cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 372 Documents
Case Report of Unintended Pregnancy in a Woman with a Translocated IUD and Successful Laparoscopic Management: A Rare Case in a Peripheral Hospital in Central Java, Indonesia Rosiana, Alifa Nasyahta; Akhmadi, Syauqi Yoshi Kashira; Pradana, Arga Putra; Wiyati, Putri Sekar
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.783

Abstract

Introduction: The most serious complication of using intrauterine devices (IUDs) is uterine perforation. Studies have shown that the occurrence of uterine perforation in women using IUDs varies from 0.05 to 13 per 1,000 cases. If not detected, IUD translocation can cause serious complications, including bladder or intestinal perforation, intestinal obstruction, fistula formation, abscesses, adhesions, unintended pregnancy, and chronic pelvic painCase Presenation : A 31-year-old woman, G4P3A0, presented with abdominal pain and a positive pregnancy test despite having an IUD inserted in October 2022. She had no vaginal bleeding. The patient’s obstetrical history included three prior vaginal deliveries. Postpartum complications in 2022 led to retained tissue in the uterus, which was cleared with medication. She was advised to use an IUD as contraception but did not follow up. Ultrasound revealed a translocated IUD anterior to the uterus, surrounded by fluid resembling a small abscess. Management included exploratory laparoscopy for IUD removal. After the procedure, a follow-up ultrasound showed a single live intrauterine fetus, with no pain or bleeding. The patient’s condition improved after one week.Conclusion : This case highlights the importance of follow-up after IUD insertion and appropriate management in cases of misplaced IUDs with unintended pregnancy.Laporan Kasus Kehamilan Tidak Direncanakan (KTD) pada Seorang Wanita dengan Tranlokasi IUD yang Sukses dengan Tindakan Laparoskopi: Sebuah Kasus Langka di Rumah Sakit Perifer di Jawa Tengah, IndonesiaAbstrakPendahuluan: Komplikasi yang paling serius dari penggunaan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) adalah perforasi uterus. Studi menunjukkan bahwa kejadian perforasi uterus pada wanita yang menggunakan IUD bervariasi antara 0,05 hingga 13 per 1000 kasus. Jika tidak terdeteksi, translokasi IUD dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti perforasi kandung kemih atau usus, obstruksi usus, terbentuknya fistula, abses, adhesi, kehamilan yang tidak diinginkan, dan nyeri panggul kronis.Presentasi Kasus: Seorang wanita 31 tahun, G4P3A0, datang dengan keluhan nyeri perut dan hasil tes kehamilan positif. Pada tubuh pasien telah terpasang IUD pada Oktober 2022. Pasien tidak mengeluh adanya perdarahan vagina. Riwayat obstetri pasien telah melakukan persalinan pervaginam 3 kali. Pasien mengalami komplikasi postpartum pada persalinan terakhir tahun 2022, yaitu terdapat sisa jaringan plasenta yang kemudian dibersihkan dengan obat-obatan. Pasien disarankan untuk menggunakan IUD sebagai kontrasepsi setelah uterusnya dinyatakan bersih, namun setelah itu pasien tidak melakukan kontrol lanjutan. Pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan IUD keluar dari uterus dan terletak di depan uterus, yang dikelilingi cairan menyerupai abses kecil. Tatalaksana dilakukan dengan laparoskopi eksplorasi untuk pengambilan IUD. Setelah prosedur, pemeriksaan ultrasonografi lanjutan menunjukkan janin intrauterin tunggal yang hidup, tanpa disertai nyeri atau perdarahan. Kondisi pasien membaik setelah satu minggu.Kesimpulan: Kasus ini menekankan pentingnya kontrol lanjutan setelah pemasangan IUD dan penanganan yang tepat pada kasus translokasi IUD dengan kehamilan yang tidak direncanakan.Kata Kunci: Kehamilan tidak diharapakan (KTD), translokasi IUD, laparoskopi
Intrauterine Fetal Demise with Antenatal Care Challenges, Socio-Demographic Factor and Cultural in Atambua, East Nusa Tenggara: A Case Report Kusuma, Gede Bimanda; Naru, Theresia Herestuwito; Pelawie, Guntur Sembiring
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.844

