cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 372 Documents
Complex Obstetric Case Report: Multigravida at 36 Weeks with Imminent Premature Delivery, Hansen's disease, and Prior Cesarean Section Sangjaya, Arif; Bernolian, Nuswil; Mafiana, Rose
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i1.614

Abstract

Hansen’s disease, or leprosy, is a chronic granulomatous infection caused by the obligate intracellular bacterium Mycobacterium leprae. Pregnancy triggers leprosy in 10–25% of women because of immune disturbances, which affect the disease’s course. This study reports the case of a 26-year-old pregnant woman who presented with the chief complaint of abdominal cramps with a contraction every 10 min. The patient admitted to experience vaginal discharge since the onset of pregnancy, without itching or odor. She also revealed a history of leprosy since 2020, which manifested as lumps around the ears, face, and legs, along with numbness at the extremities. She started treatment in 2021 with multi-drug therapy (MDT) but self-discontinued at 14 weeks of pregnancy because of nausea and weakness. The management plan includes dexamethasone ( 12 mg ) intramuscularly to enhance fetal lung maturity, nifedipine ( 10 mg ) every 6 h to suppress preterm contractions, and dermatovenereological assessment to address the patient’s history of Hansen’s disease. A joint conference is planned to discuss and coordinate the management approach. This study underscores the importance of proper management with WHO-recommended multidrug therapy (MDT) comprising rifampicin, dapsone, and clofazimine. Overall, effective management strategies are crucial to prevent permanent nerve, skin, limb, and eye damage in mothers and infants affected by leprosy.Laporan Kasus: Multigravida Hamil 36 Minggu dengan Partus Prematurus Imminens, Morbus Hansen, dan Bekas Sectio CessariaAbstrakPenyakit Hansen, atau lepra, adalah infeksi granulomatosis kronis yang disebabkan oleh bakteri intraselular obligat Mycobacterium leprae. Kehamilan memicu kusta pada 10–25% wanita karena adanya gangguan imunitas yang memengaruhi perkembangan penyakit. Studi ini melaporkan kasus seorang wanita hamil berusia 26 tahun yang datang dengan keluhan utama nyeri perut dengan kontraksi setiap 10 menit. Pasien mengakui mengalami keluarnya cairan vagina yang tidak bau maupun disertai gatal sejak awal kehamilan. Pasien memilliki riwayat penyakit Hansen sejak 2020, yang ditandai dengan benjolan di sekitar telinga, wajah, dan kaki, bersama dengan mati rasa di ujung anggota tubuh. Pasien memulai pengobatan pada 2021 dengan multidrug therapy (MDT) tetapi menghentikannya sendiri pada usia kehamilan 14 minggu karena mual dan rasa lemah yang dirasakan. Rencana tatalaksana mencakup pemberian Deksametason 12 mg intramuskular untuk meningkatkan kematangan paru-paru janin, Nifedipin 10 mg setiap 6 jam untuk menekan kontraksi prematur, dan evaluasi dermatovenereologi untuk mengatasi riwayat penyakit Hansen pada pasien. Konferensi bersama direncanakan untuk membahas dan mengkoordinasikan pendekatan pengelolaan. Studi ini menekankan pentingnya pengelolaan yang tepat, dengan MDT yang direkomendasikan oleh WHO yang terdiri dari rifampisin, dapsone, dan clofazimin. Secara keseluruhan, strategi pengelolaan yang efektif sangat penting untuk mencegah kerusakan saraf, kulit, mata, dan anggota tubuh permanen baik pada ibu maupun bayi yang terkena penyakit ini.Kata kunci: Penyakit Hansen, persalinan prematur, diagnosis. 
Comparison of Maternal and Perinatal Outcomes between Severe Preeclampsia without Complications and with HELLP Syndrome Riva, Salma Nisrina; Pribadi, Adhi; Siddiq, Amillia
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.719

