cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Universitas Papua Jalan Gunung Salju, Amban, Manokwari, Papua Barat - 98314
Location
Kab. manokwari,
Papua barat
INDONESIA
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Sciences)
Published by Universitas Papua
ISSN : 2620939X     EISSN : 26209403     DOI : -
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis diterbitkan oleh Fakultas Peternakan Universitas Papua. Jurnal ini merupakan media komunikasi ilmiah dibidang peternakan dan veteriner yang berupa hasil penelitian atau telaah pustaka (review) yang meliputi produksi ternak, nutrisi dan makanan ternak, sosial ekonomi peternakan, dan budidaya ternak/satwa harapan, kesehatan ternak dan hewan kesayangan, serta veteriner. Jurnal ini diterbitkan dengan frekuensi dua kali setahun pada bulan Maret dan September. Redaksi menerima sumbangan artikel dengan ketentuan penulisan seperti tercantum pada halaman akhir pada isi jurnal ini.
Arjuna Subject : -
Articles 343 Documents
Kegiatan dan Pemanfaatan Satwa Buruan di Kampung Yembikeri Distrik Rumberpon Kabupaten Teluk Wondama: Activities and Utilization of Hunted Animal in Yembikeri Village Rumberpon District Teluk Wondama Regency Bernadetta WI Rahayu; Jonly Woran; Sientje Lumatauw; Rein Kaikatui
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol. 12 No. 1 (2022): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v12i1.265

Abstract

Abstract  This study aims to determine the level of exploration of animal diversity by the people in the form of hunting and utilization of hunted animals in Yembikeri Village, Rumberpon District, Teluk Wondama Regency. The research was conducted for 2 (two) months and was carried out using a survey technique through interviews with the people of Yembikeri village who carried out hunting activities. The results of this study were that the types of animals obtained were deer, wild boar and bandikut. The hunting method used is a combination of pairs of snares and hunting using bows, spears, machetes and assisted by dogs. Hunting activities are carried out in groups and during the day. Hunting locations in primary forests, grasslands, shrubs and watersheds with a fairly high success rate. The utilization of hunted animals is consumed and sold. Keywords: Bandicoot; Deer; Hunting; Wild boar   Abstrak  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sampai sejauh mana eksplorasi keanekaragaman satwa yang dilakukan masyarakat berupa kegiatan berburu dan pemanfaatan hewan buruan di Kampung Yembikeri, Distrik Rumberpon, Kabupaten Teluk Wondama. Penelitian dilakukan selama 2 (dua) bulan dan dilakukan dengan teknik survei melalui wawancara pada masyarakat kampung Yembikeri yang melakukan kegiatan berburu. Hasil penelitian ini adalah bahwa jenis satwa yang diperoleh adalah rusa, babi hutan dan bandikut.  Metode berburu yang dilakukan adalah kombinasi pasang jerat dan berburu dengan menggunakan alat busur,tombak, parang dan dibantu anjing.  Kegiatan berburu dilakukan berkelompok dan pada siang hari. Lokasi berburu di hutan primer, padang rumput, semak dan daerah aliran sungai dengan tingkat keberhasilan cukup tinggi. Pemanfaatan hasil buruan adalah dikonsumsi dan dijual.  Kata kunci: Babi hutan; Bandikut; Berburu; Rusa
Hubungan Ukuran Tubuh dengan Bobot Badan dan Bobot Karkas Bandikut (Echymipera rufescens) Di Kampung Manawi Distrik Angkaisera Kabupaten Kepulauan Yapen: The Relationship between Body Measurement and Body Weight and Carcass Weight of Bandicoot (Echymiera rufescens) in Manawi Village, Angkaisera District, Yapen Isand Regency Sonei G. Bonai; Frandz Pawere; Hanike Monim
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol. 11 No. 3 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v11i3.267

