cover
Contact Name
Ilham
Contact Email
Ilham.fishaholic@gmail.com
Phone
+6221-64700928
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Gedung Balibang KP II, Lantai 2 Jl. Pasir Putih II, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430
Location
Kab. jembrana,
Bali
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : http://doi.org/10.15578/JRA
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 763 Documents
DIFERENSIASI ORGAN PENCERNAAN LARVA KERAPU BEBEK TURUNAN KE-3 (F-3) DAN BEBERAPA AKTIVITAS ENZIM YANG TERKAIT Wawan Andriyanto; Ahmad Muzaki
Jurnal Riset Akuakultur Vol 8, No 1 (2013): (April 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (726.08 KB) | DOI: 10.15578/jra.8.1.2013.51-63

Abstract

Pengamatan perkembangan diferensiasi saluran pencernaan larva ikan kerapu bebek F-3 hasil pembenihan induk generasi F-2 telah dilakukan melalui serangkaian pemeliharaan dari umur satu hari setelah menetas (HSM) sampai dengan 40 HSM. Sampel larva diambil setiap hari dari 1 HSM sampai dengan 10 HSM dan dilanjutkan interval tiga hari sampai umur 40 hari. Pakan alami diberikan sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) perbenihan kerapu namun tidak diberikan pengkayaan apapun dalam pakan alaminya. Sampel dianalisis secara histologi dengan staining menggunakan HE dan dianalisis pula aktivitas tripsin dan cimotripsinnya menggunakan teknik enzim assay. Fase yolk sac sampai dengan umur 10 HSM, perkembangan (diferensiasi) saluran pencernaan berkembang sangat pesat. Pada fase ini organ pencernaan larva sudah terbagi dari mulut, esophagus, perut, usus, dan anus namun belum sempurna. Aktivitas tripsin dan cimotripsin sudah terdeteksi pada fase tersebut. Pada umur 13 HSM sampai dengan memasuki fase yuwana (28 HSM) organ pencernaan terutama perut dan usus mulai berkembang. Fase yuwana tercapai lebih lambat daripada larva kerapu bebek dari penelitian sebelumnya yang menggunakan larva turunan F-1 yang diberi pengkayaan pakan, hal ini ditunjukkan dengan terbentuknya gastric gland dan pyloric caeca sebagai indikator saluran pencernaan berfungsi dengan baik baru terjadi pada umur 28 HSM. Informasi yang bisa digaris bawahi dari pengamatan ini adalah bahwa hasil pembenihan kerapu bebek turunan ke-3 sudah bisa dilakukan namun perkembangan organ pencernaan yang cenderung lebih lambat dari turunan F-1-nya. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh faktor pengkayaan pakan atau hal lain yang perlu diamati lebih lanjut. 
Kebutuhan Vitamin C Untuk Pertumbuhan dan Meningkatkan Ketahanan Benih Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) Nyoman Adiasmara Giri; Fris Johnny; Ketut Suwirya; Muhammad Marzuqi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 1 (2006): (April 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (742.8 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.1.2006.21-27