Abstract

Introduction: Intrauterine fetal demise (IUFD) is fetal death at ≥20 weeks of pregnancy or ≥350 grams birth weight. In 2015, the stillbirth rate was 18.4 per 1,000 live births worldwide, with Indonesia having one of the highest infant mortality rates. Despite the recommendation for antenatal care (ANC) to be performed six times, it is typically only conducted twice in NTT, particularly in Atambua. Limited ANC, low education, and cultural practices such as betel chewing and alcohol intake affect maternal and fetal health.Case Illustration: A 32-year-old multigravida (G7P4A2) woman with IUFD at 33 weeks had only one ANC visit during her first pregnancy. She consumed alcohol three times daily and chewed betel nut four times a day. The patient complained of weakness, sore throat, and mild abdominal pain. Examination revealed an absent fetal heart rate and pale conjunctiva. Lab tests confirmed HSV-1 infection and anemia. She was treated with acyclovir and ferrous sulfate.Conclusion: The lack of ANC increases susceptibility to infections, while other challenges include socio-demographic problems and cultural concerns. Improving ANC for early detection, and education on alcohol and betel chewing are crucial to enhancing maternal and fetal health in high-risk areas.Kematian Janin Intrauterin dengan Tantangan Pelayanan Antenatal, Faktor Sosiodemografis, dan Budaya di Atambua, Nusa Tenggara Timur: Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Kematian Janin Dalam Rahim (KJDR) adalah kematian janin pada usia kehamilan ≥20 minggu atau berat lahir ≥350 gram. Pada tahun 2015, angka mortalitas bayi lahir mati secara global adalah 18,4 per 1.000 kelahiran; dan Indonesia merupakan salah satu negara dengan angka kematian bayi tertinggi. elayanan antenatal (ANC) direkomendasikan enam kali kunjungan, namun sering terjadi dua kali di NTT, khususnya Atambua. ANC yang terbatas, pendidikan rendah, serta praktik budaya, seperti konsumsi pinang dan alkohol berdampak terhadap kesehatan ibu dan janin.Ilustrasi Kasus: Wanita berusia 32 tahun (G7P4A2) multigravida dengan KJDR pada usia kehamilan 33 minggu, hanya melakukan ANC satu kali selama kehamilan pertama, mengonsumsi alkohol tiga kali sehari, dan buah pinang empat kali sehari. Keluhan pasien lemas, sakit tenggorokan, disertai nyeri perut. Pemeriksaan fisik terdapat konjungtiva pucat, dan tidak ditemukan denyut jantung janin. Tes lab menunjukkan infeksi HSV-1 dan anemia. Pasien diobati dengan asiklovir dan sulfas ferosus.Kesimpulan: Kurangnya ANC mengakibatkan kerentanan terhadap risiko infeksi, sedangkan masalah sosiodemografis dan faktor budaya menjadi tantangan. Upaya meningkatkan ANC dalam deteksi dini disertai edukasi terkait konsumsi alkohol dan pinang merupakan kunci untuk meningkatkan kesehatan ibu dan janin, terutama di daerah berisiko tinggi.Kata kunci: Budaya, Kematian janin dalam rahim, Pelayanan antenatal, Sosiodemografis
Prevalence and Distribution of Risk Factors for Preterm Labor in RSUP DR. Mohammad Hoesin Palembang Period January 1 2020 – December 31 2023 Beumaputra, Adyatma Utama; Martadiansyah, Abarham; Nurwany, Raissa; Mirani, Putri; Putra, Hadrians Kesuma
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.825