Abstract

Abstract Bandicoot (Echypera rufescens) is an alternative source of animal protein and a source of germplasm for humans, especially local communities in Papua. These animals are obtained by hunting and/or setting traps in the community's closest habitat. The aim of this research was to determine the relationship between body measurements and body weight and carcass weight by utilizing 32 bandicoots, 16 males and 16 females, with a live weight range of 400 - 2000 grams in Yapen Island Regency, Papua. The study was conducted by using an explorative study and the data were analyzed using multiple correlations and regression. The carcass was obtained by slaughtering the head, removing the blood, and then removing the hair by burning (singeing). The average body weight of male bandicoots was 1403 grams and that of females was 598.75 grams, while the average carcass weights of males and females were 1050.06 grams and 415 grams, respectively. The average heart girth of male bandicoots is 23.03 cm and that of females is 17.81 cm, while the average body length of male and female bandicoots is 25.19 cm and 18.91 cm, respectively. The average percentage of male bandicoot carcasses was 73.99 cm and that of females was 69.22 cm. The correlation coefficient between body weight and body measurements was 0.911 while the carcass weight and body measurements were 0.901. The correlation between body weight and carcass of male bandicoots were 0.911 and 0.901. The correlation between body weight and carcass of female bandicoot were 0.702 and 0.747. The regression equation for male bandicoots to estimate body weight (BB) and carcass weight (BK) were BB = (-1705, 594+84,432 X1 +46,234X2) and (BK = -432,092 +71,545 X1 +33,127X2). The female bandicoot regression equations to estimate body weight (BB) and carcass weight (BK) were: (BB = -509,134+39,437 X1 +21,443X2) and (BK= -436,703 +31,720 X1 +15,164X2). Keywords: Bandicut (Echypera rufescens); Carcass length; Carcass weight; Carcass; Heart girth; Live weight; Singeing Abstrak Bandikut (Echypera rufescens) merupakan salah satu sumber alternatif protein hewani dan sumber plasma nutfa bagi manusia khususnya masyarakat lokal yang berada di Papua. Hewan ini diperoleh dengan cara berburu dan/atau pemasangan jerat di habitat terdekat masyarakat. Penelitian tentang hewan ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara ukuran-ukuran tubuh dengan bobot badan dan bobot karkas dengan memanfaatkan 32 ekor bandikut masing-masing 16 ekor jantan dan 16 ekor betina dengan kisaran berat hidup 400 - 2000 gram. Karkas diperoleh dengan cara bagian kepala disembelih, dikeluarkan darah kemudian dilakukan penghilangan bulu dengan cara dibakar (singeing). Karkas terdiri dari daging, tulang dan lemak setelah kepala, isi rongga dada dan perut, kaki belakang bagian bawah dan kaki depan bagian bawah serta ekor dikeluarkan. Rata-rata bobot badan bandikut jantan adalah 1403 gram dan betina adalah 598,75 gram, sedangkan rata-rata bobot karkas jantan dan betina masing-masing adalah 1050,06 gram dan 415 gram. Rata-rata lingkar dada bandikut jantan adalah 23,03 cm dan betina adalah 17,81 cm, sedangkan rata-rata panjang badan bandikut jantan dan betina berturut-turut adalah 25,19 cm dan 18,91 cm. Rata-rata persentase karkas bandikut jantan adalah 73,99 cm dan betina adalah 69,22 cm. Koefisien korelasi antara bobot badan dengan ukuran-ukuran tubuh adalah 0,911 sedangkan antara bobot karkas dengan ukuran-ukuran tubuh adalah 0,901. Korelasi bobot badan dan karkas bandikut jantan adalah 0,911 dan 0.901. Korelasi bobot badan dan karkas bandikut betina adalah sebesar 0,702 dan 0,747. Persamaan regresi bandikut jantan untuk menduga bobot badan (BB) dan bobot karkas (BK) adalah BB = (-1705, 594+84,432 X1 +46,234X2 dan BK = -432,092 +71,545 X1 +33,127X2. Persamaan regresi bandikut betina untuk menduga bobot badan (BB) dan bobot karkas (BK) adalah BB = -509,134+39,437 X1 +21,443X2 dan BK= -436,703 +31,720 X1 +15,164X2. Kata kunci: Bandicut (Echypera rufescens); Berat karkas; Berat potong; Karkas; Lingkar dada; Panjang karkas.
Kecernaan In Vitro Kulit Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) yang Difermentasi Cairan Rumen Kambing : In Vitro Digestibility of Fermented Peanut Hull (Arachis hypogaea L.) by Goat Rumen Fluid Theresia Nur Indah Koni; Herlina Bulu; Bachtaruddin Badewi
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol. 12 No. 1 (2022): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v12i1.280

