cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 372 Documents
Overview of Midwives’ Knowledge of Postpartum Bleeding to Reduce Maternal Mortality Rate In Working Area at Pelabuhan Ratu Hospital Apriliyani, Sinta Nur; Tjahja, Raden
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.705

Abstract

Introduction:The Maternal Mortality Rate indicator shows the level of risk of maternal death during pregnancy, childbirth, and the postpartum period per 100,000 live births in a given area over a certain period. According to the district health profile report, Maternal deaths in 2023 reached 792 cases or 96.89 per 100,000 live births, an increase of 114 cases compared to 2022 which recorded 678 cases. In 2022 Sukabumi district common causes of maternal death are hemorrhage 14 case and 7 case in 2023Methods:Study used a descriptive approach with a cross-sectional design involving 74 midwives. The sampling technique was random sampling. Data were obtained through the use of questionnaires that focused on the variable of knowledge about postpartum hemorrhage. Data analysis was performed using the univariate analysis method.Results:It was found of 74 midwives in the working arae of Pelabuhan Ratu Hospital, the majority were 31-35 years old (43.2%), had D3 Midwifery educational background (59.5%), and had 11-15 years of work experience (33.8%). In addition, 77% not attended PPGDON training. Most midwives (55.4%) had a good understanding of postpartum hemorrhage. Conclusion:The majority of midwives in working area at Pelabuhan Ratu Hospital have good knowledge about postpartum hemorrhage.Gambaran Pengetahuan Bidan tentang Perdarahan Pascapersalinan untuk Menurunkan Angka Kematian Ibu di Wilayah Kerja RSUD Pelabuhan RatuAbstrakPendahuluan: Indikator Angka Kematian Ibu menunjukkan tingkat risiko kematian ibu pada masa kehamilan, persalinan, dan masa nifas per 100.000 kelahiran hidup di suatu wilayah selama periode tertentu. Berdasarkan laporan profil kesehatan daerah, kematian ibu pada tahun 2023 mencapai 792 kasus atau 96,89 per 100.000 kelahiran hidup, Hal ini meningkat 114 kasus dibandingkan tahun 2022 yang tercatat 678 kasus. Di Kabupaten Sukabumi tahun 2022 penyebab kematian ibu terbanyak adalah perdarahan 14 kasus dan tahun 2023 menjadi 7 kasus.Metode: Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif dengan desain cross-sectional yang melibatkan 74 bidan. Teknik pengambilan sampelnya adalah random sampling. Data diperoleh melalui penggunaan kuesioner yang berfokus pada variabel pengetahuan tentang perdarahan postpartum. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode analisis univariat.Hasil: Ditemukan dari 74 bidan di wilayah kerja RS Pelabuhan Ratu, mayoritas berusia 31 – 35 (43,2%), berlatar belakang pendidikan D-3 Kebidanan (59,5%), dan memiliki pengalaman kerja 11 – 15 (33,8%). Selain itu, 77% tidak mengikuti pelatihan PPGDON. Sebagian besar bidan (55,4%) memiliki pemahaman yang baik mengenai perdarahan pascapersalinan. Kesimpulan: Mayoritas bidan di wilayah kerja RS Pelabuhan Ratu memiliki pengetahuan yang baik tentang perdarahan postpartum.Kata kunci: Bidan, Perdarahan Pascapersalinan, Pelabuhan Ratu
Peran Magnetic Resonance Imaging pada Diagnosis Kanker Serviks yang Menyerupai Kanker Endometrium – Laporan Kasus Erfiandi, Febia; Harsono, Ali Budi; Soekersi, Hari; Dewayani, Birgitta Maria; Kireina, Jessica
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i1.444