Abstract

Introduction: Maternal and perinatal outcomes in severe preeclampsia conditions, without or accompanied by HELLP syndrome, are variable. There is currently a lack of research data in Indonesia comparing maternal and perinatal outcomes in both conditions. This study compares pregnancy outcomes between severe preeclampsia with no complications and severe preeclampsia with HELLP syndrome.Methods: This study employs an observational analytical approach, utilizing a retrospective cross-sectional design. The samplings contain 92 patients from the medical records of patients who were diagnosed with preeclampsia without complications and severe preeclampsia with HELLP syndrome at Hasan Sadikin Hospital Bandung from January 2021 to December 2023.Results: It was found that maternal with HELLP syndrome are five times more at risk for eclampsia compared to maternal with preeclampsia without complications. Maternal who have severe preeclampsia accompanied by HELLP are two times more at risk of having labor under 34 weeks or preterm compared to maternal with preeclampsia without complications. Other outcomes, including maternal mortality, DIC, acute renal failure, pulmonary edema, antepartum hemorrhage, as well as perinatal mortality, FGR, IUFD, and perinatal asphyxia, did not show a statistically significant difference in proportion (p > 0.05).Conclusion: There is a relationship between maternal and perinatal outcomes in severe preeclampsia without complications or with HELLP syndrome.Perbandingan Luaran Maternal dan Perinatal antara Preeklamsia Berat Tanpa Penyulit dan dengan Sindrom HELLPAbstrakPendahuluan: Luaran maternal dan perinatal pada kondisi preeklamsia berat, tanpa dan dengan sindrom HELLP, tergolong bervariasi. Saat ini masih minim data penelitian di Indonesia yang membandingkan hasil luaran maternal dan perinatal pada kedua kondisi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan luaran kehamilan antara preeklamsia berat tanpa komplikasi dan preeklamsia berat dengan Sindrom HELLP. Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik observasional dengan desain potong lintang retrospektif. Sampel penelitian ini adalah 92 pasien dari rekam medis pasien yang didiagnosis preeklamsia tanpa komplikasi dan preeklamsia berat dengan Sindrom HELLP di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung pada periode Januari 2021 hingga Desember 2023.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu dengan sindrom HELLP berisiko lima kali lebih besar untuk mengalami eklampsia dibandingkan dengan ibu dengan preeklampsia tanpa komplikasi. Ibu yang mengalami preeklampsia berat disertai HELLP berisiko dua kali lebih besar untuk mengalami persalinan di bawah 34 minggu atau prematur dibandingkan dengan ibu yang mengalami preeklampsia tanpa komplikasi. Luaran lain seperti kematian ibu, DIC, gagal ginjal akut, edema paru, perdarahan antepartum dan juga kematian perinatal, FGR, IUFD, asfiksia perinatal tidak ada perbedaan proporsi yang bermakna secara statistik (p>0,05).Kesimpulan: Terdapat hubungan luaran maternal dan perinatal antara preeklamsia berat tanpa komplikasi atau dengan sindrom HELLP.Kata kunci: Luaran Maternal, Perinatal, Sindrom HELLP
Laporan Kasus: Empty Follicle Syndrome pada Siklus Fertilisasi In-Vitro Rusly, Dewi Karlina; Anwar, Ruswana; Setiawan, Alvin; Nulianti, Rina; Tjandraprawira, Kevin Dominique
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i1.590