Abstract

Abstract  Peanut shell is one of the agricultural waste that can be optimized its uses as ruminant animal feed. However, the limitation in the feed were due to high lignin content that reach 34.30%. Fermentation by goat rumen fluid can improve nutrients and the digestibility of feedstuffs. The purpose of this study was to determine dry matter and organic matter digestibility by in vitro of fermented peanut hull using goat rumen fluid. Peanut hull fermentation with goat rumen fluid used a completely randomized design with four treatments and five replications. The treatments were P0: fermented peanut hull without goat rumen fluid, P1: fermented peanut hull using 25% goat rumen fluid, P2: fermented peanut hull using 30% goat rumen fluid, P3: fermented peanut hull using 35% goat rumen fluid. The data were analyzed by analysis of variance and continued with Duncan's multiple range test. The results showed that goat rumen fluid had no significant effect (P> 0.05) on dry matter and organic matter of fermented peanut hull. However, digestibility of dry matter and organic matter had affected significantly (P<0.05)  by fermented peanut hull. It was concluded that utilization of 25% goat rumen fluid could increase in vitro digestibility of dry matter and organic matter of fermented peanut hull. Keywords: Dry Matter; Goat Rumen Fluid; In Vitro Digestibility; Organic Matter; Peanut Hull.   Abstrak  Kulit kacang tanah merupakan salah satu limbah pertanian yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ruminansia. Namun kadar lignin yang tinggi mencapai 34,30% membatasi pemanfaatannya. Fermentasi dengan cairan rumen kambing dapat memperbaiki nutrien dan kecernaan bahan pakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui secara in vitro kecernaan bahan kering dan bahan organik kulit kacang tanah hasil fermentasi oleh cairan rumen kambing. Pada penelitian ini dilakukan proses fermentasi kulit kacang tanah dengan menggunakan cairan rumen kambing. Fermentasi kulit kacang tanah dengan cairan rumen kambing menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah P0: fermentasi kulit kacang tanah fermentasi tanpa cairan rumen, P1: kulit kacang fermentasi dengan cairan rumen kambing 25%, P2: kulit kacang fermentasi dengan cairan rumen kambing 30%, P3: kulit kacang fermentasi dengan cairan rumen kambing 35%. Kulit kacang tanah yang telah dicampur dengan cairan rumen kambing sesuai perlakuan kemudian dimasukan ke dalam toples dan ditutup rapat, difermentasi selama 21 hari. Hasil fermentasi ini kemudian dilakukan penguji kecernaan in vitro sesuai dengan perlakuan pada proses fermentasinya. Data hasil pengukuran kecernaan secara in vitro dianalisis dengan analisis varians dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cairan rumen kambing tidak berpengaruh nyata (P> 0,05) terhadap  kadar bahan kering dan bahan organik kulit kacang tanah, tetapi berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik kulit kacang tanah. Disimpulkan bahwa 25% cairan rumen kambing dapat meningkatkan kecernaan bahan kering in vitro dan bahan organik kulit kacang tanah. Kata Kunci: Bahan kering; Bahan organik; Cairan rumen kambing; Kecernaan in vitro; Kulit kacang tanah
Dinamika Populasi Ternak Kambing Lakor di Kecamatan Lakor Kabupaten Maluku Barat Daya: The Population Dynamics of Lakor Goat Livestock in Lakor, Southwest Maluku Regency Harmoko; H. Jesajas; J. Makatita; J. M. Lainsamputty; R. L. Dolewikou
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol. 12 No. 1 (2022): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v12i1.287

Abstract

Abstract  This study aims at determining the population dynamics of the Lakor goats raised traditionally by the local community in Lakor District, Southwest Maluku Regency. This study was carried out in Lakor for approximately one month from November to December 2021. The selection of the research location was through purposive sampling. In collecting the data, the researchers applied direct observation (survey), interviews with the breeders using a questionnaire, and documentation. The collected data were in the form of primary and secondary data. In this study, the research variables were the population structure of the Lakor goat, livestock input, livestock output, and natural increase value. The data in this study were tabulated and analyzed using descriptive statistical analysis by utilizing a frequency table and being represented in percent (%). Results showed as follows. Based on the education level of Lakor goat breeders, those who had elementary education reached 46.67%, those having junior high education reached 21.67%, and those having senior high education reached 25.00%. Meanwhile, based on the population dynamics of Lakor goats, the percentage of kid male Lakor goats was 22.96% and that of females was 34.24%, the percentage of adolescent male Lakor goats was 11.06% and that of females was 13.99%, and the percentage of adult male Lakor goats was 8.42% and that of females was 9.32%. Moreover, the input of Lakor livestock was 28.67% from births and 9.88% from purchases. Furthermore, the output of Lakor goats was 6.54% death, 6.96% slaughter, and 14.61% sales, and Natural Increase 22,13%. Keywords: Lakor goat; Livestock input; Livestock output.   Abstrak  Penelitian dilakukan dengan maksud untuk mengetahui dinamika populasi budidaya ternak kambing Lakor yang dilakukan secara tradisional oleh masyarakat peternak di Kecamatan Lakor Kabupaten Maluku Barat Daya. Penelitian dilaksakanan di Kecamatan Lakor selama kurang lebih bulan yakni November hingga Desember 2021. Penetapan lokasi penelitian dengan menggunakan metode purposive sampling dan pengamatan langsung (survei) pada lokasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat bantu untuk mewawancarai para peternak. Tekni pengambilan data penelitian menggunakan tekni observasi, wawancara dan dokumentasi, data penelitian yang dikumpulkan yaitu data primer dan data skunder. Variabel penelitian yaitu struktur populasil kambing Lakor, input ternak, output ternak dan Nilai natural increase. Data hasil penelitian ditabulasikan dan dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif dengan menggunakan tabel frekuensi yang dinyatakan dalam persen (%). Hasil penelitian bahwa tingkat pendidikan peternak kambing Lakor yaitu SDN mencapai 46,67%, peternak dengan pendidikan SMP mencapai 21,67 dan SMA mencapai 25,00%. Sedangkan data dinamika populasi ternak kambing Lakor bahwa persentase anakkan kambing Lakor jantan 22,96% dan betina 34,24%, persentase kambing Lakor mudah jantan 11,06% dan betina 13,99%, dan persentase kambing Lakor dewasa jantan 8,42% dan betina 9,32%, Input ternak Lakor berasal kelahiran 28,67% dan pembelian 9,88%, output ternak kambing Lakor yaitu kematian 6,54%, pemotongan 6,96% dan penjualan 14,61%, dan nilai Natural Increase 22,13%. Kata Kunci: Input ternak; Kambing lakor; Output ternak
Aktivitas Antibakteri Gel Daun Sembung Legi (Blumea balsamifera L.) Sebagai Sediaan Penyembuh Luka Pada Mencit (Mus musculus L.) : Antibacterial Activity of Sembung Legi Leaf Gel (Blumea balsamifera L.) As a Wound Healing Preparation in Mice (Mus musculus L.) Wa Ode Harlis; Muh. Hajrul Malaka; Alfiawin Alfiawin
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol. 12 No. 2 (2022): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v12i2.206