Abstract

Pendahuluan: Magnetic resonance imaging (MRI) merupakan modalitas penting dalam diagnosis kanker ginekologi, terutama serviks dan endometrium. Laporan kasus ini bertujuan melihat peranan MRI dalam menentukan asal tumor, keterlibatan parametrium, dan metastasis kelenjar getah bening retroperitoneal.Presentasi Kasus: Pada laporan kasus ini pasien didiagnosis kanker serviks stadium IB3 dengan diagnosis banding kanker endometrium stadium II karena keluhan perdarahan pasca-menopause, massa di serviks bersifat endofitik, dan ukuran uterus membesar. Hasil histopatologi kuretase yaitu endometrioid endometrial carcinoma moderately differentiated Dd/adenocarcinoma cervix. Magnetic resonance imaging (MRI) dilakukan untuk melihat asal tumor dan menetukan stadium. Skor MRI menganalisis tujuh perbedaan fitur: lokasi dan perfusi tumor, penyengatan perifer, massa atau distensi rongga endometrium, invasi miometrium, dan infiltrasi jaringan sekitar; skor 10 didapatkan pada kasus dengan menggunakan sekuens T2WI sagital, DWI-ADC, dan DCE yang menyimpulkan bahwa tumor berasal dari serviks dan telah menginfiltrasi parametrium.Kesimpulan: Skor MRI bisa dijadikan pertimbangan untuk melihat asal tumor (serviks atau endometrium) selain melihat keterlibatan parametrium dan kelenjar getah bening pelvis sehingga diagnosis dan manajemen lebih baik.The Role of Magnetic Resonance Imaging in the Diagnosis of Cervical Cancer Resembling Endometrial Cancer – A Case ReportAbstractObjective: Magnetic resonance imaging (MRI) is an important modality in the diagnosis of gynecological cancer, especially cervical and endometrial cancer. This case report aims to examine the role of MRI in determining tumor origin, parametrial involvement, and retroperitoneal lymph node metastases.Case presentation: In this case report, the patient was diagnosed with stage IB3 cervical cancer Dd/ stage II endometrial cancer due to complaints of postmenopausal bleeding, endophytic cervical mass, and uterine enlargement. The histopathological results of curettage were moderately differentiated endometrioid endometrial carcinoma Dd/adenocarcinoma of the cervix. Magnetic resonance imaging (MRI) is performed to determine the origin of the tumor and its stage. MRI score was analyzed for seven distinct features: tumor location and perfusion, peripheral rim, endometrial cavity mass or distension, invasion of the myometrium, and surrounding organs infiltration; score of 10 was obtained in these cases using sagittal T2WI, DWI-ADC, and DCE sequence which concluded that the tumor was cervical origin and had infiltrated the parametrium.Conclusion: MRI score can be considered to see the origin of the tumor (cervical or endometrial) in addition look for involvement of the parametrium and pelvic lymph nodes so that diagnosis and management will be better.Key words: Magnetic Resonance Imaging, Cervical Cancer, Endometrial Cancer, Gynecological Cancer, Parametrial Infiltration
Distinguishing Benign and Malignant Ovarian Tumors Preoperatively Adhipurnawan Winarno, Gatot Nyarumenteng
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.683

Abstract

Ovarian cancer ranks as the fifth leading cause of cancer-related mortality among women globally. In 2020, there were approximately 314,000 reported cases of new ovarian cancer patients, resulting in an estimated 207,000 deaths.1 The highest incidence rates were observed in non-Hispanic white women, with 12.0 cases per 100,000 individuals, followed by Hispanics (10.3 per 100,000), non-Hispanic blacks (9.4 per 100,000), and Asian/Pacific Islander women (9.2 per 100,000). Disparities in access to healthcare services and treatment modalities contribute to varied mortality patterns, with the highest rates recorded among African populations. In Indonesia, ovarian cancer ranks as the third most prevalent cancer, comprising 7.84% of total cancers diagnosed in women.1 The heightened mortality rate observed in ovarian cancer can be ascribed to several factors including asymptomatic tumor growth, delayed manifestation of symptoms, and inadequate screening methods, ultimately resulting in diagnoses at advanced stages. Consequently, ovarian cancer is frequently described as a “silent killer”.2 To address diagnostic delays and reduce mortality rates associated with ovarian cancer, early detection and differentiation between benign and malignant ovarian tumors are crucial. This requires a comprehensive assessment comprising patient history, physical examination, and supporting investigation.
The Efficacy of Emergency Contraception to Prevent Pregnancy: A Systematic Review and Meta-Analysis Simanjuntak, Tigor Peniel; Sihaloho, Resilia; Sirait, Batara Imanuel
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 3 November 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v6i3.574