Abstract

Pendahuluan: Empty follicle syndrome (EFS) adalah suatu kondisi langka, yaitu tidak terdapatnya oosit pada folikel ovarium yang matang saat tindakan ovum pick-up (OPU). Prevalensi kasus ini berkisar 2,7%. Tujuan: Mengkaji kasus jarang yang terjadi pada siklus Fertilisasi In-Vitro (IVF) yang dilakukan stimulasi ovarium terkontrol.Metode: Laporan kasus pada program IVF siklus pertama yang diberikan stimulasi dengan menggunakan short protocol pemberian human recombinant follicle stimulating hormone (rFSH) 150 IU sejak hari ke-2 sampai dengan hari ke-12 dan cetrotide 0.25 mg pada hari ke-7 hingga hari ke-12 dilanjutkan dengan trigger menggunakan choriogonadotropin alfa 250 μg.Hasil: Perempuan berusia 30 tahun dengan infertilitas 4 tahun, mengikuti program IVF siklus I, dan diberikan stimulasi ovarium terkontrol dengan short protocol menggunakan rFSH 150 IU. Pada hari ke-12 didapatkan 10 folikel pada kedua ovarium, dengan estradiol >3000 pg/ml dan progesteron 0,94 ng/ml. Diputuskan untuk dilakukan trigger dengan choriogonadotropin alfa 250 μg. Setelah 36 jam trigger diberikan dan dilakukan OPU tidak didapatkan satu pun oosit pada cairan folikel tersebut, baik yang matur maupun yang imatur. β-hCG serum pasca-OPU adalah 2,3 mIU/ml. Pasien ditegakkan dengan diagnosis Empty Follicle Syndrome. Kesimpulan. Penegakan diagnosis Empty Follicle Syndrome masih menjadi kontroversial, salah satu etiologinya adalah kadar HCG yang rendah pasca-trigger. Pasien direncanakan untuk IVF ulang dengan batch trigger berbeda dan evaluasi serum β-hCG 36 jam pasca-trigger (sebelum OPU), dan pengulangan trigger bila serum level belum adekuat.Case Report: Empty Follicle Syndrome in an In-Vitro Fertilization CycleAbstractIntroduction: Empty follicle syndrome (EFS) is a rare condition in which no oocytes could be retrieved from mature ovarian follicles during ovum pick-up (OPU). Its prevalence ranges from 2,7%.Objective: To review a rare case of In-Vitro Fertilization (IVF) cycle undergoing controlled ovarian hyperstimulation (COH).Method: This is a case report of a first cycle IVF program that was stimulated using a short protocol of human recombinant follicle stimulating hormone (rFSH) 150 IU from day 2 to 12 and cetrotide 0.25 mg on day 7 to 12 followed by triggering using choriogonadotropin alpha 250 μg.Results: A 30-year-old female with 4 years of primary infertility, was enrolled in her first IVF cycle, and was undergoing COH with short protocol using 150 IU rFSH. On day 12, 10 follicles were found on both ovaries, with favorable oestradiol >3000 pg/ml and progesterone 0.94 ng/ml levels. A trigger of 250 micrograms of choriogonadotropin alpha was administered. During oocyte retrieval, no oocyte (mature or immature) was present in the follicular fluid. Post OPU β-hCG serum was 2.3 mIU/ml. The patient was diagnosed with EFS. Conclusion: The diagnosis of EFS is still controversial with an etiology being post-trigger low HCG level. The patient was recommended to undergo a repeat IVF cycle with a different batch of triggers and evaluation of serum β-hCG before OPU, and a repeat trigger if serum levels were not adequate.Key words: Empty follicle syndrome, β-hCG, Oocytes, Trigger, Ovum Pick-Up 
Neutrophil- Lymphocyte Ratio (NLR) and Platelet- Lymphocyte Ratio (PLR) as Inflammatory Markers in Preterm Birth Izzah, Muthiah Nurul; Sumawan, Herman; Achmad, Eppy Darmadi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.671

Abstract

Introduction: Preterm births make up roughly 16–18% of all live births in Indonesia. One of the factors that contribute to preterm birth is inflammation. The study aimed to assess the role of platelet/lymphocyte ratio (PLR) and neutrophil/lymphocyte ratio (NLR) as inflammatory markers in preterm birth. Method: This is a cross-sectional retrospective Study. Data were collected from medical records at Margono Soekarjo Hospital, January 2022-February 2023. The cohort comprised 150 participants with singleton pregnancies, ranging from 28 to less than 37 weeks of gestation, divided into three groups: preterm birth without preterm premature rupture of membranes (PPROM), preterm birth with PPROM, and threatened preterm labor (TPL). Multivariate ANOVA tests were employed for data analysis. Result: There was a statistically significant difference NLR values , notably in preterm births without PPROM compared to other groups (p value < 0.005), whereas the only difference noted in PLR values was noted between preterm births with and without PPROM. Our finding differs from that of previous studies, which indicated higher NLR values in preterm births with PPROM.Conclusion: NLR and PLR have the potential to be used as inflammatory markers indicative of heightened risk of preterm birth.Rasio Neutrofil-Limfosit (RNL) dan Rasio Platelet-Limfosit (RPL) sebagai Penanda Inflamasi pada Persalinan PrematurAbstrakPendahuluan: Angka kejadian persalinan prematur di Indonesia mencakup 16-18% dari semua kelahiran hidup. Inflamasi atau infeksi dianggap sebagai salah satu penyebab persalinan prematur. Penelitian ini bertujuan untuk menilai peran rasio trombosit/limfosit (PLR) dan rasio neutrofil/limfosit (NLR) sebagai penanda inflamasi pada kelahiran premature.Metode: Penelitian merupakan studi retrospektif cross-sectional. Data dikumpulkan dari rekam medis RSUD Margono Soekarjo periode Januari 2022 - Februari 2023. Didapatkan 150 pasien hamil tunggal dengan rentang usia kehamilan 28 hingga kurang dari 37 minggu yang terbagi dalam tiga kelompok: kelahiran prematur tanpa ketuban pecah dini (KPD), kelahiran prematur dengan KPD, dan ancaman persalinan prematur. Tes ANOVA multivariat digunakan untuk analisis data.Hasil: Terdapat perbedaan nilai NLR yang signifikan secara statistik, terutama pada kelahiran prematur tanpa KPD dibandingkan dengan kelompok lain (nilai p <0,005), sedangkan perbedaan nilai PLR hanya terdapat pada kelahiran prematur dengan dan tanpa KPD. Temuan kami berbeda dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan nilai NLR lebih tinggi pada kelahiran prematur dengan KPD.Kesimpulan: NLR dan PLR berpotensi digunakan sebagai penanda inflamasi yang mengindikasikan peningkatan risiko kelahiran prematur.Kata kunci: NLR, PLR, persalinan prematur
Characteristics of Endometrioma Recurrence Patients Maharani, Chintia Dewi; Bayuaji, Hartanto; Syam, Hanom Husni; Ritonga, Mulyanusa Amarullah; Mantilidewi, Kemala Isnainiasih; Rinaldi, Andi; Pratiwi, Yuni Susanti
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 3 November 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v6i3.576