Abstract

Abstract  The purpose of this study was to determine the antibacterial activity of sembung legi leaf gel (Blumea balsamifera L.) and its effect on wound healing in mice (Mus musculus L.). The leaves of sembung legi are first extracted by maceration and then made gel preparations with a formula of 3%, 4%, and 5%. Parameters in this research is antibacterial test against Staphylococcus aureus bacteria and the length of time for wound healing. The activity of antibacterial is tested  by measuring the diameter of the zone of inhibition against the growth of S.aureus bacteria. Gel test as a wound healing preparation was carried out on mice.A total of 15 mice aged 2 - 3 months were divided into 5 treatment groups, namely negative control (without treatment), positive control (Kalmicetine 10%), K1 (3% gel), K2 (4% gel), and K3 (5% gel).  The back of the mice was injured with a 1 cm incision, then treated by sembung legi leaf gel 3 times a day for 14 days. Wound healing time data were analyzed by ANOVA and LSD test. The results showed that sembung legi leaf gel could inhibit the growth of S.aureus bacteria with an average diameter of the clear zone for each treatment, namely KN (0.0 mm), KP (30.15 mm), K1 (4.77 mm), K2 ( 4.81 mm), and K3 (6.31 mm). The parameters of the mean length of time for wound healing with healing parameters were the absence of erythema, swelling, wound closure, and healing for all treatments, namely KN (12.3 days), KP (8.3 days), K1 (11.3 days), K2 (10.6 days), and K3 (9.6 days). It is concluded that sembung legi leaf gel can inhibit the growth of S. aureus bacteria and speed up wound healing time, so that it can be used as an alternative gel preparation in wound healing. Keywords: Antibacterial activity; Leaf Blumea balsamifera L.; Mice; Staphylococcus aureus; Wound healing.   Abstrak  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri gel daun sambung legi (Blumea balsamifera L.) dan pengaruhnya terhadap penyembuhan luka pada mencit (Mus musculus L.). Daun sembung legi dimaserasi dan dibuat sediaan gel dengan formula 3%, 4%, dan 5%. Penelitian ini menguji antibakteri S. aureus dengan mengukur diameter zona hambat terhadap pertumbuhan bakteri dan lama waktu penyembuhan luka. Uji gel sebagai sediaan penyembuh luka dilakukan terhadap hewan uji mencit. Sebanyak 15 ekor mencit berumur 2 – 3 bulan dibagi ke dalam 5 kelompok perlakuan yaitu kontrol negatif (tanpa perlakuan), kontrol positif (Kalmicetine 10%), K1 (gel 3%), K2 (gel 4%), dan K3 (gel 5%). Punggung mencit dilukai dengan sayatan sepanjang 1 cm, kemudian dioleskan gel  daun sembung legi sebanyak 3 kali sehari selama 14 hari. Data lama waktu penyembuhan luka dianalisis dengan ANOVA dan uji LSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gel daun sembung legi dapat menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus dengan rata-rata diameter zona bening  setiap perlakuan yaitu  KN (0,0 mm), KP (30,15 mm), K1 (4,77 mm), K2 (4,81 mm), dan  K3 (6.31 mm). Rerata lama penyembuhan luka dengan parameter penyembuhan berupa tidak adanya eritema, pembengkakan, luka menutup, dan sembuh untuk semua perlakuan yaitu KN (12.3 hari), KP (8,3 hari), K1 (11,3 hari), K2 (10,6 hari), dan K3 (9,6 hari). Kesimpulan: Gel daun sembung legi dapat menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus dan mempercepat waktu penyembuhan luka, sehingga dapat dijadikan sebagai sediaan gel alternatif dalam penyembuhan luka. Kata Kunci : Aktivitas antibakteri; Daun Blumea balsamifera L.; Mencit; Penyembuhan luka; Staphylococcus aureus.
Analisis Morfometrik Ternak Itik Manila (Cairina moschata) di Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang: Morfometric Analysis of Muscovy Duck (Cairina Moschata) at District of Hamparan Perak, Deli Serdang District Andhika Putra; Tengku G. Pradana; Denny Alfachri
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol. 12 No. 2 (2022): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v12i2.215