Abstract

Objective: This study aims to determine the prevalence and distribution of risk factors for preterm labor.Methods: This is a descriptive observational study with a cross-sectional design. The data used in this study were secondary data obtained with the total sampling method from the medical records of Dr. Mohammad Hoesin Palembang Hospital from January 1, 2020 to December 31, 2023.Results: This study found 1,654 cases of preterm labor from January 1, 2020 to December 31, 2023. The analysis of risk factors among mothers indicated that those within the high-risk age categories (<20 years and >35 years) constituted 31.7%. Multiparous and grand multiparous women represented 41.7%, while multiple pregnancies accounted for 6.6%. A history of premature rupture of membranes was noted in 25.4% of cases, polyhydramnios was observed in 1.3%, and a history of cesarean delivery was found in 25.4%. Furthermore, 33% suffered from hypertension, and 2.5% had diabetes. Anemia was prevalent in 47.9% of the mothers, and infection was reported in 42.8%. A history of preterm delivery was noted in 13.7%, risky gestational distance was found in 10.6%, and 25% had a history of antepartum hemorrhage. Finally, obesity was observed in 14.5% of the mothers.Conclusion: The number of deliveries continued to decrease, but the prevalence of preterm labor increased from 2020 to 2023. Anemia is the most common risk factor found in mothers with preterm labor.Prevalensi dan Distribusi Faktor Risiko Persalinan Prematur di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang dalam Tiga TahunAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi serta distribusi faktor risiko persalinan prematur.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan desain cross-sectional. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder dengan metode total sampling dari data rekam medik RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode 1 Januari 2020 – 31 Desember 2023.Hasil: Terdapat 1654 kasus persalinan prematur dengan periode 1 Januari 2020 – 31 Desember 2023. Distribusi faktor risiko didapatkan ibu dengan usia berisiko (<20 tahun dan >35) tahun (31,7%), paritas multipara dan grandemultipara (41,7%), kehamilan multipel (6,6%), riwayat ketuban pecah dini (25,4%), polihidramnion (1,3%), riwayat persalinan sesar (25,4%), hipertensi (33%), diabetes (2,5%), anemia (47,9%), infeksi (42,8%), riwayat persalinan prematur (13,7%), jarak kehamilan berisiko (10,6%), riwayat perdarahan antepartum (25%), obesitas (14,5%). Kesimpulan: Jumlah persalinan terus mengalami penurunan, namun prevalensi kejadian persalinan prematur terus mengalami peningkatan dari tahun 2020-2023. Anemia menjadi faktor risiko paling banyak yang ditemukan pada ibu dengan persalinan prematur.Kata kunci: Prevalensi, Persalinan Prematur, Faktor Risiko
Maternal Knowledge and Behavior as Prevention of Anemia in Pregnancy: A Health Facility-Based Cross-Sectional Study Design Futihandayani, Annisa; Siagian, Iswadi; Febriani, Febriani
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.800

Abstract

Objective: The incidence of Maternal Anemia in Indonesia (48.9%), which exceeds the WHO standard of >40%, signifies a severe public health concern that requires immediate attention and intervention. Consuming iron-rich meals and supplements with regular antenatal care visits in early pregnancy reduces maternal anemia rate. Our study aims to determine the relationship between the level of knowledge and behavior during pregnancy and the incidence of anemia. Method: A descriptive-analytic cross-sectional study was conducted at Sukaindah Primary Health Care Center in September and October 2023. Pregnant women who attended Antenatal Care (ANC) underwent hemoglobin tests. Seventy-eight respondents were selected using consecutive sampling. The knowledge and behaviors of anemic pregnant women were compared to those without anemia. The validated-modified questionnaire consists of twenty questions to measure knowledge and eleven questions to assess behavior. Result: All respondents were dominated by poor knowledge (83%) and fair preventive behavior (61.5%) about anemia in pregnancy. Although the level of knowledge was not significantly associated with the incidence of anemia (p-value: 0.277), women who were found in the level of good (33%) and fair knowledge (55%) showed good behavior (p-value = 0.007) for its prevention. There was a statistically significant association between behavior during pregnancy and the incidence of anemia (p-value = 0.025). Iron supplementation emerged as a critical factor in preventing anemia in pregnancy. (mean: 1.38). Conclusion: Knowledge and behavior are the most important aspects of anemia prevention strategies. Good behavior is based on adequate knowledge, as poor knowledge triggers bad behavior. Behavioral factors play a statistical role in preventing anemia, but knowledge does not show a significant relationship in pregnant women with anemia.Pengetahuan dan Perilaku Pencegahan terhadap Kejadian Anemia Ibu Hamil di Puskesmas SukaindahAbstrak Tujuan: Tingkat kejadian anemia kehamilan di Indonesia sebesar 48.9%. Hal ini merupakan suatu severe public health problem berdasarkan WHO (> 40%). Pengaturan pola makan tinggi zat besi, teratur meminum tablet zat besi, dan rutin melakukan ANC pada kehamilan trimester awal ialah faktor penting mengurangi kejadian anemia pada ibu hamil. Perilaku atau tindakan seseorang dibentuk berdasarkan pengetahuan (knowlegde) atau kognitif. Studi ini bertujuan mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan perilaku selama hamil terhadap kejadian anemia. Metode: Studi deskriptif analitik dengan metode cross sectional ini berpopulasi pada ibu hamil yang melakukan pemeriksaan ANC di Puskesmas Sukaindah selama bulan September dan Oktober 2023 dan melakukan pemeriksaan hemoglobin. Pemilihan sampel secara consecutive sampling didapatkan 78 responden Ibu hamil. Modifikasi kuesioner yang sudah tervalidasi terdiri dari dua puluh pertanyaan untuk pengetahuan dan sebelas pertanyaan untuk perilaku. Hasil: Seluruh responden didominasi dengan pengetahuan buruk (83%) dan perilaku yang cukup (61.5%). Studi menunjukkan terdapat hubungan antara perilaku selama hamil dan kejadian anemia (p value = 0.025), namun tingkat pengetahuan tidak berhubungan secara signifikan (p value = 0.277). Ibu dengan pengetahuan yang baik (33%) dan cukup (55%) berhubungan secara signifikan (p value= 007) menghasilkan perilaku pencegahan yang baik. Konsumsi rutin tablet tambah darah berperan sebagai pencegahan kejadian anemia ibu hamil (mean: 1.38) Kesimpulan: Perilaku yang baik didasari oleh pengetahuan yang cukup, begitu juga dengan perilaku buruk dipicu oleh kurangnya pengetahuan. Faktor perilaku berperan secara statistik mencegah kejadian anemia, namun pengetahuan tidak menunjukkan hubungan bermakna pada ibu hamil dengan anemia.Kata kunci: Anemia, Kehamilan, Pengetahuan, Perilaku.
Recurrent Gonococcal Vulvovaginitis in Child: An Interesting Case Report Harjito, Vanessa Natasha; Tjahyadi, Dian; Syam, Hanom Husni; Susilo, Artha Falentin Putri
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.769

