cover
Contact Name
Amalia Setiasari
Contact Email
jkpi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jkpi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia
ISSN : 19796366     EISSN : 25026550     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Indonesian Fisheries Policy Journal present an analysis and synthesis of research results, information and ideas in marine and fisheries policies.
Arjuna Subject : -
Articles 198 Documents
ANALISIS PENGEMBANGAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT DI PULAU SEBATIK, KABUPATEN NUNUKAN, KALIMANTAN UTARA Nyoman Radiarta; Erlania Erlania; Joni Haryadi; Annisya Rosdiana
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 8, No 1 (2016): (Mei 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.111 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.8.1.2016.29-40

Abstract

Kebijakan pembangunan kemandirian dalam budidaya perikanan dan membangun kemandirian pulau-pulau kecil merupakan kebijakan program Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam mendukung poros maritim nasional. Pulau Sebatik di Kabupaten Nunukan memiliki potensi sumberdaya pesisir dan laut cukup besar untuk dikembangkan diantaranya potensi pengembangan budidaya laut, terutama budidaya rumput laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi dan langkah-langkah strategis pengembangan budidaya rumput laut di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan Provinsi Kalimantan Utara. Data dan informasi dikumpulkan melalui media diskusi (Focus Group Discussion/FGD), kunjungan ke lokasi pengembangan budidaya rumput laut, dan data sekunder. Data dianalisis secara deskriptif dengan memberikan opsi-opsi kebijakan pengembangan budidaya rumput laut. Pengembangan budidaya rumput laut di Kabupaten Nunukan cukup berkembang dengan pusat kawasan pengembangannya di Kecamatan Nunukan Selatan. Kappaphycus alvarezii (cottonii) merupakan jenis yang umumnya dibudidayakan dengan metode longline. Dalam tulisan ini, potensi, permasalahan, dan strategi pengembangan budidaya rumput laut yang teridentifikasi di lokasi penelitian dibahas secara komprehensif.Policy on aquaculture development in the small and the most outer islands is a strategic program from Ministry of Marine Affair and Fisheries to support national maritime shaft. Sebatik Island in Nunukan Regency has a large potential of coastal and marine resources to be developed include the development of marine aquaculture, especially seaweed culture. This study aimed to evaluate condition and strategic steps in the development of seaweed aquaculture in Sebatik Island, Nunukan Regency North Kalimantan Province. Data and information collected through Focus Group Discussion (FGD), field visit to seaweed aquaculture areas, and secondary data. Data were analyzed descriptively by presenting policy options for seaweed aquaculture development. Marine aquaculture especillay seaweed culture was well developed in Nunukan Regency, which was mainly concentrated in South Nunukan. Kappaphycus alvarezii (cottonii) is the main species cultivated in this region by using long line method. In this paper, the potential, problems and development strategy of seaweed cultivation were identified and discussed comprehensively.
STATUS TERKINI DAN ALTERNATIF PENGELOLAAN SUMBER DAYA IKAN DI LAGUNA SEGARAANAKAN, CILACAP Didik Wahyu Hendro Tjahjo; Riswanto Riswanto
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 5, No 1 (2013): (Mei 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.232 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.5.1.2013.9-16

