cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Lingkungan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 18298907     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 951 Documents
Perkembangan Komunitas Vegetasi di Lahan Pascatambang: Studi Kasus Ekosistem Pertambangan Emas di Paningkaban, Banyumas Tien Aminatun; Edi Istiyono; Nurul Khotimah; Khoiruna Arifah; Nur Rizki Putri Ramadhanti; Bagus Budi Priyono; Komang Ayu Candra Pratisthita
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 24, No 3 (2026): May 2026
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.24.3.%p

Abstract

Aktivitas pertambangan emas banyak menyebabkan degradasi lahan. Kegiatan revegetasi dalam upaya rehabilitasi perlu dilakukan. Evaluasi keberhasilan rehabilitasi ekosistem dapat dilakukan dengan melihat indikator penutupan vegetasi. Dengan demikian, perubahan struktur komunitas dan tutupan vegetasi tersebut perlu dipetakan dan dianalisis untuk mengetahui tingkat keberhasilan rehabilitasi ekosistem. Metode penelitian menggabungkan transek dan metode petak untuk memperoleh data vegetasi dan jumlah individu setiap jenis. Dalam hal ini masing-masing titik terdiri atas 3 plot dengan ukuran petak 10x10 meter untuk vegetasi tingkat pohon, 5x5 meter untuk semak, dan 1x1 meter untuk herba. Analisis struktur komunitas vegetasi berdasarkan indeks nilai penting (INP), indeks keanekaragaman jenis (H’), indeks kekayaan jenis (R), indeks dominansi (C), dan indeks kemerataan jenis (E) menurut Odum. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perkembangan struktur komunitas vegetasi sebagai indikator keberhasilan rehabilitasi ekosistem pascatambang pada lahan sebelum tambang, lahan aktif, dan lahan pascatambang serta memberikan rekomendasi terkait rehabilitasi ekosistem pascatambang berdasarkan hasil perhitungan perubahan struktur komunitas vegetasi. Hasil menunjukkan bahwa tahap perkembangan rehabilitasi ekosistem pascatambang berdasarkan INP, indeks keanekaragaman, indeks kekayaan, indeks dominansi, dan indeks kemerataan jenis tertinggi pada lahan bekas tambang yang telah dilakukan revegetasi. Rekomendasi rehabilitasi ekosistem pascatambang yang ada yakni dengan menutup terlebih dahulu lubang bekas tambang - pengolahan tanah topsoil agar dapat ditanami - revegetasi menggunakan jenis tanaman dengan INP tertinggi seperti rumput bebesan (Oplismenus burmannii) di strata herba sebagai tumbuhan pionir, kapulaga (Elettaria cardamomum) atau awar-awar (Ficus septica) di strata semak, dan sengon (Albizia chinensis) di strata pohon.
Analisis Tingkat Kerentanan Penghidupan Masyarakat Nelayan Terhadap Perubahan Iklim di Desa Panjang Baru, Kota Pekalongan Ardhi Irawan; Sudrajat Sudrajat; Emilya Nurjani
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 24, No 3 (2026): May 2026
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.24.3.702-712