Abstract

Objective: To identify the characteristics of endometrioma recurrence cases. Method: This study was a descriptive retrospective, using secondary data taken from all medical records of Clinic Aster and Medical Records Installation in Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, from 1st January 2018 – 31st December 2022. Data were presented in tables.Results: Of the 37 endometrioma recurrences, most of the patients are 20 to 35 in age. None of them has a parity history after the first surgical procedure. Both previous and recent cases are dominantly unilateral endometriomas. The history of postoperative medication is higher (54,1%). Obstetricians/Gynecologists appear to perform the most surgical procedure (67,6%). Mass is the main clinical manifestation of the recurrence. While menstrual and BMI profiles appear to be normal.Conclusions: The characteristic of the recurrence of endometrioma is related parity status after the first surgery, history of the previous medical treatment, and previous form of endometrioma are related to the current characteristic of endometrioma (age, lesion form, clinical manifestation, and recurrence interval).Karakteristik Pasien Endometrioma RekurenAbstrakTujuan: Mengetahui karakteristik dari pasien endometrioma rekuren.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskripsi retrospektif dengan menggunakan data sekunder yang diambil dari seluruh rekam medis pasien kista endometriosis rekuren di Klinik Aster dan Instalasi Rekam Medis di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung dengan periode 1 Januari 2018 – 31 Desember 2022. Kemudian, data-data disajikan dalam bentuk tabel.                                                                                . Hasil: Dari 37 kasus e ndometrioma rekuren, sebagian besar pasien berusia 20 hingga 35 tahun. Seluruh pasien tidak mempunyai riwayat paritas setelah prosedur pembedahan sebelumnya. Baik kasus-kasus kista endometriosis sebelumnya maupun yang kambuh, keduanya dominan dalam bentuk unilateral. Riwayat pengobatan pasca operasi lebih tinggi (54,1%). Dokter Spesialis Obstetri/Ginekologi tampak melakukan tindakan pembedahan terbanyak (67,6%). Massa adalah manifestasi klinis utama dari kekambuhan. Selain itu, profil menstruasi dan BMI tampak normal.Kesimpulan: Karakteristik pada endometrioma rekuren berkaitan dengan status paritas setelah operasi pertama, riwayat pengobatan medis sebelumnya, dan bentuk endometrioma sebelumnya berhubungan dengan karakteristik endometrioma saat ini (usia, bentuk lesi, manifestasi klinis, dan rentang rekurensi)Kata kunci: karakteristik, rekuren, endometrioma
Effect of Vitamin D Supplementation in Women with Pelvic Floor Dysfunction: A Systematic Review Yanuaristi, Herdifitrianne Saintissa; Idhar, Syauqi Maulana; Rahman, Muhammad Nurhadi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.641