Abstract

Abstract Muscovy ducks are included in the genus Cairina (Cairina moschata) originating from Mexico, Central America and South America. In Indonesia, this type of duck is known as a duck (entok) or Muscovy duck (muscovy duck). The Muscovy duck belongs to poultry that has relatively shorter legs than its body; the fingers have swimming membranes; the beak is covered by a delicate, sensitive membrane; concave-shaped fur, thick and greasy. The Muscovy duck is a waterfowl that leads to meat as potential commodity that has to be cultivated. This study aims to determine the phenotypic diversity of the Muscovy duck based on morphometrics. The method used in this study was purposive random sampling with the provision that Muscovy ducks aged over 6 months with a total of 100 male and 100 female Muscovy ducks. The parameter measured in this study were beak length, neck length, body length, wing bone length, body weight, femur length, shank length and third finger bone length. The results  indicate that the head includes the beak length of males 5.65 ± 0.35 cm and females 4.81 ± 0.31 cm. Male neck length 17.68±0.98 cm, and female 9.01±0.62 cm. Body parts include male body length of 25.86±0.86 cm, and female body length of 23.22±1.02 cm. The length of the wing bones of males is 27.50±1.24 cm, and that of females is 21.76±1.05 cm. Male body weight 3.45±0.20 kg, and female 1.99±0.28 kg. The legs include the length of the male thigh 8.72±0.44 cm, and the female 8.59±0.35 cm. male tarsometatarsus shank length 4.56±0.43 cm, and female 3.83±0.32 cm. The length of the third finger is 7.8±0.26 cm, and the female is 6.40±0.65 cm. The results showed that the morphometric size of the male Muscovy duck was longer than that of the female Muscovy duck due to its phylogenetic characteristics.  Keywords: Muscovy Duck, Morphometric   Abstrak  Itik Muscovy termasuk dalam keluarga (genus) Cairina (Cairina moschata) berasal dari Meksiko, Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Di Indonesia bebek ini dikenal dengan mentok (entok) atau itik Muscovy (muscovy duck) dan cukup berpotensi untuk dibudidayakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman fenotipik itik Muscovy berdasarkan morfometrik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive random sampling dengan ketentuan itik Muscovy berusia diatas 6 bulan dengan jumlah data 100 ekor jantan dan 100 ekor betina itik Muscovy. Data yang diukur adalah panjang paruh, panjang leher, panjang badan, panjang tulang sayap, bobot badan, panjang tulang paha, panjang shank dan panjang tulang jari ketiga. Panjang paruh jantan 5,65±0,35 cm dan betina 4,81±0,31 cm. Panjang leher jantan 17,68±0,98 cm, dan betina 9,01±0,62 cm. Panjang badan jantan 25,86±0,86 cm, dan betina 23,22±1,02 cm. Panjang tulang sayap jantan 27,50±1,24 cm, dan betina 21,76±1,05 cm. Bobot badan jantan 3,45±0,20 kg, dan betina 1,99±0,28 kg. Panjang paha jantan 8,72±0,44 cm, dan betina 8,59±0,35 cm. Panjang shank tarsometatarsus jantan 4,56±0,43 cm, dan betina 3,83±0,32 cm. Panjang jari ketiga 7,8±0,26 cm, dan betina 6,40±0,65 cm. Kesimpulan: Ukuran morfometrik itik Muscovy jantan lebih panjang dari pada itik Muscovy betina karena sifat phylogenetik. Kata Kunci : Itik Muscovy, Morfometrik
Pengaruh Dosis Inokulum Bacillus cereus V9 dalam Fermentasi Bungkil Inti Sawit (BIS) terhadap Retensi Nitrogen dan Energi Metabolisme pada Ayam Broiler: The Effect of Bacillus cereus V9 Inoculum Dosage in the Fermentation of Palm Kernel Cake on Nitrogen Retention and Metabolism Energy in Broiler Chicken Riska Rhamadhanti
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol. 12 No. 2 (2022): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v12i2.222