Abstract

Laguna Segara Anakan mempunyai peran penting sebagai kawasan pengelolaan perikanan udang sebagai daerah asuhan. Penyempitan dan pendangkalan perairan laguna sangat mempengaruhi populasi larva dan juvenil udang. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengkaji hubungan perubahan lingkungan terhadap sumberdaya udang. Kandungan oksigen terlarut relatif rendah, kondisi tersebut dalam jangka panjang akan berpengaruh terhadap laju pertumbuhan ikan dan udang, dan akhirnya berdampak langsung terhadap laju rekruitmen udang dan ikan untuk perairan Segara Anakan dan perairan laut sekitar Cilacap. Kelimpahan larva udang dan ikan di perairan laguna ini berkisar antara 87 – 63,451 ind./1000 m3, dan kelimpahan juvenil tersebut berkisar antara 0 – 25,263 ind./1000 m2, dimana selama pengamatan didominasi oleh juvenil udang. Total produksi (ikan dan udang) di Segara Anakan dari tahun ke tahun mengalami penurunan yang signifikan dalam periode tahun 1987-2004. Kondisi tersebut disebabkan luas perairan laguna semakin sempit dan dangkal, serta intensitas penangkapan semakin tinggi. Oleh karena itu, perlu suatu pengelolaan yang menyeluruh terhadap sumber daya laguna agar mampu mengurangi laju penurunan produksinya, yaitu pengelolaan sumberdaya perikanan di laguna Segara Anakan sebagai satu kesatuan ekologi yang utuh.Segara Anakan lagoon have an important role as the shrimp fishery management area in which shrimp species using this area of lagoons as a nursery ground. Refinement and siltation of the lagoon waters greatly affect populations of larvae and juvenile shrimp. The purpose of this paper is to study the relationship of environmental change on shrimp resources. Dissolved oxygen is relatively low, the condition will affect the growth of fish and shrimp in the long time, and ultimately it have a direct impact on the rate of recruitment of shrimp and fish for Segara Anakan waters and coastal waters around Cilacap. Abundance of larval shrimp and fish in this lagoon waters ranged from 87 to 63.451 ind./1000 m3 and the juvenile abundance ranged from 0 to 25.263 ind./1000 m2, where the observations are dominated by the juvenile shrimp. Total production (fish and shrimp) at Segara Anakan from year to year has decreased significantly over the period 1987-2004. The condition is caused by the broad waters of the lagoon is narrow and shallow, and the higher the intensity of fishing. Therefore, the need for a comprehensive management of the lagoon resources in order to reduce the rate of decline in production, the management of fishery resources in the lagoon Segara Anakan as a whole complete ecology.
STATUS PENGELOLAAN PERIKANAN RAJUNGAN (Portunus Pelagicus) DENGAN PENDEKATAN EKOSISTEM DI LAUT JAWA (WPPNRI 712) Aris Budiarto; Lucky Adrianto; Mukhlis Kamal
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 7, No 1 (2015): (Mei 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4855.195 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.7.1.2015.9-24

Abstract

Laut Jawa (WPPNRI 712) memiliki karakteristik permasalahan dalam pengelolaan perikanan rajungan yaitu berkurangnya stok sumberdaya rajungan dan tinggi nya jumlah armada penangkapan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi pengelolaan perikanan rajungan di perairan Laut Jawa berdasarkan pada indikator pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem (Ecosystem Approach to Fisheries Management-EAFM). Enam domain indikator EAFM yang digunakan sebagai dasar untuk analisis adalah (1) Sumber Daya Ikan; (2) Habitat dan Ekosistem; (3) Teknik Penangkapan; (4) Sosial; (5) Ekonomi; dan (6) Kelembagaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai skor komposit EAFM tergolong kategori sedang dengan kisaran antara 1,5 – 2,5. Hasil penilaian aggregat seluruh domain diperoleh nilai skor densitas berkisar antara 6,3 – 55,9. Domain memiliki densitas tertinggi adalah domain sosial dan domain kelembagaan sebesar 54,7 dan 55,9 dengan kategori sedang. Domain habitat/ekosistem dan domain ekonomi memiliki nilai skor 36,5 dan 20,7 dengan kategori kurang. Domain sumberdaya ikan dan domain teknik penangkapan memiliki nilai skor 6,3 dan 16,3 dengan kategori buruk. Secara keseluruhan hasil penilaian indikator EAFM menunjukkan bahwa pengelolaan rajungan di WPPNRI 712 dalam kategori buruk hingga sedang. Rekomendasi dari penelitian ini adalah melaksanakan perbaikan pengelolaan perikanan rajungan secara bertahap dengan melakukan 5 (lima) langkah pengelolaan yaitu; pengaturan rajungan yang boleh ditangkap, pengaturan musim penangkapan, pengendalian alat tangkap dan daerah penangkapan, perlindungan dan rehabilitasi habitat serta melaksanakan restoking. Java Sea waters (Fisheries Management Area 712) is one of the main live crab habitat which is also the main blue swimming crab (BSC) production centers in Indonesia. FMA 712 has the characteristics of BSC fishery management problems is lower stock of crabs and the high number of fishing fleet. This study was aims to determine the condition of BSC fishery management in Java Sea waters, which developed based on performance indicators of ecosystem approach (EAFM). The six EAFM indicators used as the basis for analysis (1) Fisheries Resources; (2) Habitat and Ecosystem; (3) Fishing Technology; (4) Social; (5) Economic; and (6) Institutional. The results of each research domain indicates that the value of the composite score EAFM classified as category medium in the range of 1.5-2.5. The entire aggregate assessment results obtained domain scores density values ranging between 6.3 - 55.9. Domain which has high density is the domain of social and institutional domains of 54.7 and 55.9 in the medium category. Domain habitat /ecosystem and the economic domain has a score of 36.5 and 20.7 with less category. For domain domain fish resources and fishing techniques have a score of 6.3 and 16.3 with the bad category. The overall of EAFM indicators ranged between 6.3 - 55.9 Indicating that the management of BSC in FMA 712 under poor to moderate category. Recommendations of this study is to carry out repairs BSC fishery management gradually to perform five steps management; minimum legal size for capture, open closed fishing season, control gear and fishing areas, protection and rehabilitation of habitat and implement restoking.
POLA PENGELOLAAN RAWA LEBAK BERBASIS KETERPADUAN EKOLOGI EKONOMI- SOSIAL-BUDAYA UNTUK PEMANFAATAN BERKELANJUTAN Dina Muthmainah; Zulkifli Dahlan; Robiyanto H. Susanto; Abdul Karim Gaffar; Dwi Putro Priadi
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 4, No 2 (2012): (November 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.312 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.4.2.2012.59-67