Abstract

Penelitian untuk mengetahui kebutuhan vitamin C untuk pertumbuhan dan ketahanan benih ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) telah dilakukan, menggunakan 18 buah bak polikarbonat volume 100 liter yang dilengkapi dengan sistem air mengalir dan aerasi. Benih kerapu macan dengan bobot rata-rata 23,0 ± 0,1 gram ditebar dalam bak penelitian dengan kepadatan 12 ekor per bak. Ikan diberi pakan penelitian 2 kali sehari pada level satiasi selama 13 minggu. Pakan penelitian diformulasi dengan kandungan nutrien yang sama kecuali kandungan vitamin C. Pada formula pakan ditambahkan vitamin C (L-ascorbyl-2-phosphate Magnesium, APM) dengan dosis berbeda, yaitu 0, 15, 30, 60, 120, dan 250 mg/kg pakan. Pakan dibuat dalam bentuk pelet dan dikeringkan menggunakan freeze dryer. Penelitian dirancang menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan beda kandungan vitamin C dalam pakan dan setiap perlakuan terdiri atas 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan yang diberi pakan tanpa penambahan vitamin C pertumbuhannya, kadar hemoglobin dan hematokrit darah, aktivitas fagositik, dan indeks fagositiknya adalah paling rendah dibandingkan dengan kelompok ikan lainnya. Dari hasil ini disimpulkan bahwa diperlukan penambahan vitamin C sebanyak 30 mg/kg pakan untuk pertumbuhan ikan yang baik dan penambahan vitamin C sebanyak 60—120 mg/kg pakan untuk kesehatan ikan kerapu macan.The experiment to determine dietary vitamin C requirement for good growth of tiger grouper has been conducted in 18 polycarbonate tanks, 100 liters volume. Each tank is equipped with flow-through water system. Twelve juvenile of tiger grouper (23.0 ± 0.1 gram in body weight), which were produced in hatchery, were randomly selected and stocked in each tank. Fish fed by experimental diets twice everyday at satiation level for 13 weeks. Experimental diets were formulated to contain the same level of nutrients (protein, lipid, and energy), except for vitamin C. Graded level of vitamin C (L-ascorbyl-2-phosphate Magnesium, APM) were supplemented to experimental diet at the level of 0, 15, 30, 60, 120, and 250 mg/kg diet. Diets were prepared as pellet and dried using freeze dryer. The experiment was designed according to complete random design (CRD) with 6 treatments (vitamin C levels) and three replicates for each treatment. Result of the experiment showed that growth, blood hemoglobin and hematocrite, phagocytic activity, and phagocytic index of fish fed diet without supplemental vitamin C were the lowest. This result indicates that vitamin C is essential for tiger grouper. Tiger grouper juvenile requires supplemental 30 mg vitamin C (APM)/kg diet for good growth or 60—120 mg vitamin C for good health condition.
PERTUMBUHAN DAN SINTASAN UDANG VANAMEI POLA TRADISIONAL PLUS DENGAN KEPADATAN BERBEDA Erfan A. Hendradjat; Markus Mangampa
Jurnal Riset Akuakultur Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.725 KB) | DOI: 10.15578/jra.2.2.2007.149-156

Abstract

Percobaan ini dilakukan di tambak Instalasi BRPBAP Maranak dengan menggunakan 6 petak tambak bekas tambak udang windu intensif yang tidak berproduksi lagi, berukuran masing-masing 900 m2. Benih udang vanamei berukuran PL-12 dengan bobot rata-rata: 0,001 g/ekor ditebar dengan kepadatan yang berbeda, sebagai perlakuan yaitu: 4 ekor/m2 (A); 6 ekor/m2 (B); dan 8 ekor/m2 (C) dengan ulangan 2 kali. Tujuan percobaan ini untuk mengetahui kepadatan optimun udang vanamei yang ditebar secara tradisional plus. Hasil percobaan ini diperoleh kepadatan 8 ekor/m2 (C) menghasilkan sintasan yang tinggi dengan RKP yang rendah yaitu 60,97% dan 1,79 berbeda nyata dengan perlakuan kepadatan 4 ekor/m2 (A) dan 6 ekor/m2 (B) dengan sintasan masingmasing 55,35% dan 52,44% dan RKP masing-masing 2,49 dan 2,24. Demikian pula produksi lebih tinggi pada perlakuan C berbeda nyata dengan perlakuan A dan B. Kualitas air yang menonjol adalah kadar garam yang cukup tinggi untuk semua perlakuan (40-47 ppt) sedangkan kadar oksigen terlarut masih optimum untuk semua perlakuan (DO>3,42 mg/L). Hasil menunjukkan kepadatan yang terbaik adalah 8 ekor/ m2 namun melihat kadar oksigen terlarut yang masih di atas kondisi optimum maka kepadatan relatif masih bisa ditingkatkan.The experiment was conducted in the Installation of Research Institute for Coastal Aquaculture in Maranak, Maros that was used 6 abandoned ponds of former intensive tiger prawn. The size of pond was 900 m2 respectively. The seed of vannamei was PL8 with 0.001 g/pieces in weight were stocked in different stocking densities, i.e. 4 pieces/m2 (A); 6 pieces/m2 (B); and 8 pieces/m2 (C), with two replicate, respectively. The aim of study was to know the optimum stocking density of vannamei that stocked in traditionally plus culture system. The results showed that 8 pieces/m2(C) in stocking density were found the highest of survival rate and the lowest of feed conversion ratio, i.e. 60.97% and 1.79, respectively. The statistical analysis result had significantly different to the one in 4 pieces/m2 (A) and 6 pieces/m2 (B) in stocking densities that had survival rate of 55.35% and 52.44% and feed conversion ration of 2.49 and 2.24 respectively. The highest production was found also in the 8 pieces/m2 of stocking density and it had significantly different the ones of 4 and 6 pieces/m2 in stocking densities. The water salinity was high in all treatments (40—47 ppt) and dissolved oxygen was optimum in all treatments (>3.42 mg/L). The best stocking density finally was 8 pieces/m2, however the dissolved oxygen was still above the optimum condition, so the relative stocking could be increased.
KARAKTER FENOTIPE DAN GENOTIPE IKAN KERAPU HIBRIDA CANTIK (Epinephelus fuscoguttatus x E. polyphekadion) Ahmad Muzaki; Sari Budi Moria Sembiring; Ida Komang Wardana; Haryanti Haryanti; Ketut Sugama
Jurnal Riset Akuakultur Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.719 KB) | DOI: 10.15578/jra.11.1.2016.1-13