Abstract

Abstract  The use of palm kernel cake as poultry feed can be increased, so the limiting factor in the form of crude fiber content can be reduced through fermentation. This study aims to determine the metabolic energy content and nitrogen retention of this palm kernel cake fermented with Bacillus cereus V9. This study used 18 broiler chickens aged 35 days with a weight of ±1.5 kg. The research design used was a completely randomized design consisting of 4 treatments and 4 replications. The treatments given were the dose of Bacillus cereus V9 inoculum in the fermentation of palm kernel cake, namely P1 (0%), P2 (5%); P3 (10%); P4 (15%). The observed variables were nitrogen retention, pseudo metabolic energy, pure metabolic energy, nitrogen corrected pseudo metabolic energy, nitrogen corrected pure metabolic energy.The results showed that the administration of Bacillus cereus V9 inoculum in the fermentation of palm kernel cake significantly affected nitrogen retention, pseudo and pure metabolic energy content in broiler chickens. The administration of Bacillus cereus V9 inoculum as much as 10% in the fermentation of palm kernel meal showed a higher nitrogen retention value and metabolic energy than the administration of 5 and 15% inoculum. Based on the results of the study, it can be concluded that an inoculum dose of 10% Bacillus cereus V9 can be given in the fermentation of palm kernel cake to increase nitrogen retention and metabolic energy content in broiler chickens. Keywords: Bacillus cereus; Fermentation; Palm kernel cake   Abstrak  Pemanfaatan BIS sebagai pakan unggas dapat ditingkatkan, maka faktor pembatas berupa kandungan serat kasar harus dikurangi jumlahnya dan salah satunya adalah melalui fermentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan energi metabolisme dan retensi nitrogen dari BIS yang di fermentasi dengan Bacillus cereus V9. Penelitian ini menggunakan 18 ekor ayam broiler umur 35 hari dengan bobot ±1,5 Kg. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap yang terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah dosis pemberian inokulum Bacillus cereus V9 dalam fermentasi BIS  yaitu P1 (0%); P2 (5%); P3 (10%); P4 (15%). Pengubah yang diamati yaitu retensi nitrogen, energi metabolisme semu, energi metabolisme murni, energi metabolisme semu terkoreksi nitrogen, energi metabolisme murni terkoreksi nitrogen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian inokulum Bacillus cereus V9 dalam fermentasi BIS berpengaruh nyata terhadap retensi nitrogen, kandungan energi metabolisme semu dan murni pada ayam broiler. Pemberian inokulum Bacillus cereus V9 sebanyak 10 % dalam fermentasi BIS menunjukkan nilai retensi nitrogen dan energi metabolis yang lebih tinggi dari pemberian inokulum 5 dan 15 %. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dosis inokulum Bacillus cereus V9 sebesar 10% dapat diberikan dalam fermentasi BIS untuk meningkatkan retensi nitrogen dan kandungan energi metabolism pada ayam broiler. Kata kunci: Bacillus cereus; Bungkil Inti Sawit; Fermentasi
Pengaruh Pemberian Probiotik dan Tepung Kunyit dalam Ransum Terhadap Saluran Pencernaan itik Pegagan: The Impact of Adding Probiotics and Turmeric Flour to Ducks' Meals on Their Digestive Systems Meisji Liana Sari; Sofia Sandi; Eli Sahara; Asep I. M. Ali; Relti Relti
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol. 12 No. 2 (2022): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v12i2.237