Abstract

Objective: A systematic review and meta-analysis to determine the effectiveness of various emergency contraceptive methods to prevent pregnancy.Method: This study followed the Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-analyses (PRISMA) protocol. Data search used four databases, namely Pubmed, Google Scholar, Science Direct, and Wiley. Data that met the inclusion criteria were subjected to meta-analysis to analyze the combined proportion of data using MedCalc 20.012 software, calculation of a percentage of 95% Confidence Intervals (CI) and P<0.05, and heterogeneity test between studies.Results: There were 6 journals that met the criteria. Some of the contraceptives used as emergency contraception are: the copper IUD (CuIUD) with effectiveness reaching 100% in preventing pregnancy, levonorgestrel (LNG) 52-mg IUS with effectiveness reaching 99.95%, the levonorgestrel (LNG) 52-mg IUD with effectiveness reaching 99.7%, mifepristone 10 mg with effectiveness reaching 99.3%, mifepristone 5 mg with effectiveness reaching 98.8%, ulipristal acetate (UPA) 30 mg in pre-ovulatory women with effectiveness reaching 98.6%, levonorgestrel (LNG) 0.75 mg with effectiveness reaching 98.3%, yuzpe regimen with effectiveness reaching 98.2%, and ulipristal acetate (UPA) 30 mg in post-ovulatory women with effectiveness reaching 97.9%. The results of the proportion meta-analysis showed the proportion of pregnancies after the use of emergency contraceptive, which was 0.231% (95% CI 0.116–0.384) from 4,927 samples in 6 studies, and the results of the heterogeneity test between studies were found to be not meaningful (I2 = 0%). Conclusion: The emergency contraception used to prevent pregnancy is very effective with the results of a meta-analysis of the proportion of 0.231% (95% CI 0.116–0.384). This suggests that the percentage of pregnancies after emergency contraceptive use is quite low.Efektivitas Kontrasepsi Darurat untuk Mencegah Kehamilan: Tinjauan Sistematis dan Meta-AnalisisAbstrakTujuan: Tinjauan sistematis dan meta-analisis untuk mengetahui efektivitas berbagai metode kontrasepsi darurat untuk mencegah kehamilan.Metode: Penelitian ini mengikuti protokol Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-analyses (PRISMA). Pencarian data menggunakan empat database yaitu Pubmed, Google Scholar, Science Direct, dan Wiley. Data yang memenuhi kriteria inklusi dilakukan meta analisis dengan analisis proporsi gabungan data menggunakan software MeldCalc 20.012, dilakukan perhitungan persentase 95% CI dan P<0.05, serta dilakukan uji heterogenitas antar studi.Hasil: Terdapat 6 jurnal yang memenuhi kriteria. Beberapa alat kontrasepsi yang digunakan sebagai kontrasepsi darurat yaitu: AKDR tembaga (CuIUD) dengan efektivitas mencapai 100% dalam mencegah kehamilan, levonorgestrel (LNG) 52-mg IUS dengan efektivitas mencapai 99,95%, levonorgestrel (LNG) 52-mg IUD dengan efektivitas mencapai 99,7%, mifepristone 10 mg dengan efektivitas mencapai 99,3%, mifepristone 5 mg dengan efektivitas mencapai 98,8%, ulipristal asetat (UPA) 30 mg pada wanita pre-ovulasi dengan efektivitas mencapai 98,6%, levonorgestrel (LNG) 0,75 mg dengan efektivitas mencapai 98,3%, yuzpe regimen dengan efektivitas mencapai 98,2%, dan ulipristal asetat (UPA) 30 mg pada wanita post-ovulasi dengan efektivitas mencapai 97,9%. Hasil meta analisis proporsi menunjukkan proporsi kehamilan setelah penggunaan kontrasepsi darurat yaitu 0,231% (95% CI 0,116–0,384) dari 4.927 sampel, serta hasil uji heterogenitas antar studi ditemukan tidak bermakna (I2 = 0%).Kesimpulan: Penggunaan kontrasepsi darurat sangat efektif dalam mencegah kehamilan dengan hasil meta analisis proporsi yaitu 0,231% (95%CI 0,116–0,384). Hasil tersebut menunjukkan bahwa persentase kehamilan setelah penggunaan kontrasepsi darurat cukup rendah.Kata kunci: Efektivitas, Kontrasepsi Darurat
Kejadian Ballooning dan Avulsi Otot Levator Ani Pada Persalinan Spontan Primipara Non OASIS di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Rahman, Muhammad Nurhadi; Sukarsa, Mochamad Rizkar Arev; Rinaldi, Andi Rinaldi; Achmad, Eppy Darmadi; Sasotya, Raden Mas Sonny; Armawan3, Edwin
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i1.639