Abstract

Nelayan merupakan kelompok masyarakat yang sangat bergantung pada kondisi alam sehingga rentan terhadap dampak perubahan iklim. Penelitian ini dilakukan di Desa Panjang Baru, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, dengan tujuan menganalisis persepsi nelayan terhadap perubahan iklim, mengukur tingkat kerentanan penghidupan, serta mengidentifikasi strategi adaptasi yang dilakukan. Penelitian menggunakan pendekatan sequential mixed methods yang menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif. Data dikumpulkan dari 83 nelayan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis kuantitatif dilakukan menggunakan Livelihood Vulnerability Index (LVI) untuk mengukur tingkat kerentanan penghidupan dan analisis SWOT untuk merumuskan strategi adaptasi, sedangkan data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap responden yang sama untuk memperkuat hasil analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun nelayan belum sepenuhnya memahami konsep perubahan iklim, mereka telah merasakan dampaknya secara langsung, seperti banjir rob, cuaca ekstrem, kenaikan permukaan laut, dan pergeseran musim ikan. Nilai LVI sebesar 0,55 menunjukkan bahwa rumah tangga nelayan memiliki tingkat kerentanan yang tinggi, dengan komponen bencana alam dan variabilitas iklim sebagai penyumbang kerentanan terbesar. Rendahnya tingkat pendidikan dan keterampilan turut membatasi kapasitas adaptasi nelayan dalam menghadapi perubahan iklim. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan kapasitas adaptif masyarakat pesisir untuk meningkatkan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim.
Faktor Sanitasi Lingkungan Penyakit Demam Berdarah Dengue di Wilayah Permukiman Kumuh Kota Semarang: Studi Cross-Sectional Lenci Aryani; Fitria Wulandari; Eko Hartini; Adian Khoironi
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 24, No 3 (2026): May 2026
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.24.3.551-557

Abstract

Kota Semarang merupakan salah satu wilayah endemis Demam Berdarah Dengue (DBD), di mana salah satu faktor penyebabnya adalah perubahan iklim yang diperparah dengan sanitasi lingkungan yang buruk. Kondisi permukiman kumuh menunjukkan tingkat keparahan yang tinggi, sanitasi yang buruk, distribusi air bersih yang tidak memadai, serta kualitas lingkungan yang rendah. Tujuan penelitian untuk menilai perilaku masyarakat di Kota Semarang, khususnya di wilayah permukiman kumuh, terkait praktik kebersihan lingkungan dalam pencegahan DBD. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan pendekatan survey observasional. Teknik pengambilan samel menggunakan cara purposive sampling dengan populasi penelitian terdiri dari penduduk di dua wilayah permukiman kumuh dengan kondisi terparah di Kota Semarang, yaitu Kelurahan Bulu Lor dan Purwosari. Sampel pada penelitian adalah masyarakat umum yang berdomisili di Kota Semarang dengan jumlah responden sebanyak 60 orang. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan wawancara langsung. Uji hubungan menggunakan chi-square dengan tingkat kemaknaan p-value <0,05 dinyatakan hubungan yang signifikan. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara perilaku masyarakat terhadap lingkungan dengan perilaku pencegahan Demam Berdarah Dengue (p-value 0,03), antara kondisi bangunan dengan perilaku pencegahan Demam Berdarah Dengue (p value 0,000), serta antara fasilitas lingkungan dengan perilaku pencegahan Demam Berdarah Dengue (p-value 0,02). Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor lingkungan dengan pencegahan Demam Berdarah Dengue. Oleh karena itu, perilaku individu dan kondisi lingkungan dapat menjadi faktor kunci dalam mengurangi atau mencegah kejadian Demam Berdarah Dengue dimulai dengan perubahan perilaku pada tingkat individu. Pencegahan Demam Berdarah Dengue sebaiknya dimulai dari lingkungan keluarga, karena sikap maupun tindakan pencegahan dapat dikelola secara efektif dalam lingkungan yang sehat dan kondusif.
Analisis Limpasan Permukaan di Kawasan Timur Gunung Sadeng, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember Tahun 2015 - 2024 Adelisa Rizki Zaharani; Ferryati Masitoh
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 24, No 3 (2026): May 2026
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.24.3.614-630