Abstract

Abstract  Probiotic and turmeric powder is a combination of supplements which usually used to improve intestines microfology of livestocks and give the positive effect to the digestion. This study aims to look at the effect of probiotic and turmeric powder in the diet to the amount of  Lactic Acid Bacteria in the ceccem, intestine’s weight, intestine’s length and intestine’s diameter of  Pegagan ducks. Forty Pegagan ducks were used in this research. Diet used is basal diet which contains 10% protein and ME 2900 kkal/kg. This study used a CRD (Completely Randomized Design) with 5 treatments and 4 repititions. P0 basal diet (control), P1 (basal diet + probiotic 10-6 /ml +turmeric powder 2,5%), P2 (basal diet + probiotic 10-7 /ml +turmeric powder 2,5%), P3 (basal diet + probiotic 10-8 /ml +turmeric powder 2,5%), P4 (basal diet + probiotic 10-9 /ml +turmeric powder 2,5%). The parameters wich observed include amount of Lactic Acid Bacteria in the cecum, intestine’s weight, intestine’s length and intestine’s diameter of Pegagan ducks. Results showed that giving probiotic until 10-9 /ml and turmeric powder 2,5% in the ration effect the amount of bacteria in cecum, but not affect the intestine’s  length and intestine’s diameter of Pegagan ducks. Keywords: Digestive Tract; Pegagan ducks; Probiotic; Tumeric Powder.   Abstrak  Probiotik dan tepung kunyit merupakan kombinasi suplemen yang digunakan untuk memperbaiki mikrofologi usus dari ternak dan memberikan efek yang positif pada saluran pencernaan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian probiotik dan tepung kunyit dalam ransum terhadap jumlah bakteri asam laktat dalam sekum, berat usus, panjang usus dan diameter usus itik Pegagan. Materi yang digunakan yaitu 40 ekor itik Pegagan. Ransum yang dipergunakan adalah ransum basal dengan kandungan protein 16% dan ME 2900 kkal/kg. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan, yaitu P0 (ransum basal), P1 (ransum basal + probiotik pengenceran 10-6/ml + tepung kunyit 2,5%), P2  (ransum basal + probiotik pengenceran 10-7/ml + tepung kunyit  2,5%), P3      (ransum basal  + probiotik pengenceran 10-8/ml + tepung kunyit2,5%), P4 (ransum basal  + probiotik pengenceran 10-9/ml + tepung kunyit 2,5 %). Parameter yang diamati meliputi jumlah bakteri pada sekum, berat usus, panjang usus, dan diameter usus pada itik Pegagan.  Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pemberian probiotik hingga 10-9 /ml + tepung kunyit 2,5% dalam ransum berpengaruh terhadap jumlah bakteri asam laktat dalam sekum, panjang usus itik Pegagan. Kata kunci: Itik Pegagan; Probiotik; Saluran Pencernaan; Tepung Kunyit.
Karakteristik telur dan DOC ayam bangkok generasi pertama (G1) : Characteristics of first generation (G1) bangkok chicken eggs and DOC Ilham Wahyudi; Depison - Depison; Silvia Erina
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol. 12 No. 3 (2022): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v12i3.240

Abstract

Abstract  The study aims to determine the relationship between egg characteristics and egg weight, DOC weight and body weight, to characterize the size and body shape of the first generation of Bangkok chickens aged 3 months. A total of 315 chicken eggs were used with the experimental method. Characteristics of eggs, egg weight, body weight, weight gain and body measurements, DOC weight and characters of weight and body shape were analyzed using a t-test. regression and correlation analysis and principal component analysis. T-test showed chicken males were higher than females (P<0.05). Egg characteristics are positively related to egg weight with a correlation value of 66.90% for males and 84.10% for females. DOC weight of male and female chickens was positively related to body weight at 1, 2 and 3 months of age, with correlation values of DOC weight with roosters respectively 73.40%, 67.90% and 65.10% and females 74.20%, 67 .00% and 52.40%. The body size characteristic of male and female chickens is chest circumference. The characteristic body shape of the rooster is the wing's length while the hen is the length of the upper body. Conclusion: there is a positive relationship between egg characteristics and egg weight and the highest correlation between egg girth and egg weight, DOC weight with body weight with the highest correlation at 1-month weight, the identifier of body size is chest circumference and body shape characteristics, is the wing length (male) and upper body length (female). Keywords: Bangkok chicken; Body weight; Characteristics of eggs; Correlation; Regression   Abstrak  Penelitian ini bertujuan 1) mengetahui hubungan karakteristik telur dengan bobot telur, 2) bobot DOC dengan bobot badan, 3) penciri ukuran dan bentuk tubuh ayam Bangkok generasi pertama umur 3 bulan.  Sebanyak 315 butir telur ayam Bangkok digunakan dalam penelitian ini dengan metode eksperimen. Karakteristik telur, bobot telur, bobot badan, pertambahan bobot badan dan ukuran-ukuran tubuh dianalisis menggunakan uji-t. Hubungan karakteristik telur dengan bobot telur, dan bobot DOC dengan bobot badan umur DOC-3 bulan diuji menggunakan analisis regresi dan korelasi. Penciri ukuran dan bentuk tubuh dianalisis menggunakan analisis komponen utama. Karakteristik telur, bobot telur, bobot DOC, bobot badan, dan pertambahan bobot badan serta ukuran-ukuran tubuh ayam Bangkok jantan lebih tinggi dibandingkan ayam betina (P<0,05). Karakteristik telur berhubungan positif dengan bobot telur dengan nilai korelasi pada jantan 66,90% dan betina 84,10%. Bobot DOC ayam jantan dan betina berhubungan positif dengan bobot badan umur 1, 2 dan 3 bulan, dengan nilai korelasi bobot DOC dengan ayam jantan berurutan 73,40 %, 67,90 % dan 65,10% dan betina 74,20%, 67,00% dan 52,40%. Penciri ukuran tubuh ayam jantan dan betina yaitu lingkar dada. Penciri bentuk tubuh ayam jantan yaitu panjang sayap sedangkan ayam betina yaitu panjang tubuh atas. Kesimpulan: 1) terdapat hubungan yang positif antara karakteristik telur dengan bobot telur dan korelasi tertinggi antara lingkar telur dengan bobot telur, 2) bobot DOC memiliki hubungan yang positif dengan bobot badan dengan korelasi tertinggi bobot 1 bulan, 3) Penciri ukuran tubuh yaitu lingkar dada dan penciri bentuk tubuh yaitu panjang sayap (jantan) dan panjang tubuh atas (betina).  Kata Kunci: Ayam Bangkok; Bobot Badan; Karakteristik Telur; Korelasi; Regresi
Identifikasi cacing nematoda pada saluran pencernaan babi di Makassar: Identification of nematode worms in the pig digestive tract in Makassar Noveling Inriani; Priyo Sambodo
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol. 12 No. 3 (2022): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v12i3.247