Abstract

Pendahuluan: Kerusakan otot levator ani, seperti Ballooning dan Avulsi, sering terjadi pada Obstetric Anal Sphincter Injuries (OASIS) saat persalinan, yang menyebabkan masalah jangka panjang seperti inkontinensia dan prolaps uteri. Namun, hubungan antara kerusakan ini dengan robekan perineum derajat ringan atau Non-OASIS masih kurang dipahami. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi prevalensi Ballooning dan Avulsi pada persalinan spontan primipara Non-OASIS tanpa episiotomi di fasilitas kesehatan tingkat pertamaMetode: Studi cross-sectional dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito Yogyakarta dan praktik mandiri bidan di Sleman, Yogyakarta, melibatkan 69 pasien. Penggunaan USG 3D melalui pendekatan translabial digunakan untuk mengidentifikasi Ballooning dan Avulsi.Hasil: Dari 69 pasien yang mengalami persalinan spontan primipara Non-OASIS tanpa episiotomi yang terlibat dalam penelitian ini, 66,67% pasien mengalami robekan perineum derajat ringan, sementara 33,3% memiliki perineum intak. Prevalensi Ballooning adalah 26,1% dan Avulsi adalah 17,4%. Ballooning lebih umum terjadi pada pasien dengan robekan perineum derajat ringan (32,6%) daripada yang memiliki perineum intak (13,0%). Avulsi juga lebih sering terjadi pada pasien dengan robekan perineum derajat ringan (21,7%) dibandingkan dengan yang memiliki perineum intak (8,7%).Kesimpulan: Avulsi terjadi pada satu dari empat persalinan spontan primipara Non-OASIS tanpa episiotomi, sementara Ballooning terjadi pada satu dari enam persalinan. Studi ini memberikan wawasan tentang karakteristik kerusakan otot levator ani dalam setting praktik kebidanan mandiri yang berjejaring dengan fasilitas kesehatan tingkat pertama.The occurance of Ballooning and Avulsion of The Levator Ani Muscles in First Spontaneous Vaginal Birth Non-OASIS without Episiotomy at Primary Health FacilitiesAbstract Introduction: Damage to the levator ani muscles, such as Ballooning and Avulsion, often occurs during Obstetric Anal Sphincter Injuries (OASIS) during childbirth, leading to long-term issues like incontinence and uterine prolapse. However, the relationship between this damage and mild perineal tears or Non-OASIS is not fully understood. This study aims to explore the prevalence of Ballooning and Avulsion in spontaneous primiparous deliveries without episiotomy in primary healthcare facilities.Method: A cross-sectional study was conducted at Dr. Sardjito General Hospital in Yogyakarta and midwifery practices in Sleman, Yogyakarta, involving 69 patients. 3D ultrasound via translabial approach was used to identify Ballooning and Avulsion.Results: Out of 69 patients undergoing spontaneous primiparous deliveries without episiotomy, 66.67% experienced mild perineal tears, while 33.3% had intact perineum. The prevalence of Ballooning was 26.1% and Avulsion was 17.4%. Ballooning was more common in patients with mild perineal tears (32.6%) compared to those with intact perineum (13.0%). Avulsion also occurred more frequently in patients with mild perineal tears (21.7%) compared to those with intact perineum (8.7%).Conclusion: Avulsion occurs in one out of four spontaneous primiparous deliveries without episiotomy, while Ballooning occurs in one out of six deliveries. This study provides insights into the characteristics of levator ani muscle damage in the setting of primary healthcare facilities connected to independent midwifery practices.Key words: levator ani muscle avulsion, levator ani muscle ballooning, primipara, mild perineal tear.
Characteristics of Epithelial Ovarian Cancer at RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Period from January 2020 to September 2023 Zaen, Wildana Ilmia Uli El Nuha; Agustiansyah, Patiyus; Oktharina, Eka Handayani; Sanif, Rizal; Purnamasari, Septi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.762