Abstract

Kawasan timur Gunung Sadeng di Kecamatan Puger, Kabupaten Jember merupakan kawasan pertambangan yang mengalami intensifikasi dalam satu dekade terakhir. Aktivitas tersebut berdampak pada perubahan tutupan lahan yang memengaruhi limpasan permukaan. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung perubahan intensitas hujan, perubahan koefisien limpasan, dan perubahan debit limpasan tiap mikroDAS di kawasan tersebut dari tahun 2015 2024. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan metode rasional pada 4 mikroDAS. Data sekunder berupa curah hujan (2005-2024), kemiringan lereng, dan citra penggunaan lahan. Debit limpasan permukaan dianalisis dengan menggunakan beberapa periode ulang hujan, yaitu 1,2, 5, dan 20 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan intensitas curah hujan kala ulang dua tahunan dari 22,33 mm/jam pada periode 2005-2014 menjadi 20,95 mm/jam pada periode 2015-2024. Selain itu, upaya reklamasi tambang yang meliputi revegetasi dan penataan lahan turut berkontribusi terhadap penurunan nilai koefisien limpasan di sebagian besar mikroDAS. Wilayah MD 2 yang sebelumnya memiliki kontribusi tertinggi terhadap limpasan mengalami penurunan signifikan akibat bertambahnya luasan area bervegetasi dan lahan landai. Dugaan total limpasan permukaan menurun dari 5,56 m3/detik pada tahun 2015 menjadi 5,18 m3/detik pada tahun 2024 atau sebesar 6,76%. Penurunan ini menunjukkan bahwa perubahan intensitas hujan yang lebih rendah serta perbaikan tutupan lahan pasca-pertambangan dapat secara efektif mengurangi risiko limpasan permukaan. Hasil studi relevan digunakan sebagai dasar dalam perencanaan sistem drainase tambang dan strategi pengelolaan lingkungan yang adaptif dan berkelanjutan di kawasan karst.
Dominant Heavy Metal Contaminants in Groundwater in the Vicinity of Municipal Solid Waste Sites: A Global Synthesis of Studies from 2015 to 2025 Barem Talang Rasa; Intan Supraba; Fikri Faris
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 24, No 3 (2026): May 2026
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.24.3.660-671

Abstract

Groundwater contamination by heavy metals originating from Municipal Solid Waste (MSW) landfill leachate poses a significant threat to human health and environmental sustainability. This issue is often exacerbated by inadequate leachate management systems, limited monitoring capacity, and the heterogeneous composition of solid waste entering landfills. This study aims to identify the most frequently detected and dominant heavy metals that pollute groundwater near MSW landfill sites. Employing a Systematic Literature Review (SLR) approach, ten primary research articles published between 2015 and 2025 were thoroughly analyzed. Article selection followed strict inclusion and exclusion criteria, including landfill location, number of metals analyzed, data accessibility, and relevance to the study context. The synthesized data evaluated study sites, sampling procedures, types of heavy metals tested, water quality standards applied, and regulatory exceedance status. The findings proves that chromium (Cr), lead (Pb), and cadmium (Cd) are the most frequently reported and most commonly exceeding safe limits. Iron (Fe) also shows a notable tendency to exceed standards, despite being analyzed less frequently. Zinc (Zn), on the other hand, appeared in all studies but rarely surpassed regulatory thresholds. These five metals—Cr, Pb, Cd, Fe, and Zn—are classified as priority contaminants in groundwater quality monitoring and risk-based remediation planning. This study contributes important scientific evidence for strengthening landfill leachate management strategies, improving regulatory frameworks, and enhancing long-term public health protection through focused groundwater monitoring initiatives.
Distribusi dan Kelimpahan Mikroplastik pada Air serta Udang Vaname di Tambak Intensif Probolinggo, Jawa Timur Nanik Retno Buwono; Muhammad Musa; Zalfa Nurul Abidah; Aulya Martassha; Mafira Hanudya An Naba
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 24, No 3 (2026): May 2026
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.24.3.%p