Abstract

Pengamatan fenotipe dan genotipe ikan kerapu hibrida “cantik” yang merupakan hasil persilangan antara induk betina kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) dengan induk jantan kerapu batik (Epinephelus polyphekadion) telah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi karakteristik fenotipe dan genotipe ikan kerapu hibrida cantik, sehingga dapat diketahui keunggulannya dalam rangka mendukung pengembangan marikultur. Penelitian ini meliputi tahapan persilangan buatan antara induk ikan kerapu macan betina dan kerapu batik jantan, pemeliharaan larva ikan kerapu hibrida cantik, dan kerapu nonhibrida (ikan kerapu batik dan macan), dan pemeliharaan benih dari masing masing larva yang dihasilkan secara komunal maupun terpisah. Analisis genotipe dilakukan menggunakan dua alel penanda mikrosatelit terhadap benih ikan kerapu hibrida cantik dan non-hibrida. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan kerapu hibrida cantik mempunyai pertumbuhan dan sintasan yang lebih baik dibandingkan dengan ikan kerapu macan dan batik. Berdasarkan karakter morfometrik dan meristik, ikan kerapu hibrida cantik cenderung memiliki kesamaan dengan ikan kerapu macan. Heterozigositas ikan kerapu hibrida cantik (0,556-0,600) lebih baik dibandingkan dengan ikan kerapu macan (0,000-0,556) dan batik (0,200-0,600).Observation on phenotype and genotype of “cantik” hybrid grouper which was derived by crossbreeding between tiger grouper (E. fuscoguttatus) female and camouflage grouper (E. polyphekadion) male has been performed. The purpose of this study was to determine the phenotype and genotype characteristics of a cantik hybrid grouper that can be known its advantage in order to support the mariculture development. The activity of the study included cross breeding between tiger grouper female and camouflage grouper male, larvae and fry rearing of hybrid grouper and non-hybrid grouper (camouflage and tiger grouper) and genotype analysis using two alleles of microsatellite marker on hybrid grouper and non-hybrid grouper. The results showed that cantik hibryd grouper has better growth and survival than that of tiger grouper and camouflage grouper. Based on morphometric and meristic characters, cantik hybrid grouper tended similar with tiger grouper. Heterozygosity values of hybrid grouper (0.556 to 0.600) was better tiger grouper (0.000 to 0.556) and camouflage grouper (0.200 to 0.600).
APLIKASI PAKAN BUATAN PADA PEMELIHARAAN BENIH ABALON (Haliotis squamata) Muhammad Marzuqi; Ibnu Rusdi; Bambang Susanto
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.537 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.2.2012.237-245