Abstract

Objective: To determine the characteristics of epithelial ovarian cancer patient at Dr. Mohammad Hoesin Palembang General Hospital from January 2020 to September 2023.Methods: This study is a descriptive observational study utilizing secondary data from the Medical Records Department. The inclusion criteria included all patients diagnosed with epithelial ovarian cancer based on anatomical pathology results from the Medical Records Department at Dr. Mohammad Hoesin Palembang Hospital, covering the period from January 2020 to September 2023.Results: A total of 153 patient medical records met the inclusion and exclusion criteria. The results of the study findings revealed that the majority of epithelial ovarian cancer patients were aged 45–59 years (pre-elderly) (51%), had an normal Body Mass Index of 18.5–22.9 kg/m² (57.5%), were most commonly diagnosed at FIGO Stage IIIC (42.5%), had no family history of the disease (98.7%), and were nulliparous (32.7%)Conclusion: Epithelial ovarian cancer patients were predominantly found in the pre-elderly age group, with a normal Body Mass Index, the majority diagnosed at stage IIIC, without a family history, and nulliparous.Karakteristik Kanker Ovarium Epitel di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Periode Januari 2020 – September 2023AbstrakTujuan: Mengetahui karakteristik pasien kanker ovarium epitel di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode Januari 2020 – September 2023Metode: Penelitian ini merupakan deskriptif observasional menggunakan data sekunder dari Instalasi Rekam Medis. Kriteria inklusi, yaitu seluruh pasien yang didiagnosis kanker ovarium epitel berdasarkan hasil patologi anatomi di Instalasi Rekam Medis RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode Januari 2020 – September 2023.Hasil: Mayoritas pasien kanker ovarium epitel berusia 45 – 59 tahun (pra-lanjut) (51%), Indeks Massa Tubuh normal 18,5–22,9 kg/m2 (57,5%), mayoritas pada stadium IIIC (42,5%), tidak memiliki riwayat keluarga (98,7%), dan nuliparitas (32,7%).Kesimpulan:Penderita kanker ovarium epitel sebagian besar ditemukan pada kelompok usia pra-lansia, dengan ndeks Massa Tubuh normal, sebagian besar berada pada stadium IIIC, tidak memiliki riwayat keluarga, dan nuliparitas.Kata kunci: Kanker Ovarium Epitel, Karakteristik.
Characteristics of Pregnancy and Birth Outcomes among Expectant Teenage Mothers: A Single Center of Retrospective Study of 10 Years Approach Tanjaya, Hendri; Riani, Mutiara; Darmawan, Budi; Mardjuki, Edihan
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.787