Abstract

Rawa lebak merupakan ekosistem yang dinamis, mengalami perubahan dua arah dari sistem akuatik ke sistem terestrial, dipengaruhi oleh faktor-faktor hidrologi, mutu air, vegetasi, fauna, kepemilikan dan pemanfaatan. Penelitian ini dilaksanakan di rawa lebak Kecamatan Pampangan Kabupaten Ogan Komering Ilir Provinsi Sumatera Selatan, bertujuan untuk merumuskan pola pengelolaan rawa berbasis keterpaduan (integrated system) antara ekologi, ekonomi dan sosial budaya. Pengamatan karakteristik hidrologi, ekologi, pola pemanfaatan, sosial dan budaya menunjukkan bahwa tipologi rawa lebak di lokasi penelitian dapat dibagi tiga yaitu rawa banjiran, rawa tadah hujan dan rawa campuran. Dari hasil analisis keterkaitan faktor internal dan eksternal, penilaian untuk rawa tadah hujan adalah 104 sedangkan rawa banjiran dan rawa campuran masingmasing 68 dan 45. Pola pengelolaan yang dapat disarankan untuk rawa tadah hujan diarahkan pada mempertahankan kekhasan ekosistem dengan pemanfaatan bagi sektor perikanan dengan kegiatan tambahannya adalah pertanian dan peternakan. Pada rawa banjiran diarahkan pada kegiatan pertanian dengan kegiatan lainnya adalah perikanan dan pertanian tergantung pada musim dan ketersediaan air, dan pada rawa campuran diarahkan pada peningkatan efisiensi pemanfaatan air dengan menyediakan lebung dan penyerasian pola tanam dengan daur banjir.Lebak swamp is a dynamic ecosystem, seasonally changed from aquatic to terrestrial ecosystem vice versa. Swamp functions were influenced by charateristic of hydrobiology, water quality, vegetation, wild animal, property right and utilization. The research conducted in lebak swamp of Pampangan Subdistrict, Ogan Komering Ilir District, South Sumatra Province to know environmental characteristic as components to builtd management scheme of those swamp dealing with integrated system between ecology, economy and socio cultural. The characteristics of hydrobiology, ecology, utilization, sociocultural show that in research location, the swamp could be divided into three types,i.e., floodplain swamp, rain-fed swamp and mixed swamp. The result shows that relationship between internal and external factor with ecosystem services gave value of 104 for rain-fed swamp, while floodplain and mixed swamp were 68 and 45 respectively. Suggested management scheme for rain-fed swamp with high ecology score as more natural swamp ecosystem is a fishing area with additional utilization as agricultural land and animal husbandry. Floodplain swamp can manage for agricultural land with additional activity fisheries and animal husbandry depending on season and water table. The management for mixed swamp can suggested primarily on water conservation by preparing fish pool and planting pattern due to maintain water table for agriculture use during dry season.
KESIAPAN DAN PENGUATAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT DALAM MENDUKUNG PENGELOLAAN PROGRAM RESTOCKING LOBSTER Zahri Nasution; Bayu Vita Indah Yanti; Nurlaili Nurlaili
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 10, No 1 (2018): (Mei 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.346 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.10.1.2018.33-42