Abstract

Introduction: Vulvovaginitis is a common complaint found in gynecology outpatient clinics in prepubertal children. Gonorrhea infection in children often manifests as vulvovaginitis. The etiology of vulvovaginitis in children can be infectious and non-infectious. Complete anamnesis, appropriate physical examination, and supporting laboratory examinations are needed to determine the etiology of vulvovaginitis in patients so that therapy can be given according to the etiology.Case presentation: A 7-year-old girl was diagnosed with recurrent gonorrhea vulvovaginitis. The patient has received therapy according to the guidelines for the management of uncomplicated gonorrhea, namely single-dose ceftriaxone, single-dose cefixime, and single-dose azithromycin, but re-infection occurred. The complication in the patient was malnutrition. The patient had a history of enterobiasis and complained of worms coming out of the vagina. Therefore, fistulography and vaginoscopy procedures were performed with normal results. Conclusion: Comprehensive and multidisciplinary management of gonorrhea vulvovaginitis in children is needed to prevent recurrence and anticipate complications that may occur later. Appropriate guidance and counseling should be provided, and prevention of future episodes should be considered.Vulvovaginitis Gonore Rekuren pada Anak: Sebuah Laporan Kasus Menarik di Rumah Sakit Hasan Sadikin BandungAbstrakPendahuluan: vulvovaginitis merupakan keluhan yang sering ditemukan pada anak prepubertas di poliklinink ginekologi. Infeksi gonore pada anak-anak sering bermanifestasi sebagai vulvovaginitis. Etiologi vulvovaginitis pada anak dapat berupa infeksi dan non-infeksi. Anamnesis lengkap, pemeriksaan fisik yang sesuai, dan pemeriksaan penunjang laboratorium diperlukan untuk menentukan etiologi vulvovaginitis pada pasien sehingga dapat diberikan terapi sesuai dengan etiologinya. Presentasi kasus: seorang anak perempuan berusia 7 tahun didiagnosis dengan vulvovagitis gonore rekuren. Pasien telah mendapatkan terapi sesuai dengan pedoman tata laksana gonore non-komplikata, yaitu ceftriaxone dosis tunggal, cefixime dosis tunggal, dan azitromisisn dosis tunggal, namun terjadi re-infeksi. Penyulit pada pasien adalah malnutrisi. Pasien memiliki riwayat enterobiasis dan mengeluhkan keluar cacing dari vagina. Oleh karena itu, dilakukan prosedur fistulografi dan vaginoskopi dengan hasil normal. Kesimpulan: tata laksana vulvovaginitis gonore pada anak yang komprehensif dan multidisiplin diperlukan untuk mencegah terjadinya rekurensi dan mengantisipasi komplikasi yang mungkin terjadi di kemudian hari. Panduan dan konseling yang tepat harus diberikan, serta pencegahan episode di masa depan harus dipertimbangkan.Kata Kunci: Anak, Infeksi Gonore Rekuren, Vulvovaginitis
High Level of Anti-Mullerian Hormone (AMH) as Predictor FOR Polycystic Ovary Syndrome among Women Women of Reproductive Age at Giri Emas Public Hospital Edelweishia, Melissa; Satriyasa, Bagus Komang; Widianti, I Gusti Ayu; Pangkahila, J. Alex; Karmaya, I Nyoman Mangku; Wijaya Surya, I Gede Ngurah Harry
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.812