Abstract

Objective: This study aims to analyze the characteristics and birth outcomes of Indonesian adolescents who have experienced pregnancy.Methods: This study assessed hospital-based retrospective cross-sectional study of 112 deliveries of teenage pregnancy. Bivariate analysis was conducted to examine the direct impact of each independent variable on the outcome variable. Following bivariate analysis, assumptions for logistic regression were examined using a variable with a p-value of <0.25.Result: Adolescent pregnancy was associated with a notably higher risk of anemia, postpartum hemorrhage, and low Apgar score at birth at 1 minute (p<0.05). Moreover, most adolescent pregnancies show complications. However, the rate of cesarean section deliveries was lower.Conclusion: Adolescent pregnancies are associated with negative effects on neonates and maternal figures. It remains a severe health problem that impacts all countries worldwide. Adolescence is not a good period for pregnancy. Improving the quality of health education and healthcare services is crucial for better outcome of adolescent pregnancy.Karakteristik Kehamilan dan Hasil Persalinan pada Kehamilan Remaja: Sebuah Studi Tunggal, Studi Retrospektif dengan Pendekatan 10 TahunAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik dan prognosis persalinan pada remaja di Indonesia.Metode: Sebuah studi potong lintang retrospektif berbasis rumah sakit terhadap 112 persalinan dari kehamilan remaja dilakukan dalam penelitian ini. Analisis bivariat dilakukan untuk memeriks a dampak langsung dari setiap variabel independen terhadap variabel dependen. Regresi logistik dilakukan dengan menggunakan variabel yang memiliki nilai p kurang dari 0,25 setelah analisis bivariat.Hasil: Kehamilan remaja dikaitkan dengan risiko anemia yang lebih tinggi, perdarahan pascapersalinan, dan skor APGAR yang rendah saat lahir pada menit ke-1 (p<0,05). Sebagian besar kehamilan juga mengalami komplikasi. Namun, tingkat persalinan operasi caesar lebih rendah.Kesimpulan: Kehamilan pada remaja berkaitan dengan berbagai komplikasi pada ibu dan neonatus, sehingga menjadi masalah kesehatan yang memengaruhi negara di seluruh dunia. Masa remaja bukanlah periode ideal untuk kehamilan, sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan kesehatan dan layanan kesehatan guna memperbaiki prognosis kehamilanKata Kunci: Kehamilan, Komplikasi, Prognosis kehamilan, Remaja 
Factors Affecting Breastfeeding Practice among Mothers with Hospitalized Neonates Lestari, Peby Maulina; Ramadanti, Afifa; Latifah, Murwani Emasrissa; Sutrisno, Muhammad Al Farisi; Andrina, Hana; Stevanny, Bella
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.707