Abstract

Pemulihan populasi lobster dilihat dari aspek sosial ekonomi adalah penyiapan rekayasa sosial dalam mendukung upaya penguatan kelembagaan restocking lobster berbasis masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesiapan dan penguatan kelembagaan masyarakat dalam pengelolaan program restocking lobster untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Penelitian dilakukan pada tahun 2015 di Nusa Tenggara Barat (Kab. Lombok Tengah dan Kab. Lombok Timur), Jawa Barat (Kab. Pangandaran) dan Banten (Kab. Pandeglang). Data aspek kelembagaan yang dikumpulkan adalah kegiatan pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya perikanan kaitannya dengan pengembangan restocking lobster. Informan terdiri dari masyarakat nelayan, petugas pemerintah daerah di berbagai kantor dinas terkait, petugas di kantor Desa, dan informan yang dianggap mengetahui keberadaan data dan informasi kelembagaan pengelolaan sumberdaya perikanan di wilayah yang diteliti. Wawancara dilakukan secara terstruktur dan tidak terstruktur yang dipandu dengan topik data. Data dianalisis menggunakan metode kualitatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa lokasi yang paling memiliki kesiapan dalam mendukung program restocking lobster adalah Kabupaten Pangandaran., maka Opsi kebijakan yang diperlukan dalam rangka meningkatkan kinerja program restocking lobster berbasis masyarakat adalah memberikan pemahaman kepada pengurus organisasi yang terbentuk dalam program restocking lobster dan manfaatnya bagi masyarakat, sumber daya dan populasi lobster dan pemerintah. Termasuk didalamnya regulasi penangkapan dan dukungan sarana dan prasarana untuk kelancaran petugas pengawasan di lapangan. Penegakan aturan yang terkait dengan penetapan otoritas pengelolaan sumberdaya lobster terkait program restocking lobster perlu dilakukan.Lobster population recovery, viewed from the social and economic aspects will require the preparation of social engineering in support of the efforts to strengthen community-based lobster restocking. This study was conducted to express readiness and institutional strengthening in the community in the management of lobster restocking program, with the ultimate goal is to improve the welfare of society. The study was conducted in 2015 with the location of West Nusa Tenggara (in Central Lombok district and East Lombok), West Java (in Pangandaran district), and Banten (in the Pandeglang district). The data collected related to the institutional aspects is the activity of resource utilization and management of fisheries and fisheries-based connection with the development of restocking activities. Informants consisted of fishing communities, local government officials in the various offices concerned, the clerk in the office of the chief, and informants were considered to know the existence of data and information on fisheries resources management institutions in the regions studied. Interviews were conducted either in a structured or unstructured guided by the topic of data prepared in this study. Data were analyzed using qualitative methods. The results showed that most locations have the readiness to support the restocking program is Pangandaran Regency. In order to improve the performance of community-based lobster restocking programs, the policy options required are to provide an understanding to the organizational board formed in the lobster restocking program and its benefits to communities, resources and government. Including the restrictions on the use of fishing gear and support facilities and infrastructure that provide fluency in the duty as a supervisory officer in the field. It is also necessary to enforce the rules related to the establishment of fish / lobster resource management authority related to the lobster restocking program.
SUMBER DAYA IKAN PERAIRAN UMUM DARATAN DI INDONESIA-TERABAIKAN Endi Setiadi Kartamihardja; Kunto Purnomo; Chairulwan Umar
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 1, No 1 (2009): (Mei 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.392 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.1.1.2009.1-15