Abstract

Objective: This review systematically analyzes and summarizes existing studies on the association between vitamin D supplementation and symptoms of Pelvic Floor Dysfunction (PFD) in women. Methods: We conducted a comprehensive literature search based on the Preferred Reporting Items for Systematic Review (PRISMA) Statements’ flow diagram for systematic review. Two independent reviewers searched five online databases using keywords to identify relevant studies from 2018-2023. Excluded were articles with populations other than women, case reports or case series, review papers, and studies that did not report vitamin D supplementation as a means of intervention in the study.Result: After identifying 2392 references, 13 studies were examined. Three studies explored the correlation between vitamin D supplementation and levator ani muscle strength, revealing a positive association. Results on vitamin D’s effect on urinary incontinence varied: five studies reported a negative correlation, while three showed significant improvement. Two studies indicated that vitamin D supplementation improved sexual function in the intervention group compared to the control group.Conclusion: Current evidence suggests that vitamin D supplementation is a potential strategy for the prevention and treatment of PFD in women, but relevant studies are severely available.Efek Suplementasi Vitamin D pada Wanita dengan Disfungsi Dasar Panggul: Tinjauan SistematikAbstrakTujuan: Tinjauan ini bertujuan untuk menganalisis secara sistematis studi yang ada dan meringkas data yang menunjukkan hubungan antara suplementasi vitamin D dan wanita dengan gejala disfungsi dasar panggul.Metode: Pada penelitian ini, dilakukan pencarian literatur yang komprehensif berdasarkan diagram alir Preferred Reporting Items for Systematic Review (PRISMA) untuk tinjauan sistematis. Dua pengulas independen mencari lima basis data daring menggunakan kata kunci untuk mengidentifikasi studi yang relevan dari tahun 2018 – 2023. Artikel dengan populasi selain wanita, laporan kasus atau seri kasus, makalah ulasan, dan studi yang tidak melaporkan suplementasi vitamin D sebagai sarana intervensi dalam studi dikecualikan.Hasil: Setelah mengidentifikasi 2394 referensi dan 13 studi ditinjau. Tiga studi melaporkan korelasi antara suplementasi vitamin D dan kekuatan otot levator ani, mengungkapkan hubungan positif. Namun, hasil mengenai dampak vitamin D pada inkontinensia urin bervariasi: lima studi melaporkan korelasi negatif, sementara tiga menunjukkan perbaikan signifikan. Dua studi menunjukkan bahwa suplementasi vitamin D meningkatkan fungsi seksual pada kelompok intervensi dibandingkan dengan kelompok kontrol.Kesimpulan: Bukti saat ini menunjukkan bahwa suplementasi vitamin D merupakan strategi pencegahan dan pengobatan yang potensial untuk wanita dengan disfungsi dasar panggul, tetapi penelitiannya masih sangat terbatas.Kata kunci: Vitamin D, Disfungsi Dasar Panggul, Prolaps, Inkontinensia
Korelasi Kekuatan Otot Menggenggam dengan Otot Levator Ani pada Penderita Prolapsus Organ Panggul Ula, Lulu Nurul; Effendi, Jusuf Sulaeman; Sasotya, R.M. Sonny
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 3 November 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v6i3.538