Abstract

Introduction: Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) is the most prevalent endocrine condition in women, affecting 5 – 10% of women who are of reproductive age. Together with other Rotterdam criteria, elevated blood AMH levels are considered a significant diagnostic for PCOS and may be used as a powerful predictor to reflect the certainty of the diagnosis of PCOS in women of reproductive age. Objective: This study aims to prove high AMH as a predictor for PCOS.Methods: This study is an analytic study with a case-control study design. A total of 30 respondents were divided into PCOS and control groups. All women were subjected to anthropometric assessments such as measurement of height, weight, BMI, and trans-abdominal ultrasonography for ovaries. Data analysis was carried out using independent t-tests and Chi-Square tests.Result: The data analysis revealed that the PCOS group’s mean AMH levels were considerably different (p<0.05), with 6.5±1.75 greater than the control group’s 3.34±0.64. AMH levels were found to be twice as high in the PCOS group as in the control group. AMH levels and PCOS incidence were compared using the Chi-Square test; the odd ratio is 17.875 (95% CI = 2.73 -116.8; p=0.001).Conclusion: High levels of AMH at reproductive age can 18 times predict the risk of PCOS.Kadar Antimullerian Hormon (AMH) Tinggi sebagai Prediksi Sindrom Polikistik Ovarium pada Wanita Usia Reproduksi di RSUD Giri EmasAbstrakPendahuluan: Sindrom Ovarium Polikistik (SOPK) merupakan kelainan endokrin yang menyerang kira-kira 5 - 10% wanita usia subur dan dianggap sebagai kelainan endokrin yang paling umum pada wanita. Kadar AMH serum yang meningkat saat ini dianggap sebagai penanda penting untuk SOPK dan dapat digunakan sebagai prediktor kuat untuk mencerminkan kepastian diagnosis SOPK pada wanita usia subur bersama dengan kriteria Rotterdam lainnya. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan kadar AMH yang tinggi sebagai prediktor SOPK. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain studi kasus kontrol. Sebanyak 30 responden akan dibagi menjadi kelompok SOPK dan kelompok kontrol. Semua wanita menjalani penilaian antropometri seperti pengukuran tinggi badan, berat badan, BMI, dan ultrasonografi trans-abdominal untuk ovarium. Analisis data dilakukan dengan uji t independen dan uji Chi-Square. Hasil: Analisis data menunjukkan rerata kadar AMH pada kelompok SOPK lebih tinggi 6,5±1,75 dibandingkan dengan kontrol 3,34±0,64 dan berbeda bermakna (p<0,05). Ditemukan kadar AMH pada kelompok SOPK dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol. Untuk mengetahui hubungan kadar AMH dengan kejadian PCOS digunakan uji Chi-Square dan odd ratio menunjukkan 17,875 (95% CI = 2,73 -116,8 ; p=0,001).Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa pada penelitian ini kadar AMH yang tinggi pada usia reproduksi dapat memprediksi risiko PCOS sebesar 18 kaliKata kunci: AMH, PCOS, oligomenorea, hiperandrogen, anovulasi 
Overview of The Risk Factors of Spontaneous Abortus Among Young Pregnancy Woman: A Systemic Review Tan, Zaki Miftah Nalalindra; Irianti, Setyorini; Rakhmilla, Lulu Eva; Ramdhan, Muhammad Raihan; Judistiani, Raden Tina Dewi; Handono, Budi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.741