Abstract

Mikroplastik merupakan kontaminan yang semakin mendapat perhatian dalam ekosistem perairan, termasuk tambak budidaya udang. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bentuk dan mengukur kelimpahan partikel terduga mikroplastik pada air dan udang vaname (Litopenaeus vannamei), serta menganalisis hubungan kelimpahan keduanya di tambak intensif Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Sampel dikumpulkan dari tiga kolam beton sebanyak tiga kali dengan interval satu minggu. Sampel air sebanyak 15 L dan lima ekor udang diambil pada setiap kolam dalam setiap pengambilan. Partikel diidentifikasi secara visual berdasarkan karakteristik morfologinya menggunakan mikroskop; konfirmasi jenis polimer menggunakan FTIR atau Raman tidak dilakukan. Fragmen merupakan bentuk yang dominan pada sampel air dan udang. Kelimpahan rata-rata partikel terduga mikroplastik pada air berkisar antara 8.400,00–9.488,89 partikel/m³, sedangkan pada udang berkisar antara 2,19–2,79 partikel/g. Regresi linear terhadap sembilan pasangan pengamatan menunjukkan asosiasi positif yang signifikan antara kelimpahan pada air dan udang (Y=0,0005X−1,9194; R2=0,95; p=0,00001; n=9). Hasil ini menunjukkan keterkaitan kelimpahan partikel terduga mikroplastik pada air dan udang, tetapi tidak membuktikan bioakumulasi temporal atau hubungan sebab-akibat. Verifikasi polimer dan penelusuran sumber mikroplastik dalam sistem budidaya diperlukan pada penelitian berikutnya.
Karakterisasi Arang Aktif Tempurung Lontar Teraktivasi KOH dan Uji Kinerjanya pada Adsorpsi Limbah Cair Tahu Madalena Da Costa; Maria Imaculata Seko; Oktavina G. LP Manulangga; Martinho Dos Santos Martins
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 24, No 4 (2026): July 2026
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.24.4.971-978

Abstract

Limbah cair industri tahu memiliki beban polutan organik tinggi sehingga dapat meningkatkan parameter BOD, COD dan TSS apabila dibuang ke lingkungan tanpa pengolahan berpotensi mencemari, sehingga diperlukan pengembangan teknologi pengolahan air limbah yang efisien dan berkelanjutan, seperti metode adsorpsi menggunakan arang aktif berbahan baku lokal, yaitu tempurung lontar teraktivasi kalium hidroksida (KOH). Penelitian ini terdiri 3 tahap yang meliputi persiapan dan pembuatan arang aktif dari tempurung lontar, karakterisasi sifat fisik arang, analisis SEM-EDX dan FTIR, serta tahap uji kinerja arang aktif melalui adsorpsi batch menggunakan variasi pH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas media arang aktif lontar secara fisik mengandung kadar air 3,37%; kadar abu 2,59%; dan kadar zat terbang 42,68%. Arang aktif lontar tersebut memiliki morfologi permukaan berpori serta komponen carbon dan oksigen. Gugus aktif yang ada pada permukaan adalah OH, C-H, C=C, C=O. Kinerja adsorpsi arang secara batch pada variasi pH, penurunan parameter secara konsisten pada rentang kondisi asam. Efisiensi adsorpsi arang aktif tempurung lontar terhadap polutan limbah cair tahu menunjukkan tren penurunan konsisten seiring peningkatan pH dari asam ke basa. Pada pH 4 (optimal), persentase penurunan tertinggi dicapai oleh parameter TSS sebesar 84,17% diikuti oleh COD 58,87 % dan BOD 55,18%. Kinerja pengolahan menurun pada pH 9, di mana TSS hanya turun menjadi 36,37%, COD menjadi 33,69%, dan BOD menjadi 44,37%. Karakterisasi arang aktif tempurung lontar secara fisik, morfologi dan komponen kimia serta gugus aktif menunjukkan kemampuan arang aktif tempurung lontar untuk adsorpsi limbah cair. Variasi pH limbah cair 4,7 dan 9 berpengaruh terhadap pengolahan limbah cair tahu.
Analisis Kerentanan Ekologis Perkotaan Terhadap Urban Heat Island Berdasarkan Pendekatan Tata Ruang Hijau dan Pola Perkembangan Lahan (Studi Kasus: Kota Yogyakarta) Taufan Kharis; Edi Istiyono
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 24, No 4 (2026): July 2026
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.24.4.879-890

