higher (231/869; 26.58%) compared to clomiphene citrate alone or with placebo (169/868; 19.47%) (OR = 1.5; 95% CI 1.10 [1.04-1.15]; p-value = 0.0004, 4 trials; I2 = 49%; n = 1737).Conclusion: Metformin and clomiphene citrate are more effective for improving fertility than clomiphene alone or placebo, respectively. Further methodological trials are necessary to identify additional differences in effectiveness and other outcomes between metformin and clomiphene citrate, particularly regarding safety and adverse effects.Clomifene-Metformin vs Clomifene pada Wanita Infertil Primer dengan Sindrom Ovarium Polikistik: Systematic Review dan Meta-AnalysisAbstrakTujuan: Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan efikasi clomifene sitrat dan metformin versus clomifene sitrat pada terapi infertilitas primer pada wanita dengan sindrom ovarium polikistik.Metode: Pencarian menggunakan database Pubmed, SCOPUS, dan Google Scholar untuk Randomized Controlled Trials berbahasa Inggris dari tahun 2015 sampai 2024. Kriteria inklusi: kelompok usia produktif (15 - 35 tahun), semua etnis, didiagnosis dengan PCOS dengan seluruh kriteria, merupakan pasien infertil primer, mendapatkan clomifene sitrat dan metformin dibandingkan dengan clomifen sitrat saja atau dengan plasebo. Hasil primer: efikasi peningkatan fertilitas,Hasil: Hasil pencarian adalah 1251 artikel; 120 artikel membahas metformin atau clomifene sitrat, dan empat RCT yang dilakukan systematic review dan meta-analysis. Seribu tujuh ratus tiga puluh tujuh (1737) wanita infertil primer dan PCOS masuk ke dalam systematic review ini. Dosis metformin adalah 500 - 850mg dua atau tiga kali sehari, dan dosis clomifene sitrat adalah 50 - 100mg sekali sehari. Berdasarkan empat artikel, efikasi peningkatan fertilitas dari metformin dan clomifene sitrat signifikan lebih tinggi (231/869; 26.58%) dibandingkan dengan clomifene sitrat saja atau dengan plasebo (169/868; 19.47%) (OR = 1.5; 95% CI 1.10 [1.04-1.15]; p-value = 0.0004, 4 trials; I2 = 49%; n = 1737).Kesimpulan: Metformin dan clomifene sitrat memiliki efikasi peningkatan fertilitas yang lebih baik dibandingkan dengan clomifene sitrat saja atau dengan plasebo. Uji metodologi lebih lanjut dibutuhkan untuk menentukan perbedaan lebih lanjut dari keefektifan dan hasil lainnya antara metformin dan clomifene sitrat, dengan mempertimbangkan keamanan dan efek samping.
One-Rod Contraceptive Implant as a Postpartum Contraceptive Option Nurdiawan, Windi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 2 July 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i2.960

Abstract

In an effort to increase family planning coverage, reduce high-risk pregnancies, reduce the incidence of unwanted pregnancies, and reduce maternal mortality, long-acting reversible contraceptives (LARC) in the form of IUDs and implants are routinely used as postpartum contraception. Postpartum contraception use supports the reduction of maternal and infant morbidity and mortality rates.The use of implant contraception has undergone several developments from six-rods, two-rods to one-rod. A one-rod contraceptive refers to a type of LARC implant, typically containing a progestin hormone, that is inserted under the skin of a woman’s upper arm. Included among the contraceptive techniques thought safe for immediate postpartum usage, it offers efficient, reversible contraception for several years (generally 3-5 years depending on the brand). A postpartum contraceptive helps to avoid unplanned and closely spaced pregnancies, allows a woman’s body enough time to recover from birth, therefore lowering the risk of maternal anemia and other complications, also progestin-only contraceptives and non-hormonal strategies are usually preferred for breastfeeding women as estrogen-containing methods may lower milk production.