Abstract

Objective: To identify the risk factors of spontaneous abortus among young pregnancy women.Methods: We used PubMed and ScienceDirect databases and electronic journals such as the American Journal of Obstetrics and Gynecology and the International Journal of Gynecology and Obstetrics. The articles were screened based on inclusion and exclusion criteria. The keywords used for inclusion were “Risk Factors,” “Abortus,” and “Young Maternal Age.” Next, articles were quality assessed using the JBI Critical Appraisal Checklist. The extracted data were presented in the table and narrative synthesis.Result: This review has six studies that has identified the risk factors of spontaneous abortus among young pregnancy woman. The risks were body mass index, maternal habits, infection, coital, and experience of IPV. However, some factors, such as iodine level, are insignificant to spontaneous abortuses. This review also found that infection also had a role in the complications of spontaneous abortus. The limitation of this study was each variable was different in each survey. So, we couldn’t compare each variable to avoid bias from each study.Conclusion: The most affected risk factors of spontaneous abortus among young pregnancy woman are an infection, followed by first coital age, IPV, partner controlling behaviour, BMI, and maternal smoking habit.Faktor Risiko Abortus Spontan pada Kehamilan Usia Muda: Systematic ReviewAbstrakTujuan: Mengidentifikasi faktor risiko abortus spontan pada kehamilan usia muda.Metode: Kami menggunakan database web-based berupa PubMed dan ScienceDirect dan jurnal elektrik berupa American Journal of Obstetrics and Gynecology dan International Journal of Gynecology. Artikel yang didapatkan akan dilakukan skrining berdasarkan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Kata kunci yang digunakan untuk melakukan inklusi berupa “Faktor Risiko”, “Abortus”, dan “Kehamilan Usia Muda”. Selanjutnya, artikel dilakukan penilaian kualitas menggunakan JBI Critical Appraisal Checklist. Data yang diekstrak disajikan dalam bentuk dabel dan narasi.Hasil: Sebanyak 6 penelitian yang ditelaah mengidentifikasi faktor risiko abortus spontan pada kehamilan usia muda berupa indeks massa tubuh, kebiasaan ibu hamil, infeksi, koitus, dan pengalaman kekerasan oleh pasangan. Namun, kadar iodine dalam tubuh tidak memengaruhi secara signifikan kejadian abortus spontan. Penelitian ini juga menemukan bahwa infeksi juga memiliki peran dalam terjadinya komplikasi pada abortus spontan. Keterbatasan pada penelitian ini adalah tidak ada variable yang sama dari artikel ditelaah. Oleh karena itu perbandingan tidak dapat dilakukan untuk mencegah kemungkinan kecenderungan pada penelitian yang ditelaah.Kesimpulan: Faktor risiko yang paling mempengaruhi abortus spontan pada ibu hamil Ketika usia muda adalah infeksi, diikuti dengan usia pada saat koital pertama, kekerasan dari pasangan, kebiasaan mengontrol pasangan, indeks massa tubuh, dan kebiasaan merokok.Kata Kunci: Abortus Spontan, Faktor Risiko, Kehamilan Usia Muda 
Normal Baby Born in Spontaneous Preterm Delivery in Patient with Pregnancy-Associated Breast Cancer: Case Report Disastra, Yuda Putra; Prianto, Adi Setyawan; Sutrisno, Sutrisno; Permadi, Wiryawan
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.764

Abstract

Introduction:Breast cancer during pregnancy is rare, with 2.3 to 40 cases per 100,000 women. It is typically defined as cancer diagnosed during pregnancy or within a year post-delivery. While some argue pregnancy accelerates cancer progression, others see no effect or potential protective benefits. Treating pregnant patients requires balancing the mother's cancer stage and fetal health, as surgery and chemotherapy pose risks like teratogenesis or miscarriage. Timing therapy appropriately remains a major challenge.Case Presentation: A patient, P4A0, presented with spontaneous preterm delivery and a prior history of a total left modified radical mastectomy due to left tubular breast carcinoma (T1aN1M0). She had undergone six cycles of chemotherapy with Cyclophosphamide (876 mg/m²), Epirubicin (80 mg/m²), and 5-Fluorouracil (Lipiforin) (759 mg/m²). Despite receiving chemotherapy, the patient discovered she was pregnant at 33 weeks of gestation. She arrived at the Obstetrics and Gynecology Emergency Department of Prof. Dr. Margono Soekarjo General Hospital during the second stage of labor. A female infant was born, weighing 1950 grams and measuring 44 cm in length, with no detectable congenital anomalies. The patient experienced no complications after delivery and was discharged in stable condition.Conclusion: The main challenge is deciding when to start chemotherapy in pregnant patients, considering risks like miscarriage and teratogenic effects. More research is needed to develop safe chemotherapy guidelines that balance maternal treatment and fetal health.Bayi Normal dengan Partus Prematurus Spontan pada Ibu Hamil dengan Kanker Payudara: Sebuah Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Kanker payudara selama kehamilan jarang terjadi, dengan 2,3 hingga 40 kasus per 100.000 wanita. Kondisi ini biasanya didefinisikan sebagai kanker yang didiagnosis selama kehamilan atau dalam satu tahun setelah melahirkan. Beberapa ahli berpendapat bahwa kehamilan dapat mempercepat perkembangan kanker, sementara yang lain berpendapat bahwa kehamilan tidak memiliki pengaruh signifikan atau bahkan memberikan manfaat perlindungan tertentu. Penanganan pasien hamil memerlukan keseimbangan antara stadium kanker ibu dan kesehatan janin, karena operasi dan kemoterapi membawa risiko seperti teratogen atau keguguran. Penentuan waktu terapi yang tepat tetap menjadi tantangan utama.Presentasi Kasus: Seorang pasien, P4A0, datang dengan persalinan prematur spontan dan riwayat sebelumnya menjalani mastektomi radikal modifikasi total di sisi kiri karena karsinoma payudara tubular kiri (T1aN1M0). Pasien telah menjalani enam siklus kemoterapi dengan Cyclophosphamide (876 mg/m²), Epirubicin (80 mg/m²), dan 5-Fluorouracil (Lipiforin) (759 mg/m²). Meskipun menjalani kemoterapi, pasien baru mengetahui bahwa dirinya hamil pada usia kehamilan 33 minggu. Pasien tiba di IGD Obstetri dan Ginekologi RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo dalam tahap kedua persalinan. Seorang bayi perempuan lahir dengan berat badan 1950 gr dan panjang 44 cm, tanpa kelainan bawaan yang terdeteksi. Pasien tidak mengalami komplikasi setelah persalinan dan dipulangkan dalam kondisi stabil.Kesimpulan: Tantangan utama adalah menentukan waktu yang tepat untuk memulai kemoterapi pada pasien hamil, dengan mempertimbangkan risiko seperti keguguran dan efek teratogenik. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengembangkan pedoman kemoterapi yang aman, yang dapat menyeimbangkan untuk Kesehatan ibu dan janin.Kata kunci: Kanker Payudara, Kehamilan, Kemoterapi, Teratogen
Diagnosis and Management of Antepartum Bleeding in Primary Health Care Winata, I Gde Sastra; Mahendrata, Prayascita; Intizam, Marwa Humaira; Astawa, I Made Mulya
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.768