Abstract

Kota Yogyakarta mengalami tekanan urbanisasi yang ditandai dengan meningkatnya luas area terbangun serta menurunnya proporsi ruang terbuka hijau, sehingga berpotensi meningkatkan fenomena Urban Heat Island (UHI) dan kerentanan ekologis perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kerentanan ekologis kawasan perkotaan terhadap fenomena Urban Heat Island (UHI) berdasarkan integrasi tata ruang hijau dan pola perkembangan lahan di Kota Yogyakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif spasial dengan data multispektral citra satelit Landsat 8 OLI/TIRS periode 2020, 2023 dan 2025. Analisis dilakukan menggunakan Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), Normalized Difference Built-up Index (NDBI), dan Land Surface Temperature (LST) untuk mengidentifikasi intensitas UHI, kemudian disusun menjadi Indeks Kerentanan Ekologis (IEK) menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas UHI meningkat dari 2,3°C pada tahun 2020 menjadi 3,7°C pada tahun 2025, disertai penurunan nilai NDVI dari 0,45 menjadi 0,33 dan peningkatan nilai NDBI dari 0,12 menjadi 0,21. Zona kerentanan ekologis tertinggi terkonsentrasi pada kawasan komersial dan kawasan dengan kepadatan bangunan tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa penurunan tutupan vegetasi dan peningkatan area terbangun berkontribusi terhadap peningkatan suhu permukaan, sehingga penguatan ruang terbuka hijau menjadi strategi penting dalam mitigasi UHI dan penyusunan kebijakan penataan ruang yang berkelanjutan.
Waste Characteristics and Management in Three-Star Hotels in Yogyakarta City, Indonesia: A Mixed-Methods Analysis Jussac Maulana Masjhoer; Dwi Agus Kristianto; Dodik Prakoso Eko Hery Suwandojo
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 24, No 4 (2026): July 2026
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.24.4.1022-1033

Abstract

The large number of three-star hotels compared to luxury hotels creates unique waste management challenges in the hospitality sector. This study argues that improving sustainability in mid-scale hotels requires understanding their specific waste generation and operational practices. We measured the volume and composition of waste, and assessed operational waste management strategies in five three-star hotels in Yogyakarta using a mixed-method explanatory sequential design. Waste data was collected per SNI 19-3964-1994 for seven consecutive days, with qualitative insights from in-depth interviews with responsible hotel staff. Results show that three-star hotels generate an average of 0.57 kg of waste per guest per day, with some hotels achieving lower waste rates by implementing more efficient operations and preventive practices. Waste volume fluctuates daily, indicating a need to increase transportation, especially at week’s end, to avoid accumulation. Waste composition is dominated by 52.99% organic materials, with the remaining 47.01% inorganic. Because of space constraints, hotels must rely on private waste management service providers for the large volume of organic waste they cannot process on-site, often without verifying the processing technologies used. Differences in waste generation among hotels do not fully correspond with occupancy rates, suggesting that operational efficiency and waste-prevention practices may influence waste output; this hypothesis warrants further statistical analysis. These results pertain specifically to three-star hotels in Yogyakarta and should be validated across other hotel categories and geographic regions.
Potensi Landfill Mining dan Kualitas Refuse-Derived Fuel (RDF) dari Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Manggar, Kota Balikpapan Ida Bagus Dharmawan; Eko Heryadi
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 24, No 4 (2026): July 2026
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.24.4.930-937