Abstract

ABSTRAK Nematoda merupakan jenis endoparasit yang hidup dalam tubuh inang, ciriciri tubuhnya tidak bersegmen dan biasanya berbentuk silinder yang memanjang serta meruncing pada kedua ujungnya. Cacing Nematoda mempunyai kemampuan untuk beradaptasi terhadap jaringan inang sehingga umumnya tidak menimbulkan kerusakan serta gejala klinis yang berat tetapi dapat pula menjadi pathogen karena inang menderita malnutrisi atau terjadi penurunan daya imunitas tubuh. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi cacing Nematoda pada saluran pencernaan babi yang ada di Makassar. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2015. Sampel diambil dari 50 ekor ternak babi di peternakan Panaikang, Makassar. Sampel diperiksa dengan metode Uji Apung selanjutnya jika positif ditemukan telur cacing Nematoda maka dilakukan Uji Mc Master untuk menghitung jumlah telur cacing per gram tinja. Hasil penelitian ini menunjukkan 18 sampel ditemukan positif telur Ascaris suum (36%) dan satu sampel ditemukan positif telur Oesophagustomum dentatum (2%), berdasarkan tingkat derajat keparahannya termasuk infeksi ringan Kata Kunci : Babi; Makassar; Nematoda; saluran pencernaan; ABSTRACT Nematodes are the types of endoparasites that live in the body of the host, the characteristics of the body is not segmented and usually cylindrical elongated and tapered at both ends. Nematode worms have the ability to adapt to the host tissue that generally do not cause damage and severe clinical symptoms, but can also be pathogenic for the host suffering from malnutrition or decreased immunity power. The aims of this non-experimental research were to identify Nematode worms in the digestive tract of pigs in Makassar. This research was conducted in June 2015. Samples were taken from 50 pigs on farms Panaikang, Makassar. Samples examined using the floating method furthermore if found positive Nematode worm eggs Mc Master then conducted tests to count the number of worm eggs per gram of feces. The results showed 18 samples found positive for eggs of Ascaris suum (36%), one sample was found positive Oesophagustomum dentatum egg (2%), based on the level of severity including mild infection. Keywords : digestive tract; Nematoda; Pig; Makassar

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 15 No. 4 (2025): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 15 No. 3 (2025): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 15 No. 2 (2025): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 15 No. 1 (2025): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 14 No. 4 (2024): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 14 No. 3 (2024): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 14 No. 2 (2024): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 14 No. 1 (2024): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 13 No. 2 (2023): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 13 No. 1 (2023): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 12 No. 3 (2022): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 12 No. 2 (2022): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 12 No. 1 (2022): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol 11 No 3 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete Vol. 11 No. 3 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol 11 No 2 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete Vol. 11 No. 2 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol 11 No 1 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete Vol. 11 No. 1 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol 10 No 2 (2020): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete Vol. 10 No. 2 (2020): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol 10 No 1 (2020): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete Vol. 10 No. 1 (2020): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol 9 No 2 (2019): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veter Vol. 9 No. 2 (2019): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vet Vol. 9 No. 1 (2019): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vet Vol 9 No 1 (2019): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veter Vol 8 No 2 (2018): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veter Vol. 8 No. 2 (2018): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vet Vol. 8 No. 1 (2018): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol 8 No 1 (2018): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol. 7 No. 1 (2012): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol 7 No 1 (2012): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol. 5 No. 2 (2010): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol 5 No 2 (2010): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol. 5 No. 1 (2010): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol 5 No 1 (2010): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol 4 No `1 (2009): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol. 4 No. `1 (2009): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol. 3 No. 1 (2008): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol. 2 No. 1 (2007): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol 1 No 2 (2006): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol. 1 No. 2 (2006): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol 1 No 1 (2006): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol. 1 No. 1 (2006): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol 1 No 1 (2006): JURNAL ILMU PETERNAKAN More Issue