Abstract

Objective: Antepartum bleeding, occurring in the second or third trimester of pregnancy, is a critical obstetric concern. This literature review explores diagnostic and management strategies for antepartum bleeding within primary health care settings. Method: This study employs a literature review methodology. Data were gathered from articles published between 2010 and 2024, accessed through PubMed and ScienceDirect.Result: Early identification and timely management of antepartum bleeding are essential in minimizing maternal and fetal morbidity and mortality. This review examines diagnostic approaches, including clinical assessments, ultrasonography, and laboratory investigations, with a focus on their accessibility within primary care environments. Management strategies, ranging from expectant care to emergency interventions, are discussed, alongside the critical role of primary care providers in stabilizing patients, ensuring prompt referrals, and providing continuous care.Conclusion: The review concludes by advocating for standardized protocols and enhanced training for primary care practitioners to improve the management of antepartum bleeding.Diagnosis dan Penatalaksanaan Perdarahan Antepartum di Layanan Kesehatan PrimerAbstrakTujuan: Perdarahan antepartum, yang terjadi pada trimester kedua atau ketiga kehamilan, merupakan perhatian serius dalam perawatan obstetri. Tinjauan literatur ini mengeksplorasi strategi diagnosis dan penatalaksanaan perdarahan antepartum di layanan kesehatan primer. Metode : Penelitian ini merupakan literatur review. Data penelitian diperoleh dari publikasi artikel di tahun 2010 – 2024 yang diakses melalui PubMed and ScienceDirect. Hasil: Identifikasi dini dan penatalaksanaan tepat waktu sangat penting untuk meminimalkan morbiditas dan mortalitas ibu serta janin. Pendekatan diagnostik, termasuk penilaian klinis, ultrasonografi, dan pemeriksaan laboratorium, ditinjau dengan penekanan pada aksesibilitasnya di lingkungan pelayanan primer. Selain itu, protokol manajemen, mulai dari penanganan ekspektatif, hingga intervensi darurat juga diulas. Peran penyedia layanan kesehatan primer dalam menstabilkan pasien, memastikan rujukan tepat waktu, dan memberikan perawatan lanjutan sangat ditekankan. Kesimpulan: Tinjauan ini menyimpulkan dengan menganjurkan adanya protokol standar dan peningkatan pelatihan bagi praktisi layanan kesehatan primer untuk lebih baik menangani perdarahan antepartum.Kata kunci : Antepartum, gawat darurat, kehamilan, perdarahan
An Overview of Side Effects on Post-Placental IUD Acceptors by Independent Practice Midwives in Jembrana Regency Wati, Ni Putu Eka Yadnya; Darmayasa, I Made
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.785