Abstract

Perairan umum daratan Indonesia mempunyai luas 13,85 juta ha yang terdiri atas 12,0 juta ha sungai dan paparan banjiran (flood plains), 1,8 juta ha danau alam (natural lakes) dan 0,05 juta ha danau buatan (man made lakes) atau waduk (reservoirs). Potensi perikanan tangkap di perairan umum daratan ditaksir mencapai 3.034.934 ton per tahun. Perairan umum daratan berperan penting sebagai sumber protein dan ketahanan pangan, sumber ekonomi masyarakat, sumber lapangan kerja, sumber plasma nutfah dan genetik, sumber devisa dan pendapatan asli daerah, serta obyek wisata alam (ecoturism). Perairan umum daratan yang terabaikan akan berdampak terhadap penurunan potensi luasnya, keanekaragaman jenis ikan, produksi ikan, kesempatan dan peluang kerja (peningkatan pengangguran), pendapatan asli daerah, dan fungsi estetika. Pengelolaan perairan umum dengan benar akan berpengaruh terhadap peningkatan produksi minimal 20% dan fungsi ekologis, sehingga perikanan perairan umum daratan dapat dijadikan tumpuan pembangunan perekonomian masyarakat, khususnya nelayan. Berbagai upaya yang dilakukan untuk membangun perikanan perairan umum daratan antara lain mempromosikan akan penting dan peranan sub sektor perikanan, memberikan perhatian terhadap riset di bidang sumber daya perikanan, melakukan valuasi sumber daya, melaksanakan monitoring dan evaluasi (termasuk perbaikan statistik perikanan), mengembangkan ko manajemen dan kapasitas sumber daya manusia.Inland waters of Indonesia has a total area of 13.85 million ha composing of 12.0 million ha rivers and flood plains, 1.8 million ha natural lakes and 0.05 million ha man made lakes/ reservoirs. Total of fish potential yields of the inland waters was estimated to be 3,034,934 ton per yr. The inland waters plays an important role as source of protein and food security, source of economic and supporting livelihood of the peoples, source of employment, sources of genetics and germ plasm, contributing to foreign exchange and local government earning, and eco-tourism. The neglecting inland waters has affected on the decreasing potential area, fish potential yields, fish species diversity, employment opportunity, and local government earning and the ecological function. Management of the resources could impact on the increasing fish yields at least 20% and its ecological function, so that the inland waters fisheries can be used as a based of economic development of the peoples especially for the fishers. Some efforts which should be done in development of the inland waters fisheries are promotion of the role and importance of fisheries between other sectors, prioritizing research on fisheries resources, valuation of inland waters fisheries, monitoring and evaluation (including fisheries statistics), development of fisheries co-management and capacity building of the human resources.
KARAKTERISTIK LIMNOLOGIS, PERKEMBANGAN POPULASI IKAN PATIN SIAM (Pangasionodon hypophthalmus) INTRODUKSI DAN PERIKANAN DI WADUK WONOGIRI, JAWA TENGAH Endi Setiadi Kartamihardja; Kunto Purnomo; Sonny Koeshendrajana; Chairulwan Umar
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 3, No 1 (2011): (Mei 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.292 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.3.1.2011.37-50

Abstract

Ikan patin siam (Pangasianodon hypophthalmus) diintroduksikan ke Waduk Wonogiri (luas 8.800 ha), Jawa Tengah pada tahun 1999-2002 yang ditujukan untuk mengisi relung ekologis yang kosong dan meningkatkan produksi ikan. Penelitian tentang perubahan karakteristik limnologis waduk, perkembangan dan kontribusi sumber daya ikan patin terhadap hasil tangkapan serta implikasi pengelolaan dan konservasinya telah dilakukan pada tahun 2009. Penelitian ini dilakukan melalui observasi lapang, studi pustaka, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Waduk Wonogiri telah mengalami penyuburan (eutrofikasi). Makanan utama ikan patin adalah plankton, ikan ini dapat memijah secara alami di waduk namun diduga laju rekruitmennya lebih rendah dari laju penangkapannya. Pemanfaatan sumber daya ikan patin siam telah mencapaitingkat optimum yang diindikasikan dengan hasil tangkapan yang stabil pada kisaran 149,6-155,2 ton selama periode tahun 2005-2009. Langkah-langkah pengelolaan yang perlu diterapkan meliputi perlindungan daerah pemijahan dan asuhan ikan patin di muara Sungai Keduwang; perlindungan induk ikan patin di kawasan budi daya keramba jaring apung Cakaran; penebaran benih patin untuk menambah rekruitmen; pengawasan dan penegakkan hukum dalam penggunaan alat tangkap yang merusak dengan melibatkan kelompok masyarakat pengawas; monitoring dan evaluasi hasil tangkapan dengan melibatkan peran serta pedagang pengumpul; dan penguatan kelembagaan pengelola perikanannya. Introduction of striped catfish (Pangasianodon hypophthalmus) to Wonogiri Reservoir (a surface water area of 8,800 ha), at Central Java has been conducted in the period 1999-2002. A field observation, desk study, and interview aimed to evaluate limnological characteristics of the reservoir, growth and development of the striped catfish resource, the contribution to total yield and its management and conservation implication has been conducted in 2009. Results of the study showed that the Wonogiri Reservoir developed to become an eutrophic waters. The Striped catfish feed on plankton, grew faster and spawn naturally but it is estimated that the recruitment rate was lower than that the exploitation rate. The exploitation of the catfish resource has reached the optimum utilization which is indicated with stabilize the catfish yield at a range of 149.6-155.2 ton in the period of 2005-2009. Management measures which should be implementedinclude: protecting of the striped catfish spawning and nursery ground at mouth of Keduwang River; protecting the striped catfish brood stock at fish cage culture area at Cakaran; restocking of striped catfish juvenile to increase their recruitment;surveilance and law enforcement of the destructive fishing gear through participation of the society group; monitoring and evaluation of the fish yield through participation of the fish broker; and increasing capacity building of the local fisheries management unit.
PEMBELAJARAN DARI PENGELOLAAN DAN KONSERVASI SUMBER DAYA IKAN ARWANA MERAH (Scleropages formosus, Muller and Schlegel, 1844) BERBASIS MASYARAKAT DI DANAU EMPANGAU, KALIMANTAN BARAT Endi Setiadi Kartamihardja; Chairulwan Umar; Aisyah Aisyah
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 6, No 2 (2014): (November 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.991 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.6.2.2014.65-74