Abstract

Permasalahan kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang kritis mendorong perlunya solusi berkelanjutan tanpa ekspansi lahan. Penelitian ini mengimplementasikan Landfill Mining (LFM) di TPA Manggar kota Balikpapan, untuk menganalisis karakteristik material sampah yang ditimbun dan mengevaluasi potensinya sebagai bahan baku Refuse Derived Fuel (RDF). Sampel diambil dari dua zona penimbunan dengan kedalaman 1,5; 3,0; dan 4,5 meter, kemudian dipilah dan dianalisis komposisinya. Hasil karakterisasi menunjukkan dominasi fraksi campuran (mixed waste) dan plastik, dengan kandungan bahan berkalori tinggi (plastik 16–24%, kayu 13–14%). Analisis laboratorium terhadap sampel RDF menunjukkan nilai kalor 15,98–17,54 MJ/kg, kadar klorin <0,01%, kadar abu 3,2–6,1%, dan kadar air yang masih tinggi (29,5–45,7%). Nilai kalor, kadar klorin, dan kadar abu telah memenuhi standar RDF untuk co processing di industri semen dan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), namun kadar air masih jauh melampaui batas maksimum yang dipersyaratkan (<20%) sehingga produk RDF ini belum sepenuhnya memenuhi standar secara keseluruhan dan memerlukan tahap pengeringan tambahan sebelum dimanfaatkan. Estimasi awal menunjukkan fraksi combustible yang berpotensi diolah menjadi RDF berkisar 35–50% dari berat kering material hasil galian. Penelitian ini menyimpulkan bahwa material hasil LFM di TPA Manggar berpotensi tinggi sebagai sumber energi terbarukan yang mendukung ekonomi sirkular, dengan potensi turut memperpanjang umur operasional TPA yang masih memerlukan kuantifikasi lebih lanjut.

Filter by Year

2011 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 4 (2026): July 2026 Vol 24, No 3 (2026): May 2026 Vol 24, No 2 (2026): March 2026 Vol 24, No 1 (2026): Januari 2026 Vol 23, No 6 (2025): November 2025 Vol 23, No 5 (2025): September 2025 Vol 23, No 4 (2025): July 2025 Vol 23, No 3 (2025): May 2025 Vol 23, No 2 (2025): March 2025 Vol 23, No 1 (2025): January 2025 Vol 22, No 6 (2024): November 2024 Vol 22, No 5 (2024): September 2024 Vol 22, No 4 (2024): July 2024 Vol 22, No 3 (2024): May 2024 Vol 22, No 2 (2024): March 2024 Vol 22, No 1 (2024): January 2024 Vol 21, No 4 (2023): October 2023 Vol 21, No 3 (2023): July 2023 Vol 21, No 2 (2023): April 2023 Vol 21, No 1 (2023): January 2023 Vol 20, No 4 (2022): October 2022 Vol 20, No 3 (2022): July 2022 Vol 20, No 2 (2022): April 2022 Vol 20, No 1 (2022): January 2022 Vol 19, No 3 (2021): November 2021 Vol 19, No 2 (2021): Agustus 2021 Vol 19, No 1 (2021): April 2021 Vol 18, No 3 (2020): November 2020 Vol 18, No 2 (2020): Agustus 2020 Vol 18, No 1 (2020): April 2020 Vol 17, No 3 (2019): November 2019 Vol 17, No 2 (2019): Agustus 2019 Vol 17, No 1 (2019): April 2019 Vol 16, No 2 (2018): Oktober 2018 Vol 16, No 1 (2018): April 2018 Vol 15, No 2 (2017): Oktober 2017 Vol 15, No 1 (2017): April 2017 Vol 14, No 2 (2016): Oktober 2016 Vol 14, No 1 (2016): April 2016 Vol 13, No 2 (2015): Oktober 2015 Vol 13, No 1 (2015): April 2015 Vol 12, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 12, No 1 (2014): April 2014 Vol 11, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 11, No 1 (2013): April 2013 Vol 10, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 10, No 1 (2012): April 2012 Vol 9, No 2 (2011): Oktober 2011 Vol 9, No 1 (2011): April 2011 More Issue