Abstract

Objective: Women who have given birth three or more times will be advised to use the Long-Acting Reversible Contraceptives (LARCs) to avoid the risk of complications in both mother and baby. One of the most widely used LARCs is the Intrauterine Device (IUD); however, the use of IUDs in Indonesia is recorded low. IUD acceptors in Couples of Childbearing Age in Indonesia in 2022 were still very low, i.e., 7.7% of the total 27.3 million couples, while data in Bali Province in 2022 showed the number of IUD users with a percentage of 32.3% of the total 777,016 couples; while in Jembrana Regency, it was 23.6% of the total 48,471 couples. The insertion of a post-placental IUD is one of the opportunities to prevent unplanned or unwanted pregnancies. This research was conducted to get an overview of side effects on Post-placental IUD acceptors conducted by Independent Practice Midwives in Jembrana Regency. Methods: This study uses descriptive research describing post-placental IUD acceptors by independent practice midwives. The samples include 75 data obtained from the delivery register of Independent Practice Midwives in Jembrana Regency who served postpartum IUDs from January 2021 to November 2024. Results: The characteristics of post-placental IUD acceptors are 76% at the age group of 20-35 years and 77.3% working mothers or taking care of the household. Moreover, 78.7% completed secondary education, 62.7% have more than one child, and 60% have used IUDs for more than 1 year. IUDs were reported to cause long period of menstruation (13.3% of respondents), cause abdominal pain (9.3% of respondents), have respondents to replace IUDs with other contraceptive methods (8% of respondents), and experience expulsion. Conclusion: Post-placental IUD insertion by Independent Practice Midwives in Jembrana Regency is effective resulting in low side effects, expulsion, and failure.Gambaran Eefek Samping Pada Akaseptor IUD Pasca-Plasenta oleh Bidan Praktek Mandiri di Kabupaten JembranaAbstrakTujuan: Ibu yang melahiran tiga kali atau lebih akan disarankan menggunakan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) karena berisiko mengalami komplikasi baik pada ibu maupun bayi. Salah satu MKJP yang banyak digunakan adalah Intra Uterine Device (IUD). Namun, pengguna IUD secara nasional masih rendah. Akseptor IUD pada pasangan usia subur (PUS) di Indonesia tahun 2022 masih sangat rendah yaitu 7,7% dari total 27.3 juta PUS, sedangkan data di Provinsi Bali tahun 2022 menunjukkan jumlah pengguna IUD dengan persentase 32,3% dari total 777.016 jumlah Pasangan Usia Subur (PUS), dan di Kabupaten Jembrana 23,6% dari total 48.471 jumlah PUS. Pemasangan IUD pasca-plasenta menjadi salah satu kesempatan untuk mencegah terjadinya kehamilan yang tidak direncanakan atau dikehendaki. Penelitian ini dilakukan agar mendapat gambaran efek samping pada akseptor IUD pasca-plasenta yang dilakukan oleh Bidan Praktik Mandiri di Kabupaten Jembrana.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dari data akseptor IUD pasca-plasenta yang dipasang oleh Bidan Praktik Mandiri (BPM). Sampel yang digunakan adalah 75 sampel dengan data didapatkan dari register persalinan Bidan Praktik Mandiri di Kabupaten Jembrana yang melayani IUD pascasalin rentang Januari 2021-November 2024.Hasil: Karakteristik akseptor IUD pasca-plasenta didapatkan menurut usia 76% merupakan wanita usia subur kelompok usia 20 - 35 tahun, dan 77,3 % sebagai ibu bekerja mengurus rumah tangga. Sebanyak 78,7% menyelesaikan pendidikan paling banyak adalah level menengah, menurut jumlah anak 62.7% merupakan multipara, dan 60% telah memakai IUD lebih dari 1 tahun. Efek samping penggunaan IUD dilaporkan haid yang lama, yaitu sebanyak 13.3 % responden dan nyeri perut sebesar 9.3% responden. Sedangkan kegagalan IUD menyebabkan 8% responden mengganti IUD dengan metode kontrasepsi lain dan 1.3% responden mengalami ekspulsi.Kesimpulan: Pemasangan IUD pasca-plasenta oleh Bidan Praktik Mandiri di Kabupaten Jembrana efektif dengan efek samping, ekspulsi, dan kegagalan yang rendah.Kata kunci: efek samping, IUD pasca-plasenta, kegagalan