Abstract

Permasalahan utama yang teridentifikasi terhadap penurunan populasi sumber daya ikan arwana adalah eksploitasi berlebih, alih fungsi lahan dan degradasi habitat akibat penggundulan hutan. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi penurunan populasi ikan arwana adalah konservasi eksitu melalui penangkaran dan konservasi insitu. Konservasi insitu ikan arwana merah (Sclerofages formosus) di habitatnya telah dilakukan oleh penduduk lokal di sekitar Danau Empangau sejak tahun 1980. Hasil pengamatan di lapangan dan kajian pustaka diperoleh keragaan pengelolaan arwana merah baik di tingkat lokal maupun nasional. Pembelajaran yang dapat dipetik dari pengelolaan dan konservasi sumber daya ikan arwana merah berbasis masyarakat ini adalah salah satu pilihan terbaik dalam rangka optimasi pemanfaatan dan konservasi di habitat aslinya. The main problems identified in decreasing of arowana population are over-exploited, habitat fragmentation and habitat degradation due to deforestation. Breeding operations as an exitu conservation and an insitu conservation could be conducted to solve those problems. The insitu conservation of red arowana (Scleropages formosus) has been done by local community around Empangau Lake, one of the natural habitats since 1980. Management of the red arowana in local and national level was reviewed based on the results of field survey and desk study. Lesson learned of community based management of red arowana is the best options for the optimal utilization and conservation of the species at their natural habitat.
ANALISIS DAMPAK REKLAMASI TERHADAP LINGKUNGAN DAN PERIKANAN DI TELUK JAKARTA Reny Puspasari; Sri Turni Hartati; Regi Fiji Anggawangsa
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 9, No 2 (2017): (November, 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.98 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.9.2.2017.85-94