Abstract

Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan kekuatan otot levator ani dan otot menggenggam sebelum dan sesudah pemberian analog vitamin D3 (alfacalcidol) dan mengetahui korelasi antara kekuatan kontraksi otot levator ani dan kekuatan kontraksi otot menggenggam pada penderita prolapsus organ panggul.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental quasi dengan rancangan sebelum dan sesudah pemberian alfacalcidol pada pasien prolapsus organ panggul. Dilakukan pengukuran kekuatan otot levator ani menggunakan perineometer dan otot menggenggam menggunakan handgrip dynamometer sebelum dan sesudah pemberian alfacalcidol selama 3 bulan. Penelitian dilakukan di Poliklinik Ginekologi FKUP/RSHS bulan Januari-Juli 2021. Hasil: Dilakukan pemberian suplementasi alfacalcidol selama 3 bulan pada 24 penderita prolapsus organ panggul. Hasil evaluasi menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna secara statistik (nilai p<0,001) pada sebelum dan sesudah pemberian suplementasi alfacalcidol yaitu terjadi peningkatan kekuatan otot levator ani (rerata pre= 9,94±3,56 dan pasca= 19,67±3,61) dan  terdapat peningkatan kekuatan otot menggenggam (rerata pre= 15,39±3,29 dan pasca= 23,90±3,67). Hasil penelitian ini menemukan adanya korelasi antara peningkatan kekuatan kontraksi otot levator ani dan kekuatan kontraksi otot menggenggam (nilai p<0,01) yang memiliki keeratan hubungan yang moderat (nilai R pre= 0,532 dan pasca= 0,618).Simpulan: Suplementasi alfacalcidol dapat meningkatkan kekuatan kontraksi otot levator ani dan otot menggenggam pada penderita prolaps organ panggul. Terdapat korelasi yang bermakna dengan hubungan moderat pada kekuatan kontraksi otot levator ani dengan kekuatan kontraksi otot menggenggam pada penderita prolapsus organ panggul.Correlation of Grip Muscle Strength With Levator Ani Muscle  In Patients With Pelvic organ ProlapseAbstractobjective: This study was to evaluate the differences of the levator ani muscle and the grip muscle strength before and after administration of a vitamin D3 analogue (alfacalcidol) and to determine the correlation of grip muscle strength with levator ani muscle in patients with pelvic organ prolapse.Method: This study was a quasi-experimental study with a design before and after administration of alfacalcidol in patients with pelvic organ prolapse. The levator ani muscle strength was measured using a perineometer and grip muscles strength using a handgrip dynamometer before and after alfacalcidol administration for 3 months. The study was conducted at the Gynecology Polyclinic FKUP/RSHS in Januari-Juli 2021. Results: Alfacalcidol supplementation was administered for 3 months in 24 patients with pelvic organ prolapse. The evaluation results showed a statistically significant difference (p value <0.001) before and after alfacalcidol supplementation with an increase in levator ani muscle strength (mean pre= 9.94±3.56 and pasca= 19.67±3.61) and there was an increase in grip muscles strength (mean of pre=15.39±3.29 and pasca= 23.90±3.67). The results of this study found a correlation between the increase in the strength of the levator ani muscle contraction and the grip muscles strength (p value <0.01) which had a moderate correlations (R value pre = 0.532 and post = 0.618).Conclusion: Alfacalcidol supplementation can increase the strength of the levator ani and grip muscles in patients with pelvic organ prolapse. There is a significant correlation with a moderate correlation between the strength of the levator ani muscle contraction and the grip muscles strength in patients with pelvic organ prolapse. Key words: levator ani muscle, pelvic organ prolaps, alfacalcidol
Permasalahan Perujukan Pasien dengan Malposisi yang telah Mencapai Kala II Muhamad, Ayrton Fajar; Madjid, Tita Husnitawati
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i1.638