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan pakan buatan yang sesuaiuntuk pertumbuhan benih abalon (Haliotis squamata). Penelitian dilakukan di Laboratorium Nutrisi, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut, Gondol-Bali. Wadah yang digunakan berupa 3 buah bak polikarbonate/fiber bervolume 400 L, dengan menggunakan sistem air mengalir. Masing-masing bak diletakkan 4 keranjang yang berisi benih abalon dengan ukuran panjang cangkang 14,36±1,59 mm dan bobot awal 0,51± 0,15 g dengan kepadatan 20 ekor. Perlakuan berupa empat jenis pakan buatan dengan proporsi makroalga yaitu (A) Ulva sp. : Gracilaria sp. = 4:0; (B) Ulva sp. : Gracilaria sp. = 3:1; (C) Ulva sp. : Gracilaria sp. = 2:2; (D) Ulva sp. : Gracilaria = 1:3. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dan setiap perlakuan diulang 3 kali. Pengukuran panjang cangkang dilakukan setiap 7 hari. Penimbangan bobot dilakukan pada awal dan akhir penelitian. Frekuensi pemberian pakan sebanyak 2 kali setiap hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan buatan dengan proporsi makroalga berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan panjang cangkang, bobot akhir, dan pertambahan bobot benih abalon (Haliotis squamata) (P<0,05). Pertumbuhan panjang cangkang, bobot akhir, dan pertambahan bobot yang terbaik adalah perlakuan pemberian pakan dengan proporsi makroalga Ulva sp. dan Gracilaria sp. = 4:0 yaitu sebesar 21,00 mm; 1,48 g; dan 189,54%.
PERBAIKAN PRODUKSI BENIH IKAN BETUTU DENGAN MANAJEMEN PEMBERIAN PAKAN ALAMI YANG DIPERKAYA GIZINYA Zafril Imran Azwar; Dewi Puspaningsih; Imam Taufik
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 1 (2010): (April 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.746 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.1.2010.69-78

Abstract

Empat perbedaan pemberian kombinasi pakan yaitu pakan alami (Moina sp. dan nauplii Artemia), serta Moina sp. yang masing-masing diperkaya minyak ikan, kuning telur ayam, dan pakan buatan telah diuji pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan sintasan benih ikan betutu. Percobaan dilakukan dalam wadah toples plastik yang berisi air 7 L, dilengkapi aerasi dengan dasar wadah dilubangi dan dipasang plankton net. Wadah percobaan disusun secara seri dalam bak fiber gelas (2 m x 1,2 m x 0,5 m) yang telah diisi air setinggi 0,4 m. Pada fiber gelas dipasang pemanas air (heather) hingga kisaran suhu 28oC-30oC. Di atas wadah percobaan dipasang pipa yang berfungsi mensuplai air, dan air mengalir keluar dari bagian bawah sehingga terjadi sirkulasi air dalam wadah percobaan. Padat tebar ikan uji adalah 5 ekor/L benih umur 25 hari. Sebagai perlakuan adalah pakan alami; (a) Moina sp. dan nauplii Artemia (50%:50%), (b) Moina sp. (100%) diperkaya minyak ikan, (c) Moina sp. (100%) diperkaya minyak ikan dan tepung telur ayam, (d) Moina sp. (100%) dan diperkaya minyak ikan dan pakan buatan. Percobaan dilaksanakan dengan Rancangan Acak Lengkap, dan masing-masing perlakuan dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan uji yang diberi pakan Moina sp. diperkaya dengan minyak ikan dan pakan buatan memperlihatkan pertumbuhan bobot yang nyata lebih tinggi dari perlakuan lainnya (P<0.05), namun sintasannya lebih rendah. Sedangkan pertumbuhan bobot ikan uji maupun sintasan pada ketiga perlakuan lainnya tidak memperlihatkan perbedaan. Dapat disimpulkan bahwa pakan alami Moina sp. (100%) diperkaya minyak ikan, kuning telur, dan pakan buatan cukup mendukung pertambahan bobot dan panjang tubuh benih betutu selama masa pemeliharaan, dan dapat menggantikan nauplii Artemia
KERAGAMAN GENETIK IKAN ENDEMIK BUTINI (Glossogobius matanensis) BERDASARKAN PENANDA RANDOM AMPLIFIED POLYMORPHISM DNA (RAPD) DI DANAU TOWUTI SULAWESI SELATAN Jefry Jack Mamangkey; Sulistiono Sulistiono; Djadja Subardja Sjafei; Dedi Soedharma; Sutrisno Sukimin; Estu Nugroho
Jurnal Riset Akuakultur Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.207 KB) | DOI: 10.15578/jra.2.3.2007.385-393