Abstract

Reklamasi pantai Teluk Jakarta merupakan rencana pemerintah yang ditujukan untuk mengendalikan banjir di Kota Jakarta dan pengembangan area bisnis yang tumbuh semakin pesat. Reklamasi dilaksanakan dengan membangun tanggul raksasa sepanjang 60 km di Teluk Jakarta dan pembangunan 18 pulau kecil di depan pantai. Reklamasi pantai dapat memberikan dampak terhadap lingkungan perairan dan perikanan. Dalam rangka pelaksanaan pengelolaan perikanan berkelanjutan, maka perlu dilakukan analisis dampak reklamasi terhadap kondisi kualitas air dan perikanan di teluk Jakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dampak reklamasi terhadap kondisi kualitas air dan perikanan melalui analisis data primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reklamasi pantai menambah tekanan terhadap kondisi lingkungan perairan yang diindikasikan oleh penurunan kecerahan perairan, salinitas dan nilai indeks keanekaragaman fitoplankton dan makrozoobenthos.  Reklamasi pantai akan menghilangkan daerah penangkapan sero, bagan tancap dan keramba kerang hijau, yang mengakibatkan terjadinya penurunan produksi ikan.  Potensi penurunan produksi ikan yang akan terjadi sekitar 82,2 ton/tahun.  Di sisi lain, bagian timur Teluk Jakarta mempunyai potensi sebagai daerah asuhan ikan dan udang.  Reklamasi pantai akan mengganggu fungsi ekologis Teluk Jakarta sebagai daerah asuhan ikan dan udang.  Reklamasi Teluk Jakarta dapat dilaksanakan dengan disertai upaya pengelolaan kawasan untuk menjaga peran dan fungsi ekologisnya.Coastal reclamation in Jakarta Bay is one of government planning as flood disaster management and business development area that has been grow very fast.  A 60 km of giant sea wall and 18 small reclamation islands in Jakarta Bay will be developed. Coastal reclamation will have an impact on environment and fisheries. In the context of sustainable fisheries management, an impact analysis of coastal reclamation on water quality and fisheries are needed. Research objectives are to analyze the coastal reclamation impact on water quality and fisheries in Jakarta Bay, through primary and secondary data analysis. Results showed that coastal reclamation adds pressure to water quality indicated by decreasing the water transparency, salinity and the value of diversity index of phytoplankton and makrozoobenthos.  Coastal reclamation will eliminate the fishing area of set net (stationary fishing gear), stationary lift net and green mussel trap nets, resulting in fish production loss.  The potential decrease of fish production is about 82,2 ton/yr .  On the other side, Jakarta Bay has a potential area of fish and shrimp nursery ground in the eastern part of the bay.  Coastal reclamation will disrupt its ecological function as nursery ground.  Reclamation of Jakarta Bay can be carried out along with area management to maintain its ecological role and function.
KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA IKAN KAKAP MERAH (Lutjanus spp.) DI LAUT ARAFURA Budi Iskandar Prisantoso; Badrudin Badrudin
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 2, No 1 (2010): (Mei 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (37.486 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.2.1.2010.71-78

Abstract

Sumber daya ikan kakap merah di Laut Arafura secara efektif dimanfaatkan oleh perikanan rawai dasar dan pukat ikan skala industri. Pukat udang dengan target penangkapan udang tertangkap juga sejumlah besar ikan demersal, di mana ikan kakap merah (Lutjanus spp.) berukuran kecil sering tertangkap dalam jumlah yang sedikit. Melaui kajian genetic similarity Australia menyimpulkan bahwa ikan kakap merah di kedua sektor Laut Arafura tersebut merupakan satu unit stok yang dikelola secara bersama melalui kerangka kerja Indonesia- Australia shared snapper management plan. Secara ekonomi, langkah pengelolaan bersama tersebut mempunyai implikasi luas yang berpotensi merugikan Indonesia. Hasil analisis data dan informasi lanjutan menemukan bahwa populasi ikan kakap merah di kedua sektor perairan Laut Arafura merupakan unit-unit stok yang terpisah dengan cakupan kawasan perairan yang sangat luas (mega separate stock). Dengan demikian stok ikan kakap merah di kedua sektor Laut Arafura tersebut dapat dikelola sesuai dengan yurisdiksi, kebijakan, dan tujuan pengelolaan yang ditetapkan oleh masing-masing negara.Red snapper resources in the Arafura Sea have been effectively exploited by the industrial scale of bottom long line, fish trawl, and shrimp trawl fisheries. A substantial mount of demersal fish caught by the shrimp trawl fisheries in which a small size (juvenile) red snapper species was also retained. Through genetic similarity studies Australia concluded that the red snapper stock in both sector of the Arafura Sea belong to one stock unit and should collaborative managed under the framework of Indonesia-Australia shared snapper management plan. Based on the economic aspect this management has a wide implication that lead to some potential losses to Indonesia. Further studies on some population dynamics aspects and analysis of the available data and information it was found that the red snapper stocks in the two sectors of the Arafura Sea provide a mega separate stock, occupying a very wide waters area. Based on these findings it can be stated that management of these mega separate stock could be managed in accordance with their respective jurisdictions, policies, and management objectives set up by the respective countries.

Page 11 of 20 | Total Record : 198