Abstract

Pendahuluan: Presentasi sungsang pada kehamilan prematur berhubungan dengan risiko obstetrik yang lebih tinggi dibandingkan dengan presentasi kepala. Pada kehamilan prematur, faktor predisposisi terjadinya letak sungsang adalah KPD, oligohidramnion, usia ibu lanjut, nuliparitas, riwayat operasi seksio sesarea sebelumnya, berat badan lahir janin di bawah persentil 10, dan kelainan kongenital janin. Pada persalinan prematur, presentasi sungsang merupakan keadaan berisiko tinggi. Rujukan yang tidak tepat dapat berujung timbulnya komplikasi maternal dan fetal pada presentasi sungsang prematur.Kasus: Wanita berusia 34 tahun, G4P2A1 parturien 32 - 33 minggu rujukan dari Puskesmas datang ke Rumah Sakit Hasan Sadikin dengan keluhan mules-mules yang semakin sering dan bertambah kuat. Pasien mengetahui kehamilannya letak sungsang sejak usia kehamilan lima bulan saat memeriksakan kandungannya di SpOG. Diskusi: Pada saat pasien rujukan datang ke RSHS, diketahui pembukaan telah lengkap dan hasil pemeriksaan dalam menunjukkan presentasi janin bokong, tidak teraba bagian-bagian kecil janin, tidak teraba tali pusat pada bagian terbawah janin. Pasien didiagnosis dengan G4P2A1 parturien 32-33 minggu kala II presentasi bokong murni, kemudian direncanakan partus pervaginam spontan dengan bracht. Kesimpulan: Perujukan yang tepat dan cepat masih menjadi kendala. Puskesmas sebagai fasilitas primer harus mampu merujuk tepat waktu mencegah komplikasi ibu dan janin pada saat persalinan dan nifas.Problem of Referral of Patients with Malposition who Have Reached Stage IIAbstractIntroduction: Breech presentation in preterm pregnancy is associated with higher obstetric risk compared to head presentation. In preterm pregnancy, the predisposing factors for breech presentation are KPD, oligohydramnios, advanced maternal age, nulliparity, history of previous cesarean section, fetal birth weight below 10th percentile, and fetal congenital abnormalities. In preterm labor, breech presentation is a high-risk condition. Inappropriate referral can lead to maternal and fetal complications in preterm breech presentation.Case: A 34 year old woman, G4P2A1 parturien 32 - 33 weeks referred from Puskesmas came to Hasan Sadikin Hospital with complaints of increasingly frequent and stronger contractions. The patient knew her pregnancy was breech since five months of gestation when she was examined at an Obstetrician and Gynecology Specialist.Discussion: When the referral patient came to RSHS, it was known that the opening was complete and the results of the internal examination showed breech fetal presentation, no palpable small parts of the fetus, no palpable umbilical cord at the bottom of the fetus. The patient was diagnosed with G4P2A1 parturien 32-33 weeks time II pure breech presentation, then planned spontaneous vaginal partus with bracht. Conclusion: Efficient and prompt referral is still an area of concern. Primary health centers as primary facilities must be able to refer on time to prevent maternal and fetal complications during labor and postpartum.Key words: Breech, premature, referral system 
Secondary Syphilis with Giant Condyloma Acuminatum in Pregnant Women: A Report from a Limited Resource Area Surya, Raymond; Chelsea, Edelyne; Manurung, Edward Sugito; Banunaek, Diana; Nilasari, Hanny; Saroyo, Yudianto Budi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 3 November 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v6i3.536

Abstract

Introduction: This report shows a case of secondary syphilis in pregnancy with Giant Condyloma Acuminatum (GCA) co-infection DD/condyloma lata which was resolved with alternative treatment of syphilis.Case illustration: A 21-year-old, primigravid woman came to obstetrics outpatient clinic in rural SoE Hospital, East Nusa Tenggara, with a complaint of mass enlargement around vulva (minor and major labia) since 2 months before. Based on Last Menstrual Period (LMP), she was in 34 + 6 weeks of gestation. There were coin lesions in the palms. On genital examination, there was protruded mass sized around 15 x 10 cm, erythematous, and it easily bled on the center part which was suspected to be GCA. Treponema Pallidum rapid (TP-rapid) test using AIM© syphilis rapid test revealed positive results. The patient was diagnosed with secondary syphilis in pregnancy mixed with GCA with dd/condyloma lata and administered Ceftriaxone 1 g intramuscularly once daily for 14 days. She delivered at 41-42 weeks of gestation and a baby girl with 1,980 grams of body weight according to symmetric Intrauterine Growth Restriction (IUGR) was born. No clinical signs of congenital syphilis found.Discussion: Vertical transmission which occurs in each stage of syphilis is related to the presence of spirochetes in the blood circulation. Infants born from syphilis pregnant women consist of 56% of jaundice, 14% of hearing impairment, 8% of renal disease, 8% of mental retardation, and 6% of IUGR or Small for Gestational Age (SGA).Conclusion: Secondary syphilis coinfection with GCA in pregnancy is a rare case report. Syphilis is a significant public health problem globally, especially in Indonesia.Sifilis Sekunder dengan Kondiloma Akuminata Besar pada Wanita Hamil: Sebuah Laporan dari Daerah dengan Keterbatasan Sumber DayaAbstrakPendahuluan: Kasus ini melaporkan sifilis sekunder pada kehamilan dengan kondiloma akuminatum besar dengan koinfeksi dd/kondiloma lata yang beresolusi setelah pemberian tatalaksana alternatif sifilis.Ilustrasi Kasus: Seorang wanita primigravida berusia 21 tahun datang ke poliklinik obstetrik di RSUD SoE, Nusa Tenggara Timur dengan pembesaran massa sekitar vulva (labia minor dan mayor) sejak 2 bulan sebelumnya. Berdasarkan Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT), usia kehamilan 34 + 6 minggu. Terdapat lesi pada telapak tangan. Pada pemeriksaan genital, terdapat massa ukuran 15 x 10 cm, eritema, mudah berdarah pada bagian tengah dengan kecurigaan kondiloma akuminatum besar. Hasil tes rapid Treponema Pallidum menggunakan tes rapid sifilis (AIM©) menunjukkan hasil positif. Pasien didiagnosis mengidap sifilis sekunder pada kehamilan dengan kondiloma akuminatum besar dengan koinfeksi dd/ kondiloma lata dan diberikan terapi seftriakson 1 gram intramuscular setiap hari selama 14 hari. Pasien melahirkan saat usia kehamilan 41-42 minggu dan lahir bayi 1.980 gram sesuai dengan Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT) simetrik. Tidak ada tanda klinis sifilis kongenital yang ditemukan. Diskusi: Transmisi vertikal dapat terjadi pada setiap tahap sifilis berkaitan dengan keberadaan spiroseta di sirkulasi darah. Bayi lahir dari wanita hamil sifilis biasanya menunjukkan tanda 56% kuning, 14% gangguan pendengaran, 8% gangguan ginjal, 8% retardasi mental, dan 6% PJT atau Kecil Masa Kehamilan (KMK).Kesimpulan: Sifilis sekunder koinfeksi kondiloma akuminatum besar merupakan kasus jarang. Sifilis masih menjadi perhatian kesehatan global, khususnya di Indonesia.Kata kunci: sifilis, koinfeksi, kondiloma akuminatum besar, pertumbuhan janin terhambat
Penanganan Kasus Kehamilan 32 Minggu dengan Hipertiroid Janin-Fetal Goiter Albernande, Anggy; Sutrisno, Muhammad Al Farisi; Lestari, Peby Maulina; Mafiana, Rose; Kusnadi, Yulianto; Indrayadi, Indrayadi; Aditiawati, Aditiawati
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i1.609