Abstract

Introduction: Breastfeeding is essential for premature infants, as it reduces morbidity while enhancing cognitive development, ultimately supporting a more productive adulthood. However, in the United States, where 10–12% of infants are born prematurely, hospitalization in the Neonatal Intensive Care Unit (NICU) presents significant challenges to breastfeeding practices as it introduces barriers such as maternal stress, mother-infant separation, limited visitation, and inadequate support, which hinder successful breastfeeding. Method: This review used several databases, namely Google Scholar, Science Direct, Elsevier, Medline, PubMed, Proquest, dan Wiley Online Library to search original and review articles in English about breasfeeding, internsive care unit, and risk factors in the last 10 years. Other reference sources used were guidelines and textbooks.Result: The findings reveal that breast milk’s bioactive components play a critical role in protecting against morbidity during NICU hospitalization, while also fostering cognitive development. Factors influencing breastfeeding practices include demographic (maternal age, education), biological (maternal and infant health), attitudinal (breastfeeding confidence), social (family support), and hospital regulations (NICU policies).Conclusion: Factors affecting breastfeeding practice among mothers with hospitalized neonates include planned pregnancy, medical interventions, and family support. NICU hospitalization can be a significant barrier to breastfeeding due to inadequate support, visitation time, mother-infant separation, maternal stress and anxiety, and clinical conditions.Faktor-Faktor yang Memengaruhi Praktik Menyusui pada Ibu dengan Neonatus Rawat InapAbstrakPendahuluan: Pemberian Air Susu Ibu (ASI) sangat penting bagi bayi prematur karena dapat mengurangi morbiditas sekaligus meningkatkan perkembangan kognitif, yang pada akhirnya mendukung kehidupan dewasa yang lebih produktif. Namun, di Amerika Serikat, di mana 10–12% bayi lahir prematur, rawat inap di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) menghadirkan tantangan signifikan terhadap praktik menyusui akibat berbagai hambatan seperti stres maternal, pemisahan ibu dan bayi, waktu kunjungan yang terbatas, serta dukungan yang tidak memadai, yang menghalangi keberhasilan menyusui.Metode: Tinjauan pustaka ini menggunakan beberapa basis data, yaitu Google Scholar, Science Direct, Elsevier, Medline, PubMed, Proquest, dan Wiley Online Library, untuk mencari artikel asli dan ulasan dalam bahasa Inggris tentang menyusui, unit perawatan intensif, dan faktor risiko dalam 10 tahun terakhir. Sumber referensi lainnya yang digunakan adalah pedoman dan buku teks.Hasil: Kumpulan bukti yang ada di literatur saat ini menunjukkan bahwa komponen bioaktif dalam ASI memiliki peran penting dalam melindungi bayi dari morbiditas selama hospitalisasi di NICU, sekaligus mendukung perkembangan kognitif. Faktor-faktor yang memengaruhi praktik menyusui meliputi faktor demografis (usia ibu, pendidikan), biologis (kesehatan ibu dan bayi), sikap (kepercayaan diri dalam menyusui), sosial (dukungan keluarga), dan kebijakan rumah sakit (aturan di NICU).Kesimpulan: Faktor-faktor yang memengaruhi praktik menyusui pada ibu dengan bayi yang dirawat di NICU meliputi kehamilan yang direncanakan, intervensi medis, dan dukungan keluarga. Rawat inap di NICU dapat menjadi penghalang signifikan terhadap keberhasilan menyusui akibat kurangnya dukungan, waktu kunjungan yang terbatas, pemisahan ibu dan bayi, stres dan kecemasan maternal, serta kondisi klinis bayi.Kata Kunci: Air susu ibu, Faktor risiko, Ibu, Menyusui, NICU
Diagnostic Approach to Vaginismus and How to Differentiate it from Dyspareunia Farhanah, Aninda Yasmin; Sukarsa, Mochamad Rizkar Arev; Armawan, Edwin; Achmad, Eppy Darmadi; Sasotya, R. M Sonny; Rinaldi, Andi; Ma’soem, Aria Prasetya; Praharsini, Raden Kania; Imantika, Efriyan; Nurtanio, Setiawan; Arwan, Berriandi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.689