Abstract

Evaluasi keragaman genetik ikan endemik butini yang diambil dari Danau Towuti Sulawesi Selatan dilakukan dengan menggunakan penanda RAPD. Sampel ikan dikoleksi dari Danau Towuti yang terbagi atas tiga zone dan masing-masing zone memiliki kedalaman 25 m, 75 m, dan 150 m. Tidak terdapat perbedaan genetik yang nyata antar ketiga zone dari masing-masing kedalaman. Heterozigositas berkisar  antara 0,0491—0,1861. Dendrogram berdasarkan 26 loci mengelompokkan secara garis besar kedalam dua kelompok yaitu kelompok ikan pada kedalaman 25—75 m dan kelompok ikan pada kedalaman >150 m.Evaluation of genetic variability of endemic fish, butini which catched from Towuti Lake - South Sulawesi has been conducted based on the RAPD marker. Fish sample collected from Towuti Lake that divided into three zone and with depth of 25 m, 75 m, and 150 m. There is no significant differentiation genetically among fish from three zone and depth. Heterozygosity was range between 0.0491 to 0.1861. Dendrogram based on the 26 loci divided the fish population generally into two group i.e. first group is consisted of fish collected from 25—75 m in depth and second one is constructed fish collected from >150 m in depth.
MEKANISASI SISTEM PANEN PADA KULTUR MASSAL ROTIFER, Brachionus rotundiformis Inneke F.M. Rumengan; Budiyanto Budiyanto; Rinny Modaso; Didit Dewanto; Daniel Limbong
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 1 (2012): (April 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1145.207 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.1.2012.111-119

Abstract

Rotifer adalah salah satu jenis zooplankton yang populer dimanfaatkan sebagai pakan alami untuk pemeliharaan larva fauna air. Beberapa kajian dewasa ini juga mempromosikan rotifer sebagai sumber senyawa bioaktif seperti khitin. Salah satu permasalahan utama dalam upaya pemanfaatan rotifer untuk akuakultur maupun untuk memproduksi senyawa bioaktif, adalah ketidakberlanjutan dan rendahnya produksi rotifer. Berdasarkan eksperimen di laboratorium menyangkut biologi dan ekologi rotifer, kultur massal yang intensif telah berhasil dilakukan pada kolam beton berukuran panjang 5 m, lebar 1 m, dan dalam 1 m. Teknik panen dan hal lain yang terkait, dipandang sebagai faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan sistem kultur massal tersebut. Mengacu pada beberapa aspek teknik yang sedang dijalankan, studi ini dilakukan untuk memperbaiki mekanisasi teknik pemanenan yang diharapkan akan meningkatkan efektivitas produksi biomassa rotifer yang bermutu baik. Beberapa uji penerapan dari hasil mekanisasi teknik pemanenan, menampilkan kapasitasnya dalam memperbaiki mutu produksi rotifer, mereduksi waktu panen dan tenaga kerja, serta mempertahankan kontinuitas siklus produksi.
PENYERAPAN KARBON PADA BUDIDAYA RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii dan Gracilaria gigas DI PERAIRAN TELUK GERUPUK, LOMBOK TENGAH, NUSA TENGGARA BARAT Erlania Erlania; Kukuh Nirmala; Dinar Tri Soelistyowati
Jurnal Riset Akuakultur Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.18 KB) | DOI: 10.15578/jra.8.2.2013.287-297