Abstract

Hipertiroid pada kehamilan didefinisikan sebagai peningkatan kadar free T4. Hipertiroid terjadi pada 2/1000 kehamilan yaitu hipertiroid yang tidak terkontrol selama kehamilan meningkatkan risiko krisis tiroid, kelahiran prematur, dan kematian janin. Pasien Ny. DK 21 tahun datang dengan keluhan benjolan di leher kanan sebesar telur puyuh, hamil 21 minggu, dengan hasil USG fetal goiter. Pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum baik, suhu 36,60C; tekanan darah: 120/80 mmHg; frek. nadi: 92x/menit; frek. nafas: 20 x/menit. Pada pemeriksaan Leopold I didapatkan tinggi fundus uteri 21 cm, teraba bagian lunak. Leopold II teraba tahanan memanjang di sisi kiri kesan punggung. Leopold III teraba bagian terbawah bulat, melenting dan keras U 5/5, kesan kepala. DJJ 159x/mnt, TBJ 1240 gram. Pada pasien dilakukan observasi dan kontrol dengan rentang 2 minggu setelah pemeriksaan. Tata laksana pada pasien ini adalah asam folat, kalsium karbonat, vitamin D, propylthiouracil, folamil, dan ferrous sulfat.Management of Cases 32 Weeks Gestational Pregnancy with Fetal Hyperthyroidism-Fetal GoiterAbstractHyperthyroidism in pregnancy is defined as an increase in free T4 levels. Hyperthyroidism occurs in 2/1000 pregnancies where uncontrolled hyperthyroidism during pregnancy increases the risk of thyroid crisis, premature birth and fetal death. Patient Mrs. 21 year old DK came with complaints of a lump in her right neck the size of a quail egg, 21 weeks pregnant, with ultrasound results of fetal goiter. Physical examination revealed good general condition, temperature 36.60C; blood pressure: 120/80 mmHg; Strange. pulse: 92x/minute; Strange. breath: 20 x/minute. On examination by Leopold I, the height of the uterine fundus was 21 cm, and the soft part was palpable. Leopold II has a longitudinal resistance on the left side of the dorsal impression. Leopold III palpable lower part round, melted and hard U 5/5, head impression. DJJ 159x/minute, TBJ 1240 grams. Patients were observed and monitored at intervals of 2 weeks after the examination. Treatment for this patient is folic acid, calcium carbonate, vitamin D, propylthiouracil, folamyl and ferrous sulfate.Key words: Hyperthyroidism, fetal goiter, propylthiouracil