Abstract

Introduction:Vaginismus is a recurrent or persistent spasm of the muscles of the outer third of the vagina that interferes with coitus. The diagnosis of vaginismus is challenging since it requires the exclusion of possible organic comorbidities. Vaginismus needs to be differentiated from dyspareunia. This article comprehensively discusses the approach to diagnosis and management of vaginismus and highlights its differences from dyspareunia.Methods: A literature search was conducted in PubMed®, ScienceDirect, and Google Scholar databases on February 7–8, 2024, using Boolean combinations of the specified keywords. No specific timeframe was used. Editorials, commentaries, and articles other than written in English and Indonesian were excluded.Results: The review found that vaginismus is characterized by involuntary pelvic floor muscle contractions and significant anxiety towards penetration, which is diagnosed mainly through patient history and physical examination. In contrast, dyspareunia encompasses a wider range of pain, which may be superficial or deep and can result from various physiological or psychological factors. Differentiating between the two conditions requires a detailed clinical interview, physical examination, and possibly additional tests to identify the specific cause.Conclusion: Treatment for vaginismus focuses on reducing fear and pelvic muscle spasms, while dyspareunia focuses on addressing the underlying cause and pain management.Pendekatan Diagnosis pada Vaginismus dan Cara Membedakannya dengan DispareuniaAbstrakPendahuluan: Vaginismus adalah spasme otot-otot sepertiga bagian luar vagina yang berulang atau terus-menerus dan mengganggu koitus. Diagnosis vaginismus menantang dan memerlukan eksklusi kemungkinan komorbiditas organik. Vaginismus perlu dibedakan dengan dispareunia. Artikel ini membahas pendekatan diagnosis dan penatalaksanaan vaginismus secara komprehensif dan menyoroti perbedaannya dengan dispareunia.Metode: Pencarian literatur dilakukan di basis data PubMed®, ScienceDirect, dan Google Scholar pada tanggal 7 – 8 Februari 2024 dengan menggunakan kombinasi Boolean dari kata kunci yang ditentukan. Tidak ada jangka waktu tertentu yang digunakan dalam pencarian artikel untuk tinjauan literatur ini. Editorial, komentar, dan artikel yang tidak berbahasa Inggris dan Indonesia tidak disertakan.Hasil: Tinjauan menunjukkan bahwa vaginismus ditandai oleh kontraksi involunter otot dasar panggul serta kecemasan signifikan terhadap penetrasi. Diagnosis utama didasarkan pada riwayat pasien dan pemeriksaan fisik. Sebaliknya, dispareunia mencakup spektrum nyeri, baik superfisial maupun dalam, yang dapat dipicu oleh berbagai faktor fisiologis atau psikologis. Untuk membedakan kedua kondisi tersebut, diperlukan wawancara klinis yang mendetail, pemeriksaan fisik, dan tes tambahan guna mengidentifikasi penyebab spesifik.Kesimpulan: Terapi untuk vaginismus berfokus pada pengurangan rasa takut dan spasme otot panggul, sedangkan dispareunia berfokus pada penanganan penyebab yang mendasari dan manajemen nyeri.Kata kunci: Diagnosis, dyspareunia, tatalaksana, vaginismus
Surgical Approach for Uterine Perforation due to Gestational Trophoblastic Neoplasia: A Case Report Susilo, Sulaeman Andrianto; Homenta, Christian; Mawardinata, Phindo; Sinaga, Ferry Iskandar Kharisma; Suardi, Dodi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.776

Abstract

Introduction: The most common life-threatening complication of gestational trophoblastic neoplasia (GTN) is uterine perforation. In several cases, a surgical approach becomes inevitable. However, there are numerous considerations regarding the technique of hysterectomy.Case Presentation: A 37-year-old (P1A2) woman came to the ER with severe abdominal pain 12 h before admission. The patient had been previously diagnosed with GTN and was scheduled to undergo methotrexate chemotherapy. However, due to the development of an acute abdomen, accompanied by low hemoglobin levels and free fluid showing signs of uterine perforation, an emergency total abdominal hysterectomy was performed. The intra-operative findings revealed intra-abdominal bleeding and uterine perforation at the right fundal side of the uterus. The patient underwent postoperative chemotherapy and showed significant improvement. Conclusion: Regardless of the efficacy of chemotherapy in GTN, abdominal hysterectomy proved to be beneficial for treating uterine perforation in an emergency setting.Pendekatan Pembedahan pada Perforasi Uterus Akibat Tumor Trofoblastik Gestasional : Sebuah Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Komplikasi paling umum yang mengancam jiwa dari Tumor Trofoblastik Gestasional (TTG) adalah perforasi uterus. Pendekatan pembedahan tidak dapat dihindari dalam beberapa kasus. Namun, ada banyak pertimbangan mengenai teknik pembedahan dalam setiap kasus.Laporan Kasus: Seorang wanita berusia 37 tahun (P1A2) datang ke UGD dengan nyeri perut hebat 12 jam sebelum masuk rumah sakit. Pasien didiagnosis dengan neoplasia trofoblastik gestasional dan dijadwalkan untuk kemoterapi metotreksat. Abdomen akut, kadar hemoglobin rendah, cairan bebas menunjukkan tanda perforasi uterus. Temuan intraoperatif adalah perdarahan intra-abdomen dan perforasi uterus di sisi fundus kanan uterus. Histerektomi abdomen total darurat dilakukan. Pasien menjalani kemoterapi pasca-operasi dengan kondisi yang membaik.Kesimpulan:Terlepas dari efektivitas kemoterapi pada TTG, histerektomi abdominal bermanfaat untuk mengobati perforasi uterus dalam keadaan darurat.Kata kunci: Histerektomi, perforasi uterus, trofoblastik neoplasia