Abstract

Pengikatan karbon oleh algae fotoautotrofik berpotensi untuk mengurangi pelepasan CO2 ke atmosfer dan dapat membantu mencegah percepatan terjadinya pemanasan global. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat penyerapan karbon pada budidaya rumput laut Kappaphycus alvarezii dan Gracilaria gigas berdasarkan aktivitas fotosintesis serta variabel-variabel yang mempengaruhinya. Budidaya rumput laut dilakukan dengan metode long-line di perairan Teluk Gerupuk, Lombok Tengah pada satu unit long-line dengan luas area 1.250 m2. Selama penelitian, dilakukan pengujian terhadap sampel rumput laut dan sampel air laut dari lokasi budidaya yang diambil pada hari ke-0, 10, 20, 30, dan 45 pemeliharaan. Laju penyerapan karbon total berdasarkan biomassa panen pada G. gigas hampir 300% lebih tinggi dibandingkan K. alvarezii. Selain itu, laju pertumbuhan dan produksi karbohidrat pada G. gigas juga lebih tinggi, yang mengindikasikan laju fotosintesis yang lebih tinggi, dan didukung oleh indeks percabangan yang juga lebih tinggi. Potensi penyerapan karbon di perairan Teluk Gerupuk mencapai 6.656,51 ton C/tahun untuk budidaya K. Alvarezii dan 19.339,02 ton C/tahun untuk budidaya G. gigas. Penyerapan karbon berhubungan dengan kandungan pigmen dan laju pertumbuhan rumput laut, serta konsentrasi CO2 dan kecerahan perairan.
PENGARUH PENGURANGAN RANSUM PAKAN SECARA PERIODIK TERHADAP PERTUMBUHAN, SINTASAN, DAN PRODUKSI UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) POLA SEMI-INTENSIF DI TAMBAK Abdul Mansyur; Hidayat Suryanto Suwoyo; Rachmansyah Rachmansyah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 1 (2011): (April 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.518 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.1.2011.71-80

Abstract

Pakan merupakan biaya produksi tertinggi dalam budidaya udang vaname di tambak, sehingga diperlukan informasi strategi manajemen pakan dalam budidaya. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh pengurangan ransum pakan secara periodik terhadap pertumbuhan, sintasan, produksi, rasio konversi pakan dan efesiensi pakan pada budidaya udang vaname pola semi-intensif. Penelitian dilakukan di tambak percobaan Punaga Takalar, menggunakan 6 petak pembesaran udang vaname masingmasing berukuran 4.000 m2. Hewan uji adalah pasca larva udang vaname dengan bobot awal rata-rata 0,017 g yang ditebar pada tambak dengan kepadatan 20 ekor/m2. Rancangan penelitian adalah rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan yang masing-masing perlakuan terdiri atas dua ulangan. Perlakuan yang diujicobakan adalah pengurangan ransum pakan (pemuasaan) secara periodik yaitu: A) pengurangan ransum pakan 30%, B) pengurangan ransum pakan 60%, dan C) kontrol (tanpa pengurangan ransum pakan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengurangan ransum pakan secara periodik berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap pertambahan bobot mutlak, laju pertumbuhan harian, sintasan, produksi, dan rasio konversi pakan bahkan mampu meningkatkan efisiensi pakan sekitar 7,71–22,39%. Penghematan penggunaan pakan untuk udang vaname dapat dilakukan dengan pengurangan ransum pakan hingga 60% bobot badan/hari/minggu

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025) Vol 20, No 1 (2025): Maret (2025) Vol 19, No 4 (2024): Desember (2024) Vol 19, No 3 (2024): September (2024) Vol 19, No 2 (2024): Juni (2024) Vol 19, No 1 (2024): (Maret 2024) Vol 18, No 4 (2023): (Desember, 2023) Vol 18, No 3 (2023): (September, 2023) Vol 18, No 2 (2023): (Juni, 2023) Vol 18, No 1 (2023): (Maret 2023) Vol 17, No 4 (2022): (Desember 2022) Vol 17, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022) Vol 16, No 4 (2021): (Desember, 2021) Vol 16, No 3 (2021): (September, 2021) Vol 16, No 2 (2021): (Juni, 2021) Vol 16, No 1 (2021): (Maret, 2021) Vol 15, No 4 (2020): (Desember, 2020) Vol 15, No 3 (2020): (September, 2020) Vol 15, No 2 (2020): (Juni, 2020) Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020) Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019) Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019) Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019) Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) More Issue